Summary : kau tahu, seorang Uchiha memang sulit untuk dimengerti.

Rate : T

Pairing : Sasuke x Naruto

Genre : Romance/Drama

Disclaimer : Naruto © Mashashi Kishimoto

Terinspirasi dari komik Mint-na bokura by Wataru Yoshizumi

WARN : YAOI, gajeness, EYD berantakan, typo(s). it's a yaoi fic. If you have a problem with it, just click the 'back' button. Don't' like? So don't read! At least don't FLAME!

If you want to flame my fic, please Log In at the first. To prove that you are not a LOSER

happy reading minna~

.

.

.

Naruto mengacuhkan pandangan-pandangan mematikan dari sejumlah anak perempuan dan terus saja berjalan disepanjang koridor menuju kantin, untuk sarapan.

Kantin sekolah terletak diujung koridor. Jadi terlebih dahulu harus melewati beberapa ruangan dan UKS.

UKS? Ya, Naruto sedikit memperlambat langkahnya didepan ruangan itu. Kalau Deidara tidak datang dan menyelamatkannya kemarin. mungkin saja dia masih harus menunggu di UKS sampai Sizune sensei datang dan membukakan pintu. Hiii~ Naruto bergidik ngeri. Baru membayangkan bermalam di UKS bersama Sasuke si Teme mesum-menurutnya- saja sudah membuatnya ngeri.

Naruto semakin mempercepat langkahnya menuju kantin sekolah. Dia tidak mau melewatkan jam makan paginya. Semalam dia sudah melewatkan jam makan malamnya hanya karena pingsan di UKS. Sekarang jangan sampai dia juga melewatkan sarapannya.

Semakin menuju ke keramaian. Maka semakin intens death glare dari beberapa murid perempuan disekolahnya, membuatnya serasa seperti sedang ditelanjangi dengan tatapan-tatapan itu. Naruto memang biasa dengan tatapan orang banyak semenjak bersekolah disana tiga hari yang lalu. Tapi biasanya dari anak laki-laki yang langsung menggodanya. Bukan dari anak perempuan seperti sekarang.

Naruto terus berjalan, di areal kantin yang cukup besar. Kantin murid perempuan dengan laki-laki dijadikan satu. Jadi setiap pagi kantin sekolah pasti akan begitu ramai karena keributan yang ditimbulkan oleh beberapa anak laki-laki.

Setelah mendapatkan pesanan makanannya, Naruto membawa nampan berisi penuh dengan makanan itu melewati beberapa siswa yang mengantri dibelakangnya. Matanya menyeleksi satu persatu wajah murid di kantin mencari-cari keberadaan Deidara. Dia tidak ingin makan sendirian lagi seperti semalam. 'membosankan kalau tak ada neechan'

Bukannya menemukan Deidara, Naruto malah menemukan teman sekamarnya yang sedang menatap tajam padanya. Tidak, kali ini tatapan itu lebih tajam dari biasanya. Naruto sedikit merinding melihatnya. Dia heran. Bagaimana wanita secantik Sakura bisa terlatih dengan tatapan mematikan itu. Bakat atau emm? entahlah, Naruto tak berniat untuk mempermasalhkannya.

Berniat mengacuhkannya, Naruto menggerakkan kakinya melewati meja yang diduduki Sakura serta beberapa teman sekelasnya-yang sekarang juga menatap tajam padanya.


A Naruto fanfiction by akako 'cho' michiko

Ich Brauche Dich


Mata Naruto melihat sebuah tangan yang melambai padanya. Awalnya dia pikir itu Deidara, namun ternyata tangan itu berasal dari Tenten, teman sekamar sekaligus teman sebangku Deidara.

"Naruto, sini," Tenten memberikannya isyarat untuk segera mendekat ke meja kosong yang hanya didudukinya sendiri. Biasanya dia selalu bersama Deidara. Tapi kemana Deidara sekarang?

Naruto mendekat dan meletakan nampannya dimeja yang ditempati Tenten.

"Mana neechan?" tanyanya langsung. Tenten merubah raut wajahnya yang awalnya ceria menjadi sedikit muram.

"Dia ada di ruang kesehatan, tadi pagi badannya panas sekali. Jadi aku langsung mengantarkannya keruang kesehatan."

