-Secretive J-
a YunJae fanfiction ©Cherry YunJae
.
Pairing : YunJae of course
Genre : Romance-School's Life
Rate : T
Warning! : Genderswitch! Out of Character! Typos everywhere!
.
Adapted and remake from Kaori Sensei's manga, Himitsu no Ai chan ©2010 and now starring with YunJae
If you don't like my fanfic, just get off~ simple, rite ? ^^
.
.
.
.
.
Yunho masih sibuk dengan ciumannya sambil merengkuh erat pinggang Jaejoong, sudah hampir 3 menit ia begini dan Jaejoong semakin sulit bernafas.
Mereka terlalu sibuk dengan kegiatan intim mereka hingga tidak menyadari suara beberapa derap langkah yang mendekat dan..
Grekkk~
Pintu gudang pun sempurna terbuka.
.
.
"Pulang sekolah mau ke karaoke?"
"Boleh juga.. Ajak Junsu dan yang lain bagaimana?"
Donghae, Siwon, dan Heechul berjalan beriringan menuju gedung olahraga. Mereka sibuk berbincang selama menuju pintu yang sudah di depan mereka.
"Yunho sudah duluan?"
"Entah, tadi kulihat dia pergi.. Tapi tidak tahu ke sini atau ke tempat lain."
Grekkk~~
Mereka membuka pintu santai masih sambil membicarakan teman mereka, Yunho.
Ketiga pasang mata itu menatap kedalam ruang olahraga yang luas, tak banyak barang jadi mereka bisa melepas pandangan jauh.
Dan ada satu—ah, dua objek yang membuat mereka mematung bertanya-tanya.
Bukankah itu Yunho? Lalu siapa gadis berambut pendek yang terbaring pasrah di bawahnya?
EHH? Rambut pendek?
"KIM JAEJOONG?!" teriak Heechul histeris.
Yunho beranjak segera bangun dari tempatnya. Menatap tak percaya pada ketiga temannya yang baru saja melihat hal yang tidak seharusnya.
"YUNHO-YAH!" Siwon maju terlebih dulu, tak peduli dengan ekspresi terkejut Jaejoong.
"Tu-tunggu.. Aku bisa jelaskan ini semua.. Ini tidak seperti yang kalian lihat!" elak Yunho berusaha menyelamatkan hubungan rahasianya dengan Jaejoong.
"Jelaskan apanya?! Aku tahu kalian ini saingan berat.. Tapi tidak perlu menggertak Jaejoong dengan cara seperti itu kan?" Siwon mengomel diangguki Heechul dan Donghae.
Yunho serta Jaejoong yang awalnya takut setengah mati karena kepergok sedang bermesraan kini justru sweatdrop mendengar itu.
Apa?
Mereka bicara apa sih?
"Bagaimanapun kan Jaejoong perempuan, apa kau mau membuatnya gentar dengan cara tidak senonoh macam itu?"
Yunho meringis saat mencium kesalah-pahaman disini, tapi ia bersyukur hubungannya selamat.
Lagipula bagaimana bisa ketiga kepala temannya itu menangkap hal yang sama? Bukankah berpikir bahwa mereka—Yunho dan Jaejoong 'memiliki hubungan' adalah kesimpulan yang lebih logis? Ketiga temannya itu berada di level otak yang sama ternyata.
"Ah.. Itu.. Tadi aku hanya sedikit pusing dan menabrak Jaejae yang sedang latihan.." elak Yunho.
Jaejoong ikut mengangguk setelah merasa lega karena skandalnya berhasil tertutupi.
Ia hanya melirik Yunho dan sedikit menahan tawa.
.
.
.
"Pulang nanti berkumpul di pantry ya? Aku ingin bicara sesuatu.."
Ucap Yoochun pada keempat karyawannya.
"Baik!" jawab mereka serempak dan mulai memberesi toko yang hari inipun dibuka.
