-Secretive J-
a YunJae fanfiction ©Cherry YunJae
.
Pairing : YunJae of course
Genre : Romance-School's Life
Rate : T-M
Warning! : GENDERSWITCH FOR JAEJOONG & JUNSU! Out of Character, Typos everywhere , Mature content for this Chapter!, NC 17, Implicit Sex-Scene! so DON'T LIKE just DON'T READ.
.
Remake from Kaori Sensei's manga, Himitsu no Ai chan ©2010 and now starring with YunJae
If you don't like my fanfic, just get off~ simple, rite ? ^^
.
.
.
"Bolehkah aku meminta hadiahku sekarang?" bisik Yunho seduktif.
'Se-sekarang?'
.
.
.
Jaejoong membatu saat mendengar kalimat itu, Yunho tak sedikitpun melepas mata darinya dan itu membuatnya semakin terbebani.
Yunho kembali mendekati Jaejoong, sepertinya berniat menciumnya lagi. Tapi dengan cepat Jaejoong menahan gerak namja tampan itu dengan kedua tangan di bahu Yunho.
"Tu-tunggu, Yun.. Ti-tidakkah kau berpikir aku masih sakit?" tanyanya ragu, ia takut kata-katanya justru membuat Yunho marah.
Yunho sedikit terkejut, bisa Jaejoong lihat bagaimana mata musang itu melebar meski hanya sedikit dan sekilas.
Dengan cepat, Yunho melepas dan membuat jarak dengan Jaejoong, ia kembali menegakkan duduknya setelah sebelumnya ia sempat berada diatas Jaejoong dengan posisi setengah berbaring.
"Ma-maaf.. Maafkan aku.. Aku selalu takut hal seperti ini terjadi.." Yunho mengusap wajahnya sendiri.
Jaejoong mengerjapkan mata nya, masih kaget dengan kejadian barusan. Untuk sesaat ia bahkan merasa jantungnya hampir berhenti berdetak.
Jaejoong ikut menegakkan duduknya, ditatapnya punggung Yunho yang duduk membelakanginya sambil tertunduk.
"Y-Yunho?" Jemari Jaejoong terulur menyentuh punggung Yunho.
"Maaf, aku bahkan tidak bisa menahan diriku sendiri jika di dekatmu." ucap namja itu, sepertinya ia merasa sangat bersalah. Jaejoong bingung apa yang sebaiknya ia lakukan?
"Yun?" Suara lembut Jaejoong kembali terdengar, namun kemudian Yunho beranjak bangun, mengabaikan sentuhan Jaejoong.
"Istirahatlah, aku akan mengantarmu pulang besok pagi.." ucap namja itu sebelum menghilang di balik pintu.
Suasana berubah sepi setelah pintu kamar itu ditutup. Jaejoong terdiam.
Tes..
Tes...
Ia bukan wanita lemah sebenarnya, tapi entah kenapa saat ini air matanya berjatuhan begitu saja. Ia merasa begitu bersalah kini. Jika diingat lagi, ia tak tahu sudah berapa kali menolak Yunho secara terang-terangan seperti tadi.
Rasa sesak tiba-tiba mencekik lehernya.
Apa kali ini Yunho benar-benar kecewa padanya?
Sungguh, bukan itu maksudnya menolak, ia hanya belum.. Siap.
Jaejoong semakin tak bisa mengontrol derai air matanya, ia benar-benar merasa bersalah pada Yunho.
"Mianhae..." lirihnya.
.
.
.
.
Yunho membuka matanya karena harum masakan yang menggelitik. Ia berusaha menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya sekitar yang begitu menyilaukan.
Sudah pagi.
Yunho hendak bangun, dan sedikit bingung saat mendapati dirinya terbungkus sebuah selimut tebal yang harusnya dipakai Jaejoong tadi malam. Ia pun berpikir pasti kekasihnya itu yang melakukannya.
Merenggangkan ototnya sesaat kemudian Yunho beranjak menuju sumber harum yang mengganggunya ini.
Ia berhenti di ambang pintu dapur saat melihat Jaejoong berdiri membelakanginya, berkutat dengan teflon. Yunho tak bisa menahan senyumnya. Ia suka melihat Jaejoong seperti ini.
Sebenarnya ia ingin mengendap lalu tiba-tiba memeluk pinggang ramping itu, tapi kejadian tadi malam mengusik niatannya. Pasti akan semakin canggung jika ia melakukan hal itu. Akhirnya Yunho memutuskan untuk duduk di depan meja makan, tepat menghadap Jaejoong yang masih sibuk.
"Pagi.."
Jaejoong sedikit tersentak kaget dan hampir menjatuhkan sendoknya saat mendengar suara itu. Ia menoleh dan mendapati Yunho sudah disana, di belakangnya.
"Pa-pagi.."
Ia tak mampu menatap Yunho lebih lama, apalagi dengan mata sembab karena semalaman menangis.
Namun ternyata Yunho begitu peka dengan keadaan Jaejoong, meski gadis itu hanya sekilas menoleh tapi ia tahu ada yang tidak beres dengan mata Jaejoong yang biasanya cerah itu.
Didekatinya Jaejoong dan dibawanya gadis itu menatap langsung.
