MY DANGEROUS BOYFRIEND

Pair: G-Dragon (Kwon Jiyong)-Seungri (Lee Seungri)/(GRi)

Pair tambahan: TOP (Nanti akan ada pair tambahan sesuai chapter)

Rated: T

Genre: Romance

Warning: AU, OOC (S), Gaje, Abal, Ancur, Typo (B), Shounen Ai, Yaoi.

.

.

.

DON'T LIKE, DON'T READ

.

.

.

CHAPTER SEBELUMNYA

Seungri berbalik dan menatap Jiyong tajam. "Hanya ciuman? Kau bilang hanya ciuman? Bagimu itu hanya sekedar ciuman, tapi bagiku tidak. Itu….itu ciuman pertamaku, bodoh!" Marah Seungri. Matanya memerah karena menahan tangis. Wajanya pun ikut memerah karena marah dan malu. Malu karena mengatakan rahasianya. Rahasia bahwa dia tidak pernah berciuman.

Bukannya merasa iba, Jiyong malah menyeringai. "Jadi, tadi pagi itu ciuman pertamamu?" Lagi. Dengan santainya dia bertanya seperti itu dan membuat Seungri semakin kesal padanya.

"Kau….? Aku membencimu!" Teriak Seungri lalu berlari meninggalkan Jiyong yang mematung.

Wajah terkejutnya berubah menjadi seringai. "Tapi, aku semakin menyukaimu. Dan akan kubuat kamu menyukaiku"

.

.

.

CHAPTER 2

Matahari terbit dari ufuk timur menandakan telah datangnya pagi. Banyak orang telah bangun dan melanjutkan aktifitas mereka sebagaimana mestinya. Entah itu hanya sekedar berolahraga maupun pergi bekerja. mencoba membangunkan seorang namja manis bersurai hitam yang masih berkelut dibawah selimut hangatnya dengan cahayanya yang hangat. Dia menembus sela-sela jendela kamar sang pemilik dan membuat pemilik kamar itu mengerang kesal.

"Kenapa kau muncul sangat cepat?" Gumam namja bersurai hitam itu masih setengah mengantuk dengan kesal. Matanya masih terpejam dan kepalanya dibenamkan dibantal bersarung panda miliknya. Dia mencoba mengabaikan cahaya sang mentari dengan menutup tubuhnya dengan selimut bergambar panda hingga mencapai ujung kepalanya.

"ARRGHH!" Namja itu bangun dengan posisi duduk lalu mengacak rambutnya frustasi. "YAH! Aku lelah dan mengantuk. Aku baru saja tidur jam 2 pagi setelah mengerjakan pekerjaan rumah milik teman-temanku. Apa kau tidak bisa mengasihani aku? Kumohon, kembalilah ke tempat persembunyianmu lalu biarkan aku tidur sejam saja. Setelah itu barulah kau muncul. Kumohon!?" Sambung namja bersurai hitam itu setengah mengantuk dan sesekali menggaruk kepalanya hingga rambutnya yang berantakan semakin berantakan. Lingkaran hitam dibawah matanya pun semakin terlihat jelas begitu pula kantung matanya.

Semalam suntuk dia mengerjakan pekerjaan rumah milik teman-teman kelasnya seorang diri hingga jam 2 pagi. Ditambah dengan ingatan tentang first kiss-nya yang telah direbut oleh namja pervert kemarin, membuatnya tak bisa tidur. Untuk itulah, sekarang ini dia sangat membutuhkan istirahat yang cukup untuk tubuh dan matanya serta pikirannya. Namun, sepertinya tak ada kata kompromi ataupun tawar menawar bagi sang mentari.

Lee Seunghyun atau biasa disapa Seungri kembali membaringkan tubuhnya di kasur miliknya –menurutnya- dan kembali masuk kedalam mimpinya yang sempat tertunda. Namun, belum dua detik dia tertidur, sang mentari kembali mengganggunya dengan cahayanya yang lebih menyilaukan namun terasa hangat. Alhasil, Seungri pun bangun.

Namja bersurai hitam itu kembali mengerang kesal, "ARRGHH!" Lalu mengubah posisinya menjadi duduk lagi. Dan kembali menggaruk kepalanya, membuat rambutnya semakin dan semakin berantakan. Umpatan kesal keluar dari mulutnya karena tak bisa kembali tidur dan mimpi indah. Akhirnya, dia memutuskan untuk bangun. Jari-jari mungilnya segera mencari-cari kacamata kesayangannya yang selalu digunakannya setiap hari di meja kecil di samping tempat tidurnya dan setelah menemukannya dia langsung memakainya lalu segera melihat jam walker berbentuk panda kesayangannya berada diatas meja kecil yang sama.

