-Secretive J-

a YunJae fanfiction ©Cherry YunJae

.

Pairing : YunJae of course

Genre : Romance-School's Life

Rate : T-M

Warning! : Genderswitch! Out of Character! Typos everywhere! Implicit Sex-scene! NC 17!

.

Adapted and remake from Kaori Sensei's manga, Himitsu no Ai chan ©2010 and now starring with YunJae

If you don't like my fanfic, just get off~ simple, rite ? ^^

.

.

.

.

.

"Yo! Aku kesini untuk melihat pacar Yunho!"

Yunho dan Jaejoong hanya bisa melotot horror saat melihat sosok Hyunjoong yang baru saja memasuki kafe.

Jaejoong refleks berbalik dan menghindar dari penglihatan namja itu meski ia tahu saat ini ia adalah Kim Jaekyung, bukan tidak mungkin jika pelatih 2 harinya itu sadar kalau ia adalah Kim Jaejoong.

"Yunho-yah!" Hyunjoong melambaikan tangan pada Yunho dan segera menghampiri meja dimana mereka berada.

"Oh... Dia kekasihmu?" Namja itu menunjuk gadis yang kini berdiri tak jauh darinya.

'Sial! Tidak bisa kabur, semoga saja tidak ketahuan..' dan nekat, Jaejoong pun menoleh.

"Selamat datang di Cassiopeia~" dengang akting full-power, Jaejoong memberi senyum terbaiknya dan gaya semanis mungkin.

"Oh, halo.. Aku Hyujoong, pelatih Yunho selama kamp kemarin.." Hyunjoong terlihat mengusap belakang kepalanya, salah tingkah.

"Ah, aku sudah dengar dari Yunho.. Perkenalkan, aku Kim Jaekyung."

"Ohya? Apa Yunho bilang aku pelatih hebat? Ahahaha~"

"Bukan, dia bilang kau unik ^^"

Ekspresi Hyunjoong pun berubah kecewa dan segera melirik Yunho.

"Namamu bagus, dan ternyata dilihat secara langsung memang sangat cantik ya.. Tinggimu juga membuat orang lain spontan ingin memeluk... Yunho benar-benar beruntung.."

Yunho yang mendengar itu hanya mencibir, "Apa maksudmu?"

"Habisnya, dilihat dari manapun Jaekyung sangat cantik dan manis.. Aku jadi iri.. Tapi..." Mendekati wajah Jaekyung, Hyunjoong terlihat begitu serius memperhatikan wajah gadis yang baru saja ia puji itu.

Jaejoong gugup bukan main, berharap ada cara mengecoh namja di hadapannya ini. Tapi apa? Ia sungguh takut kini.

"Kau terlihat agak mirip dengan gadis yang kusukai, ah... Bukan! Ini terlalu mirip!" Hyunjoong mengemukakan analisisnya setelah mengamati Jaekyung lamat-lamat.

Glek!

Sepasang kekasih itu mendadak membeku, apakah Setelah ini Hyunjoong akan berteriak heboh kalau Jaekyung itu memang Jaejoong?

"Ah.. Masa? Mungkin hanya mi-mirip.." jawab Jaejoong membuang muka.

"Oh iya! Katanya di dunia ini ada 3 orang yang mirip dengan kita.. Pasti itu ya? Ahahaha"

Oke, pelatih ini mungkin pelatih ini sangat hebat dalam basket tapi ternyata tingkat kepekaannya NOL! Yunho dan Jaejoong bisa menghela nafas lega berkat kebodohan Hyunjoong.

"Jaekyungie, pesanan berikutnya~" Junsu melambai sambil mengisyaratkan ke meja yang perlu dilayani.

"Oh, ne~ Aku permisi dulu.." setelah tersenyum manis pada keduanya, Jaejoong segera pergi. Hyunjoong sendiri justru duduk di kursi yang berada tepat di hadapan Yunho. Memandangi sekeliling kafe dengan kagum. "Mau apa lagi disini? Kalau tidak ada urusan lebih baik kau pulang, hyung.." sindir Yunho.

"Tentu saja belum selesai, aku butuh bantuanmu, Yunho-yah.. Ah! Bagaimana kalau kita Double-date?"

Yunho nyaris kehabisan kesabarannya menghadapi pelatih serampangan ini.

"Ide norak apa itu? Memangnya kau punya pacar?"

"Tentu saja kan, aku dengan Jaejoong lalu kau dengan pacarmu.. Ah aku mau menelpon Jaejoong sekarang!"