"Kau menangis?" Jari-jari Yunho tergerak mengusap pipi Jaejoong, tepat di bagian bawah mata indah itu. Tapi Jaejoong hanya menggeleng.
"Apa kau menangis karena aku? Maaf.."
Jaejoong semakin tertohok dengan kalimat itu, bukankah harusnya ia yang meminta maaf karena sudah menyakiti perasaan Yunho? Kenapa Yunho begitu baik padanya?
"Aniyaa.. Aku yang minta maaf, Yun.. Maaf karena aku mengecewakanmu.." Jaejoong segera memeluk Yunho, ia begitu menyesal kini.
"Itu perjanjian kita, dan harusnya aku bisa menepatinya.. Tapi aku—"
Chu~
Yunho membawa Jaejoong menatapnya dengan melonggarkan pelukan itu dan sebuah kecupan manis pun diterima Jaejoong.
Yunho melepasnya perlahan sambil menatap kecantikan kekasihnya itu dari dekat, "Tidak apa, Boo.. Kalau kau tidak siap tidak apa-apa.. Aku lebih marah jika kau menangis karenaku."
Rona merah menjalar di pipi Jaejoong, jarak ini terlalu dekat dan lagi kata-kata Yunho...
"Huweeeee... Yunhoo~" Jaejoong kembali memeluk Yunho, ia tak tahu harus bicara apa lagi. Yunho pun menepuk pelan punggung Jaejoong sambil tersenyum tipis.
Menangis beginipun Jaejoong sangat imut baginya.
.
.
.
Setelah sarapan mereka selesai, Yunho menepati janjinya untuk mengantar Jaejoong pulang.
Mereka bercanda sepanjang perjalanan ke rumah keluarga Jaejoong, bahkan sesekali mereka adu mulut seperti biasanya, sudah normal sepertinya.
"Jja.. Sudah sampai.." Mereka berhadapan di depan gerbang rumah Keluarga Jaejoong.
"Masuklah dulu, aku yakin Yoochun dan umma ingin bertemu denganmu.." Jaejoong tersenyum riang sambil menarik tangan kiri Yunho.
Dan Yunho tak bisa menolak saat gadis itu tiba-tiba sudah menyeretnya masuk ke rumah itu.
.
"Aku pulang..." pekik Jaejoong yang buru-buru melepas sepatunya, berbanding terbalik dengan Yunho yang melepas sepatunya pelan-pelan dan harus merapikan sepatu Jaejoong dulu ke atas rak.
"Oh?" Kim umma yang masih menggunakkan apronnya segera menghampiri Yunho yang baru saja masuk.
"Annyeong haseyo, omonim.. Jung Yunho imnida"
Kim umma mengangguk dan tersenyum pada namja tampan itu "Ne, aku mengingatmu.. Dan lagi, Joongie banyak bercerita tentangmu."
Yunho pun tersenyum canggung.
Wanita paruh baya itu segera memberi kode agar Yunho duduk di ruang tamunya, sementara ia kembali ke dapur. Yunho pun mengangguk dan berjalan pelan menuju ruang tamu rumah itu.
Jaejoong yang baru saja berganti baju menghampiri Yunho diikuti Yoochun.
"Oh! Kau datang, Yunho-yah!"
Yunho tersenyum.
Kim umma datang dengan segelas minuman untuk Yunho, merekapun lengkap berkumpul di ruang tamu—tanpa Kim appa tentunya.
"Apa kau sudah sembuh, Joongie?"
"Ne, umma~" Jaejoong mengangguk mantap.
"Ah, gomawo Yunho-yah.. Kau menjaga putriku dengan baik meski aku sempat khawatir tapi Yoochun bilang kau bisa dipercaya."
Jaejoong sebenarnya tahu apa maksud Yoochun mengingat kakaknya itu sangat menginginkannya bersama Yunho.
"Maafkan aku, omonim karena tiba-tiba membawa Jaejoongie kerumahku, tapi aku benar-benar tidak melakukan apa-apa pada Jaejoongie, aku hanya berpikir rumahku lebih dekat karena Jaejoongie membutuhkan obat segera tadi malam." jelas Yunho tenang.
Kim umma sedikit terperangah.
" 'Jaejoongie'? Sebenarnya sudah sejauh mana hubungan kalian?" Tanya Kim umma penasaran karena panggilan itu terasa begitu manis, bahkan Jaejoong tak menolak.
Keduanya saling tatap.
"Eh..." Yunho mencoba mencari jawaban yang tepat.
—Kriiiing~
Nice timing!
"Aigoo.. Siapa itu? Sebentar ya?" Kim umma beranjak setelah tersenyum sesaat pada Yunho, dan pasangan itu mampu bernafas lega.
Yoochun terkekeh melihat keduanya.
"Kalian terlihat seperti akan segera dinikahkan.." tawa renyah masih menyertai ledekan Yoochun. Jaejoong merengut "Diam kau!" sahutnya galak.
"Aigoo.. Kau marah? Ngomong-ngomong pagi ini kau terlihat lebih manis, Joongie.. Apa saja yang kalian lakukan tadi malam?"
Yunho dan Jaejoong melotot kaget.
