Le Banc
a dlm/hjp threeshot fanfiction
by- HanariaBlack

[I have no rights to claim Harry Potter. J.K. Rowling does. I'm only making fanfics, not making money, nor plagiating.]

AU | AR | Draco/Harry | OOC | businessman!Draco (22), student!Harry (18) | mild-language

"The best and most beautiful things in the world cannot be seen or even touched – they must be felt with the heart."
—Hellen Keller


-o. bagian kedua dari tiga bagian cerita .o-

– "PERTENGAHAN" –

e n j o y !


Sejak dua malam terakhir, aku sama sekali tidak memejamkan mata untuk tidur barang satu jam pun.

Pukul 02:50 PM.

Aku pulang sekolah, mengabaikan telepon dari Bibi Marge yang pasti bila kuangkat akan bicara, 'jangan lupakan tugasmu untuk menjaga rumah berharga dan peliharaan tercintaku yang bersih dan sehat, Harry! Ingat, tanpaku, kau hanya anak jalanan yang tidak ada harganya. Kau beruntung! Kau berhutang budi padaku!' dengan nada marahnya padaku, seolah aku hanya hama yang mengganggu. Dari awal aku berada di sini sampai detik ini, aku tidak pernah tahu apa alasannya membenciku... ah, biarlah, orang jahat memang ada di mana-mana, ya.

Di rumah, aku bengong berjam-jam memandangi ke luar jendela, pikiranku kadang kosong dan tenang, kadang penuh dengan ingatan tentang Malfoy yang ramai sekali di ruang benakku. Aku hanya memikirkan sedikit hal biasanya, tapi sekarang, setelah aku eavesdropping pembicaraan antara Snape dan Malf—Draco, pikiranku jadi tak menentu dan sulit untuk kuanjak kompromi. Aku memikirkan Draco, Draco, pembicaraan antara Snape dan Draco, lalu Draco lagi. Aku bosan memikirkan ini, tapi hal-hal itu tidak bisa berhenti menghantuiku setiap detik. Entah, kedengarannya sinetron sekali...

Selain bengong di rumah, aku hanya makan sedikit (karena Bibi Marge hanya menyimpan sedikit makanan dan uang untukku), memberi makan peliharaan-peliharaan Bibi Marge, berkebun, mengerjakan PR, mandi, menonton TV, dan menghabiskan waktu untuk bergelung di kasur dengan selimut, tanpa sekali pun berniat untuk tidur. Tanpa belajar. Dalam keadaan stabil pun niatan belajarku hanya 30%, apalagi saat banyak pikiran begini? Minus 30%, mungkin.

Aku tidak bisa tidur. Biarpun mataku pedih, aku merasa ngantuk sangat... aku tetap tidak bisa tidur.

Inilah kebiasaan burukku kalau sedang banyak pikiran; tidak bisa tidur sama sekali.

Aku menguap, dan merasa kantuk menyerangku. Ha, aku bisa bilang aku ngantuk sekali, tapi aku tidak akan bisa tidur. Setebal apa pun kantung mataku, aku tidak akan tidur. Aku tahu aku tidak akan tidur karena aku pernah mengalami hal ini sebelumnya. Yang membedakan hanyalah masalahnya... kalian tidak perlu tahu apa masalahnya, karena itu tidak penting sekarang.

Aku jadi ingin kembali ke bangku favoritku di pinggir danau.

Tapi, aku tidak mau bertemu dengan Draco Malfoy.

Aku butuh tempat relaksasi seperti bangku itu.

Tapi, aku takut kalau ada Draco di sana. Aku takut aku akan bertingkah aneh dan Draco mencurigaiku.

...

Sepertinya otakku mulai kacau akibat hilangnya waktu tidur dan tempat relaksasi terpraktis dan tak tergantikan. Besok hari Sabtu, dan harusnya aku sangat bahagia—tapi, malam ini aku malah gelisah.

Aku, sih, masa bodoh dengan omelan Bibi Marge, dia masih di Portugal, dan lama pulangnya. Lagipula, mau aku rajin atau malas-malasan mengerjakan tugas darinya, ujung-ujungnya aku bakal dimarahi juga.

Akhirnya, aku menghabiskan waktu dengan mengerjakan PR Fisika dan PR Literatur yang kutunda sejak kemarin, bicara pada bunga bakung, bunga mawar, dan bluebell Bibi Marge, lalu membersihkan kandang kuda Bibi Marge. Aku mandi, dan duduk dalam diam di tengah kamarku yang kecil.

