-Secretive J-

a YunJae fanfiction ©Cherry YunJae

.

Pairing : YunJae of course

Genre : Romance-School's Life

Rate : T-M

Warning! : Genderswitch! Out of Character, Typos.

.

Adapted and remake from Kaori Sensei's manga, Himitsu no Ai chan ©2010 and now starring with YunJae

If you don't like my fanfic, just get off~ simple,

rite ? ^^

.

.

.

"HUACHIIII~~"

Jaejoong mengusap-usap hidungnya, mengacuhkan Yoochun yang sedang memeriksa termometer. "39 derajat, pasti karena semalam kau tidak langsung pulang..." gerutu Yoochun yang kemudian kembali memasang plester penurun demam di dahi adiknya.

"Istirahatlah, akan kubelikan obat dulu."

"Tapi hari ini aku harus..."

"Tidak ada bantahan, istirahat dirumah kalau kau tidak mau semakin sakit."

Jaejoong mengerucutkan bibirnya sebal, ia tidak bisa saja! Hari ini kan pertandingan final tim basket Yunho! Dan ia sudah berjanji akan datang untuk mendukung kekasihnya itu.

"Yoochunnie~ Yunho pasti..."

"Kim Jaejoong! Kubilang tidak ada bantahan! Aku akan bilang pada Yunho." Yoochun beranjak keluar sambil menghubungi Yunho.

Blam.

Pintu tertutup, tak ada yang bisa Jaejoong lakukan selain diam terbaring di balik selimut. Rasanya ia ingin menangis karena harus membatalkan janjinya.

"Argghhh! Sial!" makinya kesal.

.

.

.

Yunho menutup panggilan dari Yoochun setelah kakak iparnya—Calon—itu memberitahunya dan Junsu kalau Jaejoong demam tinggi saat ini.

Yunho kembali berkumpul bersama Donghae dan yang lainnya, "Jaekyung tidak datang, Yun?" tanya Heechul yang seperti mencari sesuatu.

"Dia ada urusan, jadi tidak bisa datang."

"Oh noo... Yunho kami patah hati." ledek Heechul yang disahut tawa Siwon. Sementara Junsu datang dan segera menghampiri kerumunan itu, "Oh Junchan... Jaejoong mana?" Kali ini Siwon yang bertanya heran.

"Eh~ Jaejoong demam tinggi, flu mungkin jadi dia tidak bisa datang..." jelas Junsu sesekali melirik Yunho.

"Eihh? Dia bisa sakit juga?" ledek Heechul sambil memasang tampang serius.

"Ya sudah, kajja berangkat..." ajak Donghae menuju bus mereka.

.

.

.

.

14.30 KST

Karena demam yang tinggi dan Jaejoong yang terlihat kepayahan, Yoochun pun memutuskan untuk membawa Jaejoong ke klinik.

Dan ternyata usahanya tidak sia-sia, Setelah mendapat suntikan dari dokter dan menebus beberapa obat, Jaejoong pulang dengan keadaan yang lebih baik.

"Meski sudah diberi suntikan tapi nona Kim harus tetap istirahat dirumah, kalau tidak demamnya bisa semakin tinggi." Nasihat terakhir dokter sebelum mereka berdua pulang.

.

.

.

Zrakkk~

Sebuah bola melambung dan dengan mulus masuk ke dalam ring.

Priit~

Itu adalah three point shoot terakhir di babak awal karya Jung Yunho. Dengan three point cantik tadi, Hanyoung berhasil unggul 23-18 dari tim lawan.

Yunho dan yang lain berjalan menuju tepi arena untuk istirahat.

"Kalian hebat, babak berikutnya kita hanya perlu menguatkan pertahanan, mengerti?" Donghae selaku ketua tim menyemangati teman-temannya dan dibalas positif oleh yang lain. Mereka bersorak senang di break time babak pertama ini.

Yunho menjatuhkan dirinya di salah satu bangku sambil membawa botol minuman. Terlihat jelas nafasnya yang memburu dan keringat yang terus keluar, tentu saja! Ia yang menjadi pemeran utama di pertandingan ini, ia pencetak skor utama di timnya.

Ia mensugesti dirinya untuk tetap bermain sempurna di babak kedua nanti karena ia pikir masih terlalu awal untuk merasa senang.

