OASIS

Sequel.

.

.

December28

.

Cast: Choi Junhong, Jung Daehyun , Bang Yongguk

Others

.

Genre: Drama, Hurt

.

Warning: YAOI = BOYXBOY, Not EYD, OOC, Typo, Don't like don't read.

This is Daelo Fanfiction

.

Lets Start

.

Oasis.

Dalam ilmu geografi, oasis adalah daerah subur terpencil di tengah gurun.

Oasis umumnya dikelilingi oleh sumber mata air untuk kehidupan mahluk hidup.

Kau Oasis ku, sumber kehidupanku.

Aku memintamu untuk ada, karena jika aku kehilanganmu itu sama saja dengan kematian.

.

"Aku sudah berkata jangan memaksakan diri Junhong~"

Junhong menggeleng keras, masih mencengkram kemeja Yongguk dan mencoba kembali maju.

Memejamkan matanya dan menjemput bibir Yongguk yang lembab.

Yongguk tak tahan lagi, maka ia menahan bahu Junhong dan melepaskan ciuman itu.

Yongguk hanya bisa menatap sedih kearah Junhong yang memejamkan matanya dan menangis dalam diam.

Dia masih menangis walau ini sudah tahun ketiga mereka tinggal di London.

"Aku- Aku minta maaf hyung.."

Junhong mencoba menahan tangisnya, menggigit bibirnya dengan tangan yang gemetar. Enggan membuka matanya dan melihat kekecewaan Yongguk karena lagi-lagi Junhong gagal melepaskan bayangan Daehyun.

"Jangan menangis~" Yongguk berbisik tenang, membelai rambut Junhong yang basah karena keringat. Tubuh Junhong yang polos juga berkeringat dan gemetar di beberapa titik.

Junhong menggeleng merasa menyesal, ia sudah memantapkan diri untuk mulai menjalin hubungan dengan Yongguk dan melupakan Daehyun.

Tapi nyatanya, setiap Yongguk menyentuh tubuh Junhong..pemuda manis itu berfikir bahwa itu adalah Daehyun.

Bahwa kenyataan Daehyun sudah berkeluarga hanyalah mimpi panjang yang membuatnya harus sabar menunggu untuk dibangunkan.

"Kau tau aku mencintaimu Junhong, kita bisa memulainya perlahan"

Junhong setuju, tapi tidak dengan hatinya.

Pemuda jahat ini masih berharap Daehyun datang dan menjemputnya.

Daehyun datang dan memintanya untuk kembali.

I thought you were my love.

I thought you were my everything.

I believed that you would be my last love.

I Laughed only for you.

I lived only for you.

I believed in your love.

Ft. island – After Love

..

Junhong mengaduk teh pada cangkir krystal di dapur, melirik jam dan bergegas melangkah kearah kamar Yongguk.

Tok. Tok.

"Hyung.. Ini sudah waktunya bangun"

Tidak ada jawaban.

Junhong kembali mengetuk pintu itu namun hasilnya sama.

Maka Junhong memberanikan diri masuk ke dalam kamar Yongguk dan membuka perlahan gorden kamar agar cahaya matahari bisa masuk dan membangunkan Yongguk.

"Mhhmm.."

Yongguk bergumam sembarang, membuat Junhong tertawa melihatnya.

"Hey~ bangunlah.."

Junhong mengguncang tubuh Yongguk, rambut pemuda tampan itu kacau dan kemeja yang digunakannya entah berada di mana.

Junhong menundukkan kepalanya jika mengingat kejadian semalam.

Mereka gagal lagi, Yongguk kembali mengalah karena Junhong menangis dan kembali teringat akan Daehyun.

Junhong menyesal, ia juga harus berpura-pura tidak ingat saat Yongguk bangun nanti.

Drrrtt..

Ponsel Yongguk di sisi ranjang bergetar, ada panggilan masuk yang Junhong fikir mungkin dari tempat Yongguk bekerja.

"Hyung~ ada telepon"

Tapi Yongguk belum juga bangun, akhirnya Junhong mengambil ponsel itu dan melihat nama pemanggil disana.

Mr. Jd?

Ini mungkin dari atasan Yongguk, Junhong mengguncang tubuh Yongguk lebih keras.

"Hyung~ demi apapun bangunlah~!"

Yongguk hanya bergumam kecil seperti biasa, dia mungkin mengantuk karena harus tidur dini hari.

