.

.

.

Death Note (c) Tsugumi Ohba and Takeshi Obata

Tangle (c) MooMoo

.

.

.

13

Mahluk manapun akan enggan bila rumahnya dimasuki orang.

Kecuali laba-laba.

Ketuk pintu dan dia akan menyambut masuk—namun bisakah kau pulang?

(selamat datang; ritual akan dimulai. malam dimana para pejantan mempersembahkan nafsu dalam tarian. namun tahukah semua bagaimana nasib berputar setelah pesta ini berakhir?)

.

.

.

t a n g l e

the harder you get, the better you tasted

.

.

.

14

(Cordirella Central, Dominican Republic, Hispaniola

THIRD FLOOR : CORRIDOR)

BANG BANG

Api pertempuran melebur, disaksikan oleh purnama yang mengintip dari balik jendela besi.

Dot merah dari laser pembidik di senapannya menari liar di dinding; Gevanni bergerak dalam pola zigzag, berusaha menargetkan pembidiknya ke arah Varmit yang lincah terbang di langit-langit. Gnat itu mendesing ke berbagai penjuru, pengisap di mulutnya meneteskan merah segar, cakarnya kokoh serupa besi.

Berbeda dengan teman-temannya yang telah tumbang—Varmit ini setingkat lebih pintar. Tubuhnya sigap menghindar bidikan, tahu persis betapa peluru membuat nyawa melayang.

Sial, yang satu ini pasti sudah punya kecerdasan. Pikir pria itu frustasi. Tidak mungkin hewan bisa menghindari bidikan sampai seperti ini.

"Jangan sampai menembak perutnya, Gevanni!" Halle memperingatkan tak jauh dari situ. Wanita itu tengah sibuk menghindari Wriggler yang merayap cepat di lantai, berusaha mencengkram pergelangan kakinya. Halle melompat ke belakang, menendang vas besar yang ada disana, larva itu tergencet dan memercikkan lendir kehijauan. "Di dalam perutnya ada Wriggler! Lebih baik gunakan headshot!"

"Aku tahu!"

Sial, tidak bisa begini terus!

Dia merancang suatu taktik. Gevanni mengambil manuver dan berlari ke arah yang berlawanan. Gnat langsung terbang mengejar, gatal ingin membenamkan cengkramannya di kepala sang Agent, kedua matanya yang majemuk berkilat-kilat diterpa sinar bulan. Dengan sigap pria itu mengerem langkahnya, berputar balik dan membidik Gnat yang tengah melesat ke arahnya, titik merah berhenti tepat di antara kedua mata majemuk.

BANG!

Kepala sang monster langsung terburai pecah. Hujan berbau anyir menodai helm Gevanni.

Halle langsung berlari ke arah partnernya.

"Kau tidak apa-apa, Gevanni?"

"Tidak apa-apa." tangannya mengelap visor yang berbercak merah dan lendir. Di bahu kiri pria itu ada sobekan besar yang memanjang, tanda mata dari pertempuran tadi. Luka membuka di kulit yang terkoyak. "Sedikit tergores, tapi tidak apa-apa."

Halle memperhatikan luka itu dengan agak prihatin, rasa keibuannya mendadak muncul. "Perlu First Aid Spray?"

"Nah, tidak perlu. Mudah-mudahan tidak ada kontaminasi parasit."

Gevanni menunduk. Segerombol Tumbler sebesar bantal bertebaran di lantai, menunggu waktu untuk matang. Gevanni segera menembakinya satu-persatu untuk jaga-jaga. Meski Varmit, Gnat tetap nyamuk biasa. Pupa tidak akan bertahan hidup jika kepompongnya dirusak dari luar.

PIP PIP

Pria itu membuka PDA-nya. Layar langsung menyala dan menampilkan gambar seorang Agent, berpendar di tengah gelapnya koridor tanpa penerangan buatan. Di bawah gambar tersebut terdapat digit angka yang menunjukkan identitas dari sang pemberi frekuensi : [1812020].

Agent Ratt, salah seorang koleganya.

/Ratt disini. Agent Gevanni?/

"Koordinat [79-421-312-003] arah utara, aman terkendali. Bagaimana disana?"

/Koordinat [22-025-121-001] arah selatan, aman terkendali./

"Ada apa, Ratt?"

Ada jeda. /Mayat. Lima orang./

Berita ini menarik perhatian Halle. "Siapa saja yang tewas?"

/Keadaannya sangat menyedihkan, Halle./ Dia mendesah. /Busuk dan digerogoti sesuatu—mungkin Varmit, aku tak tahu. Kami tak bisa melakukan identifikasi dengan peralatan minim begini… Apalagi wajah maupun tubuh mereka sudah sulit sekali dikenali—seperti diserang sesuatu yang brutal./

Ratt menelan ludah, tenggorokannya masih kering karena menyaksikan pemandangan mengerikan tadi.

/Namun dari equipment yang tersisa, disimpulkan bahwa mereka berasal dari sektor Barcelona./

Halle terkesiap. "Kenapa ada Agent dari Barcelona disini?"

Berbeda dengan Halle, Gevanni tidak terlihat kaget, seakan sudah bisa menebaknya. Hal ini tidak luput dari pengawasan Ratt.

.

.

/Agent Gevanni, apa anda tahusesuatu?/

.

.

Di kepalanya langsung berkecamuk berbagai kemungkinan—antara berkata jujur atau bersikap tak tahu, mengucap kebenaran atau tetap berpura-pura. Setelah menimbang-nimbang, pada akhirnya dia mengangguk pelan. Halle memandang partnernya tak percaya.

/Bisa ceritakan pada kami apa yang sebenarnya terjadi?/

Dia menggigit bibir.