"Yunho, kau tidak lupa memakai 'pengaman' kan? Bagaimanapun kalian masih kelas 2.." Yoochun kembali tertawa namun Jaejoong segera melempar sebuah bantal ke arah kakaknya itu.
"Yunho tidak sepertimu, bodoh! Diamlah!"
"Hahaha... Tapi umma benar, sepertinya yang bisa mengendalikan bocah tengik ini hanya kau, Yunho-yah.."
Yunho lagi-lagi hanya tersenyum kecut, hubungan kakak beradik keluarga ini sedikit unik rupanya.
"Oh iya, hari rabu besok kau ada acara?" Tanya Yoochun pada Yunho. Yunho menunjuk dirinya sendiri kemudian menggeleleng.
"Bagus, hari rabu nanti aku akan pergi ke Gyeonggi kalian harus ikut karena akan ada kamar sisa."
Jaejoong dan Yunho kembali saling tatap dan tersenyum. "Kedengarannya seru, baiklah kami ikut.." jawab Jaejoong.
.
.
.
.
Hari yang ditunggu pun tiba, Yoochun dengan riang menyetir mobilnya. Sementara Yunho dah Jaejoong terlihat tak nyaman duduk di belakang.
Tidak nyaman?
"Kyaa~ Yunho-yah~ nanti jalan-jalan bersamaku yaa.."
Ya, ini dia masalahnya. Yoochun tidak memberitahu sebelumnya kalau ternyata acara ke Gyeonggi ini adalah acara perusahaan atau dengan kata lain semua pegawai Cassiopeia cafe pasti ikut.
Jaejoong tak tahan karena Miyoung terus saja berisik, meski tidak sampai menyentuh-nyentuh kekasihnya tapi tetap saja kelakuan yeoja boneka itu membuatnya kesal.
Dia lebih marah lagi pada Yoochun yang sama sekali tidak memberitahunya kalau seluruh pegawai Cassiopeia akan ikut.
Junsu sih tidak masalah, tapi si kembar Shim? —hhah~
Jaejoong menyandarkan kepalanya di bahu Yunho, mengabaikan Miyoung yang tak berhenti mengoceh di jok belakang.
Jaejoong pikir acara jalan-jalan ini akan menyenangkan.
.
.
"Wahh~ luas sekali..." Junsu terburu-buru menuju balkon dan melihat pemandangan di luar, udara terasa begitu segar membuat Jaejoong ikut berminat menuju balkon itu.
Mereka saat ini berkumpul di sebuah ruangan, penginapan ini sangat unik karena bangunannya dibuat persis dengan rumah-rumah hanok jaman dinasti joseon.
Untuk sementara Jaejoong bisa melupakan kekesalannya pada sang kakak karena keadaan di tempat ini begitu menyenangkan.
"Baiklah pembagian kamarnya—"
"Aku dengan Yunho!" Miyoung dengan cepat menyahuti Yoochun, Jaejoong pun kembali berapi-api.
"Apa? Tentu saja aku yang bersama Yunho!" sahutnya hingga terjadi perang tatap antara kedua gadis itu.
"Ah, sebenarnya aku juga ingin begitu.. Kau dengan Changmin, Jaejoong dengan Yunho dan aku dengan Junsu.." Yoochun merangkul mesra Kim Junsu yang duduk disebelahnya.
Jaejoong melihat gelagat aneh keduanya, dan menatap curiga.. jangan-jangan mereka...
"Mana bisa begitu.." Miyoung merengut kesal, tidak bisa terima keputusan Yoochun.
"Baiklah.. Kalau begitu kita cukup pakai 2 kamar saja, laki-laki dengan laki-laki dan perempuan juga begitu.." Jaejoong pun menengahi supaya Miyoung tak lagi ribut-ribut. Sudah cukup ia kesal pada kakaknya ia tak mau makin memperburuk mood-nya sendiri juga.
Miyoung tidak ingin terima lagi sebenarnya tapi ia rasa itu lebih baik daripada Jaejoong dan Yunho satu kamar.
"Ya sudah, kudengar disini ada spa, aku mau kesana saja.." gadis boneka itu bangun dan pergi sambil menghentakkan kaki keras-keras diatas lantai kayu.
"Joongie~ ayo kita juga mandi.." ajak Junsu, Jaejoong pun dengan senang hati menyetujui dan segera keluar dari ruangan itu.
"Kalau begitu aku juga akan bilang dulu pada pengurus untuk menyediakan 2 kamar saja." Dan yang terakhir beranjak adalah Yoochun.
Zreekk..
Pintu berlapis kertas itu tertutup kembali dan menyisakan keheningan antara kedua orang yang tersisa.
Jung Yunho.
Dan Shim Changmin.
Ada aura persaingan yang begitu kental menguar dari keduanya bahkan tanpa berkomunikasi.
"Kudengar.. Baru-baru ini kau terang-terangan menyatakan perasaan pada kekasihku." Sindir Yunho yang bersandar menatap keluar di balkon sementara Changmin duduk manis di depan meja.
Namja raven itu hanya mengangkat wajahnya dengan tenang untuk melihat Yunho, tak sedikitpun ia mengeluarkan suara.
