-Secretive J-
a YunJae fanfiction ©Cherry YunJae
.
Pairing : YunJae of course
Genre : Romance-School's Life
Rate : T-M
Length : Chapter 8
Warning! : Genderswitch! Out of Character, Typos
Adapted and remake from Kaori Sensei's manga,
Himitsu no Ai chan ©2010 and now starring with
YunJae
If you don't like my fanfic, just get off~ simple,
rite ? ^^
.
.
.
.
.
"Jaekyung, Yunho.. Miyoung.. Dia menghilang.." dengan nafas tersengal, namja raven itu masih berusaha menyampaikan hal yang membuatnya panik saat ini.
"Mwoo?! Bagaimana bisa?" Pekik Jaejoong.
"Kami bertengkar tadi.. Dan tiba-tiba saja ia pergi entah kemana.." jelas Changmin.
Jaejoong mengepalkan tangannya, "Arasseo.. Kita cari saja..." Jaejoong menatap ke arah kekasihnya, Yunho pun mengangguk mengerti dan akhirnya mereka memutuskan untuk berpencar demi menemukan Shim Miyoung.
.
.
.
30 menit pencarian..
"Hosh.. Kauh.. Menemukannya?" Jaejoong menyeka keringatnya setelah berhasil menghampiri Changmin.
"Ani, dia tidak disana..." Changmin menggeleng.
Jaejoong berpikir sebentar, ia sudah berkeliling berkali-kali di area depan taman bermain itu tapi hasilnya pun nihil.
"Kalau begitu kita hanya bisa berharap pada Yunho.. Dia di bianglala kan?" Jaejoong segera berjalan diikuti Changmin di belakangnya.
.
.
"Arghh! Itu dia!" Jaejoong terkejut karena
dilihatnya sosok Miyoung yang sedang menarik-narik lengan Yunho ke wahana bianglala.
.
"Aku akan pulang kalau kau naik sekali bersamaku..." Miyoung bersikeras menarik lengan Yunho yang enggan mengikuti gadis itu.
"Tapi..." Meski Yunho menahan Miyoung tapi akhirnya gadis itu tetap berhasil membawa Yunho masuk ke salah satu kereta bianglala.
.
.
"Mereka naik! Ayo kejar!" Jaejoong pun akhirnya juga menarik lengan Changmin dengan kalap untuk masuk ke kereta bianglala yang lain.
Bianglala yang mereka naiki pun mulai bergerak, Changmin shock.
"Yah! Bukankah yang normal itu menunggu dibawah!" protes Changmin.
Jaejoong pun melotot horror.
"Ahhh! Benar! Sial..."
.
.
.
Di sisi Yunho & Miyoung.
Mereka berdua terdiam dengan posisi duduk
saling berhadapan, Miyoung terus menatap Yunho sementara Yunho lebih memilh melihat pemandangan diluar sana.
"Dulu aku pernah punya impian menaiki bianglala bersama orang yang kusukai.." gadis itu tersenyum.
"Aku juga, tapi aku justru sudah naik duluan
sebelum itu terwujud" Miyoung yang mengerti maksud Yunho segera merengut kesal.
"Yunho-yah.. Kau terlalu dingin dengan yeoja lain.. Kenapa kau bersikap seperti ini? Tapi aku..."
Miyoung menapakkan kakinya untuk berdiri.
.
.
.
"Aishh.. Tidak bisa dengar..." gerutu Jaejoong
yang kini naik diatas kursi sambil melihat dari jendelanya ke arah kereta Yunho & Miyoung.
"Tapi syukurlah Miyoung ketemu..."
Changmin mendecih setelah mendengar kalimat itu dari bibir cherry Jaejoong.
Gadis itu kembali fokus melihat gerak-gerik kedua orang di depannya itu saat Changmin tiba-tiba menumpu kedua tangannya disisi kanan & kiri Jaejoong, memenjarakan posisi Jaejoong saat ini.
"Kau terlalu baik.. Tidakkah kau pikir harusnya mencemaskan hal itu?" Changmin berbisik sambil menunjuk kereta Yunho & Miyoung dengan dagunya, Jaejoong terpaku menatap Miyoung yang memeluk Yunho, ia tak tahu bagaimana ekspresi Yunho sekarang karena posisi Yunho membelakangi mereka.
"Aku tidak ingin bilang ini tapi... Miyoung sering ditindas dulu, karena itu, untuk membalas orang-orang itu Miyoung merebut kekasih mereka."
