Ketika Hiashi menyuruh Hinata untuk mencari pendamping hidup seseorang yang bermata hitam karena permintaan mendiang istrinya, Hinata bingung mencari jalan keluarnya. Dapatkah Hinata memenuhi permintaan mendiang ibunya itu? Semenjak Sasuke datang semuanya berubah / 'Kata Ayah, Ibu ingin cucu bermata hitam? Yang benar saja. Kemana aku harus mencari calon suami bermata hitam, padahal kan aku masih SMA, masih terlalu jauh untuk menikah' /. AU / SasuHina / typos / ide pasaran / crack pair, / bahasa campuran / dll / mind to RnR? :D /
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Story : Fujiwara Hana
Title : Finding Future Husband
Pair : SasuHina -always-
Cerita murni saya sendiri (walaupun ide pasaran), kesamaan watak tokoh, setting, dan lainnya merupakan kebetulan.
Warning : AU, SasuHina, typos, ide pasaran, crack pair, bahasa campuran, EYD yang buruk, dll, mind to RnR?
~Happy Reading Minna-san~
Preview chapter :
"Ah Hanabi-chan, nee-chan tidak apa-apa, mungkin hanya mengantuk," kebohongan Hinata yang sangat sulit dipercayai oleh adiknya.
"Ya sudah, jangan mengeluarkan suara bisik-bisik lagi, mengerikan," Hanabi mengedikkan bahunya sesaat sebelum pergi dan menuju kamar tidurnya.
Chapter 3
-oOo-
Pagi berjalan seperti biasanya. Kelas yang sepi semakin lama semakin ramai. Guru-guru juga begitu, ada yang terlihat di sepanjang koridor dan ada pula yang masih betah di kantor. Hinata duduk dibangkunya sambil belajar mata pelajaran jam pertama. Untung hari ini guru yang mengajar jam pertama masih belum datang, jadi ia punya waktu untuk memikirkan orang yang kemarin ia lihat, rasanya wajah orang itu terasa familiar dengan teman sekelasnya. Mencoba mengingat-ingat wajah orang tersebut Hinata sampai lupa bahwa guru yang mengajar sudah masuk kelas.
"Hyuuga," seseorang mengagetkan Hinata dari arah belakang tempat duduknya.
"Y-ya Uchiha-san?" Tanya Hinata gugup. Uchiha Sasuke memang murid yang sama sekali tidak akrab dengannya dan terkesan dingin dan angkuh walaupun bisa dibilang sangat tampan. Ia pun hanya memiliki beberapa teman dekat, diantaranya Naruto, Sai, dan Gaara.
"Pinjamkan aku bolpoin,"
"S-sebentar aku a-ambil dulu," Hinata segera mengaduk tempat pensilnya. Setelah ketemu apa yang ia cari ia langsung memberikannya pada si peminjam.
"S-silahkan Uchiha-san," Hinata menyodorkan sebuah bolpoin biru tua yang segera disambar oleh Sasuke.
Kelas dilanjutkan dengan guru yang sudah siap sedia memegang buku di tangannya.
Teng teng teng. Tak terasa kelas sudah berganti. Bunyi bel istirahat menyebabkan seluruh siswa bergerumul keluar kelas untuk pergi ke kantin ataupun keluar kelas hanya untuk menghirup udara segar. Hinata pun begitu, sebelum ia mendengar seseorang memanggilnya.
"Hyuuga ini bolpoinmu, terima kasih,"
"E-eh ya Uchiha-san, sama-sama," Hinata segera mengambil bolpoin yang ada ditangan Sasuke.
"Satu hal lagi Hyuuga-" Sasuke memperkecil jarak keduanya. Mendekatkan mulutnya kearah telinga Hinata yang sudah memerah sempurna dan membisikkan sesuatu."-kalau sedang berbicara dengan orang lain, lihatlah matanya."
Hinata hanya mematung setelah Sasuke pergi. Masih terngiang diotaknya kata-kata Sasuke, 'sepertinya aku sudah menyinggung perasaannya' gumam Hinata pelan. Dan ia juga melupakan fakta bahwa Uchiha jarang sekali mengucapkan kata 'terima kasih'.