"Kau melakukannya dengan baik." sebuah tepukan di bahu membuat Yunho menoleh, ditatapnya sengit orang yang kini berdiri tepat di belakangnya.

"Kau datang, huh?"

"Ne, Miyoung memintaku untuk membantunya mengurus kalian, lagipula aku sedang free jadi aku ikut.."

Yunho hanya mendecih saat mendengar jawaban Changmin itu.

"Kondisimu sepertinya sangat baik, dan hubunganmu dengan Jaekyung lancar.. Aku jadi iri..." celetuk Changmin sambil menatap kearah lapangan.

"Haha.. Tentu saja..." Yunho tertawa pelan, namun tawa itu justru membuat Changmin tercenung kaget & menatap heran pada Yunho.

Yunho sendiri yang ditatap seperti itu tentu saja merasa risih, "Apa?" tanyanya.

"Kupikir... Kau akan lebih marah padaku, tapi ternyata kau bersikap biasa saja."

"Huh? Kenapa aku harus marah? Tentang kau pergi bersama Junsu & Jaejoong? Lagipula aku tahu, kau sudah tahu Jaejoong & Jaekyung itu sama."

Changmin kembali terdiam.

'Mungkinkah...'

"Apa mungkin Kim Jaejoong tidak memberitahumu tentang kejadian hari itu?" tanya Changmin.

Kali ini Yunho yang terdiam, rahangnya mengeras saat mendengar pertanyaanChangmin.

Kejadian hari itu?

"Apa maksudmu?" Yunho menatap sinis pada Changmin.

Changmin tersenyum, "Benarkah? Jadi Kim Jaejoong benar-benar tidak memberitahumu?"

Brakk!

"APA MAKSUDMU?!" Yunho yang kalap segera bangun dan menarik kerah kaus Changmin, bersiap memberi satu pukulan. Namun yang lain dengan cepat datang dan melerai mereka.

"Yunho, ada apa? Kalian kenapa? Kajja, paruh kedua akan dimulai.." Ajak Donghae, Yunho pun melepas cengkramannya dan berlalu masih sambil melempar tatapan membunuh pada si bungsu Shim.

Mereka kembali ke lapangan sementara Miyoung yang ikut kaget melihat kejadian tadi segera menghampiri adiknya. "Chwang.. Kalian kenapa? Kau dan Yunho..."

"Tidak apa... Tidak ada apa-apa.." Jawab namja raven itu sambil menatap ke arah Yunho dan yang lain.

.

.

.

"Sampai dirumah kau harus tidur.." Yoochun tak henti menceramahi Jaejoong yang duduk di belakang, sementara ia sibuk menyetir.

Jaejoong berkali-kali menatap keluar, memikirkan bagaimana jalannya pertandingan.

'Pasti sekarang sudah masuk paruh kedua.'

Jaejoong memainkan ponsel di tangannya, berpikir panjang lalu memberanikan diri bicara pada Yoochun.

"Yoochunnie! Aku harus menelepon Junchan, boleh kan?" tanyanya, Yoochun melirik adik tercintanya itu dari kaca spion.

"Boleh.." jawab namja berjidat luas itu, lalu dengan antusias Jaejoong pun mendial nomor Junsu.

.

.

["Yeobseyo?"]

"Junchan!"

["Ah! Joongie... Bagaimana keadaanmu?"]

"Aku sudah tidak apa-apa.. Ohya per—"

["Kau sudah ke klinik? Apa kata dokter?"]

"Aku hanya demam, tadi dokter sudah memberiku suntikan supaya demamku turun.. Junchan, pertandingannya..."

["Ah! Kalau begitu kau harus cepat pulang, lalu istira—"]

"JUNCHAN! Aku serius ingin bertanya tentang pertandingan!" Jaejoong geram pasalnya sahabat baiknya itu terdengar seperti menghindar dari pertanyaannya.

["Ng.. Ne.. A-apa?"] tanya Junsu tergagap di seberang sana. Jaejoong tentu saja merasa ada yang tidak beres. "Bagaimana pertandingannya?" tanya gadis itu serius.

["Itu... Di paruh pertama kita unggul.. Tapi di paruh kedua ini.. Entah kenapa keadaan pemain menurun, terutama... Yunho.. 2 poin lagi kita bisa dikalahkan lawan"]

Jaejoong melotot mendengar itu, ia segera memutus sambungan, "Yoochunnie~! Ke sekolah Gyeongbuk SEKARANG JUGA!" Dan teriakan Jaejoong mampu dengan segera memerintah kakaknya.

