Noona, I Love Him

Author : YunjaeHaehyuk

Pair : YunJae ( Jung Yunho x Kim JaeJoong )

Disclaimer : Mereka milik Tuhan YME, Orang tua mereka, diri mereka sendiri, milik author #dibakarmassa, milik CASSIEOPEIA, dan milik Entertainment mereka masing-masing.

Rate : T atau M? T aja deh, author masih ehem-polos-ehem

Genre : Romance, Friendship, Family, dan temukan sendiri di dalamnya.

Author Note : Annyeong author amatir kambek#narihula. Maaf kalo chapter sebelumnya tidak memuaskan. Author sedang bnyak pikiran sekarang.#kayapunyaotakaja. Author :# pundung

Warning : Budayakan RnR. Dont Like Dont Read. Yaoi. Boy x Boy. Yang anti Yaoi, pergi jauh-jauh.

Previous Chapter :

Aku tersentak begitu sampai di gazebo itu. Aku terpaku menatap pemandangan indah disana. Pemandangan dari seorang malaikat yang menjelma menjadi manusia. Begitu indah dan... sempurna. Kecantikan, kepolosan, keluguan dan semua yang terpancar darinya begitu alami tanpa dibuat-buat. Sosoknya begitu bersinar begitu kontras dengan gazebo yang ditempatinya. Tapi disitulah letak seninya, gazebo bobrok itu makin membuat sosoknya ber-kilauan. Aku yakin semua pria akan rela menempuh- berlari –berkilo-kilometer demi melihat pemandangan menakjubkan ini. Pemandangan dari sosok tercantik yang pernah mereka temui. Pemandangan dari sosok paling bersinar, paling indah, dan paling sempurna di dunia. Pemandangan dari seorang Kim Jaejoong yang tertidur dengan begitu tenangnya dengan rambut yang bergerak tersentuh angin. Aku merasa iri pada angin yang bisa dengan bebas menyentuh tiap jengkal dari tubuhnya. Tiap jengkal dari tubuh Jaejoong-Ku.

~(''~) Start Story (~'')~

Jung Yunho PoV

Tunggu! Apa aku baru saja memanggilnya Jaejoong-Ku.? Ku? Itu bisa berarti memiliki, kan? Apa itu berarti aku menganggap diriku sebagai pemilik dari Jaejoong? Aigo.., kurasa benar yang dikatakan oleh fans Jaejoong - yang kebanyakan adalah laki-laki - bahwa melihat Jaejoong terlalu lama akan membuat gila.

Sebaiknya aku pergi sebelum dia bangun. Aku hendak beranjak dari tempatku berdiri tapi sesuatu yang lembut menahan tanganku. Aku menurunkan pandanganku kearah tangan Jaejoong yang memegang tanganku erat. Kulitnya yang putih dan halus tanpa cela terlihat kontras dengan kulit tanku yang seksi. Hey, jangan menatapku seperti itu! Aku hanya meniru ucapan fansku.

Aku menarik tanganku perlahan agar tidak mengganggu tidur cantiknya, tapi genggamannya terasa begitu erat.
"Omo..!" aku terduduk di samping kepala Jaejoong yang dengan seenaknya menarik tanganku kuat-kuat. "Hei, Mwo ha..!" ucapanku terputus saat dengan seenaknya- lagi – Jaejoong merebahkan kepalanya di pahaku. Aku semakin panik saat Jaejoong dengan polosnya menggesek-gesekkan wajahnya ke pahaku kemudian melenguh seperti seekor puppy. Benar-benar pemandangan yang menggemaskan, lucu, sekaligus membuat jantung berada dalam zona bahaya karena terus berdetak di ambang batas normal. Tadi sudah kukatakan bahwa berada terlalu dekat dengan Jaejoong bisa membuatmu gila dalam sekejap.

Aku mengguncang bahunya sedikit untuk membuatnya tersadar tapi dia tetap tidur. Akhirnya kuputuskan untuk memindahkan kepalanya ketempat semula. Aku mengurungkan niat untuk pergi ketika melihat Jaejoong yang gelisah dala tidurnya. Wajahnya terlihat tidak nyaman. Setelah menimbang-nimbang cukup lama, aku memutuskan untuk menemaninya disini. Aku kembali mendudukkan badanku di kursi gazebo. Menyamankan posisiku sendiri lalu membawa kepalanya ke atas pahaku sebagai pengganti bantal. Ajaibnya, tidur Jaejoong yang tadinya gelisah berubah menjadi tenang seperti saat pertama kali aku melihatnya.
Aku terus menatap wajah menawan laki-laki di pangkuanku itu. Tanpa sadar tanganku tergerak untuk mengelus rambutnya yang terlihat begitu halus dan lembut. Dan sensasinya benar-benar luar biasa! Bagaimana bisa seorang laki-laki tulen sepertinya memiliki rambut yang lebih halus dari rambut seorang wanita sekalipun. Perlahan rasa kantuk mulai menyerangku. Saat mataku hampir terpejam sepenuhnya, aku merasakan kehangatan di telapak tanganku yang kemudian menyebar ke seluruh tubuhku dengan cepat. Tanpa sadar aku tersenyum tulus dalam tidurku.