"Apa itu karena menjemputku di ruang kesehatan ketika hujan deras kemarin malam?" Naruto sedikit merasa bersalah pada Deidara. Kemarin Deidara yang menganggap teriakannya ditelpon kalau dia sedang bersama om-om mesum itu benar, langsung berlari menuju UKS sampai lupa membawa payung atau sekedar mantel hujan untuk melindungi tubuhnya dari hujan deras diluar.

Naruto mengusap kepalanya. Masih terasa jitakan pedas Deidara kemarin malam ketika mengetahui Naruto telah berbohong padanya. Setelah itu dia pergi meninggalkan Naruto. Entah hanya perasaan Naruto atau dia melihat mata kakak kandungnya itu sembab seperti habis menangis cukup lama? Tapi kenapa?

"Ahh, tidak juga. Kurasa itu karena dia terlalu lama menangis semalam karena melihat kalau-, ehhh lu-lupakan!" Tenten menampar pelan mulutnya sebelum menutupnya rapat-rapat. Hampir saja dia membocorkan rahasia Deidara pada orang yang Deidara sangat tidak ingin untuk mengetahuinya.

"Me-menangis? Neechan menanggis? Ta-tapi kenapa?" Tanya Naruto penasaran.

"A-ano, kan sudah kubilang lupakan saja. Aku hanya salah bicara tadi," Tenten berusaha memasang wajah polosnya. Meyakinkan Naruto kalau semua yang diucapkannya benar. Tapi Naruto masih memandang tidak percaya padanya. Naruto baru akan melanjutkan aktifitasnya mengintrogasi Tenten, tapi Tenten buru-buru memotongnya.

"Ehh, Naru-chan. Apa benar gosip-gosip itu?" Tanya Tenten penasaran. Berusaha mengalihkan perhatian Naruto dan berhasil.

"Gosip apa?" Naruto yang tidak mengerti maksud pertanyaan Tenten hanya bisa mengernyitkan dahi bingung.

"Ahh, jangan pura-pura tidak tahu begitu Naru-chan. Seluruh orang disekolah ini sudah tahu kalau kau dan Sasuke itu sudah berpacaran!" Seru Tenten girang. Mungkin hanya beberapa gadis saja yang seperti Tenten, menerima dengan lapang dada gosip yang menyebar begitu cepat dikalangan anak perempuan disekolahnya.

"Pa-pacaran? Kata siapa?"

"Masih mau berbohong rupanya. Kalau kalian tidak berpacaran, coba kau jelaskan maksud dari gambar-gambar ini," Tenten menyerahkan ponsel ber-cashing coklat madunya pada Naruto.

Naruto menatap Tenten yang sedang memasang wajah menuntut penjelasan padanya lalu terlebih dahulu menyeruput air mineral dari gelasnya sebelum mengambil ponsel Tenten. Kesalahan fatal, karena dia langsung tersedak air setelahnya.

"Kau tidak apa-apa naru-chan?" Tanya Tenten khawatir.

"I-ini apa maksudnya?" Naruto menunjuk tak percaya pada apa yang baru saja dilihatnya dari ponsel yang diserahkan Tenten.

"Harusnya kan aku yang Tanya begitu naru-chan. Yang ada di foto ini kan kau."

Naruto kembali memutar matanya pada gambar-gambar yang disuguhkan ponsel flip tipis milik Tenten, disitu tergambar jelas adegan semalam dimana dia sedang memeluk Sasuke karena petir diluar dan- hey, kenapa dia baru sadar kalau Sasuke juga membalas pelukannya semalam. Tapi hey, itu tidaklah penting sekarang. Yang penting, siapa yang memotretnya semalam. Bagaimana bisa. Dan yang paling penting diantara semuanya apa tujuannya menyebarkan foto-foto ini. Iseng? Yang benar saja!

"Dari mana kau mendapatkannya?"

"Dari mana?" Tenten mengulangi pertanyaan Naruto yang hanya dibalas anggukan oleh Naruto

"Aku tidak tahu siapa pelakunya, begitu bangun aku langsung mendapati seseorang telah mengirimkan gambar ini padaku. Ternyata bukan hanya aku saja. Hampir seluruh murid perempuan disini juga sama. Kau tidak mendapatkannya?"

