-Secretive J-
a YunJae fanfiction ©Cherry YunJae
Pairing : YunJae of course
Genre : Romance-School's Life
Rate : T-M
Length : Chap 6 "Interested"
Warning! : Genderswitch!For Jaejoong(Jaekyung)
and Junsu, Out of Character, Typos
.
Adapted and remake from Kaori Sensei's manga,
Himitsu no Ai chan ©2010 and now starring with
YunJae
[If you don't like my fanfic, just get off~ simple,
rite ? ^^]
Siang itu di Cassiopeia Café..
"Jadi.. Bagaimana dengan Shim Changmin?"
Yunho menyesap vanilla latte-nya sambil menatap gadis yang kini berdiri di dekatnya itu.
Jaejoong terdiam sebentar mencerna maksud dari kalimat Kekasihnya itu.
"Biasa saja kok.. Kau terlalu berlebihan memikirkan itu.."
"Jangan terlalu santai begitu, dia mengincarmu.. Kau juga dengar kan?"
"Dia hanya bilang daripada Jaejoong, Jaekyung lebih memdekati tipe idealnya.."
Yunho menghela nafas.
Ternyata Jaejoong sama sekali tidak mengerti kecemasannya dan tidak mengerti maksud Changmin.
"Kau sendiri juga, sudah kubilang jangan kesini.. Miyoung jelas-jelas mengincarmu kan!" protes Jaejoong.
"Tenang saja, soal Miyoung–"
"Kyaa~ Yunho memanggilku?" Tiba-tiba saja gadis itu menghampiri mereka.
Jaejoong kesal.
"Tidak ada yang memanggilmu kok.." jawab Jaejoong.
"Benarkah? Tadi Yunho menyebut namaku kan?"
Geram sebenarnya..
"Sesukamu sajalah.." Tapi akhirnya Jaejoong hanya pergi begitu saja meninggalkan mereka berdua.
"Miyoung pernah mengalami banyak masalah, jadi aku harus selalu melindunginya"
'Ah.. Sial.. Setelah mendengar itu aku jadi susah protes.. Changmin pasti melindunginya karena dia banyak terluka..' Jaejoong merenung sambil kembali bekerja.
'Aku jadi tidak ingin menyakitinya karena hal yang tidak perlu.. Habisnya aku dididik untuk menghormati yeoja sih..' Menghiraukan dua pasang mata yang menatapnya, Jaejoong tetap menuju counter.
"Wah.. Apa Jaekyung merelakanmu untukku?" Miyoung tersenyum pada Yunho.
Yunho sendiri melempar pandangan ke luar.
"Itu tidak mungkin.. Jaekyung mencintaiku.. "
"Hmm.. Kenapa kau begitu yakin?"
Kali ini Yunho tersenyum dan menatap Miyoung, "Tentu saja, aku yakin dia memiliki kadar perasaan yang sama denganku. Dia percaya padaku karena itu dia bisa meninggalkan kita hanya berdua seperti ini.."
"Ugh.." Miyoung sempat mendengus kesal.
"Maaf.. Tapi aku belum melakukan apa-apa, jadi jangan menyuruhku untuk menyerah.." gadis itu tersenyum manis kemudian berbalik dan segera meninggalkan meja Yunho.
Miyoung melewati pintu masuk cafe ketika segerombolan yeoja datang, "Ah! Ternyata benar ada!" salah satu dari mereka berteriak sambil menunjuk Miyoung.
Miyoung terbelalak saat mengetahui orang-orang itu adalah teman sekelas yang tadi pagi menyiksanya.
"Mau apa kalian kesini?" tanya Miyoung.
"Diam! Kami tidak ada urusan denganmu! Mana gadis bernama Jaekyung itu?" salah satu dari mereka mendorong Miyoung hingga gadis itu jatuh terduduk di lantai cafe.
Yunho yang melihat itu buru-buru mendekati Miyoung.
Disisi lain, Jaejoong yang ada di balik tirai belakang counter kaget melihat tingkah kekasihnya dan Miyoung.
Ia pasti sudah keluar dari sana kalau saja Changmin tidak membekapnya dan menariknya kembali masuk.
"Gadis-gadis itu mengincarmu.. Berbahaya kan?" Changmin memeluk tubuh ramping Jaejoong.
Merasa tak nyaman, Jaejoong segera melepas paksa pelukan Changmin.
"Tapi mereka–"
"Tunggulah disini, biar aku yang keluar.." Changmin tanpa basa-basi lagi segera pergi meninggalkan Jaejoong.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Yunho sambil memeriksa Miyoung, bagaimanapun Miyoung seorang yeoja.
