Ketika Hiashi menyuruh Hinata untuk mencari pendamping hidup seseorang yang bermata hitam karena permintaan mendiang istrinya, Hinata bingung mencari jalan keluarnya. Dapatkah Hinata memenuhi permintaan mendiang ibunya itu? Semenjak Sasuke datang semuanya berubah / 'Kata Ayah, Ibu ingin cucu bermata hitam? Yang benar saja. Kemana aku harus mencari calon suami bermata hitam, padahal kan aku masih SMA, masih terlalu jauh untuk menikah' / AU / SasuHina / typos / ide pasaran / crack pair, / bahasa campuran / dll / mind to RnR? :D /
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Story : Fujiwara Hana
Title : Finding Future Husband
Pair : SasuHina -always-
Cerita murni saya sendiri (walaupun ide pasaran), kesamaan watak tokoh, setting, dan lainnya merupakan kebetulan.
Warning : AU, SasuHina, typos, ide pasaran, crack pair, bahasa campuran, EYD yang buruk, dll, mind to RnR?
~Happy Reading Minna-san~
Preview chapter :
"Menikmati pemandangan bagus, huh?"
"E-eh? T-tidak kok," untuk menghilangkan kegugupannya Hinata langsung menempelkan kedua telapak tangannya dimasing-masing samping kepala Sasuke dan langsung mendekatkan wajahnya untuk meniup mata Sasuke. Hembusan angin dimata Sasuke bagai oase di padang pasir, menyejukkan. Hinata tidak yakin jika Sasuke tidak mendengar debaran jantungnya saat ini. Irama jantungnya yang semakin menggila jika tidak ia kendalikan dengan hati-hati. Hinata juga tidak tahu bahwa saat ini Sasuke sedang tersenyum tulus.
Chapter 4 (Last)
-oOo-
Televisi menyala menampilkan iklan camilan yang digemari anak-anak muda zaman sekarang. Didepannya duduk Hanabi sambil bersila, memangku toples berisi makanan ringan yang dibeli Hiashi kemarin. Hinata terlihat didepan pintu sambil melepaskan sepatu sekolahnya. Tangan kanannya memegang beberapa buku paket berwarna-warni.
"Tadaima,"
"Okaeri," Hanabi melanjutkan menonton televisi setelah menjawab salam Hinata. Ia kembali menoleh kearah Hinata setelah ingat sesuatu.
"Ah nee-chan aku ingat sesuatu, apakah nee-chan sudah menemukan laki-laki yang akan menjadi suami nee-chan?" Tanya Hanabi penasaran. Hinata yang baru pulang dari sekolah langsung menghampiri Hanabi.
Hinata meletakkan jemari telunjuknya di dagu, "Eto... Nee-chan belum menemukannya, apakah Hanabi-chan bisa membantu nee-chan?"
Hanabi tampak berfikir sejenak, "Emm, bagaimana dengan Sasuke-nii. Selain tampan dia juga kaya lho,"
"Eh! Bagaimana kau bisa tahu tentang Sasuke-nii?" Tanya Hinata bingung, padahal ia tidak pernah bercerita tentang Sasuke pada Hanabi.
"Apakah nee-chan ingat waktu aku ke sekolah nee-chan? Aku sempat melihat orang dengan nama Sasuke Uchiha, menurutku dia sepertinya melihat nee-chan terus. Dia tampan dan bermata hitam. Aku juga dengar pembicaraan teman-teman nee-chan bahwa Sasuke-nii itu kaya," jelas Hanabi panjang lebar.
"Oh begitu ya. Tapi sepertinya nee-chan tidak pantas dengan dengan Sasuke-nii, soalnya Sasuke-nii itu kan popular, sedangkan nee-chan hanya murid biasa," ujar Hinata lesu.
"Oh ayolah nee-chan, memangnya dalam suatu hubungan harus sama-sama terkenal? Sama-sama kaya? Tidak 'kan? Jadi jangan pernah menyerah untuk mendapatkan Sasuke-nii," sahut Hanabi penuh semangat.
"Baiklah, nee-chan akan berusaha," Hinata sendiri tidak tahu maksud dari jawabannya tadi.
Hinata meletakkan tasnya diatas meja. Setelah mengganti seragamnya dengan baju biasa, ia mulai merebahkan tubuhnya ditempat tidur. Tangan kanannya ia gunakan untuk menutupi dahinya.