"Hei Hinata!" suara cempreng Ino membuyarkan lamunannya.
"Ah Ino-chan mengagetkanku saja,"
"Kyaaa! Aku senang sekali hari ini!" Ino memeluk leher Hinata erat-erat sedangkan Hinata berusaha melepaskan cengkeraman lengan Ino di lehernya yang terasa sesak.
"Aku tahu Ino-chan sedang senang, tapi tidak perlu sampai mencekikku 'kan?" Hinata pura-pura cemberut menghadapi sahabatnya yang kelewat histeris ini.
"Aku tidak mencekikmu tahu, kau saja yang lebay," Ino menjulurkan lidahnya.
"Ya ya ya, aku mengalah. Jadi apa alasanmu berteriak-teriak?"
"Kau tahu? Shikamaru kemarin memberiku kalung yang indah sekali. Kyaa, aku senang sekali!"
"Siapa dia?"
Ino menepuk dahi Hinata pelan memastikan bahwa Hinata tidak hilang ingatan hari ini. "Tidak panas,"
"Aku tidak sedang sakit Ino-chan," Hinata menyingkirkan tangan Ino dari dahinya, "jadi siapa itu Shikamaru?"
"Bukankah aku sudah cerita padamu tentang hubunganku dengan dia?"
"Oh maaf, mungkin waktu itu aku tidak mendengarkan," sahut Hinata kalem.
"Sudah kuduga, Hinata-chan akhir-akhir ini sering melamun," Ino menggumam pelan, "tapi ngomong-ngomong soal kalung, aku jadi ingat hari ini Hinata-chan tidak mengenakan kalung yang sering kali Hinata-chan pakai,"
"Eh?" Hinata segera meraba kalung di lehernya, dan ternyata apa yang dikatakan Ino memang benar, kalungnya tidak ada di lehernya. Kalungnya hilang. Dan yang paling Hinata khawatirkan ia tidak tahu kalung itu hilang dimana. Padahal itu merupakan pemberian salah satu temannya di masa lalu. Dan itu sangat berharga sekali.
Butuh 5 detik bagi Hinata untuk merespon.
"B-bagaimana ini Ino-chan? Kalungku hilang," wajah Hinata berubah pucat sendu.
"Tinggal beli saja yang baru, gampang 'kan?"
"Tapi-"
"Tapi kenapa?"
"Ano, itu kalung dari teman. Jadi bagiku itu sangat berharga,"
.
.
.
Hinata berjalan ke arah gerbang setelah bel pulang berbunyi. Hari ini ia tidak pulang seperti biasanya, biasanya ia pulang dijemput oleh kakaknya, tapi karena hari ini kakaknya sedang ada urusan lain maka ia menyuruh Hinata untuk menggunakan taksi saja. Tetapi hari ini ia memutuskan untuk menggunakan bis umum saja. Setelah dekat dengan gerbang ia tak sadar bahwa ada seseorang yang menunggunya dari tadi.
"Hei," seseorang menepuk pundaknya dari samping.
Hinata langsung menoleh setelah tahu bahwa ada seseorang yang menyentuhnya dan merasa bahwa ia pernah mendengar suara itu dulu, "Eh, kau?"
"Uchiha Sai, namamu?" Sai menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
.
.
.
Kedai es krim menjadi tempat istirahat mereka berdua. Pengunjung yang terlihat ramai menambah kesan gerah di tengah cuaca terik seperti ini. Mereka berdua memilih tempat duduk dekat jendela atas saran Hinata. Hinata terlihat duduk di depan laki-laki itu, Sai. Sebenarnya Hinata tidak terlalu percaya terhadap orang yang baru satu kali bertemu dengannya. Tapi ketika orang itu ingin berkata ingin mengatakan hal yang penting ditambah wajahnya yang menyiratkan orang yang ramah maka Hinata percaya pada orang itu.
"Jadi, apa hal penting yang ingin kau sampaikan itu?"
"Nanti saja, kita pesan dulu," senyum manis terpampang di wajahnya.
"Tapi aku tidak punya banyak waktu, jadi bisakah kita langsung ke inti pembicaraan?" Hinata mencoba menolak ajakan memesan itu.
