Hu! Ha! Hu! Ha! Kkkk~ Jumpa lagi dengan saya! Hmm, gimana menurut kalian buat intronya di chapter 1? Ada gaksih rasa 'penasaran' yang terselip? Kalo gaada sih berarti saya masih gagal. Tapi gapapa, saya gak bakal nyerah dan saya mau mempersembahkan chapter kedua!^o^
Warning : Typo(s), alur atau Plot berantakan, bahasa kurang bagus, cerita sering tidak nyambung dan apalah itu. Kkk~
Rated : T
Genre : Fantasy | Fluffy | A little bit comedy (maybe) | Romance
Cast(s) :
Oh Sehun (M)
Xi Luhan (F — genderswitch)
All members of EXO (Some of them will become a yeoja / genderswitch)
Some OC(s)
...Dont read if you dislike...
Ready
Set
Go
•
•
Kala di malam hari yang gelap itu tidak begitu tenang, hembusan anginnya dingin membabi buta menusuk tulang seiring datangnya hujan deras, langitnya teduh membentang dan menumpahkan air-air bening, dan suasananya begitu sunyi tanpa adanya manusia berjalan di sana. Samar-samar terlihat sebuah siluet seseorang di seberang mobilnya, mengingat hari itu hujan, dia melirik siluet manusia yang sepertinya terluka itu dari kaca, sedang berdiri lemah. Ala kadar, dia turun dari mobilnya dan menyentakkan kaki membawa jas hujan yang sangat ala kadarnya saja. Bahkan tubuhnya sendiri tidak terlindungi. Hentakkan kakinya teredam gemericik hujan yang deras dan begitu menusuk. Begitu sampai di tepi jalan di mana manusia asing itu berdiri lemah, dia melapisi tubuh putih mulus mahluk itu dengan jas yang ia pegang.
"Hey, siapa namamu? Di mana rumahmu? Mari ku antar," tanya Luhan, yeoja berparas cantik secantik malaikat. Kemudian Luhan melihat tubuh kurus jangkung dengan kulit putih pucat nan halus itu dengan tatapan merinding. "Hey jawab aku," tuturnya pelan berbisik. Namun yang ditanya itu hanya diam membeku di tempatnya bertopang diri. Berterimakasih pun tidak. Tapi setelahnya, dia menoleh kasar ke arah wajah Luhan kemudian menyeringai lembut. "Di mana aku?" Tanyanya lalu Luhan mengerjap dua kali keheranan, entah manusia macam apa pria itu di fikirannya. Masa dia tidak tahu dia sedang di mana? Menurut Luhan, itu hanyalah pertanyaan bodoh yang tidak perlu dijawab. Lalu Luhan hanya menjawab dengan desahan singkat yang terdengar pasrah. Kemudian mata Luhan terfokus pada dirinya yang basah total, dia sadar tubuhnya gemetaran sedari tadi hanya untuk mengajak bicara manusia yang baru saja di temuinya itu. "Ayo ikut aku," katanya sedikit berteriak karena di sana masih hujan deras dan mungkin tak ada pertanda akan berhenti malam itu juga.
Pria bertubuh jangkung dengan celana chino panjang berwarna hitam serta kaus putih tipis dan berambut cokelat itu tidak mampu di tarik Luhan. Padahal tubuhnya kurus kering nyaris tak berdaging. Dan Luhan sudah menarik tangannya yang perlahan terasa tidak basah kala ia memakai jas pemberian Luhan. "Kau? Yaampun, kenapa bisa berat sekali?" Luhan mendelik gusar dan berdecak sebal, dilihatnya lagi tubuh jangkung yang sekarang sedang tersenyum licik namun terlihat polos di matanya. "Ayo ikut, aku bukan orang jahat," bujuknya lagi hingga akhirnya pria yang terbilang tampan itu mengangguk dan mengikuti arah langkah Luhan yang sempoyongan karena menarik dirinya.