"Sebenarnya—"

.

.

.

15

(Cordirella Central, Dominican Republic, Hispaniola

FIRST FLOOR : LIBRARY)

BANG

"Forty five! "

BANG

"Sial! Forty—!"

BANG BANG

"Forty seven! Aku menang!

"Ugh!"

.

.

Agent Ralph Bay merayakannya dengan melempar tangan ke atas, senang karena menang taruhan.

"Yes! Empat puluh tujuh lawan empat puluh! Seratus dollar jadi milikku!

Di belakangnya, Rushuall menurunkan senapan dan meringis. Dengan kesal dia merogoh tas pinggang, mengeluarkan selembar kusut uang kertas dan melemparkannya asal-asalan. Ralph mengambilnya dalam satu gerakan mulus.

"Senang berbisnis denganmu, kawan."

"Kau cuma beruntung." desisnya tajam.

"Terserah. Yang penting aku menang." Pria itu mencium lembaran seratus dollar di tangannya, tidak keberatan dengan anyir darah dan minyak mesiu yang menempel di sana. "Selisih tujuh Varmit itu besar." kekehnya sambil memasukkan hasil rampasan ke dalam tas.

Rushual hanya memutar matanya.

.

.

Sepatu mereka berdecit menjijikan saat menginjak genangan lendir di lantai. Ralph mengawasi sekeliling sambil menyiulkan lagu, merasa sangat puas. Rushual menyusul beberapa langkah di belakang, lebih muram dibanding rekannya. Sentakan kakinya pendek-pendek dan berat, sengaja menginjak lumat tubuh Varmit yang bertebaran di lantai.

Sinar kebiruan sang raja malam menyeruak masuk dari luar jendela, teralis besi memberi bayang-bayang gelap dalam bentuk salib yang merentang di seluruh ruangan. Perpustakaan itu bernasib sama dengan sang kastil; gelap dan sesak, berdebu setebal tiga senti, ditinggalkan dan dilupakan. Buku-buku tua bertumpuk di dalam rak, memanjang sampai ke langit-langit. Beberapa dokumen menguning berserakan di lantai, telah hancur dimakan rayap. Di atas sebuah meja terpasang komputer mati yang tertinggal beberapa jaman sebelumnya, layar gelapnya telah berbedak debu.

Ralph mengambil satu buku dari rak secara acak.

"Hei, dulu aku punya buku ini!" dia memegang buku itu seperti sebuah harta. "Aku sering membacanya sebelum tidur."

" The Gingerbread Man?" Rushual menyela dari samping sambil menatap kovernya. Sebuah gambar kue jahe terpampang di sana, dengan senyum tak berdosa di wajah yang terbuat dari gula-gula. Di belakangnya, seorang kakek tua dan nenek-nenek panik mengejar si kue jahe. "Bukankah itu buku tentang kue jahe yang pada akhirnya dimakan rubah?"

"Yap." Pria itu menatap kover buku, ilustrasi di sana membawa nostalgia lama di hatinya, melukis benaknya dengan ingatan samar warna sepia. Dari balik visor dia menyunggingkan senyum tulus, senang karena bisa mengenang sisa masa kecil yang telah pudar. "Kata ibuku, pesan moral cerita ini sungguh bagus."

"Tentang orang sombong yang mendapat ganjarannya. Sungguh bagus."

Ralph gagal menangkap sarkasme yang berkubang dibalik kata-kata sang rekan, tangannya membalik beberapa halaman.

"Ini menarik sekali. Coba lihat!"

Dia membentangkan buku itu di depan temannya—alih-alih deretan huruf alfabet, cerita di buku itu tersusun dari susunan titik yang timbul. Tidak ada ilustrasi sama sekali, kontras dengan fungsinya sebagai buku cerita. Rushual mengedipkan mata.

"Huruf braille?"

"Yap. Mungkin anak pemilik kastil ini buta atau apa."

PIP PIP

"Ups."

Ralph menaruh kembali buku itu dan membuka PDA-nya.

.

.

Layar menampilkan gambar seorang Agent, digit angka memunculkan kombinasi [1812020]. Sebuah tanda seru berkelap-kelip di sampingnya, mengedipkan warna merah di kegelapan.

Rushual menaikkan alisnya. "Status Emergency? Apa yang terjadi?"

.

.

/Perhatian pada seluruh Agent, ada pemberitahuan darurat mengenai—/

.

.

.

16

(Cordirella Central, Dominican Republic, Hispaniola

BASEMENT)

"Ada ide bagus, Matt?"

"Ada." Suaranya kalem.

.

.

"Ayo kita kabur."

.

.

Hanya butuh sepersekian detik bagi Matt untuk meraih Flashbang, menarik safety pin dan melemparnya. Dia berbalik, menggenggam erat tangan Mello dan membawanya berlari kencang, tidak sekalipun menoleh meski segumpal cahaya yang membutakan meledak di belakang.

.

.

PDA mereka berkedip-kedip. Baik Mello maupun Matt tidak berinsiatif untuk menjawabnya.

.

.

.

17

(Cordirella Central, Dominican Republic, Hispaniola

FIRST FLOOR : KITCHEN)

/—aik menjadi Level 3. Diharapkan bagi para Agent untuk meningkatkan kewaspadaan, jangan sampai terpencar dengan rekannya dan tetap pada rute masing-masing. Setengah jam lagi saya minta untuk berkumpul di koordinat [22-025-121-001]arah selatan. Sekian dan terimakasih./

PIP

.

.

Ratt mematikan PDA-nya sambil menarik napas berat.

"Ratt, kemari!"

