Sudah berapa bulan, ya... aku tidak update cerita ini. Hampir... setahun? Wow, aku tidak tahu apakah harus senang atau sedih *dibata*.

Ya, sebagai informasi, kan tidak semua chara di OP bisa disinkronkan dengan chara di DC. Jadi sebagian akan aku ambil dari manga lain. Untuk menjawab siapa Kenshin di chapter sebelumnya, ya, dia Kenshin dari manga "Runouni Kenshin". Aku pilih dia karena dia dan Shanks banyak kesamaan. Sama-sama berambut merah, memiliki bekas luka, pedang satu, juga baik dan tidak mengenal takut. Dan selanjutnya bakalan ada juga chara dari manga lain.

Well, this is new chapter for you. Hope you enjoy it!

Disclaimer : I don't own Detective Conan nor One Piece.

Warning : Slight violence, AU, bit OOC.

.

.

First Battle

Burung camar terbang dengan indahnya melintasi langit di atas pantai di pulau Amatsu. Orang-orang di kota sibuk dengan segala aktivitas mereka di siang hari itu. Para ibu berbelanja kebutuhan rumah tangga di pasar, para ayah bekerja di tempat mereka masing-masing, sementara anak-anak bermain dengan ceria di bawah sinar matahari.

Namun di pantai, suasananya sedikit berbeda. Sebuah kapal dengan bendera hitam bergambar tengkorak yang menyamping dan tulang yang menyilang di belakang, ada gambar hati di tengkorak, berlabuh di pantai. Para pelaut membersihkan dek kapal dengan buru-buru, dan di tengahnya ada wanita gendut, gada besar berduri disandarkan di bahunya.

"Ayo cepat kerja, jangan bermalasan saja!" teriak wanita itu dengan suara yang keras dan kasar, membuat semua pelaut itu merinding dan mempercepat pekerjaan mereka. Salah seorang bocah berambut merah muda secara tidak sengaja membentur ember berisi air, menyebabkan air pel di dalamnya tumpah ke lantai dek. Mata wanita itu menatap bocah yang sekarang ketakutan itu dengan tajam.

"Ahh, maafkan saya, Alvida-sama," dia buru-buru mengelap bekas air tumpah, tapi sesaat kemudian wajahnya ditendang dengan keras, membuat dia terlempar ke pagar dek dengan dentuma keras.

Wanita itu – Alvida – berjalan dengan penuh marah ke bocah itu, sementara semua pelaut lainnya menghentikan pekerjaan mereka, ketakutan menyelimuti kapali itu.

"Hei, kau," desis Alvida, kekejaman keluar di setiap suku kata yang keluar dari mulutnya. "Siapa namamu?"

Bocah itu mengigil ketakutan melihat tatapan tajam majikannya.

"Co–Coby, Alvida-sama..."jawab pemuda itu.

"Hmm..." Alvida berjalan pelan ke arah Coby, gadanya diletakkan dengan arah kebawah, ujungnya menyentuh dan mengikis lantai dek. Ketakutan sudah menguasai Coby saat ini. Ketika Alvida mencapai Coby, dia melemparkan suara ejekan sebelum menendang Coby lagi, kali ini lebih keras. Semua pelaut lain mundur dengan ngeri dari tempat mereka.

"Sekarang kau cepat ke dalam, cuci semua piring di dapur, dan jangan berhenti kalau belum selesai. Jika ada satu piring saja yang kotor, kau akan tahu akibatnya." Dia kemudian memandang ke sekelilingnya. "Apa yang kalian lakukan? Kenapa berhenti? Cepat kerja lagi!"

Pelaut di atas dek mulai kembali bekerja setelah dibentak Alvida. Sementara itu Coby berjalan dengan pelan ke dapur, kepalanya tertunduk lesu. Dalam hati dia menyesali nasibnya saat ini.

.

.

Shinichi melabuhkan perahu kecilnya dengan hati-hati di pantai pulau Triggery (nama jelek, aku tahu) dan mengikat kapalnya di sebatang kayu yang kebetulan ada di dekat kapalnya. Dia memandang sekeliling. Di pulau itu ada kota kecil, dan keadaan di sekeliling pantai tampak sepi.

