Akhirnya update chapter kedua!~ Aiiih, senangnyaaa XDDDD

Yo-chan kan masih newbie jadi maaf kalo fic ini banyak Typo, miss typo, OOC yang tak terkira, alur cepat, dan lain-lain.

Kayaknya tamat di chapter 2 nih~Tapi nggak tau juga sih... –plak-

Yaudah Yo-chan nggak mau banyak bacot, jadiiii...

~HAPPY READING, MINNA-SAMA!~


NARUTO

Disclaimer: Masashi Kishimoto

My Close Friend, My Love by Yoshioka Himawari


"Anko, tataplah mataku," kata Kakashi. Tapi Anko malah memalingkan wajahnya.

"ANKO!" seru Kakashi.

"Apa, Kakashi?" Anko terus saja menatap ke arah yang lain.

.

.

.

BRUAAAAKKK!

.

.

.

Sebuah bangku yang jatuh hampir mengenai kepala Anko, tapi kemudian Kakashi menahan bangku itu lalu membetulkan posisi bangku itu.

Sekarang beginilah posisi mereka. Anko terbaring di lantai, kakinya terletak diantara kedua kaki Kakashi. Jantung kedua orang ini berdebar sangat kencang. Anko mengalihkan pandangannya kearah yang lain. Tapi..

Kakashi melakukan suatu hal yang tidak pernah terpikirkan oleh Anko.

.

.

.

.

.

.

"Ka—Kakashi?" wajah Anko merah seketika, sedangkan Kakashi berdiri dan meninggalkan Anko duduk termangu di pojokan.

Apa yang dilakukan Kakashi barusan?

Anko terus saja terdiam, tak percaya apa yang baru saja terjadi, sampai dia melihat Ino CS memasuki kelas. Mungkin untuk mengambil sesuatu. Ia pun langsung merangkak dengan cepat ke meja yang lainnya lalu bersembunyi di kolong meja itu.

"Eh, eh, tau nggak?" Temari memulai pembicaraan.

"Tau apaan?" tanya Tenten, Ino, dan Sakura berbarengan.

"Begini lhoo, baru gosip siih, kata anak-anak kelas XI-D dan XI-C yang satu ekskul sama Kakashi di ekskul baseball, si Kakashi mau nembak Rin, lho!" jawab Temari.

"Haaaaahh?" mata Ino membulat sempurna. "Kupikir dia suka pada Anko!" serunya.

"Aku juga berpikir begitu," kata Sakura.

"Yah, ini kan baru gosip. Aku juga tak tau nanti jadinya gimana," desah Temari sambil memutar bola matanya.

"Eh, ke kantin yuk. Gue pengen beli bento nih," kata Tenten, dan akhirnya mereka berempat pun keluar dari kelas.

Setelah berpikir mereka sudah jauh dari kelas, Anko keluar dari tempat persembunyiannya.

"Fuuuhh, aman deh.." gumam Anko sambil mengelap peluh di dahinya.

Ia memutuskan untuk pergi ke kantin. Dia ingin membeli minuman, karena dia sangat haus. Mungkin dia akan membeli ramen karena dia sedikit lapar.

Anko membawa milk shake—minuman pesanannya dan 1 cup ramen instan (tempatnya kayak pop mie gitu ceritanya) di sebuah nampan.

"Yaaaahh, meja kantin sudah penuh," desahnya.

"Oi, Anko! Nyari tempat duduk?" tanya Sakura.

"I—Iya. Tapi sepertinya sudah penuh, makanya aku akan makan di kelas saja," jawab Anko.

"Daripada di kelas sendirian... Tuh di sebelah Kakashi masih kosong," kata Ino sambil menunjuk ke arah dimana Kakashi duduk.

"Tapi aku lagi pengen di kelas saja. Sudah ya—bye," kata Anko sambil berjalan meninggalkan Ino CS.

"Mencurigakan.." gumam Temari.

"Betul! Biasanya mereka kan nempel mulu kayak perangko dan amplop! Tapi kok kayaknya kali ini Anko jaga jarak dengan Kakashi, ya?" kata Tenten.

"Kita tanya ke Kakashi saja," usul Sakura.

"Gila koe! Mau didamprat sama Kakashi, hah?" seru Ino.

"Oh iya Ino. Lebih baik kamu gunakan saja 'jurus'mu itu ke teman baik Kakashi di kelas XI-C atau XI-D. Lalu tanya apakah benar Kakashi mau nembak Rin," usul Tenten.

"Kok lo malah out of topic sih?" seru Temari menjitak kepala sobatnya yang satu ini.

"Hehehe sorry bro. Tapi ada benarnya juga kan pake usulku? Kalo gosip tentang Kakashi mau nembak Rin itu tidak benar, kita bisa nyomblangin Kakashi sama Anko!" kata Tenten bersemangat.

"Gagasan bagus sih, tapi kan kita tidak boleh asal comblangin. Kalo kita digaprak Anko sama Kakashi, habislah riwayat kita!" seru Ino.

