-Secretive J-
a YunJae fanfiction ©Cherry YunJae
.
Pairing : YunJae of course
Genre : Romance-School's Life
Rate : T-M
Length : Chap 3 "I'm Yours"
Warning! :Genderswitch!For Jaejoong(Jaekyung) and Junsu, Out of Character, Typos
Adapted and remake from Kaori Sensei's manga, Himitsu no Ai chan ©2010 and now starring with YunJae
.
.
.
[If you don't like my fanfic, just get off~ simple, rite ? ^^]
.
.
.
Kediaman keluarga Kim
"Aku pulang.." seorang pria cassanova menutup pintu rumah itu perlahan kemudian merapikan sepatunya.
Mendengar ada yang membuka pintu rumah itu, Kim umma segera melihat siapa yang datang.
"Yoochunnie? Mana adikmu?" tanya Kim umma saat ia tak melihat sosok Jaejoong bersama anak laki-lakinya itu.
"Oh? Dia sudah pamit sejak jam 7 padaku, umma... Apa dia belum datang?" tanya Yoochun heran, Kim umma menggeleng.
"Aishh~ Bocah sial itu..." geram Yoochun lalu mengeluarkan kunci mobilnya lagi dari saku.
"Aku akan mencarinya dulu, umma..." Pamit Yoochun sambil beranjak kembali memakai sepatunya.
namun...
BRAKK~
Belum sampai Yoochun memakai kembali sepatunya, pintu rumah itu dibuka lebar menampakkan sosok seorang anak perempuan berambut pendek dengan blus dan rok mini.
Ekspresi gadis itu terlihat begitu lelah–sekaligus kesal , nafasnya terengah-engah.
Yoochun dan Kim umma terperangah menatap sosok itu, mereka tahu itu Kim Jaejoong... Tapi blus dan rok itu?
Dengan wajah kusut, Jaejoong melangkah cepat menuju tangga.
"Joongie? Gwaenchana?" tanya Kim umma masih dengan ekspresi terkejutnya.
Jaejoong tak menjawab, ia menghilang di ujung atas tangga rumah itu lalu tak lama terdengar suara debam-an keras–yang pasti dari pintu kamar gadis itu.
Yoochun dan Kim umma hanya saling bertatap bingung.
[Kim Jaejoong POV]
Blam!
Kututup kasar pintu kamarku, sedikit luapan dari perasaan kesalku.
Ah, sial aku sungguh berantakan sekarang.
Karena terlalu kesal aku tidak sadar terus berlari tanpa membawa sepatu Junsu, juga tas dan wig-ku.
.
"Maaf saja, tapi Kim Jaekyung yang kau sukai adalah aku, Kim Jaejoong"
"Memuakkan! Denganmu ternyata buang-buang waktu saja, tidak kusangka semudah itu kau mengalah pada orang yang kau sukai!"
Aku cemburu, ku akui aku cemburu pada sosok Jaekyung.
Dan aku merasa begitu sakit karena saat itu Yunho hanya memasang ekspresi shock tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Ah, aku yang bodoh... Kenapa mengatakan hal seperti itu.
Aku meringkuk menenggelamkan wajah dan tangis di lututku.
Tak bisa kutahan, ternyata benar.. Aku hanya cemburu karena Yunho terus bersikap lembut pada Jaekyung.
Aku cemburu karena ada sisi lainnya yang tidak kuketahui.
Sial!
[Kim Jaejoong POV End]
"Ada apa dengan Joongie sebenarnya?" tanya Kim umma, Yoochun hanya menggeleng.
"Tapi pasti masalah serius, Jaejoongie jarang merajuk seperti itu kan.." Yoochun memasang tampang prihatin.
"Eh, Yoochunnie.." Kim umma menunjuk kearah pintu rumah mereka yang memang belum sempat ditutup lagi setelah aksi brutal Jaejoong tadi.
Yoochun mengalihkan tatapan kearah yang ditunjuk Kim umma, dan matanya segera mendapat sosok tampan dengan postur tinggi-tegap yang tengah berdiri di ambang pintu.
"Annyeonghasimnikka.. Apa Kim Jaejoong sudah pulang?" tanya sosok itu dengan nafas yang tersengal beberapa kali.
Lagi-lagi mereka harus terperangah melihat adegan ini.
.
.
Yunho melangkah menaiki tangga begitu Kim umma langsung memberitahu tempat dimana ia bisa menemukan Jaejoong.
Ia berhenti tepat di depan kamar gadis itu dan menatap pintu berwarna krem itu sesaat sebelum kemudian ia mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu.
tok tokk
Didalam, Jaejoong sendiri baru saja membaringkan diri diatas ranjang.
"Jaejae? Ini aku.. Tolong buka pintunya"
Tubuh Jaejoong terasa menegang ketika mendengar suara yang ia hafal itu.
Awalnya ia ingin mengabaikan karena berpikir itu kakak atau umma-nya.
Tapi ini Yunho!
Jaejoong bergelung di dalam selimut dan berusaha menutup telinganya.
"PERGI! JANGAN SEENAKNYA DATANG KERUMAH ORANG!" bentaknya.
Yunho tertegun mendengar suara itu.
Ia yakin Jaejoong menangis kini.
