.

.

.

Death Note (c) Tsugumi Ohba and Takeshi Obata

Tangle (c) MooMoo

.

.

.

t a n g l e

the harder you get, the better you tasted

.

.

.

7

(Ile de la Tortue, Haiti, Hispaniola.

30.000 feet above the sky)

Pesawat yang disiapkan untuk perjalanan adalah pesawat angkut ringan, dipinjam dari suatu departemen — menurut analisis Matt, dicurigai sebagai NYPD saking tidak nyamannya pesawat itu (sejak dulu Agent sektor New York dan NYPD bagaikan musuh dalam satu kandang). Pesawat itu bukan hanya tidak nyaman, melainkan juga definisi dari neraka. Sempit dan sesak, terlampau kecil untuk mengangkut berpuluh-puluh Agent berseragam lengkap dan bersenjata berat. Mereka terpaksa duduk berdesakan di kabin, tergoncang-goncang tanpa seatbelt, dengan kapasitas oksigen setipis kertas.

Pengap dan panas dan menyebalkan dan telinga berdenging.

"Ini seperti adegan di game Bio Hazard. " setelah sekian lama bisu akhirnya Matt mulai buka suara. Namun Mello tahu—oh, Mello bisa membacanya dengan jelas, seperti halnya Matt memahami dirinya—dari cara Matt duduk memeluk lutut dan bukannya meluruskan kaki dengan semena-mena, rekan di sampingnya itu pastilah sedang gugup.

Teramat gugup, malahan. Trauma Matt pada lipan berbanding lurus dengan dendam Mello terhadap laba-laba.

"Ini seperti adegan di game Bio Hazard," tegasnya lagi "agen polisi melawan monster buas dalam kastil di hutan. Bedanya cuma dua; kita melawan serangga alih-alih mayat berjalan, dan partnerku bukan seorang wanita seksi—tapi pria membosankan sepertimu."

"Well, maaf kalau aku membosankan, Matters." dengkurnya arogan. "Tapi menurut puluhan wanita yang berbagi ranjang denganku, aku ini sangat adiktif."

"Kutebak puluhan wanita itu adalah tante-tante frustasi yang butuh pelampiasan."

"Kau cuma iri karena jarang dilirik wanita, Matty-boy. Karena kamu cuma bisa menarik perhatian om-om homo."

Bulu kuduknya bergidik. Curang, kenapa Mello sampai tega mengungkit hal itu? Kenyataan bahwa dia sering menarik perhatian pria paruh baya dengan orientasi seksual menyimpang adalah lembaran paling kelabu dalam biografi seorang Mail Jeevas.

Lelaki mana yang tidak trauma kalau dia pernah ditaksir om-om?

Maaf saja, Matt masih terangsang dengan payudara dan vagina, bukannya penis...

...dan kumis.

"Yah, mungkin kau memang hebat di atas ranjang—tapi kebanyakan hanya one night stand, kan?" Matt berusaha mengalihkan pembicaraan, telunjuk panjangnya yang terbebat sarung tangan kulit tampak menuding. "Yang bertahan lebih dari tiga bulan cuma Halle, itupun berakhir tragis. Aku tidak habis pikir kalian putus hanya karena satu alasan bodoh."

Meski wajah tampan Matt terhalang visor, namun Mello tahu kalau dua kelereng sehijau lumut itu tengah mendelik ke arah Halle Bullook— atau juga Agent Lidner. Wanita itu duduk beberapa meter dari tempat mereka, menyilang kedua kakinya dengan anggun, tangan rapat terlipat, sesekali mengangguk untuk menanggapi rekannya dari samping. Penampilannya sedikit angkuh dan begitu lantang meminta perhatian, seperti seorang ratu di tengah kumpulan rakyatnya, sosoknya sukses mencuri perhatian para pria.

Mello yang paling tahu akan hal itu.

.

.

"Kami terlalu sering bertengkar, Matt.", dia meniru suara Mello.

Itulah jawaban Mello beberapa bulan lalu ketika Matt menuntut penjelasan kenapa temannya itu mau saja berpisah dengan Halle

Kami terlalu sering bertengkar, Matt.

Sampai sekarang pun Matt tidak habis pikir.

.

.

Rasanya mereka lancar-lancar saja. Meski tidak semesra pasangan pada umumnya (karena Mello sendiri jelas-jelas bukan tipe pria romantis dan Halle tidak pernah menuntut), tapi Matt masih ingat rasa senang yang tulus terpancar di wajah Mello setiap kali membicarakan Halle. Dia bahkan bersinar, benar-benar bersinar, secara harafiah.

Dan Matt tahu lebih dari siapapun : Mello tidak akan menyerah pada apapun yang menjadi miliknya.

Jadi kenapa?

Itulah misterinya—misteri yang belum bisa dipecahkan Matt.

Mello menggigit bagian dalam mulutnya, menolak berkomentar. Matt menghela napas."Memangnya kalian remaja yang sedang mencari jati diri? Aku masih tidak percaya kau membuang wanita hebat seperti itu hanya karena sering bertengkar. Apa kau tahu arti kompromi, Mihael Keehl?"

Jemari panjang Mello tanpa sadar telah sibuk mengutak-atik senapan mesinnya. Sebuah tang mengencangkan baut pada bagian depan Picatinny rail yang terpasang pada Heckler&Koch MP7A1 di tangannya, cekatan tanpa suara, berusaha tak acuh pada kata-kata Matt yang terasa menyakitkan.

Rekannya itu tak sadar bahwa dia tengah mengorek luka lama menjadi merah kembali.

Namun Matt tidak bersalah, karena

dia tak tahu apa-apa.

.

.

Matt tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Apa yang sebenarnya terjadi ketika Mello maupun Halle memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka, dengan hati berkecamuk dan pikiran gundah dan perasaan tak rela.

Mello memang telah berbohong pada Matt.

Ketika temannya itu menuntut penjelasan akan apa yang terjadi, Mello berbohong

Kami terlalu sering bertengkar, Matt.