•
•
•
"Kau tidak punya keluarga?" Tanya Luhan di sela memasak, baru saja ia tiba di rumah tetapi manusia asing itu tidak menjawab seluruh pertanyaannya yang terbilang mudah. Yeoja berambut caramel brown itu berdecak kesal lagi, kemudian meletakkan spatula di atas nampan lalu berbalik badan untuk melihat namja yang sekarang sedang duduk manis di konter. "Ahhh, jadi, siapa namamu?" Tanyanya lagi, namun dengan nada yang naik seoktav. Dan benar saja dugannya, namja berkulit pucat itu tak kunjung menjawab pertanyaan yang sangatlah mudah. Bahkan anak TK sekalipun bisa menjawab pertanyaan itu. Setelahnya Luhan mendengus dan memutar bola matanya. "Yaampun, bukankah tadi kau terluka di bagian tanganmu? Kenapa sudah tidak berbekas? Aneh," kata Luhan sambil melirik-lirik tangan namja itu penasaran. Kemudian dia melangkah mendekati si pria yang duduk manis dan nyaris menyentuh tangan yang dingin tersebut sebelum akhirnya dicegah. "Jangan sentuh aku," tukas namja dingin itu, lalu namja itu memiringkan kepalanya menghadap Luhan. Yeoja itu ikut memiringkan kepalanya sambil mendelik, "ah, sombong sekali. Kenapa sih? Aku sudah berbaik hati mengajakmu tinggal bersamaku. Tapi—," kalimatnya berhenti saat namja itu menunjuk kaku ke arah kompor dengan tangan kanannya. Berhasil, Luhan menoleh ke arah masakan yang nyaris gosong. Dirinya tertawa, "oh hahaha. Maaf," katanya singkat, lalu menggelengkan kepala menyadari bahwa dia akan membiarkan dapurnya meledak karena kelalaiannya sendiri. Setelah itu, Luhan kembali berkutat dengan nasi gorengnya yang dimasak untuk 2 porsi. Dia sendiri tidak yakin masakannya akan enak atau tidak, karena ini adalah yang kesekian dari keseluruhan nasi goreng gagal yang pernah ia coba. "Semoga saja hasilnya tidak mengecewakan," tukasnya lalu mengambilkan dua buah piring motif polkadot merah putih dan meletakkannya di atas konter sambil menyendokkan nasi goreng itu ke piring dengan spatula. "Nah, makanlah," katanya menopang dagu. Pria pucat itu hanya menoleh dengan tatapan dingin tak berarti, detik berikutnya, kedua bola mata milik pria itu melihat nasi goreng yang disuguhkan Luhan untuknya dengan tatapan asing. Setelahnya, yeoja itu menghentikan makannya. "Ada apa? Apa rasanya tidak enak? Kalau menurutku rasanya bi—,". "Aku tidak makan," akhirnya namja itu menyaut. Tapi Luhan menjadi semakin bingung dan dirinya tidak percaya dengan ucapan itu. Seolah kalimat 'aku tidak makan' itu terdengar lucu di telinganya. "—biasa saja," lanjut Luhan kemudian menyendokkan kembali nasi goreng itu ke mulutnya.
"Akan kuanggap itu sebagai—kau belum lapar," tutur Luhan di saat nasi gorengnya setengah termakan sambil mengetukkan sendok ke sisi garpu dan menghasilkan suara dentingan yang nyaring. Di sela itu pula pria itu menutup kedua telinganya dengan raut wajah ingin marah. Sampai-sampai Luhan kembali diam agar pria itu tenang. "Baiklah, aku diam." Mata Luhan melirik diam-diam ke wajah tampan pria di sebelah kirinya. Kemudian, Luhan beranjak dari kursinya dan melangkah pelan, "aku ingin mengganti baju. Kau tunggu di sini oke?" Mata kanan Luhan berkedip ceria. Tapi sekali lagi, tatapan dingin dari pria itu membuatnya merinding lalu segera berlari ke tangga dan melangkah ke lantai dua untuk masuk ke kamarnya. Selama berlari, Luhan nyaris terjatuh di tangga paling atas karena buru-buru. Dan itu semua karena dirinya ketakutan. "Oh yaampun, aku bisa mati muda!" Pekiknya mengeluh kesal. Lalu dirinya masuk ke dalam zona teraman dan zona ternyaman. Dengan wallpaper berwarna soft pink bercorak tokoh kartun 'Hello Kitty' kesukannya. Luhan langsung merebahkan tubuh mungilnya di kasur berwarna cokelat muda dengan motif cupcake begitu ia sampai di kamar. Kemudian raut wajahnya menandakan kalau yang memiliki paras cantik itu sedang kebingungan. "Dia itu siapa ya...," pikirnya sambil melirik langit-langit kamarnya lalu mendesah pelan. Dirinya masih digoncang rasa penasaran yang amat mendalam sehingga ia tidak bisa memungkiri untuk berfikir keras tentang pria pucat yang sekarang