Yunho panik ketika Hyunjoong sudah mengutak-atik ponselnya sendiri.

'Gawat! Darimana dia dapat nomor Jaejoong?! Kalau sampai bunyi bisa ketahuan!' ia melihat Jaejoong yang tidak jauh dari meja mereka, tidak tahu harus bagaimana menghalangi Hyunjoong.

Sementara Hyunjoong hanya diam sambil menunggu sambungan itu diterima oleh Jaejoong. Tapi ia harus mnyerah akhirnya karena Jaejoong sama sekali tidak memberi jawaban.

"Ah..Tidak diangkat.." Keluhnya kecewa setelah menjauhkan ponsel itu dari telinga.

'Huff~ Syukurlah sepertinya Jaejoong meninggalkan ponselnya di dalam... Aku harus menyuruhnya cepat pulang, pasti Hyunjoong berniat memaksa... Sial..' Yunho bermonolog sembari meminum segelas latte-nya.

"Dengar ya.. Aku dan Jaekyung tidak akan ikut dan tidak akan pernah setuju dengan ide semacam itu." Yunho menyuarakannya penug dengan tekanan agar orang itu mengerti.

"Aigoo~ Kau pelit sekali, Yunho-yah~ Lagipula, jangan mengeluarkan aura hewan buas seperti itu dong.." Keluh Hyunjoong.

.

.

.

.

Tak lama, Jam kerja Caasiopeia berakhir, Jaejoong segera menuju loker-nya untuk berganti baju. Namun ponselnya lebih menarik perhatiannya.

'Eh? Nomor baru? Siapa?' bingungnya melihat sebuah nomor baru yang 2 kali menghubunginya belum lama.

"Pelatih Kim sudah kau tolak dengan benar, Joongie?" Jaejoong tersentak kaget karena tiba-tiba Junsu sudah ada didekatnya.

"A-ah~ Tidak... Lagipula dia hanya penasaran padaku, kalau tidak bertemu pasti lama-lama dia akan lupa juga.." elaknya.

Junsu memasang ekspresi tidak suka, "Jangan berpikir seperti itu! Kau harus sadar, Joongie.. Kau perempuan dan ada laki-laki yang menyukaimu sementara kau punya kekasih."

Jaejoong terdiam mendengar nasihat Junsu-nya, sepertinya hari ini lumba-lumba itu agak emosional.

"Kau tidak boleh menolaknya dengan cara seperti kau menolak Shim Changmin, Karena Changmin baik makanya dia mau tetap berteman denganmu tapi itu tidak merubah kenyataan kalau kau tetap sudah menyakitinya." tanpa Jaejoong sadari, mata Junsu justru berkaca-kaca.

Ah ya.. Itu benar..

"Lagipula Yunho pasti khawatir kan? Kau harus meyakininya dan berhenti bersikap mudah dekat dengan laki-laki lain.. Tolak Pelatih Kim dengan tegas.. Lalu hiks—bersikaplah sebagai kekasih yang baik, kalau tidak memahami bahwa kalian Hiks—saling menyukai, pasti akan jadi masalah besar.. Huweee..." Dan tiba-tiba saja Junsu sudah menangis sejadi-jadinya.

"Ju-Junchan? Kenapa?" Jaejoong segera memeluk sahabatnya itu.

"Huwaa... Joongie~ Hiks— Aku bertengkar dengan Yoochun oppa..."

Ah, jadi nasehatnya tadi itu sekaligus luapan kekesalannya? Junsu ternyata memang imut sekali. Jaejoong yang berpikir begitu pun mengusap punggung Junsu, berharap lumba-lumbanya itu berhenti menangis.

"Hei, Uljima Junchaan~"

.

.

.

Jaejoong berhasil meyakinkan Junsu untuk segera membicarakannya dengan Yoochun, dan ia pun pamit pulang karena malam ini akan menginap dirumah Yunho. Tak lupa meminta bantuan Yoochun untuk membuatlan alibi.

Baru saja ia keluar dari ruang ganti, Yunho segera menarik tangannya terburu-buru berjalan menuju pintu belakang.

"Ke-kenapa Yun?"

"Hyunjoong bilang dia mau Jaejoong kencan dengannya bersama aku dan kau.." Dengan tergesa Yunho tetap memegang erat tangan Jaejoong, keluar dari kafe secepat yang mereka bisa.

"APA? Itu kan tidak mungkin.."

"Tentu saja! Sudah kusuruh pulang tapi dia tidak mau, tadi dia bilang mau memutar mobilnya jadi sebelum dia datang—"

"Sudah kuduga, kalian mau kabur dariku?" Jaejoong dan Yunho terkejut saat melihat Hyunjoong yang sudah ada didepan mereka.