"Begitu," Sai mengeluarkan sesuatu dari sakunya. "Ini milikmu 'kan?"
Lavender Hinata terbelalak lebar. Kalung itu memang miliknya, tapi kenapa bisa di tangan pemuda itu?
"Kutemukan di tempat kamu jatuh," seakan dapat membaca pikiran Hinata, Sai mengatakan alasan mengapa kalung itu bisa berada di tangannya.
"Oh, terima kasih sudah mengembalikannya," Hinata tersenyum tulus dan segera mengambil kalung itu di tangan Sai.
"Eitss, siapa bilang aku mau mengembalikannya?" Sai menarik tangannya, senyum menggoda Sai tampak di wajah pucatnya.
Alis Hinata berkerut. Bingung dengan semua ini.
"Tapi tadi kau bilang-"
"Aku hanya tanya ini milikmu, bukan berarti aku ingin mengembalikannya 'kan?"
Hinata baru tahu kalau Sai pandai memainkan kata-kata. Menghela napas sejenak, Hinata mengajukan pertanyaan, "Jadi aku harus bayar berapa untuk menebusnya?"
"Memang aku terlihat seperti pemeras?"
"Menurutku iya,"
"Bagaimana kalau aku tidak menginginkan uang?"
"Lalu apa yang kau inginkan?"
Sai memasang wajah serius. Menatap Hinata dalam diam dan konsentrasi penuh, "Awasi Uchiha Sasuke,"
.
.
.
Pelajaran hari kamis jam ke 3 dan 4 adalah olahraga. Merupakan pelajaran yang menyenangkan bagi murid-murid kecuali Hinata. Hinata memang mudah lelah jika berurusan dengan olahraga, karena fisiknya yang lemah. Hinata dan teman-teman sekelasnya segera pergi ke ruang ganti untuk bersiap-siap, mereka langsung menuju lapangan olahraga untuk memulai pelajarannya.
"Pagi anak-anak. Hari ini kita akan belajar tentang basket. Seperti yang kita ketahui ada 3 teknik dalam permainan bola basket yaitu dribble, passing, dan shooting," Kakashi-sensei membuka pelajaran dengan semangat. "Sekarang kita bagi menjadi kelompok kecil. Satu kelompok 2 orang, laki-laki dan perempuan. Ini bertujuan untuk menyeimbangkan kemampuan dalam satu tim. Naruto-Shion, Gaara-Karin, Shikamaru-Ino, Sasuke-Hinata, bla bla bla-" teriak Kakashi-sensei menerangkan. "-jelas?"
"Jelas Kakashi-sensei,"
"Sekarang cari partner kalian dan mulailah latihan!"
Murid-murid segera mencari partner masing-masing. Hinata terlihat mengahampiri partnernya-Sasuke- yang sedang memilih bola basket yang akan digunakannya nanti.
"Uchiha-san b-bagaimana k-kalau kita mulai s-sekarang?" Ujar Hinata pelan takut mengganggu. Ia teringat aka ucapan Sai kemarin, jadi ia memutuskan akan mengawasi Uchiha Sasuke setelah mendapat kalungnya kembali.
"Boleh," Sasuke berdiri setelah berhasil menemukan bola yang ia inginkan. Tangan halus Hinata ia gandeng dan berjalan menuju lapangan bergabung dengan yang lain. Hinata hanya kaget, ingin protes tapi tidak berani.
"Nah Hyuuga, apakah kau sudah menguasai semua teknik-teknik basket?" Sasuke men-dribble bola dengan lihai dan cepat. Hinata yang melihatnya kagum dan langsung menjawab pertanyaan Sasuke.
"Y-yang sudah aku kuasai hanya dribble, sedangkan yang lain belum aku kuasai,"
"Baiklah, akan kuajarkan passing dan shooting-nya," Sasuke berjalan mendekati sulung Hyuuga, "Ada 3 jenis passing, bounce pass, chess pass, dan overhead pass. Bounce pass dilakukan dengan cara bola dipantulkan dilantai, teknik ini dilakukan jika lawan yang kita hadapi lebih tinggi dari kita. Coba kau praktekkan,"
"T-tapi aku b-belum b-bisa. Bisakah Uchiha-san mengajariku?"