Tampa ba-bi-bu lagi Naruto segera membuka ponselnya, dan benar. Ada 3 pesan masuk disana, dan semua berisi gambar yang sama persis dilihatnya di ponsel Tenten barusan.

"Kau tahu, banyak yang tidak menyangka Sasuke yang anti cewek ternyata bisa pacaran juga. Padahal banyak orang berasumsi kalau Uchiha sombong itu seorang gay, tapi lihat kenyataannya sekarang. Kau baru tiga hari disini dan bisa membuat manusia berhati es itu bertekuk lutut padamu. Kau hebat!" seru Tenten girang. Pukulannya pada punggung Naruto makin kuat saja.

"Tu-tunggu? Apa maksudnya sih?"

"Maksudnya?" Tenten kembali membeo, yang lagi-lagi hanya dijawab anggukan oleh Naruto.

"Maksudnya tentu saja kau itu hebat. Semua perempuan disekolah ini hampir mati terbakar cemburu padamu Naru-chan."

"Cemburu? Jadi itu yang membuat mereka menatapku buas seperti sekarang?" Naruto menyimpulkan. matanya melirik sekilas pada ratusan pasang mata yang masih menatapnya tajam. 'mengerikan'.

"Ya, begitulah. Wajar sajakan. Kau sudah berhasil mengambil sesuatu yang tidak akan pernah bisa mereka raih."

"Maksudmu yang tidak pernah mereka raih itu Sasuke?"

"Yep, siapa lagi?"

"Jadi Sasuke itu cukup terkenal ya?"

"Cukup terkenal katamu? Dia itu sangat terkenal Naruto. Dengan wajah tampan, badan bagus, jenius dan seorang kapten basket handal disekolah ini sudah membuat para siswa perempuan mabuk kepayang padanya. Apalagi dengan adanya fakta klan Uchiha yang berdiri dibelakangnya. Makin membuatnya popular dikalangan gadis remaja, tidak hanya disekolah ini, banyak juga siswa sekolah lain yang rela membolos hanya untuk melihatnya berlatih di lapangan." ralat Tenten. Ditatapnya Naruto yang masih memasang tampang tak percaya.

"Kau serius si Teme bermulut silet itu, seterkenal itu?"

"Kau ini bodoh atau pura-pura bodoh sih. Kau tidak menyadari pesona Uchiha yang begitu kuat?" Naruto hanya menggeleng, membuat Tenten menghela nafas panjang.

"Aku kasihan pada Sasuke, bisa-bisanya dia suka pada orang sepertimu,"

"Eeh?"

~xXxXx~

"Apa kataku untuk tidak mendekati Sasuke heh?" teriak seorang gadis cantik berambut merah muda pada seorang gadis berambut pirang berkucir dua yang sekarang bersender pada sebuah pohon maple berbatang besar dibelakangnya. Masing-masing tangannya ditahan oleh dua orang gadis yang dikenalnya sebagai Ino dan Karin, teman sekelasnya.

"Apa mau kalian?" Tanya Naruto, si pirang yang kini terdesak oleh ketiga teman sekelasnya.

"Apa mau kami? Kami mau kau keluar dari sekolah ini. Gadis murahan sepertimu tidak pantas bersekolah disini." Sekarang yang berteriak bukanlah sirambut merah muda, melainkan gadis berambut merah, berkacamata yang menahan tangan kiri naruto untuk tidak berontak. Karin.

"Hey, apa maksudmu dengan murahan heh?" Naruto mencoba melawan. Tapi sia-sia. Tapi tangannya dicengkram kuat oleh dua orang teman sekelasnya itu.

Naruto ditarik paksa dari kantin sebelum sempat menyentuh sarapan paginya sedikitpun. Belum lagi semalam dia melewatkan makan malamnya hanya untuk pingsan di ruang kesehatan. Jadi wajar saja dia lemas sehingga tidak dapat berontak. Walaupun dia seorang laki-laki sekalipun.

"Berlagak sok polos rupanya. lalu apa maksudnya dengan ini?" Sakura kembali membentak. Sakura menunjukan layar LCD ponselnya didepan wajah Naruto. Gambar yang sama dengan yang ditujukkan Tenten dikantin beberapa menit yang lalu padanya.