.

.

.

Brukk..

Yunho terjatuh di tengah lapangan, ia berusaha bangun saat Donghae menghampiri. "Gwaenchana?" ia mengulurkan tangan untuk sang pemain utama.

Yunho berusaha tetap bangun dan meyakinkan yang lain kalau ia baik-baik saja, "Apa stamina-mu mulai turun? Atau ada yang mengganggu pikiranmu?" interogasi si kapten.

Yunho menyeka keringat yang turun ke dagunya sambil menatap tak ramah ke sisi lapangan.

Sepertinya kata-kata Changmin tadi begitu mengganggunya.

.

.

Junsu menatap cemas dari tepian, pemain lain jadi ikut kesulitan karena kondisi Yunho seperti ini. Sejak menit kelima di babak kedua ini Yunho selalu membuat kesalahan & tak bisa menyerang untuk menambah poin mereka.

Bisa dilihatnya Yunho yang berhasil menangkap bola dengan rebound namun lagi-lagi gagal memasukkan bola oranye itu ke dalam ring. Skor mereka 23-24, tertinggal 1 poin.. sedangkan waktu tak banyak tersisa.

2 menit lagi, apa mungkin bisa terjadi keajaiban?.

Junsu cemas luar biasa sekarang.

"HEI KALIAN! KALAU SAMPAI KALIAN KALAH, AKAN KUPERBUDAK KALIAN SEMUA! CEPAT LARII!" Sebuah suara menggelegar muncul dari tribune bagian atas.

"Joongie?" seketika, senyum mengembang di bibir gadis lumba-lumba itu.

Semua pemain sempat terhenti karena suara tadi, begitupun Yunho yang sempat terkejut melihat kekasihnya itu datang dengan jaket tebal lalu berteriak sekeras itu. Sebuah seringai terukir di bibir seksinya, "Siapa yang mau kalah?" lirih Yunho sebelum kemudian berusaha menyerang. Mendekati garis three point dan kembali melakukan three point shoot indah.

Zrakk~

Prittt~!

Kejadian seperti babak pertama terulang, sebuah three point cantik yang diiringi peluit akhir pertandingan.

26-24, sebuah kemenangan untuk Hanyoung.

Para pemain pun bergegas menghampiri Yunho dan memeluknya erat, mereka tertawa senang.

Sementara di tribune Jaejoong ikut tersenyum lebar, bahagia atas kerja kekasihnya itu. Ia terus menatap Yunho yang tertawa riang bersama teman-temannya, tentu karena perasaan yang sama Yunho pun melempar tatapan ke arah Jaejoong, tersenyum sambil mengacungkan ibu jarinya.

.

.

.

"Bersulaang!"

10 gelas beradu membuat bunyi yang begitu nyaring, setelah melakukan ritual bersulang itu masing-masing pemilik gelas menenggak minumannya.

Beginilah keadaan para anggota tim basket setelah beberapa jam lalu mendapat kemenangan atas kompetisi utama antar sekolah. Kini mereka ada di sebuah tempat karaoke di daerah hongdae.

"Pelatih bilang mau mentraktir kita makan bulgogi sampai puas.. Kenapa malah karaoke?" Keluh Heechul namun tetap sambil meminum soju-nya.

Ruangan karaoke berlabel VIP itu cukup terlihat kacau, Donghae bernyanyi bersama Siwon, Heechul dan Changmin sibuk berbincang, Yunho masih saja ditempeli Miyoung sementara Jaejoong bersama Junsu.

"Joongie~ demammu tidak apa-apa? Apa tidak sebaiknya kita pulang saja?" Junsu yang tadi riang tiba-tiba teringat akan keadaan sahabatnya.

"Eih... Aku tidak apa-apa.. Aku juga mau merasakan kebahagiaan kita, lagipula aku sudah bilang pada Yoochun kok.." Jaejoong masih saja bersemangat padahal Junsu khawatir.

"Junchaaan~"

"Aishh~ berhenti memanggilku begitu!" Junsu menoleh gusar saat Siwon memanggilnya lewat mic, diajaknya gadis bebek itu untuk ikut menyanyi.

Junsupun bangun dan meninggalkan Jaejoong yang tetap duduk di pojok sofa panjang itu.