duduk di konter di dapurnya. Dan sekarang, dirinya mendesah lagi, kali ini terasa berat namun Luhan tidak dapat menepis rasa berat itu. Setelah cukup tenang, kakinya mulai bergerak bangun kemudian berjalan menuju lemari di seberang ranjang tidurnya, lalu Luhan mengambil sepotong piyama tidur berwarna biru cerah bergambar baby's breath, kemudian menanggalkan pakaian santainya dan menggantinya dengan piyama. "Ahhh, baiklah. Aku akan membiarkannya tidur di sofa yang ada di ruang tamu," ujarnya lega sambil berulang kali menarik dan menghembuskan nafas lega. Sesudahnya, Luhan turun demi menjumpai pria yang dikiranya 'amnesia' itu di dapur. Namun, betapa terkejutnya Luhan ketika melihat pria itu sedang memainkan pisau untuk mencincang daging dengan cara menjilati sisi benda tajam itu. "Astaga!" Jeritnya. Spontan pria itu meletakkan pisau berukuran besar tersebut di atas konter, lalu berjalan mendekati Luhan. "Kemarilah," kata pria itu sambil mengulurkan tangannya saat melihat Luhan jatuh terduduk dengan raut wajah terkejut tak percaya. Bukannya menerima uluran tangan, tapi Luhan justru membentaknya, "jangan dekati aku! Dasar pembunuh berdarah dingin! Pergi kau sana, pergi!" Pekiknya ketakutan sambil mengeluarkan isak tangis sekeras-kerasnya, lalu kedua tangan Luhan menutup wajah mulusnya itu. Pria itu mengerutkan dahi lalu dia berjongkok mendekat Luhan sambil terus mengulurkan tangannya.
"Kemarilah,"
"Pergi kau! Pergi!"
"Hey, apa salahku?"
"Dasar bodoh! Pergi! Kau mau menjadikan aku korban pembunuhan keberapa hah! Lebih baik kau pergi dari rumahku!"
"Aku bukan pembunuh."
"Lalu kalau bukan pembunuh, kenapa kau menjilati pisau itu hah!"
Pria itu berdecak kesal lalu berdiri dan melangkah ke arah konter di mana ia meletakkan pisau besar itu. "Terserah kau mau berkata apa, aku akan keluar." Pria itu keluar dan berlalu cepat seperti angin yang sangat kencang, sehingga rambut Luhan yang tergerai indah itu berterbangan kacau karena pria itu berlari. Selang beberapa saat setelah tangisannya berakhir, akhirnya Luhan mendongak, matanya menyipit setelah sisa-sisa air matanya keluar dengan damai. Lalu Luhan melirik ke sekelilingnya dengan pandangan heran dan kehilangan. Sambil melihat sekeliling, ia berdiri dan melangkah mencari-cari pria asing itu.
"Si pembunuh berantai sudah pergi? Tapi apa mungkin seorang penjahat ingin melepaskan mangsanya? Atau jangan-jangan..." Luhan mendelik kaget dan menyadari kalau ia salah menerka orang lain, lalu dia berteriak memanggil pria asing yang sudah pergi entah ke mana. Luhan berlari dan terus berteriak hingga ia sampai di garasinya. "Hey pria asing! Kemar—ilah, eh," pekik Luhan saat melihat pria asing kaku berkulit pucat itu terbaring di sofa yang ada di garasinya dengan santai tanpa terpejam. Luhan merasa aneh dengan orang tersebut sehingga ia duduk di sofa tunggal di sebelah sofa panjang yang ditiduri oleh pria asing tersebut. "Kau tidak kedinginan di sini? Hah, ini kan garasi, bukan kamar," kata Luhan mendesah pelan dan pasrah, karena ia yakin pria dingin ini pasti tidak akan menjawabnya. Ternyata Luhan salah, pria asing itu bangun dan duduk, setelah itu bersandar dan mendengus, "aku tidak tidur," jawabnya kemudian menoleh ke arah Luhan. Yeoja itu mendelik, "kau tidak tidur?" Pria itu mengangguk tanpa ada niatan berbohong. Yah, Luhan pun bisa merasakannya. Kemudian pria itu sedikit menggeser posisinya agar lebih dekat lagi dengan yeoja yang duduk di sofa tunggal di sebelahnya, kemudian ia berbisik; "iya, memang kenapa hm?" Tanyanya lalu menyeringai dingin, tatapannya kembali seperti semula, dingin dan menusuk. Luhan meneguk air liurnya takut, lalu ia membalas bisikkan pria asing itu; "tidak, aneh saja," jawabnya ragu kemudian tersenyum takut. Pria itu menggeser menjauh dari Luhan, kemudian berbaring lagi dengan santai. "Jadi," kata pria itu lalu berdeham pelan, "kenapa kau masih di sini?" Lanjutnya, dan Luhan menjadi naik pitam. "Ini garasi ku kau tahu!" Pekiknya hampir dikuasai amarah. Pria itu tertawa serak, "aku tahu," katanya.