"Sial... Menyingkirlah, kami ada urusan!" Yunho mencoba mengelak dari Hyunjoong, namun gagal. Hyunjoong justru menarik mereka untuk segera masuk ke mobil.

"Ayolah, Yunho... Bantu percintaan pelatihmu ini.." mohonnya.

Jaejoong mengeluarkan puppy-eyesnya, berbalik memohon pada Hyunjoong "Kumohon, aku ingin kencan dengan Yunho."

Namun ternyata pelatih muda itu sangat keras kepala, ia tetap memaksa sampai pasangan kekasih itu masuk ke mobil dan ia berhasil menutup pintu. "Aishh tatapanmu itu membuatku ingin menggigitmu kalau saja tidak ingat Yunho, lagipula kalian kan bisa kencan kapan saja.." dan segera, Hyujoong sudah berada di balik kemudinya, menjalankan mobil bersama 2 penumpang yang panik di belakang.

Yunho dan Jaejoong sendiri hanya sibuk mencari cara supaya bisa keluar dari mobil itu.

"Aku punya firasat kalau Jaejoong tidak akan mau kuajak jalan berdua, jadi aku minta bantuan kalian.."

"Tapi kami tetap tidak mau!" tegas Yunho.

"Ah, aku telpon Jaejoong sekarang saja.."

"KAU DENGAR AKU TIDAK SIH?" emosi Yunho meledak-ledak. Di sebelahnya, Jaejoong justru melotot ketika tahu bahwa nomor baru yang sejak tadi menghubunginya itu ternyata nomor milik Hyunjoong.

"Ti-tidak boleh menyetir sambil menelpon kan?!" tegur gadis itu dan segera ditanggapi oleh Hyunjoong, "Ah, benar juga." Ia menepikan Maybach Laundaulet-nya dan kembali mengutak-atik ponsel.

"ADUH PERUTKU SAKIT! AKU MAU KE TOILET!" Jaejoong berteriak sekeras mungkin untuk menyembunyikan suara ringtone ponselnya lalu segera melompat keluar dari mobil itu.

"Jaekyungie!" Yunho ikut menyusul kekasihnya.

"Yah! Kalian jangan kabur! Haishh~" Hyunjoong berteriak panik sambil menjauhkan ponselnya dari telinga.

["Yeobseyo?"]

Dan niat Hyunjoong untuk turun & mengejar Yunho serta Jaekyung pun harus ditahan karena ia lebih mementingkan sambungan telponnya kini.

"Yeobseyo? Jaejoongie?"

.

.

Tak jauh dari sana, Yunho baru saja berhasil mengejar Jaejoong yang ternyata sedang mengangkat panggilan dari Hyunjoong. Begitu Yunho sampai di hadapannya, ia memberi isyarat bahwa ia baik-baik saja. Yunho pun mengerti dan hanya berdiri diam, mendengarkan pembicaraan Jaejoong dengan Hyunjoong.

["Kau tahu siapa aku?"]

"EH?! Pelatih Kim ya? Kenapa bisa tahu nomor ponselku?" gadis itu berusaha berakting sebaik mungkin.

["Aku mendapatnya dari Siwon, ohya nafasmu kenapa Jaejoongie?"]

"Ah, aku baru selesai latihan basket.. Ada perlu apa menelpon? Kalau tidak penting, kututup ya?"

["Eii.. Tunggu.. Apa kau mau pergi makan bersamaku?"]

"... Apa itu ajakan kencan?"

Sesaat, tak ada suara dari ujung sambungan.

["Tidak.. Bersama Yunho dan kekasihnya kok.."]

"Geurae? Kalau begitu aku justru lebih tidak mau.." Jaejoong melirik Yunho sekilas, namja itu hanya memperhatikannya dengan tenang.

["Tapi mereka sudah pergi, jadi mungkin akhirnya kita akan tetap berdua.. Kau mau?"]

"Uhm.."

["Aku ingin tahu perasaanmu yang sebenarnya, alasan kenapa kau tidak mau 'melihatku'... Apakah itu karena kau menyukai Yunho?"]

Deg!

Tiba-tiba saja, untuk alasan yang ia tak mengerti jantungnya berdegup. Apa begitu kelihatan kalau ia menyukai Yunho? Kenapa laki-laki ini bisa membacanya?