Dia berjalan mendekati partnernya, Guardner. 12.7 mm Scalpel di tangan gemuk sang Agent menari lincah di atas onggokan daging membusuk, jemari mengaduk isi perut tanpa ragu. Ratt memalingkan wajah sambil menutup hidung, tidak sanggup untuk melihat langsung.

Dalam hati dia bersyukur karena berpasangan dengan Guardner.

Meski bukan Agent yang terbilang hebat dalam hal menyanding senjata, namun pengetahuannya tentang hal medis sangat membantu—sangat membantu untuk keperluan seperti ini. Identifikasi kematian.

Jasad itu tergolek mengenaskan; sebagian besar sudah membusuk dan yang masih tersisa sudah terlalu hancur untuk dikenali bentuknya. Setengah dari figurnya seperti dicabik paksa, robek dari kepala sampai ke selangkangan, isi tubuh menjuntai keluar dari samping.

.

.

Daripada digerogoti serangga, lebih tepat dikatakan kalau tubuh yang ini disentak jadi dua oleh sepasang tangan Golem.

.

.

"Bagaimana, Guardner?"

"Tidak ada bekas-bekas parasit." Pria paruh baya itu menggaruk kumisnya dengan jemari berdarah, kepalanya sudah terbebas dari helm. Diam-diam Ratt salut karena Guardner seakan tidak terpengaruh dengan berbagai bau-bauan membusuk di ruangan itu. "Sengatan atau apapun juga tidak ada. Saya periksa bagian dalamnya, namun tidak ada yang abnormal—semuanya dalam kondisi sempurna sebelum membusuk."

"Berarti kematiannya bukan karena Varmit? "

"Bisa dibilang begitu." jawabnya sambil mengelap peralatannya. Scalpel beraneka ukuran di dalam tas pinggangnya berdenting nyaring. "Dari lima mayat, ada dua yang kondisinya sama seperti ini. Tiga yang lain memiliki sebab kematian yang jelas—mati disengat atau terkena racun. Namun yang ini—saya tidak habis pikir."

Guardner mengendikkan bahu, lalu berdiri dan membuka sarung tangan karetnya.

"Ratt? Ada kabar dari pusat?"

"Tidak ada." suara Ratt terdengar agak hampa. "Saya mencoba menghubungi L untuk meminta penjelasan, namun yang bersangkutan tidak menjawab—entah karena saluran sibuk atau daerah ini terlampau jauh untuk mengirim frekuensi ke markas utama. Namun saya sudah berpesan pada tim pilot agar tiba lebih cepat."

Guardner menggeleng dan Ratt menghela napas untuk kesekian kalinya.

.

.

"Operasi ini terpaksa ditunda untuk sementara."

.

.

.

18

(Utah, Southlake City, DPG Main Base)

Mata mereka saling bertemu, lama tanpa satupun jeda. Pandangan Raito ditelan oleh dua kelereng hitam milik L, begitu dalam bagai sepasang rawa tak berdasar, membuatnya sesak seperti dihimpit lumpur penghisap.

Itu bukan sensasi yang menyenangkan bagi Raito. Dia pun berkedip, memutuskan pandangan secara sepihak.

"Saya harus jelaskan dari mana, ya..." L mengisap ibu jarinya, mata masih tajam mengawasi sosok di hadapannya, lumat sampai ke detil terkecil—dari pandangannya yang beralih sampai ekspresi tak nyaman di wajahnya. "Ah, baiklah. Dari awal. Pertama-tama, tentunya Raito-kun tahu rahasia saya yang terbesar?"

"Rahasia yang mana?" dengusnya merendahkan. "Rahasia kalau kau makan steak dengan selai marmalade atau kebiasaanmu mencocol kentang goreng dengan es krim vanilla?"

"...Walaupun saya senang karena Raito-kun memperhatikan cara saya makan, namun bukan itu jawabannya." L memiringkan kepalanya tiga puluh derajat. "Yang saya maksud adalah identitas saya

—bahwa L, Denueve dan Coil adalah orang yang sama."

Oh ya. Itulah salah satu hal yang memperbesar impresinya bahwa L adalah pria paling sombong sedunia.

L, ilmuwan setingkat dewa di bidang biologi. Denuve, penemu nomor wahid dalam dunia kimia. Coil, peraih nobel ilmu fisika. Tiga persona sesilau bintang kejora itu dimiliki oleh orang yang sama.

Seorang pria yang makan steak dengan selai marmalade dan mencocol kentang goreng dengan es krim vanilla—L Lawliet.

Dari bermilyar-milyar manusia yang ada di dunia, hanya sedikit yang diikutsertakan ke dalam rahasia besar ini—termasuk Raito, Watari, dan L sendiri. Bahkan David Hoope—Presiden Amerika yang terhormat, sang penggerak superpower dunia saja tidak tahu kalau tiga nama besar di dunia ilmu pengetahuan—L, Denuve dan Coil adalah orang yang sama.

Haruskah Raito merasa tersanjung karena dia telah diundang masuk lingkaran? Hah.

"Lalu apa hubungannya, Ryuuzaki?"

L memutar kursinya, meraih sepotong Strawberry Shortcake di atas tray dan memotongnya dengan garpu. Tangan kirinya yang bebas mengetikkan beberapa kode di laptop. Tiga layar di dinding berkedip dan mati. Satu layar di tengah kembali hidup, menayangkan tampilan sebuah inbox dari suatu alamat e-mail.

Raito mengenalinya. Alamat mail resmi yang digunakan L untuk berbagai urusan bersifat profesional—sudah beberapa kali Raito bertugas untuk mengurus mail tersebut dalam kesehariannya sebagai asisten L.

Kursor bergeser dan mengklik satu dari daftar e-mail yang masuk. Alamat si pengirim tidak jelas.