"Kau pergi begitu saja meninggalkan tas, sepatu dan wig-mu..." Yunho memegang erat barang-barang milik Jaejoong yang ia bawa, ada sedikit emosi yang tersirat darinya.
"Dan sekarang kau mengusirku?"
Tak ada sedikitpun respon dari gadis itu.
Mereka terdiam.
"Lagipula sejak awal tidak mungkin aku tidak sadar kalau itu kau hanya karena wig kan?"
Jaejoong terperanjat karena kalimat Yunho barusan, apa?
"Aku tahu.. Aku tahu semua.. Tapi aku bingung kenapa tiba-tiba kau membongkarnya sekarang?" Yunho menunduk menahan emosinya sendiri.
Jaejoong masih terdiam dengan tatapan kosong kini.
Yunho tahu?
Sejak awal, Yunho sudah tahu?
Tapi kenapa ia mengajakku kencan?
Apa tujuannya?.
Untuj mengejekku?
Perlahan terdengar suara tawa sarkastik dari bibir cherry Jaejoong.
Gadis itu menutupi wajahnya sendiri.
"Jadi aku yang dibodohi? haha... Mengesankan!"
"Jae! Buka dulu pintunya!" Yunho terus memukul pintu itu tanpa ampun.
"AKU JUGA TIDAK SERIUS!"
Bentakan Jaejoong membuat Yunho terhenti sesaat.
"Apa?" lirihnya.
"KARENA MEMBENCIMU, AKU HANYA INGIN MEMBUATMU MENYUKAIKU LALU MENCAMPAKKANMU! TAPI AKU YANG KALAH LAGI! KAU PUAS KAN?! SEKARANG PERGI DARI SINI, AKU TIDAK INGIN MELIHATMU LAGI!" kemarahan Jaejoong tiba-tiba meluap.
Yunho menatap tak percaya kearah pintu kamar itu.
Lalu akhirnya ia tak mampu lagi menahan emosi.
Prakk!
Dengan kasar, Yunho menaruh barang-barang Jaejoong di depan pintu kamar itu.
"Baiklah kalau itu maumu!" dan detik itu juga Yunho meninggalkan kamar Jaejoong.
Ia berjalan sesantai mungkin saat menemukan Yoochun dan Kim umma yang sedang berdiri di tengah-tengah tangga rumah itu–menguping sejak tadi, sepertinya.
"Maaf sudah membuat keributan..." ucap Yunho sebelum benar-benar meninggalkan rumah itu.
Dan Yoochun serta Kim umma hanya mampu memandang segan pada sosok itu.
Esoknya
"Sudah kubilang kan.. Hal seperti itu bukan untuk main-main, Joongie~" pagi Jaejoong dihiasi dengan ceramah si imut Junsu kali ini.
Setelah beberapa saat lalu ia menceritakan hal yang terjadi antara dirinya dan Yunho, bebek itu tak juga berhenti menasihatinya.
"Mian Su, kau juga jadi ikut bolos latihan basket.."
"Tidak masalah yang masalah sekarang keadaanmu, akhirnya kalian saling menipu kan? Memangnya seburuk apa sih hubungan kalian?"
"Uhmm~ aku ingin Caramel Macchiato dengan ekstra whipped cream..."
"Joongie? Kau tidak mendengarku?"
"Iya.. Iya.. Aku mendengarmu, Kim Junsu"
Jaejoong tetap berjalan beberapa langkah di depan Junsu, mood-nya benar-benar jatuh ke tingkat paling bawah kini, hingga terpaksa membolos latihan pagi bersama Junsu.
Lagipula ia tak bisa menyembunyikan matanya yang sembab karena terus menangis semalaman tadi.
"Awalnya aku serius ingin menipu nya... Tapi lama kelamaan aku sadar, aku merasa nyaman saat bersamanya.. Haha.. Aku yang bodoh, mana mungkin kan dia serius menyukaiku hanya karena aku memakai wig?" Jaejoong menunduk, membiarkan poninya yang cukup panjang menutupi matanya yang mulai terasa panas lagi.
Junsu yang mengekor hanya mampu menatap sendu, menyadari Jaejoong kini pasti menahan tangisnya lagi.
"Aku yang bodoh karena berpikir setidaknya ia memiliki sedikit perasaan padaku.. Ah, rasanya jadi kesal sendiri.." Jaejoong berusaha tertawa.
Namun Junsu mengerti dan segera memeluk leher sahabatnya itu dari belakang.
"Jaejoongie~!"
"Wakh! Apa yang kau lakukan, Suu~?" protes Jaejoong.
"Kalau kau masih butuh menangis, menangis saja.. Aku disini, Joongie~"
Jaejoong pun tersenyum mendengar sahabatnya yang begitu polos itu.
"Aku tidak akan menangis lagi, Su.. Kenapa aku harus menangis?"
"Habisnya, Kau menyukai Yunho kan, Joongie? Aku tahu itu..."
Jaejoong sempat terkejut dengan tebakan Junau.
"Haha... Mana mungkin aku menyukai beruang itu..." Kalimat akhir Jaejoong terdengar begitu lirih.
.
.
.
"Yo! Yunho! Pass!" teriak Donghae pada Yunho.
