-Secretive J-
a YunJae fanfiction ©Cherry YunJae
.
Pairing : YunJae of course
Genre : Romance-School's Life
Rate : T-M
Warning! : Genderswitch! Out of Character, Typos.
.
Adapted and remake from Kaori Sensei's manga, Himitsu no Ai chan ©2010 and now starring with YunJae
If you don't like my fanfic, just get off~ simple,
rite ? ^^
.
.
.
Jaejoong mengerjapkan matanya berkali-kali, ia tak tahu harus bagaimana menggerakkan tubuhnya yang kini ada di pelukan Yunho.
Kaku, dan rasanya berdebar-debar. Ia tak pernah menyangka akan mencapai tahap ini bersama Yunho. Semuanya terjadi begitu cepat. Dan kini ia berada dalam dekapan Yunho yang masih tertidur.
Jaejoong tak tahu harus berekspresi seperti apa jika Yunho bangun nanti. Hanya memandangi meja nakas di sebelah ranjang mereka dengan dada bergemuruh karena merasakan hangat tubuh Yunho di punggungnya, Jaejoong berharap kekasihnya itu tidur lebih lama.
Gadis cantik itu sedikit meringis merasakan tubuhnya yang pegal disana-sini, belum lagi bagian lain yang terasa sakit. Dan mengingat itu justru membuatnya merona.
'Aish~ apa yang kupikirkan?'
Gerakan di belakang tubuhnya membuat Jaejoong sedikit menegang, ia menunggu apakah Yunho akan bangun sekarang?
Tubuhnya hanya terdiam kaku saat menyadari ada gerakan yang menandakan Yunho sudah bangun.
Dan tiba-tiba saja satu ciuman mendarat manis di pelipis kanannya.
Itu Yunho.
Yunho-nya sudah bangun.
"Morning kiss.."
Jaejoong menoleh dan mendapati Yunho tersenyum dengan sinar hangat yang membuatnya nyaman, perasaan cemasnya tadi mendadak hilang.
"Pagi.." Gadis itu membalikkan badannya hingga menghadap Yunho. Dengan sigap, Yunho menaruh tangan kanannya di pinggang Jaejoong untuk membuat jarak mereka semakin menipis.
"Pagi.. Bagaimana keadaanmu?" dengan gestur yang begitu manis, Yunho mengecupi hidung dan bibir mungil Jaejoong, Membuat gadis itu tersenyum geli.
"Baik, terutama setelah melihatmu.." Jaejoong tersenyum sambil menatap Yunho, diusapnya lembut pipi Yunho.
Ah, rasanya ingin lebih lama dalam posisi ini. Yunho yang merasa mereka tak punya banyak waktu untuk berduaan kini merasa sangat senang.
"Apa kau merasa sakit?"
Jaejoong menggeleng.
Yunho menatap tidak percaya.
"Sedikit.. Tapi tidak apa-apa.." gadis itu memberi senyuman terbaiknya.
Yunho pun mencium kening Jaejoong, "Mianhae.. Aku membuatmu kesakitan.."
Jaejoong kembali menggeleng.
Yunho yang mengingat sesuatu tiba-tiba saja bangun, "Astaga! Semalam.. Aku... di.. Dalammu?" Ucapnya terputus karena panik.
Jaejoong justru tertawa melihat ekspresi namja tampan itu, "Aku tidak sedang dalam masa subur, jadi tidak apa-apa.."
Yunho mengerutkan keningnya, "Kau yakin?"
Jaejoong kembali mengangguk mantap, "Lagipula jika terjadi, aku tidak apa-apa asal itu milikmu.." Jaejoong malu-malu mengucapkan hal itu.
Yunho kini yang tersenyum geli, ekspresi malu-malu Jaejoong saat ini sangat jarang terlihat dan itu justru membuatnya gemas.
"Aigoo.. Kau manis sekali, Boo..." Yunho mencubit pipi Jaejoong.
"Yah!" Protes Jaejoong tapi kemudian mereka tertawa bersama.
.
.
.
Yoochun meminta mereka bersiap sarapan, yang lain sudah siap dan hanya tinggal menunggu Jaekyung.
Yunho sendiri baru saja memasuki ruang makan.
Bisa ia lihat Miyoung yang duduk dengan wajah tertekuk.
"Bagaimana tidurmu, Yunho-yah?" goda Yoochun, Yunho hanya meringis canggung, "Ah.. Baik..."