Hinata's POV
Hari ini melelahkan sekali. Sudah susah-susah latihan passing tapi malah pingsan segala, menyebalkan. Dan mata hitam itu seolah menghipnotisku agar terus menatapnya. Matanya begitu menawan. Kesadaranku perlahan menguap ketika berada didekatnya. Kuletakkan tangan kiriku didadaku perlahan, mengikuti irama denyut jantungku yang terasa berdesir. Masih bisa kurasakan kuatnya debaran jantungku saat didekat Sasuke. Rasanya ingin meledak saja. Apa artinya ini? Mungkinkah aku mulai menaruh hati pada Sasuke?
End of Hinata's POV
.
.
.
"Otouto, bagaimana kabar Hinata-chan?" Tanya Itachi tiba-tiba. Ia memang suka menggoda adiknya yang tampan itu.
"Hn, baik-baik saja. Tidak ada hubungannya denganmu 'kan? Jadi kenapa bertanya-tanya? Dan hentikan panggilan Hinata-chan itu, memangnya kau seakrab itu dengan Hinata?"
"Dia 'kan calon adik iparku, jadi wajar saja aku bertanya,"
"Hn,"
"Oh ya Sasuke, aku sudah melaksanakan perintahmu, jadi jangan bilang pada Okaa-san kalau aku sering membolos ya," Sai ikut-ikutan acara mengobrol Itachi dan Sasuke.
Sasuke hanya tersenyum misterius.
Sasuke masuk kekamarnya yang berada dilantai atas. Menutup pintu dengan kasar, kemudian berdiri disamping pintu. Kedua tangannya dimasukkan ke celana.
Punggungnya yang menempel didinding berkeringat, mengingat kejadian di UKS tadi siang membuat suhu tubuhnya lebih panas. Mungkin ia demam. Dan ia butuh tidur saat ini, untuk mengistirahatkan tubuhnya yang terlalu lelah.
.
.
.
Sepulang sekolah Sasuke meminta Hinata untuk menemuinya di taman sekolah. Hinata hanya menurutinya tanpa tahu apa yang akan disampaikan nanti. Tiba di taman Hinata melihat Sasuke tengah duduk di taman. Tangannya menepuk bangku disebelahnya menyuruh Hinata untuk segera duduk disebelahnya.
"Ada perlu apa Sasuke-san mengajakku kemari?" Tanya Hinata bingung setelah mendudukkan dirinya disebelah Sasuke.
"Memangnya harus ada alasan aku memanggilmu kemari?"
"T-tidak juga sih," Hinata menjawab ragu.
"Kau itu lucu sekali Hinata," kata Sasuke, "Kau tahu Hinata? Beberapa minggu ini aku sulit sekali tidur, dikelas juga tidak konsentrasi. Kau tahu penyebabnya?"
"K-kenapa bisa begitu? Jelas saja aku tidak tahu, memangnya kenapa bisa terjadi?"
"Saat dikelas aku tidak bisa konsentrasi karena didepanku duduk seorang gadis cantik, rambutnya gelap panjang, matanya sewarna bulan, dan kulitnya seputih dan sehalus salju. Dirumah aku tidak bisa tidur karena terus memikirkannya. Aku membayangkan bagaimana rasanya bila memiliki gadis itu. Rasanya sulit sekali menghilangkan semua pikiran itu dari otakku,"
"Ehm, S-sasuke-san a-apakah y-yang k-kau maksud itu a-aku?" Hinata ragu-ragu menanyakannya. Tangan Hinata yang saling bertautan tidak berhenti bergetar.
"Ya tentu saja, siapa lagi kalau bukan kau?" Hinata hanya dapat merona mendengarnya. Ia sangat senang perasaannya terbalas. Hinata tersentak ketika tangan kanan Sasuke menggenggam erat tangan kanannya.
"Jadi Hinata Hyuuga, bersediakah engkau menjadi kekasih Sasuke Uchiha dalam keadaan sehat ataupun sakit kaya ataupun miskin. Sasuke berjanji akan membahagiakan Hinata Hyuuga dalam keadaan sehat ataupun sakit, kaya ataupun miskin," pinta Sasuke tulus.
"T-tentu saja Sasuke-kun," ucap Hinata senang sekaligus terharu terhadap pernyataan cinta Sasuke yang unik. Sasuke memeluk Hinata erat. Ia sangat senang ternyata penantiannya tidak sia-sia.
"Terima kasih Hime," ucap Sasuke disela-sela pelukannya. Setelah dirasa cukup Sasuke segera melepaskan pelukannya.