Jaejoong baru saja memulai aktifitasnya—menyapu ruang utama Cassiopeia saat ponselnya menerima sebuah pesan.
From : Yunnie Bear
Maaf, hari ini aku tidak bisa menjemputmu lagi.
Tidak apa kan kalau kau pulang bersama Junsu? ;-;
Jaejoong tersenyum tipis dan segera mengetik balasan, memberitahu kekasihnya bahwa ia tidak apa-apa jika harus pulang bersama Junsu.
"Hei, Joongie.." Junsu menepuk pundak sahabatnya itu.
"Uhm?"
"Siapa?" Gadis lumba-lumba itu menunjuk ponsel di tangan Jaejoong dengan dagunya.
"Oh.. Yunho.. Hanya bilang kalau hari ini dia tidak bisa menjemputku."
"Lagi?"
Jaejoong mengangguk.
"Dia sibuk sekali sepertinya.." dan lagi, Jaejoong hanya bisa tersenyum.
Mau bagaimana lagi kan? Yunho pasti punya kesibukan sendiri juga. Meski akhir-akhir ini ia sedikit sedih karena waktu bersama Yunho jadi berkurang, tapi ia sudah bertekad untuk tidak merepotkan apalagi bersikap egois lagi pada Yunho.
.
.
.
Jaejoong mematut dirinya di depan cermin, memastikan bahwa baju yang ia kenakan sudah terpasang rapi.
"Lusa aku dan Changmin akan mendekorasi ruangannya.. Pokoknya kalian bertiga harus terlihat cantik.."
Jaejoong langsung menggerutu mendengar itu. "Itu sih kau yang senang.. Memangnya kami ini apa? Model?"
Yoochun mendelik memberi peringatan dan adik cantiknya itu segera tutup mulut.
"Oppa... Aku akan mengundang anak-anak dari klub basket, apa boleh?"
"Tentu saja baby, lagipula aku yakin mereka pasti datang tanpa harus susah-susah kita undang.."
Junsu terkekeh kecil.
"Oh ya.." Jaejoong mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu.
Mengirimnya pada Yunho dengan senyum terukir manis.
.
.
.
Drrttt..
Yunho mengambil ponsel di sakunya saat tahu ada sebuah pesan masuk.
From : Uri Jaejoongie
Lusa Cassiopeia akan mengadakan pesta kecil, jam tujuh.. kau datang kan?
Yunho tersenyum tipis dan segera membalasnya.
To : Uri Jaejoongie
Aku datang, tapi mungkin akan sedikit terlambat. Tidak apa-apa kan?
Yunho mengirim balasannya.
"Yunho-yah! Cepat kesini!"
"Oh.. Ne, hyung!"
Tak lama, ia bergegas kembali bergerak melanjutkan aktifitasnya dengan senyum yang tak lepas.
.
.
.
Jaejoong melangkah bersama Junsu, jalanan cukup ramai jadi mereka merasa cukup aman meski harus berjalan di waktu yang mendekati tengah malam ini.
"Joongie.. Sebenarnya Yunho sibuk apa sampai kau ditelantarkan begini?"
"Mollayo~ Aku tidak ditelantarkan, Junchan.. Dia hanya sedikit lebih sibuk dari biasanya, aku harus mengerti itu."
Junsu mengangguk sambil mengucapkan kata 'ya' berkali-kali.
"Ohya, Junchan.. Menurutmu jika aku ingin memberi hadiah untuk Yunho, hadiah apa yang tepat?"
Junsu menoleh sesaat pada sahabatnya itu. Ikut berpikir sepertinya. "Apa ya?"
Jaejoong menghela nafas, ia memang kepikiran cukup lama ingin memberi Yunho sebuah hadiah. Tapi ia tak juga bisa menentukan benda yang tepat.
"Kurasa kau yang paling tahu, Joongie..." jawab Junsu.
Jaejoong menoleh dengan tatapan bertanya-tanya.