Yunho pun mengoper bola di tangannya dan dengan cepat Donghae mencetak skor.
Yunho menyeka keringatnya sendiri dan menuju ke tepi lapangan karena merasa latihan paginya sudah cukup.
"Hei, kemana Kim Jaejoong? Dia sama sekali tidak kelihatan?" tanya Donghae sambil matanya mencari-cari sosok mungil itu di tribune.
Yunho hanya cuek dan tetap melanjutkan minumnya.
"Hah~ aku tidak menyangka akan mengatakanini, tapi.. Kalau si kecil itu tidak datang rasanya membosankan ya?"
Dan Yunho hanya terdiam.
at Cassiopeia Cafe
Cafe belum lama dibuka ketika Jaejoong menuju ke ruangan Yoochun.
Ia mengetuk pelan pintu ruang 'manager' itu meski tidak tertutup.
Bisa ia lihat kakaknya yang sibuk menonton televisi.
"Yoochunnie~ aku berhenti kerja ne?" pinta Jaejoong yang kini bersandar di pintu ruangan itu.
"Hmm? Kenapa?" Yoochun sama sekali tidak mengalihkan tatapan dari televisinya.
Jaejoong pun menunduk.
"Kenapa ya.."
Ia menatap seragamnya sendiri.
'Kalau memakai seragam ini perasaanku jadi tidak enak karena teringat banyak hal..'
"Padahal 'oppa' senang karena akhirnya kau jadi cantik, Joongie~" ucap Yoochun mendadak.
"Kau hanya malas mencari pegawai kan?" sergah Jaejoong tepat.
"Kau ini..."
Yoochun pun berjalan mendekati Jaejoong dan mencubit pelan pipi putih gadis itu.
"Kenapa mendadak sih? Padahal aku suka melihatmu yang belakangan ceria seperti itu.."
"Siapa yang ceria?"
"Baiklah.. Baiklah.. Aku akan mencari pegawai baru tapi kau harus tetap bekerja sampai aku mendpatkannya.." Jelas Yoochun dan Jaejoong pun akhirnya mengangguk setuju.
"Jja.. Kembali bekerja" Perintah Yoochun.
"Arasseo~" Jaejoong tersenyum samar sebelum akhirnya kembali ke counter cafe.
.
.
.
Jaejoong berusaha melayani tamu dengan manis sepertj biasa meski hatinya kini sedang tidak tenang.
Dan dengan mudah Junsu bisa melihat itu.
Klingg~
Bell pintu cafe kmbali berbunyi saat pintu itu dibuka.
"Selamat datang kembali tu–" Jaejoong melotot kaget saat menyadari yang datang adalah anak-anak klub basket laki-laki.
Termasuk Jung Yunho!
'Ke-kenapa mereka?! Omo, aku harus pasang wajah seperti apa di hadapan Yunho?! Sial!' gerutu Jaejoong.
Namun pikirannya harus terhenti ketika matanya bertemu tatap dengan kedua mata musang Yunho.
Yunho tersenyum lembut padanya.
"Lama tidak bertemu, Jaekyungie.."
Ckit..
Rasanya sakit bagi Jaejoong karena Yunho bersikap seolah tidak ada yang terjadi.
Jaejoong masih terdiam di tempatnya meski rombongan itu sudah menuju tempat mereka.
Dan mengetahui apa yang terjadi, Junsu segera melayani rombongan itu supaya Jaejoong tidak semakin terbebani.
"Junchan, anak perempuan tidak ikut kamp musim panas ya?" tanya Heechul.
"uhum.. Karena yang ikut pertandingan antar wilayah hanya kalian, jadi tim kami tidak ada yang ikut.." Junsu masih berdiri di dekat meja itu sementara Jaejoong melayani meja yang tak jauh dari mereka.
"Ahh! Membosankan sekali kalau begitu.." keluh Siwon.
"Kalau kalian mau mungkin sesekali aku bisa mengantar makanan.." tawar Junsu yang memang tidak ada kegiatan selama liburan musim panas.
"Sungguh Junsu-yah?! Wahh kalau begitu dengan senang hati kami terima" mereka pun tertawa.
Tak menyadari bahwa sepasang mata salah satu dari mereka hanya tertuju pada maid lain yang tak jauh dari meja mereka.
"Jaekyung juga ikut kan?" tegur Yunho ketika Jaejoong hendak melewati mereka.
Junsu sweatdrop seketika.
"Wah! Ide bagus Yunho..! Aku juga ingin sekali Jaekyung datang!" sahut Donghae semangat.
Jaejoong hanya mampu menatap heran pada Yunho yang kini tersenyum.
'Apalagi rencananya? Padahal kan dia tahu ini aku..' Pikir Jaejoong.
"Ngg~ itu.. Jaekyung pasti sibuk.. Dia kan kuliah.." elak Junsu.
"Bukankah kuliah sedang libur ?" bantah Yunho lembut tanpa melepas kontak mata dari Jaejoong.
Jaejoong tak tahu harus menjawab apa karena mata Yunho, tatapan itu sungguh menjeratnya.
Grep~
Dan tiba-tiba saja tangan Yunho bergerak menggenggam tangan Jaejoong.