Mereka bermesraan hingga dini hari dan berakhir hanya dengan Junhong yang menangis dan Yongguk yang memilih kembali mengalah.

Apa harus Junhong menjawab telepon ini?

Junhong menimang sedikit, ragu-ragu sampai akhirnya memutuskan untuk mengangkat sambungan itu dan memberitahu bahwa Yongguk belum bisa menerima telepon pagi ini.

"Hello, -"

"Yongguk hyungmin?"

Junhong membatu, mencoba menarik nafasnya dan tertawa karena berfikir bahwa khayalannya sudah berada di luar jalur.

"Yongguk hyung..kau mendengarku?"

Tangan Junhong gemetar, kakinya bahkan melemas saat mendengar alunan kalimat yang terdengar dari sambungan telepon.

"Yongguk hyu-"

"H-hyung.." Junhong berbisik parau, air matanya sudah mendesak keluar dengan dada yang menghimpit sesak.

Junhong menggenggam ponsel itu kuat-kuat, berharap yang didengarnya adalah benar.

Suara ini milik Daehyun, Junhong masih mengingatnya.

Suara ini benar-benar..

"Junhong?! benar ini kau?!"

Junhong melebarkan matanya tak percaya, air matanya mengalir jatuh serta ponsel yang digenggamnya jatuh ke lantai.

Junhong menutup matanya dan menangis hingga membuat Yongguk terbangun mendengarnya.

"A-ada apa? Apa terjadi sesuatu? Junhong!"

Junhong membalikkan tubuhnya menghadap Yongguk, memeluk tubuh Yongguk dan meraung tak bisa menahan tangis.

Yongguk sepertinya tau saat melihat ponselnya yang tidak ada disisi ranjang, Yongguk hanya bisa memejamkan matanya berharap Junhong bisa lepas dari rasa sakit.

Yongguk berharap Junhong tak lagi merasakan sakit.

Dan Yongguk percaya, sumber rasa sakit Junhong adalah Jung Daehyun.

…..

Being loved by one person.

Giving love to one person.

I foolishly believed that person would be you.

It's all lies, All lies.

Your love for me was all lies.

You've hurt me, You make me cry.

Ft. island – After Love

..

Yongguk meraih tangan Junhong, mengusapnya dan memancing Junhong untuk menatapnya.

Junhong masih diam.

Pipinya semakin pucat dan tirus.

Lingkar hitam di bawah matanya bertambah hitam dan bibirnya tak secerah hari sebelumnya.

Matanya terus berkaca-kaca dan sesekali Junhong tersedak karena berusaha untuk menahan air matanya.

"Ayo kita menikah~!"

Air mata Junhong jatuh karena mengingat kata-kata Daehyun saat itu.

Hari itu Daehyun tertawa, dirinya tertawa.

Mereka bahagia bahkan merencanakan pernikahan.

"Setelah menikah apa kita perlu mengadopsi anak?"

Kebodohan itu karena dirinya, harusnya Junhong berpura-pura tidak tau dan membiarkan Daehyun tetap bersamanya.

Harusnya Junhong diam walau sebenarnya dia tau.

Yongguk memperbaiki selimut yang digunakan Junhong, Junhong sudah tertidur sejak 20 menit yang lalu.

"Dia mengalami tekanan dan terlalu banyak berfikir, kurang tidur dan asupan makanan tidak teratur"

Yongguk mengangguk membenarkan.

"Dia menolak makan, dan tidak tidur"

Yongguk mengusap kembali tangan Junhong, mengecupnya dan memohon pada Junhong untuk tidur dengan nyenyak ala mini.

"Apa terjadi sesuatu padanya?"

Yongguk menoleh dan menatap Himchan –Dokter pribadinya selama di London.

Belum berfikir untuk menceritakan semua kejadian yang harus dialami Junhong karena dirinya.

"Aku dokter, kau tidak akan merasa rugi hanya karena berdiskusi denganku. Aku bisa menjamin itu"

Yongguk akhirnya mengangguk, tersenyum simpul kearah Himchan yang menepuk bahunya seakan menguatkan.

"Daehyun.. dia menghubungiku"

Himchan menautkan alisnya bingung.

"Daehyun, adik iparmu? Mantan kekasih Junhong?"

Yongguk mengangguk, menarik nafasnya dan memulai ceritanya yang bahkan tidak diketahui oleh Junhong.