Junsu dan Yoochun tersenyum maklum.
"Maaf, aku kesiangan..." Jaejo—ehm Jaekyung datang ke ruangan itu dengan dress biru muda-nya. Dan seperti pasangan yang benar-benar dimabuk cinta, Ia dan namja tampan yang menjadi kekasihnya saling melempar tatap dan senyum manis.
"Aigoo~ lihat siapa yang membuat kita terlambat makan..." Sindir Yoochun.
"Aishh.. Aku kan sudah minta maaf.."
Jaejoong segera duduk dikursinya, namun baru saja ia mendapatkan posisi nyamannya diatas kursi, Miyoung yang duduk di sebelahnya tiba-tiba menaruh sumpit dengan kasar lalu bangkit dan pergi begitu saja.
"Kenapa?" Tanya Yoochun heran, Changmin yang juga ada disana hanya terdiam masih dengan tangan yang memegang sumpitnya.
Yunho kemudian bangkit, "Aku harus mengambil ponselku, sebentar.." Ia segera meninggalkan ruangan itu dan membuat Jaejoong bingung.
.
.
.
Yunho berjalan keluar, ke halaman penginapan itu dan mendapatkan Miyoung disana. Ia segera menghampiri gadis itu.
Miyoung yang terduduk di salah satu kursi di halaman penginapan segera memalingkan wajah saat melihat Yunho datang mendekatinya.
"Shim Miyoung, kembalilah dulu dan makan sarapanmu."
"Shireo.. Aku tidak dalam mood yang baik untuk sarapan di meja yang sama dengan kalian."
Yunho menghela nafas menghadapi gadis kekanak-kanakan ini. Namja tampan itu berinisiatif untuk mengusap kepala Miyoung.
"Apa yang membuat mood-mu kacau, heum?"
Mendengar pertanyaan Yunho, Miyoung hanya bisa menatap sesinis mungkin, meski bagi Yunho itu gagal. Tatapan sinis Miyoung hanya terlihat seperti tatapan bocah 4 SD yang merajuk pada ayahnya.
"Kau tidur dengan Jaekyung? Kau menidurinya semalam?"
Yunho terdiam, kata-kata itu sedikit banyak membuatnya kelu. Tapi kemudian lagi-lagi ia tersenyum ringan.
"Kurasa itu bukan hal yang harus kita bicarakan.."
Miyoung kembali membuang muka dan berharap Yunho berhenti bicara.
"Aku mencintai Jaekyung, Jaekyung juga mencintaiku.. Maaf, Miyoung-ah.. Aku harus bilang ini secara tegas padamu." Yunho berusaha mengalihkan perhatian Miyoung.
"Aku mungkin tidak akan bisa membalasmu, aku mencintai Jaekyung... Dan aku tidak pernah berpikir bisa melepaskannya, bagiku dia satu-satunya untukku.. Aku sudah memutuskan itu.."
Rasa sesak perlahan menggerogoti hati Miyoung, jadi kali ini ia benar-benar tidak diberi kesempatan lagi? Itukah arah kalimat Yunho?
"Kau jahat..." Hanya itu kalimat yang keluar saat gadis boneka itu tak mampu menahan isaknya.
Yunho sedikit merasa bersalah, kemudian kembali mengusap kepala Miyoung. "Jangan menangis karenaku.. Kau pantas mendapatkan yang lebih baik dariku, Miyoung-ah.."
"Cih.. Klise.." Miyoung masih mempertahankan ego-nya meski tangannya terus menyeka airmata yang makin deras.
.
.
.
Jaejoong baru saja menyelesaikan makanannya dan khawatir karena Yunho belum juga kembali. Ia hanya berdiri di depan pintu, menunggu Yunho-nya. Meski ada sedikit rasa cemas, tapi ia percaya pada Yunho bahwa tak akan terjadi apa-apa antara dirinya dan Miyoung.
Lagipula, memang hanya Yunho yang bisa membujuk Miyoung kan?
"Hhah~" Jaejoong menghela nafasnya.
"Menghela nafas satu kali bisa membuat tinggi-mu menyusut 1 cm loh.."
Jaejoong menoleh & mendapati Changmin tak jauh darinya. "Aishh.. Mana mungkin.." Protes gadis cantik itu, membuat Changmin tersenyum.
"Kau khawatir pada Yunho?"
"Miyoung juga..." Jawab Jaejoong sambil kembali menatap pintu.