Jika mau jujur, sebenarnya Jaejoong sudah merasa sangat pusing sejak tadi. Belum lagi perutnya yang mendadak mual karena soju.

'Gawat.. Sepertinya demamku naik lagi..' pikir Jaejoong ketika merasa mulai pusing.

Yang pertama menyadari keadaan Jaejoong adalah Changmin. Namja itu segera beranjak dari duduknya dan mendatangi Jaejoong yang terlihat kepayahan di sudut ruangan.

"Kim Jaejoong? Gwaenchana?" Jaejoong mengangkat wajahnya susah payah demi melihat orang yang kini di sampingnya.

Changmin menyentuh dahi Jaejoong dan sedikit berjengit karena panas yang menyapa langsung ke kulit tangannya.

"Kau masih sakit, kenapa memaksakan datang?"

Jaejoong ingin sekali menatap sengit pada namja ini seperti biasa, tapi kelopak matanya begitu berat. Ia hanya mampu melihat samar wajah Changmin, tangan Changmin kini menempel manis di pipinya. Menyadari itu, Jaejoong segera menepis pelan tangan Changmin. Ah.. Andai yang di hadapannya ini Yunho, ia mungkin akan senang dan tak perlu repot-repot mengusir.

"Pergilah.. Aku tidak mau Yunho salah paham.." Jaejoong mendorong tanpa tenaga sama sekali.

"Tapi kau..."

"AH! KALIAN BERDUA SEDANG APA DI POJOK?!" dan hal yang ditakutkan Jaejoong pun terjadi.

Heechul dengan histeris mengatakan itu dengan mic di tangannya. Yunho yang agak berjauhan pun menoleh kaget.

"Apa kalian benar-benar ada affair?!" lanjut Heechul.

Changmin menatap bingung, tak tahu harus memasang ekspresi apa. Mereka disana ribut tak terkendali.

"Bukan waktunya main-main! Demam Jaejoong naik!" interupsi Yunho menyadarkan yang lain kalau sejak tadi memang Jaejoong terlihat kepayahan.

"Aku akan membawanya pulang.." dengan sigap, kedua lengan kokoh Yunho mengangkat tubuh Jaejoong. Yang lain hanya terdiam menatap situasi ini.

Oh, yang benar saja! Sejak kapan Jung Yunho peduli pada Kim Jaejoong?

"Junsu, kau tahu rumah Jaejoong kan? Tolong antar aku.."

"E-eh? N-n-ne..." Junsu tergagap, agak takjub juga dengan situasi ini.

"Kau kembali kesini kan, Yun?" tanya Siwon penasaran sambil memperhatikan Junsu yang sedang membetulkan penutup kepala Jaejoong di dekapan Yunho.

Yunho melempar senyum, "Ani, setelah mengantarnya aku akan ke rumah Jaekyung.. Maaf aku duluan.."

Detik berikutnya Yunho memberi isyarat pada Junsu untuk jalan di depannya, dan..

Blam~

mereka pun pergi.

.

.

"Yunho tiba-tiba seperti badai yang mengamuk ya?"

"Aku merasa aneh karena melihat kejadian barusan."

"Karena Yunho begitu perhatian pada Kim Jaejoong?"

"Akupun berpikir seperti itu..."

"Waktu itu juga, Yunho yang membawa Jaejoong ke UKS saat wajahnya terbentur bola kan?"

"Aneh.."

Mereka terus mengumpulkan argumentasi tanpa menyadari salah seorang dari mereka masih menatap nanar ke arah pintu dimana ketiga orang itu pergi.

Tangannya terkepal erat menahan sebuah perasaan yang tak ia mengerti.

.

.

.

"A-aku akan mennelepon Yoochun oppa.." Junsu mengambil ponselnya dari saku begitu mereka sampai di luar gedung karaoke itu. Ia hendak menjauh untuk menghubungi Yoochun.

"Junsu.." Panggil Yunho.

"Ne?"

"Bisakah kau bilang pada Yoochun kalau Jaejoong akan menginap dirumahku malam ini?"

Junsu terdiam takjub dengan mulut menganga dan ponsel touchscreen 7 inchi itu nyaris saja jatuh ke tanah. Habisnya.. Arti kalimat Yunho itu... Itu kan?

"Junsu?" Panggil Yunho sekali lagi, memastikan bahwa Junsu masih baik-baik saja.