"Daehyun sudah bercerai dengan adikku 1 tahun lalu"

Himchan melebarkan matanya kaget, menarik tangan Yongguk untuk berbicara di tempat lain.

Yang jelas tidak di dekat Junhong, walau Junhong tertidur pulas sekalipun.

…..

"Maksudmu selama ini Daehyun mencari Junhong?"

Yongguk tertawa kecil sebagai jawaban, membuang pandangannya dan menolak menatap Himchan.

"Pandang aku dan jawab dengan jujur"

Himchan meraih wajah Yongguk dan memaksanya menatap pada Himchan.

"Kau tidak memberitahunya?"

"Tidak, aku mencintai Junhong"

"Apa alasan Daehyun bercerai?"

Yongguk tertawa mendengar pertanyaan Himchan. Memejamkan matanya dan mulai menjawab..

"Junhong. Dia sudah berencana untuk menceraikan adikku bahkan sejak anak mereka lahir"

"Kau tau mereka saling mencintai"

"Tapi aku juga mencintai Junhong"

"Kau suka melihatnya menangis? Dia bahkan menolak makan dan tidur, itu yang kau sebut cinta?"

Yongguk menepis tangan Himchan yang berada di pipinya, wajah Yongguk mengeras dan setetes air mata jatuh karena rasa bersalahnya.

"Junhong menyayangimu, walau Daehyun nanti mungkin datang.. aku tidak bisa menjamin dia akan pergi dari sisimu dan kembali pada Daehyun"

Yongguk mendongakkan kepalanya dan menatap mata Himchan yang hitam dan tajam.

"Kau tau kenapa?"

"Dia tidak mau menyakitiku"

Himchan mengangguk. Mengusap mata Yongguk dan tersenyum seakan meminta Yongguk mengambil keputusan yang tidak menyakiti lebih banyak orang.

"Aku mencintainya" Bisik Yongguk.

"Aku tau.. tapi rasa cinta yang kau miliki bisa menyakiti orang yang kau cintai"

Yongguk masih kukuh menggeleng, dia tidak akan melepaskan Junhong.

"Kenapa hanya aku? Kenapa aku yang harus melepaskan orang yang aku cintai!"

Himchan mencoba menahan tangisnya saat melihat Yongguk yang matanya kembali memerah, sekeras apapun seseorang pasti ada sisi lembut di hatinya.

Dan Himchan bisa melihat itu pada diri Yongguk saat ini.

"Bukan hanya kau…" Himchan berseru.

Yongguk menatap Himchan yang tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.

"Aku juga melakukannya, melepas orang yang aku cintai"

…..

Just in case you came back, back to me.

I'll say I can't love again.

But.. Even tough you hurt me and make me sad.

I'm waiting only for you.

Ft. island – After Love

….

Daehyun terbangun dari tidur, wajahnya kacau dan keringat mengalir dari pelipis dan lehernya. Mencari ponselnya dan mengecek apakah ada kabar terbaru tentang Junhong dan Yongguk.

Daehyun hanya mengetahui keduanya pergi ke London tiga tahun lalu, namun Yongguk mengatakan padanya bahwa mereka akan pindah ke New York karena suatu hal.

Daehyun menghela nafasnya.

Memilih bangkit dari ranjangnya dan membuka gorden hotel berukuran besar yang langsung menampakkan pemandangan kota New York yang indah di tengah malam.

Menyentuh puluhan gedung tinggi dengan jarinya seakan menandai sudah sejauh mana ia mencari Junhong.

Sejauh apapun Daehyun menolak untuk lelah, tak perduli sejauh apapun Daehyun harus menemukan Junhong.

"Junhong menangis.." Daehyun bergumam lirih seorang diri, mengusap kaca dihadapannya dan berkhayal ada wajah Junhong disana.

"Junhong menangis karenaku"

Daehyun mengepalkan tangannya, memukul kaca besar itu dan menunduk karena tak tau lagi harus kemana mencari Junhong.

Daehyun bahkan harus menerima sumpah serapah dari orang tua Junhong di Mokpo, mereka mencaci Daehyun sebagai bajingan gila yang membuat anak mereka memilih pergi meninggalkan orang tuanya demi Daehyun.

Daehyun bahkan harus menerima pukulan Ayahnya karena memutuskan untuk bercerai dan meninggalkan keluarganya.

