-Secretive J-
a YunJae fanfiction ©Cherry YunJae
Pairing : YunJae of course
Genre : Romance-School's Life
Rate : T-M
Length : Chap 5 "Dangerous"
Warning! : Genderswitch!For Jaejoong(Jaekyung)
and Junsu, Out of Character, Typos
Adapted and remake from Kaori Sensei's manga,
Himitsu no Ai chan ©2010 and now starring with
YunJae
.
.
[If you don't like my fanfic, just get off~ simple,
rite ? ^^]
"Huahh! Aku pikir akan terlambat.." Jaejoong menyeka keringatnya saat berhasil duduk di kursinya.
Junsu yang duduk tepat di depan Jaejoong segera berbalik.
"Aigoo~ Apa saja yang kau lakukan bersama Yunho, Joongie? Sampai berkeringat begitu."
"Junchan pabo! Ini karena aku berlari terburu-buru kan." Junsu tertawa geli.
"Heii.. Ayo semua duduk di kursi masing-masing.." semua murid bergegas duduk di kursi mereka begitu melihat Song seosaengnim memasuki ruangan.
Junsu yang duduk tepat di depan Jaejoong masih sibuk menggoda sahabatnya itu.
"Baiklah.. Sebelum memulai pelajaran, bapak akan memperkenalkan teman baru kalian."
Perhatian sepasang sahabat itu segera tersita ke arah dimana sang guru berdiri.
"Ada murid baru, kau sudah tahu?" tanya Jaejoong pada Junsu.
Gadis imut di depan Jaejoong itu hanya menggeleng.
"Biasanya aku tahu, tapi kali ini tidak. Ah, semoga saja namja tampan!" bisik Junsu.
Dan sosok tampan tampan yang diinginkan Junsu pun memasuki ruang kelas mereka.
Namun jauh dari yang dibayangkan, sosok yang berdiri di depan sana justru ancaman besar bagi mereka-ehm, Jaejoong terutama.
"Pagi, Shim Changmin imnida.. Karena ayahku dipindah tugaskan jadi mulai hari ini aku bersekolah disini, mohon bantuannya."
Jaejoong dan Junsu shock.
"Junchan! Ini bohong! Namja itu harusnya di Kyonggi kan?" desis Jaejoong.
"Aku juga tidak dengar apa-apa!"
Mereka berdua tentu saja kelabakan dan histeris dibelakang.
"Kim Jaejoong!" Jaejoong meringis takut saat Song seosaengnim menyebut namanya.
"Shim Changmin, tempat dudukmu disebelah gajah kecil itu."
Dan namja tinggi itupun segera melangkah santai, tanpa menyadari Jaejoong yang semakin shock.
Grekk..
Changmin duduk dikursinya dan menatap Jaejoong yang membelakanginya.
"Kau malah mencurigakan, Joongie!" bisik Junsu tanpa suara.
Jaejoong tak peduli, karena memang ini situasi darurat yang memaksanya harus menghindari pria bermata bening itu.
"Annyeong, Shim Changmin imnida.." Namja itu terlihat berusaha melihat wajah Jaejoong dan terus dihindari.
"Ne, Kim Jaejoong imnida.." jawab Jaejoong tanpa melihat sedikitpun pada namja yang duduk disebelahnya itu.
'Sial! Dari sekian banyak kursi kenapa dia harus duduk disampingku?!' Batin Jaejoong sebal.
Ia terus merutuki hal itu.
Namja bermarga Shim itu terus berusaha menatap Jaejoong yang menghindar.
Hingga Junsu berinisiatif memegangi kepala Jaejoong.
"Hahaha.. Maaf ya, dia agak flu." jelas Junsu sambil berusaha membuat Jaejoong menatap namja itu.
"Oh? Kim Junsu? Kita sekelas?" Changmin tiba-tiba menegur Junsu.
"Ne, aku juga kaget melihatmu tadi." Sementara mereka bicara, Jaejoong sibuk bertingkah seperti sakit flu.