"Betul juga ya..." gumam Sakura. "Tapi seenggaknya mari kita coba gagasan Tenten yang pertama," kata Sakura lagi.

"Ok!"

~~~~~~ooo000ooo~~~~~~

Ino CS memasuki kelas XI-C.

Seorang siswa laki-laki hendak membuang sampah. Ino pun bersiap-siap mengeluarkan 'jurus'nya.

"Haaai..." sapa Ino, suaranya dibuat semanis mungkin.

"Ha—hai," sapa anak itu malu, wajahnya memerah.

'SAATNYA!' seru Inner Ino.

Triiiiiiing... (?)

Ino membuka ikat rambutnya perlahan-lahan, sehingga rambut pirang panjangnya yang berkibar dan wajahnya yang dibuat semanis mungkin membuat siswa itu nosebleed melihat Ino yang terlihat sangaaaaaaaaat cantik.

"Apa kau tau, siapa yang disukai Kakashi?" tanya Ino sambil menyunggingkan senyum manisnya.

"Se—Setahuku sih yang disukai Kakashi sih... Si Rin dari kelas XI-D," jawab siswa itu "Katanya sebentar lagi Kakashi akan nembak Rin," katanya lagi.

"Oooooh... Terimakasih ya," kata Ino.

Ino CS berjalan meninggalkan kelas XI-C. Setelah sudah jauh, Ino menguncir rambutnya lagi (apa maksudnya coba? :P).

"Yaaaaahhh, Kakashi gak friend nih, nggak suka sama Anko!" desah Temari kecewa.

"Atau kita muji-muji Anko didepan Kakashi, biar Kakashi jadi suka sama Anko!" usul Sakura dan Tenten.

"Goblok lo! Cinta itu tuh berdasarkan hati, bukan berdasarkan pujian dari orang lain, tablo!" seru Ino dan Temari. Ino menjitak Sakura, Temari menjitak Tenten, Sakura dan Tenten nyepak author.

"Shimemasu~ Ino ama Temari cantiiik, deh!" seru Tenten ngegombal.

"Minta kantung muntahnya, Tenten-chan," kata Sakura menyunggingkan senyum sok manis yang terlihat sekali diperlihatkan secara paksa (bisa bayangin? XD).

"Yaudah, kok jadi kita yang nongol sih, harusnya kan Anko sama Kakashi yang nongol, iya kan author?" tanya Temari.

"Iah, iah.. Kalian narsis sih," jawab author asal-asalan sambil ngopi (?).

Back to Kakashi n Anko

~~~~~~ooo000ooo~~~~~~

Sebenarnya, dari tadi Anko hanya mengaduk-aduk ramennya tanpa henti, tanpa dicicipi sedikitpun begitu pula dengan minumannya. Pikirannya melayang-layang pada ucapan Temari. Walaupun hanya gosip, itu sanggup membuat isi kepala Anko keriting, sanggup membuatnya kehilangan konsentrasi seperti ini.

"Kenapa harus seperti ini...? Kenapa aku harus menyukainya? Harusnya Tuhan tidak usah membuatku menyukainya kalau Dia tidak mengizinkanku untuk bersama Kakashi," desah Anko sambil menatap langit-langit kelas.

Rasanya Anko benar-benar ingin pulang sekarang. Ia ingin cepat-cepat tidak melihat Kakashi. Ia ingin segera pulang ke rumahnya dan mengamuk di kamarnya. Tiba-tiba Anko merasa ingin buang air kecil, sangat kebelet pipis. Dengan cepat Anko berlari meninggalkan kelasnya, lalu menuruni tangga (toilet ada di lantai 2).

"Nona Mitarashi, jangan lari-lari, tangganya baru dipel!" seru Kisame, office boy (emang di kantoran?) di Sekolah Swasta Konoha High School. *author digaplok Kisame FC gara-gara bikin Kisame jadi OB*

.

.

.

Tapi terlambat. Itu semua..— Sangat terlambat.

.

.

.

ZRUT! (?)

.

.

.

Karena lari-lari terlalu cepat, Anko terpeleset. Sepertinya kepalanya terbentur keras. Buktinya, banyak darah yang mengocor keluar dari kepalanya. Kedua, ia tak sadarkan diri.

Kisame kebingungan harus berbuat apa. Dia hanya panik tapi tidak berani turun karena takut terpeleset (dasar penakut). Tapi—

Kisame lega karena ada seseorang yang datang. Seorang laki-laki berambut perak. Siapa lagi kalau bukan.. Kakashi.

Kakashi yang kebingungan akhirnya menggotong Anko ke ruang UKS. Untunglah, di UKS ada Shizune-sensei.

Di ruang UKS.

"Ha—Hatake! Ada apa dengan Mitarashi?" Shizune terlihat panik melihat banyak darah yang keluar dari kepala Anko.

"Saya tidak tau pasti, tapi kata Pak Kisame dia terpeleset saat menuruni tangga," jawab Kakashi.

"Pasti si Kisame bodoh itu terlalu banyak mengambil air saat mengepel. Sial!" gerutu Shizune.