"Kau ini terlalu baik pada Miyoung, kau bahkan terlihat seperti akan menyerahkan kekasihmu padanya."
"Enak saja! Yang itu tidak mungkin kulakukan!"
"Benarkah? Lagipula kau banyak celah, Seperti yang Yunho bilang.. Seandainya aku tidak pasif seperti sebelum-sebelumnya, mungkin saja aku sudah memanfaatkan celah itu untuk memilikimu.."
Jaejoong menatap sengit pada namja 186 cm itu, kenapa kata-katanya selalu berhasil membuat emosinya meledak-ledak sih?
"Sebenarnya apa yang sedang ingin kau katakan?"
Changmin menarik senyum, "Tidak ada.. Hanya mencoba menawarimu sebuah hubungan yang tidak akan membuatmu menyesal.."
Jaejoong mendecih pelan, "Denganmu? Kalau begitu kau tahu jawabanku." ketusnya.
Changmin tersenyum simpul, "Galak sekali, apa benar-benar tidak ada kesempatan untukku?"
Jaejoong menoleh, menatap namja raven itu dan menggeleng pelan. "Aku tidak pernah mempunyai perasaan apapun padamu lebih dari teman, dan perasaan bukan hal yang bisa dipaksakan.. Jadi aku menolak.. Aku hanya menyukai Yunho dan tidak akan pernah pergi darinya, meski aku tahu hubungan kami ini sulit tapi hanya dengan tahu bahwa yang ada disisiku itu Yunho, aku merasa semua akan baik-baik saja.. Maaf Changmin-ah.. Aku tidak akan pernah bisa menerimamu.."
Changmin tertegun, ia tak menyangka akan mendapat jawaban itu dari Jaejoong. Ia pun tersenyum getir kali ini.
"Jadi kali ini kau benar-benar menolakku? Haha.. Sulit dipercaya, padahal ini pertama kalinya aku serius pada seorang gadis."
"Maafkan aku.."
Changmin hanya menunduk, ia tak bisa menahan rasa sakit di dadanya. Ia ditolak.
"Baiklah, aku terima itu.." setelah menghirup nafas dalam-dalam ia kembali menatap Jaejoong. "Kuharap Yunho bisa membahagiakanmu karena kalau tidak, aku bisa saja mengambilmu kapanpun."
Jaejoong kali ini tersenyum.
"Dan..."
Chu~
Jaejoong mengerjapkan matanya polos karena kaget saat pipinya dicium oleh Changmin.
"Yah!"
"Itu terakhir kalinya, kuanggap itu reward karena sudah ikut membantu suksesnya kalian 'tadi malam'..." Changmin pergi sambil melambaikan tangannya.
Jaejoong sendiri masih gusar dan mengusap-usap pipinya.
"Apa sih maksudnya?"
.
.
.
.
Sore itu mereka pulang dengan ceria, termasuk Miyoung yang entah kenapa akhirnya bersikap seolah sudah menyerah tentang Yunho, sangat kontras dengan hari saat mereka berangkat ke penginapan dan juga saat sarapan tadi pagi.
"Baiklah sampai bertemu besok di kafe ya.." Yoochun yang baru saja mengantar si kembar Shim pun melambai.
"Hei Jaekyung.. Eh—?"
Yoochun menoleh ke jok belakang saat Junsu tidak jadi melanjutkan kata-katanya.
"Mereka tidur?" yang mereka lihat adalah Jaejoong dan Yunho yang tidur lelap, Kepala Jaejoong bersandar di bahu Yunho dan Yunho menyandarkan kepalanya diatas kepala Jaejoong.
Yoochun dan Junsu hanya tersenyum.
"Biarkan dulu saja, sepertinya mereka sudah melewati hari yang melelahkan"
.
.
.
.
Dan setelah itu, kehidupan kembali normal.
Seharu kemudian mereka kembali masuk sekolah dan kembali aktif di klub basket.
Di koridor menuju gedung olahraga, terlihat Junsu dan Jaejoong yang sedang bercanda seperti biasa.
"Ini kamp untuk dua hari kan? Kau jadi punya banyak waktu untuk berduaan dengan Yunho, Joongie~"
"Mwo? Itu tidak bisa, justru akan lebih banyak yang mencurigai di klub."
"Iya juga sih.. Tapi aku tetap akan membantumu dan Yunho.." gadis lumba-lumba itu menepuk bahu Jaejoong dan Jaejoong membalasnya dengan senyuman tulus.