Jung Yunho PoV End

Jaejoong PoV

Aku mengerjapkan mataku berusaha mengumpulkan nyawaku yang masih berkeliaran dimana-mana. Tidurku benar-benar nyaman. Membuatku enggan enggan melepaskan diri dari bantal empuk yang ada dibawah kepalaku. Kurasa aku akan tidur lagi.

'Eh? Chakkaman! Bantal? Bukankah aku tidur di atap? Kenapa ada bantal? Apa aku masih bermimpi? Yah, tadi aku memang bermimpi tentang ehem.. Yunho.. Ehem yang membiarkanku tidur di pahanya, tapi kenapa bisa terasa sampai aku bangun? Apa efek mimpi bisa separah itu? Ohh, aku baru tahu. 'Chakkaman! Hal seperti itu tidak mungkin kan? Dan lagi apa ini yang ada di depanku? Terlihat seperti perut seseorang yang dilapisi dengan kemeja putih dan blazer.. hitam? Terlihat seperti baju yang dipakai Yunho saat insiden tadi. Aish mengingat insiden itu membuatku kesal tapi wajahku memanas. Huaahh... Benar-benar membingungkan.

"Selesai dengan acaramu, hey, Sleeping Beauty?" aku membelalakkan mataku saat mendengar suara yang familiar di telingaku. Mata doe-ku semakin terbelalak saat satu pemikiran hinggap di kepalaku. Jangan-jangan...

Perlahan-lahan aku membalikkan badanku yang tadinya miring menghadap keatas. Mulutku menganga sepersekian detik. Aku kehilangan kata-kata. Antara malu dan.. entahlah, aku bingung tentang apa yang kurasakan.
"Hei, kenapa kau diam, My Sleeping Beauty?" tanyanya dengan seringaian menyebalkan khas dirinya itu.

"M-mwo? Aku bukan sleeping beauty, babo! Aku namja! Harus berapa kali aku katakan kalau aku itu namja! Dan lagi, apa itu my? Kau pikir aku ini milikmu? Hah, dalam mimpimu saja, Jung!" balasku setengah gugup.

"Tidak ada namja yang tidur dengan melenguh seperti anak kucing, Kim! Kau bahkan tidur begitu lama sampa pahaku terasa kram. Apa sebegitu enaknya tertidur di pangkuan laki-laki tampan, eoh? Sampai-sampai kau engga terbangun." Ejek Yunho padaku.

Wajahku sontak memerah tanpa kuperintah. Aku ingin menyangkal ucapannya tapi tidak bisa. Kuakui aku tertidur nyenyak sekali tadi bahkan aku sampai bermimpi tentangnya. Benar-benar memalukan.

Geundae... Chakkaman..

"Itu salahmu sendiri! Siapa yang menyuruhmu untuk menjadikan pahamu sebagai bantal untukku?" ketusku.

Kulihat dia menampilkan wajah tak percaya dengan alis terangkat sebelah sebelum tertawa dengan keras tanpa tahu malu. Aku mengerucutkan bibir melihat si Jung itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti tertawa.

"Ya! Apa yang kau tertawakan, pabo! Apa pahamu yang kram membuat saraf otak kecilmu itu bergeser dan memberi efek gila padamu, eoh?" bentakku sarkastis.

"Haha..." bukannya menjawab, namja Jung itu malah terus tertawa membuatku bingung. Author juga bingung. Readers pun bingung bahkan rumput yang bergoyang (?) pun bingung.

"Berhenti tertawa, JUNG!" teriakku merasa geram dengan tawanya yang menyebalkan. "Sebenarnya apa yang kau tertawakan? Jangan membuatku terlihat bodoh disini, Jung!"

"Haha.. Kau memang bodoh, Kim!" jawabnya yang membuat perempatan Myeongdong beserta isinya (?) berpindah ke keningku.

"Ya! Apa maksudmu, eoh?" Aku berdiri di depannya dengan tangan berada di pinggang #ngertikan?. Aku merasa sedikit puas karena dengan posisi ini aku menjadi lebih tinggi dari Jung Pabo ini.

Yunho berdehem sedikit untuk menghentikan tawanya. Sekarang namja Jung itu sudah benar-benar berhenti tertawa. "Kau bodoh, Kim. Kau pikir aku sekurang kerjaan itu merelakan pahaku untuk menjadi bantalmu? Itu tidak mungkin. Sangat tidak mungkin."

Kim Jaejoong PoV End

Author PoV

"Kau bodoh, Kim. Kau pikir aku sekurang kerjaan itu merelakan pahaku untuk menjadi bantalmu? Itu tidak mungkin. Sangat tidak mungkin." Jawab Yunho malas.