Jaejoong hanya terdiam.
"Kali ini dia serius menyukai Yunho, jelas saja dia tidak menyerah padamu." jelas Changmin.
Jaejoong menatap tak percaya pada mereka.
Ia bisa lihat posisi mereka yang seperti akan berciuman saat ini.
Jaejoong terdiam sesaat, genggamannya pada sandaran kursi yang ia naiki semakin erat.
"Bohong kalau aku bilang tidak takut, tapi sekarang ini percuma saja aku cemas.. Keputusannya ada di tangan Yunho." Jaejoong menerawang menatap kereta Yunho & Miyoung sambil tersenyum tipis.
.
.
.
"Aku mencintaimu Yunho-yah.. Aku tidak peduli kau mencintai Jaekyung atau bahkan mencintaiku hanya setengah hati.. Kumohon, beri aku sedikit celah..." Miyoung berdiri di depan Yunho dan memeluk erat namja itu.
Hanya sesaat hingga ia melonggarkan pelukannya untuk menatap wajah namja itu lalu mendekatkan wajahnya, berusaha mencium Jung Yunho.
Srett..
Namun dengan cepat Yunho meletakkan
tangannya sebagai pembatas antara bibirnya
dengan Miyoung.
"Benar.. Kalau kau yang menjadi kekasihku, aku yakin kau akan jadi seseorang yang manis dan baik bagiku.."
Gadis itu terdiam.
"Kau pasti lebih bisa menerima peran itu." Kini ia menatap serius pada Yunho.
"Jaekyung... Dia tidak begitu mengerti soal pacaran, aku harus berjuang sekuat tenaga untuk menghadapinya.." gadis itu masih terdiam.
"Apalagi aku merasa perasaanku lebih besar darinya, karena itu aku harus sering memancingnya untuk sekedar mengatakan langsung apa yang ia rasakan agar aku tenang.." Yunho tersenyum tipis.
"Tapi, aku merasa Jaekyung mencoba menjawab perasaanku dengan caranya sendiri.. Aku tahu ia berusaha membuatku percaya padanya.. Karena itu aku hanya ingin benar-benar menjaganya sekarang ini. Jadi maaf soal perasaanmu, Miyoung-ah.." Yunho menundukkan kepalanya meminta maaf atas penolakan ini.
Miyoung kini menatap sendu.
.
.
Kereta bianglala satu persatu kembali terbuka, Yunho dan Miyoung turun lebih dulu dari Jaekyung & Changmin. Jaejoong yang secara tak sengaja bertemu tatap dengan Miyoung tersentak karena gadis boneka itu tiba-tiba saja mendecih dan berlalu, berjalan secepat yang ia bisa.
Jaejoong yang memang mengkhawatirkan keadaan Miyoung pun mengejar, menarik paksa lengan Miyoung saat berhasil mengejarnya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Jaejoong.
Miyoung yang mendengar kata-kata itu justru semakin kesal.
"Berhentilah berpura-pura peduli padaku! Kau menyebalkan!" bentak Miyoung.
"Aku tidak peduli kau membenciku atau tidak, tapi minta maaflah dulu pada Changmin.. Dia mengkhawatirkanmu.."
Miyoung menepis kasar tangan Jaejoong. "Kau pikir kau siapa? Seenaknya ikut campur. Aku tidak mengerti kenapa Yunho bisa menyukai gadis sepertimu!" emosi Miyoung semakin tersulut, kedua manik matanya terus menatap tajam rivalnya itu.
"Jangan harap aku akan menyerahkan Yunho padamu!" ancam Miyoung dengan airmata yang meluncur pelan di pipinya.
Jaejoong menghela nafas, "Aku tahu.. Aku tahu ini pertama kalinya kau serius suka pada namja.. Aku tidak bisa apa-apa.."
"BERHENTILAH MENGALAH! AKU RIVALMU! BUKAN TEMANMU! KAU MENYEBALKAN!" Setelah puas berteriak Miyoung segera berlari memeluk Changmin, mengajak namja tinggi itu pulang.
Jaejoong hanya terdiam di tempatnya.
Saat kemudian ia merasakan sebuah tepukan halus di kepalanya, "Kau terlalu khawatir padanya, tapi kurasa lebih baik kita tidak perlu ikut campur.." Yunho memeluk Jaejoong.