"Yang benar saja, hal seperti itu bisa membuat Jaejoong terbebani kan. Tolong jangan seenaknya.." Yunho menatap tajam pada Changmin.
"Hm.. Dia sudah bilang? Cepat sekali.. Padahal aku ingin sedikit lebih lama berbagi rahasia dengannya." Namja raven itu menyeringai.
"Kalau begitu.. Apa akhirnya aku boleh mendekatinya terang-terangan?" lanjut Changmin, mata Yunho bergerak mengawasi setiap gerak saingannya itu.
"Bodoh, kalau begitu aku juga akhirnya bisa mengatakan ini secara terang-terangan padamu..." Yunho memotong kalimatnya, membuat Changmin mau tak mau harus menatap Yunho.
"Jangan berani mendekati atau bahkan menyentuh Jaejoong-ku." Yunho terlihat begitu serius.
Namun Changmin yang semula sempat terdiam, hanya tersenyum menanggapi kata-kata Yunho barusan. Ia beranjak dari duduknya menuju pintu.
"Cih.. Maaf, tapi aku tidak sudi mendengar kata-kata itu dari orang yang bahkan tidak bisa mengakui terang-terangan tentang kekasihnya." dan setelah mengucapkan itu, Shim Changmin benar-benar keluar dari ruangan.
Menyisakan Yunho yang kesal setengah mati karena ucapan menusuk tadi. "Sial..." geramnya.
.
.
.
.
"Huahh enakk.." Junsu memekik senang.
Saat ini kedua sahabat itu tengah menikmati kolam pemandian air panas yang disediakan oleh pihak penginapan. Sambil bermain-main, mereka berdua terlihat sangat menikmati acara mandi bersama ini.
"Junchan~" Panggil Jaejoong.
"Hm?" Gadis lumba-lumba itu menoleh, entah kenapa Jaejoong melihat Junsu lebih bersinar & ceria dibanding kemarin-kemarin. Ia pun tak tahan untuk bertanya, "Apa ada sesuatu yang baik terjadi antara kau dan Yoochun?"
Rona merah terlihat menjalar di pipi Junsu, Jaejoong jadi semakin penasaran.
Akhirnya Junsu pun mengangguk, "N-ne... Baru-baru ini kami memutuskan ntuk berpacaran.."
"M-MWO?! SERIUS?!" Junsu pun mengangguk polos.
Jaejoong tahu kalau Junsu menyukai kakaknya, tapi ia tidak pernah tahu kalau ternyata Yoochun akan membalas perasaan sahabatnya itu.
"Aigoo~ kenapa tidak memberitahuku.. Rasakan ini.." Jaejoong pun mengajak Junsu bermain air.
"Ahaha.. Ohya, Joongie.. Jadi malam itu apa yang dilakukan Yunho?" Junsu menghentikan aksinya menyiram Jaejoong dan bertanya penuh rasa penasaran.
"Eopseo.. Yunho tidak melakukan apa-apa.. Memangnya apa yang kau harapkan, eoh?" Jaejoong mencubit pipi Junsu.
"Aduh.. Kupikir ia akan melakukan 'sesuatu'.. Kau tahu? Saat ia membawamu malam itu, dengan begitu keren dia bilang 'Junsu, bisakah kau bilang pada Yoochun kalau malam ini Jaejoong menginap dirumahku?' itu keren sekalii~~" Junsu berusaha meniru Yunho semirip mungkin.
Jaejoong memutar bola matanya.
"Kau ini.."
Junsu tertawa kecil kemudian kembali menatap sahabat baiknya itu. "Jadi? Apa sampai sekarang kalian belum melakukan 'itu'?" Jaejoong terdiam mendengar pertanyaan Junsu.
"Belum.. Yunho mengerti kalau aku belum siap.." jawabnya lemah.
"Jincha? Dia hebat sekali.."
"Hei.. Jangan bilang kau dan Yoochun sudah..." Jaejoong menunjuk Junsu sambil menyipitkan matanya curiga. Tak ada jawaban yang ia dapat, tapi Junsu segera membuang muka dan Jaejoong bisa melihat rona itu.
"KAU BENAT-BENAR SUDAH?!" Jaejoong sekali lagi terkejut. Astaga, ia bahkan berpikir Junsu itu masih di level anak kelas 5 SD.
"Shh! Ja-jangan beritahu Yoochun oppa ne?" pinta Junsu.
Jaejoong bingung kini, tidak heran sih karena yang dipacari Junsu adalah kakaknya yang mesum itu, tapi kalau benar-benar terjadi sesuatu pada Junsu, Jaejoong bersumpah akan menguliti kakaknya itu.
"Kenapa kau melakukannya, Junchan?"
"E-eh? Itu.. Aku tidak mau Yoochun oppa hanya menganggapku sebagai adiknya.. Aku.. Aku juga ingin dia melihatku sebagai perempuan."
Jaejoong yang semula antusias menanggapi Junsu perlahan terlihat menerawang.
"Bisa-bisanya kau melakukan itu padahal aku sendiri masih bingung ingin melakukannya atau tidak." Jaejoong memainkan air di depannya.