Tapi jika dibandingkan rasa sakit yang dialami Junhong, Daehyun bahkan malu hanya untuk sekedar mengeluh.

Junhong menerima segalanya, cacian dan pukulan yang lebih parah diterima Junhong karena lelaki seperti Daehyun.

Drrr..

Ponsel Daehyun bergetar, nama mantan istrinya tertera disana.

"Hallo.."

"Anakmu ingin bicara"

Daehyun memejamkan matanya, menggeleng dan berseru mantap pada mantan istrinya bahwa ia menolak untuk bicara dengan putri mereka.

"Daddy~?"

Daehyun mencengkram ponsel di tangannya, menggelengkan kepalanya dan menolak untuk mendengar suara lucu itu memanggil namanya.

"Daehyunnie daddy~"

"N-ne.."

"Bogoshipos-o~ I miss you"

Peri cantik itu bahkan belum lancar berbicara, bahasa Koreanya terdengar kacau jika dibandingkan bahasa Inggrisnya.

"Me too.."

Senyum Daehyun mulai terukir di wajahnya, peri itu terkekeh dan mendengung dengan nada suaranya yang menggemaskan.

Terus mengoceh dan sesekali bernyanyi random lagu yang disukainya, Peri cantik itu berkali-kali bertanya kapan Daehyun akan datang ke sekolahnya dan melihat dia bernyanyi.

Daehyun menutup matanya, kembali menguatkan hatinya untuk tidak goyah dan terus melangkah maju untuk mendapatkan kembali Junhong.

"Daddy~"

"Hm?"

"Saranghan-da~"

Mata Daehyun memerah saat mendengar lantunan kata pendek yang meluncur dari mulut putrinya.

Mendengung untuk membalas ucapan sayang itu dan bergegas menutup sambungan telepon.

"Aku mencintaimu, tapi Junhong…Aku lebih mencintainya"

….

Daehyun bermimpi, Junhong datang padanya dengan mata yang sembab dan kaki yang lecet tanpa alas.

Rambutnya tampau kacau dan nafasnya tidak teratur.

Junhong mengenakan kemeja putih yang membuatnya menjadi lebih cerah dari biasanya.

"Kau datang?"

Daehyun berjalan mendekat. Meringis kecil saat tau Junhong mundur untuk menghindari Daehyun.

"Kau membohongiku" Junhong berseru dengan suaranya yang parau, bibirnya gemetar menahan tangis dan jari-jari bertautan tampak kikuk.

"Aku tidak membohongimu, aku datang untuk menjemputmu~ kemarilah"

Junhong menggeleng, kembali mundur kembali sampai bahunya bersentuhan dengan dada seseorang yang berdiri tepat di belakangnya.

Daehyun mendongak untuk melihat, mengeram marah saat melihat Yongguk tersenyum dan memeluk Junhong protektif dari belakang.

Tidak seperti dengan Daehyun, Junhong kali ini terlihat nyaman berada di pelukan Yongguk walau Daehyun sadar air mata pemuda pucat itu tidak berhenti mengalir.

Kenapa? Kenapa kau menangis?

Kenapa kau menangis padahal kau merasa nyaman berada di pelukan Yongguk?

Daehyun menatap marah kearah Junhong yang terdiam pasrah saat Yongguk menciumi lehernya tanpa henti.

Daehyun kembali melihat Junhong yang menangis dan berbisik kecil kearahnya sebelum melangkah pergi menjauh dengan Yongguk.

"Aku…mencintaimu, Daehyun hyung"

….

Junhong membuka mulutnya saat Yongguk menyuapkan bubur labu untuknya siang ini.

Walau rasanya sedikit berbeda tapi bubur ini membuat Junhong teringat kembali pada orang tuanya di Mokpo.

"Aku kenyang hyung.."

Yongguk menurutinya, mengusap ujung bibir Junhong yang akhirnya tersenyum.

"Hyung"

"Hm?"

"Semalam aku bermimpi"

"Mimpi apa?"

"Kau..Kita, membawa banyak tas dan bersiap untuk pergi."

Yongguk tertawa mendengarnya, mengusap rambut Junhong yang mendongak menatap mata Yongguk.

"Tapi..Daehyun hyung datang"

"Junhong-ah"

Junhong menggeleng.

"Dia datang dan mengajakku untuk kembali padanya"

"Itu hanya mimpi, Daehyun sudah bahagia sekarang dan aku ingin kau mendapatkan yang sama"

Junhong tersenyum miris mendengarnya.