"A-ah! Ne! N-ne! Aku mengerti..." jawab Junsu dan segera memfokuskan diri pada ponselnya & agak menjauh meninggalkan Yunho dan Jaejoong yang masih tak sadarkan diri.

.

.

.

.

Dengan penuh hati-hati, Yunho menaruh Jaejoong diatas ranjangnya. Seperti memperlakukan sebuah benda yang mudah pecah, ia membantu Jaejoong terbaring senyaman mungkin lalu ditariknya sebuah bed-cover untuk menyelimuti kekasihnya itu sampai sebatas dada.

Yunho duduk di sisi kanan ranjang, memperhatikan Jaejoong lekat-lekat.

"Bisa-bisanya kau tetap datang dengan keadaan seperti ini, dasar keras kepala." lirih Yunho sambil tersenyum tipis.

Namun dengan cepat senyum itu pudar, "Cepatlah sembuh, Boo.. Ada yang harus kutanyakan..." Ucapnya lebih lirih lagi dari yang sebelumnya.

Setelah memberi sebuah kecupan manis di dahi Jaejoong, Yunho beranjak.

.

.

.

"Nghhh..." Jaejoong menggeliat resah, tak nyaman sepertinya, dan mau tak mau kedua mata Jaejoong terbuka perlahan, menatap sayu langit-langit ruangan itu.

Ia merasa bingung karena tempat ini terasa begitu asing.

'Ada apa denganku?'

Disentuhnya sebuah kain yang terasa hangat di dahinya. Ah, demam ya.. Ia bahkan lupa dimana terakhir ia berada sebelum tak sadarkan diri.

'Haus...' Jaejoong masih tak mampu bersuara namun ia memaksakan diri untuk duduk. Jantungnya berdetak begitu cepat, entah itu pengaruh demamnya atau karena ia menemukan sosok Yunho yang tertidur di sofa yang tak jauh dari ranjang itu.

'Ini di rumah Yunho?' gadis itu melihat ke arah jam yang tergantung manis di dinding kamar itu.

02.17

Pikirannya melayang pada kakaknya, apa Yoochun mengkhawatirkannya?

Tenggorokan Jaejoong terasa begitu kering & sakit, ia butuh air.

"Kau sudah bangun?"

Jaejoong kembali membawa atensi nya ke arah sofa dimana Yunho berada, ia agak kaget melihat Yunho yang ternyata terbangun juga.

"Ada apa?" Yunho segera mendekati ranjang untuk memastikan keadaan kekasihnya itu baik-baik saja.

"Kau butuh sesuatu, Boo?"

"Hha-us.." suara Jaejoong tak sempurna keluar dari bibir itu. Namun Yunho segera mengelus kepala Jaejoong, "Tunggu sebentar ne?"

Seperginya Yunho, Jaejoong mengamati kamar itu, benar itu kamar Yunho. Ada aroma Yunho di sekitarnya dan ia suka itu.

.

.

.

Yunho membantu Jaejoong meminum segelas air yang ia bawa. Sesekali Gadis itu mengernyitkan dahi, air pun rasanya pahit.

"Gwaenchana?" tanya Yunho lalu meletakkan gelas tadi diatas meja nakasnya. Jaejoong mengangguk mantap, ia merasa lebih baik setelah meminum segelas air tadi—meski pahit.

Mereka terdiam sesaat, Jaejoong kemudian memeluk Yunho yang duduk di sampingnya.

"Selamat.. Kau memenangkannya.." ucapnya dengan wajah yang merona, Yunho terkejut sesaat namun kemudian membalas pelukan itu, diusapnya lembut punggung Jaejoong.

"Gomawo..."

Jaejoong yang merasa nyaman di pelukan Yunho pun tersenyum, ia sangat senang karena saat ini ia bisa bersama Yunho tanpa ada yang mengganggu.

"Boleh aku tanya sesuatu?" Yunho yang tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya pun akhirnya buka mulut, ia terus dihantui rasa penasaran tentang kata-kata Changmin.

"Ne? A-apa?" Jaejoong melepas pelukannya dan menatap Yunho.

"Kau dan Shim Changmin.. Hari itu sebenarnya apa yang terjadi?" tak ada ekspresi marah di wajah Yunho, hanya ada kekhawatiran. Jaejoong terdiam, ia bingung harus bercerita darimana.

"I-itu..."

Yunho pun menanti jawaban Jaejoong.