"Setiap orang kan punya tempo sendiri-sendiri, Kau belum bisa tapi Yunho mengerti kan?"
Jaejoong terdiam sebentar.
"Ne, dia selalu berusaha mengerti.. Tapi aku yakin, aku selalu menyakiti perasaannya. Dia ingin berpacaran dengan 'Jaejoong' tapi aku selalu menjadi perempuan dengan 'Jaekyung'... Aku merasa bukan diriku sendiri, aku ingin semua orang pun tahu kalau kami berpacaran."
Junsu menatap sendu.
"Apa rasa sukaku dengan Yunho seimbang ya? Lagipula apa masih pantas orang yang tidak bisa mengakui identitas aslinya seperti aku ini melanjutkan hubungan yang lebih serius? Aku takut Yunho tersakiti atau bahkan kecewa.."
Junsu prihatin mendengar Jaejoong, ia tahu Jaejoong pasti merasa sangat terbebani saat ini.
"Joongie, kau tidak sendirian.. Jangan menyimpannya sendirian.. Aku yakin Yunho menyukaimu sepenuhnya termasuk sifatmu yang selalu ingin terlihat kuat itu.. Karena itu, bicaralah padanya.." Jelas Junsu.
Jaejoong sadar, kata-kata Junsu benar.
.
.
.
"Kajja~ Yoochun oppa bilang kita akan makan kepiting~" Junsu mengajak Jaejoong buru-buru kembali ke ruang makan, dan di saat yang tepat Yunho juga disana.
"Kalian sudah selesai?" tanya Yunho, matanya memperhatikan Jaejoong yang begitu cantik dengan dress berwarna magenta berbahan sutera dan rambut panjangnya yang dibawa ke bahu kirinya.
Yunho tahu, kekasihnya itu memang sangat cantik.
"Ne~ apa Yoochun oppa bersamamu, Yunho-yah?"
"Ani, tapi dia meminta kita duluan untuk makan tadi sebelum pergi."
"Ah, kalau begitu ayo makan.. Aku sudah lapar.." Junsu berjalan terlebih dahulu sementara Jaejoong mulai mengekor. Yunho yang berada di belakang Jaejoong mencondongkan tubuhnya untuk membisikkan sesuatu.
"Kau cantik.." Dengan nakal, hembusan nafas Yunho terasa begitu menggelitik telinga kanan Jaejoong yang terbuka karena rambutnya ia bawa ke sebelah kiri.
Jaejoong menoleh, dengan wajah memerah malu ia memukul pelan lengan Yunho.
Merekapun bergegas mengikuti Junsu menuju ruang makan penginapan.
.
.
.
"Wah~ Kepiting~!"
Semua berkumpul saat makanan lengkap tersaji di hadapan mereka. Dengan sigap 6 pasang sumpit bergerak mengambil makanan.
Jaejoong pun berpikir liburan ini juga tidak begitu buruk, Si kembar Shim bahkan menjadi penggembira terlepas dari sikap menyebalkan mereka. Meski tidak bisa hanya berdua dengan Yunho ia merasa ini lebih dari cukup untuk menjadi kenangan bagi mereka berdua.
"Jaekyungie~ jangan ambil yang besar.. Aku sengaja menyisakannya."
"Aigoo.. Kau sudah makan yang besar kan tadi?"
"Hei itu punyaku.."
Keributan kecil di sela-sela acara makan pun terasa menyenangkan. Yah, kalau dilihat dari segi positifnya, mereka kan seperti keluarga di Cassiopeia.
"Aduh.. Aku mau ke toilet dulu, sisakan untukku ya.." Jaejoong bangun dari duduknya dan segera pergi keluar dari ruangan.
"Makan saja makan~" Sementara yang lain sibuk mengambil jatah makanan milik Jaekyung, Yunho hanya terdiam sambil meminum teh-nya.
.
.
.
"Kepiting~ Kepiting~" Jaejoong yang baru saja keluar dari kamar kecil berjalan terburu-buru melewati lorong penginapan yang didominasi kayu itu.
Namun belum sampai di dekat ruang makan, ia justru bertemu dengan kekasihnya.
"Oh? Yunho? Kau mau ke toilet?" Tanyanya polos.
Yunho yang semula bersandar di tiang kayu kini menegakkan tubuh menghadap Jaejoong. "Bukan.. Ada yang ingin kubicarakan denganmu." Jaejoong mengerjap polos.
Pembicaraan tentang apa?
Yunho mengeluarkan tangannya yang semula ada di saku celananya, menunjukkan sebuah kunci.
"Aku diberi ini oleh Yoochun hyung.. Aku hanya ingin merundingkannya denganmu, kau mau mengambilnya atau tidak?"
Jaejoong menatap kaget pada kunci itu, Yoochun bahkan diam-diam menyiapkan kamar untuknya dan Yunho?
Ia bingung harus menjawab apa pada Yunho, ia tak ingin mengecewakan Yunho lagi tapi ia juga tidak bisa berbohong kalau ada rasa takut.
Yunho yang melihat tak ada respon dari Jaejoong pun memutuskan untuk menyimpan kembali kunci itu.