"Baiklah," bola baket berpindah ketangan Hinata. Sasuke berdiri dibelakang Hinata, dengan tangan kiri dan kanannya berada disisi badan Hinata. Hinata hanya berdebar karena baru kali ini ia berada jarak yang sangat dekat dengan Sasuke, bahkan dada bidang Sasuke menyentuh punggung Hinata. Bahkan suara Sasuke tentang sikap yang tepat ketika melakukan gerakan shooting tidak terdengar telinganya. Nafas Sasuke terasa di telinga kanan Hinata. Rasanya Hinata ingin pingsan saja sekarang. Dan benar saja ...
"Oi Hyuuga jangan pingsan!" Sasuke panik dan langsung menggendong Hinata untuk dibawa ke UKS yang sebelumnya sudah meminta izin pada Kakashi-sensei.
.
.
.
Hinata membuka matanya. Plafon UKS yang pertama kali ia lihat. Setelah cukup sadar untuk memahami apa yang terjadi, ia melihat seseorang sedang menunggunya di samping tempat tidur.
"U-uchiha-san? Kaukah yang membawaku kesini?"
"Hn, siapa lagi kalau bukan aku? Memangnya ada orang lain selain aku yang kuat menggendongmu?"
"Memangnya tubuhku seberat itu?" bersama-sama cukup lama dengan orang yang cukup asing baginya membuat Hinata cukup akrab.
"Tentu saja. Karena tubuh bagian depan-belakangmu 'berisi' semua,"
"Me-mesum,"
"Siapa yang mesum? Aku hanya mengatakan kebenarannya. Oh iya, setelah aku pikir-pikir kamu lebih cocok menggunakan bounce pass,"
"B-benarkah?"
"Tentu saja, karena kamu pendek,"
"Jahatnya,"
Tanpa sadar keduanya tersenyum lepas.
"Oh ya, bisakah kau memanggilku Sasuke? Aku juga akan memanggilmu Hinata agar terlihat lebih akrab,"
"Baiklah Sasuke-san," ucap Hinata dengan tersenyum dan pipi merona. Sasuke yang tiba-tiba mengeliminasi jarak diantara mereka dengan mendekatkan wajahnya membuat Hinata bingung dan kaget.
"Hinata?"
"Y-ya Sasuke-san?"
"Bisakah kau-" Sasuke menggantungkan kalimatnya membuat Hinata menunggu "-meniupkan mataku? Sepertinya ada sesuatu dimataku," Hinata menghembuskan nafas lega, ternyata ia salah mengira Sasuke akan berbuat yang tidak-tidak padanya. Segera ia menatap mata Sasuke. Indah. Baru sekarang ia menyadari indahnya mata Sasuke. Hitam. Kelam. Eh? Sepertinya ia teringat sesuatu.
"Menikmati pemandangan bagus, huh?"
"E-eh? T-tidak kok," untuk menghilangkan kegugupannya Hinata langsung menempelkan kedua telapak tangannya dimasing-masing samping kepala Sasuke dan langsung mendekatkan wajahnya untuk meniup mata Sasuke yang tanpa sadar Sasuke juga kaget akan tindakan tiba-tiba Hinata. Hembusan angin dimata Sasuke bagai oase di padang pasir, menyejukkan. Hinata tidak yakin jika Sasuke tidak mendengar debaran jantungnya saat ini. Irama jantungnya yang akan semakin menggila jika tidak ia kendalikan dengan hati-hati. Hinata tidak tahu mengapa ketika dekat dengan Sasuke rasanya aneh begini, tetapi juga rasanya hangat. Dan yang terpenting, Hinata juga tidak tahu bahwa saat ini Sasuke sedang tersenyum tulus.
-oOo-
To be continue...
Yang log in udah tak bales lewat PM ya
makasih yang udah ngefollow:
ookami child
Shuuhi-sama
Shine and SHA
Special Thanks to:
ookami child
katsumi: makasih , thanks reviewnya,,
Kimura Megumi
hana37: makasih reviewnya jangan lupa baca lagi ya, ni dah dilanjut,,hehe
Mind to RnR?
Thanks :D