Menariknya pelan seperti seorang anak kecil yang sedang merajuk.
"Aku ingin Jaekyung datang, bisa kan?"
Jaejoong hanya mampu terdiam dengan wajah memerah.
Ia lemah dengan genggaman tangan ini.
"Gomawo Yoochun oppa, sudah mengantar kami sampai kesini.." Junsu tersenyum ceria pada Yoochun.
"Hmm~ jaga diri kalian.. Kalau sudah waktunya pulang, hubungi aku.. Biar aku yang menjemput..."
"Kyaa~ oppa baik sekali" jerit Junsu, Jaejoong memutar bola matanya.
.
"Joongie, kau yakin tidak apa-apa? Kau kan bisa menolaknya.." Junsu mulai membahas masalah itu lagi kini.
"Aku tidak apa-apa Junchan.. Tenang saja.." jawab Jaejoong yang sepertinya sudah mempersiapkan diri, ia bahkan memakai kacamata supaya teman-temannya yang lain tidak mengenalinya.
Jujur saja Jaejoong pun ragu apa ini akan baik-baik saja.
Tapi ia ingat bagaimana tangannya disentuh oleh Yunho, ia merasa begitu kehilangan logikanya.
Ia tak mampu menolak bahkan menepis tangan Yunho saat itu.
.
"Annyeong~ ada yang lapar?" teriakan Junsu membuat para anggota tim menoleh ke sisi lapangan.
"Junchan~!" Siwon segera berlari mendekati Junsu–atau tepatnya mendekati keranjang makanan yang dibawa Junsu.
Mereka pun sibuk berbincang dan beberapa dari mereka bertanya tentang Jaekyung yang blum mereka ketahui sebelumnya.
Sepertinya sosok Jaekyung menjadi pusat perhatian kini, Jaejoong bersyukur karena ia sudah mempersiapkan segalanya dengan baik jadi tidak ada satupun yang mengenalinya.
Saat sibuk istirahat makan siang, para anggota tim lebih memilih berkumpul dan maan ditengah lapangan, Junsu pun disana.
Sementara Jaekyung hanya duduk di tepi, memikirkan banyak hal.
"Hei.. Boleh aku minta teh-nya?"
Jantung Jaejoong terasa hampir mencelos, suara ini lagi...
Ia tak mampu mengangkat wajah untuk menatap pria itu bahkan sampai pria itu duduk di sebelahnya.
Jarak mereka tidak dekat tapi juga tidak begitu jauh.
Jaejoong bingung harus bagaimana menghadapi Yunho.
"Kau datang juga..." Yunho menyandarkan kepalanya di lutut, menatap Jaejoong yang membuang muka.
"Kau yang memintanya.."
"Ne, karena itu.. Kupikir karena aku yang memintanya, jadi kau tidak datang.." Ucap Yunho dengan tatapan yang sungguh sulit diartikan bagi Jaejoong.
Jaejoong memberanikan diri menatap pria itu.
Oke, ia semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran pria ini.
Lalu kenapa Yunho menyuruhnya datang?
"Ah ya.. Anggap aku bodoh karena menurutimu.. Kau pasti senang kan? Selamat tuan Jung!" Jaejoong beranjak pergi.
tiba-tiba saja ia merasa begitu bodoh karena tanpa sadar menuruti kemauan pria bermata musang itu.
"Jae..!" Yunho ikut bangkit mengejar Jaejoong yang berjalan cepat.
[Kim Jaejoong POV]
Dia benar..
Kenapa aku selalu mendengarkan kata-katanya?
Apa maksudnya?
Apa yang dia pikirkan?
Kenapa dia berbuat seperti ini?
Aku ingin bertanya tapi tidak bisa.. Aku takut..
Aku takut mendengar jawabannya.
Hanya karena satu kalimatnya saja aku jadi terombang-ambing seperti ini.
Tidak tahu harus berbuat apa, Tidak berani menatap wajahnya..
Sial!
Ini seperti bukan diriku sendiri.
Menyedihkan..
Menjengkelkan..
Tapi ternyata memang aku sudah jatuh cinta pada Yunho.
Rasanya jadi kesal sendiri.
Grep~
Yunho berhasil menghampiriku padahal aku sudah berusaha berjalan secepat yang ku bisa.
Ia memegang erat pergelangan tanganku.
Kedua pergelangan tanganku kini.
"Pergi! Tinggalkan aku!" Bentakku saat ia menarikku menghadapnya.
"MANA BISA BEGITU?! KENAPA WAKTU ITU KAU BILANG TIDAK SERIUS?" aku terdiam demi mendengar kalimat Yunho selanjutnya.
"Jangan seenaknya mengambil keputusan tanpa mendengar penjelasan dari orang lain! Aku mmang pura-pura tidak tahu saat mengajakmu kencan, tapi itu untukmu, untuk Kim Jaejoong!"
Aku menatapnya.
Ah, kenapa tidak ada sirat kebohongan di mata itu?
"Kalau 'Jaejoong' yang kuajak, pasti kau akan langsung menolak kan? Aku sama sekali tidak peduli alasannya yang penting kau mau menemuiku.."
Aku kembali tak mengerti, mencoba mencari kesimpulan lain dari kata-kata Yunho.