"Yah.. Kau paling tahu kan tentang apa yang sedang atau paling di inginkan Yunho saat ini.. Yang tahu jawabannya hanya kau."
"Aigoo.. Tapi aku sudah mencoba berpikir berkali-kali dan tidak menemukan hal yang pas." gerutu gadis cantik itu.
Junsu tersenyum.
"Sekarang coba kau tanya dirimu sendiri, apa kira-kira yang paling Yunho inginkan saat ini?"
Jaejoong terdiam, berpikir dan seolah menyadari satu hal.
"Itu..."
.
.
.
Gadis itu terdiam sambil menatap ke luar jendela kamarnya. Memikirkan sesuatu.
Ada satu hal yang begitu membebani pikirannya dan rasanya memang inilah saat yang tepat untuk memikirkannya.
Tangan gadis itu mengutak-atik ponselnya sesaat, menatap ragu pada kontak bernama 'Yunnie Bear'.
Rasanya ia ingin menghubungi kekasihnya itu sekarang, tapi mengingat Yunho yang tadi sibuk ia jadi tidak tega. Akhirnya ponsel itu kembali tergeletak begitu saja.
Jaejoong merasa bingung, dan akhirnya ia memutuskan untuk beristirahat saja daripada terus tenggelam dalam pikirannya sendiri.
.
.
.
Esoknya adalah hari yang ceria di sekolah, seperti biasa kelas selalu ribut saat pagi seperti ini. Sementara Jaejoong yang biasanya paling ribut anehnya justru hanya duduk diam di bangkunya dengan dua buku yang tergeletak di atas mejanya.
Gadis itu mencengkram rambut-rambut almond-nya sendiri untuk beberapa saat, terlihat begitu frustasi.
"Joongie.. Ada apa?"
"Hueeee... Junchan.. Aku tidak mengerti soal-soal ini.." Keluh Jaejoong dengan wajah super memelas.
Sahabat bebeknya itu menghela nafas sesaat, "Itulah gunanya kau punya Yunho.."
Jaejoong awalnya tak mengerti, tapi kemudian ia memekik girang.
"Oh iya! Aku bisa tanya Yunho!"
.
.
Niatnya hari itu Jaejoong ingin belajar bersama Yunho, tapi lagi-lagi Yunho sibuk.
Setelah memasukan ponsel ke sakunya kembali, akhirnya Jaejoong memutuskan untuk segera ke Cassiopeia.
'Hhah.. Hari inipun berangkat sendiri' matanya menatap sendu pada subway yang baru saja tiba.
.
.
.
Cafe pun tutup, Junsu membalik papan tanda 'Tutup' di pintu dan kembali melangkah ke meja konter dimana Jaejoong berada.
"Hari ini kau akan pulang denganku lagi?"
Jaejoong mengangguk tanpa menatap Junsu, entah kenapa seharian ini mood-nya memburuk, apalagi ia tidak melihat Yunho.
Ia kesal karena rindu setengah mati pada kekasihnya itu. Tapi dimana Yunho sekarang? Apa laki-laki itu tak merindukannya?
drrt~ drrt~
Jaejoong menoleh pada ponselnya yang tergeletak diatas meja.
Ah, sebuah pesan dari Yunho.
From : Yunnie Bear
Kau masih di Cassiopeia? Kurasa aku bisa menjemputmu hari ini.
Seketika wajah Jaejoong berbinar cerah. Gadis itu buru-buru ke ruang ganti sambil berteriak pada Junsu untuk pulang bersama Yoochun.
.
.
Jaejoong tak sabar untuk segera keluar dari kafe dan bertemu Yunho, karena itu ia terlihat begitu terburu-buru memakai baju dan juga sepatunya.
Berlari meninggalkan Junsu dan Yoochun yang masih ada di dalam kafe, Jaejoong segera mencari sosok Yunho.
Ia tersenyum lega saat melihat laki-laki yang sudah 3 bulan ini menjadi kekasihnya itu berdiri tak jauh dari pintu Cassiopeia dan segera melambai padanya.