Naruto mendengus kesal. 'Ternyata karena ini,' pikirnya.

"Aku tidak tahu apa-apa soal foto itu."

"Tidak tahu apa-apa? Bagaimana kau bisa tidak tahu apa-apa kalau kau sendiri yang yang ada di foto ini." Bentak Ino kesal.

"Sungguh, aku tidak tahu apa-apa. harusnya kalian menanyai Sasuke, bukannya aku. Aku yang menjadi korban disitu."

"Kau bergurau? Untuk apa Sasuke melakukan ini semua? Satu-satunya orang yang patut menjadi tersangka itu kau." Karin tertawa keras mendengar perkataaya sendiri. Membuat Naruto memandang takut padanya. 'gadis ini gila' pikir Naruto.

"Kau ingat, jangan pernah berpikiran untuk menjadikan Sasuke milikmu. Its NONSENSE!, dia itu milikku," kali ini Sakura kembali berteriak. Dan tertawa seperti Karin diakhir kalimatnya.

"Aku bukan milikmu Sakura. Juga bukan milik siapun. Berhentilah mengkalim diriku," suara datar yang dilayangkan dengan nada dingin itu membuat kegiatan tiga gadis yang sedang mengintimidasi Naruto berhenti seketika.

"Sa-Sasuke? Apa yang-?"

"Aku tidak sengaja lewat dan mendengar kau berteriak kalau aku ini milikmu," mengerti maksud pertanyaan Sakura, Sasuke memotongnya cepat.

Sasuke memutar bola matanya menghadap gadis pirang yang kedua sisi tangannya ditahan oleh dua orang teman sekelasnya.

"Apa yang kalian lakukan?"tanyanya datar.

Merasa diperhatikan, Ino dan Karin spontan melepas tangan Naruto. Lalu berlari mendekati Sakura.

"Memperingatkannya untuk tidak mendekatimu," jawab Sakura enteng.

Sasuke hanya mendengus geli.

"Kau bukan orang yang berhak mengaturku Sakura," Sasuke memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana. Kemudian berjalan menghampiri Sakura.

"Tapi suatu saat nanti aku pasti akan menjadi istrimu Sasuke, kita berjodoh!"

"Sekarang atau selamanya kau tetap akan jadi sepupuku. Bisakah kita tidak membahas hal ini lagi. Aku bosan," Sasuke menatap tajam Sakura. Meyakinkan gadis itu kalau dia benar-benar bosan dengan situasi seperti ini. Situasi dimana Sakura terus-menerus mengklaim Sasuke sebagai miliknya dihadapan semua orang.

"Pergilah," Sasuke berujar.

Sakura mencengkram kuat tangannya. Menahan tubuhnya yang bergetar akibat tangis yang ditahannya. 'Sasuke lebih memilih menolong gadis jelek itu? brengsek!'

Sakura menyentakkan kakinya, sebelum berbalik dan berlari meninggalkan Sasuke yang diikuti oleh kedua temannya.

Naruto bersumpah kalau dia melihat Sakura meneteskan air mata sebelum gadis itu membalikkan badannya dan beralari meninggalkan mereka.

"Gadis itu menyeramkan," gumannya kecil. Tapi ternyata didengar juga oleh Sasuke.

"Semua gadis itu menyeramkan buatku," Sasuke membalas gumaman Naruto. Naruto menatapnya sekilas.

"Aku baru tahu kalau kalian itu sepupu,"

"Ya, ibunya Sakura merupakan adik ayahku," Naruto mengangguk mengerti mendengar penjelasan Sasuke.

"Tapi dia lebih mirip seperti pacarmu dari pada sepupu," Sasuke hanya menatap Naruto yang lebih pendek darinya. Kemudia berjalan meninggalkannya.

Naruto hanya diam, dan berniat meninggalkan halaman belakang sekolah. Sampai dia ingat suatu hal.

"Teme, tunggu." Naruto berlari mengejar Sasuke yang belum terlalu jauh darinya.

"Apalagi Dobe?" Tanya Sasuke, begitu Naruto berhasil menarik lengan seragamnya. Membuat langkahnya terhenti.