Selang beberapa menit, Luhan menguap tanda ia mengantuk. Tetapi Luhan juga masih menunggu untuk suara menguap dari pria yang masih berbaring di sebelahnya itu yang tidak terpejam sama sekali. Kemudian Luhan menoleh ke arah pria itu lalu menguap lagi, rasanya ia ingin segera meninggalkan pria itu di garasi sendirian tetapi entah mengapa ia merasa tidak tega, dan memutuskan untuk tidur di sofa tunggal yang dia duduki sekarang. "Ekhm," dehamnya sebentar. Lalu memutuskan untuk berdeham lagi, maksud untuk menarik perhatian si pria asing dan berlanjut untuk menyuruh pria itu tidur. "Aku tahu kau pasti ingin menyuruhku tidur," tutur pria itu dingin. Sedetik kemudian Luhan tersentak dan mengurungkan niat bodohnya yang pastilah akan gagal. Lalu dia merengut memasamkan muka, kesal karena usahanya gagal dan dibantah mentah-mentah. "Baiklah, aku akan ikut tidur di sini," kata Luhan setengah mengancam. Pria itu menaikkan sebelah alisnya, "ohya? Silakan kedinginan dan digigiti nyamuk. Aku tidak akan bertanggung jawab, karena kau yang meminta," kata pria itu santai. Walau kesannya terdengar menyebalkan, tapi Luhan menerimanya dengan lapang dada. Dia tidak mau menjadi sasaran celetuk pedas untuk yang kesekian kali dari pria asing yang menurutnya berengsek itu. "Huft, aku akan bersabar," tutur Luhan lega, sambil mulai untuk memejamkan mata dan berusaha tidur. Dan benar saja, kalimat pria berengsek itu ada benarnya, buktinya sekarang tubuh Luhan di kelilingi beberapa ekor nyamuk nakal dan siap menggigiti tubuhnya hingga gatal-gatal. Tetapi Luhan tetap teguh pada pendiriannya, demi gengsi.
Tetapi karena jujur dia tidak tahan, maka ia batal untuk terpejam merajut mimpi di garasinya yang dingin dan bersarang banyak nyamuk itu. Akhirnya Luhan kembali bangun untuk berdiri dan menyuruh namja itu ikut berdiri, kemudian mulai bertanya-tanya soal diri pria itu yang sebenarnya.
•
•
•
Sesudah 1 jam setelah Luhan menanyakannya, barulah ia menoleh ke arah yeoja baik hati itu sambil menatapnya tajam. Matanya menusuk bola mata Luhan sehingga yeoja itu bergidik ngeri atas tatapan manusia asing yang di temukannya sepulang kuliah.
"Aku tidak tahu siapa aku, aku tidak pernah tahu mengapa aku berada di sini, aku juga tidak tahu siapa dirimu, aku tidak pernah tahu semuanya. Tapi aku hanya ingat namaku dan apa wujudku."
"Namaku, Oh Sehun," katanya tanpa menjabat tangan dan tanpa melihat mata Luhan lagi, kemudian dia menoleh dingin sedingin es. Dan tangannya menyentuh pergelangan tangan kanan milik yeoja di depannya itu sambil mendengus.