"Hmm, sekarang apa yang aku harus perbuat?" tanya Shinichi dalam hati. Dia tidak ada ide sama sekali harus memulai petualangannya mendapatkan One Piece – atau lebih tepatnya, kembali ke dunianya – dan bahkan dia tidak tahu apa-apa soal dunia ini. Menggarukkan kepalanya pertanda bingung, dia berjalan menuju kota. Ketika dia tiba di depan pintu gerbang, tiba-tiba dia dicegat oleh dua pengawal bersenjata.

"Hei, siapa kau? Mau apa kau di kota ini?" tanya salah seorang pengawal.

"Err, aku hanya mau masuk ke dalam. Aku juga bingung dengan dunia ini..." jawab Shinichi dengan nada ragu-ragu. Lagipula, dia memang orang asing.

"Maaf, kami tidak dapat masuk. Siapa tahu kau adalah bajak laut." Mereka mengusir Shinichi dengan paksa sebelum dia bisa menjelaskan. Kesal, dia memikirkan bagaimana caranya bisa masuk ke dalam. Tiba-tiba matanya menangkap bayangan kapal klasik besar.

"Hmm, kapal apa itu, ya?" tanyanya sendiri. "Aku belum pernah melihat kapal seperti itu." Dengan mantap dia berjalan menuju kapal itu, dengan harapan ada seseorang di atasnya. Siapa tahu dia bisa bertanya sedikit tentang dunia ini.

Dia berdiri tepat di depan haluan kapal itu. Matanya memandang ke atas haluan. Ternyata kapal itu sangat besar sekali jika dilihat dari dekat.

"Nah, sekarang bagaimana aku bisa naik ke atas?" tanya Shinichi sembari melirik ke sekeliling, mencari tanggan atau alat untuk naik ke atas. Tiba-tiba dia teringat dengan kekuatan aneh yang dimiliki dia saat ini. Dia menatap tangan kanannya sejenak, sebelum mengayunkannya ke pagar dek di kapal. Tangannya memanjang dan meraih pagar dek kapal itu. Hal ini memang masih baru bagi Shinichi, tapi entah kenapa dia merasa sudah sangat terbiasa. Tanganmu memendek lagi, dan Shinichi terbang ke atas kapal. Dengan ketangkasan yang tak pernah dia rasakan sebelumnya, Shinichi menahan tubuhnya dari bertubrukan di dinding kapal dengan kedua kakinya, lalu meloncat ke atas kapal.

"Wow," reaksi Shinichi setelah mengalami kejadian tadi. Dia tidak pernah menyangka dia bisa melakukan hal ini. 'Tampaknya aku punya ingatan sebelum aku datang, dan berarti aku sudah pernah latihan semacamnya. Makanya aku bisa selincah tadi.' Dia lalu melihat sekeliling.

Betapa kecewanya ketika dia tidak melihat siapa-siapa di atas dek kapal. Dia berjalan sekeliling, dan ketika memutuskan bahwa tidak ada orang di dalam, dia akan turun. Tapi tiba-tiba dia mendengar suara dari dalam kapal. Melirik ke pintu yang terbuka, Shinichi berpikir sejenak.

'Kelihatannya mencurigakan, masuk tidak ya...' batinnya. 'Ah, masa bodoh. Masuk saja.' Dan dia berjalan menuju pintu itu, mengecek ada apa di dalamnya. Ternyata di dalam kosong, hampir tidak terlihat seorang pun. Satu-satunya cahaya hanyalah cahaya matahari yang masuk dari jendela dan pintu tempatnya berdiri sekarang. Dengan memberanikan diri, Shinichi masuk ke dalam kapal.

.

.

"Hei," seorang pelaut menyapa rekannya yang sedang makan, "kau mendengar sesuatu?"

"Hmm?" jawab rekannya, jelas dia merasa terganggu. "Aku tidak mendengar apa-apa. Perasaanmu saja."

"Bisa jadi sih," katanya ragu. Dia yakin sekali, tadi dia mendengar suara langkah kaki di dalam kapal ini. Tidak mungkin itu adalah kru, karena mereka semua sedang turun ke kota terdekat untuk menjarah dan itu hanya lima menit yang lalu. Tidak mungkin mereka menjarah dalam waktu sesingkat itu. Sementara dia berpikir sambil meneguk habis bir dalam botol di tangannya, matanya tidak sengaja menatap Coby yang sedang mencuci piring. Tiba-tiba dia mendapat ide. Bibirnya menyunggingkan senyum licik.