Itu bohong.

Mello memang sengaja menutupi segalanya pada Matt, meski dia tetap merasa bersalah karena mendusta pada orang yang paling mendekati 'teman' baginya selama bertahun-tahun. Namun semua ini bukannya tanpa alasan.

Alasan pertama, mereka—Mello maupun Halle telah sepakat agar semua ini—alasan mereka berpisah, tujuan mereka berpisah, dipendam dalam-dalam dan menjadi rahasia pribadi. Mello berjanji untuk tidak memberitahu Matt dan Halle juga tidak akan mengatakannya pada siapapun.

Alasan kedua, Mello tahu sifat Matt. Pria itu akan merasa bersalah telah menanyakannya. Dia akan tersenyum salah tingkah, berusaha menghiburnya dengan berbagai cara—dan Mello benci itu.

Alasan ketiga, sebenarnya dia tidakbelum rela melepas Halle.

Mello masihpernah mencintainya.

.

.

"Jika lima menit lagi kita belum sampai juga, aku akan terjun payung dan pulang ke New York jalan kaki."

Satu set manik berwarna langit itu mendelik bosan mendengar komplain yang tak tamat-tamat. Sudah setengah jam dia mendengar rentetan omel dan protes tanpa henti, membuat telinganya hampir berasap—meski ketidakpuasan Matt memang beralasan. Jarak antara New York dan Hispaniola tidak terlalu jauh, namun di dalam pesawat benar-benar membosankan.

"Matty, kita sekarang berada di Central Cordillera. Walau kau nekat terjun payung juga tidak akan sampai rumah, tahu! Mau dimakan buaya? Kudengar disana banyak American Crocodile."

"Apa kau meremehkan kemampuan survivalku, Mells? Butuh lebih dari buaya untuk menghentikan niatku pulang dan main Wii—aku ini One Shot Krys versi Amerika, tahu!"

Mello memutar matanya. 'One Shot Krys' adalah julukan seorang pemburu buaya wanita, Krystina Pawlowski, yang terkenal pernah merobohkan buaya terbesar di dunia hanya dengan satu tembakan peluru. "Oooh, percaya diri sekali, Mr. Mail Jeevas. Padahal kau menjerit-jerit seperti cewek kalau ada lipan di kamar mandi."

Matt memutuskan untuk tidak meneruskan topik ini lebih lanjut dan buru-buru mencari pembicaraan lain. "Tapi benar-benar, deh… Kenapa juga L menyuruh kita ke hutan belantara begini? Mendadak, pula? Cabang Kuba atau Haiti kan lebih dekat?"

Mello mengeluarkan dengus tertahan. "Apa kau serius, Matt? Para Agent Haiti itu bahkan tidak bisa menangani Varmit level 2. Cara mereka memegang machine gun saja seperti banci."

Sudah jadi pengetahuan umum bahwa Agent dari negara-negara berkembang seperti Haiti memang kurang bisa diandalkan. Baik dalam hal SDA, IPTEK, maupun pengalaman, negara-negara berkembang jauh tertinggal dengan negara maju seperti Cina atau Amerika—hal yang sama juga berlaku pada lembaga penelitiannya. Karena itu, sudah jadi urusan biasa bila negara-negara berkembang sering meminta bantuan pada negara maju, dalam hal meneliti maupun membasmi.

Mello pernah bertugas ke Birma dan Matt sempat mengalami seminggu penuh neraka di Papua. Mereka sudah menyaksikan dengan mata kepala sendiri betapa Agent dari negara berkembang itu benar-benar payah.

Hell, Agent dari Zimbabwe bahkan masih memakai tombak. Dari segala macam senjata canggih yang telah diciptakan di dunia, mereka memakai tombak.

"Oh well, mungkin bukan Haiti. Tapi bagaimana dengan Kuba?"

"Entahlah. Kuba lumayan, tapi jelas bukan tandingan Amerika—"

.

.

"— Bagaimana dengan Spanyol?"

Kepala sontak menoleh ke sumber suara. Stephen Loud alias Agent Gevanni duduk bersila di belakang Matt, bersandar di tembok pesawat dengan tangan berpangku di lutut, layar PDA miliknya bercahaya kebiruan. Setelah mereka masuk dalam pesawat, baru kali ini dia berbicara, sehingga Mello sendiri tak sadar kalau Gevanni ada begitu dekat dengan mereka.

Dalam keadaan terbalut seragam yang tertutup dari atas ke bawah, satu-satunya cara membedakan orang dari suaranya.

"Stephenie, yogamu sudah selesai?"

Pria itu tidak mengacuhkan ejekan terselubung Matt. "Sekali lagi, bagaimana dengan Spanyol?"

Satu alis di wajah cacat terbakar itu terangkat. "Kenapa tiba-tiba bertanya tentang Spanyol?"

"Bagaimana?"

Matt mengendikkan bahu. "Lumayan. Aku pernah ditempatkan disana sebelum ke Amerika—dan tidak buruk-buruk amat. Cukup profesional, malah. Seperti tentara asli"

Pria itu kembali bungkam mendengar jawaban Matt, gesturnya menunjukan kalau dia sedang berpikir.

"Kenapa kau menanyakan hal aneh begitu?"

"Oh, tidak. Tidak apa-apa."

"Kenapa?"

Gevanni menghela napas. Semua orang juga tahu betapa sulitnya menentang Mello. "Saya punya rekan di Agent sektor Barcelona yang bekerja sebagai Navigator."

"Hm."

" Meski berbeda negara tapi kami tetap kontak, terutama dengan chatting. Kadang-kadang kami bertukar informasi karena kau tahu... Betapa sulitnya mendapat informasi langsung dari L."

"Lalu?" Mello mulai tak sabar.

"—Seminggu lalu dia bercerita bahwa seratus lebih Agent dari Barcelona telah dikirim ke Hispaniola, Republik Dominika. Sebenarnya itu Top Secret, tapi dia percaya pada saya."

