Secretive J

a YunJae fanfiction presented by Cherry YunJae

.

EPILOG

T-M rated

GENDERSWITCH! Out of Character! Typos everywhere!

.

Yo! Saya persembahkan epilog ini buat semua readers Secretive J karena kemaren saya kurang puas sama ending-nya.

So, Enjoy reading guys! ^^

.

.

.

.

Sesuatu mengganggu tidurku, entah apa itu.

Dengan sangat terpaksa, ku buka mataku dan berusaha membiasakan retinaku menerima cahaya sekitar.

Cahaya matahari yang menembus lembut dari tirai-tirai jendela di sisi ranjangku.

Ah, pantas.. Sudah pagi rupanya.

Mataku tak lagi terasa berat saat menyadari ada sosok lain di sisiku, terbaring di ranjang yang sama denganku dan masih terlelap damai.

Melihat hal itu saja membuatku tersenyum.

Tentu saja.

Apa yang lebih membahagiakan di banding mendapati orang yang paling kau cintai di sisimu saat bangun tidur?

Saat ingatan-ingatan tentang kejadian kemarin masih melalui tahap sinkronisasi, melihat wajahnya saja membuatku senang, bahagia karena ia menjadi hal pertama yang kuingat setelah membuka mata.

Hm. Ngomong-ngomong soal kejadian kemarin, sepertinya saat ini hanya aku yang masih dalam keadaan naked tanpa apapun, sementara sosok di sisiku ini dengan enaknya tidur menggunakkan sweater-ku.

Meski ku akui itu sangat imut.

Tapi dia bahkan sudah memakai kembali bra dan celana dalamnya. Aish...

Padahal kalau saja ia belum memakainya aku jadi punya alasan untuk kembali menyerang dan memakannya habis-habisan pagi ini.

Baiklah, kali ini aku mengalah.

Aku hanya mampu tersenyum lagi saat melihat wajah tidurnya yang terlihat aneh dan imut secara bersamaan rasanya ingin mencubitnya hingga terbangun.

"Ungh..."

Ia melenguh pelan, apakah ia akan terbangun sekarang?

Dan benar saja, kedua mata doe itu terbuka perlahan dan mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya ia mencoba untuk duduk.

Akupun ikut bergerak untuk bersandar di kepala ranjang, ia sama sekali tak menoleh padaku.

"Apa kau bangun sudah lama?" ia menggerakkan tangannya untuk mengusap matanya dengan gesture yang membuatku semakin gemas.

Kekasihku imut sekali.

"Hm. Lumayan lama untuk menatap dan menemukan kau tertidur dengan liur dimana-mana." Aku menyeringai saat ia menoleh terkejut lalu segera mengusap bibir dengan lengannya sendiri.

"Be-benarkah?"

"Hahaha.. Bercanda, kau mudah sekali percaya ucapanku." seketika ia mencebilkan bibirnya, kesal mungkin.

Ku dekati tubuhnya dan mengecup pelan bibir ceri kesukaanku itu, tapi dengan sedikit kasar ia justru mendorongku menjauh.

"Ishh... Mandi dulu atau paling tidak pakai bajumu dulu!" protesnya, aku pun terkekeh geli.

"Baiklah aku mandi dulu.." Akhirnya ku putuskan untuk turun dari ranjang dan segera ke kamar mandi.

"Cepat ya! Aku lapar sekali!"

.

.

.

Setelah selesai mandi dan membereskan kamar sebentar, aku dan Jaejoong pergi menuju supermarket terdekat untuk membeli bahan makanan karena memang sejak tadi malam tak ada makanan yang masuk ke perut kami.

Aku melirik Jaejoong yang berjalan di sisiku, rasanya aku tidak bisa berhenti tersenyum karena begitu senang.

Tentu saja kan? Ini pertama kalinya dia jalan denganku sebagai 'Kim Jaejoong' tanpa mengkhawatirkan apapun. Rasanya benar-benar menyenangkan bagiku!

Setelah hari dimana ia mengaku di depan teman-teman kami, akhirnya Kim Jaekyung resmi dilenyapkan dan yang ada kini hanya Kim Jaejoong, kekasihku yang sekarang.

Tidak bisa kuungkapkan betapa bahagianya saat aku bisa terang-terangan jalan dengannya dan mengakui pada teman-teman di sekolah bahwa kami adalah sepasang kekasih.

"Yun! Kau mau pasta atau ingin kubuatkan makanan lain?"

Ku dekati ia yang baru saja menghampiri sebuah rak berisi bahan makanan instan.