Tidak ada handphone—benar, karena Bibi Marge ogah menyalurkan uangnya untuk kepentingan pribadiku. Tidak ada teman—benar, karena aku adalah mantan korban bully yang langsung ditakuti satu sekolah akibat menjotos bos pimpinan pem-bully-annya sampai bonyok. Tidak ada sahabat—benar, karena Ron dan Hermione sudah pindah ke Scone di Skotlandia. Orangtua Ron dan orangtua Hermione sudah sejak lama merencanakan pernikahan untuk Ron dan Hermione, dan kedua sahabatku itu memang saling mencintai. Jadi, mereka pindah bersama-sama.

Dan kepindahan mereka terjadi tiga tahun yang lalu. Aku sudah tidak mengingat banyak tentang mereka, dan kami sudah tidak lagi surat-menyurat karena cara itu sangat kuno, dan aku pindah rumah tanpa memberitahu mereka. Alamatnya berbeda.

Pukul 08:30 PM.

Aku sudah menekan keinginan untuk lari ke bangku taman di dekat danau itu selama enam jam.

Aku mendongak untuk memandang langit malam. Tidak ada bintang, tidak ada bulan. Hanya hitam kelam, dan bulir-bulir hujan dari atas yang turun ke bumi, makin lama makin deras, dan aku kebosanan.

Aku menggulung selimut di sekeliling tubuh berpiamaku lebih erat. Udara lebih dingin—tentu saja karena berada di pertengahan musim dingin. Aku mengantuk, tapi tidak bisa tidur. Aku memikirkan Draco Malfoy. Lagi. Aku tidak bisa menghentikan pikiranku! Kurasa kewarasanku bisa hilang kapan saja.

Apa aku harus ke bangku di dekat danau itu untuk mengurangi sedikit kegilaanku? Untuk mengurangi isi pikiranku yang rumit? Bisakah aku bertemu dengan Draco di bangku itu, dan mengetahui apa yang akan ia lakukan setelah mendapat alamat rumah—?

Ting tong

Tamu jam segini? Siapa pula yang mau mengunjungi rumah Bibi Marge? Aku tidak pernah menerima tamu tanpa Bibi Marge di rumah.

Dengan malas, aku melepaskan pelukan dari selimutku yang hangat, menuruni tangga reyot, mengucek mataku agar kelelahanku tak terlalu terpancar dari sana, lalu membuka pintu.

Aku tidak pernah menyangka bahwa tamu itu adalah Draco Malfoy.

o.o.o.o.o.o.o.o.o.o

Empat hari tanpa bertemu dengannya membuat waktuku melambat, perhatian dan konsentrasiku pada pekerjaan tercecer berantakan, dan tak satupun menit kuhabiskan untuk tidak memikirkannya. Dia ada di mana-mana.

Harry. Atau lengkapnya, Harry James Potter. Lahir tanggal 31 Juli, delapan-belas tahun yang lalu, dan kehilangan kedua orangtuanya dalam kecelakaan tragis ketika umur Harry masih setahun. Kemudian, Harry dikirim ke kerabat ibunya, Petunia Dursley, untuk dirawat. Dan di tahun berikutnya, Harry dikirim ke kerabat dari suami Petunia Dursley yang janda dengan nama Marge Dursley. Ketika Sirius Black masih hidup sebagai wali Harry, Black sering membawa Harry berpergian bersama temannya yang bernama Remus Lupin. Severus bilang, Sirius dan Remus adalah sahabat James dan Lily Potter, orangtua Harry.

Dari pemberitahuan Severus, catatan penilaian sikap Harry bisa terbilang buruk. Harry terlibat banyak pertengkaran (selalu berakhir di Konseling dengan lebam-lebam), 40% kehadirannya di sekolah adalah absen, selalu menaruh jumlah detensi lebih dari lima buah di setiap semester, dan dijauhi oleh mayoritas murid karena pernah terlibat konflik dengan seorang 'preman sekolah' yang ayahnya sebagai Kepala Sekolah di Hogwarts. Setelah konflik itu selesai, Harry terlibat konflik lain, dengan ketua geng kecil-kecilan di penjuru Hogwarts.

Aku bingung kenapa Harry bisa terlibat dalam banyak konflik fisik seperti itu. Tapi... biarpun tubuh Harry tergolong kecil, aku bisa melihat sekuat apa dia kalau menelitinya.