Hatiku terus menyangkal.. Tidak mungkin kan maksud Yunho adalah..
"Aku tidak peduli, asal ada kesempatan untuk membuatmu menyukaiku.. Aku akan menggunakannya.."
Yunho..
Itu artinya Yunho menyukaiku?
"Kau bicara.. Apa.. Aku tidak mengerti.." kututp wajahku sendiri menyembunyikan airmata yang turun tanpa seizinku.
Aku pasti terlihat begitu lemah sekarang.
"Akh! Apa-apaan ini.. Jangan lihat aku.." Kuusap kasar pipiku untuk menghapus jejak-jejak airmataku sendiri.
Kuputuskan untuk berbalik membelakangi Yunho karena tidak ingin ia melihat sisi lemahku.
"Ani.. Aku mau lihat.." namun ia justru mendekatiku, memposisikan diri memelukku dari belakang.
"Airmata itu artinya kau juga mencintaiku kan?"
Ia menyatukan jari-jari tangan kirinya dengan tangan kiriku.
Dan aku harus menahan nafas saat tiba-tiba ia mengangkat daguku dengan tangan kanannya lalu mempertemukan bibir kami.
Ciuman pertamaku..
Begitu tiba-tiba, tapi aku merasa tak lagi menapaki tanah.
Begitu bibir kami bertemu otakku berhenti berpikir, perasaan bahwa aku mencintai Yunho yang seblumnya masih samar kini terasa begitu jelas kurasakan.
Hanya karena sebuah ciuman!
"Mhh~" dan rasanya aku mulai terbuai oleh hisapan lembut Yunho di bibir bawahku. Ia memperlakukanku dengan begitu lembut, aku sangat menyukainya.
"eungh.." tangan kanan Yunho yang memegang daguku tiba-tiba memaksaku membuka mulut, dan sontak aku melotot kaget ketika Yunho memasukan lidahnya ke dalam mulutku.
"nghh!"
Dukk!
"Argh!"
Dengan terpaksa ku sikut perutnya karena ciuman yang berlebihan ini.
Apa-apaan dia? Padahal itu ciuman pertamaku tapi dia malah membuatnya mengerikan seperti itu.
"Aku bahkan belum mengatakan apa-apa, bodoh!" kututup mulutku sendiri karena malu.
Jung Yunho brengsek, ia memberikan deep-kiss sebagai ciuman pertamaku.
"Kalau begitu ayo bilang.." pinta Yunho sambil menatap tajam padaku.
Ukh! Gawat.. Apa benar-benar perlu ku ungkapkan sekarang?
"Kalau tidak mau bilang, ku cium lebih dalam daripada yang tadi.."
"Gyah! Bi-bicara apa kau bodoh?!"
"5.. 4.."
"Yah! Kenapa hitung mundur?!"
"3.."
"Baiklah baiklah!" Sahutku mengalah, ah.. Aku tidak punya cara lain.
"Nah, silahkan.." bisa ku lihat senyum penuh kemenangan di wajah Yunho.
Dasar namja mesum!
Kutatap wajahnya sesaat, memastikan ia mendengarkanku.
"A.. Aku menyukaimu.."
Chu~
Dan tiba-tiba saja pria ini kembali menciumku.
"mhh~"
Namun kali ini ia segera melepas ciumannya, tidak seperti tadi.
"Kalau cuma kecupan tidak apa-apa kan?" Ia tersenyum sambil melingkarkan lengannya di pinggangku.
Aku kalah lagi, tapi aku menyukai kekalahanku kali ini.
"Ne, gwaenchan-mhh"
Dan kembali Yunho menciumku, membawaku dalam pelukannya.
Kali ini saja kubiarkan karena bisa kurasakan debaran jantungnya sama denganku.
Kami memiliki perasaan yang sama.
Gusrakk~
Yunho dan Jaejoong terpaksa harus menghentikan lovey-dovey mereka saat mendengar suara itu.
Dan ketika mereka melihat ke arah datangnya suara itu.
"Ma-maaf.. Kami tidak sengaja.."
"Ternyata Yunho dan Jaekyung pacaran ya?"
"Huwee~ padahal aku juga mengincar Jaekyung!"
Teman-teman Yunho lengkap berada di balik semak-semak itu, keduanya tidak tahu jika sejak tadi mereka mengintip.
'GAWAT!' batin keduanya.
"Lalu, oppa.. Akhirnya Jaejoong menerima Yunho, mereka sepasang kekasih sekarang.." Junsu sejak tadi berceloteh ria.
Padahal di jok belakang mobil, Jaejoong rasanya ingin sekali menjadikannya bebek panggang.
"Wah, jadi kau sekarang sudah jadi 'perempuan', Joongie?" Yoochun menggoda adiknya itu.
"Kim Junsu! Untuk apa kau ceritakan hal yang tidak perlu?!" kesalnya.
Drrtt~
Kemarahan Jaejoong harus tertunda saat ponselnya bergetar.
1 pesan baru.
.
From : Yunho pabo!
Karena ketahuan pacaran, Donghae menghukumku latihan habis-habisan..
Tidak adil kalau hanya aku yang merasakan hukuman ini, jadi kalau kita bertemu lagi ingatkan aku untuk menghukummu 10 ciuman!