"Kalau itu Top Secret kenapa kau ceritakan pada kami?"

Gevanni tidak mengidahkannya.

.

.

"Dia baru saja memberitahu saya kabar terbaru tentang para Agent di Barcelona. Tidak ada yang selamat— semuanya mati, dan yang pulang hanya seperenam, itupun terkontaminasi parasit dan meninggal tak lama setelah kembali. Temannya sendiri terkena parasit dan dia baru saja meninggal. Milipedes, level 2. Mati seketika begitu mencapai ruangan isolasi tanpa sempat diberi penanganan."

Matt bergidik. "Benar-benar cerita yang tepat untuk menjadi pengantar misi melawan lipan jahanam."

"… Saya penasaran, jadi saya minta dia mengirimkan dokumen-dokumen yang ada—baru saja sampai di PDA saya. Ada gambar yang harus saya tunjukkan pada kalian—gambar lokasi kemana para Agent itu dikirim."

Matt dan Mello langsung merapat mendekati PDA yang disodorkan Gevanni. Mereka menarik napas.

.

.

"Fuckin' shit!"

Matt menyumpah.

.

.

Di layar PDA itu, ada sebuah gambar. Foto dengan kualitas yang bagus, seperti nyata berdiri di depan hidung mereka.

Sebuah kastil eropa yang ditinggalkan, jauh di dalam sebuah hutan tropis. Menjulang tinggi dengan kemegahan yang telah runtuh, tak terawat dan ditinggalkan oleh pemiliknya selama bertahun-tahun. Hutan tropis memenjarakan kastil itu dari peradaban, dan langitnya begitu hitam—tak satupun bintang maupun bulan berani berkelip.

Mello dan Matt dan berpuluh-puluh Agent di dalam pesawat ini sudah pernah melihat bangunan itu—dalam kualitas yang buruk, dengan ujung-ujung blur dan bergoyang.

Namun mereka memang sudah pernah melihatnya, tepat beberapa jam lalu.

Di dalam layar di Underground Base.

Gambar itu adalah...

Lokasi misi mereka saat ini.

.

.

.

8

(Cordirella Central, Dominican Republic, Hispaniola)

"We're going inside in five minutes."

Satu batalion tentara bersenjata tengah mengintai dari luar kastil, tegap berdiri, pandangan tajam mengawasi keadaan. Semua tampak siap dengan senjata di tangan dan tekad seperti baja, walau ada beberapa pengecualian.

Mello menggertakkan gigi. Gevanni terus-menerus menelan ludah. Matt berusaha sekuat tenaga untuk tidak balik badan dan kabur.

Jangan salah—biasanya pria itu jauh dari kata pengecut. Mail Jeevas justru termasuk orang ternekat di muka bumi, buktinya dia berani menjalani hidup seatap bersama Mello selama bertahun-tahun dan masih bernapas sampai saat ini.

Namun itu dan ini berbeda.

.

.

"Mell."

"Hm?"

"Kemungkinan kita bisa selamat dan aku pulang main Wii?"

Diam sebentar. "… Kurang dari lima persen?"

"Mello!"

"Hei, aku kan jujur!" Mello menoleh ke arah Matt, menyandarkan senapannya ke bahu kiri. "Kalau menghitung probabilitas kita selamat dari sarang Varmit yang bisa membunuh ratusan Agent terlatih hanya dalam satu malam—dikurang persentase kita bisa selamat namun terjangkit parasit, dikurang selisih jumlah Agent Barcelona dengan pihak ketiga, kemungkinan kau pulang dan main Wii cuma lima persen."

"Mello, kamu tahu slogan bijak 'berbohong demi kebaikan'?"

"Tahu." jawabnya pendek. "Makanya kita dan Gevanni sepakat untuk tutup mulut akan hal ini, kan? Aku, kau dan dia—hanya kita bertiga yang tahu kalau—kalau L tidak menginformasikan kita seberapa berbahayanya misi ini."

Dia tidak menyukai nada yang keluar dari mulutnya. Rasanya seperti menuduh L, dan Mello tidak suka itu.

Bagaimanapun, berkat jasa pria itulah dia masih bisa hidup sampai sekarang—dan Mello sudah bersumpah untuk mendedikasikan hidupnya demi L.

"Yah, aku tak habis pikir kenapa L menyembunyikan ini. Memangnya dia pikir kita akan ketakutan, apa? Kita kan tentara. Memangnya ada yang akan pipis di celana kalau diberitahu betapa operasi ini begitu berbahaya?"

"Dia pasti punya alasan."

"Ups, aku lupa kalau Agent Mello adalah fanboy stadium lanjut yang suka berfantasi tentang L di kamar mandi."

Beruntunglah Matt karena seragamnya dilengkapi dengan pelindung kaki, sebab tendangan Mello itu luar biasa keras. Mello sempat berpikir untuk menembak Matt, tapi tidak jadi.

.

.

"Get ready!"

.

.

Keduanya menoleh, dan langsung bersiap di posisi masing-masing.

Mereka telah dipasangkan dalam tim yang terdiri dari dua atau tiga orang, masing-masing grup menuju arah berbeda untuk meningkatkan efisiensi—Matt berpasangan dengan Mello, tentu saja. Mello sempat mencuri dengar bahwa Gevanni akan pergi bersama Halle, dan tidak bisa menahan rasa cemburu berputar-putar di perutnya. Matt sadar akan hal ini dan menggoda Mello agar bertukar pasangan, karena dia benar-benar tidak masalah berpasangan dengan Gevanni jika Mello ingin satu grup dengan mantan kekasihnya, namun yang bersangkutan hanya memberinya tonjokan di bahu.

Setiap grup sudah dibagi berdasarkan rutenya. Halle-Gevanni akan menjajah lantai atas bersama dengan tim lainnya, berlawanan dengan Matt-Mello yang akan turun ke bagian basement. Matt bergurau kalau mereka tidak jodoh. Mello bertanya apakah Matt ingin coba makan peluru.