Jaejoong hanya mampu terdiam beberapa saat, menutup mulutnya dengan tangan kiri, juga berusaha menutupi rona wajahnya. Yunho sendiri mengerutkan dahi melihat ekspresi Jaejoong. 'Ada apa sebenarnya?'

["Hhah~ Benar ya? Karena Yunho? Tapi dia kan sudah punya ke—"]

"Bukan.. Bukan Yunho."

["..."]

"Ha-hanya saja.. Memang ada orang yang kusukai, jadi maaf... Aku tidak bisa membalas perasaan itu.. Maaf.."

Klek.

Jaejoong tertunduk malu, tak sadar Yunho yang sudah mendekatinya lalu tiba-tiba menariknya ke dalam sebuah pelukan hangat.

Meski kaget, akhirnya gadis itu mencengkram bagian belakang jaket Yunho.

"Boleh kutahu, siapa yang kau sukai?" Namja bermata musang itu mengecup dahi Jaejoong penug kasih sayang, Ia merasa semakin tak bisa melepaskan Kim Jaejoong-nya.

"Selain Jung Yunho, mana mungkin ada.." Jawab Jaejoong sambil mempererat pelukannya.

.

.

.

Hyunjoong hanya terpaku sesaat setelah pembicaraan mereka berakhir.

Ia tersenyum kecut, "Ada yang disukai ya? Tidak ada harapan untukku? Yasudahlah.. " ia pun kembali masuk kedalam mobilnya.

.

.

.

Tiba-tiba saja Jaejoong merasa perjalanan pulang mereka begitu cepat.

Ia tak ingat bagaimana tiba-tiba mereka sudah ada di aparteman Yunho dan kini ia hanya terdiam menikmati cumbuan Yunho.

Mereka baru saja sampai, tapi Yunho langsung menyerangnya secepat ia menutup pintu.

Jaejoong tak bisa mengendalikan Yunho-nya yang kini dengan tidak sabar menciumi rahang dan lehernya, ia hanya bisa menahan nafas beberapa kali dan tersengal. Masih sama seperti malam itu, Yunho pintar membuatnya melayang.

"Mhh~" Ia kembali pasrah saat Yunho sudah menggendong dan membawanya menuju sofa ruang tamu.

Setelah Jaejoong terbaring dibawahnya, ia kembai mencium bibir kissable yang selalu menggodanya itu, ia terlampau senang hari ini hingga tak mampu mengendalikan dirinya lagi untuk menyentuh gadisnya.

"Ngh.. Yunhh~" Jaejoong meletakkan tangannya di bahu kekar Yunho ketika namja itu perlahan-lahan menyingkap blouse hitam yang ia pakai sambil terus menghujani kecupan si setiap inchi tubuhnya.

Yunho tak berbicara, ia hanya memandang Jaejoong dan beberapa kali menggeram pelan. Jaejoong bersyukur, karena setiap mendengar suara Yunho di tengah sesi percintaannya seperti sekarang, jantungnya berdegup kencang dan gairahnya akan semakin tersulut.

Yunho terus turun mengecupi paha Jaejoong yang kini sempurna polos, tanpa ragu hingga ke pergelangan kaki gadis itu. Jaejoong mencoba mengangkat tubuhnya bangun, namun seperti predator, Yunho segera menerkam Jaejoong-nya. Membawa gadis cantik itu kembali terbaring sambil memberi ciuman panas yang membuat perut Jaejoong tergelitik.

Panas menjalar dengan cepat di tubuh keduanya, Jaejoong sendiri tak ingin munafik. Ia merasa sangat membutuhkan Yunho saat ini.

Selama Yunho melakukan foreplay, gadis itu terus memegang erat tangan Yunho sambil mendesah lirih.

Yunho melepas ciumannya dan menatap intens pada Jaejoong. "Kau cantik.. Sangat cantik, Boo~" namja itu mengecup kedua kelopak mata Jaejoong, mata yang sangat ia sukai.

Jaejoong hanya tersenyum bahagia, ia senang memiliki Yunho yang berhasil merebut seluruh dirinya.

Ia sama sekali tak pernah menyangka akan mengatakan bahwa menjadi perempuan seutuhnya ternyata tak seburuk yang selama ini ia pikirkan.

Tangan gadis bermata indah itu terulur melingkari leher Yunho yang berada diatasnya, menekan tengkuk Yunho. Ia ingin Yunho terus menciumnya agar ia yakin, Yunholah satu-satunya untuknya dan begitu pula sebaliknya.

Yunho pun menyambut itu, memberi sebuah ciuman manis tanpa nafsu berlebih dan tanpa lidah, menyampaikan cintanya yang tak bisa diungkapkan lagi lewat kata-kata.