Matanya membesar.

.

.

She w4S aN 3QU1l1bRIst, A

6R4cefUl 0ne.

She 4ttend3d r1d0tt0, 4

nAu6htY 0Ne.

5h3 h4D N3CR0l46N1a, a

h3lPl35S on3.

sHe 60t 4Cye515, 4

t3rr1BL3 0n3.

.

"Ini—"

"— E-mail ini juga menyertakan attachment. Mau lihat?"

Tanda panah berjalan ke arah Attachment File.

Download.

Klik.

Tak lama berselang, gambar scan sebuah peta memenuhi layar. Peta itu kasar dan buatan tangan, sekilas tampak seperti peta harta milik petani, ada bagian yang dilingkari dengan pena biru di satu sudut.

"Ryuuzaki, jangan-jangan tempat ini—"

"— Central Cordirella, tepat sekali." L menoleh, memandang Raito yang terpaku di tempat, garpu kue terjepit di mulutnya. "Pengirim e-mail ini jelas

sedang menantang saya."

"...!"

"Namun bukan itu yang membuat saya terancam."

Tangannya kembali mengetik.

Kedua layar di kiri-kanan akhirnya kembali menyala, sama-sama menampilkan inbox alamat e-mail. Raito mengenalinya satu-persatu—di kanan milik Denueve, dan di kiri untuk Coil. Kedua kursor di layar itu mengklik satu mail yang ada di daftar. Layar di tengah kembali ke halaman mail yang tadi.

Sekarang ketiga monitor menayangkan isi e-mail yang identik. Raito menarik napas. Mulai dari susunan kata sampai attachment file, semuanya serupa. Tidak ada satu huruf maupun angka yang meleset.

"Ketiganya berisi e-mail yang sama!"

"Ya. Benar-benar sama." L menunjuk ketiga layar di hadapannya. "Coba anda baca subject dari ketiga mail itu."

.

.

Subject : For Lawliet

.

.

Untuk Lawliet.

.

.

Siapapun yang mengirim e-mail itu tahu kalau pemilik nama L, Denuve dan Coil adalah orang yang sama—L Lawliet.

.

.

.

19

(Cordirella Central, Dominican Republic, Hispaniola

BASEMENT)

"Matt! Ide bagusmu itu—hosh—ini?"

"Kita harus—hosh hosh—jaga jarak, Mello!"

Keduanya berlari kencang dan berbelok ke arah kanan. Mello menggeretakkan gigi, berusaha menangkap napas yang berterbangan dari mulutnya. Tidak sekalipun Matt menoleh ke belakang, kedua matanya yang kehijauan lurus menatap ke depan, benaknya merangkai ribuan taktik. Semuanya sama beresiko, sama mustahilnya.

Berbeda dengan video game, realita tidak punya check point maupun save. Jika salah langkah mereka tidak akan kembali ke awal, tapi maju terus ke pemakaman.

Matt jadi berpikir untuk pensiun.

Dia sudah terlalu tua untuk pekerjaan berat begini. Tulangnya sakit semua, seperti kakek-kakek rematik. Mungkinkah dia harus mengurangi rokok dan bir?

Sial. Seharusnya dia bekerja di kantor pos dan menikmati rumah tangga dengan istri cantik dan anak lucu-lucu, bukannya dikejar-kejar monster dalam keadaan membujang begini. Jadi tentara memang berat.

Di belakang, dengung para penyengat terdengar mulai mendekat. M84 Stun Grenade yang tadi dia lemparkan memang tidak menimbulkan kerusakan kecuali kebutaan sesaat—namun itu lebih dari cukup untuk Matt.

Di pikirannya cuma satu : jaga jarak.

"Mell!", Matt menoleh ke arah rekannya dan melepaskan pegangan tangan mereka. "Hitungan ketiga, berhenti dan lemparkan Grenade sejauh mungkin!"

"E-Eh?"

"Satu, dua—TIGA!"

Hanya bermodalkan refleks, Mello berhenti tepat pada waktunya. Dia mengambil manuver tajam, meraih Mashed-potato Grenade yang tergantung di pinggang dan membuka kunci safety pin dalam satu sentakan. Dilemparkannya Grenade itu ke arah Varmit yang bergerombol di belakang. Matt menaikkan senapannya dan segera membidik tanpa ragu, mempercepat terjadinya ledakan beberapa detik.

BANG!

Grenade itu dihantam peluru dan meledak di udara.

BOOM!

Tubuh para Varmit pun pecah jadi serpihan darah, gumpalan daging dan percik lendir—lorong Basement itu diguncang dentuman Grenade, dinding bata bergemeretak runtuh. Mello nyaris terlontar ke udara, namun Matt sempat menindih tubuh Mello dan melindunginya dari ledakan, panas api nyaris melelehkan punggungnya.

Dengan susah payah Matt berusaha bangun dari tubuh Mello. Kakinya gemetaran dan seluruh tubuhnya menangis kesakitan, namun tak ada waktu untuk protes. Bahunya sobek terkena serpihan granat.

"Buddy, tidak ada pilihan lain selain hit and run." tukas Matt sambil membangunkan tubuh Mello, helm mereka telah terlempar ke sudut. Matt mendengar dengung marah dari balik tirai asap—masih ada musuh di seberang sana. Mereka tidak punya waktu lagi! "Japanese Hornet bisa menyemprotkan racunnya—dan percayalah padaku kalau kau tidak mau terkena racun itu. Satu-satunya cara cuma konfrontasi langsung, namun tetap jaga jarak! Kita tembak, lalu langsung lari lagi! Kau masih punya Flashbang?"

Mello menggeram. "Masih tersisa dua."