"Ah, Maaf.. Aku tahu, aku akan mengembalikannya pada Kakakmu." Yunho berbalik hendak meninggalkan Jaejoong namun tanpa berpikir lagi Jaejoong segera memeluk tubuh Yunho dari belakang.
"Aku mau, Yun.. Aku mau.." Jaejoong menahan malunya demi Yunho, bukankah ia juga sudah tahu konsekuensi ini dalam janjinya hari itu?
Yunho sempat terkejut sebenarnya, tidak menyangka sama sekali akan mendapat reaksi seperti ini dari Jaejoong.
"Kau serius? Kalau kau serius, aku tidak akan melepasmu seperti sebelum-sebelumnya lagi." Yunho mencoba memperingatkan gadis itu.
Namun Yunho bisa merasakan gerakan Jaejoong yang mengangguk di punggungnya.
"Aku tahu.. Bawa aku, Yun.."
Dan Yunho yakin pertahanannya runtuh sudah saat mendengar kata-kata itu.
.
.
.
.
Jaejoong memasuki ruangan itu duluan, sementara Yunho memastikan tidak akan ada yang mengganggu dengan mengunci pintu kamar itu.
Jaejoong terdiam menatap ranjang besar di hadapannya, detak jantungnya saat ini terasa sangat tidak stabil.
"Wae?" Yunho melingkarkan lengannya di pinggang Jaejoong, memeluknya erat dari belakang.
"Tu-tunggu, Yun.. Ada sesuatu yang mengganggu pikiranku.." Jaejoong melepas pelukan itu dan berbalik menatap Yunho.
"Hm? Apa?"
Jaejoong tertunduk, "Itu... Karena keegoisanku, kita menjadi kekasih dengan cara seperti ini.. Aku bahkan belum berani memberitahu teman-teman yang lain tentang hubungan kita, aku jadi ragu.. Apa boleh kita meneruskan hubungan kita dengan situasi seperti ini? Yunho.. Kau..."
Jaejoong memberanikan diri menatap Yunho.
"Kau tidak keberatan dengan aku yang seperti ini?"
Yunho menatap lembut, tersenyum tipis. "Kau selalu mencemaskan soal ini." Tangan Yunho tergerak menyentuh pipi Jaejoong.
"Tentu saja aku senang kalau kita bisa pacaran secara terang-terangan, tapi itu tidak ada artinya kalau kau terpaksa. Asal kau menyukaiku dan mau tetap bersamaku, dengan bentuk seperti apapun aku tidak akan keberatan, Boo..."
Jaejoong terharu dengan jawaban Yunho, ia kembali memeluk Yunho seerat yang ia bisa.
"Kalau begitu tolong terima aku sepenuhnya.." Ucapnya, dan Yunho mengerti apa maksud Jaejoong.
"Arasseo.."
.
.
.
"AH! Yunho dan Jaekyung tidak ada! Aku lengah!" pekik Miyoung yang menyadari kecerobohannya terlalu fokus pada makanan dan menbiarkan pasangan itu lepas dari pengawasannya.
"Ini tidak boleh terjadi~!" Miyoung yang kelabakan segera bangun, berniat mencari pasangan itu.
Namun tangannya justru ditarik.
Ia menoleh menatap orang yang menghentikan geraknya itu.
Shim Changmin, adik kembarnya.
Tanpa bicara apa-apa, Changmin hanya memegang erat pergelangan tangan Miyoung agar kakaknya itu tidak pergi. Miyoung terdiam, kalau Changmin sudah menahannya seperti ini ia tak mungkin bisa bertindak lebih jauh.
Gadis boneka itu kembali duduk.
Dan dengan tenang, Changmin kembali melanjutkan makannya.
.
.
.
.
Kembali ke kamar rahasia milik Yunho dan Jaejoong.
Kini keduanya sudah dalam posisi duduk di ranjang luas itu, Yunho sibuk mencium Jaejoong dengan tidak sabar, Jaejoong sendiri agak ketakutan sebenarnya karena baru kali ini ia merasakan Yunho yang sebegini liar.
"Hhah~ Yun.. Ini terlalu.. Hh.." Jaejoong tersengal saat Yunho melepas ciuman mereka. Yunho hanya tersenyum tanpa bisa Jaejoong tangkap maksud senyuman itu.
Dan tak ingin membuang waktu lagi, Yunho kembali menyatukan bibir mereka. Kali ini membawa Jaejoong lebih mendekat padanya. Bisa Jaejoong rasakan bagaimana ciuman Yunho melumpuhkan kerja otaknya.
Lidah Yunho terus menginvasi rongga mulutnya hingga suara decak halus mendominasi awal kegiatan mereka ini.
Tangan Yunho pun tidak bisa tinggal diam, dengan perlahan ia membuka zipper dress Jaejoong hingga sempurna terbuka.
"Mmh~ Tu-tunggu, Yun.. Aku malu.." Jaejoong menahan tangan Yunho. Padahal ia sudah sangat yakin ketika memasuki ruangan ini tapi saat berhadapan langsung dengan Yunho nyalinya menguap begitu saja.
"Kenapa? Di kencan pertama kita waktu itu kau bahkan tanpa ragu membiarkanku membuka semuanya."