"Oh ya, kalau begitu Miyoung juga disini kan?" tanya Junsu.
Jaejoong melotot horror, ia lupa kalau ada Changmin disini berarti gadis berdada besar itu juga ada.
"Ne, Miyoung ada di kelas A" Changmin tersenyum ramah pada Junsu.
Untuk kedua kalinya, Jaejoong melotot lebih lebar.
'Kelas A kan kelas Yunho!'
.
.
.
Sementara itu, keributan yang hampir serupa juga terjadi di kelas Yunho.
Si sulung Shim berdiri di depan kelas memperkenalkan diri kini.
'Jaejoong pasti marah besar kalau tahu hal ini' Yunho berusaha menatap ke luar jendela, menghindari kontak dari gadis boneka itu.
"Jung Yunhoo!"
Yunho tersentak kaget saat namanya diteriaki seperti itu.
'Gawat..' Yunho meringis kecil karena merasa sebentar lagi pasti ada keributan.
"Oh Godness! Aku tidak tahu kalau ternyata sekelas denganmu.." mata gadis itu berbinar-binar menatap Yunho.
Brakk~
"Yah! Kau ini siapa? Berani sekali meneriaki Yunho kami?!" yeoja-yeoja di kelas Yunho segera bangkit saat melihat Miyoung yang mendekati Yunho.
"Memang ada yang salah? Kami kenalan kok.." Miyoung menatap gadis-gadis itu.
"Apa?! Yunho! Apa hubunganmu dengan bocah ini?" tegas salah satu dari mereka.
"Tidak ada, dia hanya anak baru di cafe tempat kekasihku bekerja.." Yunho mengusap tengkuknya sendiri.
Sesaat mereka semua terdiam.
"Ke-ka-sih?"
Menyadari itu Yunho menepuk kepalanya sendiri.
God! Ucapannya justru memperburuk keadaan.
Mengacuhkan guru yang masih berdiri di depan kelas, kini seisi kelas terlibat adu debat.
"Yah! Mana boleh ada yang jadi kekasih Yunho!"
"Siapa gadis itu?"
"Aku sama sekali tidak mengakui gadis itu, yang akan jadi kekasih Yunho itu aku.." jelas Miyoung penuh percaya diri.
"Yah! Gadis tengik! Kau mau mati eoh?!"
"Miyoung-sshi, pria di kelas ini kan bukan hanya Yunho, kami juga ada" Siwon ikut bicara
"Haishh.. Kenapa Yunho selalu dapat yang bagus-bagus.." keluh Donghae.
Ah, keributan yang nyaris membuat kepala Yunho pecah.
Merasa ada kesempatan selagi mereka sibuk adu mulut, Yunho berusaha menghindar tanpa diketahui satupun dari mereka.
"Chakkaman! Yunho dimana?!"
.
.
.
Diluar kelas A, Jaejoong bersusah payah keluar dari kelasnya untuk melihat keadaan Yunho.
Menatap dari luar jendela secara diam-diam. Sialnya, keributan itu membuatnya kesal setengah mati.
Pukk~
Jaejoong menoleh saat seseorang menepuk pundaknya.
Yunho!
"Huahh! Kenapa jadi kacau begini?!" Jerit Jaejoong frustasi.
Yunho mengajaknya ke tangga darurat yang sudah tidak digunakan, jadi untuk sementara mereka bisa bersembunyi.
"Rasanya ingin melompat masuk lalu menamparnya karena seenaknya saja dekat-dekat kekasih orang lain!" Jaejoong masih berapi-api karena kejadian barusan.
Yunho tersenyum geli.
"Kau cemburu?"
Jaejoong tersentak dan menatap Yunho.
"Ng? Te-tentu saja kan.. Apalagi sebagai 'Jaejoong' aku tidak bisa protes.." jawab gadis itu.
Yunho segera memposisikan diri memeluknya dari samping.
"Diluar dugaan.. Kau manis sekali, Boojae.." Yunho memeluk gemas tubuh kecil Jaejoong.