"Pasta tidak buruk juga.."

"Oke!"

Aku pun kembali dibuat tersenyum karena melihat antusiasme-nya saat berbelanja. Membayangkan bagaimana dia akan menjadi istri yang manis bagiku.

Aish, aku benar-benar dibuat gila olehnya!

Kamipun kembali mengacak-acak bahan makanan lain yang kami perlukan, bercanda beberapa kali dan bagiku ini seperti kencan yang begitu menyenangkan.

"Gamsahamnida.."

Kasir itu membungkuk sopan setelah memberikan kantung belanjaan kami dan aku berinisiatif untuk membawa semuanya.

"Hei.. Aku bisa membawanya juga.." Jaejoong mengulurkan tangannya dengan tatapan memohon, sangat imut!

"Aku juga lebih dari bisa.."

Akhirnya ku pindahkan dua kantung belanjaan itu ke tangan kiri dan kugapai tangan kanannya.

Ia tertunduk, sementara aku ikut berdebar-debar. Astaga, ini kan bukan pertama kalinya kami bergandengan tangan tapi kenapa rasanya segugup ini.

Bahkan aku bisa mendengar debaran jantungnya juga sepanjang perjalanan. Aku terlampau senang, meski mungkin bagi pasangan lain bergandengan tangan di muka umum adalah hal yang biasa, tapi bagiku ini sungguh spesial.

Kami pun hanya terdiam sampai tiba kembali ke apartemen-ku.

Ia bergegas berlari ke dapur sambil menutup wajahnya.

Hei, kenapa?

.

.

.

"Jja... Makan yang banyak!"

Aku mengangguk sambil melihat sepiring pasta yang ia sodorkan.

Hanya satu hari, tapi rasanya begitu sempurna bagiku. Jaejoong terus menemaniku seharian ini dari saat malam panas kami, hingga se-siang ini.

"Sore nanti aku akan mengantarmu.."

Jaejoong mengangguk pelan, sebenarnya aku tidak benar-benar berniat mengantarnya tapi tidak mungkin juga aku menahannya disini selama dua hari. Apalagi tujuanku mengantarnya pulang karena harus bertemu ayahnya juga.

"Aku jadi gugup, apa ayahmu benar-benar mau menerimaku?"

Kulihat ia menghentikan acara makannya dan menatap balik padaku, tersenyum tipis.

"Kalau kau mau tahu tentang appa-ku, dia orang yang sangat tegas.. Pemilih, sangat disiplin dan keras.. Kalau dia tahu kau melakukan hal-hal aneh pasti dia akan mencincangmu."

"Bagus, Kim Jaejoong.. Kau memperburuk keadaanku, Bagaimana kalau kau laporkan saja bahwa aku sudah membuatmu tidak perawan lagi?"

Ia tertawa jenaka setelahnya.

"Haha.. Ide bagus.. Tapi aku tidak berbohong, appa memang seperti itu, Yun.."

Aku mendadak kehilangan nafsu makan mendengar hal itu.

"Tapi tenang saja, appa pasti akan menyukaimu.. Percaya padaku.."

Ia tersenyum lembut, membawa perasaan tenang yang datang begitu saja. Memperbaiki mood-ku yang sempat hancur.

Ah, Kim Jaejoong memang selalu penuh kejutan. Karena itu aku menyukainya.

"Baiklah, aku percaya padamu.. Kalau kita ditolak, kau harus siap untuk kabur denganku."

"Yah! Shirreo!"

.

.

.

Siang menjelang, kami memutuskan untuk menonton televisi sambil menunggu sore datang. Sebenarnya hanya Jaejoong yang asyik menonton, sementara aku terang-terangan memperhatikannya.

Aku hanya memikirkan saat ini rasanya ingin membuatnya menginap lagi, tapi tentu saja dia akan menolaknya kan?

Hei, jangan salahkan aku yang berpikiran kotor.. Jaejoong selalu berhasil menggodaku bahkan tanpa melakukan apa-apa. Sudah ku bilang berkali-kali kan kalau dia sangat manis?

"Yun.. Apa nanti Jane akan tahu kalau Dave itu penjahat?"

"Hm."

"Jadi nanti dia akan marah pada Dave?"

"Hm."

Ia menoleh padaku dengat tatapan gusar.

"Isshh.. Serius! Aku bertanya padamu, tapi kenapa kau tidak memperhatikan film-nya?!"

Aku terdiam, bingung antara harus menyuarakan pikiranku atau tidak.

"Boojae.."