.
"Waa~!" Jaejoong kelabakan sendiri membaca pesan dari Yunho, hingga hampir menjatuhkan ponselnya.
'Namja mesum! Apa sih yang ada di otaknya?!' batin Jaejoong, pipinya yang putih kini kembali merona hebat.
Jaejoong berjalan diantara kerumunan orang di stasiun, ia berusaha mencari sosok Yunho.
"Jae!"
Ah! Ternyata Yunho sudah berada tak jauh darinya.
Beginilah mereka akhirnya, Jaejoong masih tetap harus menyamar sebagai Jaekyung supaya mereka bisa pacaran secara normal.
Dan waktu kencan pun terbataa karena mereka hanya leluasa bertemu ketika Jaejoong berangkat menuju cafe.
"Sudah 2 minggu ya.." Mereka mulai berjalan berdampingan menuju cafe.
Jaejoong mengangguk, sengaja berjalan lebih pelan supaya mereka punya waktu lebih untuk bersama.
"Apa tidak sebaiknya kita beritahu mereka saja kalau kita sudah pacaran?" tanya Yunho pada Jaejoong.
"Lalu Jaekyung mau diapakan?"
"Bilang saja sudah putus, lalu aku pacaran dengan Kim Jaejoong.. Kalau seperti itu jadi tidak harus membongkar Jaekyung yang sebenarnya kan?"
Jaejoong merasa Yunho benar.
Tapi entah kenapa ada perasaan yang mengganjal di hatinya.
Ia hanya belum siap mengakui rivalnya ini sebagai kekasihnya.
"Kenapa kita tidak seperti ini saja sih?" gerutu Jaejoong
"Kau pasti akan sibuk bekerja, aku juga ada kegiatan klub selama musim panas, tidak ada waktu untuk bertemu kan? Aku tidak mau kencan sambil mengqntarmu ke cafe seperti ini terus.."
Ah, pangeran egois..
Ternyata Yunho luar biasa keras kepala juga ya, meski tak sebanding dengannya.
Yunho menggenggam tangan Jaejoong ketika mereka melewati kerumunan orang.
Perdebatan kecil pun terjadi diantara mereka.
"Kita kan masih bisa bertemu di sekolah.."
"Sebagai saingan? Hell, No!"
"Tapi setelah itu aku kan jadi Jaekyung dan kita bisa kencan seperti ini lagi.."
"Sudah kubilang aku ingin kencan yang normal, Kim Jaejoong... "
"Tapi pasti kau merasa lebih nyaman jalan bersama Jaekyung kan? Kurasa dia lebih cocok untukmu daripada 'Jaejoong'.."
Yunho berhenti dan menatap gadis cantik itu.
"Are u kiddin' me? Aku bukan menyukai 'Kim Jaekyung', yang kusukai itu 'Kim Jaejoong'"
Blushh~
Jaejoong kembali merona heboh karena Yunho mengucapkan hal seperti itu dengan santai–lagi.
"Kenapa sepertinya sulit sekali bagimu ?" tegur Yunho.
"A-aku tidak mau.. Menjadikan rival sebagai kekasih itu kan.. Bisa merusak reputasiku.."
Oops!
Dan setelah terkejut oleh kalimat Jaejoong, ekspresi Yunho pun berubah.
"Hoo~ jadi itu yang ada di pikiranmu?" Sindirnya.
Ok, Jaejoong merasa bodoh kini karena mengucapkan hal yang tidak seharusnya, ia terus saja menyumpahi dirinya sendiri.
"Kalau begitu tidak usah pacaran saja.." dan bersamaan dengan itu Yunho berjalan menjauh.
Jaejoong tahu pria itu pasti kesal dengan ucapannya.
"Yun!"
Jaejoong berusaha memanggil Yunho namun sia-sia karena kemudian ia benar-benar ditinggalkan oleh pria itu.
'Ah! Sial.. Kenapa aku bicara soal gengsi..' Jaejoong memukul pelan mulutnya sendiri.
Kalau bukan karena gengsi-nya mungkin saa ini ia dan Yunho tidak akan bertengkar kan?
Terpaksa Jaejoong melanjutkan langkahnya sendirian.
Esoknya di klub basket.
Jaejoong memakai sepatu basket-nya sambil merenung berkali-kali.
Sesampainya di cafe kemarin ia memang mencoba menghubungi Yunho, tapi nihil.
Sepertinya Yunho marah besar padanya.
"Hhh~" gadis itu menghela nafas, ia semakin merasa bersalah karena berkata kasar seperti itu.
Kata Junsu, Yunho hanya ingin bisa mengakui Jaejoong sebagai pacarnya dan itu tidak salah.
Jaejoong memang merasa keterlaluan, padahal yang pertama mengungkapkan perasaan waktu itu Yunho kan? Dan sekarang sikap Jaejoong justru seperti tidak menghargai perasaan Yunho.
"hah~ Baiklah, aku harus minta maaf" untuk kali ini, Jaejoong mengesampingkan gengsinya.
Ia sudah bertekad untuk menjadi lebih baik bagi Yunho.
.
"Huahh.. Gedung olahrag panas sekali.." gerutu Jaejoong ketika mereka mulai memasuki lapangan.