Matt nyengir. "Itu lebih dari cukup. Sekarang, angkat pantat besarmu dan ayo serang."

.

.

.

20

(Cordirella Central, Dominican Republic, Hispaniola

THIRD FLOOR: CORRIDOR)

Tergantung orangnya, namun ada cara untuk mengenali tanda-tanda jika seorang wanita marah pada pria.

Salah satunya adalah mogok bicara. Kaum hawa adalah mahluk paling keras kepala di dunia seperti kura-kura dalam tempurung. Jika mereka sudah memutuskan untuk mendiamkan seseorang, maka mereka akan terus diam sampai seseorang itu bertekuk lutut dan bersujud memohon ampun.

Gevanni tidak akan bersujud, namun ketegangan yang menggantung di udara nyaris membuatnya gila.

"Halle—"

Halle tidak menoleh meski langkahnya tampak dipercepat. Gevanni menyesali kenapa dirinya tidak ahli dalam hal menangani amarah wanita.

"Agent Lidner, saya tahu kalau ini kesalahan saya—"

Wanita itu tetap dalam kebisuannya, tetap berjalan sambil memunggungi Gevanni.

Gevanni berhenti berjalan. Halle berjalan beberapa langkah lalu ikut berhenti saat dia sadar langkah rekannya tak lagi bergema, namun tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya yang ranum.

.

.

"Maafkan saya."

.

.

Halle menghela napas, lalu berbalik. Sinar bulan memberinya kilauan yang aneh. Bayang-bayang jendela berbentuk salib tampak megah di tembok bata. "Saya juga minta maaf karena bersikap konyol."

"Tidak, Agent Lidner. Kekesalan anda memang... beralasan." tangannya menggaruk tengkuk yang tak gatal. Gevanni memang jarang sekali berbicara dengan Halle dalam topik selain pekerjaan. "Bagaimanapun ini salah saya, Agent Matt dan Agent Mello karena merahasiakan hal ini dari semuanya. Namun percayalah, saya—kami tak bermaksud buruk."

"Saya mengerti."

"Kami cuma tak ingin ada kekacauan—dan kami berpikir kalau L—"

"Saya mengerti." nadanya memberi penekanan pada satu kata. Mata mereka yang terhalang visor saling berpandangan. "Namun lain kali jangan... jangan menyimpan semuanya hanya bertiga, oke? Saya tak ingin dikecualikan—terutama dalam hal sepenting ini."

Meski tahu kata-katanya terdengar kekanakkan, namun Gevanni tetap mengangguk.

.

.

.

21

(Cordirella Central, Dominican Republic, Hispaniola

FIRST FLOOR : LIBRARY)

/—saya minta untuk berkumpul di koordinat [22-025-121-001]arah selatan. Sekian dan terimakasih./

PIP

.

.

"Sinting."

Itu adalah komentar yang mewakili opini mereka berdua.

.

.

"Ini benar-benar sinting." Rushual menggelengkan kepala, wajahnya di balik visor tampak tidak percaya. "Misi observasi Level 1 naik jadi genosida level 3? Apa-apaan, ini lelucon yang buruk!"

"Amat sangat buruk." Ralph menambahi sambil bertopang dagu, lalu bangkit dari kursinya. "Apa boleh buat, lebih baik kita segera bergerak. Lebih aman jika kita bergabung dengan tim lain. Quantities bring qualities."

Rushual melihat layar PDA miliknya, memencet beberapa tombol di touchscreen, sebuah proyeksi radar terefleksi di meja kayu. Sekumpulan titik kuning berpencar di sana, berkedip-kedip dan berlarian di atas bentangan hologram hijau. Beberapa berwarna merah, datar dan tidak bergerak. Mereka menyaksikan warna merah itu dengan perasaan muram.

"Ada beberapa yang meninggal, ya." nada suara pria itu terdengar agak meringis. "Aku tahu pekerjaan ini berbahaya, tapi tetap saja rasanya tak menyenangkan."

"Yah, bukankah ini sudah resiko, Rushual? Orang-orang bertempur dan gugur. Yang meninggal jadi pejuang, yang tertinggal tetap berjuang." matanya memandang titik merah di meja, diam dan takkan pernah kembali bergerak. Mati. Tak bernyawa. Pahlawan dalam perang. "Suatu saat—pasti suatu saat, titik kuning kita pun akan menjadi merah."

"Gaya bicaramu seperti tentara yang siap mati saja."

"Aku memang tentara, " Ralph terkekeh "dan aku siap mati."

Untuk beberapa waktu mereka terdiam sampai Rushual mendongkrak keheningan, "...Kita harus mencari rekan lain. Tim mana yang terdekat?"

"Hmm, koordinat [29-421-352-001] arah bar— Eh? Apa itu?"

Ralph menunjuk titik oranye besar yang berkelip di satu tempat kosong, terpisah dari titik-titik lainnya.

"Oranye... kalau tidak salah sinyal yang tak terdefinisi."

"Tidak terdefinisi? Itu artinya—jangan-jangan... Ralph!" Rushual menoleh tajam ke arah rekannya, mata berpandangan. Hanya ada satu kesimpulan.

.

.

"Jangan-jangan... Ada Agent Barcelona yang masih hidup!"

.

.

.

22

(Cordirella Central, Dominican Republic, Hispaniola

BASEMENT)

Matt dan Mello tidak terdesak, melainkan sangat terdesak.

.

.

Matt sudah menetapkan hati; kalau mereka berhasil bertahan hidup dan pulang ke New York, dia akan pensiun dari pekerjaan ini dan cari pacar (wanita, bukan om-om berkumis seperti yang dituduhkan Mello), lalu menikah dan buat anak.

