-Secretive J-
a YunJae fanfiction ©Cherry YunJae
.
Pairing : YunJae of course
Genre : Romance-School's Life
Rate : T-M
Length : Chapter 10
Warning! : Genderswitch! Out of Character, Typos.
.
Adapted and remake from Kaori Sensei's manga, Himitsu no Ai chan ©2010 and now starring with YunJae
If you don't like my fanfic, just get off~ simple,
rite ? ^^
.
.
.
"Aku tertarik padamu.. Ah, aniya.. Aku menyukaimu... Kim Jaejoong..."
Kim Jaejoong yang merasa dirinya selalu dihimpit hal-hal aneh kini berhadapan dengan situasi yang sangat buruk.
Ia menatap penuh rasa tidak percaya pada namja tinggi yang sedang berhadapan dengannya kini.
Bagaimana bisa Shim Changmin mengatakan dengan jelas kalau dia menyukai seorang Kim Jaejoong?
Bagaimana bisa ia lebih tertarik dengan Jaejoong daripada Jaekyung?
Setelah terdiam sesaat, Jaejoong mencoba tertawa, "Ahahaha.. Kau selalu bercanda yang aneh-aneh.." tepisnya sambil memaksa tertawa.
Changmin masih terdiam dengan tatapan serius.
"Aku serius.. " Ucapan singkat itu berhasil meredam tawa Jaejoong, situasi makin sulit sepertinya. Sungguh, Jaejoong bahkan tak ingin ada hari seperti ini.
"Tenang saja, aku tidak memintamu melakukan apa-apa.. Waktu itu justru kau yang bilang padaku untuk menghargai perasaan sendiri kan?" Jaejoong teringat, saat dimana Ia tahu Changmin menghalalkan segala cara demi melindungi kakaknya, Miyoung.
Ia ingat saat ia begitu kesal mendengar bahwa Changmin bahkan rela tidur dengan gadis yang mengganggu kakak kembarnya itu.
"Aku mencoba jujur karena ini pertama kalinya aku benar-benar menyukai seseorang, aku tidak akan mengganggumu karena itu biarkan aku tetap menyukaimu.."
Mata Changmin menatap penuh kelembutan, Jaejoong justru merasa terbebani karena melihat ketulusan di mata rusa milik Changmin.
Hening, setelah kata-kata Changmin meluncur dengan stabil, keheningan melanda mereka berdua. Changmin tetap menatap lurus pada Jaejoong, sementara Jaejoong bingung harus berekspresi bagaimana.
Diam, hanya itu yang Jaejoong lakukan.
"Hei... Kalian!" Mereka berdua menoleh dan mendapatkan sosok Junsu yang berlari sambil mengangkat-angkat tasnya.
"Ayo pulang.." Ajak Junsu sebelum kemudian menyadari ada yang aneh dengan tingkah kedua temannya itu.
Junsu melihat bagaimana aura di antara Jaejoong & Changmin begitu canggung.
'Pernyataan seperti itu justru menyusahkanku, kan?' Keluh batin Jaejoong.
.
.
Jaekyung bersiap membuka kafe saat Miyoung melintas di hadapannya, gadis berdada besar itu hanya mendecih saat melewati Jaekyung.
Tidak berubah.
'Tunggu... Apa Changmin tidak bilang soal rahasiaku ke Miyoung?'
.
.
"Jaekyungie~ tolong pesankan satu Banana Parfait pada Changmin.."
Jaejoong segera melotot horror pada kakak kandungnya itu, "Kau kan bisa melakukan itu sendiri!" elaknya. Yoochun selalu begitu, mempersulit dirinya bahkan disaat seperti ini
"Berani melawan? Ku potong gajimu ya?" ancam Yoochun dengan kejamnya.
"ANDWAE! Oke.. Oke.. Aku mengerti." Sambil mengeluh, Jaekyung berjalan menuju dapur mereka. Ia tak habis pikir kenapa bisa mempunyai kakak seperti namja berjidat luas itu.
.
.
"Banana Parfait satu!" Teriak Jaejoong kasar dari jarak yang ia anggap aman dari namja bermarga Shim itu.
Changmin terlihat sibuk menata cantik sepiring dessert lain, ia hanya tersenyum simpul mendengar teriakan gadis yang sudah merebut hatinya itu.
"Kalau kau ingin aku membuatnya, kau harus menunggu aku membuatnya." Balas Changmin tetap fokus pada potongan strawberry yang sedang ia tata sedemikin rupa.