Naruto meraba saku roknya lalu mengeluarkan ponsel flip orange bergaris hitam dengan gatungan rubah kecil berekor sembilan dibawahnya.

"Apa ini?" bentak Naruto sambil menyodorkan layar ponselnya dihadapan wajah Sasuke.

"Ponsel?" jawab apa adanya. Lalu berniat melanjutkan jalannya kembali.

"Aku juga tahu kalau ini ponsel," Naruto menggembungkan pipinya. "lihat pada layarnya Teme,"

Sasuke memutar bola matanya kembali menghadap layar ponsel Naruto, kemudian menatap gadis pirang itu kembali.

"Kau lihat? Karena foto memuakkan ini, aku jadi dibenci seluruh siswi perempuan disekolah ini. Kau tahu bagaimana rasanya saat mereka menatapmu tidak suka dan berbisik dibelakangmu? Rasanya seperti, hei-. Mau kemana kau?"

Naruto menahan Sasuke yang sudah mengambil ancang-ancang untuk meninggalkannya. Ditatapnya Sasuke meminta penjelasan. Tapi Sasuke hanya menghela nafas bosan lalu kembali pergi meninggalkan gadis pirang itu. Tak menghiraukan Naruto yang berteriak memanggilnya.

~xXxXx~

"Brengsek. Apa maksud sikapnya tadi? Bukannya menjawab malah melarikan diri," sepanjang koridor menuju ruang kesehatan, tak henti-hentinya Naruto mengumpat kesal pada sikap Sasuke beberapa menit lalu padanya.

"Pasti dia yang melakukan itu semua. Lihat saja nanti. Akan kubuktikan pada semua orang,"

Naruto memutuskan untuk melihat keadaan Deidara diruang kesehatan. Dia merasa bersalah karena Deidara sakit seperti sekarang akibat menjemputnya kemarin malam.

Tinggal beberapa langkah lagi, maka dia akan berhasil menggapai pintu ruang kesehatan. Didorongnya pelan pintu kayu bewarna kecoklatan itu.

Naruto baru saja akan melangkahkan kakinya masuk, sampai suara isakan seorang gadis menghentikannya.

Suara itu? Naruto yakin sekali kalau suara itu suara Deidara.

'Neechan menangis?' batinnya.

"Sudahlah Deidara, jangan menangis lagi. Mungkin semua ini hanyalah salah paham," bujuk seseorang yang Naruto yakini sebagai suara Tenten.

"Salah paham? Bagaimana mungkin hanya salah paham Tenten? mereka berdua berpelukan. Apa itu masih kurang membuktika kalau mereka itu memang sepasang kekasih?" Deidara kembali terisak.

'Mereka? Berpelukan? Kekasih? Apa maksudnya? Jangan-jangan ini menyangkut orang yang neechan sukai?' bisik Naruto pelan. Ditajamkannya telinganya untuk dapat mendengar lebih jelas pembicaraan dua gadis didalam sana.

"Sudahlah, berhenti menangis. kau terlihat sangat berantakan sekarang." Tenten masih berupaya menghibur sahabatnya itu.

"Ternyata gossip itu benar. Gossip kalau dia itu-" Deidara tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Dirinya kembali terisak dengan isakan yang semakin keras.

"Padahal aku begitu mencintainya. Tapi kenapa? Apa cinta ku kurang untuknya? aku bahkan rela pindah sekolah kesini hanya agar bisa bersamanya. tapi kenapa?" rintih Deidara pelan dalam dekapan Tenten. Sebagai sahabat Tenten hanya bisa memberikannya tumpangan bahu, sambil sesekali mengelus punggung Deidara untuk menenangkan gadis manis itu.

"Kau tahu, seorang Uchiha memang sulit untuk dimengerti."

"'Uchiha?" bisik Naruto pelan pada dirinya. Dia yakin tidak salah dengar. Tenten baru saja menyebutkan kata 'Uchiha' yang disambut dengan isakan lebih kencang oleh Deidara.

"Jangan-jangan neesan? oh shit!"

.

Tobecontinue-

Ako : Gaaah, chap macam apa ini *melirik miris pada hasil ketikan sendiri*

Naruto : itu chap buatanmu sendiri. Kenapa histeris?