Jaejoong segera menghampiri Yunho dan menyerahkan diri ke dalam pelukan itu.
Bahkan rasanya seperti akan menangis.
Rindu setelah cukup lama tak bisa bertatap muka membuncah, tak lagi terbendung saat melihat wajah Yunho. Rasanya begitu lega. Seperti menemukan nafas kembali.
"Aku merindukanmu.." lirih gadis itu dalam pelukan kekasihnya. Yunho tersenyum senang, lagi-lagi Jaejoong bersikap manis tak seperti biasanya.
"Maaf.. Aku juga sangat merindukanmu.." dikecupnya puncak kepala Jaejoong hingga membuat gadis itu tersenyum kecil.
Jaejoong melonggarkan pelukannya dan menengadah, "Sampai kapan urusanmu selesai, Yun?"
"Besok malam terakhir, setelah itu aku akan mengantar jemput-mu seperti biasa lagi..."
"Benarkah? Ohya, besok kau benar-benar harus datang ke Cassiopeia.. Aku punya sesuatu.."
Yunho tercenung, "Oh? Sesuatu apa?"
"Aku tidak akan memberitahunya sekarang.. Kalau kau ingin tahu, kau harus datang.."
Pria itu terkekeh pelan, melihat mata berbinar penuh semangat milik Jaejoong membuatnya lupa akan lelahnya hari ini.
"Arasseo.. Tapi seperti yang ku bilang.. Aku akan datang terlambat.."
Gadis di hadapannya mengangguk, "Tidak apa, tapi kau harus benar-benar datang.."
Yunho mengangguk paham dan menggenggam tangan mungil kekasihnya itu, membawa Jaejoong untuk mulai bergerak pulang karena hari semakin larut.
Keduanya pun tenggelam dalam pembicaraan panjang sebagai pelepas rindu ditemani desau angin dan sinar bulan.
.
.
.
Hari yang ditunggu Jaejoong tiba, siang ini ia sibuk mendatangi sebuah kawasan pertokoan dan mencari-cari sesuatu.
Sejujurnya Jaejoong belum menemukan 'sesuatu' yang ia sebutkan tadi malam pada Yunho. Ia hanya ingin kekasihnya itu datang, dan sebelum sore ia harus memberikan sesuatu untuk Yunho.
Gadis itu mendecak pelan karena nyaris frustasi, tak menemukan benda yang tepat.
Akhirnya ia terduduk di salah satu bangku halte, beristirahat dengan sebotol minuman ringan sambil kembali memutar otak.
'Apa yang harus ku berikan pada Yunho?'
Ia terus saja bertanya pada dirinya sendiri, hingga tiba-tiba ia teringat tentang pembicaraannya dengan Junsu kemarin.
'Apa yang paling Yunho inginkan saat ini? Itu kan..'
Gadis itu menatap ragu pada trotoar, bergulat dengan pikirannya.
Sepertinya ia menemukan hadiah-nya.
Ya, akhirnya Jaejoong memutuskan.
.
.
.
Sore menjelang, dan Cassiopeia terlihat sibuk. Hari ini cafe bergaya klasik itu ditutup dengan alasan pesta ulang tahun, hanya beberapa orang yang sudah datang termasuk Donghae dan Heechul.
Di sudut ruangan sudah disiapkan panggung kecil untuk sedikit hiburan. Junsu termasuk salah satu yang akan berdiri disana untuk bernyanyi nantinya.
Sementara Jaejoong bediri gugup di depan lokernya, rasanya tak pernah segugup ini hanya untuk sebuah pesta.
Hari ini Jaejoong memilih celanadenim biru tua dengan kaus putih yang dibalut cardigan ungu tua. Wig panjangnya ia biarkan tergerai seperti biasa dan sebuah kacamata bertengger manis di hidungnya. Penampilannya sudah sempurna.
"Joongie~" Jaejoong sedikit kaget saat tahu Junsu yang tiba-tiba masuk.