Riuh jerit para junior pun menggema seperti biasa.
Terutama fans Jaejoong yang sudah lama tidak melihat idolanya itu di lapangan.
"Hoo~" Jaejoong melambai pada mereka dan tersenyum.
"Sepertinya kau makin populer, Jaejae.. Sayang sekali ya kau perempuan.."
Tiba-tiba Jaejoong bergidik ngeri karena Yunho sudah berada di hadapannya, menyindir dengan kata-kata sarkastik, dan menatapnya sangat tajam.
Glek!
'Di-dia masih marah..' batin Jaejoong.
"Ng~ Yun.. aku–" Jaejoong berhasil mendapat perhatian Yunho dan ia berniat meminta maaf saat ini namun..
"Yunho! Yeogii.. Yeogii.." manajer klub basket laki-laki memanggil nama kekasihnya.
Dan sialnya, Yunho lebih memilih menghampiri si manajer berdada besar itu.
Demi Tuhan, rasanya ia ingin menguliti manajer ber-'implan' itu karena berani mencuri perhatian kekasihnya.
.
Latihan berlanjut namun Jaejoong sering lebih fokus menatap Yunho dan manajer sial tadi di tepi lapangan.
Ah, mereka tertawa!
Dan itu membuat dada Jaejoong berjuta kali semakin panas.
'Cih~ dia bahkan tertawa seperti itu dengan gadis lain?'
Jaejoong tak melepas tatapannya dari 2 orang yang berlagak mesra itu.
Dan sepertinya ada akibat yang harus dibayar Jaejoong karena tidak fokus pada latihan.
"JAEJOONGIE!"
Jaejoong menoleh saat bola basket tepat mengarah padanya dan..
Duakhh!
Semua berubah gelap.
"Nghh~"
Suara bel sekolah membangunkan Jaejoong.
Ia menggeram sesaat karena merasa pusing sekali.
"Eh? Aku kenapa?!"
Ia segera terduduk kaget begitu menyadari kini ia berada di UKS sekolah.
"Kau pingsan karena terbentur bola.."
Jaejoong menoleh dan mendapati Yunho berdiri di dekat pintu ruangan itu.
Tirai-tirai pemisah ranjang UKS yang tertiup angin sore memang sempat menghalangi pandangannya, tapi Jaejoong yakin itu Yunho.
"Bola basket itu harusnya ditangkap dengan tangan, bukan ditangkap dengan wajah hh.." Pria itu menghela nafas begitu sampai dihadapan Jaejoong.
"Tapi kalau kau bisa melonjak terbangun begitu, artinya kau tidak apa-apa kan?"
Puk..
Yunho menepuk kepala Jaejoong, dan rasanya begitu nyaman.
Yunho mengkhawatirkannya?
Ekspresi Jaejoong berubah sendu, ia merasa sangat bersalah pada kekasihnya itu.
"Y-Yun.. Kau yang membawaku kemari..?"
Yunho duduk di tepi ranjang membelakangi Jaejoong.
"Humm.. Tenang saja biar kubereskan nanti, kupastikan tidak ada yang tahu kalau kita pacaran." lirih Yunho membuat hati Jaejoong seperti ditusuk.
"Bu-bukan begitu.. Aku hanya tidak mengerti soal pacaran atau semacamnya, jadi aku takut.. Semua karena keegoisanku.. Kalau kau terus bersamaku, mungkin kau akan terus sakit hati.." Jaejoong berusaha menyampaikan perasaannya.
Tapi..
Greek~
"Jaejoong sunbae?!"
Mereka menatap kaget pada tirai yang mengarah ke pintu ruangan itu.
Dua orang itu kelabakan mencari cara supaya Yunho bisa sembunyi.
Dan akhirnya Yunho memutuskan masuk kedalam selimut Jaejoong, sementara Jaejoong pura-pura tidur membelakangi arah datangnya mereka dan menutup selimut sebatas leher.
Srekk..
Suara tirai dibuka membuat Jaejoong ketakutan.
"Ah Sepertinya Jaejoong sunbae belum siuman.."
"Ya sudah kita kesini lagi saja kalau Jaejoong sunbae sudah bangun.."
"Ah sebentar aku butuh obat sakit perut"
Jaejoong menghela nafas lega ketika mendengar percakapan gadis-gadis itu.
Namun ia merasa ada yang janggal kini.
Oh damn! Jung Yunho memanfaatkan kesempatan ini untuk menyentuhnya?
Ya bisa ia rasakan bagaimana tangan pria itu mengangkat t-shirtnya.
"Yun! Apa yang kau lakukan?!" Jaejoong mendesis berusaha supaya fans nya di balik tirai itu tidak mendengar apa-apa.
Jaejoong kini mati-matian menahan tangan Yunho yang merayap masuk ke t-shirt olahraganya.
"eungh~" Jaejoong menutup mulutnya sendiri saat lenguhan itu lolos.
Susah menahannya jika tangan Yunho gencar mengusap pinggangnya kini, sementara bibir pria itu menyapu bagian pangkal lehernya.
Its feel so weird!
"Yun masih ada mereka!" desis Jaejoong lagi.