Tidak ada yang peduli pada konflik-konflik milik Harry—Marge Dursley digolongkan pada orang-orang yang masa bodo itu. Guru-guru tidak terlalu memerhatikan Harry karena cukup banyak kasus semacam Harry di Hogwarts, tapi aku yakin kalau Snape diam-diam peduli pada Harry.

Kalau Severus tidak peduli akan Harry, mana mungkin dia mau memberitahuku seluruh informasi tentang Harry? Lagipula... Severus juga bilang bahwa Harry butuh orang sepertiku. Aku mengartikan perkataan itu menjadi:

Harry butuh orang yang bersedia membagi waktu dengannya, menyayanginya, memberi cinta, dan perhatian. Harry butuh aku.

Biarpun aku bukan tipe romantis yang memanjakan pasangannya, aku tahu cara membahagiakan pasanganku.

Kembali ke situasi sekarang—aku tidak bisa menyelesaikan pekerjaanku sejak siang ini. Aku pulang dari kantor, tidak jadi pulang ke rumah karena kakiku berbelok menuju tempat dengan bangku di dekat danau yang telah beku sepenuhnya, lalu duduk.

Aku menunggu Harry.

Sunyi. Aku mengecek arloji; sudah 20 menit aku duduk di sini sendirian. Aku menunggu lagi.

Aku bersandar pada sandaran bangku, lalu menghitung domba melompat-lompat dalam imajinasiku. Satu, dua, tiga... aku berharap Harry datang sebelum hitunganku mencapai sepuluh...

...sembilan, sepuluh... aku berharap Harry datang sebelum melewati angka empat puluh...

...tiga-puluh sembilan, empat-puluh... aku harap Harry memotong hitungan dombaku di angka seratus...

...sembilan-puluh delapan, sembilan-puluh sembilan... serat—oke, aku akan memperlambat hitunganku, dan Harry akan datang sebelum aku mengucapkan angka tiga ratus...

...dua ratus sembilan-puluh tujuh... dua ratus sembilan-puluh delapan... dua ratus sembilan-puluh sembilan...

Aku menghentikan hitunganku, dan mengecek arloji. Sudah 04:50 PM. Dua jam berada di sini. Langit telah berganti dari biru jadi jingga bersemburat keunguan, matahari makin dekat dengan barat, dan aku masih di sini, sendiri.

Tanpa Harry.

Sepi, tapi seorang Malfoy yang telah bertekad untuk menunggu seseorang—dalam kasus ini; aku yang menunggu Harry—akan terus menunggu. Biarpun menunggu adalah hal yang aku benci, demi menunggu kehadiran Harry di sini, aku akan berkorban. Malfoy bisa melakukan apa saja, benar?

Oleh sebab itu, aku mengambil buku tentang Ekonomi dari tasku, membukanya, lalu mulai membaca. Masih menunggu.

/

Aku terbangun.

Aku mengusap wajah, dan mengangkat buku Ekonomi-ku dari atas dada. Aku ketiduran, sial.

Aku mengecek arloji—07:59, dan 'pip', pas pukul 08:00 PM.

Aku merenggangkan otot leherku yang terasa kaku, lalu memasukkan kembali buku Ekonomi ke tasku, dan termenung menatap langit yang telah hitam... yang sepertinya akan hujan. Gerimisnya pasti sebentar lagi datang.

Tidak ada lampu taman di dekat sini—ada satu, sekitar tiga meter di depanku, tapi tak menyala—menciptakan nuansa hitam yang menyulitkanku untuk melihat.

Aku menghela napas, lalu mengusap wajah. Ke mana Harry? Kenapa dia tidak datang seperti biasanya? Apa ada sesuatu yang buruk menimpanya?

Kalau aku duduk diam tanpa usaha untuk mengetahui apa kabar Harry, aku tidak akan mendapatkan hasil apa pun. Apa yang harus kuperbuat? Datang ke rumahnya, numpang minum segelas cokelat hangat, lalu pulang? Kesannya sangat tidak penting, dan aku tidak ingin jadi orang yang buang-buang kesempatan dan waktu. Aku harus bergerak dalam modus level dewa-dewi langit (?).

