Oke! Chapter 3 sudah selesai! Jadi nikmati saja ya. Nah, tanpa panjang lebar, kita mulai saja!
Disclaimer : See chapter 1
Warning : OOC, sedikit AU, violency.
Luffy a.k.a Shinichi
Shinichi merasa dia berada di lorong yang panjang, dia tidak tahu berapa lama dia berada di situ, sebelum tiba-tiba segalanya jadi terang, dan dia jatuh di tanah lagi. Dia mengerang kesakitan.
'Wanita sialan. Akan kubunuh dia jika sampai bertemu lagi.' gerutu Shinichi dalam hati. Dia berdiri dan melihat sekeliling.
Sekarang dia berada di desa yang cukup tenang, cuaca yang cerah menandakan kalau saat ini pagi hari. Desa itu cukup bagus kalau mau dibilang. Sunyi, padang rumput hijau dan kuning yang luas, perumahan yang tertata rapi, membuat Shinichi merasa nyaman untuk sementara waktu, melupakan segala amarahnya. Mendadak ada yang menghampirinya.
"Shinichi-chan, kau tidak apa-apa?" teriak suara dari belakang, suara seorang wanita.
Mendengar dipanggil 'Shinichi-chan', dia berbalik ke belakang, ingin memarahi karena memanggilnya seenaknya, namun segera terkejut ketika melihat siapa yang bersuara. Gadis dengan baju seperti ala pelayan bar dan kain penutup di rambut depannya berlari ke arahnya, lalu bertanya dengan cemas, "Tadi aku lihat kau terjatuh. Apa kau baik-baik saja?"
Namun Shinichi tidak menanggapi. Matanya terbelalak.
"Azusa?" bisiknya terkejut.
"Tentu saja ini aku," kata Azusa, sedikit heran. "Apa kau ada sedikit cedera, Shinichi-chan? Biar kulihat sikumu." Lalu Azusa mulai memeriksa sikunya, tidak menemukan cedera, dan mulai melihat yang lain. Shinichi hanya membatu, tidak percaya dengan apa yang terjadi. Dia kemudian bertanya, "Azusa, kau kenal aku?"
Azusa berhenti memeriksa, menatap Shinichi dengan heran. "Tentu saja aku tahu, Shinichi-chan. Kau kan Monkey D. Shinichi, anak…"
"Tunggu! Tadi kau bilang namaku apa?" tanya Shinichi tidak percaya.
"Monkey D. Shinichi. Apa kau hilang ingatan?" Azusa tambah heran, begitu pula Shinichi. 'Bagaimana bisa aku punya nama sejelek itu? Monkey itu maksudnya apa? Dan apa itu 'D.'? Dan kenapa Azusa ada di sini, memakai pakaian kayak pelayan bar, bertingkah aneh, menganggapku seperti anak kecil, dan-tunggu! Bukankah aku belum pernah bertemu dengannya sebagai Shinichi Kudo? Jadi bagaimana dia tahu namaku…'
Mendadak dia teringat perkataan Yuko sebelum pergi tadi.
"Akan ada beberapa orang yang mirip dengan orang-orang yang kau kenal di duniamu tapi berkepribadian berbeda."
'Jadi maksudnya, orang yang di depannya ini memang Azusa, tapi Azusa yang lain, yang berkepribadian berbeda? Mana mungikn hal ini bisa terjadi. Tapi jika iya, maka semuanya cocok…' Sibuk bergulat dengan pikirannya sendiri, Shinichi tidak menyadari ada yang memanggilnya lagi dari belakang. Kali ini suara mirip kakek-kakek.
"Hei, bocah! Kau mencuri daging dari toko lagi ya?" teriak kakek itu marah.
'Huh? Aku? Mencuri daging?' pikir Shinichi tidak percaya. Dia melihat ke arah suara. Kakek yang pendek, memakai topi kerucut, rambut beruban, memakai kacamata kecil, kumis dan janggut putih tebalnya menyatu, tangan kanannya memegang tongkat. Shinichi lantas balik bertanya, "Hei kakek, apa maksudmu aku mencuri daging?"
"Shinichi-chan, dia kepala desa. Jangan bilang begitu." kata Azusa memperingatkan. Shinichi hampir tertawa mengetahui kakek seperti ini menjadi kepala desa. Kepala desa masih marah, dan tambah marah dipanggil tidak sopan.
"Jangan pura-pura. Kau tadi habis mencuri daging di Ham Shop, kan? Dan apa yang menggembung di jendelamu itu?" katanya menunjuk ke kantong di celana Shinichi.