"Ne Junchan?"
"Yang lain datang, ayo..." Ajak gadis bebek itu, Jaejoong pun menurut dan mengikutinya.
.
"Woah! Jaekyungie!" Begitu Donghae memekik, Heechul ikut menoleh begitupun Siwon yang baru saja datang.
"Lama tidak bertemu, kau semakin cantik Jaekyungie.. Aku jadi semakin iri pada Yunho.." protes Siwon.
Jaejoong hanya terkekeh.
"Apa Yunho tidak datang?" kini Heechul bertanya. Jaejoong menatap ruangan yang mulai sedikit ramai karena kenalan Yoochun juga datang.
Dan, ya... Kekasihnya belum datang.
"Dia tidak akan datang?"
Jaejoong tersenyum, "Dia akan datang, tapi agak terlambat."
Ketiganya mengangguk paham.
Tak ada yang menyadari Jaejoong sibuk meremas tangannya sendiri, berusaha menetralisasi kegugupannya namun semakin waktu bergulir, kegugupan itu semakin terasa.
'Tenang, Kim Jaejoong... Kau sudah memutuskannya kan?' ia mencoba berbicara pada dirinya sendiri.
"Jaekyungie.. Kami akan menemui teman-teman klub basket yang lain.. Kau mau ikut?"
Jaejoong tersadar dari lamunannya.
"A-ah.. Aku harus menyiapkan sesuatu.." ia tersenyum dan akhirnya pergi kembali ke dalam ruang staff kafe.
.
.
Cassiopeia semakin ramai, mereka sibuk berbincang, makan, dan minum sementata musik klasik mengalun seolah-olah kini mereka berada di kafe elit.
Jaejoong agak ragu mengintip ke luar, ia tak ingin keluar selangkah pun dari ruang staff kalau Yunho belum juga datang.
drrrt.. ddrtt..
Jaejoong tersentak karena ponsel di sakunya bergetar, buru-buru ia mengambil ponsel itu dan melihat sebuah pesan baru.
From : Yunnie Bear.
Aku sudah di depan kafe, kau dimana? Disini terlalu ramai.
Gadis itu tersenyum sebelum kemudian bersiap keluar.
.
.
.
Kalau kalian mengira gadis itu akan segera menyusul Yunho, berarti kalian salah.
Jaejoong justru beranjak menuju panggung kecil yang diisi beberapa pemain musik di sudutnya. Dengan langkah yang sedikit gemetar, ia menaiki panggung perlahan.
Beberapa pasang mata sudah terkunci pada sosoknya saat tubuh itu berdiri tegak diatas panggung. Sementara Jaejoong sendiri akhirnya menemukan sosok Yunho dari posisinya saat ini.
"Maaf.." Gadis itu mengucapkan kalimat pertamanya setelah menepuk pelan mic yang terpasang di sebuah standing-stick di hadapannya.
Dan seketika, semua perhatian tersita padanya tak terkecuali Yunho yang akhirnya tersenyum.
Jaejoong membalas senyuman itu lalu kembali mulai berbicara.
"Hari ini, aku punya sesuatu yang ingin ku beritahu pada kalian..." Kalimat Jaejoong terhenti karena tatapan para tamu-tamu itu.
Jaejoong coba memusatkan tatapannya pada Yunho, dan mensugestikan diri bahwa saat ini hanya ada dia dan lelaki itu.
Dengan tangan yang agak gemetar, ia meraih wig-nya sendiri.. Perlahan melepasnya dengan dada bergemuruh keras, ia memejamkan mata untuk sesaat.
Bisa Jaejoong dengar beberapa tarikan nafas kaget dari orang-orang di depannya, ia yakin Donghae dan yang lain juga sangat terkejut saat ini.
Dijatuhkannya wig hitam panjang itu ke atas lantai panggung, menyisakan seorang Kim Jaejoong dengan rambut pendek berwarna almond-nya. Ia masih mencoba berdiri tegak disana.