06.00

' Kenapa harus secepat ini?' Batinnya kesal.

Seungri, namja bersurai hitam itu segera menuruni tempat tidurnya. Diambilnya selimut pandanya lalu memakainnya diatas kepala. Sudah kebiasaannya jika bangun pagi dia selalu memakai selimut yang seluruhnya bergambar panda untuk menutupi kepalanya. Dia kini terlihat sangat imut dan manis. Apalagi lingkaran dibawah matanya semakin menambah aksen imut dan manis dalam dirinya –walaupun sebenarnya dia sendiri tidak suka muncul dark circle itu-. Seungri segera meninggalkan kamarnya setelah memakai sandal berbentuk pandanya –lagi- lalu keluar dari kamarnya. Sesekali sebuah kuapan kecil keluar dari mulutnya beserta sebuah umpatan kesal karena bangun di pagi nan cerah dengan berjuta-juta lelah di pundak dan pikirannya.

Seungri berjalan dengan malas menuju dapur yang tak jauh dari kamarnya lalu segera mengambil air dingin didalam lemari es dan menuangkannya ke dalam gelas yang sebelumnya sudah disiapkannya. Namun, sebelum dia meminum air dinginnya, sebuah suara tiba-tiba menyapanya.

"Selamat pagi, Ri!"

"Hn, selamat pagi!" Balas Seungri pada pemilik suara itu. Dia masih setengah mengantuk, sehingga belum menyadari sepenuhnya bahwa rumahnya telah dimasuki orang asing. Orang asing yang sudah dikenali.

"Apa kau mau sarapan denganku?" Tanya suara itu lagi. Membuat Seungri membeku. Dia baru menyadari ada seseorang di dalam rumahnya selain dia.

Seungri membalikan tubuhnya kearah suara orang asing itu. Diperbaikinya letak kacamatanya setelah berkali-kali mengucek-ngucek matanya pelan dengan jari-jari mungilnya. Ditatapnya orang asing itu saksama sebelum "AAAAAAAA~" Sebuah teriakan keluar dari mulutnya.

Orang asing itu segera menutup telinganya mendengar teriakan nyaring Seungri. "Ka-Kau? Kau?" Seungri menunjuk orang asing itu tak percaya. Matanya membesar melihat siapa orang asing yang kini berada di depan matanya. Orang yang paling dibencinya. Orang yang telah merebut first kiss-nya.

Kwon Jiyong.

"Annhyeong!" Sebuah senyuman menyerupai seringai terukir dibibir Jiyong sambil melambaikan tangannya seperti mengejek Seungri.

Seungri mengedipkan matanya berkali-kali. Lalu menatap Jiyong yang tengah duduk santai sambil menyeruput teh hangatnya dengan tatapan tajam. Sedangkan, orang yang kini sedang menikmati teh hangatnya, mengabaikan tatapan tajam dari Seungri.

"YAH! Bagaimana kau bisa masuk ke apartemenku?" Marah Seungri melihat Jiyong masih santai menikmati teh hangatnya. Bahkan, Jiyong kini tengah menikmati cake buatan pelayannya.

"Tentu saja dengan ini!" Jiyong menunjukan kunci apartemen Seungri tanpa melihat kearah Seungri.

Seungri shock. Mulutnya menganga lebar tak percaya. "Ba-Bagaimana bisa kau punya kunci apartemenku?"

"Tentu saja dari pemiliknya."

"APA? Ba-Bagaimana bisa?"

"Dengan uang, apapun bisa terjadi, bukan?!" Sebuah senyum iblis terukir di bibir Jiyong.

Seungri sangat shock dan terlihat frustasi mendengar jawaban dari Jiyong. Bahkan, dia merasa dunianya akan segera kiamat. Dalam hati dia mengutuk Jiyong dan juga pemilik dari apartemennya. Bagaimana mungkin, pemiliknya memberikan kunci cadangan kamarnya pada orang asing nan berbahaya seperi Kwon Jiyong? Rasanya dia ingin menangis sekencang-kencangnya dan pergi jauh dari tempat ini lalu bersembunyi di suatu tempat yang tidak diketahui siapa pun apalagi namja di depannya ini.

"Yah! Panda ya! Berhentilah menunjukan wajah frustasi seperti itu. Kau terlihat semakin jelek."

"Aku bukan panda. Manusia pervert!" Marah Seungri. Dia tak suka jika ada orang yang memanggilnya panda. Panda adalah kata tabu baginya.

"Apa salahnya aku datang ke apartemenmu. Bukankah kau pacarku?"