Shinichi tidak menyadari ada sesuatu di celananya. Dia mengeluarkan isinya dan terkejut. Di dalamnya ternyata ada daging bejibun. 'Hah? Bagaimana bisa ada daging di kantong celanaku? Sejak kapan?' tanyanya heran. Namun itu bukan masalah. Sekarang dia terlihat sebagai pencuri yang ketangkap basah.
"Nah, sekarang kita ke toko itu. Kau harus meminta maaf." kata kepala desa, memegang tangan Shinichi, bermaksud menyeretnya ke toko, namun Shinichi menolak, dia malah berputar dan berjalan ke arah berlawanan, yang dia inginkan hanyalah pergi dari tempat ini.
"Hei, kau mau ke mana?" tanya kepala desa, masih memegang pergelangan tangan Shinichi.
"Terserah aku mau ke mana," jawab Shinichi kesal, masih terus berjalan.
"Bocah, stop berjalan dan memanjangkan tanganmu!" teriak kepala desa kehabisan kesabaran.
"Hah? Apa maksud..mu…" kata Shinichi keheranan, melihat ke belakang dan berhenti berkata, terkejut dengan apa yang dilihatnya. Tangannya sekarang sudah melar kira-kira 3 meter, ujung tangannya masih dipegang oleh kepala desa, Azusa hanya melihat dengan tertarik karena wajah terkejut Shinichi.
"Apa ini!" teriak Shinichi, sedikit ngeri melihat tangannya yang abnormal. Kepala desa dan Azusa mundur sedikit ke belakang, kaget dengan teriakannya. Kepala desa mulai melepaskan tangannya, membuatnya kembali ke semula.
Kaget, shock, ngeri, dan bingung, Shinichi mundur ke belakang sempoyongan, matanya hampa, tidak sadar bahwa dia sekarang ada di tepi sungai kecil. "Shinichi-chan, awas!" teriak Azusa, namun terlambat. Dia terjatuh. Shinichi tentunya bisa berenang dengan handal, namun entah kenapa badannya serasa tidak bisa bergerak di dalam air. Yang bisa dilakukannya hanyalah bertahan di permukaan air, dan, yang memalukan, berteriak meminta tolong…
"Dasar, kau hanya bisa merepotkan saja," gerutu kepala desa, memukulkan tongkatnya ke dahi Shinichi. Dia sekarang berbaring, bernafas terengah-engah, bajunya basah semua. Di sampingnya Azusa berlutut, merasa lega sekaligus lelah. Mendadak Shinichi merasa malu, karena diselamatkan hanya gara-gara tidak bisa berenang. Dia hanya menatap langit-langit dengan pandangan hampa. Lalu kepala desa berkata, "Nah, sekarang kita ke Ham Shop. Kau harus bertanggung jawab."
Azusa menyelanya. "Kepala desa, bisakah kita biarkan Shinichi-chan ganti baju sebentar? Dia pasti akan masuk angin."
Kepala desa hanya menggerutu dan mencibir pelan. Kemudian Azusa mengajak Shinichi ke rumahnya – tentu saja rumah Shinichi di desa itu. Sesampainya di sana, Shinichi bertanya, "Er, ini rumah siapa, ya?"
"Tentu saja rumahmu. Kau aneh sekali hari ini." kata Azusa dengan tertarik. Mereka masuk ke dalam. Rumahnya sedikit rapi dan bermodel rumah Eropa pertengahan. Shinichi bertanya lagi, "Er Azusa, pakaianmu…"
"Tenang saja, rumahku ada di sebelahmu. Baiklah, sampai bertemu lagi, Shinichi-chan." Lalu Azusa mau keluar sebelum dia mendengar suara lagi. "Um… Azusa…"
"Ya?" tanyanya, berbalik ke belakang.
"Boleh aku bertanya sebentar kepadamu, 5 menit lagi setelah kita ganti baju?" pinta Shinichi.
Azusa hanya tersenyum kecil dan berkata, "Oke. 5 menit lagi." Dan dia membuka pintu dan pergi.
Meski baru pertama kali masuk, entah kenapa Shinichi merasa dia kenal betul rumah itu, seolah sudah tinggal di dalamya dalam waktu yang lama. Dia menaiki tangga ke lantai atas, membuka pintu pertama di dekat tangga di lorong, dan melihat kamarnya sendiri. Kamarnya cukup rapi, meski setengah berantakan juga. Single bed dengan selimut putih di atasnya, meja kecil di dekat jendela yang menghadap ke peternakan. Dia melihat lemari pakaian di sisi berlawanan dari mejanya. Dia membuka lemari itu, menemukan setumpuk pakaian yang hampir sama. Kaos merah berkerah, celana jins biru pendek.