"A-aku minta maaf, selama ini... Kim Jaekyung yang kalian tahu adalah aku.. Kim Jaejoong."
Beberapa orang yang mengenal 'Jaekyung' pun sungguh terkaget-kaget, sedangkan yang tak mengenalnya hanya saling melempar tatapan bingung.
Yunho sendiri melebarkan mata saat mendengar pengakuan tiba-tiba Jaejoong itu
"A-apa?"
"Situasi macam apa ini?"
"Yunho! Serius? Jadi selama ini kau dan Jaejoong..." Siwon menoleh dengan tatapan tak kalah terkejut sementara Yunho sendiri pun masih tak mengerti kenapa tiba-tiba Jaejoong melakukan ini.
Ketiga sahabat Yunho itu luar biasa bingung.
Jaejoong menatap takut pada orang-orang disana.
"Maaf.. Sebenarnya ini semua karena keegoisanku, aku sudah lama berpacaran dengan Yunho.. Tapi aku sama sekali tidak bisa mengakuinya karena Yunho adalah rivalku.. Aku yang memaksanya menerimaku seperti ini, jadi hari ini aku ingin mengakui kesalahanku.. Aku ingin mengakuinya pada kalian... Sekali lagi maafkan aku.." Jaejoong membungkuk sedalam-dalamnya lalu beranjak meninggalkan tempat itu, menyisakan riuh orang-orang yang tak mengerti apa yang baru saja terjadi.
"Yunho.." Donghae menatap seolah meminta jawaban, tapi yang dipanggil justru lebih memilih untuk menyusul kekasihnya yang saat ini ia khawatirkan.
.
.
"Joongie..." Junsu menepuk pundak Jaejoong yang gemetar, gadis itu terduduk lemas sejak mengakui semuanya di depan orang-orang tadi. Bebannya sudah lepas, ia siap atas konsekuensi perbuatannya ini.
"Jaejoongie?" Yunho menghampiri gadis itu, membuat Junsu yang sebelumnya mengusap kepala Jaejoong pun mengerti dan segera mundur dari tempat itu.
Membiarkan mereka berdua.
"Yunho.." Ia tersenyum dengan mata berbinar seperti biasa saat menatap Yunho.
"Apa yang kau lakukan?"
"Hehe.. Kau suka hadiahmu?" tanya Jaejoong.
Yunho tak menjawab, hanya segera memeluk tubuh kekasihnya itu erat-erat.
"Kau sengaja melakukan ini?" tanya Yunho, Jaejoong mengangguk dalam pelukannya, "Untuk kita.." jawabnya.
Yunho sebenarnya merasa begitu senang, tapi apa yang akan dipikirkan orang lain nantinya?
"Jadi, selama ini aku dibohongi?"
Sepasang kekasih itu terpaksa menghentikan aksi mesra mereka karena diganggu oleh Miyoung, dan ada Changmin di dekatnya.
"Maaf, Miyoung.. Aku tidak bermaksud—"
"Sudahlah.. Chwang juga jahat karena tidak memberitahuku, jadi lupakan saja.." Si sulung Shim itu bersikap sok acuh seperti biasanya.
Jaejoong termangu tak mengerti.
"Syukurlah itu kau, Kim Jaejoong.. Ku pikir Yunho memang menyukaimu jadi rasanya aneh saat ia justru berpacaran dengan gadis lain.." Miyoung mendekati Jaejoong, mengulurkan tangannya di depan gadis itu.
"Selamat Kim Jaejoong yang sudah resmi menjadi kekasih Jung Yunho.." Untuk pertama kalinya Jaejoong melihat senyum tulus Miyoung yang selama ini begitu menyebalkan. Begitupun Changmin yang hanya bersandar di dekat pintu.
"Mana Kim Jaejoong?!"
Ruang staff itu kembali diterobos oleh trio berisik—Heechul, Siwon, dan Donghae.