"So, i'm waiting here!" Jaejoong kembali berteriak dari jarak aman-nya.
Changmin kembali tersenyum, gadis cantiknya itu selalu berhasil membuatnya gemas.
.
.
.
"Terima kasih~~" Miyoung menggandeng Changmin dan membungkuk sebelum beranjak pulang. "Terima kasih kerja kerasnya hari ini.." balas Yoochun.
Dan sepasang saudara kembar itu menghilang di balik pintu.
.
.
Miyoung menendang-nendang kerikil kecil di sepanjang perjalanan pulang, sesekali ia menatap punggung adik kembarnya yang berjalan beberapa langkah di depannya. Bisa ia lihat bagaimana Changmin tersenyum dalam diam, membuat Miyoung sedikit bingung.
"Chwang~"
"Hum?" Changmin menoleh pada kakak kembarnya.
"Kau... Menyukai gadis tomboy itu?"
Sedikit gurat kaget tercetak jelas diwajah inosen Changmin, ia cukup terkejut dengan tebakan kakaknya, apa begitu terlihat?
"Itu.."
"Katakan saja, Chwang~ aku tidak akan marah.." Miyoung menghentikan langkah sambil memasang ekspresi sendu.
"Mulai sekarang, lakukanlah apa yang ingin kau lakukan... Jangan lindungi aku lagi.. Kau boleh mencintai siapapun..." jelas Miyoung.
Changmin tersenyum lalu menepuk pundak Miyoung, "Gomawo~" Jawabnya lembut.
"Jadi kau benar-benar menyukai siapa itu? Kim Jaejoong?" ulang Miyoung. Changmin pun menjawabnya dengan anggukan pelan. Ia akhirnya mengaku pada Kakak kembarnya.
"Kau sendiri...?" Changmin menggantungkan kalimatnya, menunggu jawaban langsung dari saudaranya.
"Uhm.. Aku masih menyukai Yunho.. Tapi aku hanya ingin seperti ini..." Miyoung menerawang jauh ke penuhnya kerumunan orang lalu-lalang di apgujeong kini.
"Aku hanya akan menyukainya tanpa membuatnya benci padaku..." Miyoung memejamkan matanya sesaat, Changmin pun kembali tersenyum.
.
.
.
"HUATCHIII~" Jaejoong mengusap hidungnya yang gatal sambil meneruskan kegiatan berganti baju-nya, sementara Junsu bersiap pulang.
"Cepat ganti bajumu.. Kau bisa flu kalau tidak buru-buru, Joongie~" nasehat sahabat 'bijak'nya itu.
"Arasseo~" Jaejoong baru saja selesai memakai bajunya saat ponselnya berdering tanda pesan masuk.
"Eh?" Jaejoong membuka ponselnya dam membaca pesan yang ternyata dari kekasihnya, Jung Yunho.
From : Yunnie Bear
Hari ini kami menang! Ucapkan selamat padaku! Hehe.. ^_^ Tapi karena kami melakukan beberapa kesalahan, Donghae tetap menghukum kami.
Seketika wajah Jaejoong berubah ceria, bergegas ia berlari menuju pintu belakang Cassiopeia.
.
.
Namja tampan itu terlihat sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk sambil membuka lemari es, saat seseorang meneleponnya dan melihat nama di display ponselnya membuatnya kaget.
"Yeobseyo?"
["Yeobseyo~ Chukkae... Kau telah bekerja keras hari ini Jung Yunho!"]
Yunho benar-benar terkejut, tidak menyangka yang pertama ia dengar adalah teriakan penuh semangat dari kekasihnya itu.
"Gomawo~ Tidak biasanya kau menelpon duluan, aku sedikit kaget..." Yunho pun memposisikan diri duduk senyaman mungkin di sofa ruang tamunya.
["Apa maksudmu? Kau yang menyuruhku mengucapkan selamat..."] Yunho yang mendengar itu terkekeh kecil, mengerti pasti kekasihnya memasang tampang kesal di seberang sana.
"Araa.. Gomawo~"
["Hehe.. Kau sudah mandi?"]
"Uhm.. Baru saja.. Ohya, bagaimana hari ini? Kau belanja properti festival kan?"
["Ahh~ Ne... Banyak yang kami bawa, karena tidak mungkin hanya bertiga jadi aku meminta Yoochun menjemput.."]
"Ber-ti-ga?"
["..."]
"Kau bilang hanya berdua dengan Junsu?"