Mata doe Jaejoong terbelalak. "L-lalu tadi kau, pahamu..?" tanya gugup membuat kalimatnya jadi berantakan.

Yunho terkekeh sebentar lalu menjelaskan apa yang terjadi selama Jaejoong tidur dengan rinci dengan penambahan disana-sini seperti Jaejoong yang terus menggenggam dan menciumi tangannya yang sontak membuat mata besar Jaejoong menjadi semakin besar. Jaejoong sekarang terlihat sangat menggemaskan dengan mata membola dan wajah memerah sampai telinga.

Jaejoong menggelengkan kepalanya pelan. "Itu tidak mungkin. Ani. Aku tidak mungkin melakukan hal sememalukan itu. Kau pasti berbohong, kan, Jung?"

Yunho tertawa keras. " Kau pikir apa gunanya aku berbohong padamu, eoh?" Yunho terdiam sejenak kemudian menatap Jaejoong dengan tatapan –pura-pura- terkejut. Yunho terus memandangi Jaejoong intens seolah ingin memakannya membuat yang di pandangi risih.

Jaejoong meneliti badannya bahkan dia meraba-raba wajah putih mulusnya untuk memastikan tidak ada yang salah padanya sehingga membuat seorang Jung memperhatikannya dengan begitu intens. "W-wae? Kenapa kau memperhatikanku seperti itu? Jangan bilang kau mendadak gila, Jung!"

Yunho tidak menjawab pertanyaan Jaejoong. Dia hanya memandang wajah cantik Jaejoong dengan mata musangnya yang tajam dan bisa membuat semua wanita terpesona. #eeaaaa. Jaejoong menjadi semakin salah tingkah dengan sikap Yunho, dia pikir dia sudah melakukan hal yang sangat memalukan hingga anak orang menatapnya sampai seperti itu.

"Jung, kenapa kau melihatku terus? Apa ada yang salah dengan penampilanku? Hey, Jawab!" Pinta Jaejoong lagi yang hanya dianggap angin lalu bagi Yunho.

"Ya! Jung Yunho! Berhenti menatapku seperti orang autis begitu, pabo!" bentak Jaejoong yang mulai jengah dengan sikap Yunho yang semakin hari menjadi semakin aneh.

Sontak Yunho tersadar mendengar teriakan Jaejoong yang mengalahkan teriakan Tarzan. Dia mengusap-usap telinganya yang mendadak berdengung.

"Bisakah kau tidak berteriak! Aku masih sayang telingaku, pabo! Dasar laki-laki androgini cerewet!" ejek Yunho kesal setengah membentak.

Jaejoong yang kaget mendengar bentakan Yunho otomatis ikut meledak, "Ya! Kenapa kau membentakku? Seharusnya yang marah itu aku, bodoh!"

Yunho mengernyitkan kening heran,"Kenapa kau harus marah padaku?" tanyanya dengan wajah yang dibuat sebingung mungkin.

Jaejoong berdecak kesal, "Tentu aku harus marah padamu, Jung! Kau terus menatapku tanpa berkedip seolah-olah aku adalah tersangka kejahatan yang wajib dihukum seumur hidup!" bentak Jaejoong kalap.

Yunho terdiam dalam posisinya. Dia kembali menatap Jaejoong dalam-dalam selah-olah menyuruh Jaejoong untuk masuk kedalam tatapan maut (?) nya itu.

"Yu.." ucapan Jaejoong terpotong oleh Yunho yang tiba-tiba berdiri dan mencengkram pundaknya. "Jung.." cicitnya. Jaejoong berusaha melepaskan pegangan Yunho tapi tidak berhasil.

"Diam dulu, Jae. Biarkan aku memastikan sesuatu." Kata-kata Yunho membuat Jaejoong bungkam dengan ajabnya. Jaejoong hanya diam membiarkan Yunho menatapnya lebih lama kelamaan dia juga mulai terbuai dengan tatapan Yunho yang jarang sekali ditunjukkan oleh orang agkuh seperti Yunho. Tatapan lembut yang begitu menenangkan.

"Jae," tubuh Jaejoong bergetar mendengar namanya disebut oleh suara Yunho yang berat, "Apa kau menyukaiku, Jae?" tanyanya yang langsung membuat mata rusa Jaejoong terbelalak.

"Ani! Kau gila, Jung! Lepaskan aku, bodoh!" Jaejoong terus meronta tetapi tenaganya tidak akan sebanding dengan Yunho.

"Kalau begitu, aku yang menyukaimu, Kim Jaejoong. Jdilah milikku!" ucap Yunho diktator. Sedangkan yang diperintah hanya diam mematung tidak tahu harus bereaksi seperti apa.

1

2

3

4

5

"MWWOOOOOO..?!"

TBC

Mian Cuma dikit, Author lagi sibuk sama tugas..

Okelah, Author ngga mau banyak bacot. RnR ne.

Yang RnR Author doain bia ketemu sama biasnya. AAAAMMMMIIEEENNN

Yesungdahlah, Annyeong...#lambai2beruangJaemma