"Hei, bocah!" panggilnya. Coby langsung tanggap, karena memang hanya dia yang sering dipanggil dengan panggilan itu di kapal. Dengan gugup dia mendekat ke pelaut itu. "A-ada apa?" katanya gugup.

"Coba kau cek dulu di ruang depan sana. Apakah ada orang bodoh yang mencoba menyusup ke kapal atau tidak," katanya dengan nada perintah yang tegas sambil memukulkan botol kosong di tangannya dengan pelan ke kepala Coby yang terkejut.

"A-ah, ta-tapi...kalau itu adalah bajak laut, gi-"

"Ayolah bocah, jangan jadi pengecut!" teriaknya marah. Dia mendekatkan wajahnya yang penuh emosi. "Kau juga bajak laut kan? Kalau memang itu musuh, lawan saja. Atau kau memang lemah?"

Dengan terpaksa, Coby menurut dan keluar dari ruang makan itu. Setelah dia menutup pintu, kedua orang itu tertawa terbahak-bahak.

"Hahaha, dasar bocah bodoh!" teriak pelaut itu sambil memukulkan tangannya ke meja. "Diancam sedikit saja, dia langsung ketakutan seperti itu. Apa kau melihat wajahnya yang gugup tadi? Sangat lucu sekali, hahahaha..."

"Membuatku heran kenapa Alvida-sama mau merekrut dia, hehe..." kata temannya lagi, setelahnya meletakkan mangkuknya yang telah kosong.

Pelaut itu menjawab, "Heh, kalau kau tanya alasan, menurutku jawaban yang mungkin adalah Alvida-sama akan menjualnya ke agen perdagangan manusia. Kudengar pusatnya ada di suatu pulau di Grand Line, dan mereka mempunyai cabang di tiap lautan untuk mencari orang-orang yang cocok dan berharga."

"Pfft," temannya menahan tawa geli, "menurutmu ada yang mau membeli kacung lemah seperti dia?"

"Entahlah, tapi, mungkin saja... tante-tante pedofil yang mau." Mereka tertawa terbahak-bahak lagi, kali ini lebih keras, sebelum dihentikan oleh suara pintu yang terbuka. Pelaut itu memasang muka serius dan berbalik sambil berkata, "Oi, bocah, cepat seka-" Dia berhenti ketika tahu bahwa orang di pintu bukanlah Coby, melainkan seseorang berambut hitam yang ditutupi oleh topi jerami dan berkaos merah serta jelana jins biru pendek dan sandal jepit.

Orang itu terlihat ceria ketika melihat mereka berdua. "Wah, kukira tidak ada orang di sini, untung saja ada, jadi aku bisa bertan-"

"Siapa kau!" teriak pelaut itu sambil berdiri tiba-tiba, tangannya memegang gagang pedang yang tergantung di pinggangnya. Temannya yang bingung melihat ke arah pintu, dan terkejut. Tangannya segera meraih pistol di meja.

"Ah, maaf belum memperkenalkan diri. Aku Shinichi," jawab Shinichi. "Aku agak bingung dengan tempat ini, jadi aku ingin bertanya. Hei, bukankah itu pedang? Dan pistol? Kenapa kalian bisa mempunyai benda itu?" tanyanya heran, menunjuk ke dua benda berbahaya itu.

"Kau tidak perlu tahu!" bentak pelaut itu. Dia menerjang ke arah Shinichi dan mengayunkan pedangnya. Shinichi yang terkejut segera menghindar dengan gesit ke samping.

'Sejak kapan aku jadi segesit ini?' "Tu-tunggu. Kenapa kau menyerangku tiba-tiba?" tanya Shinichi dengan kebingungan. Tapi pelaut itu tidak mendengar. Dia marah karena serangannya meleset. Dengan kekuatan penuh, dia mengayunkan pedangnya lagi, tapi kali ini Shinichi lebih cepat. Seolah sudah terbiasa, tangan kanannya membentuk kepalan dan meninju pelaut itu tepat di muka. Dengan seketika, pelaut itu pingsan.

"Sialan!" teriak teman pelaut itu, menembak Shinichi yang masih kebengongan dengan apa yang terjadi. Tapi, alih-alih menembus tubuhnya, peluru itu malah terpental dan kembal, menyerang orang itu di bagian perut. Shinichi semakin terkejut dengan dirinya sendiri.