"Apa?"

"Bagaimana kalau kau menginap lagi disini?"

Kali ini ia menatap heran, alisnya tertaut.

"Kau pasti mau melakukan hal yang tidak-tidak lagi padaku.. Aku tidak mau." Dengan gaya yang begitu imut, ia mendekap snack-nya dan kembali menatap televisi.

Berniat usil, akhirnya kudekati tubuhnya dan berbisik lirih. "Padahal kau juga meninginkannya kan?"

Bisa kurasakan tubuhnya menegang meski tak ku sentuh. Karena tak ada perlawanan, kucoba mencium tengkuknya berniat sedikit menggoda.

"Nghh.. Yun.."

"Hmm?"

"Ja-jangan..." tangannya bergerak mencoba menghalangiku, tapi aku tidak peduli.

"Kenapa?"

"Nghh.. Jangan lagi.. Maksudku jangan sekarang, kita baru saja selesai beberapa jam yang lalu.. Bagaimanapun rasanya masih sakit, kau seperti masih ada di dalamku—" Aku terbelalak begitupun Jaejoong yang segera menutup mulutnya.

"B-baiklah, aku mengerti.." akhirnya kuputuskan untuk sedikit menjauh karena kaget, Jaejoong sendiri terlihat merona.. Mungkin malu karena mengatakan hal sejelas itu. Aku tidak menyangka kalau ia akan terang-terangan mengatakannya.

Setelah itu suasana canggung menyelimuti kami.

.

.

.

Setelah berjalan beberapa menit, kami sampai di rumah Jaejoong.

Rasa gugup semakin menghinggapiku. Aku tidak tahu harus bicara apa pada Kim appa nantinya.

"Ayolah, masuk dulu.." Jaejoong menarik lenganku, aku pun terpaksa menurutinya. Saat aku membuka sepatu, ia justru sudah berlari ke dalam sambil meneriaki penghuni rumah.

Yang pertama keluar adalah Yoochun hyung, aku bersyukur.

"Oh Yunho-yah.. Ayo masuk, kebetulan umma sedang memasak makan malam jadi kau harus ikut makan, oke?"

Aku mengangguk tanpa mengeluarkan kata-kata, membiarkan lagi-lagi ditarik ke dalam rumah yang cukup besar itu.

"Appa sudah menunggumu sejak tadi.." bisik Yoochun hyung pelan namun sanggup membuatku bergidik ngeri.

Dan, benar saja.

Saat mendekat menuju meja makan, aku dikejutkan dengan sosok Kim appa yang duduk membelakangiku. Sungguh rasanya tiba-tiba aku ingin lenyap.

"Appa.. Yunho datang.." ucap Yoochun hyung.

Kim appa menoleh dengan tatapan tajam, membuatku semakin tertekan, apa lebih baik kubawa kabur saja Jaejoong seperti rencana kedua?

"Duduklah." ucapnya dingin seperti suatu perintah yang mutlak harus ditaati.

"N-ne.."

Aku duduk tepat di hadapannya.

"Jadi.. Kau Jung Yunho?"

"Ne, ahjussi.." kuberanikan diri menatapnya, mencoba untuk tak terlihat sebagai pecundang di depan ayah kekasihku sendiri.

Ku lihat sekitar, hanya ada Kim umma yang sibuk di dapur tak jauh dari kami. Sementara Jaejoong dan Yoochun hyung entah kemana.

"Terima kasih, nak.."

"N-ne?"

Aku yang semula melayangkan tatapan ke arah lain tentu saja kaget. Apa aku salah dengar?

Tiba-tiba wajah Kim appa berubah begitu ramah, sebuah senyum terukir tulus disana.

"Terima kasih karena kau mau menjaga anakku."

Aku lagi-lagi tertegun, hei.. Situasi macam apa ini? Kenapa tiba-tiba?

"Jaejoong.. Karena dibesarkan dengan keras jadi terbiasa bersikap seperti laki-laki.. Aku jadi khawatir, tapi begitu mendengar kalau dia sudah mempunyai kekasih.. Aku tidak tahu harus bilang apa untuk mengungkapkan kebahagiaanku."

A-apa?

Apa ini sungguhan?

"Kudengar dari Yoochun dan istriku, kau adalah laki-laki baik yang bertanggung jawab, jadi aku merasa jauh lebih tenang.. Sebelumnya belum ada yang bisa membuat Jaejoong menjadi penurut, akhir-akhir ini dia justru terlihat lebih lembut dan feminim.. Itu pasti berkatmu.."