Heechul segera menghampiri gadis berambut almond itu dan memiting leher Jaejoong sementara Donghae menjitak pelan kepala sang tersangka pembuat masalah.
"Yah! Jadi kau membohongi kami?! Sial! Kau bahkan berhasil menjadi cantik..."
"Aduh.. Aduh.. Hahaha.."
"Bocah sialan ini benar-benar membuat keributan ya.."
"Kau berhutang penjelasan pada kami, Kim Jaejoong!"
"Aku benar-benar tertipu.. Haha.."
Mereka tertawa, Jaejoong sendiri melirik sesaat pada Yunho yang ikut tertawa. Ah, ia bersyukur tak ada yang membencinya setelah pengakuan mengejutkan tadi.
.
.
.
Jaejoong menyamankan tubuhnya, bersandar di bahu Yunho sambil menonton televisi.
Setelah pesta kecil Yoochun selesai, keduanya pulang ke apartemen Yunho, Jaejoong merasa begitu senang karena untuk pertama kalinya ia mampu berjalan dengan Yunho tanpa harus menyamar.
Ia bahkan tak sanggup menjelaskan betapa bahagia dan leganya ia sekarang ini.
Yunho tersenyum saat mendapati Jaejoong yang menoleh padanya dengan senyuman manis. Ia mencium dahi gadis itu, "Terima kasih untuk semuanya, Boojae.."
Jaejoong mengangguk, "Itu janjiku.. Aku hanya ingin memberi sesuatu yang benar-benar kau inginkan.."
"Oh iya.." Yunho merogoh sakunya, hampir-hampir ia melupakan sesuatu.
Jaejoong menatap bingung awalnya, tapi kemudian berganti menjadi tatapan takjub saat melihat sebuah kalung yang Yunho tunjukkan dari genggamannya.
Bandulnya berbentuk kupu-kupu dengan hiasan batu-batu mulia berwarna bening dan biru langit, bertaburan dan memberi kesan elegan.
Ini pasti bukan barang murah.
"Yun, ini—"
"Maaf sudah menelantarkanmu beberapa hari, aku juga ingin jujur saat ini.. Sebenarnya aku kerja sambilan untuk membelikanmu hadiah.."
Jaejoong menutup mulutnya sendiri karena begitu tak percaya.
"Kau.. Kenapa.."
"Aku ingin sekali membeli kalung ini, karena entah kenapa melihat kupu-kupu ini justru mengingatkanku padamu.." Pemuda itu memakaikan kalung di leher Jaejoong pelan-pelan, dan memastikan bahwa kalung itu memang cocok untuk kekasihnya.
"Kau cantik.."
Jaejoong tak bisa menghentikan senyumnya. Ia bergerak tiba-tiba, mengalungkan lengannya di leher Yunho, memeluk erat kekasihnya itu.
"Terima kasih, Yun.. Terima kasih.. Aku benar-benar merasa beruntung karena disukai olehmu.. Aku mencintaimu.."
Yunho tersenyum di balik bahu Jaejoong. "Aku juga mencintaimu, Kim Jaejoong.. Aku bersyukur karena orang yang kucintai adalah kau.."
Jaejoong melepas pelukannya untuk mengecup bibir Yunho, dan itu cukup untuk membuat Yunho mematung tak percaya. Jaejoong hanya terkekeh pelan.
"Kau sepertinya harus belajar menciumku dengan benar."
"Kyahh~! Berhenti, Jung Yunho!"
Yunho segera menarik pinggang Jaejoong dan membuat gadisnya itu memekik kaget.
.
.
.
Hari terus berlalu, beberapa keributan kecil pun tak terhindari setelah insiden dimana Jaejoong mengaku dan memilih untuk melenyapkan Kim Jaekyung untuk selamanya.
Tapi kini, semua berjalan jauh lebih normal dan tak ada lagi yang Jaejoong risaukan.
.
"Dua soal lagi, cobalah lebih baik."