.
.
.
Ketika mereka memasuki gedung olahraga, banyak yang sudah berkumpul termasuk..
Yunho dan teman-temannya, mereka sedang latihan namun perhatian Yunho teralih saat Jaejoong dan Junsu masuk.
Saat sepasang kekasih itu bertemu tatap yang terjadi berikutnya adalah wajah mereka merona kompak.
Bayangan sehari yang lalu masih teringat jelas di otak keduanya, bagaimana mereka akhirnya berhasil berbagi malam yang panas bersama.
Mereka masih sama-sama malu rupanya.
"Oh? Kalian tidak bertengkar seperti biasa?" Heechul yang melihat itu jadi merasa aneh.
"M-MWO? Aku tidak suka membuang-buang waktuku hanya untuk meladeni dia." Jaejoong buru-buru menaikkan nada suaranya.
"Itu harusnya ucapanku kan?" sergah Yunho.
"Sudah.. Sudah.. Kalian ini selalu ribut, ayo semuanya kumpul.." Tiba-tiba saja sang pelatih sudah masuk bersama seorang laki-laki asing.
Jaejoong menatap laki-laki itu dengan penuh rasa penasaran.
Tak lama, semua anggota klub basket baik putra maupun putri sudah berkumpul rapi.
"Seperti yang kalian tahu, kita akan mengadakan kamp latihan bersama selama 2 hari, kalian akan menginap disini selama 2 hari untuk fokus pada pelatihan intensif ini, dan supaya latihan ini tidak sia-sia aku sudah menyiapkan orang yang akan membantuku melatih kalian." Laki-laki disamping pelatih Hong segera membungkuk ramah.
"Dia Kim Hyunjoong, alumni Hanyoung 4 tahun yang lalu dan dia juga kapten tim basket hanyoung saat turnamen antar sekolah.."
Semua berdecak kagum tak terkecuali Kim Jaejoong.
"Jadi semua siap untuk pelatihan kalian?"
"SIAP!"
.
.
Jaejoong menepi tak tahan dengan keringat yang tak kunjung berhenti mengalir dari pelipisnya.
"Ini.." Seseorang mengulurkan tangan, memberinya handuk. Jaejoong segera mengambil handuk itu dari tangan Shim Changmin.
"Ah, terimakasih.." Jaejoong mengelap keringatnya dengan canggung, rasanya begitu canggung ketika harus bertemu dengan laki-laki itu setelah penolakan kemarin.
"Kau terlihat tidak bersemangat.. Itu bukan karena penolakan kemarin kan?" Jaejoong tertegun, apa mood-nya mudah dibaca?
"Jangan-jangan karena kekasihmu itu? Kita masih teman kan? Tak mau cerita padaku?" Changmin seperti biasa hanya memberi senyumannya.
"N-ne... Kita teman kok."
"Jadi apa yang membuatmu tidak bersemangat? Apa kau murung karena memikirkan bahwa kalian sudah bercinta atau semacamnya?"
Jaejoong segera berjengit kaget, Changmin menebak dengan tepat.
"Si-siapa?! Bukan... Bu-kan itu kok." elaknya yang justru terlihat mencurigakan, membuat Changmin tertawa.
"Kau mudah sekali terbaca, Kim Jaejoong."
"Kau mempermainkanku! Sudahlah! Aku mau latihan lagi.." Jaejoong yang sebal segera melempar handuknya dan kembali ke tengah lapangan.
Bermain 1 on 1 bersama Junsu, tanpa sadar diperhatikan oleh seseorang di tepi lapangan. Begitu ia mencetak skor, orang itu memberi tepuk tangan.
"Gerakan yang bagus, cukup bagus untuk bergabung dengan tim laki-laki.." Pelatih Kim datang menghampiri Jaejoong yang tersanjung dengan pujian itu.
"Wah, kau pintar menilai.. Aku memang sangat hebat loh.." Jaejoong terlena dengan pujian itu.
"Iya, Jaejoongie memang sering berlatih dengan tim laki-laki."
"Oh, namamu Jaejoongie? Aku Kim Hyunjoong, kau boleh memanggil namaku saja... Aku suka melihatmu berlatih, instingmu bagus sekali."
Mood up!
Jaejoong benar-benar lupa diri setelah dihujani pujian seperti itu.
"Ehehe~ Kau pintar menilai orang, terimakasih pelatih Kim!"