"Y-yah! Itu kan..." Jaejoong tidak bisa melanjutkan saat mengingat waktu itu sifat tidak mau kalahnya-lah yang membuatnya berani.
"K-kau melihatku waktu itu?" Tanyanya.
"Mana mungkin tidak lihat kan?" Jawab Yunho ringan.
Jaejoong malu setengah mati jika mengingat hari itu.
"Dia wanita yang kusukai sejak lama, mana mungkin aku yang laki-laki normal tidak mau melihatnya." Lagi-lagi tatapan lembut Yunho membiusnya, Jaejoong seperti tak mampu berkutik lagi.
'Wanita yang disukai sejak lama?' Jaejoong merasa sangat senang mendengar kalimat itu.
"Lagipula harusnya kau memujiku karena aku berhasil menahan diri waktu itu.." Lanjut Yunho sedikit bercanda.
Jaejoong sendiri justru menutupi mulutnya dengan punggung tangannya sendiri. "Ya-yang namanya rasa suka itu.. Hebat ya.. Waktu itu aku juga berdebar-debar, tapi tidak sebanding dengan debaranku saat ini. Hanya karena sadar menyukaimu ternyata perbedaannya sebesar ini..."
Yunho terdiam, jantungnya ikut berdetak tak terkendali mendengar kata-kata Jaejoong.
"Sepertinya aku benar-benar tidak bisa menahannya lagi.." Dan kali ini Yunho segera membawa Jaejoong berbaring diatas kasur lembut itu sambil menciumnya lagi.
"Ngh!" tangan Jaejoong terulur menyentuh dada bidang Yunho yang tersingkap karena beberapa kancing kemeja kasualnya terlepas. Ia bisa merasakan detak jantung Yunho melalui tangannya. Akhirnya ia mencoba tenang dan memasrahkan pada Yunho karena saat ini jantung mereka berdetak dengan tempo yang sama, karena ia tahu bukan hanya dirinya yang gugup.
"Urmhh~" Jaejoong menggeliat pelan saat Ciuman Yunho turun ke lehernya, memberi beberapa kecupan dan hisapan disana.
Ia merasa dirinya semakin aneh, karena setiap Yunho menciumnya seluruh tubuhnya terasa panas dan berpusat pada satu titik. Yunho memperlakukannya dengan lembut, bahkan ketika pria itu berhasil membuka material penting penutup bagian atas tubuhnya.
"Annghhh~" tubuhnya terasa begitu lemas saat dengan mudahnya Yunho menghisap nipple-nya.
Jaejoong merasa pusing karena rasa nikmat bertubi-tubi yang diberikan Yunho pada seluruh tubuhnya. Hanya di depan Yunho ia merasa menjadi wanita bukanlah hal yang buruk. Hanya Yunho yang memperlakukannya seperti sesuatu yang berharga dan harus dijaga.
"Nghh~ Ja-jangan disitu..." Jaejoong menekan bahu Yunho saat ciuman pria itu sampai di perut ratanya.
Tapi Yunho tak bergeming, ia tetap menghujani tubuh mulus Jaejoong dengan ciuman-ciumannya.
Jaejoong pun harus menahan sampai akhirnya Yunho kembali menegakkan tubuh, menindih Jaejoong. Gadis itu bahkan lupa sejak kapan ia dan Yunho sama-sama sudah polos, Yunho mengalihkan perhatiannya dengan baik sepertinya.
"Aku bertanya untuk terakhir kalinya, apa kau benar-benar ingin melakukannya?" Mata Yunho menatap serius pada Jaejoong yang terbaring pasrah di bawahnya.
Jaejoong hanya mampu menatap sayu pada kekasihnya itu, sedikit terengah karena aktifitas mereka tadi.
"La-kukan.. Lakukan saja.." Jawab Jaejoong berusaha membuat Yunho yakin, sudah pasti kan? Jaejoong tak mungkin menghentikannya karena ia sendiri merasa gairahnya tersulut karena foreplay panas dari Yunho sejak tadi.
Yunho pun membelai lembut pipi Jaejoong, mencoba membuat gadis itu lebih rileks untuk main-course mereka. Disentuhnya pusat gairah Jaejoong dan membuat yeoja bermata indah itu menegang.
"Ouhh..." Jaejoong memejamkan mata saat sentuhan Yunho begitu menyengatnya. Ia tak tahu harus berbuat apa selain meremas sprei yang sudah sejak tadi berantakan. Tubuhnya berjuta kali lebih sensitif karena sentuhan Yunho.
Yunho merendahkan tubuhnya, mendekatkan bibirnya ke telinga kanan Jaejoong sambil mengarahkan kejantanannya ke dalam tubuh Jaejoong.
"Shh~ try to relax, baby..." Ia mencoba mensugesti Jaejoong sambil mengecup sensual bagian sensitif lain milik Jaejoong.
"Anghhh!" Jaejoong sendiri tak mampu mengeluarkan kata-kata selain erangan dan desahan yang ia sendiri tak sadari. Ia menahan jeritan dengan menggigit bibirnya saat ujung kejantanan Yunho berhasil menerobosnya.
"Ngghh~ Sa-kithh..." keluh Jaejoong dengan suara seraknya.