"Sepertinya—," kalimat pria itu berhenti menggantung di tengah jalan, membuat jantung yeoja itu berdegup tak karuan sehingga rasa penasarannya makin bertambah. "—aku bukan manusia." Luhan terkejut tidak percaya bukan main dan mata teduhnya kini membulat sempurna seolah ia ingin mengutuk dirinya sendiri sekarang juga. Namun perasaan itu sirna dengan sendirinya dan malah, membuatnya hanyut dalam kalimat yang sangat dramatis seperti di film atau buku novel bergenre fantasy yang pernah ia tonton atau ia baca sebelumnya. Namja pucat itu merasa aneh dengan reaksi Luhan yang tengah melotot dengan tatapan takut dan merinding. Dia merasa bahwa dirinya tak memiliki larangan apapun untuk menyebut diri sendiri sebagai, 'bukan manusia'. Tapi Luhan tidak juga menutup erat kedua bola mata indahnya dan malah dia mengerjap heran kebingungan seperti orang amnesia lebih tepatnya. "Konyol," hanya satu kata yang dapat keluar dari bibir ranum yang tipis milik yeoja manis itu, namun jawaban dengan satu kata 'pasti' itu terdengar aneh di kedua telinga si pria pucat. Perlahan suatu sensasi aneh menjalar di setiap sistem saraf pria pucat itu dan rasanya begitu aneh tak karuan. Panas, bergerak, menggelincir, entahlah. Hanya itu yang dapat di sebutkan dan rasa aneh yang lainnya tidak dapat ditentukan dengan benar. Namun, rasanya sedemikian mengerikan hingga begitu sakit dan sangat panas di tubuh kurus kering pucatnya. Bersamaan dengan adanya sensasi gila itu, dia menyipitkan kedua mata cokelatnya dan menyeringai lembut yang terlihat menakutkan. "Apa maksudmu—konyol?" Jelas sekali namja pucat tersebut tidak terima dengan kata sederhana Luhan yang mengakibatkan sensasi mengerikan itu menjulur di tubuhnya. Sedetik kemudian bibirnya mengeluarkan erangan-erangan kesakitan dan cukup mengerikan, membuat tubuh mungil Luhan bergidik gemetaran. Seolah hanyut dalam perasaan aneh itu, namja berkulit putih bening itu menatap risih kedua telapak tangannya yang mulai mengeluarkan cahaya berwarna biru safir yang berpendar indah di setiap garis-garis yang tercetak sempurna di kedua telapak tangannya. Mata Luhan mengerjap terkagum-kagum, walau dia tahu ini gila tapi apa yang sedang disaksikannya itu adalah hal teraneh, tergila, terkeren, ter—apalah itu namanya! Dia tidak bisa menyebutkan semuanya satu-persatu. "Apa itu?" tanyanya kemudian, tetapi tidak mirip seperti pertanyaan, melainkan seperti interogasi ingin tahu yang sangat lancang tapi itulah nyatanya; Luhan ingin tahu!
Pergerakan berikutnya yang terjadi adalah, di saat yeoja itu hendak menyentuh jari telunjuk pada tangan kanan namja pucat itu, dirinya merasakan sensasi gila yang sangat aneh dan sangat menyakitkan. Walaupun ia rasa hal itu sangat menyenangkan, bukan berarti ia ingin mengulangi tindakan bodoh itu lagi. Kalau-kalau, dia bisa mati tersengat listrik, yak! Seperti itulah rasanya! 'Tersengat listrik' atau lebih tepatnya, tersetrum.
Mata Luhan kian membulat seiring cahaya safir yang sedang berpendar itu padam dengan sendirinya dan membiarkan tangan pria pucat itu kembali ke posisi normal. "Yah! Aku ingin melihatnya lagi," rengeknya lucu memaksa namja pucat itu hampir tertawa lepas, tapi ia tidak bisa. Dia belum bisa tertawa lepas sebelum dirinya benar-benar tahu maksud Luhan itu apa. Kemudian dia duduk di sofa panjang itu sambil tersenyum gila dan matanya bergerak semangat, persis seperti ia menemukan sesuatu yang 'asing'.
"Ya, Oh Sehun!" Pekik Luhan terdengar memekakkan kedua telinga namja aneh berwajah tampan itu. Setelahnya, namja bermarga Oh itu berbalik melihat tubuh mungil Luhan sudah tergeletak di lantai dan sepertinya yeoja itu tidak sadarkan diri.