["Ng~ Me-memangnya aku bilang bertiga? Kau salah dengar mungkin.. Hehe"]
"Jangan mengelak, Kim Jaejoong..." Yunho tidak bisa menyembunyikan kekesalannya.
["Ah.. Ne..."] suara Jaejoong melemah, merasa bersalah sepertinya.
"Jadi? Bertiga dengan Shim Changmin?"
["I-iya... Maafkan aku, Yun..."]
Yunho menghela nafas sesaat berusaha meredam kekesalannya. Ia tahu ia tidak boleh marah-marah pada Jaejoong-nya.
"Ne.. Aku tahu susah menghindarinya saat kau satu kelas, klub & tempat kerja.. Tapi dia tidak melakukan apa-apa kan?" Kini yang tersirat dalam intonasi bicara Yunho adalah kekhawatiran luar biasa.
["Eh? Te-tentu saja tidak ada apa-apa! Apa maksudmu?"]
"Benar tidak ada?"
["Iya!"]
"Hm.. Geurae.. Kalau itu kau yang bicara aku pasti percaya, jangan membuatku cemas lagi.." Yunho melunak kini.
["Ne.. Mianhe~"]
Mereka terdiam sesaat, hanya beberapa detik.
["Ternyata aku memang ingin melihatmu, Yun.. Rasanya lebih puas memberimu ucapan selamat secara langsung.."]
Yunho terbelalak, kembali terkejut dengan ucapan Jaejoong. Apa ia tak salah dengar? Apa benar Jaejoong sedang mencoba mengatakan bahwa ia merindukan Yunho? Apa benar yang menenelponnya ini Kim Jaejoong?. Pertanyaan itu berputar di otak Yunho karena sungguh ia tidak menyangka akan mendengar kalimat itu dari seorang Kim Jaejoong yang bahkan tidak suka bermanja-manja dengannya.
Yunho segera bangkit dari duduknya dan menyambar cardigan abu-abunya.
"Kau masih di Cassiopeia kan? Tunggu aku disana ne?"
["EH?! Andwae, Yun! Kau baru saja pulang lebih baik istirahat!"]
"Shireo, Aku juga ingin bertemu denganmu.."
["Tapi, Kalau datang sekarang kau bisa kehabisan kereta..."]
"Aku akan naik sepeda, tunggu aku..."
.
.
.
Setelah memberi salam pun sambungan telepon ditutup dan Jaejoong bergegas masuk kembalu ke dalam Cassiopeia.
"Kalian duluan saja, Yunho akan menjemputku..."
"EH?!"
.
.
.
Jaejoong memain-main kan kakinya diatas tanah sambil bersenandung kecil, ia masih menunggu Yunho. Junsu dan Yoochun pun sudah pulang setelah mengomeli Jaejoong yang menyuruh mereka menunggu dan pergi secara mendadak.
Ckiiit...
Jaejoong mengangkat wajah saat suara rem mengusiknya, dan ia menemukan Jung Yunho sudah sampai, tepat 4 meter di hadapannya. Namja tampan itu turun dan merentangkan tangan setelah menyandarkan sepedanya di pagar Cassiopeia.
"Ucapkan selamat padaku.." ia tersenyum dan Jaejoong pun segera berlari menuju dekapan Yunho, memeluknya seerat mungkin.
"Selamat, Yun.. Kau sudah bekerja keras hari ini.." Jaejoong tersenyum ceria di pelukan Yunho, ah.. Padahal ia bertemu dengan namja itu setiap hari, tapi kenapa sekarang masih terasa berdebar-debar hanya dengan melihat sosoknya yang datang menjemput?.
"Gomawo, Boo~" Yunho mengusap surai almond Jaejoong.
.
.
Setelah mampir untuk makan sebentar di kedai kecil, mereka berjalan pulang. Yunho menuntun sepedanya sementara Jaejoong mengikuti pelan-pelan di samping Yunho.
Banyak hal yang mereka bicarakan sepanjang perjalanan, Jaejoong senang ia punya waktu berlama-lama dengan Yunho-nya.
"Ng... Besok turnamen utamanya kan?" Jaejoong memulai topik lain.
"Ne, jam 3 sore di sekolah lawan.. Wae?"
Gadis manis itu menggeleng, "Ani.. Hanya merasa gugup.."
"Hahaha... Kenapa kau gugup? Kan aku yang bertanding"
"Mo-Molla..."
Yunho terkekeh geli.