"A-aniya, ahjussi.."

"Haishh.. Panggil aku 'appa' oke? Tidak perlu merasa segan padaku.."

"Ah.. Ne, A-appa.."

Sungguh atmosfer yang tercipta justru membuatku semakin canggung meski jujur aku sangat senang karena reaksi Kim appa yang benar-benar di luar dugaanku.

"Ku harap kau mau menjaga Jaejoong lebih lama, bahkan kalau bisa sampai ke tahap yang lebih tinggi.."

Aku tahu arah pembicaraan ini. Apa maksudnya ia merestui kami bahkan sampai menikah?

Oh my Godness! Ini lebih hebat di banding perkiraanku.

"Appa~"

Jaejoong tiba-tiba muncul dan duduk di sebelahku dengan begitu ceria.

"Kalian bicara apa?" tanyanya penasaran.

Aku hanya tersenyum begitupun Kim appa, "Pembicaraan antara lelaki, Joongie.." Jawab Kim appa lembut dan sedetik kemudian wajah Jaejoong berubah masam. Aku hanya terkekeh kecil.

"Nah, sudah dulu bicaranya.. Makanannya sudah siap.." Kim umma datang dengan sepanci sup seafood yang sangat harum bahkan perutku terasa tiba-tiba berontak meminta agar cepat diisi.

"Jja.. Kau bisa makan seafood kan, Yunho?"

"Ah, Ne appa.."

"Kalau begitu ayo makanlah yang banyak."

"Yoochunnie~ cepat makan dulu!"

"Ya, sebentar!"

Aku tersenyum melihat kehangatan keluarga ini, bersyukur karena aku diterima baik oleh mereka.

Tersentak sesaat, aku menoleh dan mendapati tangan kiri-ku digenggam lembut olehnya, Kim Jaejoong-ku.

Aku menatapnya yang tersenyum manis padaku. Ah, betapa bahagianya aku hari ini.

.

.

.

.

.

[Normal POV]

Dakk

Dakk

Siang menjelang sore seperti biasanya, gedung olahraga sudah dipakai oleh sepasang kekasih itu untuk latihan 1 on 1.

Jaejoong seperti biasa juga, terlihat sibuk mencoba merebut bola dari tangan Yunho namun terus gagal. Sampai akhirnya skor dicetak laki-laki tampan itu.

Jaejoong jatuh terduduk dengan nafas tersengal, Yunho sendiri akhirnya menghampiri gadis itu dengan senyum lebar.

Mereka berdua merebahkan tubuh diatas lantai gedung olahraga dengan begitu nyaman sambil mengatur nafas supaya kembali normal.

"Jadi, appa bagaimana, Yun?"

Yunho menoleh pada Jaejoong sesaat lalu kembali menatap ke langit-langit ruangan itu.

"Appa-mu sama sepertimu, dia penuh kejutan..."

Jaejoong membawa tubuhnya duduk di samping Yunho lalu tersenyum tipis. "Benar kan.. Appa pasti akan menyukaimu."

Yunho melirik Jaejoong yang menatapnya. "Kenapa kau begitu yakin?"

"Tidak ada alasan bagi appa untuk tidak menyukaimu, ia pasti merasa begitu beruntung karena putrinya dicintai oleh orang sebaik dirimu, Jung Yunho." Jaejoong membungkuk, memberanikan diri mengecup bibir seksi milik kekasihnya yang terdiam itu.

Senyuman lembut terpatri di bibir Yunho setelahnya, ia merasa senang saat Jaejoong mengucapkan hal itu dan bersikap begitu manis.

Dibawanya tangannya untuk menggapai tengkuk Jaejoong hingga gadis itu harus kembali membungkuk.

"Gomawo, Boojaejoongie.." Dikecupnya bibir Jaejoong dengan begitu lembut untuk menyampaikan perasaan bahagianya.

"Yak! Yak! Cukup! Kami tahu kalian pacaran tapi bisa tidak berhenti mengumbar kemesraan di depan umum?!"

Yunho melepas Jaejoong dan menoleh ke asal suara lalu segera memposisikan diri untuk duduk.

Kekasih Jaejoong itu mendecih pelan.

"Itu kan salah kalian sendiri yang masuk saat kami sedang 'seru'.." Ia melirik pada rombongan teman-temannya yang baru saja masuk.

Donghae, Siwon, Heechul, dan jangan lupa si kembar Shim.

"Hoho.. Ini tempat umum kan? Lagipula kalau diingat lagi, kau selalu saja 'menyerang' Jaejoong.. Seperti maniak.."