Aku sudah mengakui sejak bertemu dengan Severus kalau aku lebih dari menganggap Harry sebagai kenalan, teman, atau teman dekat. Aku menyayanginya seperti seorang yang baru jatuh cinta, dan aku harus mulai mendekatinya; supaya secara perlahan, ia tahu apa yang kurasakan. Dan saat aku menyatakan cinta, dia tidak terlalu kaget dan bisa memberiku jawaban yang matang karena aku telah memberinya petunjuk. (walau terdengar seperti naskah untuk sinetron, cara ini terlihat logis dan ampun)

Menurut buku psikologi yang kubaca mengenai langkah-langkah yang baik untuk menjalin hubungan asmara, sih, seperti itu. Pardon me, aku tidak akan datang ke tempat yang ada dokter atau dukun cintanya—hal-hal itu norak sekali. Kalau ada buku yang tepat, kenapa malah ke orang-orang yang tidak memberikan kepastian utuh?

...err. Kurasa mendatangi rumah Harry itu hal yang cukup oke. Aku bisa mengajaknya bicara. Ngobrol santai, lalu secara perlahan aku mulai mengubah topik ke topik yang berbau cinta... lalu pulang. Besoknya aku akan datang lagi, besoknya juga, besoknya pula, sampai aku melihat ciri-ciri dia mulai menyukaiku juga (kalau di buku, sih, seperti ada rona merah di pipinya).

Alamat Harry sudah kusimpan di note di Android-ku. Aku tinggal mendatangi Harry dan mengajaknya bicara. Yes. Simple as that.

/

Padahal sebelumnya aku sudah optimis. Aku sudah punya rencana, aku telah memperkirakan balasan Harry bagaimana ketika aku menanyakan sebuah pertanyaan... tapi...

Sudah pukul 08:28, dan aku belum menekan belnya sama sekali. Nyatanya, aku kehujanan di depan pintunya yang tidak dipayungi atap, tubuhku mulai menggigil, dan aku gugup sampai degup jantungku menulikan bunyi deras hujan di telinga. Memang dramatis dan terkesan klise, tapi inilah yang kurasakan sekarang.

Ayolah, kau adalah Malfoy, masa mengunjungi rumah orang saja pakai acara mematung dengan bodohnya selama dua-puluh menit? Jangan sinting. Jangan seperti banci...

Aku terdiam, tanganku perlahan terulur untuk menekan tombol bel di samping pintu, masih belum yakin sepenuhnya—tapi pada akhirnya, aku mendengar bel itu berdendang dari balik pintu. Ting tong, bunyi bel yang umum itu menghilang secepat kedatangannya.

Aku menunggu, sambil berusaha menenangkan pikiranku yang tiba-tiba berantakan dan liar.

Telingaku menangkap bunyi langkah-langkah lunglai menuruni tangga, dan beberapa detik yang sunyi kemudian, daun pintu putih tanpa noda itu terbuka.

Harry berdiri di sana. Rambutnya lebih berantakan, busananya tak tertata, dan saat pandanganku bertabrakan dengan iris hijaunya yang meredup, aku tidak melewatkan lingkaran kelam di bawah matanya yang hitam, tebal, dan menggantung seperti coretan spidol hitam permanen.

Biarpun Harry tampak jauh lebih jelek, buruk, dan menjijikkan dari sebelumnya, kerinduanku akan kehadirannya malah meningkat drastis, membuat lenganku bergetar menahan ambisi untuk menenggelamkan tubuh kurus itu dalam dekapanku, memeluknya hingga ia sulit menghirup oksigen.

Aku merindukanmu, bodoh. Kau menyiksaku—batinku menyuarakan apa yang tidak bisa kuutarakan ke luar rongga mulutku.

o.o.o.o.o.o.o.o.o.o

"D-Draco?" suaraku berhasil melewati tenggorokanku yang tercekat, dan aku mengganti nama 'Malfoy' di mulutku dengan nama 'Draco' yang selama ini mengiang seperti nyamuk di benakku.

Draco. Di depan rumahku. Kehujanan tanpa jas atau pelindung. Sendirian.

Aku semakin yakin bahwa aku tidak salah dengar tentang Draco yang meminta data pribadiku pada Snape di sekolah... tiga hari lalu.

"Harry?" Draco tampak terkejut. Kurasa dia kaget kenapa aku tidak menendangnya keluar dari zona tempat tinggalku. "Kau... kau kelihatan tidak sehat. Apa yang terjadi?"