•
•
•
"Hey, bangun," terdengar suara perintah dan terlihat siluet samar seperti tubuh seorang namja cungkring sedang menyadarkannya. Mata Luhan mengerjap untuk beberapa saat, dan dia merasa ada sesuatu yang mengilukan lehernya saat itu, kemudian tangan kanannya dengan kaku menyentuh lehernya dengan pelan sehingga rasa nyeri itu sedikit demi sedikit akan hilang. "Ugh," lenguhnya. Ternyata rasa mengilukan di lehernya belum sepenuhnya hilang dan belum sepenuhnya membaik. Tatapan dari namja dingin bernama Oh Sehun itu malah menambah rasa sakitnya yang mengilukan, sehingga yeoja itu hanya menatapnya dalam dengan keadaan diri yang terdiam tentram. Namun sesaat kemudian, Luhan menyadari sesuatu yang sangat-sangat penting dalam hidup kesehariannya.
"Jam berapa sekarang? Ya ampun!" Jeritnya meronta-ronta seperti orang hendak di ganggu oleh segerombolan preman keras di jalanan sepi. Kedua mata Sehun memutar kesal, "sudah jam setengah sepuluh pagi," jawabnya dilanjut dengan langkahnya hendak keluar dari kamar Luhan setelah yeoja itu benar-benar bangun dan setidaknya pria itu sudah menjaganya semalaman tanpa tidur nyenyak. Luhan mengerang frustasi seiring dengan jambakan terhadap rambutnya, lalu yeoja cantik itu menatap sebal ke arah pria jangkung kulit pucat yang tengah berhenti di depan pintu kamarnya. "Haaah, aku telat karena kau!" Pekik Luhan benar-benar kesal membuat pria itu berdecak keras kemudian berlari cepat seperti angin yang membuat rambut Luhan kusut berantakan. Luhan pun berkali-kali mengelus rambutnya yang kusut. "Ugh! Dasar namja sialan!" Jeritnya di tengah-tengah detik-detik telatnya menuju kampus. Namun sedetik berikutnya, Luhan tersenyum miring seolah dia sudah sepenuhnya melupakan peristiwa menjengkelkan seumur hidupnya yang baru saja dialami. Kemudian matanya mengerjap beberapa kali diiringi raut wajah senangnya yang ceria.
•
•
•
"Sehun," sahut Luhan setibanya ia menapakkan kaki di garasi. Setelah lama dia mencari-cari keberadaan namja dingin itu, ternyata ia menemukannya sedang duduk kaku dengan tatapan kedua belah mata yang kosong menuju entah ke mana. "Sehun," panggilnya lagi, namun tidak juga menandakan namja itu akan menjawabnya seolah telinga namja pucat itu sudah benar-benar tuli. Yang akhirnya membuat Luhan kesal untuk kesekian detik, sehingga ia ingin marah dan berteriak, "SEHUUUUUN!"*
* — Power by B.A.P
Dan untuk pertama kalinya, Luhan menyaksikan sesuatu menyeramkan sekaligus mengagumkan berpendar dengan cahaya safir terang silau keluar secercah melalui kedua belah mata Sehun. Mulut Luhan terbuka lebar dibarengi dengan kedua bola matanya yang juga ikut melotot. Bibirnya bergetar ingin mengatakan sesuatu tetapi terasa sulit. Kemudian gerakan aneh lainnya seperti wajah Sehun yang menoleh kaku ke arahnya membuat yeoja itu bergetar hebat. Selangkah mundur ternyata tidak membuat tatapan menyilaukan itu berakhir dan malah makin berpendar sekian banyak. "Se-Sehun..," katanya terbata-bata ketakutan seiring cahaya safir yang sedang berpendar dan kian menyilaukan mata. Sehun memang tidak berkata-kata, namun gerakannya kaku dan makin kaku untuk kesekian kali. Rasanya ada yang menggerakkan tubuh pucatnya dan seperti dikendalikan. Perlahan jari-jemari tangannya menekuk kaku dan mengeras, juga sinar safir di garis-garis kaku rapih di telapaknya juga muncul. Di sisi lain, Luhan melihat ke arah iris mata Sehun yang seluruhnya sudah berwarna biru safir cerah namun seluruh pendar cahayanya sudah lenyap. Dari sudut kaki Sehun terangsang gerakan yang terasa seperti reruntuhan besi yang menyakitkan dan menyetrum. Disusul dengan bunyi-bunyian retakan yang mengilukan telinga.