Jaejoong yang sempat kaget akhirnya mengikuti alur Yunho, menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu.
'Jadi kalau aku jujur, Yunho menganggapku manis? Hehe..' pikirnya.
Tangan Yunho terulur membelai surai almond Jaejoong.
"Tenang saja, aku akan menolaknya dengan tegas dan menghindari kontak dengannya kok.."
Jaejoong tersenyum, Yunho selalu bisa mengucapkan kata-kata yang ingin ia dengar.
"Untungnya dia tidak sekelas denganmu, yang perlu kau lakukan juga jangan sampai bertemu dengannya. Mudah kan?" lanjut Yunho.
Mendengar itu membuat Jaejoong menyadari sesuatu, ia segera mengangkat kepalanya dan menatap Yunho.
"Anii, Yun~ Mereka kembar! Dan kembarannya duduk disebelahku! Ini tetap gawat!" jelas Jaejoong.
"Kembar?" Dahi Yunho berkerut samar.
"Ne! Namja yang melihat kita berciuman waktu itu.."
"Jadi mereka kembar?!"
"Ungg~" Jaejoong mengangguk.
Tiba-tiba saja Yunho mencengkram kepala Jaejoong "Kenapa tidak bilang kalau ada laki-laki di tempat kerjamu, eoh?"
Dan dengan sigap, Jaejoong mencubit keras pipi Yunho "Kau ini bodoh atau apa? Kemarin kan kita sedang ribut karena aku tidak jadi berhenti kerja!"
Yunho menghela nafas.
Sejujurnya ia tidak suka mendengar ada laki-laki lain disekitar Jaejoong.
"Yasudahlah, kajja kembali ke kelas.. Pelajaran pertama pasti sudah selesai."
Jaejoong ikut berdiri menyusul Yunho.
"Saat ini kita hanya harus menjauh dari Shim bersaudara itu kan?".
"Huum~" Sahut Yunho.
"Baiklaaah~ Aku ke kelas duluan ne?" Jaejoong berniat mendahului Yunho, tapi kemudian Yunho memegang erat tangan Jaejoong.
"Lupa sesuatu, uhm?" Perlahan mendekati gadis itu, dan Jaejoong tahu apa maksud Yunho.
Jaejoong menutup mata bulatnya, menanti sentuhan Yunho berikutnya.
2 detik..
5 detik...
8 detik...
Jaejoong membuka kembali matanya karena tidak merasakan apa-apa.
Biasanya Yunho tidak butuh waktu selama itu untuk menempelkan bibirnya kan?
Jaejoong menatap Yunho yang juga tengah menatapnya.
"Mian.. Aku takut tidak bisa berhenti di ciuman saja.." ucapan itu sukses membuat rona merah menjalar di pipi lembut Jaejoong.
Gadis itu akhirnya tertunduk malu, dan melihat tingkah menggemaskan kekasihnya, Yunho segera memeluk Jaejoong.
"Aku serius memintamu libur supaya bisa menemaniku seharian penuh.. Kau mengerti kan?" bisik Yunho sambil mengecup telinga kiri Jaejoong-nya, membuat Jaejoong bergidik geli.
"Ne, Arasseo.." Jaejoong berusaha meredam rona pipinya, ia mencengkram erat seragam Yunho.
"Uhm?" Yunho melepas pelukannya dan menatap kedalam mata Jaejoong.
"Memangnya apa maksudku?" Yunho mencoba memastikan, karena aneh menurutnya saat Jaejoong berubah menjadi penurut seperti ini.
"Kau mau mengajakku kencan kan?" Yunho sweatdrop seketika saat melihat mata polos Jaejoong itu.
"Y-yah, kurang lebih seperti itu.." Yunho kembali memeluk Jaejoong, oke.. Mungkin lebih baik Jaejoong tidak tahu maksud Yunho.