Yunho berhenti sesaat, Jaejoong senang karena Yunho juga memikirkan perasaannya dengan memperlakukannya selembut mungkin bukan dengan pemaksaan. Sungguh ia merasa tidak bisa melanjutkan ini tapi melihat Yunho yang terus memperlakukannya dengan baik justru membuatnya ingin mencapai 'surga' itu bersama.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Yunho khawatir sambil menciumi pipi Jaejoong.
Gadis itu tersenyum tipis meski matanya terpejam dan butiran keringat mengalir di pelipisnya.
"It's Ok.. Lanjutkan..." pinta Jaejoong. Dan sesuai permintaan Kekasihnya, Yunho kembali mendorong perlahan kejantanannya lebih dalam dan dalam lagi
"Ouhh... Yunhh!" Jaejoong bernafas lega saat Yunho sudah sempurna merasukinya meski dengan susah payah.
"Ngh.. It's damn tight.." bukan hanya Jaejoong yang bergetar menahan kenikmatan, Yunho yang belum menggerakkan tubuhnya sama sekalipun merasa kehilangan akal sehatnya.
Ia kembali menegakkan tubuhnya untuk melihat wajah Jaejoong, sambil memegang pinggang ramping gadis itu Yunho pun bergerak pelan.
"Akhh! anghh!" Jaejoong memejamkan matanya erat untuk menikmati semua friksi yang diberikan Yunho, setiap kali Yunho melesakkan kejantanannya ke bagian terdalamnya, Jaejoong hanya mampu memekik.
Gerakan perlahan Yunho mulai berubah menjadi ganas saat kendalinya mulai hilang, Jaejoong sendiri selalu menggeliat resah ketika titik sensitif di dalamnya disentuh berulang kali oleh ujung milik Yunho.
"Buka matamu, sayang..." Yunho berbisik tanpa memberi jeda pada gerakannya. Dan seolah dimantrai, Jaejoong membuka hazelnya, menatap sayu pada Yunho.
Yunho tersenyum, Jaejoong berjuta kali lipat lebih cantik saat ini. Dan hanya ia yang bisa menikmati keindahan Jaejoong.
Mereka terus saling tatap sambil berlomba mencapai puncak tertinggi itu, tubuh Jaejoong semakin tersentak saat Yunho mendorongnya keras-keras karena klimaks yang hampir menjemput.
Yunho sendiri merendahkan tubuhnya dan menaruh kepalanya di atas bahu kanan Jaejoong, seolah sengaja ingin memperdengarkan geraman & lenguhannya saat rasa nikmat itu berulang kali menyentuhnya.
Deru nafas mereka semakin berat. Jaejoong menggigit bibirnya sendiri menahan sesuatu dalam dirinya yang terasa akan meledak.
"Yunh.. Ahhh! Aaaanghh!" jerit Jaejoong yang merasa tak mampu lagi bernafas saat gelombang orgasme menjemputnya.
"Akhh!" Disusul geraman Yunho yang segera mengeluarkan lahar panasnya, membasahi setiap inchi bagian terdalam Jaejoong.
Nafas mereka memburu, tak sanggup sekedar membuka mulut untuk bicara karena masih menikmati sisa-sisa puncak kegiatan mereka barusan.
Tubuh Jaejoong terasa lemas, begitu pula Yunho.
Namja tampan itu memutuskan kontak tubuh mereka dan berbaring di samping Jaejoong sambil memejamkan mata. Jaejoong kini sudah menjadi miliknya, miliknya secara utuh.
Pergumulan malam itu pun berakhir karena Jaejoong yang kelelahan tertidur begitu saja setelah rasa lelah mendera tubuhnya.
Yunho pun menyelimuti & mencium pipi gadis itu sebelum ikut memejamkan mata.
"Jalja, Boo.. Saranghae.." bisiknya lembut dan memposisikan diri memeluk tubuh Jaejoong.
.
.
.
.
To Be Continued
It's an Implicit sex-scene! But i don't think so... (´・_・`)
Maaf sebelumnya buat yang ngarepin Hot NC but i prefer to make a sweet one. Saya gak bisa bikin yang hot & lebih suka yang manis..
4,3k words.. Ini chapter terpanjang yang pernah saya bikin :D
Apa ff ini semakin membosankan? Bertele-tele? Bahasa saya rumit?
.。.:*・° .。.:*・° .。.:*・° .。.:*・°
Special Thanks to :
KimYunhoJungJonghyun || Yuan Lian || Bambidola || Ai Rin Lee || Tasya vianita || Park July || hyejinpark || Himawari23 || leeChunnie || Ristinok137 || babychokyu || miu sara || aggassi diiana || Dipa Woon || nidayjshero || YunjaeDDiction || azahra88 || Pumpkins Yellow || iche cassiopeiajaejoong || kichan || snow drop 1272 || Vermilion || Angel Park || dzdubunny || Versya || shanzec || ajid yunjae || jj || Rly C Jaekyu || everadit || FNPcassieyj || Lady Ze || Ayuki siFUjho || SukiYJ57 || Keybin || aiska || Lollyglory and thanks a lot for all Guests & Silent reader who still read my fanfic until here. Love u guys~
See ya in the next chapter! ^^