Mereka bersalaman dan Hyunjoong menepuk pelan kepala Jaejoong.
"Ho.. Asiknya kalian sudah akrab? Apa aku juga boleh berkenalan?" Yunho tiba-tiba saja sudah berada disana, menguarkan aura penuh intimidasi yang hanya bisa dirasakan oleh Jaejoong.
Karena takut, gadis itu mundur dua langkah dari hadapan Hyunjoong.
"Aku Jung Yunho, mohon bimbingannya Hyunjoong hyung." Yunho menyapa dengan tatapan tak ramah tapi sepertinya pelatih muda ini tidak begitu peka.
"Ahaha.. Panggil nama saja, aku jadi malu kalau kalian memanggilku hyung. Ohya aku juga memperhatikanmu sejak tadi, kau sangat bagus.. Posisimu apa?"
Jaejoong hanya terdiam memperhatikan keduanya.
"Shooting guard dan Small forward.."
"Oh.. Tidak kusangka kau ada di posisi pengontrol permainan, baiklah kalian berdua mendapat perhatian penuh dariku.." Jawab sang pelatih.
Yunho hanya tersenyum misterius, "Mohon bantuannya, pelatih.."
.
.
.
"Jalmokgaesseumnida~ (Selamat Makan~)"
Makan malam lezat sudah terhidang di depan mereka, mereka kini berkumpul di kantin dan yang memasak semuanya adalah duo Shim selaku manajer disana.
Hari sudah gelap dan hanya ada mereka di sekolah untuk melaksanakan kamp pelatihan ini, tentu saja rasanya seperti gedung besar itu milik mereka sendiri.
"Enakkk~!" pekik Jaejoong dan Hyunjoong bersamaan.
"Wah selera kita sama, Jaejoongie?" Jaejoong mengangguk senang, mood-nya benar-benar naik hanya karena pelatih baru itu.
Trakk~
Tak jauh dari sana Yunho memandang dengan tatapan tidak suka, membuat mereka menoleh karena Ia baru saja mematahkan sepasang sumpit.
Jaejoong yang melihat itu segera tertunduk takut, ia kelepasan.
Hyunjoong sendiri tidak buta untuk menyaksikan interaksi aneh tanpa suara dari Yunho dan Jaejoong.
"Kau dan Yunho ada apa-apa, Jaejoongie?"
"E-EH?! Ma-mana mungkin.. Dia itu.. Ng.. Sainganku.." Wajah Jaejoong merona samar.
"Oh, Jincha?"
Jaejoong mengangguk sambil memasukkan sepotong bibimbap kedalam mulutnya.
"Asik ya.. Aku sering dengar yang begitu, bilang saingan tapi tiba-tiba berkembang menjadi cinta." Ujar pelatih itu dengan polos.
Brushhh!
"UHUK!"
Jaejoong menyemburkan makanannya sementara Yunho tersedak. Mereka yang berada di meja makan itu bingung menatap over-reaction dari kedua orang yang dicap sebagai saingan itu.
'Jangan-jangan dia sadar?'
"Ahaha.. Tidak mungkin.. Yunho sudah punya kekasih yang cantik.." sahut Siwon.
"Ohya?" Hyunjoong menatap penuh minat pada Siwon yang mengeluarkan ponselnya, ia tahu Siwon akan menunjukkan foto gadis yang dimaksud padanya.
"Ini.."
Hyunjoong mengambil ponsel Siwon dan melihat foto seorang gadis berambut hitam lurus-panjang dengan seragam maid yang manis, gadis itu sedang menyingsingkan rambut ke telinga kanan sambil tersenyum di depan seorang yang ia asumsikan sebagai pelanggan.
"Kenapa kau sembarangan mengambil fotonya?" gerutu Yunho.
"Dia bekerja di kafe?" Padahal ada Yunho yang jelas-jelas pemilik gadis di foto itu, tapi Hyunjoong justru menanyakannya pada Siwon.
"Ne.. Dia cantik kan? Beruntung sekali Yunho mendapatkannya." Siwon menggerutu iri.
"Kau bicara hal yang tidak perlu lagi..." Yunho kembali melanjutkan makannya sambil melirik Jaejoong dari ujung mata, gadisnya itu terlihat tegang.
Melewati Junsu, dari bawah meja tangan Yunho mennyentuh tangan Jaejoong.