"Lalu sekarang bagaimana?" tanya Kakashi.

"Maaf Hatake, saya mau lapor ke Tsunade-sama dulu. Tolong jaga Mitarashi dulu ya disini," kata Shizune.

"A—Ah?" Kakashi kaget.

"Keberatan?" tanya Shizune.

"Ti—Tidak sih," jawab Kakashi.

"Ooh, syukurlah. Aku ke Ruang Kepala Sekolah dulu ya, Hatake!" seru Shizune sambil berlari menjauh.

Kakashi menghela nafas, lalu duduk di kursi disebelah kasur UKS yang ditiduri Anko.

Kakashi melamun menatap langit-langit ruangan UKS. Tatapannya kosong. Dia menjambak rambutnya berulang-ulang, menyesal apa yang sudah ia lakukan pada sahabatnya waktu di pojokan kelas.

BRAK

Sontak Kakashi menghadap kearah pintu UKS. Dilihatnya Ino CS memasuki ruangan UKS.

"Anko, apa kau baik-baik sa—Lho, Kakashi?" omongan Tenten terputus melihat Kakashi.

"Ciyee, Kakashi nemenin Anko," kata Sakura.

"Kami kan teman," gerutu Kakashi.

"Teman apa teman?" goda Ino.

"Au ah! Yasudah, aku pergi saja," kata Kakashi.

"Wah, jangan, kasihan Anko. Soalnya kami kesini sebentar aja, cuma pengen pinjem betadine. Gue jatoh pas lagi lari-larian, lecet deh," kata Tenten.

"Oh, cuma mau minjem betadine. Kalo soal lo jatoh sih, gue gak peduli, cuma bisa bilang mampus," kata Kakashi sambil nahan ketawa.

"Nyet banget sih lo!" seru Tenten sambil menjitak kepala Kakashi.

"Yaudah deh, ayo kita keatas. Yo, Tenten!" seru Ino.

"OK, Kakashi kita duluan ya," kata Tenten. Kakashi hanya mengangkat bahu.

~~~~~~ooo000ooo~~~~~~

BRAK

Shizune-sensei dan Tsunade-sama memasuki ruang UKS. Kakashi segera minggir lalu izin masuk ke kelas karena bel sudah berbunyi.

Kelas XI-B.

"Lho? Kok gak ada guru?" tanya Kakashi pada Kiba yang duduk di depannya.

"Ini kan pelajarannya Asuma-sensei. Dia kan cuti!" jawab Kiba.

"Ooooh." gumam Kakashi.

Pikiran Kakashi sekarang hanya tertuju pada Anko. Apakah Anko sudah sadar? Atau ia dilarikan ke rumah sakit? Atau..

Kakashi memutuskan untuk ke ruang UKS untuk melihat keadaan Anko.

UKS.

"Lho, Hatake? Kamu bolos pelajaran, ya?" tanya Shizune.

"Tidak, di kelas sedang jam pelajaran Matematika, gurunya Asuma-sensei. Dia sedang cuti," jawab Kakashi.

"Oooh, ya sudah kalau begitu," kata Shizune.

"Oh iya bagaimana dengan Anko?" tanya Kakashi.

"Ah, keadaannya sudah membaik, tinggal tunggu dia bangun saja," jawab Shizune.

"Fuh," Kakashi menghembuskan nafasnya lega.

Tiba-tiba Iruka-sensei masuk ke ruang UKS.

"Shizune, kamu disuruh pergi ke ruang guru. Ada rapat," kata Iruka.

"Hoh, kamu juga?" tanya Shizune.

"Iya," jawab Iruka.

"Hm, Hatake maaf ya saya mau ke ruang guru dulu, ada rapat. Tolong jaga Mitarashi ya.." kata Shizune.

"Baik."

BLAM

Kakashi duduk di kursi di sebelah tempat tidur UKS. Dia melihat mata Anko yang masih saja terpejam. Tiba-tiba..

"Kakashi, Kakashi."

Kakashi kaget namanya disebut-sebut.

"Kakashi..."

Kakashi menoleh ke arah Anko.

"Anko, kau sudah siuman.. Eh?" Kakashi kaget Anko masih saja terpejam.

"Kakashi.. Aku menyukaimu," kata Anko yang masih dalam keadaan tidur.

"Hah? Apa maksudnya? Anko? Anko!"

To Be Continued ^^


Akhirnya memang tidak tamat di chapter 2.

Nanti ada break sebentar ya? Biar Yo-chan gak bosen, Yo-chan pengen coba bikin fic lain yang oneshot, fic ini distop dulu, nanti dilanjutin lagi :D

Oh iya maaf ya untuk readers yang menanti-nanti chapter 2 yang diupdate terlalu lama atas kesalahan sang author dan sang laptop

(Laptop: Kok gw yang disalahin?

Author: Loadingnya lambat sih!

Laptop: Itu sih yang salah modemnya.

Modem: Woy! Kok jadi gw?)

=="

Pokoknya, klik REVIEW segera! ^^