"Sama-sama. Kau tahu Sasuke-kun, Hanabi sepertinya mendukung sekali kalau kita memiliki hubungan khusus, maksudku pacaran. Kenapa ya?"
"Eh, soal itu sebenarnya begini," cerita Sasuke.
Flashback
Sasuke yang sudah naksir berat sama Hinata akhirnya meminta bantuan kepada adik Hinata yaitu Hanabi.
"Hei kau adik Hinata 'kan?" Tanya Sasuke seraya menepuk pundak Hanabi. Sasuke sudah pernah bertemu sekali dengan Hanabi dirumah Neji-juga rumah Hinata-ketika sedang mengerjakan tugas bersama. Jadi, ia masih ingat. Tetapi sepertinya Hinata dan Hanabi tidak tahu kalau Sasuke pernah berkunjung ke rumah mereka. Mendengar ada seseorang yang memanggilnya, Hanabi menoleh.
"Iya, memangnya kakak siapa?"
"Aku teman Hinata. Boleh meminta waktumu sebentar?"
"Emm, berhubung kakak tampan, boleh lah. Nama kakak siapa? Aku Hanabi."
"Sasuke Uchiha. Panggil saja Sasuke-nii."
"Lalu apa yang ingin Sasuke-nii katakan?"
"Jadi begini, Sasuke-nii sudah lama sekali menyukai kakakmu, Hinata. Tetapi sepertinya kakakmu tidak tertarik dengan Sasuke-nii. Jadi maukah Hanabi yang cantik ini membantu Sasuke-nii?" Sasuke belajar merayu dari Sai, ada untungnya juga Sai mempunyai kelebihan merayu.
"Bagaimana ya? Apa imbalan yang kudapatkan?"
"Tentu saja kau akan mendapat kakak ipar yang tampan dan keponakan yang imut,"
"Imbalan yang lain?"
"Apa yang Hanabi minta?"
"Apakah Sasuke-nii punya saudara laki-laki?"
"Ya, ada 1. Namanya Itachi, dia juga tampan. Bagaimana? Barter?"
"Baiklah setuju. Sasuke-nii mendapatkan Hinata dan aku mendapatkan Itachi-nii,"
"Ok, deal. Lalu bagaimana caraku mendapatkan Hinata?"
"Biarkan aku berpikir-" Hanabi memasang pose berpikir, "-hei bagaimana kalau aku bilang pada Hinata-nee bahwa mendiang Ibu menginginkan cucu bermata hitam? Dengan begitu Sasuke-nii pasti masuk dalam daftar calon suami Hinata-nee."
"Cerdas. Itu ide yang sangat brilliant,"
End of flashback
"Jadi begitu Hime, kau tidak marah 'kan?"
"..."
"Hime? Tolong katakan sesuatu. Aku melakukan semua ini untukmu."
"..."
"Jadi, kalau aku tidak meminta Hanabi berbohong kepadamu kau akan menolakku? Kau menerimaku hanya karena ingin memenuhi keinginan ibumu?"
"T-tentu saja tidak Sasuke-kun. Aku benar-benar mencintaimu. T-tadi aku hanya ingin menggodamu, jangan marah Sasuke-kun,"
"..."
"Sasuke-kun,"
"Aku akan memaafkanmu tapi ada syaratnya,"
"A-apa syaratnya?"
"Cium aku,"
"A-apa?"
"Aku yakin kau mendengarnya Hime. Sekarang. Kalau kau tidak mau aku tidak akan pernah memaafkanmu,"
"B-baiklah. Tutup matamu," Sasuke segera menutup matanya menyambut kecupan dari Hinata. Satu kecupan ringan mendarat di pipi kanan Sasuke.
"Kenapa dipipi?"
"Kan Sasuke-kun hanya bilang 'cium aku' tidak ada peraturan dimana aku harus menciummu kan?"
"Kau memang cerdik Hime. Tunggu saja pembalasanku,"-yang lebih kejam. Sasuke tersenyum mesum yang dibalas cubitan dipinggang dari Hinata.
.
.
.
"Hei Otouto, kau tahu nomor siapa ini?" Itachi menunjukkan layar handpone yang menampilkan sebuah nomor asing.
"Hn, itu adik Hinata. Aku memberikan nomormu padanya karena ia berjanji akan mendekatkan aku dengan Hinata,"
"Jadi kau menjual kakak kandungmu sendiri? Kejam sekali kau Sasuke,"
"Jika itu menguntungkanku kenapa tidak?"
"Tapi ngomong-ngomong apakah adik Hinata cantik seperti kakaknya?"