"Uhm... Bukan begitu maksudku sebenarnya.." Lirih Jaejoong dalam pelukan Yunho.
"Ohya! Apa yang kau katakan pada Miyoung tadi?" tiba-tiba Jaejoong melepas pelukannya dan menatap Yunho.
Yunho terkekeh.. "Apa yaa... Aku bilang dia lebih cocok menjadi kekasihku daripada kau.."
"YAH!" Jaejoong merengut kesal meski ia tahu Yunho hanya berusaha menjahilinya.
"Ayo pulang.. Aku lapar.." Yunho berbalik dan mulai berjalan saat sebuah kertas terjatuh dari saku celananya.
Jaejoong yang penasaran memungut kertas itu.
Ia melotot setelah membaca isi selembar kertas itu.
"JUNG YUNHO! APA MAKSUDNYA INI?!"
.
.
.
3 hari setelah kejadian itu..
Yunho seperti biasa, sibuk berlatih.
Tapi pikirannya sama sekali tidak disana, ia sibuk memikirkan Jaejoong yang sudah 3 hari ini mendiamkannya.
Gadis itu begitu marah ketika melihat tanda reservasi hadiah dari Yoochun.
Jaejoong tak pernah mengangkat telponnya saat Yunho menghubungi, belum lagi ia selalu menghindar saat bertemu Yunho di sekolah.
'Aishh~ Dia benar-benar membuatku gila!'
.
.
.
Sementara dari tepi lapangan basket, sebenarnya Jaejoong memperhatikan Yunho yang serius berlatih.
Ia melipat kedua lengannya di depan dada sambil mengamati gerak-gerik kekasihnya itu.
Puk!
"Hei! Kau masih bertengkar dengan Yunho?" Jaejoong menoleh dan mendapati Junsu yang merangkulnya.
"Eoh? Ani.. Ng, sebenarnya iya sih tapi bukan karena masalah itu lagi, Su..." Junsu menatapnya bingung.
"Lalu kenapa?"
Jaejoong kembali mengarahkan pandangannya ke lapangan.
"Pertandingan antar-wilayah sebentar lagi jadi aku ingin dia fokus, tanpa aku.." Jelas Jaejoong.
Ya, sebenarnya gadis itu bukan mendiamkan Yunho karena kemarahannya hari itu.
"Kau pikir itu akan berhasil? Bukankah itu membuatnya justru semakin banyak pikiran?" Junsu menunjuk Yunho yang tiba-tiba terjatuh karena kurang konsentrasi, Jaejoong bergeming hendak berteriak khawatir tapi ia ingat misi-nya. -_-
"Sebaiknya kau bicara dengannya.." saran Junsu.
.
.
.
Jaejoong bermain-main dengan bolanya setelah Junsu pergi, benar juga.. Sepertinya ia harus menjelaskan maksud sebenarnya pada Yunho.
"Tak ada lawan bermain karena tim namja sibuk latihan untuk pertandingan resmi, eoh?" Jaejoong menatap pemilik suara itu.
Yang ditanya pun mengangguk pelan.
"Kalau begitu ayo bertanding denganku.." Namja raven itu segera mengambil bola dari tangan Jaejoong dan mendribble-nya menjauh.
Jaejoong hanya menatap sesaat sampai kemudian berpikir..
'Mungkin tidak buruk juga..' Ia pun melangkah dan memulai 1 on 1-nya bersama Changmin.
.
.
.
Brukk..
Yunho menghempas kasar tubuhnya di kursi.
Disekanya keringat yang mengalir deras dari pelipisnya, karena pertandingan utama akan diselenggarakan tak lama lagi jadi tim namja harus berlatih ekstra dari biasanya.
"Sugohaettda~(Kau telah bekerja keras)" Yunho menatap tangan yang mengulurkan sebotol minuman isotonik itu di hadapannya.
"Miyoung?"
Gadis itu tersenyum, "Kenapa? Kau kaget karena aku masih berani mendekatimu?" Tanyanya lalu tertawa kecil.
"Aku bukan gadis lemah yang akan menghindar setelah ditolak, Yunho-ah.."
Yunho ikut tersenyum, "Kau hebat.." pujinya.
.
"Yunho, kau tidak merasa kehilangan rivalmu?" tanya Heechul yang tiba-tiba berlari ke tepi untuk istirahat juga.