"Se-benarnya Changmin sudah tahu kalau Jaekyung itu aku.."

Yunho menatap bingung, "Kalau itu aku juga sudah tahu dari awal, selain itu?"

"Ng? Ah.. Dia.. Dia mengatakan kalau dia menyukaiku.." Jaejoong menunduk, tak siap menerima kemarahan Kekasihnya.

"Itu saja?" Yunho tercengang bodoh. Jaejoong yang mendengar itu pun akhirnya punya keberanian untuk menatap Yunho.

"Apanya yang 'itu saja'? Gawat kan! Dia menyatakan perasaannya pada—"

Grepp~

Belum sempat kalimat Jaejoong selesai, Yunho sudah terlebih dulu memeluknya erat-erat, sudah disentuh berkali-kalipun ternyata tidak membuat jantung Jaejoong terbiasa. Ia justru merasa semakin berdebar-debar jika melakukan kontak fisik seperti ini.

"Syukurlah.. Kupikir si brengsek itu menciummu.."

"M-mwo?! Ma-mana mungkin! Aku pasti akan langsung menghajarnya kalau itu terjadi." jawab Jaejoong. Mendengar Jaejoong yang sudah bisa berteriak seperti itu ia jadi yakin kekasihnya sudah baik-baik saja.

"Lalu kenapa kau sembunyikan, eoh?"

"I-itu.. Aku hanya tidak mau membuatmu cemas..."

Yunho tersenyum, digerakkannya kedua tangannya untuk menangkup pipi Jaejoong.

"Kalau begitu aku ingin dengar kau bilang kalau mulai sekarang, kau tak ingin membuatku cemas. Kalau kau punya masalah, aku ingin mendengarnya dari mulutmu sendiri, bukan disembunyikan... Aku juga tidak akan menyembunyikan apapun darimu, Araa?" jelas Yunho.

Jaejoong menggenggam tangan Yunho yang menangkup hangat kedua pipinya. Benar kata Yunho, ia sendiri pun tidak mau Yunho punya rahasia.

Ia tersenyum manis sambil mengusap punggung tangan Yunho.

"Ne.. Maafkan aku, Yun.. Aku tidak akan membuatmu cemas lagi.. Aku akan lebih memikirkan tentang kita berdua."

Yunho tersenyum lega, ia bersyukur karena yang ia sukai adalah Kim Jaejoong, bukan wanita lain.

Yunho membawa wajah Jaejoong mendekat padanya, lalu menyatukan bibir mereka dengan lembut.

Jaejoong hanya terdiam dan akhirnya menutup mata saat Yunho mulai melumat bibirnya pelan. Yah, sudah lama juga semenjak terakhir ia mendapat ciuman dari Yunho, ia rindu sentuhan kekasihnya itu.

Kontak yang sebelumnya begitu lembut mendadak berubah semakin intens, bukan Yunho namanya kalau tidak mampu memanfaatkan kesempatan.

Jaejoong tak mampu menahan Yunho saat namja tampan itu menciumnya lebih dalam dan mulai tak terkendali.

"Khahh~" Jaejoong yang melepas kontak itu terlebih dulu, nafasnya tersengal.

"Y-Yunh.."

Yunho menatap penuh gairah pada Jaejoong, sepertinya kali ini ia sudah tidak bisa menahan diri lagi.

"Bolehkah aku meminta hadiahku sekarang?" bisik Yunho seduktif.

'Se-sekarang?!'

.

.

.

.

.

To Be Continued

Yeay! Saya update lagii~ Makasih buat yang masih sudi bacaaa (。・ω・。)ノ

Chapter berikutnya kasih NC gak nihh? hehe..

Ok see ya in the next chapter yaa!

.。.:*・° .。.:*・° .。.:*・° .。.:*・°

Special Thanks to :

KimYunhoJungJonghyun || Rahma94 || Dzdubunny || hye jin park || Dipa Woon || vianashim || bambidola || tasya vianita || Pumpkins Yellow || Park July || leejisung4 || Mimi2608 || YunjaeDDiction || Angel Park || everadit || Aggassi diiana || FNPcassieyj || uwiekawaii || Iche Cassiopeiajaejoong || meyy-chaan || imelriyanti || aiska || my yunjaechun || Rly C Jaekyu || Keybin || Ristinok137 || Lee Muti || BlackXX and for all Guests & Silent Readers :)

.

.

Thank you~