Operasi ini akan dibatasi selama lima jam, dikarenakan tujuan dari misi ini adalah observasi, bukan pembasmian seperti biasa. Masing-masing Agent sudah dibekali dengan peralatan yang dibutuhkan untuk mengambil sampel, tak lupa cadangan senjata untuk mempertahankan diri.

Mello menoleh ke arah teman setimnya, dimana Matt tengah membetulkan letak ROKS-3 flamethrower miliknya di punggung sambil menyiulkan sebuah lagu (yang terdengar seperti Ricky Martin). Senapan mesin tergantung di badan, beberapa cadangan senjata seperti granat menghiasi tubuhnya yang terbalut seragam abu-abu.

.

.

Meski tidak terlihat dari luar, namun Matt sangat terlatih.

.

.

Flamethrower itu berbobot nyaris 23 kg belum ditambah senjata lainnya, tetapi gestur Matt nyaris santai seakan semua beban itu tidak berarti. Bahkan Mello yakin kalau Matt bisa melakukan skipping keliling kastil dengan peralatan berat seperti itu.

Samar-samar benaknya mengingat kalau pria itu sebelumnya telah lama menjadi tentara militer di suatu negara, jauh sebelum direkrut menjadi Agent, dan mendadak Mello bertanya-tanya berapa umur Matt yang sebenarnya—meski terlihat muda, namun Mello yakin kalau penampilannya itu menipu.

"Kenapa melihatku begitu, Mell? Jatuh cinta padaku?"

Suaranya terdengar nakal. Mello mendengus.

"Enak saja."

.

.

"In five, four—"

.

.

.

9

(Utah, Southlake City, DPG Main Base)

Bagi Yagami Raito, L adalah teka-teki tanpa jawaban. Sebuah permainan kata dan angka dengan petunjuk yang menipu, membawa pemainnya pada probabilitas tak terbatas. Sedetik terlihat sederhana, sedetik kemudian terasa rumit luar biasa. Semua jawaban terlihat sama benarnya sampai-sampai sulit ditebak apakah semua jawaban itu memang benar, ataukah mereka cuma barisan kamuflase tertata yang menyembunyikan hasil akhirnya.

Bagi Yagami Raito, sudah jadi misi hidupnya untuk memecahkan teka-teki bernama L dan mematahkan kebanggaan pria itu tepat di depan batang hidungnya.

Yagami Raito tidak pernah membenci L, namun dia juga tidak menyukainya. Sudah banyak yang mengatakan dengan nada iri kalau Raito benar-benar beruntung; bisa menjadi asisten L si penemu nomor wahid dalam usia muda seperti itu, apalagi terpilih secara langsung oleh sang raja untuk menjadi permaisuri.

Mereka bilang,

Oh , you're so lucky. To be with L is like being invited to reside in Valhalla.

Oh sungguh, rasanya Raito ingin bertukar tempat dengan para koleganya itu minimal sehari, membiarkan mereka jadi bawahan L selama sehari saja, dan lihatlah apakah mereka masih berpikir kalau bersama L itu seperti Valhalla. Tartarus, mungkin—tapi yang pasti bukan Valhalla.

Dia mungkin beruntung, sekaligus juga tidak beruntung. Segala hal memiliki sisi positif dan negatif, putih maupun hitam. Begitu juga kehidupannya selama setahun bersama L.

Sisi positifnya adalah, dia belajar banyak. Jauh lebih banyak dibandingkan Harvard tempatnya menuntut ilmu, jauh lebih banyak dibandingkan dosen-dosen yang mengajarinya selama masa kuliah, jauh lebih banyak dibandingkan buku-buku tebal maupun penemuan-penemuan mutakhir.

Selama setahun ini, Raito seperti melihat sisi lain dari pengetahuan yang dia kenal selama bertahun-tahun, dan dia sangat berterimakasih pada L karena telah mengundangnya masuk ke pintu.

Sisi negatifnya adalah, menjadi asisten L itu amat sangat sulit. Tugas-tugasnya tidak masalah—Raito bisa mengerjakan kewajibannya dengan mudah, mengingat dia sendiri berotak brilian. Namun yang menjadi masalah selama ini adalah L sendiri.

L adalah orang yang paling tak tertebak, paling tak bisa disangka, paling menyebalkan dan paling berahasia di muka bumi.

L adalah teka-teki; dan Yagami Raito harus berusaha memecahkannya setiap hari.

.

.

Pandangan Raito berpindah dari lembaran dokumen di tangannya, lalu ke wajah pucat pria di hadapannya, lalu ke dokumen itu lagi. Di depannya L tengah duduk di kursi putar, kedua bola mata hitam tampak mengawasi dirinya, seakan menimbang setiap karbondioksida yang dia hembuskan ke udara.

Seperti yang baru saja diutarakan, L adalah puzzle yang tak ingin tersusun. Buktinya saat Raito bertanya apa alasan L bersikeras mengobservasi lokasi berbahaya di Hispaniola itu, dia malah disodorkan dokumen ini.

Tertulis dengan huruf miring yang terlihat anggun,

She was an equilibrist, a

graceful one.

She attended ridotto, a

naughty one.

She had necrolagnia, a

helpless one.

She got acyesis, a

terrible one.

.

.

"Laba-laba, kan?"

L bertepuk tangan. "Brilian seperti biasa, Raito-kun."

Pujian basa-basi atau sarkasme tersembunyi, sungguh sulit ditebak.

"Light-kun tidak senang saya puji?" suara L terdengar nyaris sedih, namun Raito tahu kalau itu cuma pura-pura.

"Kenapa saya harus senang dipuji karena hal ini? Inikan cuma permainan kata-kata—cuma teka-teki anak-anak."

"Tapi dari sepuluh orang yang saya tunjukkan, hanya tiga yang berhasil menjawab dengan benar," L memiringkan kepala "dan dari tiga orang itu, Raito-kun lah yang paling cepat menjawab. Raito-kun pantas dipuji."