Yunho meminum minumannya sambil menatap ke area tim yeoja. Bisa dilihatnya kini Jaejoong yang sedang sibuk bermain dengan Changmin.
"Yun.. Kau tidak khawatir rivalmu itu punya mainan baru?" Donghae yang sejak tadi di tengah lapangan pun ikut menghampiri.
"Eii~ Aku baru saja bertanya seperti itu." protes Heechul memukul lengan Donghae.
"Benar kan? Mereka terlihat cocok.." celetuk Donghae membuat mata mereka termasuk Miyoung melayangkan tatapan pada aksi MVP tim yeoja dan manajernya itu.
"Taruhan! Mereka pasti akan saling suka!" Heechul menepuk bahu Donghae yang segera menoleh "Damn! Aku juga berpikir seperti itu!" mereka berdua tertawa girang.
"Yunho-yah! Menurutmu bagaimana?" tanya Donghae.
"Sesuka kalian sajalah.." Yunho melempar handuknya dengan kasar ke lantai lalu berlalu meninggalkan Heechul dan Donghae yang menatap tak mengerti.
Sementara Miyoung masih menatap Adik kembarnya, terlalu sibuk untuk menyadari reaksi aneh Yunho tadi.
'Benar juga.. Apa mungkin Chwang... '
.
.
.
Yunho kembali menoleh menatap Jaejoong & Changmin yang sesekali tertawa, tangannya terkepal erat mengingat pembicaraannya dengan Changmin di hari kencannya dan Jaejoong waktu itu.
Flashback
Sementara Jaejoong berusaha mengejar Miyoung, Changmin menghampiri Yunho.
"Aku minta maaf.. Juga terima kasih karena sudah membantuku menemukan Miyoung.." Yunho hanya menjawabnya dengan deheman pelan, entah kenapa ia merasa tidak suka pada namja raven itu.
"Ah.. Pasti sulit ya.. Jaekyung terlalu baik pada orang lain, Siapapun pasti bisa memanfaatkannya.." celetuk Changmin.
"Apa maksudmu?" Yunho menatap sengit.
"Mian.. Yang aku maksud, Jaekyung terlalu mudah tersentuh... Ia terlalu baik meski kelihatan galak.. Padahal ia tahu Miyoung rivalnya tapi ia tetap berusaha baik, manis sekali.." jelas Changmin.
Yunho tersenyum sinis "Apa kau sedang coba menyampaikan bahwa kau menyukai Jaekyung?"
"Oh... Apa aku bicara seperti itu? Maaf kalau begitu.." Changmin kemudian tersenyum penuh arti.
Yunho mungkin sudah menghajarnya kalau saja Miyoung tidak berlari dan memeluk namja tinggi itu dan mengajaknya pulang.
Ia merasa tidak tenang.
'Apa mungkin dia tahu tentang Jaejoong?'
Flashback End
"Jaejoong terlalu lengah.." geram Yunho masih sambil memperhatikan kekasihnya dari jauh.
Berpikir bagaimana cara supaya Jaejoong lebih waspada dari namja bernama Shim Changmin itu.
.
.
.
Yunho.. Mari berbaikan.. Aku janji akan bersikap manis lagi untukmu_
"Akh!" Jaejoong kembali menghapus pesannya sambil menggerutu frustasi.
Ia tak tahu harus bagaimana mengungkapkan rasa menyesalnya, sudah berkali-kali ia mencoba mengetik pesan tapi selalu dihapusnya, sekarang ia berpikir minta maaf lewat pesan rasanya sangat pengecut.
"Baiklah! Sudah diputuskan kita akan buat Maid Cafe!" Teriak Junsu mengumumkan kesimpulan, beberapa bersorak riang sementara Jaejoong menatap ke arah papan tulis.
'Eh? Sejak kapan diputuskan?' herannya lalu menyimpan ponselnya di saku.
"Sekarang bentuk panitianya.."
Festival sekolah akan segera dilaksanakan, karena itu Junsu sebagai perwakilan kelas untuk festival yang mengatur sedemikian rupa, dan keputusan diambil bahwa kelas mereka akan mengadakan Maid Cafe.
"Jogiyoo~(Permisi.. )" Sungmin, salah seorang siswi kelas mereka mengangkat tangan tiba-tiba.
"Ne? Sungmin-ah.. Kenapa?"
"Rasanya terlalu biasa kalau hanya Maid Cafe.. Kita harus membuatnya lebih menarik.." Junsu segera memikirkan usul itu.