"Tapi membayangkan kalau sebentar lagi aku bisa memiliki Kim Jaejoong 'seutuhnya' membuatku jadi semangat..." Goda Yunho, Jaejoong kelabakan.
"Jung Yunho! Bicaramu mesum sekali!" wajah putih Jaejoong dengan cepat merona karena kata-kata Yunho.
"Loh kenapa? Kita kan memang akan melakukan sesuatu yang mesum.. Itu wajar.."
"Yahh! Kau pikir ini jam berapa? Jangan bicara keras-keras!" Jaejoong yang malu luar biasa pun berusaha menutupi mulut Yunho.
Yunho semakin tergelak karena tingkah Jaejoong.
Mereka berusaha berjalan sepelan mungkin, tak ingin berpisah sepertinya. Tapi tetap saja akhirnya rumah Jaejoong sudah terlihat.
"Ah.. Sudah sampai..." Jaejoong berdiri tepat di depan pintu pagar rumahnya, ia berbalik menghadap Yunho.
"Cepat masuk, sikat gigimu dan tidur.. Mengerti?" Yunho menepuk kepala Jaejoong lalu berbalik menuju sepedanya.
Tapi kemudian Jaejoong menarik tangan lengan baju Yunho, membuat namja itu harus menoleh dan mendapat sebuah ciuman manis dari kekasih cantiknya tepat di bibir.
Hari ini entah sudah berapa kali Jaejoong membuatnya terkejut. Dan ini mungkin puncak keterkejutannya.
"Aku besok akan datang menyemangatimu, istirahat yang cukup ne? Terima kasih untuk hari ini.." Gadis pemilik bola mata sejernih kristal itu tersenyum tulus, ia segera berjalan menuju pagar rumahnya tanpa sadar Yunho berniat 'balas dendam', diraihnya lengan kanan Jaejoong hingga kembali menghadapnya.
"Bodoh.. Aku susah payah menahan diri, arra?"
Dan satu ciuman telak diterima Jaejoong tanpa bisa diprotes lagi. Yunho mendekapnya erat, melindungi tubuh Jaejoong dari dinginnya malam ini, ia melumat kecil bibir Jaejoong yang seakan mempunyai zat adiktif. Jaejoong sempat merintih pelan saat Yunho membuat ciuman mereka semakin dalam dengan melesakkan lidahnya kedalam mulut gadis itu.
Mereka melepas sesaat tapi tak lama kembali melakukan penyatuan kecil itu. Jaejoong pun merasa tak mau melepas kehangatan ini, tapi kemudian ia ingat ini tepat di depan rumahnya.
"Cu-cukuph, Yunh..." Jaejoong terengah.
"Arasseo.. Masuklah, dan tidurlah.. Kau pasti sangat lelah.." Yunho mengakhiri momen itu dengan ciuman singkat di dahi Jaejoong.
Jaejoong mengangguk patuh.
"Jja~ Aku pulang..." Yunho melambai dan menyuruh Jaejoong segera masuk.
Ah, momen yang terlalu singkat.. Ia ingin esok segera datang, supaya ia bisa kembali bertemu Jaejoong-nya.
Ia bersumpah harus memenangi pertandingan besok agar Jaejoong bisa meluangkan banyak waktu untuknya.
.
.
.
.
To be Continued
Updated! Mian.. Ternyata saya belom bisa nepatin janji buat update teratur, karena semester 4 itu lebih berat dari yang saya bayangkan (T-T)
Tapi yang penting diupdate kan ya? *wink
hehehe~ Oke.. See ya in the next Chap.
。、:*:。.:*:・'゜ 。.:*:・'゜ 。、:*:。.:*:・'゜ 。.:*:・'゜ 。、:*:。.:*:・'゜
Special Thanks To :
Dipa Woon || KimYunhoJungJonghyun || Lady Ze || Angel Park || Keybin || YunjaeDDiction || Iche cassiopeiajaejoong || Pumpkins Yellow || Imelriyanti || Flow passed away || Tasya vianita || Isnaeni Love Sungmin || Rly C Jaekyu || Meyy-chaan || Park July || flysica || Mimi2608 || everadit || sayuri || Dzdubunny || BlackXX || jongindo || Snow'Queen Yunjae || aiska || PhantoMiRotic || Jung Byungie || sachan || and for all Guest & Silent Readers ^^
Makasih bersedia baca fanfic ini sampai disini, saya belum bisa pastiin berapa chapter lagi Secretive J ini, tapi yang pasti gak akan lama ..
Gomawo, all~ ^^