"Yah! Tutup mulutmu, Choi Siwon!" mereka pun terkekeh geli karena reaksi Yunho, tak terkecuali Jaejoong.

"Kalian pura-pura sibuk berlatih untuk mesra-mesraan ya?"

"Aish!"

"Bahkan Pelatih sudah meminta kita untuk berhenti karena sudah kelas tiga, hanya kalian yang bersemangat ke gedung olahraga tapi malah untuk berbuat hal mesum.." sindir Heechul.

"Ka-kami tidak!" kali ini Jaejoong yang membantah dan melihat reaksi imut si gadis tomboy itu, mereka lagi-lagi tertawa.

Mungkin bagi mereka rasanya begitu menyenangkan saat bisa menggoda pasangan konyol ini.

"Ya sudah.. Kami kemari untuk mencari kalian.. Pelatih akan mengadakan pesta perpisahan untuk kita dari tim basket.. Kajja.." ajak Miyoung yang lalu mendekati Jaejoong, membantu gadis itu bangun dengan menarik kedua lengannya.

"Ah, dipikir-pikir rasanya sedih juga harus berhenti dari tim basket kita.." Donghae meletakkan tangannya di belakang kepala sambil menatap Yunho yang ikut bangun.

"Mau bagaimana lagi, sudah dua setengah tahun lebih kan? Ohya, kudengar kau akan masuk Hanyang?" Tanya Yunho pada Donghae.

"Yah.. Bersama Junsu dan Heechul jadi aku merasa lebih berani.." Mantan ketua tim basket itu tersenyum penuh keyakinan, Yunho menepuk pundaknya.

"Kalian akan melanjutkan kemana?" Jaejoong bertanya pada duo Shim yang tak banyak bicara sejak tadi.

"Kami mungkin akan mengambil Kyunghee, kalau tidak lulus kami akan pulang ke Busan..." Jawab Changmin sementara Miyoung mengangguk setuju.

"Kau?" Yunho menatap pada Siwon kini.

"Appa ingin aku masuk Inha jadi kurasa aku harus mencobanya.." jawabnya sambil menggendikkan bahu.

Mereka pun berbincang sambil keluar dari gedung itu, bagaimanapun pasti Pelatih dan anggota tim lain sudah menunggu mereka kan?

"Kalian sendiri bagaimana? Jangan bilang kalian mau menikah dulu?" iseng Siwon saat Yunho dan Jaejoong yang tersisa.

"Ani.. Tentu saja tidak mungkin begitu! Aku.. Targetku mungkin terlalu tinggi, tapi aku ingin mencobanya bersama Yunho.." Jaejoong menatap satu persatu dari mereka yang juga menatapnya.

"Kami memilih SNU.."

"Mwoya?!"

Jawaban Yunho segera mendapat protes keras dari yang lain. Tapi mereka berdua hanya tertawa.

"Iya, kami tahu SNU itu terlalu sulit.. Tapi kami harus optimis kan?" Yunho menggenggam erat tangan Jaejoong yang juga tersenyum penuh optimisme.

"Yah.. Kalau Yunho yang membawa sih, bisa jadi juga kan mereka lulus?" Miyoung ikut menatap yang lain.

"Iya juga sih.."

"Yang penting harus berusaha kan?"

"Aishh.. Sudahlah, pasangan suami-istri ini memang tidak bisa dikalahkan.."

Mereka pun tergelak karena ucapan Heechul dan tetap berjalan bersama menuju luar sekolah.

.

.

.

Yah, untuk sementara semua berjalan lancar. Meski kami tidak pernah tahu akan ada apa nantinya.

Tapi selama kami berdua, aku tak akan takut untuk menghadapinya. Karena ada Jaejoong disisiku.

Dan yang terpenting, hari-hari kami baru saja dimulai.

.

.

.

.

FIN

.

.

Secretive J is officially END! Terima kasih buat semua yang udah sempetin baca, review, follow, favorite atau sekedar ngintip ini ff.. Hehe..

Epilog ini saya bikin pake Yunho's POV sambil mikir mungkin seru juga kalo readers tau perasaan Yunho karena 16 chapter Secretive J cuma fokus ama Jaejoong.

Saya minta maaf kalo fic ini masih banyak kekurangan, juga epilog yang kurang seru. Saya udah berusaha loh! :D

Semoga kalian gak bosen ama tulisan saya dan bagi yang berminat, silahkan baca karya saya yang lain ^^

Ok thanks everyone! Love u so much and see ya! ^_^