'Gawat.. Gawat.. Akhir-akhir ini aku merasa dipeluk Yunho rasanya lebih berbahaya dari ciuman.. Entah kenapa..'
Jaejoong sedang melangkah menuju kelas saat ia melihat Miyoung bersama beberapa yeoja masuk kedalam toilet.
Ia berhenti dan menatap pintu toilet yang tertutup.
"Hmm.. Barusan Miyoung kan? Baru pertama pindah sudah pergi ke toilet dengan teman akrab.. Rasanya tidak mungkin.."
Jaejoong menggumam.
"Tapi aku sudah janji pada Yunho tidak boleh bertemu dengannya.."
Jaejoong berdiri disana dengan dilemma-nya.
Mari tinggalkan Jaejoong sesaat dan melihat apa yang terjadi di dalam toilet.
Brukk!
Tubuh Miyoung menubruk dinding dengan keras saat salah satu dari mereka mendorongnya.
"Bocah sial! Kau pikir kau ini siapa? seenaknya saja mendekati Yunho kami.."
Miyoung hanya terdiam.
"Yunho itu milik kami, arasseo?!"
salah satu dari mereka menekan-nekan telunjuknya di dahi Miyoung.
"Matamu menyebalkan sekali, padahal sudah diberitahu baik-baik.. Mau kupukul huh?"
"Berhenti!"
Perhatian mereka semua mendadak tersita kearah pintu.
"Lepaskan dia, tingkah kalian memalukan sekali."
Wel, benar.. Itu Kim Jaejoong kita!
"Apa sih? Bukan urusan–"
"Mau melawanku hah?" potong Jaejoong.
Seketika yeoja-yeoja itu gentar dan memutuskan untuk pergi mengingat predikat Jaejoong-preman sekolah-yang cukup mengerikan bagi mereka.
"Dasar menyebalkan!" keluh mereka sebelum pergi.
Jaejoong mendengus kesal.
"Hei... Kau tidak apa-apa?" Jaejoong tercekat, karena saat ia menoleh Miyoung justru sedang memperhatikannya.
'Gawat!'
Tak lama kemudian gadis boneka itu tersenyum.
"Terima kasih sudah menolongku.." Miyoung justru bermanis-manis di depan Jaejoong sekarang.
'Eh? Tidak ketahuan?' Jaejoong mengerjapkan matanya.
"Ehh?!" gadis boneka itu tiba-tiba menjerit kaget karena melihat rok Jaejoong.
"Kau perempuan?!" tanya Miyoung.
Jaejoong mengangguk bingung.
"Huh.. Kupikir kau laki-laki jadi aku berniat berterima kasih, kutarik kata-kataku!" gadis itu segera berniat pergi meninggalkan Jaejoong yang mendadak emosi .
"Tidak perlu membantuku lagi, aku sudah biasa diperlakukan seperti itu.." Jaejoong terdiam.
"Mana mungkin terbiasa? Pasti sakit kan diperlakukan seperti itu?!"
Miyoung segera mendelik dan mendekati Jaejoong.
Plakk!
"Jangan bicara kalau kau tidak tahu apa-apa! Dasar yeoja tomboy tidak peka!" gadis boneka itu benar-benar pergi sekarang.
Jaejoong hanya termangu merasakan pipinya yang baru saja ditampar Miyoung memanas.
"HOIII! KENAPA HARI INI SEMUA ORANG JAHAT PADAKU!" geramnya.
"Cih! Baru kali ini aku ditampar perempuan. Harusnya benar-benar tidak kutolong tadi. Sial!" Jaejoong mengusap pipinya sendiri.
Jaejoong dan Junsu berjalan bersama menuju gedung olahraga saat ini.
Jaejoong melangkah riang sesekali berseandung mencoba menyampaikan perasaan senangnya.
"Joongie.. Sepertinya kau bahagia sekali" Junsu menatap heran pada sahabatnya itu.
ah, Jaejoong memang terlihat aneh saat ini baginya.