"Yah tentu saja,"
"Terima kasih Otouto,"
"Hn,"
.
.
.
Hari sabtu sepulang sekolah Hinata berkunjung ke rumah Sasuke. Akhir pekan dimanfaatkan Hinata untuk mengunjungi -calon-mertuanya. Sesampainya dipintu kediaman Uchiha, Hinata melepaskan sepatunya dan berjalan mengekor dibelakang Sasuke. Setelah menyuruh Hinata untuk menunggu diruang tamu, Sasuke menuju kekamarnya untuk berganti pakaian. Hinata mengamati ruang tamu kediaman Uchiha yang begitu mewah dengan lukisan terkenal yang menempel erat disetiap dindingnya.
"Kyaa, ini yang namanya Hinata-chan ya? Ternyata lebih manis dibanding yang difoto," tiba-tiba ibu Sasuke, Mikoto berhambur menghampiri Hinata diruang tamu dan memeluknya erat.
"I-iya bi," jawab Hinata kaget.
"Bisakah ibu tidak berteriak?" Sasuke datang dari lantai dua dengan mengenakan kaos hitam longgar dibadan atletisnya.
"Tidak apa-apa 'kan Hinata-chan? Bibi memang dari dulu menginginkan anak perempuan yang manis seperti Hinata-chan. Dikelilingi laki-laki super duper cuek dan angkuh membuat bibi suntuk dirumah,"
"I-iya, tidak apa-apa bi," Hinata hanya menjawab kikuk. Sementara Sasuke memutar bola matanya bosan. Setetlahnya ia mengambil tempat duduk disebelah Hinata.
"Jadi Sasuke, kapan ibu akan mendapatkan cucu yang lucu bermata hitam?" Tanya Mikoto antusias. Hinata syok sementara Sasuke tersedak jus jeruk yang diminumnya.
"D-darimana ibu tahu soal itu?!" Teriak Sasuke terkejut, baru kali ini ia tergagap, mungkin karena telah jatuh hati pada Hinata jadi tertular kebiasaannya. Bagaimana ibunya bisa tahu mengenai hal itu?
"Hohoho, kemarin Itachi menceritakan semuanya pada ibu. Katanya ia tahu dari Hanabi, adik Hinata," jelas Mikoto. Sasuke kaget sementara Hinata masih berblushing ria. Sasuke mengepalkan tangannya erat. Ia harus menyusun strategi untuk membalas Itachi. Pantas saja kemarin Itachi senyum-senyum tidak jelas saat menatap layar HP. Rupanya ia mengorek semua informasi dari Hanabi. 'Awas saja Itachi' batin Sasuke.
"Jadi bagaimana Sasuke?" Mikoto menanti penuh perhatian menantikan jawaban Sasuke. Sedangkan Sasuke memijit pelipisnya.
"Ibu kan tahu kalau kami belum menikah, masih sekolah. Bagaimana bisa punya anak? Aku janji, setelah kami menikah kami akan memberikan banyak cucu yang imut dan lucu," Sasuke berjanji dengan bersungguh-sungguh. Hinata hanya terbengong-bengong mendengar pernyataan Sasuke yang blak-blakan.
"Benarkah?!" Mikoto berbinar-binar sambil merapatkan kedua tangannya seperti memohon. Dengan cepat ia memeluk Hinata yang tengah membeku.
~OWARI~
Special Thanks to:
Semua reader & yang udah nge-fav, follow dan review, makasih banyak : ),
Clara Merisa, EvieAmaliaNoorz, .31, Shine and SHA, Shuuhi-sama, choiminmi, ookami child.
Shine and SHA : iya, Sasuke emang sukanya modus,wkwk. Sai nggak jahat kok, Cuma jadi suruhan Sasuke doang. Itachi sama Naruto nggak muncul deh, soalnya chapnya udah habis, kalau ada fic baru bakal muncul deh itu berdua, Hanako Kiyoshi, aindri961, ookami child, katsumi, Kimura Megumi, hana37, hinatauchiha69 : ini udah lanjut, makasih , Syuchi Hyu : ini udah lanjut. Makasih kembali : ), Clara Merisa : ini udah lanjut, makasih ya. Semangat kembali : ), haana : ini udah apdet, makasih ya, Luna Sasuhina : makasih : ), jadi Sai itu disuruh Sasuke bilang ke Hinata biar Hinata ngelirik Sasuke gitu, hehe. Makasih ya,,
Last, mind to review?
Arigatou
