JinV
Jin x Taehyung
.
.
.
Dulu, dulu sekali..
.
Mungkin beberapa tahun lalu..
Satu-atau-dua, Taehyung tidak begitu mengingatnya.
Saat-saat hangat itu.
Saat dimana Rengkuhan itu, ciuman itu, ugh. Sakit jika mengingatnya kembali.
.
.
Taehyung ingat betul, disaat dimana rengkuhan itu menggapainya dalam dingin.
Taehyung juga ingat, saat dimana Ciuman kasih sayang itu menyapanya lembut di pagi hari.
Taehyung ingat, Taehyung tidak ingin melupakannya.
.
.
.
"Jinnie-hyungg~"
.
"Sudah kubilang Kookie-ah~ Jangan memanggilku seperti itu" Jin mengacak surai Hitam itu.
.
"Humn? Kenapa?"
.
"Karena.."
..karena hanya Taehyung yang memanggilku begitu.
".. Panggilan itu tampak menggelikan. Aku tidak suka"
.
.
Taehyung menangis lagi,
.
.
.
Taehyung masih ingat.
Saat bibir itu membbisikkan kata-kata manis, seolah mewakili Hati.
Dan Taehyung akan mengingat.
Saat bibir itu mengeluarkan kata-kata dalam yang menyakitkan.
.
Taehyung ingat saat terakhir itu, saat dimana hanya Taehyung dan Jin dalam dekapan Jantung-satu-sama-lain. Ingat bahwa Sinar oranye hangat itu mengintip dalam gelap. Ingat saat itu.
Taehyung lebih ingat saat Jungkook datang dan merubah Jin-nya. Tidak Taehyung tidak marah.
Mungkin Taehyung memang sudah terlalu membosankan untuk dicintai.
Terlebih oleh Jin.
Oh, sakit.
.
.
"Tae-Tae Caramel Machiato~"
"Jung-hyung menggelikan"
.
.
Sakit itu terobati Oleh Jung, Jung Hoseok.
Tapi tidak, Hatinya masih dalam dekapan Jin. Jin yang meninggalkannya, yang membawa hati Taehyung.
"Jjaa~ Tae-Caramel! Kau seorang Fotografer yang payah! Cepat naik atau Klien-mu akan mengamuk"
Taehyung akan melihat sendiri, Taehyung akan menjadi Saksi.
Menjadi Saksi Cinta itu.
Beuh, sakit.
Ini lebih sakit dari darah, denyutan ini sakit.
.
.
Taehyung memotret semuanya,
Memotret saat Dimana dia dan dia, duduk dalam satu Kursi yang sama.
Mengucapkan satu janji suci yang sama.
Saling bertukar cincin,
Dan berciuman.
.
Taehyung mengabadikan semua sakitnya.
.
"Jin-Jin hyung, Chukkae"
Jin menatap-nya, merasa bersalah. "Jinnie-hyung Chukkae" Kali ini Taehyung mengucapkannya dalam damai.
Dan darah Jin meledak ke-segala-arah.
.
Jin merasa bodoh, ah Jin sudah bodoh dari dulu.
.
Dia berbohong,
Dia mengabaikan perasaannya,
Tapi ini sudah terlalu terlambat, sangat terlambat.
.
Waktu itu tidak akan bisa diputar lagi.
Kau berubah, begitu pula aku.
Tapi rasa ini tidak berubah.
Bahkan aku baru merasakannya.
.
.
Taehyung tersenyum pada Jungkook. Menekan tombol pada Kameranya. "Kalian sangat serasi"
Dan Jungkook tersenyum. Mencengkram erat mawar digenggamannya.
Klikk
.
Jungkook memang benar-benar Manis. Taehyung sakit, sakit sekali karena tidak bisa lebih manis dari Jungkook. Taehyung iri. Sangat Iri.
.
.
"Tae-tae Caramel-Machiato!" Hoseok berlari memeluknya, menggenggam Tas Taehyung yang ia bawakan.
.
Taehyung balas memeluk rengkuhan dari Jung-hyung-nya. Taehyung membutuhkan Tawa Hoseok sekarang. Taehyung sakit, dia tidak bisa berlama-lama disini. Dia tidak bisa. Hatinya tidak kuat.
Jimin datang bersama Yoongi. Mengobrol bersama Jin, bercanda, Jin Terlihat senang.
Jin senang, dan Taehyung sengsara.
Lucu.
Teramat lucu sehingga Taehyung merasa bodoh.
.
.
Malam harinya Taehyung duduk di teras rumahnya, sambil melirik Rumah sebelah.
Rumah Jin, dan Jungkook tentunya.
Sudah pukul 1 pagi, tapi Lampu dalam Rumah Kim Seok Jin itu belum padam. Taehyung betah berlama-lama menatap rumah itu sekarang, matanya berair tapi ia tidak ingin menangis.
Sudah terlambat semuanya.
Waktu tidak bisa diulang kembali,
Jin salah, dan Taehyung salah.
Perasaan mereka sudah salah dari awal.
Taehyung masih mengingatnya, tapi Jin sudah melupakannya.
Bagi Jin, sudah berakhir sekarang.
Cocok saja Jin meninggalkannya ,meninggalkan Taehyung.
.
.
.
"Tae-tae-ah! Ppabo-ya kenapa kau tidur disini?!"
.
"Jungie-hyung.."
.
Dan tepat pagi itu, saat Hoseok menjemputnya di pagi hari.
Taehyung menangis, menangis meraung-raung.
Taehyung meraung dalam dekapan Hoseok, berteriak.
.
Ini bukan Taehyung yang tersenyum atau berwajah masam.
Ini Taehyung dengan segala kebenaran akan dirinya.
Ini sosok Asli dari Taehyung,
Sosok rapuh dan retak dalam berbagai sisi.
.
.
.
"Maaf.."
.
.
.
.
TBC/END?
HAI '-')7
Ini Amu, maaf kalo mengecewakan, kemarin Amu sempet kehilangan Feel ff ini, entah kenapa/? Tapi pas baca Review-reviewnya Readers-nim Feelnya muncul lagi :'v
Makanya Banyakin Review-nya biar Amu makin semangat lanjutin .-.
Makasih udah mau baca FF Angst gagal Amu :'
ini Mau TBC atau END?
Kalo End sih ga masalah sebenrnya '-' Kalo TBC, kemungkinan itu Chapter Terakhir.
Trus, maaf ga sempat bales Review :' Mood Amu lagi Naik turun ga nentu,
Maaf juga kalo amu ga biasa buat Notes panjang-panjang '-'
Sekian, salam Hensem