Ia tidak bisa diam saja saat melihat adegan tadi.
"Kim Jaekyung.. Keluar kau!" teriak mereka.
Yoochun menutup telinganya.
"Aish, siapa mereka?"
"Sial! Ayo kita cari dia!" tampaknya aksi brutal geng itu belum selesai sampai mereka menemukan Jaekyung, namun..
Grep..
"Ada yang bisa kami bantu?" ketiga yeoja itu menoleh saat mendengar suara lembut itu.
Yang pertama mereka lihat adalah seorang namja tinggi yang tampan dengan kemeja putih dan gesture yang sopan, namja itu menggenggam tangan salah satu teman mereka.
"Maaf tapi sepertinya beberapa tamu kami sedikit terganggu.." pipi ketiga gadis itu tiba-tiba merona saat melihat Changmin yang entah disengaja atau tidak seperti mengeluarkan feromon-nya.
"Ah.. Maaf kami mengganggu.." dan yang terjadi berikutnya adalah Changmin berhasil menaklukan ketiga gadis itu.
"Cih.." Yunho hanya berdecih melihat sikap berlebihan namja raven itu.
Di ruang belakang counter cafe.
"Shim Changmin.. Dia sampai berbuat seperti itu?" Junsu heran dan kemudian menatap Jaejoong yang masih melihat ke arah bekas keributan terjadi tadi.
'Pria macam apa sebenarnya Changmin itu?'
Ia merasa Changmin berlebihan.
Yah tapi ia tetap harus berterimakasih karena Changmin membantunya juga.
Jam kerja usai, Jaejoong pun baru saja selesai membereskan seluruh meja.
Dilihatnya Changmin yang sudah berganti pakaian hendak keluar dari cafe.
"Shim Changmin!" buru-buru Jaejoong berjalan ke arah namja itu.
"Uhm?"
"Miyoung dimana?"
"Ah, dia sudah diluar, mau kupanggilkan?"
"Aniya..Aniya.. Aku hanya ingin berterimakasih untukmu.." Jaejoong tersenyum ramah.
"Hmm?"
"Terima kasih, aku jadi ikut tertolong tadi.."
"Kau bicara apa? Aku melakukannya memang karena ingin melindungimu kok."
Jaejoong masih tersenyum.
"Ohya? Changmin-ah, mungkin gadis lain akan luluh mendengar itu tapi maaf itu tidak mempan untukku, aku tahu kau melindungi Miyoung tadi."
Changmin terdiam sesaat lalu tertawa pelan.
"Ketahuan ya.. Sepertinya cara itu memang tidak mempan untuk Jaekyung.."
Jaejoong kini menatap serius pada namja itu, "Apa harus bertingkah sejauh itu untuk melindunginya?"
Changmin tersenyum santai mendengar pertanyaan gadis berbibir cherry di hadapannya ini.
"Ne, apapun kulakukan untuk menjaga Miyoung.. Bahkan jika itu mengharuskanku tidur dengan gadis yang mengganggunya. Dengan begitu gadis itu akan segan mengganggu kakak dari namja yang pernah tidur dengannya kan?"
Jaejoong tercekat.
Sungguh, ia tak percaya Changmin bahkan rela berpikir sejauh itu.
"Kaget?" Changmin masih tersenyum.
"Tentu saja, bodoh!"
Dan namja itu terkekeh pelan.
"Lalu bagaimana dengan perasaanmu?"
Tawa Changmin perlahan berhenti.
"Kalau kau melakukan hal sejauh itu hanya untuk melindungi saudaramu apa perasaanmu tidak apa-apa? Tidur dengan wanita yang tidak kau sukai, memangnya itu menyenangkan?"
Changmin terdiam demi mendengar gadis itu.
"Kau tidak bisa melindungi Miyoung dengan cara seperti itu, karena nanti kau pasti menyesal saat menemukan orang yang kau sukai..Jangan lakukan hal yang menyedihkan seperti itu.."
Changmin tertegun.
"Jaekyung! Yoochun oppa memanggilmu!"
"Ah, arasseo.. Mian, aku duluan ya.." Jaejoong membungkuk sesaat lalu segera pergi menuju ruangan Yoochun sementara Changmin masih berdiri disana.
Namja itu terus menatap arah dimana Jaejoong menghilang sambil tersenyum.
"Gadis yang sulit ditaklukan.. Kenapa dia begitu menarik.."
.
.
.
"Hari sabtu dan minggu besok kau boleh libur.."
Jaejoong melotot.
"Jeongmal?! Yeah!" gadis itu sontak melompat girang Junsu yang duduk di samping Yoochun pun ikut tersenyum.