Junsu menatap sang ketua kelas—Park Jungsoo untuk beberapa saat, hingga sebuah ide terlintas di kepalanya.
"Hei, kalau dilihat ketua kelas kita cantik kan?"
Brakk!
Jaejoong menggebrak meja, mengagetkan teman-temannya yang lain.
"Ah! Bagaimana kalau namja jadi maid dan yeoja jadi butler?" serunya.
Mendengar itu para siswa lain di kelas mereka berunding dan kemudian riuh menyetujui ide cemerlang Jaejoong.
Yang memberi ide tersenyum bangga,"Aku pasti akan jadi butler paling tampan!" gumamnya, Sungmin yang duduk di depan Jaejoong protes, "Yah! Kau sudah terlalu biasa berdandan ala namja! Kau harus jadi maid di acara ini, betul kan teman-teman?!".
Yang lain kembali riuh setuju, sementara Jaejoong melotot kaget.
"Sudah diputuskan! Pokoknya Jaejoong harus jadi maid di festival nanti!" Pekik Sungmin yang disambut sorak dari yang lain.
'Mulutmu kadang sangat berbahaya, Joongie..' batin Junsu bingung dengan situasi ini.
.
.
.
"Jaejoong unnie! Hwaiting nee~!"
"Ahaha.. Ne! Gomawo!" Jaejoong melambai pada fans-nya sambil terus melangkah menuju gedung olahraga.
Ah, ia merasa sedikit terhibur... Meski tak bisa ditutupi, sebagian besar otaknya masih dipenuhi pikirannya tentang Yunho.
Ia harus bicara dengan Yunho, secepatnya..
Kriett~
Pintu utama gedung olahraga terbuka, menampakkan lapangan basket beserta tribune yang masih kosong.
"Wah~ aku datang pertama?" Jaejoong mengambil bola di lantai dan memutuskan untuk berlatih sendiri.
Ia memulai dengan berlatih three-point.
Dak dak dak...
Ia terus serius berlatih selama 20 menit terakhir tanpa menyadari kehadiran orang lain disana.
Drakk~!
Jaejoong berhasil melakukan three-point yang cantik dan disambut tepuk tangan dari sang manajer tim yeoja.
Jaejoong menoleh sambil mengusap keringat yang membasahi wajah cantiknya.
"Sepertinya kau ahli dalam permainan jauh, yang kuamati kau baik dalam three-point tapi tidak terlalu bisa dalam hal rebound.."
Changmin menghampiri yeoja itu.
"Kau mengerti banyak tentang basket, kenapa tidak jadi anggota tim namja saja?" sindir Jaejoong.
Changmin tersenyum, "Itu bukan tujuan utamaku.." jawabnya.
"Ng? Kenapa? Kau tinggi dan punya pengetahuan yang tidak bisa dianggap sedikit tentang basket, kadang aku iri.. Aku justru ingin punya tubuh tinggi."
Mendengar itu Changmin menunduk lalu mengangkat Jaejoong, membopongnya dengan mudah di depan tubuhnya.
"KYAHH! APA YANG KAU LAKUKAN?!" Jaejoong kaget setengah mati, kenapa namja ini selalu saja mengagetkannya?
"Membantumu merasakan bagaimana mempunyai tubuh tinggi." ledek Changmin sama sekali tak berniat menurunkan tubuh ringan Jaejoong.
"Bicara apa kau! Turunkan aku!" Bukan Jaejoong namanya jika tidak melawan. Ia memukul kepala Changmin sambil menendang-nendang brutal tanpa ampun.
Namun sepertinya apa yang dilakukan Jaejoong salah, karena detik berikutnya namja tinggi itu justru limbung dan membuat mereka berdua terjatuh.
"Waaa!/Akkhh!"
Brukk!
Changmin meringis merasakan nyeri di kepala belakangnya, ia mencoba bangun sebelum menyadari tubuh Jaejoong menimpanya.
"Uuh.. Lenganku" Rintih Jaejoong mencoba menumpu tubuhnya di dada Changmin.
.
.
"Yeolshimi hagetseumnida~!(Mari bekerja keras)—EH?!"
"WOW.."
Donghae, Heechul dan Siwon yang baru saja sampaibdi pintu gedung melotot, oh well.. Jangan lupakan sang Jung Yunho yang juga ada disana.