Jaejoong tersentak dari lamunannya, ia sempat takut.. Takut pelatih baru itu mengetahui tentangnya.
"Enaknya Yunho punya pacar yang lebih tua, aku jadi iri." goda Hyunjoong.
"Mwoya? Jangan bicara aneh, hyung."
Hyunjoong terkekeh, "Tapi sepertinya aku sudah menemukan gadis yang akan menjadi takdirku.."
Yang lain menatap kaget pada pelatih muda itu.
"Serius hyung?!"
"Siapa? Apa ada disini?"
Mereka antusias menanti jawaban namja itu, tapi Hyunjoong hanya tersenyum, "Tidak seru kalau kuberitahu sekarang."
Dan yang lain bersorak kecewa.
Yunho tidak tenang kini, 'Jangan-jangan dia mengincar Jaejoong..'
.
.
.
Jaejoong sudah bersiap menjemput tidurnya saat ponsel touchscreen-nya bergetar menandakan sebuah pesan yang masuk.
From : Yunnie Bear
Bisa keluar sebentar? Aku ada di samping ruang ganti.
Jaejoong segera bangun dan memakai jaketnya, berlari keluar secepat yang ia bisa.
.
.
.
Yunho mengutak-atik ponsel, tak kunjung ada balasan dari kekasihnya. Ia sedikit was-was Jaejoong-nya sudah tidur.
"Yun!" Yunho menoleh saat mendengar desisan itu, dan ia bisa lihat Jaejoong berlari ke arahnya.
Yunho segera menghampiri Jaejoong dan memeluk tubuh kecil gadis itu, membuat Jaejoong sedikit tersentak kaget. Tapi kemudian ia membawa tangannya untuk membalas pelukan itu.
"Y-Yun?"
"Hhah~ 24 jam bersama tapi tidak bisa menyentuhmu rasanya tidak enak.." Keluh namja tampan itu. Jaejoong tersenyum dalam pelukannya.
"Iya.." Sesaat gadis itu memejamkan mata, meresapi hangat pelukan Yunho.
"Kau kedinginan?" Yunho melonggarkan pelukannya untuk melihat wajah Jaejoong. Gadis bermata indah itu menggeleng.
"Kau sendiri? Kau pasti sudah lama disini kan? Kau tidak kedinginan?" Tanya Jaejoong sambil mengerjap polos.
Yunho tersenyum, "Tentu saja dingin, karena itu aku memanggilmu.." Namja tampan itu kembali mendekap erat kekasihnya.
Jantung Jaejoong berdegup kencang, ia tak tahu bagaimana bisa ia belum terbiasa juga dengan skinship seperti ini. Yunho tak pernah gagal membuatnya berdebar-debar, dan ia menyukai itu.
"Y-yunho.. Aku ingin..."
"Hm? Apa?"
Pipi Jaejoong merona dengan cepat.
"Ng... Ki-kisseu.."
Yunho menatap tak percaya pada gadisnya itu. Apa dia tidak salah dengar? Jaejoong memintanya?
"Coba katakan dengan jelas?"
"Aishh.. Shirreo!" Jaejoong membuang muka, mempertahankan egonya.
"Kalau begitu aku juga tidak mau.."
Jaejoong sudah terlanjur malu sebenarnya, tapi ia sangat ingin Yunho menyentuhnya saat ini. Ah, harga diri urusan nanti-nanti.
"Yu-Yunho.. Cium aku.. Ku—"
Dan belum sempat Jaejoong menyelesaikan kalimatnya, bibirnya sudah terlebih dahulu diraup Yunho. Ia tak tahan mendengar permintaan itu dan tatapan menggoda dari Jaejoong.
Jaejoong tiba-tiba saja sudah di bawah kendali Yunho, kekasihnya itu memberinya sebuah ciuman manis yang begitu memabukkan.
.
.
.
Junsu berlari panik ketika melihat Hyunjoong memeriksa kamar satu persatu.
Ia segera mengetik pesan untuk Jaejoong.
"Aigoo~ Kenapa dia berkeliling kamar sih..." gerutu Junsu cemas.
.
.
.
Drrtt~~
"Uhmh~" Jaejoong mendorong pundak Yunho hingga kekasihnya itu melepaskan Jaejoong sesaat.
"Ada apa?"
"Junsu.."
Jaejoong membaca pesan itu dan terkejut bukan main. "Hyunjoong! Dia sedang mengecek kamar!" Paniknya sambil melepas diri sepenuhnya dari Yunho.