'Tadi, aku tiba-tiba menghindar dan meninju pria itu. Sekarang, tubuhku bisa mementalkan peluru tanpa rasa sakit sama sekali. Apa sebenarnya Gomu Gomu no Mi ini?' tanyanya bingung. Dia berjalan menuju pria yang tertembak. Dia merasa jijik melihat perut perut kiri pira itu yang mengeluarkan darah. Dia menunduk, memeriksa leher pria itu. 'Masih hidup,' katanya lega. Tiba-tiba pintu itu terbuka dan seorang bocah berambut merah muda muncul.

"Tadi aku mendengar suara tembakan. Apa yang ter..." Coby terkejut melihat kedua rekannya terbaring di lantai tak berdaya dan seorang pria asing. "A...a..." Dan alhasil, dia pingsan di tempat.

.

.

Coby membuka matanya perlahan. Kesadarannya belum pulih. Ketika kesadarannya benar-benar kembali, dia merasakan ada seseorang yang duduk di samping tempat tidurnya. Dia mengangkat kepalanya dan melihat orang itu. Ternyata dia adalah pria asing tadi.

"A-aa..." katanya gugup, suaranya seperti tdak mau keluar. Tapi orang itu mendengar suaranya.

"Oh, sudah bangun," katanya lega. "Kukira kau akan tidur selamanya di situ."

Coby tidak percaya. Orang ini telah menghajar rekannya, tapi dia malah tidak melakukan hal sama untuknya? Dia memposisikan diri untuk duduk dan menatap pria itu. "Kau..."

"Aku Shinichi," jawabnya tenang. "Dan tenang saja, kalau soal rekanmu, mereka baik-baik saja. Aku juga sudah menutupi luka tembak salah satu temanmu. Untungnya di kapal ini ada perban. Tapi yah, aku harus mencari rumah sakit untuk mengeluarkan pelurunya, dan aku tidak dapat masuk ke kota itu," omelnya sambil menggaruk belakang kepalanya.

Kini Coby tambah heran. Dia menolong temannya? Siapa sebenarnya dia? Dengan ragu-ragu dia bertanya, "Er, anda, sebenarnya...siapa?"

Shinichi menatap Coby dengan tatapan seolah dia ingat sesuatu. "Oh ya." Dia mulai menceritakan semuanya, dari mulai dia datang sampai sekarang di kapal ini. Coby mendengarkan dengan seksama, meskipun dia merasa aneh dengan cerita Shinichi. Bagaimanapun, siapa yang percaya begitu saja ketika dibilang kalau kau berasal dari dimensi lain?

"Er, jadi. Biar kuperjelas. Kau datang dari dimensi lain, yang jelas dari dunia ini, dan dipaksa untuk mencapai One Piece agar bisa kembali ke duniamu?" tanya Coby. Shinichi mengangguk pelan. Coby berkata dengan suara agak ketakutan dan keras, "Kau tidak tau bahayanya Grand Line? Dan kau masih ingin ke sana?"

"Kalau belum mencoba, mana kita tahu kan?" kata Shinichi tanpa rasa takut sama sekali, atau lebih tepatnya karena memang belum merasakan sendiri bahayanya Grand Line. Coby menundukkan kepala melihat keberanian orang yang tanpa rasa takut ini.

"Ngomong-ngomong, kau bisa mengantarkanku ke kota? Aku harus mencari rumah sakit untuk merawat orang itu," kata Shinichi. Coby segera tersadar dan menjawab buru-buru, "Bi-bisa, tapi..."

"Bagus, kalau gitu ayo!" Shinichi beranjak berdiri ketika dia teringat sesuatu dan berbalik ke Coby lagi. "Oya, namamu siapa?"

"Aku? Aku Coby."

"Oke Coby, kita segera ke kota." Shinichi keluar dari kamar itu dan disusul oleh Coby.

- To be continued –

Huhu, maaf update lama, aku sekarang sudah bersemangat sedikit dalam membuat fic ini, jadi bisa kupastikan chapter selanjutnya keluar tidak akan lama.

Oh ya, chapter berikutnya akan muncul Zoro. Kira-kira, siapa yang akan jadi Zoro ya? Ada yang bisa menebak?

Review ya :D