Itupun kalau dia berhasil bertahan hidup.

Astaga, haruskah garis keturunan keluarga Jeevas berhenti sampai disini? Orang tuanya sudah tak ada, saudaranya sudah tak ada, keluarga angkatnya pun telah dikubur rata dalam tanah. Hanya dia satu-satunya harapan untuk meneruskan jejak marga 'Jeevas' di dunia. Kalau dia meninggal disini, bagaimana kelanjutan keturunannya? Masa dia harus menghadap ayah kandungnya di alam baka dan berkata sambil berlinang air mata, 'Maaf Papa, putramu gagal memberi cucu.'

Hell, bisa-bisa ayahnya menyuruh dia lari seratus keliling di akhirat.

.

.

Hit and Run bukan taktik terbaik—malah itu tidak bisa dibilang sebagai taktik. Lebih tepatnya, Hit and Run adalah usaha terakhir bagi tentara manapun yang sudah frustasi dengan keadaan, namun belum mau bunuh diri atau menyerah. Konyol, memang.

Lari, serang, lari, serang. Seperti kucing-kucingan dengan musuh, bedanya kucing yang ini punya racun sengat dan feromon. Sedangkan tikusnya punya granat, submachine gun, dan battle riffle. Tinggal lihat saja pihak mana yang ambruk duluan.

BANG BANG BANG

"F*ckers!"

Dia mendengar Mello menyumpah di sebelahnya.

Keadaan menjadi sangat gawat, lebih gawat dari yang Matt perkirakan. Musuh terus berdatangan tiada habisnya sampai-sampai Matt lupa mana yang sudah ditembak dan mana yang belum. Dia sendiri tahu alasannya kenapa mereka terus berdatangan—feromon yang terlumur di sekujur tubuh Matt telah mengundang mereka untuk datang.

Feromon itu adalah neon sign yang berkelap-kelip dengan tulisan 'AYO SERANG AKU' di atas kepalanya.

Diam-diam Matt meratap kenapa dia selalu bernasib sial. Mau di Papua, mau di Hispaniola, selalu saja dirinya jadi korban. Entah apes, malang, atau super sial.

"Mello, aku sudah menetapkan hati—aku akan pensiun setelah ini!"

"Diam, Matt!"

.

.

"Lari, Mello!"

"Tidak perlu kau bilang!" desisnya keras kepala.

Mello melempar flashbang dan mereka berlari, semakin jauh masuk ke dalam. Koridor bata akhirnya bercabang menjadi dua. Matt yang memimpin di depan mengambil jalur kanan tanpa pikir panjang. Mello mengikuti dari belakang, sama sekali tidak protes dengan pilihan Matt.

Dalam keadaan darurat begini bagaimana bisa protes?

.

.

Grrrt Grrrt

Samar-samar terdengar mesin.

Grrrt Grrrt
.

.

Suara itu semakin jelas, semakin dekat seiring langkah mereka; Matt menajamkan telinga, berusaha menebak dari mana asalnya, di benaknya terdaftar berbagai spekulasi. Matanya mengawasi keadaan sekitar dan dia melihat kilatan panel mesin terpasang di dinding, kontras dengan tembok bata di sekelilingnya.

Kalau dugaanku benar—

Tidak beberapa lama, mereka berhadapan dengan sebuah lift di jalan buntu. Lift itu kuno dan tua, sangat sempit dan hanya bisa mengangkut satu orang, namun masih bisa dioperasikan. Matt sangat berterima kasih pada bintang keberuntungannya akan kesempatan ini.

YES! Thanks God!

.

.

Matt menarik Mello dan mendorongnya sekuat tenaga ke dalam lift. Dengan satu gerakan cepat, dia memencet tombol ke atas.

.

.

"MATT!"

Sebelum pintunya tertutup secara otomatis, samar-samar dia mendengar suara Matt di tengah dengung para Varmit.

"Hasta la vista!"

Dan hal terakhir yang Mello lihat sebelum lift benar-benar menutup adalah cengiran nakal dan jempol yang teracung ke atas.

see you again!

.

.

Matt bersandar di pintu lift yang telah tertutup rapat, menatap rombongan penyengat yang semakin lama semakin mendekat. Tangannya menekan bahu yang sobek, mengucurkan darah segar ke lantai Basement.

Lift ini cuma bisa mengangkut satu orang. Dasar sial.

Tangan kanannya mengangkat Battle Riffle dan tangan kirinya mengambil Grenade. Adrenalin terpompa di tubuhnya dan mengalir bersama darah, mengisi setiap relung dengan perasaan terbakar. Jantungnya terasa hampir loncat dari mulut saking kerasnya dia berdebar.

Mello atau aku. Hidup itu pilihan, Matt.

Dengan giginya, Matt mencabut safety pin dari Grenade. Dalam hati dia tersenyum.

To bite the bullet, gumamnya riang, sekarang jadi benar adanya—situasi sulit yang tak bisa dihindari. Ha. Sebal. Kenapa di saat begini aku teringat 'dia'? Lupakan, Matt.

Grenade pun dilempar tepat ke arah gerombolan Varmit yang tengah melesat. Matt membidik, lalu menarik pelatuk.

Mungkin sudah saatnya dia bergabung dengan keluarganya, keluarga angkatnya, dan adiknya di akhirat

...semua sudah menunggunya di sana, kalau dipikir-pikir.

.

.

.

23

(Cordirella Central, Dominican Republic, Hispaniola

FIRST FLOOR : SECRET CORRIDOR)

Mello tidak bisa memaafkan dirinya sendiri yang begitu ceroboh, namun dia lebih tidak bisa memaafkan Matt yang teramat bodoh.

"BODOH!"