Yunho melotot, astaga apa maksudnya ada pengacau baru setelah Changmin?
"Cepat kembali ke kamarmu.." Jaejoong berjinjit dan mengecup pelan bibir seksi Yunho, "Aku duluan!" dan gadis itu segera melesat pergi.
Yunho tersenyum simpul sambil menyentuh bibirnya.
.
.
.
"Toilet?"
"Ne! Ta-tadi perutku sedikit tidak beres!" elak Jaejoong ketika sampai di depan ruangan tempat tim putri menginap dan bertemu dengan Hyunjoong.
"Berani sekali kau pergi ke toilet sendirian.." Jaejoong hanya meringis.
Yunho baru saja kembali, sengaja mengambil jarak waktu yang aman agar tidak ada yang mencurigai mereka.
"Lain kali, kalau kau minta pasti kutemani.." goda Hyunjoong.
Jaejoong jengkel dengan tingkah pelatih baru ini. "Lebih baik aku bertemu hantu dan dibunuh daripada memintamu menemaniku ke toilet.. Cih.."
"Galak sekali.." Hyunjoong hanya terkekeh, Jaejoong menarik baginya.
"Sudah! Aku mau tidur!" Jaejoong beranjak tanpa mempedulikan namja gila itu.
"Jaejoongie.. Apa kau punya pacar?"
Langkah Jaejoong terhenti, begitu pula Yunho yang ada di belakang Hyunjoong.
Jaejoong menoleh, "A-apa urusanmu?"
Lagi-lagi pelatih baru itu tertawa menyebalkan. Jaejoong kesal, kenapa ia dikelilingi orang-orang menyebalkan seperti ini.
"Hanya bertanya.. Memastikan apakah aku punya saingan atau tidak.. Karena sepertinya aku tertarik padamu."
Jaejoong menatap tak percaya pada laki-laki di hadapannya, bagaimana bisa?
"Aku yakin bisa membuatmu menyukaiku, jadi pikirkan saja pelan-pelan... Oke, aku juga harus kembali ke kamar.. Jalja!" Namja itu segera berbalik dan mendapati Yunho disana.
"Oh kau disini? Sejak kapan?"
"Baru saja.." Jawab Yunho dingin.
"Oke, Jaljayo Yunho!" dan akhirnya dia benar-benar pergi menuju kamarnya sendiri.
Yunho menatap kekasihnya yang masih menatap kepergian Hyunjoong. "Berhati-hatilah.. Sudah kuduga dia mengincarmu, Boo.."
Jaejoong mengalihkan tatapan pada Yunho lalu mengangguk.
"Te-tentu saja.."
.
.
.
.
"Kalau begitu gerakanmu akan mudah dibaca! Lompat lebih tinggi, tingkatkan defense-mu!"
"BERISIK! DIAM!"
Hyunjoong menoleh saat mendengat ucapan itu.
"Mulut siapa itu yang berani menyuruh pelatih untuk diam?"
"Mulutku! Kenapa?" Jaejoong berubah melawan. Ia harus benar-benar membuat perhatanan diri supaya Yunho tak lagi khawatir ataupun cemburu.
"Geez~ Pantas saja kau selalu kalah oleh Yunho, celahmu di sifat emosionalmu itu."
"SIAPA BILANG AKU KALAH?! AKU BISA MENGALAHKAN YUNHO!"
"Ohya? Kalau begitu coba rebut bola ini dariku."
Dan Jaejoong tak tahu bahwa Hyunjoong sedang berusaha membuatnya terpesona. Jaejoong memang tidak peka.
Permainan 1 on 1 antara Jaejoong dan Hyunjoong-pun terjadi. Yunho yang sejujurnya kesal hanya mampu menatap sinis dari sisi lapangan, memperhatikan keduanya.
"Sepertinya pelatih Kim keras kepala, dia lebih menyusahkan dibandingku kan?" Changmin tiba-tiba saja sudah berada di samping Yunho.
Yunho tak menjawab, pasti dalam hati Changmin menertawakannya.
"Jangan sampai direbut oleh orang semacam itu, mengerti?»
Yunho menyeringai, "Tanpa diberitahu-pun aku tahu apa yang harus kulakukan."
.
.
.
"Baiklah sampai jumpa semuanya..."
Dan Maybach Laundaulet berwarna perak itupun pergi begitu saja meninggalkan anak-anak klub basket yang selesai berterima kasih karena Kamp pelatihan 2 hari ini.