"AKU BUKAN PACARMU, MANUSIA PERVERT!." Kemarahan Seungri semakin meledak-ledak. Tapi, Jiyong mengabaikannya. "Dan lagi, bukankah sudah aku katakan, aku membencimu? Kenapa kau masih berani kesini?"

"Oh, jadi kau membenciku?"

"Tentu saja aku membencimu. Sangat membencimu!"

"Kenapa kau membenciku?"

"Kau tanya kenapa? Cih, jelas-jelas kau sudah mengambil ciuman pertamaku, manusia pervert."

"Oh, jadi karena ciuman itu?!"

"Tentu saja!" Seungri menunduk. Dia malu menunjukan wajahnya yang kini merona karena mengingat kejadian itu. "Aku ingin ciuman pertamaku meninggalkan hal yang mengesankan bukan menyebalkan." Sambungnya jujur.

Tanpa diketahuinya, Jiyong kini tengah tersenyum lembut. Senyuman yang tak pernah dia tunjukan pada siapa pun. Sayangnya, Seungri tak melihatnya.

"Meninggalkan kesan? Bukankah aku juga meninggalkan kesan yang baik? Memangnya kau ingin kesan seperti apa? YAH! Babo ya, kau justru harus bangga, ciuman pertamamu diambil olehku. Babo!" Ejek Jiyong lalu kembali menikmati sarapannya yang sempat tertunda.

'Aishh..Orang ini…' Batin Seungri kesal.

"Kau mau sarapan denganku!"

"AKU TIDAK LA-"

KRUYUUK

"-par~" Sambungnya lalu menatap perutnya dengan kesal. Wajahnya yang memerah di sembuyikannya dengan menunduk, tapi masih bisa dilihat oleh Jiyong. Dia sungguh malu saat ini. Bagaimana tidak? Perutnya berbunyi ketika dia berteriak tidak lapar pada namja bersurai gold di depannya. Sedangkan Jiyong sedari tadi terus menertawakannya.

'Yah! Kenapa kau mempermalukan aku?" Batin Seungri sambil memukul pelan perutnya.

"Ckckck…Kau memang pantas mendapatkan gelar bodoh!" Ejek Jiyong dengan seringai khasnya dan berhasil membuat sudut siku-siku tercetak di dahi Seungri.

'Sebaiknya aku harus sering-sering pergi ke gereja untuk menambah kesabaranku'

Jiyong menyeringai, "Apa tawaranku masih berlaku?" Tanyanya dengan nada sedikit mengejek.

Seungri mengangguk lemah. "Ini sungguh memalukan!" Ucapnya pelan pada diri sendiri. Perasaan malu menghinggapinya bertubi-tubi membuatnya ingin berlari dari namja bersurai gold didepannya dan bersembunyi ditempat yang tidak pernah di ketahui oleh namja di depannya.

Seungri melangkahkan kakinya perlahan-lahan menuju tempat Jiyong dimana adalah meja makan miliknya dan segera menarik kursi didepan Jiyong dengan pelan lalu duduk. Matanya melebar ketika melihat banyak makanan enak yang jarang dimakannya kini berada dihadapannya.

'Woah~ Aku belum pernah memakan makanan seperti ini!' Batin Seungri.

"Aku tahu orang miskin sepertimu tidak pernah memakan makanan seperti ini!" Ejek Jiyong lagi dan membuat wajah Seungri yang awalnya sumringah bagaikan matahari berubah menjadi redup. Jika ini sebuah manga mungkin saja Seungri kini tengah diliputi kegelapan disekitarnya. Tubuhnya lemas dan tak ada senyum yang terukir dibibirnya.

"M-Mari Makan!" Katanya sepelan mungkin lalu mulai memakan makanan yang dihidangkan didepannya.

Mereka pun makan dalam diam. Seungri masih setia menunduk sambil menikmati sarapannya yang luar biasa mewah dan enak sedangkan Jiyong memperhatikan namja penyuka panda didepannya dengan tajam, namun lembut. Sayang, Seungri tidak melihat tatapan itu.

.

.

.

"ARGGHH~" Teriak seorang pria dari sebuah bangunan tua di dalam hutan. Tampak bangunan itu tak pernah lagi di jamah oleh masyarakat di sekitar hutan yang tidak terlalu lebat itu. Teriakan itu menggema hingga membuat burung-burung berterbangan.