'Sepertinya tidak ada pilihan lain,' gerutunya dalam hati. Dia melepas seragam sekolahnya yang basah, melemparnya ke keranjang di samping lemari, dan memakai baju tersebut. Rasanya…tidak begitu nyaman.
Selesai berpakaian, dia turun ke bawah, dan melihat Azusa sudah berganti pakaian, duduk di kursi. Shinichi menyapanya, "Hai."
"Oh hai." balas Azusa. Shinichi duduk di kursi di depan Azusa.
"Jadi, apa yang ingin kau tanyakan? Tidak biasanya kau suka bertanya." Dari kata-katanya seolah Azusa mau mengungkapkan bahwa Shinichi sebenarnya bodoh. Tapi dibuangnya pikiran itu.
"Yang pertama, kenapa aku tidak bisa berenang, dan kenapa tanganku bisa melar?"
"Bukankah kau sudah memakan Gomo Gomu no Mi?"
"Aku-apa?" tanya Shinichi heran.
"Gomu Gomu no Mi, buah yang membuat badanmu lentur seperti karet, namun kau tidak dapat berenang. Salah satu dari buah iblis."
Shinichi kemudian ingat buah yang diberikan Yuko kepadanya. Jadi dia memberikan buah aneh begini untukku? Dia mencoba memanjangkan lengannya, dan ternyata bisa. Sepertinya Azusa benar.
"Nah, kau sudah puas?" kata Azusa, tersenyum kecil.
"Uhm…lalu, kita ada di mana?" tanya Shinichi ragu-ragu, dan Azusa segera balik bertanya, "Apa kau kehilangan ingatan, Shinichi-chan? Soalnya kau seperti kebingungan hari ini."
"Ngg…dengar Azusa, mungkin ini terdengar omong kosong, tapi," Azusa sedikit terkejut mendengar keseriusan Shinichi, memutuskan mendengarkannya dengan seksama, "aku ini berasal dari tempat yang lain. Aku dari Beika, dan aku adalah detektif di sana. Aku terdampar di sini gara-gara topi bodoh ini dan penyihir wanita sialan itu."
Ketika Shinichi berhenti sebentar, dia melihat Azusa melotot ke arahnya, wajahnya menggambarkan ketidakpercayaan. Azusa mau berkata mengenai apakah Shinichi baik-baik saja sebelum disela.
"Tidak. Kau boleh tidak percaya, tapi yang kukatakan ini adalah kenyataan. Namaku sebenarnya Shinichi Kudo, mungkin ada orang lain di sini yang mirip denganku, tapi aku bukanlah dia."
"Shinichi-chan, kau baik-baik saja? Kau sebaiknya ke dokter…"
"Tidak, aku baik-baik saja!" dia berteriak dengan keras, membuat Azusa terperanjat. Shinichi mendadak merasa bersalah. "Gomen, Azusa, aku…"
"Tidak apa-apa, Shinichi-chan, aku tahu kau pasti jujur."
"Oke, kalau begitu," kali ini nadanya mulai tambah serius, "kau tahu apa itu One Piece? Aku harus mendapatkannya untuk kembali ke duniaku."
Azusa mengerutkan dahi, tampak heran. "Bukankah Shanks sudah memberitahumu? One Piece adalah harta bajak laut di Grand Line, yang…"
"Tunggu, siapa yang kau maksud sudah memberitahuku?" potong Shinichi tiba-tiba.
"Akagami(rambut merah) no Shanks, bukankah dulu dia yang menyelamatkanmu di laut? Masa kau lupa?"
Begitu Azusa menceritakan soal Kenshin dan penyelamatannya, mendadak sekeping ingatan muncul di otak Shinichi. Dia memegang kepalanya. Tidak jelas apa itu, namun ada beberapa gambar yang muncul.
Perahu kecil, dan orang di atasnya.
Laut.
Monster yang memakan perahu itu.
Lalu pria berambut merah, memakai topi jerami.
Bagian kirinya mengeluarkan darah; lengannya hilang.
Ketika sampai di kenangan terakhir muncul, mendadak dia merasa bersalah. Azusa melihat dengan khawatir. Dia buru-buru menjawab, "Tidak apa-apa, aku baik-baik saja."
"Jadi, di mana One Piece tepatnya?" tanyanya lagi. Azusa hanya menggelengkan kepala.
"Aku tidak tahu. Tapi mungkin ada orang di luar sana yang tahu." jawabnya singkat.
Shinichi mendadak ingat bahwa dia harus melanjutkan perjalanan. Jika tidak ada yang tahu mengenai One Piece di sini, maka dia harus mencari orang yang tahu, dan juga teman seperjalanan nantinya. Dia ingat kembali apa kata penyihir itu.