"Tentu saja aku senang Junchaan~ Di cafe aku selalu diganggu bocah berdada besar itu, di kelas juga aku harus menjaga sikap karena Changmin duduk disebelahku.."
Jaejoong menatap lurus ke arah gedung olahraga.
"Saat ini hanya tempat latihan basket yang menjadi harapanku untuk bertemu Yunhoo~"
"Aa.. Arasseo.." Junsu mengangguk polos.
"Aku Shim Changmin, mulai hari ini aku bertugas sebagai manajer tim basket yeoja.."
"Dan aku Shim Miyoung, aku menggantikan manajer tim namja sebelumnya.."
Berbeda dengan anggota masing-masing tim yang bersemangat menerima kehadiran manjer baru mereka, Junsu berusaha mendekati Jaejoong yang kini menghantamkan kepalanya sendiri ke tembok.
"Huwaa.. Kembalikan oasisku.." rintih Jaejoong pilu, sementara Junsu berusaha merangkul Jaejoong.
Yunho hanya mampu duduk diam meski sebenarnya ia sangat prihatin melihat kekasihnya.
'Aku benar-benar harus melakukan sesuatu, tapi apa?' Mata musang Yunho bergerak memperhatikan Shim bersaudara.
'hah.. Sepertinya tidak cukup dengan menolaknya saja..'
"Junchann.. Hiks.. Sudah berapa kali aku mendengar mereka memperkenalkan diri.." Jaejoong tampak begitu frustasi karena si kembar itu.
"Uhm, Kim Jaejoong.. Bisa bicara sebentar?" Jaejoong menoleh saat merasa namanya dipanggil.
Shim Changmin berdiri di belakangnya kini.
"Uhm.. Ne? Ada apa?" Jaejoong menatap malas pada namja tinggi itu sambil menutupi kepalanya dengan handuk yang semula berada di lehernya.
"Kudengar Miyoung bicara keterlaluan padamu tadi? Aku minta maaf.." ucap namja itu, membuat Jaejoong segera menoleh.
"Darimana kau tahu itu aku?"
"Ng? Dia bilang 'yeoja tomboy kecil yang tidak peka'."
"Kurasa kau yang menebak itu aku juga keterlaluan.." Jaejoong protes karena kesal.
"Tapi, apa kenapa kau yang minta maaf? Apa kau selalu begitu pada semua orang jika Miyoung berbuat salah?" Jaejoong menarik-narik kedua ujung handuknya.
Changmin tersenyum tanpa arti.
"Tidak selalu sih, Miyoung sering dimusuhi jadi aku harus melindunginya.."
Jaejoong hanya terdiam.
Sudah ia duga sebelumnya, pasti Miyoung sering di diskriminasi.
Ah, kenapa ia merasa sedikit kasihan kini.
Sret..
Jaejoong melotot kaget saat tiba-tiba tangan Changmin menyentuh pipi kirinya.
Dan tanpa mereka sadari, Yunho yang cukup jauh dari tempat mereka juga menyaksikan sejak tadi.
"Damn.." lirih Yunho.
Di sisi Changmin dan Jaejoong..
"Apa masih sakit?" namja itu menatapnya lembut.
Namun Jaejoong segera menepis tangan Changmin yang seenaknya itu.
"Tidak.." Jaejoong mendengus kesal.
Ia akui, namja di hadapannya ini memang tampan.
Jaejoong kembali menarik-narik ujung handuknya sendiri dan menghindari kontak dari namja Shim itu.
Namun Changmin tetap memperhatikan Jaejoong dengan tatapan yang membuatnya tidak nyaman.
"Kim Jaejoong? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Changmin menyentuh handuk yang ada di kepala Jaejoong sekarang, ucapan Changmin segera saja membuat jantungnya nyaris mencelos.
"Mwoya?"
"Aku tipe orang yang tidak mungkin lupa dengan wajah gadis yang pernah kutemui."
Jaejoong melotot horror karena melihat tampang serius Changmin saat ini.
Untuk sesaat, Jaejoong tidak tahu harus berbuat apa.