Dari dalam bangunan tua itu, terlihat sekitar 30 orang pria berpakaian setelan jas hitam lengkap dengan sebuah senjata api yang tersimpan rapi di dalam jas mereka. Pria-pria itu menatap seorang pria sekitar 30-an yang penuh luka dan lumuran darah disekujur tubuhnya dengan tatapan jijik. Dua pria disampingnya tersenyum puas melihat pemandangan indah dari pria 30-an itu. Darah yang mengalir bak air dari tubuh pria itu terlihat seperti sebuah seni yang sangat indah. Ditangan mereka terdapat sebuah cambuk berduri dengan pemukul bisball yang telah dihiasi cairan merah yang telah membeku maupun yang masih segar. Sedangkan pria 30-an itu telah berbaring lemah di atas tanah dengan darah segar yang keluar dari sekujur tubuhnya.

"Ma-Maaf-kan aku Tu-Tuan!" Pinta pria itu pada pria tinggi yang sedang duduk di kursi singgasananya dengan wajah dingin dan tatapan yang sangat tajam. Pria itu sejenak menutup matanya lalu kemudian membukanya dan berjalan menghampiri pria 30-an tersebut.

Wajah tampan, tatapan tajam, bersurai hitam yang tertata rapi, serta tubuhnya yang tinggi yang atletis akan membuat siapa saja yang melihatnya akan langsung berdecak kagum. Mantel hitam panjang khas seorang mafia yang dikenakanya semakin membuat pria itu terlihat sangat tampan dan berkharisma. Namun dari wajahnya yang tampan itulah dia menyembunyikan sejuta pesona yang mengerikan dibaliknya.

"Kau tahu bukan, akibat dari sebuah kegagalan?" Tanya pria itu tepat dihadapan pria 30-an tersebut. Dia menelusuri wajah pria berlumuran darah itu dengan senjata api miliknya. Sebuah kesenangan tersendiri baginya menodai senjata api kesayangannya dengan darah. Baginya, senjata apinya akan terlihat sangat cantik dengan darah tersebut.

Pria 30-an itu sangat ketakutan ketika senjata api Tuan-nya kini tepat berhenti di atas dahinya. Dia menangis sambil memohon pada Tuan-nya. Menangis karena takut bila dia dibunuh dan meninggalkan keluarganya. Anak dan istrinya. Dan memohon untuk dimaafkan. Dia pun berjanji untuk tidak melakukan kesalahan yang sama kepada Tuan-nya. Tapi sepertinya, tak ada kesempatan kedua maupun maaf dari Tuan-nya.

DORR

Sebuah peluru panas tepat bersarang di dahi pria 30-an itu dan meninggalkan sebuah lubang yang cukup dalam di dalam kepalanya. Darahnya bahkan menyembur keluar dari kepalanya. Sebuah senyum manis nan mengerikan terukir di bibir pria yang di sebut 'Tuan' oleh sang korban. Wajahnya yang juga terkena darah dari pria 30-an itu menambah aksen mengerikan dari pria itu. Matanya tertutup lalu menarik napasnya dalam-dalam untuk menghirup aroma darah yang kini tercium jelas di sekitarnya. Sedangkan, para assassin-nya menunduk hormat pada sang Tuan.

Pria itu membuka matanya. "Jauhkan mayat ini dari hadapanku!" Perintah Pria itu dingin.

"Baik Tuan!" Kedua pria yang menahan cambuk dan pemukul bisball segera menarik mayat pria 30-an itu jauh dari hadapan sang Tuan.

"Tak kusangka kau semakin kuat….G-Dragon!"

.

.

.

"Tuan Besar, dia sudah tiba!" Ucap seorang namja setelah menunduk hormat pada namja bersurai coklat didepannya.

"Bawa dia masuk!" Perintah namja yang di panggil 'Tuan Besar' dari balik meja coklat besar miliknya.

Namja yang di perintahkan menunduk hormat lalu mengundurkan diri. Tak beberapa lama kemudian, namja tadi kembali dan membawa seorang namja tinggi dibelakangnya. Namja itu berkulit tan, berparas tegas, dan tak banyak berekspresi. Mereka menunduk hormat ketika berhadapan dengan namja didepannya.

"Sudah lama aku menunggumu. Apa kau sudah siap dengan pekerjaan barumu?" Tanya Tuan Besar penuh senyum yang menawan.

"Saya sangat merasa terhormat karena saya bisa bekerja kembali untuk anda, Tuanku. Saya sudah siap melakukan tugas apapun yang anda perintahkan, Tuan."

"Aku mengandalkanmu!"

TO BE CONTINUE

^^ REVIEW ^^

Mianhae kalo lama...author lagi galau tingkat dewa *ngga nanya*

Semoga chapter ini bisa memuaskan readers sekalian *mudah2an* kekekeke

Kalo ada typo dan lain2nya author mohon maaf sebanyak2nya. Terima kasih sebanyak2nya buat para readers sekalian yg udah review ff author. Kamsahamnida ^^