"Eh.. Tapi kenapa tiba-tiba?" Jaejoong menatap kedua orang itu.
Yoochun tersenyum sesaat, "Junsu memberitahuku, kau akan dijadikan 'wanita' oleh Yunho kan?"
Blushh!
Kontan saja Jaejoong kaget bercampur malu saat mendengar itu.
"Y-Yah! Apa.."
"Yunho memintamu libur seharian penuh, itu artinya dia 'meminta dirimu' kan?" Ucapan Yoochun kembali menusuk Jaejoong.
Junsu pun tersenyum.
"Ne, Joongie.. Sudah pacaran satu bulan lebih tapi masih berhenti di ciuman pasti sangat berat bagi Yunho."
"Ne, ohya kalau kalian bermain jangan lupa pakai pengaman.. Aku tidak mau adikku hamil sebelum menikah"
"Dan ceritakan padaku sehebat apa Yunho-mu ne?"
"KALIAN INI BICARA APA SIH?!" Jaejoong kalap karena malu luar biasa, tapi hal itu sangat lucu bagi YooSu.
Brakk!
Jaejoong membuka pintu samping cafe dengan tidak biasa, Yunho yang sejak tadi sedang duduk di pagar pembatas teras cafe segera berdiri dan menyapa Jaejoong-nya.
"Sudah selesai?"
Namun Jaejoong tak menjawab sama sekali, gadis itu terus saja menatap tajam pada Yunho.
'Jadi yang dia maksud di tangga tadi itu 'menginap'.. Bukan kencan? Aishh.. Kenapa aku juga bodoh sekali.'
"Waeyo, Boo?" Yunho heran sendiri karena tatapan Jaejoong
"Ani.. Itu.. Yoochun bilang aku boleh libur sabtu dan minggu nanti.." Jaejoong tak berani menatap Yunho ketika mengatakan itu, wajahnya terus saja terasa panas.
"Seriously?! Good! Akhirnya kita punya waktu untuk bersama.." Yunho segera memeluk gemas tubuh Jaejoong.
'Sial, aku jadi was-was karena memikirkan ucapan mereka' gerutu Jaejoong dalam hati.
Jantungnya berdetak keras dalam pelukan Yunho.
.
.
.
Hari Sabtu pun tiba.
Jaejoong yang berjanji akan menginap dirumah Yunho kini sudah berdiri di depan pintu kamar apartemen namja itu.
Berdiri.
Hanya itu yang ia lakukan sejak 20 menit lalu.
Tidak sedikitpun ia mampu menekan tombol dan berbicara melalui intercom kamar itu.
Ia benar-benar memikirkan kata-kata Yoochun dan Junsu kemarin.
Ia jadi berfikir apa yang akan terjadi malam ini, dan itu membuatnya sama sekali tidak bisa tenang.
Klekk~
"Oh? Kau sudah datang Boo?" Jaejoong terkejut saat mendengar suara itu.
"Ah, Y-Yun.. Ne.. Hehe" Gadis itu sama sekali tidak tahu harus berkata apa.
"Kalau begitu kajja, masuk.." Yunho menyentuh tangan Jaejong dan menariknya pelan, mengajak Jaejoong masuk ke dalam apartemennya.
Namun perlakuan itu justru memperparah detakan jantung Jaejoong.
Jaejoong duduk dengan kaku di sofa berwarna krem milik kekasihnya itu.
Yunho sendiri kini sedang keluar membeli makanan.
Jaejoong menatap ke sekeliling, Apartemen Yunho terlihat begitu rapi.
Padahal yang ia tahu, namja itu tinggal sendiri.
Gadis itu memberanikan diri bangun dari duduknya dan melihat-lihat ke ruang makan dan dapur milik Yunho.
Ada harum khas Yunho dimana-mana dan itu membuatnya nyaman.
Jaejoong menyentuh meja makan berbahan kayu itu.
'Setiap hari Yunho hanya makan sendirian di sini? Apa dia tidak kesepian?'
Jaejoong kembali menatap sekitar, mencoba membayangkan bagaimana Yunho melakukan segala hal di ruangan ini.
Namun Jaejoong dipaksa berhenti memikirkan hal itu saat sepasang lengan lembut merayap memeluk pinggangnya.
"Eh?!"
"Kau mencari sesuatu?" Yunho sudah ada di belakangnya, padahal ia sama sekali tidak mendengar suara pintu terbuka.
"A-aniya, Yun.." Jaejoong sempat berusaha melepaskan lengan Yunho.
Tapi Yunho yang justru mengeratkan pelukannya itu membuat Jaejoong mengerti bahwa Yunho-nya menginginkan ini.