"A-ah.. Kita bertemu dikelas kan tadi.." Jaejoong menjawab dengan gugup dan segera menarik diri agak menjauh dari Changmin.
"Ani, sebelum itu.."
Plakk..
"Auch.." Jaejoong mendesis sebal saat sebuah tangan berhasil menutupi wajahnya.
"Maaf, tapi dia mainanku jadi jangan sembarangan main dengannya tanpa seizinku.."
Jaejoong menghela nafas lega saat mendengar suara Yunho.
Ah, ditolong oleh Yunho.
"Yah! Siapa yang mainanmu? Menyingkir!" Jaejoong berusaha bersikap normal seperti rival Yunho biasanya.
Changmin lagi-lagi tersenyum melihat tingkah mereka.
"Kupikir kau pangeran yang baik hati saat pertama kali melihatmu, tapi ternyata kau cukup 'sadis' juga ya pada Jaejoongie.." Changmin menatap Yunho.
'MWO? Dia panggil aku apa?' Jaejoong melirik Changmin.
Yunho menyeringa tipis mendengar itu.
"Wae? Kau suka padanya? Tidak kusangka kau justru suka yang tidak seksi seperti dia." Sindir Yunho.
Jaejoong berdiri diantara mereka sekarang, tidak mengerti harus bagaimana.
"Yang benar saja.. Kalau harus memilih.. Kekasihmu, Jaekyung ya? Dia lebih mendekati tipeku.." Changmin tersenyum.
Yunho menatap nyalang pada namja raven itu.
'Dia mengincar Jaekyung?'
Ok, tak ada lagi ramah-ramah kini.
"Dia manis kan?" Changmin seolah bicara melalui mata dengan Yunho, sesuatu yang tidak diketahui oleh Jaejoong.
'Cih, kenapa daritadi mereka bicara tidak sopan tentangku?' keluh Jaejoong yang dengan polosnya tidak mengerti situasi macam apa yang ada di hadapannya kini.
"Humm.. Terima kasih untuk pujiannya.. Jaejae, kajja.." Yunho sempat menatap sinis pada Changmin sebelum kemudian berbalik dan berjalan menuju tepi lapangan.
"Yah! Kau pikIr kau ini siapa?" Teriak Jaejoong mengikuti Yunho, meninggalkan Changmin yang tetap tersenyum misterius.
Yunho tidak bisa tenang sekarang, 1 yang ia pikirkan kini.
Shim Changmin.. Namja itu berbahaya!
.
.
.
To Be Continued
Chap 5 Done!
Saya sempet keilangan mood buat nulis sebenernya tapi untung Cuma sebentar.
Hehe, banyak yang gak suka yah sama kehadiran pihak ketiga? Yaiyalah, siapa yang suka kan?
Saya juga gak suka, tapi menurut saya pihak ketiga itu perlu banget buat penguji cinta mereka, makanya saya suka peran Shim's sibling disini.
Tenang aja, saya gak akan bikin salah satu dari YunJae jelalatan kok :p
Ohya, Miyoung disini itu Tifanny.
Ok, Special Thanks to
| ryung9 | Lady Ze | Minhyunni1318 | Keybin | leny | myeolchi gyuhee | ninanutter116116 | ajid yunjae | iasshine | mrshelmet | Nyonya Park | Himawari Ezuki | liankim10 | Guest | Junghyejung | Jung Jaehyun | Taeripark | Ai Rin Lee | jazila kozato | Park July | | joongmax |bearnya jung | rin | Casshipper Jung | JungJaema | jae sekundes | yyyjjj5 | 3kjj | dianaes | bynbkyoung cathsp | PhantoMiRotiC | akiramia | Guest | KimRyeona19 | Fujhoshilovenchu | everadit | Hana - Kara | dzdubunny | heeliii | rly c jaekyu | Phoenix Emperor NippleJae | JaeLover | BlackXX | Guest |
Then, See ya in the next chapter ;)