"Kalau begitu ini kesempatanmu.. Berteriaklah kalau kau tidak suka pacaran denganku, kau bisa meminta tolong pada mereka.."
Jaejoong terdiam menatap Yunho, tiba-tiba saja ia merasa ingin menangis.
Blam!
Mendengar suara pintu yang ditutup, Yunho segera membuka selimut mereka dan mendapati Jaejoong yang menangis sambil menutup wajahnya.
"Bodoh! Mana mungkin aku tidak suka pacaran denganmu! Aku.. Aku hanya takut jika harus mengakuinya.."
"Jae..."
"Tapi melihatmu bicara dengan perempuan lain saja aku sudah jengkel, ternyata aku memang egois.. Aku.. Sekarang aku tidak peduli lagi ketahuan atau tidak.. Aku hanya menyukaimu, Jung Yunho!" dengan cepat, Jaejoong menggapai Yunho, memeluk pria itu seerat yang ia bisa.
Yunho masih terkejut sekaligus senang dengan pengakuan ini.
Ia pun membalas pelukan Jaejoong.
"Aku juga minta maaf.. Aku terlalu memaksakan perasaanku sendiri, harusnya aku tahu kau belum siap.." Yunho mengecup lembut pipi putih Jaejoong sebelum melepaskan pelukan mereka.
Kini mereka bertatapan dengan jarak yang begitu dekat, hingga Jaejoong bisa melihat sinar lembut di mata Yunho lagi.
"Mulai saat ini aku akan menunggumu sampai kau siap mengakuinya bersamaku.. Aku akan tetap bersabar dengan 'Jaekyung', kau boleh melakukannya dengan tempo-mu sendiri, boo.."
"Go-gomawo Yun.." Jaejoong kembali memeluk Yunho sesaat lalu melepasnya.
"Tapi, kau memanggilku apa tadi?"
Yunho tersenyum, "Boo.. Boojaejoongie.. Aku suka panggilan itu, wae?"
Dan Jaejoong ikut tersenyum lalu memggeleng pelan.
"Aku juga suka.."
"Kalau begitu cium aku.." Yunho mengerling nakal.
"Yah! Jung Yunho pabo!" mendadak Jaejoong kembali berubah seperti semula.
"Ayolah, apa salahnya memberi 'hadiah kecil' untuk kekasihmu ini?" Yunho segera merengkuh pinggang ramping itu.
Jaejoong menyerah, pria ini memang benar-benar sulit dilawan!
"Kecupan saja ya?" Yunho pun mengangguk dan membiarkan Jaejoong mempertemukan bibir mereka.
"umhh~" Jaejoong melepas ciumannya saat ia merasakan bibir Yunho bergerak melumat bibirnya.
"Jung Yunho! Kau janji hanya kecupan!" protes Jaejoong dengan pout nya.
"Haha.. Arasseo.. Tapi kau juga janji memberi 10 ciuman kan? Berarti masih ada 9 lagi.."
"Aku tidak pernah berjanji seperti itu!"
"Pernah~"
"Yaishh... Jung Yuhmmmph"
.
.
.
.
To Be Continued
Chapter 4 Done!
Yosh! Saya udah berusaha bikin sepanjang yang saya bisa loh.. Membosankan kah? Mian T-T
Special thanks to
Kalian yang udah ngasih aku semangat buat lanjutin meski ff ku masih banyak kekurangan.
| missy84 | dianaes | myeolchi gyuhee | yoon HyunWoon | thean | jae sekundes | Jung Jaehyun | Himawari Ezuki | Nony | Minhyunni1318 | juuunchan | riii-ka | Taeripark | AnieJOYERS | RyGratia | KimRyeona19 | 9194 YJS | Guest | toki4102 | linglingchan | Guest | han eun ji | joongmax | kitybear | everadit | Guest | dzdubunny | KimYcha Kyuu | bynbkyoung | rly c jaekyu | 3kjj |
Cheukkhae buat | Lady Ze | Jung Hyejung | Yunjae Style | Baby Kim | karena tebakan kalian kalo Yunho udah tau itu bener ^^
PhantoMiRotiC : So am i your nuna? aku baru 20 tahun kok, namdongsaeng(?)... keke~
Park July : ehehe.. Manggilnya 'kak Cherry'? Iyah gak usah ijin, kalo emang minat mah baca aja tp kalo gak yakin sama plot aku sih tinggalin aja :)
Lana Park : Yepp~ coz ngeliat sekarang dia lebih "cowok"(?) sekali-sekali pengen bikin dia jadi cowok biasa... :3 Di ff ini mang cast-nya gak biasa ;)
Yyyjjj5 : Makasih udah mau nyemangatin umma, nak.. :*
And then buat yang nanya ff ini udah mau tamat apa belum, mungkin belum dan cukup panjang karena emang aslinya komik ini ada beberapa buku.
Tapi inti cerita kan udah selese karena Jaejoong udah ketauan?
Inti fic ini bukan tentang penyamaran Jaejoong aja kok, tapi tentang perjuangan mereka juga.
Dan kabar buruknya, bakal ada konflik lain muahaha...
So, stay tune buat yang penasaran, ok?
Last, thanks all~
Find me on twitter : at)CherryYunjae