Sehun merasakannya dan itu aneh, sehingga ia mengingat peristiwa lalu yang ditolaknya mentah-mentah dan malah membahayakan dirinya. Sedetik kemudian, kerutan di kening Sehun terlihat jelas dan membuat kedua alisnya saling bertemu di pusatnya. Matanya menyipit heran di saat sensasi aneh yang bersarang di dalam tubuhnya mulai bereaksi. Sementara yeoja yang menyaksikan hal aneh gila itu hanya dapat bertahan di sandaran dinding saat ia hendak menghindari Sehun yang akan menjadi mahluk mengerikan.
Suhu tubuh Sehun bertambah dingin, namun rasanya sakit dan sensasinya luar biasa mengerikan. Ngilu, seperti tertusuk, entahlah, masih banyak lagi rasa yang lainnya. Namja itu mulai mengeluarkan erangan-erangan kesakitan, lenguhan keras setengah menjerit dan desahan tak karuan yang membuat tubuh yeoja di depannya lemas. Kemudian Sehun mendengar sesuatu berbisik di telinganya dengan sangat menyeramkan karena suara itu bariton dan begitu berat.
"YOU ARE WAKING UP."
Lalu yang berikutnya terjadi seperti memaksa Sehun untuk memuntahkan suatu kalimat dengan bahasa asing dan kedengarannya akan menyeramkan. Namja itu berusaha menghindari agar kalimat itu tidak keluar dari mulutnya, namun ia tak bisa berbuat lebih karena semakin ia menahan rasa itu, semakin kuat pula dorongan yang diberikan dari sensasi kejam yang sekarang bersarang di tubuhnya. Kemudian disusul dengan bibirnya yang bergerak kaku kemudian mengatakan;
"SOMETHING STRANGE MUST BE DESTROYED."
Gerakannya semakin cepat seiring dengan tangan kanannya yang kini sudah berlapis benda baja mengeras dan terasa dingin dengan cahaya berwarna safir menyilaukan sambil menunjuk tepat di jantung Luhan. Yeoja yang digertak itu berdiri gemetaran dengan suhu tubuhnya yang dingin dan keringat dingin mengucuri seluruh permukaan kulitnya. Gerakan yeoja itu terbilang bergetar hebat diiringi dengan suara isak tangisnya yang keluar dari bibir ranum mungilnya yang sekarang mengeluarkan umpatan-umpatan kejam namun tetap terdengar ketakutan.
"Sialan, ku mohon pergilah..," umpatnya sambil menangis sekaligus marah.
Namun, dengan perlakuan Luhan yang terlihat mengancam dan ketakutan itu justru membuat pergerakan keji yang akan terjadi selanjutnya makin meningkat. Dengan jari telunjuk tangan kanan namja pucat itu mengarah tepat ke jantung Luhan sambil mengeluarkan secercah cahaya kemerahan silau. Luhan pun tak sanggup menghindari karena sekarang dirinya terkurung kukungan kedua tangan Sehun di pojok dinding garasinya. Kemudian Luhan melihat bahwa bibir namja itu sekarang tengah menyeringai dingin seolah akan membunuhnya sekarang juga. Semakin mendalam Luhan menatap matanya, namja itu kian mendekat ke wajah Luhan sambil membiarkan yeoja itu menangis dan mengerang. Lalu, sepersekian detik, telunjuk kanannya kembali mengarah ke jantung yeoja itu sambil mengeluarkan sebuah sinar kemerahan dan terdengar suara hitung mundur;
"THREE."
"TWO."
"ONE."
"KYAAAAAA!"
•
•
•
...TBC...
Kyaaaaa! /teriakbarengchanyeol/ gimana gimana? Apakah sudah ada kesan tertentu? Wahaha saya sendiri belum yakin. Ya walaupun yang review masih terbilang sedikit, tapi saya gasabar pengen lanjut! /diinjekreaders/ so...Next or No?
Mind to read and review? Gomawo!^o^