Aku tidak biasa menerima perhatian. Aku membuang muka, dan otomatis berdusta, "Aku banyak PR," sebenarnya, aku mengabaikan PR-ku. Aku melipat lengan di dada. Sunyi yang mencekam, lalu aku mendahuluinya agar ia tidak perlu menanyakan keadaanku lagi. "Kenapa kau bisa tahu aku tinggal di sini?"

Aku tahu jawabannya. Tapi aku ingin dengar dari mulutnya.

"Kenapa kau punya kantung mata sebanyak itu di bawah matamu?" Draco malah balik bertanya.

Aku mengerang. Kenapa selalu begini? "Tidak bisakah kau mengalah untukku?" protesku.

"Aku bertanya lebih dulu, Harry," kata Draco, tak mau kalah, padahal dia sudah basah kuyup.

Aku cemberut, memasang ekspresi kesal (yang pasti makin dominan dengan lingkar hitam di bawah mataku ini), lalu bergumam, "Tak sadarkah kau bahwa hujan sudah sangat deras?" aku mundur, dan melebarkan pintu untuknya.

Dia diam, dan aku juga bungkam. Tetes-tetes hujan yang makin liar berisik di belakang Draco, dan membasahi kemeja garis-garis horizontal berwarna krem di tubuh Draco.

"Kau ini," aku berdecak, "Mau masuk tidak, sih? Atau kau mau kubiarkan kehujanan sampai masuk angin di sini?"

Draco masih juga tak bersuara, dan untuk pertama kalinya, aku melihat ekspresi cengonya yang begitu mengundang tawa.

Aku pasti sudah terbahak seandainya aku sedang tidak terbelit dalam konflik dengan Draco.

"Baiklah..." Draco bergumam lamat-lamat, menatapku dengan bola mata meneliti.

Aku menunggunya masuk, tapi ia tak melangkah masuk juga. Atmosfir sangat canggung sampai-sampai aku ingin kabur sekarang juga. "Well?" aku berdeham, berusaha memecahkan suasana yang awkward, tapi gagal, "Mau masuk atau tidak?" aku menggoyang kenop pintu yang kugenggam.

Draco mengangguk samar, lalu melangkah maju. Aku mundur dan mempersilakannya masuk, mengambilkan handuk untuk Draco, dan kami berakhir duduk di sofa, di depan telly yang menampilkan saluran MTV—aku melihat Taylor Swift, penyanyi beraliran country kelahiran Serikat yang meraup beberapa piala atas kemenangannya di vote Teen's Choice Award.

Taylor Swift baru saja mendendangkan lagu 'Mean'—'You, with your words like knives and swords and weapons thst you use against me'— ketika remot di tanganku diambil paksa, dan Draco mengecilkan volume hingga hanya bisik-bisik yang keluar dari pengeras suara telly.

"Kita harus bicara," kata Draco, sebelum aku sempat protes.

Protes yang baru mau kuutarakan enyah mendadak, meninggalkan kekeringan dalam tenggorokanku.

Draco menggeser tubuhnya untuk menghadapku, lengan dan tubuhnya bersandar pada sofa, sementara aku masih fokus menonton Taylor Swift menyanyi tanpa suara sambil memainkan gitarnya di layar.

"Harry," Draco meminta perhatianku.

"Hmmm?" aku bergumam, ogah untuk menatap langsung Draco.

Sejenak hanya suara kecil dari telly yang meramaikan, lalu Draco angkat suara lagi, "Baiklah kalau kau tidak ingin menatapku, tapi aku harap kau mau menjawab pertanyaanku," kata Draco, suaranya setenang air danau yang tak terganggu. "Apa yang terjadi padamu? Kenapa banyak kantung mata di bawah matamu?"

Aku menelan ludah, "Aku..." aku memulai. "Aku hanya kelelahan. Mataku sulit diajak tidur lebih awal. Hanya itu."

"Yang benar? Sepertinya kau mengalami tiga hari yang lebih buruk dari itu."

Aku memandang layar telly dengan kosong. "Kau bisa menyebutnya begitu..."

"Kau bisa menceritakannya padaku," kata Draco.

Hell no! Karena kau, Draco, aku jadi begini! "Biar jadi rahasiaku saja."

Hening. Aku bisa melihat Draco memandangiku dengan tatapan tak terbaca dari ekor mataku.

"Kau punya masalah denganku?"