Mereka kaget melihat posisi intim antara Jaejoong dan Changmin, meski hanya sesaat karena dengan cepat mereka berdua saling menjauh tapi otak para namja itu segera merekam kejadian yang baru saja terjadi di depan mata kepala mereka.
'Mati kau Kim Jaejoong! Bukannya memperbaiki hubungan dengan Yunho malah memperburuk keadaan!' batin Jaejoong memaki dirinya sendiri.
Yunho dengan jelas merubah raut wajahnya, ia benar-benar tidak bisa membiarkan namja berbahaya itu berkeliaran di sekitar kekasihnya.
"Kim Jaejoong.. Junsu mencarimu sejak tadi.." ucap Yunho dingin dan Jaejoong segera bangkit.
"Ah ne.. Gomawo..."
Tanpa menoleh sedikitpun gadis itu berlari keluar, juga mengabaikan 3 teman Yunho yang sibuk menggoda Changmin.
.
.
Jaejoong berjalan kembali menuju gedung olahraga setelah ingat bahwa Junsu masih mengikuti rapat untuk festival sekolah.
"Lalu siapa yang mencariku? huh.." gerutunya.
Srett~
"Hmph!"
Tiba-tiba saja seseorang membekap mulut gadis itu dan menariknya masuk ke gudang peralatan olahraga.
Jaejoong meronta saat pintu ruangan sempurna tertutup, "Nghh!"
"Shh.. Ini aku, Boo.."
Jaejoong segera menoleh saat mendengar panggilan itu.. Bukankah hanya satu orang yang memanggilnya seperti itu?
"Yunho!" kaget Jaejoong.
Yunho kemudian duduk diatas tumpukan matras, 3 hari tidak berkomunikasi membuatnya merasa canggung.
"Yun.. A-aku minta maaf..." Jaejoong memberanikan diri menatap Yunho yang menunduk.
Yunho pun menengadah, menatap kaget saat mendengar kalimat yang meluncur manis dari cherry favoritnya itu.
"Aku minta maaf sudah membuat kencan kita rusak.. Juga mendiamkanmu selama beberapa hari ini.. Maaf!" Jaejoong membungkukkan badan, meminta maaf secara formal pada kekasihnya itu.
"J-Jae.." Yunho tergagap, ia tidak menyangka sama sekali kalau Jaejoong akan mengungkapkan ini lebih dulu darinya, "Aniya.. Aku yang harus minta maaf..." jawab Yunho.
Tangan kiri Yunho tergerak menyentuh tangan kanan Jaejoong, menggenggamnya erat tanpa mengucapkan apa-apa.
Jantung Jaejoong berdetak lebih cepat, ini sentuhan pertama kalinya lagi setelah 3 hari ia menghindari pria itu. Rasanya ia begitu gugup, seperti saat pertama kali Yunho menyentuhnya.
"Apa yang kau lakukan dengan Shim Changmin sebelum kami datang tadi?" Kali ini Jaejoong gelagapan, "Tidak ada! Sungguh.. Aku hanya terjatuh.." Ia berusaha membela diri.
"Aku serius memintamu menjauh darinya mulai sekarang, Boo.. Dia berbahaya.."
Jaejoong diam, "Apa maksudmu 'berbahaya', Yun?"
Yunho menghela nafas, "Dia jelas-jelas mengincarmu.. Kau sebagai Jaejoong ataupun Jaekyung!"
Jaejoong tersenyum, "Kau terlalu banyak berpikir, Yun.. Tenang saja, Aku rasa Changmin tidak seberbahaya itu.."
Yunho geram, kenapa Jaejoong terlalu defenseless seperti ini? Ia pun hanya menghela nafas dan menatap kearah lain.
"Ta-tapi.. Kalau kau yang melarangku, aku tentu saja harus melakukannya."
Yunho kembali menatap gadis itu, terkejur dengan jawaban Jaejoong.
"Aku.. Tentu saja harus melakukannya, jika itu demi kebaikan kita."
Yunho lalu menariknya hingga membuat Jaejoong jatuh terduduk di pangkuan namja bermata musang itu.
Ia dengan cepat mengunci Jaejoong dengan pelukannya. "Gomawo.. Mendengarnya membuatku merasa lebih tenang.." Namja itu mencium kepala Jaejoong dengan lembut.
"Apa kau menghindar dariku karena aku akan ikut turnamen sebentar lagi?" tanya Yunho yang menyandarkan dagunya dengan nyaman di bahu kiri Jaejoong.