Ako : jelek *pudung dah dipojokan kmar*

Naruto : nah itu tahu, kenapa masih di publish juga? Bego.

Ako : diam kau Dobe. Berhubung senin liburan udah habis, aku jadi gak punya waktu banyak buat ngetik kayak liburan deh. Paling banter juga seminggu sekali mengingat jadwal pulang sekolahku yang sampai jam lima sore. Jadi maaf kalau fic buruk ini bakal makan waktu yang cukup lama buat di publish.

Naruto : pembohong! Biasanya juga tiap dapet review dari readers, kau langsung pasang muka pejuang dengan semangat 45 membara di depan kompi.

Ako : hehehe. Ahh iya juga. Walaupun badan serasa lumpuh karena disiksa 10 jam disekolah gak bakal terasa kalau dapat review dari para readers *cuiiih, gombal* jadi, readers tolong review yaa~ tolong bangkitkan kembali hasrat menulis author malas ini.

.

oh iya, ako rada emosi sama yang jelek-jekin sasunaru akhir-akhir ini. rasanya pengen gigit itu orang deh. padahal kalau kita fujoshi kan bukan berarti kita gak normal. ako masih suka sama laki-laki kok buktinya. yah, ako sih sebenernya fleksibel. laki-laki bisa, perempuanpun boleh juga *ditikam*.

Hehe, ini balesan buat pada reviewers yang gak log in. yang log in bisa dilihat di PM masing-masing. Tenang, semuanya dapat jatah kok! *plak*

KitsuNey

Haha, Sasuke emang pas kalo dikasi julukan om om mesum. Panggil ako-chan aja. Gausah author-san. Hehe, ini sudah publish. Review lagi ya.

.

Ichiko yuuki

Tria, ini kau penname mu ya? *agak ragu*

Ini aku, hehe. Akhirnya terwujud juga cita-citaku bikin sasunaru*bercucuran air mata*.

Kau cepat bikin fic juga. Aku tunggu okee. Buat yang disukai Deidara kau tebak aja sendiri. Hahaha

.

Zee rasetsu

Judulnya komiknya mint-na bokura. Bukan monokuroba-mono-".

Hehe, ini sudah publish. Review lagi ya.

.

Yanz Namiyukimi-chan

*elap air mata* terharu ada juga manusi yang cinta sama fic ini. Makasih *pelukpeluk*

Hehe, ini sudah publish. Review lagi ya.

.

Michiyo

Haha, nama kita hamper sama. Lihat deh.

Makasih reviewnya. Hehe, ini sudah publish. Review lagi ya.

.

Tsukiyomi hikari

Haha, menurutku ficnya jelek. Makanya gak pede. Makasih ya, aku jadi semangat ngelanjutinnya.

Hehe, ini sudah publish. Review lagi ya.

.

Mik

Hahaha, Sasuke emang pantes digituin.

Hehe, ini sudah publish. Review lagi ya.

.

Yuuchan no Haru999 males login.

Salam kenal juga yuu-vhan *plak, mulai sok akrab*

Hehe, ini sudah publish. Review lagi ya.

.

Namikaze Sakura

Hehe, saying benget. Padahal kalo baca dari awal seru loh.

Haha, aku sih pengennya sasori. Tapi cocok gak ya? Ada ide?

Hehe, ini sudah publish. Review lagi ya.

.

Michisan

Haha, makasih makasih makasih

Hehe, ini sudah publish. Review lagi ya.

.

Rubahstoic

Hehe, ini sudah fastupdate. Review lagi ya.

.

Sasunaruisthebestz

Haha, gomen. Ini fic yaoi.

Hehe, ini sudah publish. Review lagi ya.

.

Rosanaru

Boleh dong. Sangat dianjurkan malah reviewnya.

Hehe, ini sudah publish. Review lagi ya.

.

.

PS : pas post fic kemarin. Ako ada bilang kalo ini fic pertama ako. Maksud ako ini fic pertama ako yang pairingnya sasunaru. Perasaan pas ngetik dikompi kata-katanya lengkap deh. Tapi gitu di publish kok bunyinya jadi 'fic pertama'?. Ako udah pernah nulis juga di fandom bleach. Tapi pakai penname lain. Maaf atas kesalahan ini.

See you at the next chap.

Your review is appreciated. So review please.