"Ini tidak sulit."

"Justru karena tidak sulit." sesosok tangan berbalut kaus putih panjang itu terulur, meminta kembali kertas di tangannya. L menjepit lembaran itu dengan dua jari, kebiasaanya sehari-hari. Kalau Raito tidak tahu lebih baik, dia akan menuduh L terkena OCD. "Karena teka-teki ini terlalu sederhana untuk kita, para ilmuwan, sehingga banyak yang menjawabnya dengan terlalu spesifik. Ada yang menjawab Ricinulei, Araneomorphae atau bahkan Mygalomorphae. Padahal jawaban ini sangat mudah, namun mereka malah membuatnya jadi sulit."

Dia mengangkat alis. "Kenapa begitu?"

"Sepertinya mereka beranggapan kalau saya sedang menguji pengetahuan mereka—tanpa sadar otak mereka tidak menerima jawaban mudah seperti laba-laba dan lebih memilih menjawabnya secara profesional agar saya terkesan, seperti Latrodectus. Namun sejujurnya saya tidak terkesan—karena bukan itu jawaban yang saya cari."

"Hmmm... Lalu?"

"Lalu?"

Oke, Raito merasa bahwa tali kesabarannya yang sudah tegang menjadi semakin tertarik. "Apa hubungan puisi anak-anak ini dengan pertanyaan saya—kenapa anda, Tuan Ryuzaki, begitu bersikeras mengirim Agent di tempat berbahaya seperti itu—tanpa memberitahu mereka kalau tempat itu berbahaya?"

"Saya tidak bisa memberitahukan alasan saya."

Jackpot.

Seharusnya dia sudah bisa menebak kalau L akan menjawab seperti itu. Keras kepala. Menyebalkan. Sok tahu. Rasanya Raito ingin menamparnya. Atau menendangnya. Atau bahkan menginjaknya sekalian.

"Tapi saya bisa jelaskan apa hubungan puisi itu dengan tempat berbahaya yang anda sebut tadi."

.

.

.

10

(Cordirella Central, Dominican Republic, Hispaniola.

FIRST FLOOR)

Matt mungkin takut pada lipan, namun dia tetap tentara sejati yang telah berdansa dengan kematian dalam berbagai perang dan pertempuran. Baik melawan Varmit, maupun menghadapi kaumnya sendiri ketika dia masih menjadi anjing militer.

Beri satu senjata dan dia tak tertandingi.

Terutama flamethrower, senjata favorit Matt setelah anti-tank. Oh, betapa asyiknya menggunakan flamethrower. Senapan mesin memang terasa seksi di lidah, tapi soal pesta panggang daging jadi barbeque, flamethrower jagonya.

Rasanya puas sekali melihat serangga-serangga itu menggelepar di lantai, matang terpanggang dengan bunyi pop. Peluru hanya membuat badan mereka bolong, dan itu kurang seru. Membakar mereka hidup-hidup jauh lebih mengasyikan. Rasanya seperti tokoh utama dalam game survival horror.

Mail 'Agent Matt' Jeevas—melayani dunia dengan cinta dan kebajikan sejak tahun 20xx. Sungguh keren. Sekarang yang dia butuhkan adalah seorang wanita seksi untuk dijadikan objek romansa, dan lengkap sudah petualangan Agent Matt untuk menyelamatkan umat manusia dari serangan serangga jahanam. Entah itu putri yang butuh pertolongan, atau seorang wanita tangguh yang menjadi partnernya melawan musuh? Yang manapun sama kerennya selama Matt menjadi tokoh utama.

Mello? Dia bisa menjadi side-kick, atau second character. Luigi untuk Mario, Robin untuk Batman, bahkan Plato untuk Socrates. Bersyukurlah Mello karena Matt adalah teman yang perhatian—

"Matt! Jangan bakar semua!"

Suara Mello menyadarkan Matt dari alam khayalannya, dan dia buru-buru mematikan flamethrower. Tak seberapa jauh darinya Mello tengah berjalan mendekati mayat Varmit yang sudah jadi arang terbakar. Sosok itu berjongkok di gundukan kehitaman yang sudah tak tertolong, wajah di balik visor gelapnya melirik Matt dengan jijik.

"Matt, kita itu diharuskan untuk mengambil sampel."

"Ups."

Dia membuang napas frustasi, lalu berjalan ke arah Matt, menginjak tubuh Varmit yang telah gosong. Di ruangan ini cuma ada mereka berdua; para Agent telah berpencar mengikuti rute masing-masing. Saat ini Mello dan Matt tengah mencari tangga menuju Basement.

Ternyata kastil ini lebih besar dari kelihatannya. Lantai bawah yang menjadi lokasi mereka sangat luas dengan koridor berliku seperti maze, berdebu dan remang-remang, sarang laba-laba menggantung bagai tirai lembab. Temboknya terlihat agak runtuh, beberapa bagian terkelupas, dan interior kuno yang diremangi cahaya senter menambah horror suasana.

Matt melihat sekeliling. Bisa dipastikan kalau mereka berada di sebuah ruang tamu, ditilik dari jenis barang yang ada disini. Sofa berlubang yang telah lapuk, botol wine berdebu dan gelas kosong di atas meja, sebuah jam antik berbandul yang telah mati, perapian bata di depan sofa, hiasan-hiasan seperti miniatur pesawat di rak kaca, dan lukisan-lukisan berjejer di dinding. Satu lukisan berpigura emas terlihat hampir lepas. Semua barang diselimuti debu minimal tiga senti.

Benar-benar seperti cerita horror. Matt jadi berpikir untuk membuka jam itu, siapa tahu ada zombie bersembunyi di dalamnya.

"Matt, kukira kau benci lipan." tuduh Mello.

"Mello, aku memang benci lipan, tapi kalau di tanganku ada senjata—" Matt berpose, di bahunya tersanding flamethrower. "—Aku tak terkalahkan."