"Ishh.. Iya, aku tahu.."
Istirahat selepas pelajaran membuat isi kelas sepi, Yunho yang dimintai bantuan oleh Jaejoong untuk mengajarinya pun datang ke kelas itu. Mereka hampir memasuki masa-masa terakhit di sekolah, dan Jaejoong memang berniat memilih universitas yang sama dengan Yunho setelah lulus nanti. Karena itu ia sadar bahwa ia harus belajar ekstra saat ini.
Sudah dua puluh menit mereka—lebih tepatnya Jaejoong, berkutat dengan buku pelajaran. Yunho berubah menjadi serius jika menyangkut soal pelajaran dan Jaejoong cukup takut.
Gadis itu tiba di soal latihan terakhirnya, namun tangannya yang memegang sebuah pensil tak bergerak untuk menulis.
Ia hanya menatap soal begitu lama, tak tergerak sedikitpun.
"Arghh! Ini sulit.." Jaejoong melempar pensilnya ke atas meja dengan raut frustasi, ia kesal dan segera menempelkan dahinya ke tepian meja.
Ia menyerah.
Yunho yang melihat tingkah Jaejoong hanya tersenyum geli lalu mengacak rambut almond gadisnya itu. Ia harus memaklumi tingkah Jaejoong yang memang mudah emosi hanya hal kecil.
"Ya sudah, kita bahas lagi nanti.. Aku lapar, ayo ke kantin.."
Seketika Jaejoong menegakkan tubuh dan tersenyum. "Hehe.. Kau akan mentarktirku?"
Yunho yang baru saja bangkit dari duduknya segera mendecih pelan. "Kau punya gaji sendiri dari pekerjaanmu kan.."
Ia berjalan lebih dulu meninggalkan Jaejoong. Jaejoong yang tidak terima segera menyusul kekasihnya itu keluar kelas.
"Aish, kau kan juga punya gaji, Jung Yunho!"
"Mana? Aku sudah berhenti dari pekerjaanku jadi tidak punya uang.."
"Bohong.."
"Hei.. Kenapa malah menuduhku berbohong? Kau punya uangmu sendiri, kenapa bukan kau yang mentraktirku?"
"Ishh... Dasar Jung pelit!"
"Diam!"
"Pelit.. Pelit.. Pelit.."
"Kim Jaejoong!"
.
.
.
"Jaejoong subaenim dan Yunho sunbaenim bertengkar lagi ya?"
"Haha.. Tapi mereka terlihat imut."
"Kau tahu soal gosip tentang mereka?"
"Iya, katanya mereka berdua berpacaran kan?"
"Tapi setiap hari masih bertengkar.. Hahaha..."
"Hei lihat.. meski adu mulut pun, Yunho sunbaenim tetap menggenggam erat tangan Jaejoong sunbaenim."
"Aigoo.. Manis sekali mereka.."
"Tapi mereka memang serasi ya.."
.
Dan begitu, hari-hari Yunho dan Jaejoong baru saja dimulai.
.
.
.
.
FIN
.
.
Finally.. It's FIN! IT'S FIN, EVERYBODY! #plak!
Maaf ya yang udah nunggu lama buat chapter ini, dan maaf juga kalo endingnya kurang greget atau semacemnya.
Akhirnya Secretive J selese setelah satu tahun pas.. Omg! 16 chapter aja ampe satu tahun.. ㅠ.ㅠ
Maaf banget ya, all..
Saya terharu kalo masih ada yang mau baca ini fic padahal udah bertele-tele gitu. Apalagi saya lemah banget ama yang namanya 'Ending'.
Makasih yang udah sempetin baca, review, nge-fav, dan nge-follow. Moga kalian masih mau baca karya-karya saya yang lain :D
Sekali lagi makasih, dan.. Ada yang mau temenan sama saya di bbm? Ini pin saya : 7415ACE8 ^^ Mari berteman!
So, see ya in the next fic, guys.
Thankyou so much :*