"Akan ada beberapa orang yang mirip dengan orang-orang yang kau kenal di duniamu tapi berkepribadian berbeda. Beberapa di antara mereka akan menjadi krumu."
Azusa yang ini mirip dengan yang di dunianya, maka mungkinkah…
"Aku akan pergi dari sini besok, dan mencari One Piece itu untuk kembali ke duniaku." Kemudian dia berhenti dan menatap Azusa. "Kau mau ikut?"
Azusa hanya melihat dengan terkejut. Namun dia menggeleng kepala. "Tidak, aku harus menjaga kepala desa. Kau pasti mengerti."
"Oh, baiklah." Shinichi merasa tidak enak harus memaksa Azusa, jadi dia mengiyakan saja. Lalu Azusa bangkit berdiri dan berkata, "Shinichi-chan…" dan dia memeluk Shinichi tiba-tiba dengan erat, air matanya mulai jatuh. Shinichi merasa bingung sekaligus malu.
"A-Azusa…"
"Aku tahu kau pasti akan pergi," isak Azusa, "tapi ini sangat cepat, kau sudah seperti otouto(adik laki-laki) bagiku. Aku akan sangat kehilanganmu, Shinichi-chan." Lalu dia melepaskan Shinichi, menyeka air matanya. "Namun aku tahu, kau akan menjadi bajak laut hebat, dan memenuhi janjimu ke Kenshin…"
Kenangan lainnya muncul lagi dalam kepala Shinichi begitu mendengar perkataan Azusa.
Di pelabuhan.
"Aku pasti akan menjadi bajak laut dan menemukan kru yang lebih hebat darimu, dan akan menemukan One Piece!" teriak bocah kecil.
Pria berambut merah itu tersenyum dan berkata, "Wow, jadi kau ingin melebihi kami? Kalau begitu…"
Dia melepaskan topi jeraminya, memakaikan di kepala bocah itu. Bocah itu mulai menangis.
"Topi ini…kutitipkan padaku." Lalu dia mulai pergi ke kapal. "Kelak kau harus mengembalikannya lagi, dan bila saat itu tiba kau harus menjadi bajak laut hebat…"
Shinichi tahu bahwa bocah itu adalah dia, tidak tahu kenapa, tapi dia yakin sekali. Masalahnya, pria berambut merah itu…siapa? Rasanya dia kenal sekali, namun namanya tidaklah diingatnya.
"Shinichi-chan, kau mau makan malam dengan kami nanti?" tanya Azusa, menyadarkan Shinichi kembali. Dia buru-buru menjawab, "I-iya…"
~~~~~ esok hari, pelabuhan ~~~~~
"Ini kapal yang ada, kau bisa pergi ke pulau terdekat kira-kira arah barat daya dari sini. Jangan lupa bekalmu."
Kepala desa mengantarkan Shinichi ke perahu yang lumayan besar. Di atasnya sudah ada keperluan yang dibutuhkannya. Dia menaiki perahu itu, bersiap berangkat, memandang kembali ke kerumunan di belakang. Dia hanya bisa tersenyum cerah dan berkata, "Sampai jumpa!"
Semua orang balas berteriak, memberikan selamat dan melihat ketika perahu itu menjauh dan menghilang. Azusa menitikkan air matanya lagi, dalam hati berdoa bagi keselamatannya. 'Semoga berhasil, Shinichi-chan.'
~~~~~ 2 hari sejak keberangkatan ~~~~~
2 hari yang membosankan.
Shinichi hanya berbaring bosan, menunggu di perahu tanpa ada sesuatu menarik yang dilakukannya. Bekal makanannya masih banyak, sepertinya kepala desa memasukkannya berlebihan. Dia hanya bersiul, memandang langit biru, dan burung camar beterbangan. Dia bangun, melihat sekeliling, hanya ada laut biru, namun di depan kapalnya ada sesuatu.
Pulau.
Shinichi tersenyum kecil. 'Petualanganku dimulai, kurasa,' batinnya senang.
To be continued…
Akhirnya selesai juga. Sebelumya, spesial thanks buat Edogawa Luffy yang selalu mendukung stiap ceritaku! Aku senang sekali lho!
Ya! Dalam cerita ini, setiap tokoh OP digantikan perannya oleh tokoh dari DC, meskipun ada yang tidak, seperti contohnya kepala desa. Namun karakternya dan alur ceritanya tetap sama, mseki mungkin agak kuubah sedikit.
Selamat membaca!
20/09/2010
Edit telah dilakukan :)