Partnernya tampak tidak tertarik, hanya memandangi sarang laba-laba yang tergantung di langit-langit, seakan menantang mahluk jahanam itu untuk jatuh.

Entah kenapa Matt merasa kalau dia harus memulai pembicaraan. "Varmit disini cukup banyak juga, ya. Tadi kita bertemu apa saja? Lipan, nyamuk, kelabang dan kalajengking, lebah-lebah sialan yang tadi mau menyengatku, lalu—"

"—laba-laba."

"Eh? Kita tidak bertemu dengan laba-laba—"

"—Yang kumaksud bukan Varmit, Matt. Tapi laba-laba biasa." dari balik visornya, mata Mello berkilat tajam pada jaring-jaring putih di atap. "Sarangnya disini banyak sekali, tapi aku tidak melihat satupun laba-laba biasa."

"Memangnya itu abnormal?"

"Tidak sih." dia mengendikkan bahu. "Cuma heran."

Saat Mello kembali mengajaknya untuk maju ke ruangan berikutnya, Matt merasa agak lega. Laba-laba adalah hal yang cukup sensitif untuk Mello.

.

.

Ketika mereka meninggalkan ruangan itu, seekor laba-laba berjenis Black Widow merayap di dinding. Laba-laba besar itu menyenggol sebuah pigura emas, dan lukisan itupun jatuh ke lantai.

Di dinding tempat lukisan itu semula bergantung, terdapat tulisan anak-anak.

.

.

por favor,vuelve a casa

(please, come back home)

.

.

.

11

(Cordirella Central, Dominican Republic, Hispaniola

EASTERN ATTIC)

Halle dan Gevanni sudah mengenal satu sama lain. Tidak dalam tahap persahabatan atau romantisme, namun sesuatu yang jelas lebih dibanding kenalan biasa.

Seperti simbiosis mutualisme, atau ikatan kerja di antara dua profesional—itulah definisi yang paling tepat untuk menggambarkan hubungan mereka. Rapi, teratur, dan seperlunya tanpa keharusan untuk berbagi hal-hal pribadi. Netral. Tidak ada keinginan bagi mereka untuk melewati batas-batas yang seharusnya. Halle tidak tertarik pada pria itu dan Gevanni, meski menganggap Halle cukup menawan, tidak pernah membayangkan mereka berjalan bergandengan tangan atau semacamnya.

Dan saat ini berdirilah mereka di loteng paling timur; keadaan disana tak berbeda dengan lantai-lantai sebelumnya. Apek dan sumpek, barang-barang kuno dan lama tampak berjejal disana-sini, dipaksakan untuk masuk dalam loteng sempit itu. Tidak ada yang menarik disana; tidak ada harta, petunjuk, ataupun pengintai dari balik bayangan. Tidak ada apa-apa, hanya pemandangan loteng kastil biasa yang cukup luas, dengan lantai kayu menjeritkan derit setiap kali kaki melangkah di atasnya.

Sedikit anti-klimaks, dan hal itu agak membuat Gevanni kecewa.

Sebab sangat sulit mencapai tempat ini. Perjalanan mereka sampai kemari adalah sebuah medan yang sulit; banyak sekali Varmit bertebaran di sana-sini sampai-sampai Gevanni merasa tengah berenang di dalamnya. Untunglah dia telah terlatih pada berbagai situasi, dan partnernya adalah seorang seorang yang tangguh.

Terlalu tangguh, malah. Ketika mereka terjun membantai musuh, sesaat Gevanni lupa kalau dia tengah bersama seorang wanita dan segala kelembutannya.

"Amankah?"

Pria itu mengamati sekelilingnya. Tidak ada yang benar-benar menarik perhatian, hanya sebuah loteng biasa. Meski dia mendengar sedikit pergerakan di suatu tempat, namun itu hanya seekor tikus—suara cicit kecil memperkuat dugaannya.

"Sepertinya tidak berbahaya."

Halle mengambil beberapa langkah masuk ke dalam. Tidak ada Varmit ataupun sarangnya, kontras dengan keadaan sebelumnya—namun itu bukan alasan untuk lengah.

Matanya yang tajam tertumbuk pada benda-benda di loteng itu; beberapa interior kuno berdebu seperti lemari kayu berukiran klasik, cermin besar, dan peti-peti yang mengingatkannya pada cerita bajak laut. Dia membuka salah satu peti dan menutupnya kembali. Isinya hanya mainan-mainan robot berkarat dan konsol game yang telah ketinggalan jaman berpuluh tahun lalu.

Di sebelah meja kayu, ada sebuah rak buku berukir dengan kaca yang sudah pecah. Di dalamnya berjejer buku-buku tebal. Halle meraih sebuah buku hitam berdebu—sebentuk album kuno, dengan ujung-ujung bergerigi dimakan ngengat, lembarannya menguning dan fotonya telah dimakan usia. Tangannya sempat membalik beberapa lembar sebelum berhenti, kehilangan minat, dan menutupnya kembali.

Sebuah foto jatuh dari album itu. Dia berjongkok untuk mengambilnya.

Di gambar yang telah menguning oleh usia, seorang anak laki-laki berpiyama putih tengah tersenyum pada kamera di ladang jagung sambil merangkul seekor anjing. Sebuah topi jerami besar terpasang di kepalanya, menutupi rambutnya yang memutih, tak berwarna seperti kulitnya yang tanpa noda. Albino.

Di sampingnya ada seorang lelaki dengan overall biru dan kaus merah menyala, memamerkan giginya sambil membuat simbol Peace, tangan kanannya yang terbebat sarung tangan kotor merangkul si anak lelaki tadi. Wajahnya terpotong di bagian atas, kemerahan terbakar matahari.

Dia membalik foto itu. Tertulis dalam huruf rapi,

My Precious Nate, keep smiling!

:D

Halle menyelipkan foto itu kembali ke album, tidak menganggapnya penting.