Mangulurkan tangannya dan membelai wajah Yongguk.

"Aku mengerti, maafkan aku hyung" Memeluk tubuh Yongguk yang refleks mengusap punggung Junhong.

Memejamkan matanya dan berharap dia dan Junhong bisa selamanya seperti ini.

Tidak apa-apa jika tidak berhubungan.

Tidak apa-apa jika Junhong menolak sentuhannya.

Tidak apa-apa jika semua kesakitan datang padanya.

Asal Junhong disisinya, semua akan baik-baik saja.

Junhong memakai topi rajutnya, tersenyum kearah Yongguk yang mengusap kepalanya dan mengecup keningnya.

"Apa kita harus pindah? Aku suka tinggal di London"

Yongguk memandang Junhong dengan tatapan menyesal, membuat Junhong kembali tersenyum dan memeluk tubuh Yongguk.

"Apa di sana tempatnya indah?"

"Aku mencari tempat terbaik untukmu"

Junhong mengangguk di dalam pelukan Yongguk, menarik nafasnya dan mencengkram jaket tebal Yongguk.

"Sebelum kita pergi, bisa aku menanyakan satu hal padamu?"

Yongguk melepas pelukan itu, menatap mata Junhong dan mengangguk sebagai jawaban.

"Apa..Apa Daehyun hyung pernah menanyakan kabarku? Maksudku-"

"Ya, dia bertanya"

Mata Junhong melebar cerah, pipi pucatnya perlahan memerah dan tawanya terlihat hidup.

"Apa yang dia tanyakan?" Junhong bertanya antusias, membuat Yongguk sadar perbedaan jauh antara dirinya dan seorang Jung Daehyun.

Membuat Yongguk semakin yakin untuk mengambil langkah yang ia fikirkan sebelumnya.

Ia tidak ingin kehilangan Junhong.

Ia tidak ingin melepas Junhong dari sisinya.

"Dia bertanya….kapan kita akan menikah"

Perlahan senyum Junhong hilang, di ganti dengan tatapan redup dan kekehan miris dari bibir tipis Junhong.

"Ahh~ begitu?"

Junhong masih berpura-pura tertawa, menundukkan kepalanya dan membiarkan matanya kembali memanas.

Dirinya yang bodoh, dirinya yang terlalu banyak berharap.

"Kita pergi sekarang?"

Junhong mengangguk, mengeratkan genggamannya pada tangan Yongguk yang hangat dan menjaganya.

"Hyung.."

"Hm?"

"Tidak, tidak jadi"

Yongguk diam, menarik nafasnya dan merasakan tangan Junhong yang menggenggam erat tangannya.

Ini bukan cinta.

Dia begini karena hanya aku yang dia punya.

Dia tidak mencintaiku.

Yongguk tersenyum memikirkannya, menarik kopor miliknya dan mencoba memaksakan tawa.

"Kita akan pergi ke tempat yang tenang dan dingin"

Junhong hanya mengangguk menurut, mengikuti langkah Yongguk menuju pintu rumah yang selama 3 tahun lebih ini mereka tinggali.

Membuka pintu itu dan melebarkan matanya kaget saat melihat sosok Daehyun yang terdiam tenang di depan pintu rumah itu.

"Sudah puas bermain denganku…Yongguk hyungnim?"

Junhong melebarkan matanya kaget melihat sosok Daehyun, berbeda dengan Yongguk yang tersenyum kecil lalu merogoh kantung mantelnya untuk meraih pistol yang ia tempelkan di kepala Junhong.

"Aku tau kau akan datang Daehyun-ah"

Cklek-

DOR!

DOR!

Yongguk tertawa melihat wajah Daehyun yang memucat kaget, dengan tangan yang gemetar dan air mata yang menetes Yongguk mengarahkan pistol itu kearah kepalanya dan melakukan hal yang sama.

DOR!

….

It's all lies, All lies.

Our separation was all a lie.

….

Choi Junhong..

Kau Oasis ku, sumber kehidupanku.

Aku memintamu untuk ada, karena jika aku kehilanganmu itu sama saja dengan kematian.

-'Bang Yongguk'

FIN

.

SUNGMIN MAU NIKAH.

SUNGMIN MAU NIKAH KATANYA HAHAHAHAHAHAHAHA(?)