Jaejoong mengangguk, Yunho pun tersenyum. Aigoo.. Betapa manis kekasihnya ini.
"Gomawo, tapi rasanya aku lebih senang dengan keadaan biasa.. Tetaplah bermain denganku sesekali. Kita tidak punya banyak waktu bersama, jadi aku ingin tetap didekatmu meski sebagai rival." Jaejoong blushing, kata-kata Yunho membuat dadanya menghangat.
"Kau tahu? Aku justru merasa tidak nyaman jika tidak menyentuhmu."
"Y-Yah! Kau bicara seperti byuntae! Hentikan dan pikirkan saja turnamenmu itu."
Yunho terkekeh geli.
"Arasseo.. Tapi aku sudah yakin pasti menang kok."
Jaejoong membalikkan badannya menatap Yunho, "Geez, Sombong sekali kau tuan Jung." protesnya.
"Haha.. Aku bercanda.. Tapi, maukah kau memberi sedikit kekuatan agar aku bisa menang nantinya?" tanya Yunho yang kini menatap lembut kedalam mata Jaejoong.
"Bagaimana caranya?"
Yunho kembali tersenyum simpul.
"Berjanjilah.. Jika aku memenangkan pertandingan itu, Kau akan menjadi 'milikku' seutuhnya.." namja itu menggenggam tangan kanan Jaejoong dengan begitu erat.
Jaejoong sendiri yang mengerti maksud itupun segera merona heboh.
"Bisa kah?" tanya Yunho lagi.
Jaejoong masih belum bisa menjawab, ia terlalu kaget mendengar permintaan tiba-tiba ini dari Yunho.
"N-ne.. Kalau begitu kau harus menang.." Jaejoong menyembunyikan wajah sebisanya dari tatapan Yunho.
"Hehe.. Oke, kapten" dan Yunho pun mencium gemas pipi kiri Jaejoong.
.
.
.
"Shim Changmin! Bisakah kau ambil papan skor di gudang?" pinta sang pelatih.
Changmin yang tadinya sedang membantu beberapa anggota tim Yeoja berlatih segera berlari "Ye.. Aku mengerti." sahutnya sebelum meninggalkan gedung olahraga.
.
.
.
"Unghh~ Yunho-yah..." Jaejoong mengerang saat Yunho berusaha menciumnya lebih dalam.
Posisi gadis itu kini sudah berada dalam kungkungan Yunho, terbaring diatas matras.
Tangan Jaejoong meremas lengan atas Yunho, ia sungguh bermaksud meminta Yunho berhenti, tapi ia pun menikmati acara mereka saat ini.
"Nghh..." Lirihnya saat Yunho mulai menjelajahi lehernya, mencium lembut dan menjilatnya sesekali, membuat Jaejoong kegelian.
"Yuhnn~ Kau janji hanya jika kau menang kan?" Protes Jaejoong disela desahannya.
"Arasseo.. Aku hanya ingin mengisi energi-ku.." Yunho kembali melanjutkan aksinya mencumbui leher dan bahu Jaejoong.
Mereka berdua terlalu sibuk, terlalu sibuk dengan kebersamaan mereka tanpa menyadari seseorang yang sudah berdiri di depan pintu gudang itu, menyaksikan semua kejadian sejak tadi.
Seseorang yang bisa membahayakan kelangsungan hubungan mereka.
.
.
.
To Be Continued
.
.
Big thanks to:
Lady Ze | KimYunhoJungJonghyun | ajid yunjae | everadit | | Casshipper Jung-HIATUS READER | Junghyejung | Nony | hi-jj91 | Guest | joongmax | Hannazono Aikawa | YunjaeDDiction | heeli | Keybin | NaeAizawa | Dipa Woon | Rly. | akiramia44 | PhantoMiRotiC | choelf15 | dzdubunny | | 3kjj | nanajunsu | KittyBabyBoo Love YunnieBunny | .7 | BlackXX | Angel Park | Miss A | Kime simiyuki | imelriyanti | Tasya | FNPcassieyj
Juga buat para silent readers
Annyeong~ Saya balik dari hiatus! masih ada yang menunggu fanfic ini kah?
Mian lama gak update, saya mencoba kembali update teratur mulai sekarang.
Terima kasih buat yang masih sudi membaca, then.. Review please :)
Gomawo...
.
.
.
XOXO