"Bagaimana?"

"Tidak ada keanehan."

Mereka terdiam beberapa saat sebelum wanita itu bertanya, "Sisa waktu?"

Gevanni melihat PDA-nya. "Kurang dari setengah waktu yang ditentukan."

"Itu lebih dari cukup untuk menjelajah area lainnya. Ayo."

.

.

.

12

(Cordirella Central, Dominican Republic, Hispaniola.

BASEMENT)

DZIIIIING DZIIIIING DZIIIIING

"Mello!"

"Tenang, buddy!" Mello menendang tong berisi sherry ke arah Lithobius forficatVarmit tipe Chilopoda yang tengah mengejar mereka.

BANG!

Dengan satu tembakan, tong itu tersulut api dan dalam sekejap menjalari para Varmit. Mereka menggeliat, mengeluarkan cicit yang serupa teriakan kesakitan, lalu menggelepar di lantai.

"Kau bilang jangan dibakar!" protes Matt sambil menembaki lalat-lalat besar yang lincah berterbangan. Dia sudah mengganti flamethrowernya dengan battle rifle biasa—Hekler&Koch HK417 kesayangannya. Seekor lalat mencengkram bahunya, hampir membawanya terbang, namun Matt sempat mengarahkan senapannya ke atas dan menembak pelatuk. Rentetan peluru membolongi perut mahluk itu, cairan hijau mengucur deras bagai hujan dan membasahi tubuh Matt. Dia merepet jijik.

"Keadaan darurat, Matt!"

Mello kembali menendang tong lain ke arah api yang menyala. Api membesar, menjilat sampai ke langit-langit, para Varmit di seberang tak bisa melewati dinding merah itu tanpa terbakar. Mello dan Matt memanfaatkan kesempatan ini untuk lari lebih ke dalam, berkelok-kelok di rak-rak berisi anggur.

"Mell—hosh hosh—"

"—hosh—Apa?"

"Apa kau tidak berpi—hosh hosh—kir kalau ini aneh? Dari tadi kita membakar mereka dan oksigennya tidak berku—hosh—berkurang!"

Mereka melakukan putaran tajam ke belokan kiri, melewati tong-tong kayu dan masuk ke dalam, tidak berhenti berlari, lampu di pinggang berayun ganas. Setelah yakin tidak ada seekorpun yang mengejar, Matt langsung menanggalkan tabung flamethrower miliknya yang telah kosong sedari tadi dan langsung berbaring sembarangan di lantai, dadanya naik turun, berusaha menangkap napasnya yang berat di paru-paru.

Di sebelahnya, Mello duduk bersandar di tembok bata, berusaha menenangkan diri dengan sebatang coklat. Visor gelapnya diangkat ke atas.

"Matt, pas sekali." Mello menyeringai di kegelapan, mengeluarkan vial dari tas pinggangnya. "Kita bisa mengambil sampel darah lalat di tubuhmu."

"Darah lalat? Lebih tepatnya ingus lalat, mungkin. Darah lalat itu merah seperti manusia." Dia membaui tangannya yang lengket oleh lendir dan berlagak muntah. "Bau! Aku benci pekerjaan ini."

Dengan gerakan cekatan, Mello memasukkan cairan kehijauan itu ke dalam vial, mengamati bagaimana lendir itu berkilauan di dalam gelap, lalu menaruhnya kembali ke tas.

"Ngomong-ngomong tadi kau bilang apa?"

Matt menoleh ke arah partnernya. "Oksigen. Dari tadi kita menyulut api, namun oksigennya tidak berkurang—ini bawah tanah, loh."

Mello mengangkat alis. "Kau benar," dia melipat tangan ke dada, "kemungkinannya cuma dua—satu, di sini ada sirkulasi udara atau dua, lorong basement ini berkelanjutan ke ruangan lain."

"Kalau yang kedua, celakalah kita. Aku mau cepat pulang."

"Sudah jam berapa, Matt?"

Matt melihat PDA miliknya. "Masih ada kurang dari setengah waktu yang ditentukan. Ugh."

"Lebih baik kita berputar-putar lagi, lalu naik ke atas untuk melihat bagian lain. Di Basement ini tidak ada apa-apa kecuali wine dan sherry."

"Tapi kau tahu jalan pulang, kan, Mells?"

"Tenang saja."

Mello segera berdiri dan menepuk debu di seragamnya. Tangannya terulur dan Matt meraihnya, cairan hijau di sarung tangan Matt mengenai Mello.

"Ngomong-ngomong, aku baru tahu kalau darah lalat itu hijau."

"Sudah kubilang ini bukan darah, tapi ingus—"

.

.

buzz—

Gerakan mereka berhenti.

.

.

buZZ—BUZZ—

nging nging

BUZZ

NGIIIIING

Mereka sontak menoleh. Matt menelan ludah. Kedua bola mata Mello melebar.

.

.

"Mell, ini bukan darah ataupun ingus," suara Matt terdengar hampa "ini feromon."

.

.

Dari balik kegelapan, sekumpulan penyengat tengah melesat bagai sekaliber peluru ke arah mereka, mengikuti bau feromon yang menguar tajam dari tubuh Matt.

Vespa mandarinia japonica atau juga disebut Japanese Giant Hornet, termasuk dalam daftar sepuluh serangga paling berbahaya di dunia.

.

.

.

can i tangle you in my home?

.

.

.

Again, thanks for reading! Sepertinya chapter ini semakin panjang *sweatdrop*

Dun-dun-dun, misteri semakin tebal!

Kenapa Mello dan Halle berpisah?

Apakah yang terjadi pada Matt selama dia ada di militer dan berapa umurnya yang sebenarnya?

Apa hubungan puisi itu dengan kastil?

(tenang saja, di chapter-chapter berikutnya akan dijelaskan kenapa jawaban puisi itu laba-laba (spoiler: itu bagian Matsuda))

Kenapa Mello tidak melihat satupun laba-laba?