BUG

Tinjunya bersarang di dinding.

Bagaimana bisa—bagaimana bisa dia lalai dan membiarkan Matt berlaku seenaknya?

Segala sumpah serapah mengalir lancar dari mulut Mello. Mulai dari bodoh, brengsek, sneaky bastard, asshole, sok hero, pahlawan kesiangan, pria bajingan, beefjerk, gamer panuan— walau yang terakhir tidak relevan dengan topik. Pokoknya dia marah, marah, teramat marah sampai-sampai badannya bergetar karena menahan gelombang murka yang membanjir. Kepalanya penat, dihantam ratusan jarum di satu titik, suara berdenging nyaring di telinganya.

Mail Jeevas, awas kau.

"Tidak, Mello! Bukan saatnya seperti ini! Bukan saatnya jadi lemah." tangannya mengacak rambut dengan frustasi. Tenang. Tenang. Harus tenang. Matt pria yang kuat dan tentara hebat. Dia akan baik-baik saja—atau paling tidak, dia takkan mati semudah itu. "Aku harus segera turun ke bawah dan menolong Matt."

Pandangan Mello yang kebiruan berputar mencari panel, atau tombol, atau bahkan lever yang bisa digunakan untuk menggerakkan lift agar kembali turun. Namun dia tidak menemukan apa-apa, lift itu hanyalah ruangan baja segi empat yang teramat sempit, kosong tanpa penggerak. Mello mendesis frustasi—jadi lift ini hanya bisa digerakkan dari bawah? Apa-apaan itu?

Samar-samar Mello berusaha mengingat hitungan jarak ketika lift itu berjalan. Kalau perkiraannya tepat, sekarang dia kembali ke lantai satu.

Dia melangkah keluar, setengah menyangka akan melihat gelapnya kondisi di dalam kastil, namun sebuah lorong tunggal telah menanti di hadapannya. Tidak ada jendela, hanya dua dinding bersih yang memanjang sampai ke satu pintu. Keramik di lantai pun licin, kontras dengan kondisi dalam kastil yang didominasi debu dan kotoran.

Putih, putih dan putih yang menyilaukan. Dua dinding putih, keramik putih, pintu putih dan gerendel putih.

Di atasnya berjejer lampu yang menyala.

Matanya membesar. Seharusnya di kastil ini tidak ada listrik.

.

.

Dindingnya dipenuhi banyak sekali laba-laba.

Mulai dari sekecil bintik sampai sekepalan tangan. Putih kusam, coklat maupun hitam, semuanya berbaris di dinding berplester, diam membisu seakan-akan mati suri.

Mello berjengit melihat mahluk yang selalu jadi musuh besarnya. Migraine semakin menjadi-jadi dan menusuk tanpa ampun, namun dihiraukannya hal itu.

Tangan Mello meninju satu laba-laba besar hingga rata. Darah memercik di dinding bersih.

Laba-laba lainnya tidak ada yang bergerak sama sekali.

.

.

"—h i j k lmnop—"

.

.

Samar-samar dari balik pintu, mengalunlah sebuah nyanyian. Terdengar lugu, kekanakkan, namun datar seakan penyanyinya terlampau bosan untuk melantunkan lagu.

.

.

."—q r s, t u v—"

.

.

Kepalan Mello mengetat. Dia menggertakkan gigi.

Suara siapa...?

Pelan dan hati-hati seperti seorang pemangsa yang mengincar buruan, Mello berjalan mendekati sang sumber suara, senapan terangkat dalam kondisi siaga. Langkahnya menggema di lorong kosong ini. Gerombolan laba-laba di dinding masih tidak bergerak, lengket di tempat.

.

.

" —w x, y and z—"

.

.

Tangannya memutar kenop pintu yang juga putih.

.

.

"—now you know my abc—"

.

.

click

Pintu pun terbuka, dan Mello melangkah masuk.

.

.

"—next time won't you sing with—"

.

.

Tempat tidur itu besar dan putih, dan anak itu juga teramat putih, nyaris tak terlihat di antara tumpukan selimut berwarna senada.

Mello berkedip. Anak itu menoleh, tidak berkedip. Kedua matanya yang pekat memandangi Mello secara frontal. Sepasang mata hitam yang bisa menghisap segalanya. Blackholes.

Di tangannya merayaplah seekor laba-laba besar, hitam seperti matanya, kontras dengan berbagai putih di sekelilingnya.

.

.

"Selamat datang. Saya sudah menunggumu."

.

.

can i tangle you in my home?

.

.

.

AAAARGH saya pusing sama chapter ini ;A;

Soalnya udah wanti-wanti dalam hati, 'Pokoknya Near harus muncul di chapter ini!' makanya alurnya dipercepet, padahal banyak hal yang mesti diceritain, jadinya terpaksa lompat-lompat setting. Saya sampai bingung ini yang mana itu yang mana, OTL

Huweee saya payah ;A;

Iya saya tahu kalau saya kejam sama Bang Mamat. Tapi apa mau dikata, plot mengharuskan begitu *ditendang Matt*

Mungkin banyak bagian yang makin nggak jelas disini, tapi chapter depan bakal ada jawabannya kok :D

Again, thanks for reading! Habis ini ada Sidenotes dan jawaban review seperti biasa ;D

.

.

SIDENOTES (skip bila perlu)

1) Gnat : Salah satu nama lokal untuk nyamuk di Britain.

2) Wriggler/Wiggler : Larva dari nyamuk yang tidak punya kaki, dan bertubuh segmen. Hidup di permukaan air, dan cuma menyelam ke dalam kalau diganggu. Penampilannya rada mirip ulat bulu. Punya empat tahap perkembangan atau instars, setelah melalui semua tahapannya Wriggler akan bermetafosa jadi pupa.