Sementara Jaejoong merasa bodoh, ia hanya menatap bodoh kepergian Hyunjoong.
'Sial! Dia memperlakukanku seperti mainan!'
Jaejoong kesal bukan main saat merasa dirinya sudah berlebihan mengkhawatirkan Hyunjoong.
Ya sudahlah, lagipula dia sudah pergi.
.
.
.
"Selamat datang~" Jaejoong sebagai Jaekyung menyapa pengunjung yang datang, hari ini Cassiopeia sangat ramai, dan Jaejoong sedang dalam mood terbaiknya. Meski agak kerepotan bersama Junsu dan Miyoung tapi Jaejoong senang kembali bekerja.
Jaejoong mendatangi meja nomor 3 saat mengetahui Yunho ada disana.
"Kau datang?" gadis cantik itu tersenyum manis saat mengetahui kekasihnya datang.
Yunho pun ikut membalas senyuman Jaejoong, "Padahal sesibuk ini, tapi kau terlihat begitu senang.."
"Ehehe.. Terlihat jelas? Aku hanya merindukan kafe ini setelah 4 hari sibuk kita kemarin."
Yunho kembali tersenyum, senang melihat Jaejoong dengan mood bagus seperti saat ini, tangannya ia gerakkan untuk menyentuh tangan Jaejoong. Menggenggamnya erat.
"Malam ini menginap dirumahku ya?"
"E-EH?" Jaejoong sontak terkejut, kenapa Yunho tiba-tiba mengajaknya?
"Kita belum punya waktu untuk berduaan lagi setelah sibuk kemarin, aku merindukanmu.." Mata musang itu menatap intens pada sepasang mata doe Jaejoong. Jaejoong merona dibuatnya.
"Kau mau?" Tanya Yunho saat Jaejoong hanya tertunduk malu-malu.
"Ne.. Tentu saja aku mau.." Gadis itu menjawab lirih namun terdengar jelas oleh Yunho. Yunho tertawa kecil.
"Kau manis sekali, Boo.. Baiklah, hari ini aku yang akan membawamu pulang, oke?"
Jaejoong mengangkat wajahnya malu-malu menatap Yunho lalu mengangguk. "Uhum.."
"AKH!" Yunho dan Jaejoong menoleh saat mendengar pekikan Junsu.
Jaejoong semula menggerutu penasaran kenapa Junsu sampai berteriak seperti itu tapi kemudian sepsang kekasih itu melotot kaget ketika menemukan sosok yang paling tidak ingin mereka temui kini berdiri di pintu masuk kafe itu.
"Yo! Aku kesini untuk melihat kekasih Yunho!"
Itu Kim Hyunjoong!
.
.
.
.
.
.
To Be Continued
Chapter 14! Gomawo buat semua yang masih setia nunggu & baca ff abal-abal ini!
Secretive J udah sampe di akhir nih, sekitar 2-3 Chapter lagi fanfic ini selese.
Tapi kemarin tiba-tiba dapet ide buat bikin fic lain yang bakal aku kasih judul "Secretive U (You)" yang temanya tetep tentang penyamaran & rahasia tapi kali ini Yunho yang jadi 'pelaku'nya. Kira-kira bakal ada yang minat?
Oke, mian buat chapter ini yang kurang memuaskan, lama & masih banyak kesalahan. Chapter berikutnya juga mungkin bakal lama karena saya harus UAS jadi mohon sabar dulu ya~
See ya in the next chap! ^^
.。.:*・° .。.:*・° .。.:*・° .。.:*・°
Special thanks to :
Hanyoung Kim | Himawari23 | leeChunnie | Pumpkins yellow | babychokyu | Dipa Woon | tasya vianita | jaejae | KimYunhoJungJonghyun | Park July | aiska jung | meyy-chaan | azahra88 | nidayjshero | zoldyk | Ai Rin Lee | snow drop 1272 | shanzec | iche cassiopeiajaejoong | nayla | Maxmin | YJS | my Yunjaechun | zyln | everadit | Versya | YunjaeDDiction | Rly C Jaekyu | sachan | Ristinok137 | Lilin sarang kyumin | Lady Ze | Keybin | Angel Park | hana | Lollyglory | akiramia44 | FNPcassieyj | jongindo and for all Guests, Followers, and who was favorites this fic, also all Silent Readers.. Thanks ^^