Siapakah yang menulis di tembok?

Kenapa ada foto Near di kastil itu?

Siapakah pria yang difoto bersama Near?

Apakah Mello dan Matt bisa selamat dari kejaran lebah ngamuk?

Apakah Raito bisa menerima pengakuan cinta L dan mereka menempuh hidup bahagia di Las Vegas? *bohong*

Kenapa Near tokoh utamanya tapi dia nggak muncul-muncul?

Apakah Mello bisa melupakan Halle dan beralih pada Matt? *apa coba*

Ikuti kisahnya dalam Tangle: Chapter Three—*dijitakin*

Sehabis ini ada Sidenotes, lalu jawaban Review:D

.

.

SIDENOTES (skip bila perlu)

1)NYPD: New York Police Department

2)Bio Hazard: versi Jepang dari Resident Evil, game survival horror yang terkenal. Ceritanya adalah dua orang agen polisi (laki-laki dan perempuan) yang terperangkap dalam sebuah kastil berisi zombie bersama agen polisi lainnya. Sebenarnya tadinya saya mau bikin fic ini jadi cerita zombie, tapi nggak jadi.

3) Picatinny rail: aksesoris yang dipasang pada senjata api sebagai pembidik laser, night vision, bayonet, etc. Disebut juga sebagai Tactical Rail.

4) ROKS-3 flamethrower: senjata pelontar api yang dikembangkan Uni Soviet untuk PDII pada tahun 1945 (iya, saya tahu betapa jadulnya senjata Matt padahal setting fic ini di masa depan wkwkwk). Bentuk ROKS-3 dirancang agar tidak mencolok perhatian, tanki bahan bakarnya berbentuk ransel kotak dan penyemprotnya seperti rifle biasa, cocok dibawa kemana-mana :D Dan memang berat, sekitar 22 kilogram lebih.

5) Ricinulei, Araneomorphae Mygalomorphae: kelompok-kelompok dari Arachnida

6) Latrodectus: Laba-laba yang dikenal sebagai Black Widow. Laba-laba ini sangat terkenal karena kebiasaannya yang memakan jantan selama reproduksi;D

7) Lithobius forficat: Terjemahan bebasnya adalah Brown Centipede, alias kelabang coklat wkwkwk.

8) Vespa mandarinia japonica/ Giant Japanese Hornet: Merupakan salah satu dari sepuluh serangga yang paling menakutkan di dunia, dan serangga bersayap paling berbisa. Racunnya bisa melelehkan daging dan sangat menyakitkan, bisa menyebabkan kematian. Yang sadis dari serangga ini adalah dia bisa menyemprotkan feromon yang akan memanggil kawan-kawannya untuk ikut menyerang (biasanya dilakukan untuk menyerang sarang lebah musuh).

Dalam fic ini, lalat yang menyerang Matt telah berasimilasi/bermutasi dengan Vespa Mandarinia Japonica, sehingga tubuh lalat itu berisikan feromon yang dapat memanggil Giant Japanese Hornet. Aslinya darah lalat itu berwarna merah seperti manusia :D Karena Matt yang kena paling banyak, bisa dipastikan dia yang diincar *ja'at*.

.

.

REVIEW REPLY (skip bila perlu)

1)NatureMature: Tenang aja Darling, kali ini positif nggak bakal diberhentikan di tengah jalan ;D

2)Anoctimo: Terasa holywood? Wkwk, mungkin karena saya kepengaruh Resident Evil :D Lagipula aslinya saya mau bikin cerita zombie sih—mungkin nanti kalau ini sudah tamat:D MattMello disini banyak, kok. Walau cuma hints gaje sih.

Oh ya lupa bilang, Voy a ser comido itu bahasa Spanyol, soalnya di Dominika pakai bahasa Spanyol :D

3)Orange Burst: Makasih reviewnya! Saya akan berusaha update secepatnya:D

4)AWESOMEMELLS: Makasih ya! Saya juga geli-geli jijik pas riset buat fic ini ._. Ngeliat foto cacing, kelabang... *bergidik*

5)amiilio: Tenang aja, hints MM disini juga ada kok! Apalagi Mello bakal cemburu-cemburu gitu(?) Yap, Raito tentu saja harus sama L :D Near.. Wah belum bisa dikasih tahu hehehe... Tapi harusnya sih rada jelas dari chapter-chapter yang udah ada.

6)Rie Kyte Matsuyama: Hubungan Near sama Varmit... Masih rahasia hohoho. Tunggu aja di chapter-chapter berikutnya ;D Romancenya masih rada jauh sih, lha wong Nearnya aja ga muncul-muncul wkwkkw

7)Fuu-kun Mouruki Furukawa: Salam kenal juga, dan makasih favenya! Romancenya ditunggu aja ya :D

8)Vayne it's me: Makasih reviewnya! :D

9)Ranranfua: Saya juga orang baru di Fandom DN kok, salam kenal juga! Makasih reviewnya:) Soal pairing, saya sengaja bikin MN soalnya di Fandom DN Indonesia tuh dikit, sedangkan MM kan udah banyak—biar bagi-bagi:) Tapi di fanfic ini juga ada hints MM kok! Meski dalam tahap 'brothership-friendship' sih:)

10)Shearra26: Syukurlah kalau nggak bertele-tele... *napas lega* Soalnya saya ngerasa ini panjang banget, sih Penjelasan di bawahnya pasti saya kasih terus kok, thanks for reading! :)

11)DK: Iye iye, tenang aje :D

12)CCLoveRuki: Makasih sudah review! :D Penjelasan tentang L... Mungkin akan diungkap chapter depan *diinjek*

13)MayuRockbell: Hehehe iya, habis saya suka tipe fic yang ngasih hal-hal nyata di ceritanya—sekalian nambah pengetahuan (?) :D Tenang aja, ini BL kok. Yang rambut putih itu memang Near, dan soal dia nggak dimakan monster... Itu masih misteri (?)