"Mnghh~" Airmata menetes pelan dari sudut mata indah Jaejoong.

Yunho mencoba memasuki tubuh Jaejoong secara perlahan, ini kedua kalinya bagi Jaejoong dan ia tak mau gadisnya itu tersakiti.

"Anghh~" Gadis dibawahnya menlenguh sambil meremas kuat bahunya.

Yunho khawatir ketika melihat airmata Jaejoong. "Apa masih sangat sakit?"

Jaejoong menggeleng dengan cepat, "Ani.. Aniya.. Lanjutkan saja.. Aku menangis karena bahagia.." Dia tersenyum cantik, membuat Yunho semakin jatuh kedalam pesonanya.

Tak menunggu lama, Yunho berhasil masuk seutuhnya dan menggerakkan tubuhnya diatas Jaejoong. Bersumpah akan memberikan kepuasan tertinggi pada kekasihnya ini.

Dan keduanya terus bergerak, mencapai puncak itu berkali-kali hingga pagi menjelang.

.

.

.

"Kau sudah baikan dengan Yoochun?" Tanya Jaejoong begitu sampai di tempat duduknya, Junsu menoleh dan mengangguk sambil tersenyum.

Jaejoong percaya.

Changmin datang dan segera duduk di samping Jaejoong, mengeluarkan beberapa buku dan menginatkan Jaejoong pada tugas yang belum ia kerjakan.

"Ah, Changmin-ah! Aku lupa mengerjakan tugas Matematika-ku..."

Changmin yang tentu saja lemah pada Jaejoong akhirnya memberikan tugasnya dan direspon gembira oleh Jaejoong.

"Sekali ini saja.. Jangan mengandalkanku lagi.."

"Arasseo! Ini hanya karena aku lupa!"

.

Hari-haripun berjalan begitu saja, Junsu dah Yoochun semakin akur, Changmin lebih fokus pada pelajaran dan tugasnya sebagai manager basket. Dan Miyoung mulai dekat dengan Donghae.

Sementara tokoh utama kita, Jaejoong dan Yunho tentu saja semakin mesra meski harus tetap sembunyi-sembunyi bahkan kadang harus bersembunyi di gudang peralatan olahraga yang tak jauh dari gedung olahraga.

Seperti saat ini, Yunho menarik Jaejoong ke dalam gudang dan meminta jatah ciumannya hari ini.

"Amhhh~" Tangan Jaejoong dengan sigap menahan tangan Yunho yang menyentuh dadanya, bukan tidak mau tapi ia tak ingin berakhir dengan bercinta di gudang ini.

Yunho memang tak pernah bisa sekedar menerima ciuman saja, karena itu pada akhirnya mereka selalu making out di sekolah.

Yunho masih sibuk dengan ciumannya sambil merengkuh erat pinggang Jaejoong, sudah hampir 3 menit ia begini dan Jaejoong semakin sulit bernafas.

Mereka terlalu sibuk dengan kegiatan intim mereka hingga tidan menyadari suara beberapa derap langkah yang mendekat dan..

Grekkk~

Pintu gudang pun sempurna terbuka.

.

.

.

.

.

To Be Continued

Chapter 15! NC sebelum puasaa... wkwkwk~

Makin deket ama ending, saya minta maaf buat semua kekurangan di fanfic ini. Buat kedepannya saya bakal lebih berusaha ^^

Saya juga gak selalu sempet bales-balesin review tapi setiap baca review kalian selalu bikin saya semangat kok. Btw, ada yang mau tmenan sama saya di bbm? *promo ._.

Oke Gomawo buat semua yang masih sempet baca! ^^

.。.:*・° .。.:*・° .。.:*・° .。.:*・°

Special Thanks to :

KimYunhoJungJonghyun | azahra88 | snow drop 1272 | zoldyk | tasya vianita | harticho | shanzec | iche cassiopeiajaejoong | YunjaeDDiction | melee | Angel Park | akiramia44 | Ai Rin Lee | my yunjaechun | xoxorienakimmyun | meyy-chaan | Ristinok137 | aiska jung | DolphinDei | MaxMin | Lilin Sarang Kyumin | Rly C Jaekyu | Nemo | sachan | Pumpkins yellow | serenade senja | birin rin | Lollyglory | Park July | everadit | babychokyu | narunaru bofi | Fuyu cassiopeia and for all Guests, Followers, & who Favorites this fic.

Love u guys~

See ya in the next chapter!