Yunho menyandarkan kepalanya di bahu Jaejoong, Jaejoong sendiri hanya mengusap lembut kedua tangan Yunho yang menangkup perutnya.
Rasanya begitu nyaman, tanpa berkata apa-apa seluruh perasaan mereka tersampaikan.
Jaejoong menutup matanya merasakan Yunho yang perlahan menggerakan wajahnya, dirasakannya benda lembut yang menyentuh leher kirinya, dan ia tahu itu bibir Yunho.
Gerakan Yunho yang mulai merambat menciumi tengkuknya membuat Jaejoong menggenggam erat lengan pria itu. Yunho mengendus tengkuk Jaejoong sebelum member ciuman mengambang disana.
Jaejoong hanya terdiam, ia menikmati sentuhan-sentuhan ringan yang Yunho berikan kini.
Yunho memejamkan matanya, bibirnya tetap bergerak menyapu leher dan bahu Jaejoong.
Gadis itu begitu memabukkan baginya.
Apa yang dimiliki Jaejoong benar-benar membuatnya menggila, taka da satupun yang Yunho tidak sukai dari gadis itu.
"Umhh.." Jaejoong melepas lenguhan pertamanya sambil memiringkan kepalanya saat Yunho mengigit lembut telinga kanannya.
Serangan pelan yang begitu menyengat.
Tangan Yunho mengusap lembut perut Jaejoong, memberi kenyamanan bagi kekasihnya itu dalam pelukannya.
Rasanya seperti tak perlu kata-kata, mereka hanya bicara lewat tatapan dan sentuhan sejak tadi.
Jaejoong mengerti bagaimana perasaan Yunho saat ini lewat lembut sentuhan yang terus pria itu berikan di bagian-bagian tubuhnya.
Dan Yunho mengerti bagaimana Jaejoong menikmatinya dari tatapan sayu mata doe itu.
Namun sepertinya kita harus kecewa karena Jaejoong justru melepas pelukan Yunho yang sibuk mencium pipinya.
Yunho menatap bingung pada gadis itu, ayolah.. Apa lagi yang ia tunggu padahal akhirnya mereka bisa meluangkan waktu berdua saja.
Demi Tuhan! Berdua saja!
"Mi-mianhae Yun.. Aku belum.." Jaejoong menggantungkan kalimatnya.
Yunho tersenyum simpul mendengar itu.
"Belum siap tidur denganku?"
Jaejoong terkejut, "Yah! Jangan katakan jelas-jelas begitu!" gadis itu memukul keras bahu Yunho.
Yunho pun hanya tertawa renyah melihat Jaejoong yang malu-malu.
"Aku mengerti Jae.. Aku mengerti.. Maaf, aku akan menahan diri kok.." Yunho kembali memeluk tubuh Jaejoong, mencoba membuat gadis itu percaya padanya.
Jaejoong menutup matanya meresapi kenyamanan dalam pelukan Yunho, ia senang karena yang menjadi kekasihnya kini adalah Jung Yunho, bukan yang lain.
"Gomawo.. Tolong tunggu aku.." lirih gadis itu malu-malu dan hanya dibalas dengan ciuman gemas dari Yunho di pipinya.
"Jja.. Mau membuatkan makanan untuk suamimu ini?" Yunho mengecup lembut bibir cherry Jaejoong.
"umh, kau bukan suamiku.."Jaejoong menatap lembut pada Yunho.
"Tapi kau calon suamiku.." pria itu terkekeh melihat Jaejoong yang begitu imut baginya.
"Kau mau memberiku apa jika aku membuatkanmu makanan?" Jaejoong tersenyum.
Yunho memasang ekspresi berpikir sesaat.
"Ok, bagaimana kalau besok kau boleh memilih tempat kencan kita?"
"Jeongmal?! Baiklah suamiku.." Jaejoong mencium singkat bibir Yunho sebelum kemudian melesat mengambil kantung belanja Yunho tadi sementara Yunho masih terdiam di tempatnya.
Pria itu tersenyum singkat.
"Bagaimana aku bisa menahan diri jika dia begitu terus?" Yunho menggaruk tengkuknya sendiri.
.
.
.
To Be Continued.
Maaf buat yang nunggu fanfic ini, chapter ini membosankan ya?
Sekali lagi saya minta maaf.
TapI saya bakal tetep lanjutin fanfic ini kok, masih banyak kejadian yang pengen saya tuang di ff ini..
Gomawo buat yang udah sempetin baca, maaf kalau mengecewakan. *bow
.
.
Then, review please? ;)