3) Tumbler : Salah satu tahapan dalam metamorfosis nyamuk, yaitu pupa. Seperti Wriggler, Tumbler juga hidup di air. Setelah beberapa hari Tumbler akan naik ke permukaan dan menetas jadi nyamuk dewasa.

4) Agent Ratt dan Guardner BUKAN OC. Mereka adalah anggota awal SPK yang mati karena Death Note di manga volume 8.

5) Agent Ralph Bay dan Rushual juga BUKAN OC.

6) The Gingerbread Man : Dongeng populer dari Inggris. Intinya tentang kue jahe yang berhasil kabur, namun pada akhirnya dia dimakan oleh rubah. Saya sudah pernah baca, dan menurut saya pribadi... Endingnya rada disturbing. Spoiler dikit nih, The Gingerbread Man punya peranan penting di fanfic ini.

7)Flashbang /Stun Grenade : Granat yang digunakan untuk membutakan sensor penglihatan secara sesaat. Butuh sekitar lima detik untuk menyembuhkan penglihatan menjadi normal lagi.

8) Scalpel / Lancet : Pisau kecil tajam yang digunakan untuk operasi atau seni(seperti mengukir kayu dll)

9) Hasta la vista : See you again.

10) To bite the bullet : Bertahan dalam situasi menyakitkan yang tidak bisa dihindari.

11) Sekedar kasih tahu, yang dinyanyiin Near itu alphabet song hahaha.

.

.

REVIEW REPLY (skip bila perlu)

1) amiillio : Tenang saja, saya usahakan cepet selama ide masih ada XD hohoho Matt memang awesome, nulis tentang dia justru lebih gampang daripada Mello—walau jadinya ngelenong terus! Dan hints MM banyak kok disini, apalagi di awal-awal Mello sama sekali nggak baikin Near hohoho. L pastilah sama Light—sejalan waktu mereka bakal lebih 'mesra' kokX3

2) Anoctimo : Taglinenya keren? Padahal saya nggak mikir apa-apa pas nulis itu... *digampar* Dan yap, Mello disini lebih playboy (atau lebih beruntung soal cewek) dibanding Matty. Matty nggak suka om-om, kok! Tapi entah kenapa banyak om-om yang suka dia *dihajar Matt* Fic zombienya mungkin habis cerita ini kelar :D (entah masih berapa chapter)

3) Mayu Rockbell : Soalnya di pikiran saya Matt itu justru uke—masih nggak rela kalau Mello uke, hehehe. L pastilah sama Raito, tapi di awal-awal mereka masih selekXD Soal foto Near... Nanti pasti dijelasin kok, yang penting Near ketemu dulu sama Mello hehehe. Nggak panjang kok, justru saya suka review yang panjang-panjang—lebih semangat jadinya!

4) Orange Burst : Alasan Mello dan Halle putus... Nanti ada ceritanya tersendiri, dan percayalah kalau semua peristiwa disini berkaitan satu sama lain (?) Makasih reviewnya ya! :D

5) chizuru mo hamasuta : Ah beneran bikin berkhayal tingkat tinggi? / Makasih reviewnya! :D

6) DK : Kan? KAN? MATT GANTENG KAN? *maksa* Hohoho asyik dong mimpinya jadi science fiction :D

7) Amane : Memaksa apanya neeh? Misterinya? Ceritanya? Pengetahuan abalnya? Kalau misteri sama cerita itu karena banyak yang belum terungkap, percayalah kalau semua detil disini udah saya rencanain :) Kalau pengetahuan abalnya, saya nggak bisa menyangkal kalau itu memang maksa huhuhu.. *aslinya anak IPS*

8) Putri L : Makasih ya reviewnya! :D Duo L penampilannya masih dikit disini, tapi kalau ceritanya udah keluar dari kastil mereka lebih eksis lagi kok!

9) NatureMature : AAAH TIDAK KENAPA KAU BOCORKAN ISI DRAFTKU? Yakk, saya nggak bisa jawab pertanyaan-pertanyaan kamu karena itu spoiler semua, neng. Tapi memang latar belakang keluarga Near pasti saya bahas disini. Dan masalah adeknya, itu karena jaman dulu sudah ada USG(?) Yah, anggap aja dia udah tau dari ibunya kalau adiknya bakal cewek. Kalau nggak salah setelah kehamilan tujuh bulan, gender bayi udah bisa dilihat :) Serangga biasa masih ada kok, dan soal Varmit nanti bakal dijelaskan di fic ini. Pokoknya tunggu aja kelanjutannya ;D

Soal penjahat aslinya siapa saya nggak mau ngomong, harusnya sih sejalan cerita bakal kelihatan jelas.

10) Avacena Ice : Nggak papa kok, saya juga harusnya udah nggak main-main ff tapi tetep aja main kesini *sweatdrop* Soal Near nggak bisa ngomong karena spoiler pisan, tapi Raito pasti sama L kok! Meski saat-saat sekarang mereka sama sekali nggak mesra, hahahaXD Aah, ada typo, ya? D: Padahal udah diperiksa tapi masih saja ada yang meleset OTL Hints MN pastilah ada, tapi di awal-awal jangan harap Mello mau baikin Near hehe... Trapped Bellboy saya udah blas nyerah, nggak tau mau dibawa ke mana itu fic D: Makasih review dan favenya ya! :D

11) ochichi : Near udah muncul! :D Sebenarnya nyaris aja saya tunda kemunculan dia di chapter depan, tapi untung berhasil juga dia nongol hehehe... Mello dan Near tentu ada romensnya, meski masih rada jauh banget DX Makasih reviewnya!