Aku mengabaikannya, berusaha terlihat tertarik pada penampilan Taylor Swift yang memakai dress bagai bintang keperakan, padahal aku sudah nyaris kehilangan perlindungan diri. Sebentar lagi Draco akan memaksaku untuk menghadapnya... dan aku tidak mau.

"Harry?"

Aku masih bungkam.

"Harry," panggilnya lagi. "Apa masalahmu?"

Aku tetap diam.

Draco juga diam.

Aku berusaha agar tetap terlihat menikmati musik yang terdengar seperti bisik-bisik saja karena volume-nya yang rendah.

"Apa kau menguping pembicaraanku dengan Severus sewaktu aku datang ke Hogwarts untuk meminta data tentangmu?"

Aku menoleh ke arahnya dengan kecepatan cahaya, membuatku meringis saat mendengar deriknya.

"Kau... apa?" aku tidak percaya dengan ucapannya tadi. Masa... masa... kok... "Kau... aku..."

Draco menatapku penuh perhitungan, "Berarti benar dugaanku," katanya, terlihat puas sendiri. "Kau menguping," ulangnya.

Aku berdiri dari sofa, lalu menudingnya, "Darimana kau tahu?" suaraku meninggi. Kenapa dia bisa tahu? Aku tidak meninggalkan mereka saat mereka masuk ke kantor Snape! "Kau penguntit!" tuduhku, parno.

"Hey, dengar penjelasanku dulu," balas Draco, terlihat tenang, sementara aku berantakan. Otakku yang berantakan. God. "Duduk dulu, Harry, kau terlihat seperti baru mengetahui kabar bahwa kucing jantanku menghamili kucing jantanmu."

Aku makin kaget, "Kucing-kucing juga bisa gay?!" aku berpikir, "Eh, aku 'kan tidak punya kucing!" kenapa pula aku kaget?

Draco menampar jidatnya sendiri, "Aku tidak percaya komentarmu malah begitu. Harusnya, kau bilang, 'tidak ada kucing yang gay'..." Draco tertawa singkat. "Itu perumpamaan, Harry."

"Oh," tingkat kepanikanku turun, dan sejenak aku sudah santai lagi, sebelum aku ingat kalau masih ada pertanyaan yang belum dijawab. "Hey, kau belum menjawab pertanyaanku!"

"Itu sederhana," Draco mengibaskan tangannya tanda mengentengkan, "Kau dulu jawab pertanyaanku."

"Licik," desisku.

"Kita harus berpikir cerdas jika menginginkan sesuatu," katanya, sok bijak. Palingan quote-nya ngambil dari Google.

"Kenapa kau tidak menjawab duluan?" semburku.

"Karena aku inginnya kau duluan yang menjawab. Aku tahu ucapanmu tidak bisa dipegang... lihat saja mukamu, panik begitu. Orang panik biasanya mengambil jalan yang salah."

"Sok tahu, ih," aku benar-benar marah. "Ini serius, Draco, kau pasti mengataiku tidak waras kalau kau mendengar hal ini! Aku bisa mati karena malu. Dan juga sinting, gila, edan..."

"Oke, oke, aku janji tidak akan meledekmu apa-apa," Draco menatapku serius.

"Kau bohong," aku masih tidak percaya sepenuhnya.

"Masa kau mau kita melakukan janji jari kelingking?"

Aku mengangkat kelingkingku, dan mengarahkannya pada Draco. "Janji dulu," kataku, memberengut.

"Oh, ampun," Draco menggeleng-geleng, tapi ia tersenyum. Senyuman yang pertama kali kulihat. Senyuman tulus. Untuk sejenak, aku terpana, sebelum aku menatapnya sebal. "Kelingking," katanya, lalu senyumnya terarah padaku.

Aku membuang muka, heran kenapa senyumannya yang agak mirip garis miring dan tulus itu membuatku merasa berdebar-debar dan gugup. Ketika aku masih membuang muka, kurasakan sentuhan asing mengait perlahan di kelingkingku, dan pipiku menghangat.

Hanya sentuhan kecil yang ringan dan tak bermakna apapun—membuat jantungku seolah ingin melompat keluar. Ajaib.

Aku mengaitkan kelingkingku padanya lebih erat seraya berkata, "Aku baru pertama kali melihatmu tersenyum."

Senyuman di bibir Draco yang mengundang perasaan asing lenyap. "Oh?"

"Masa kau sendiri tidak sadar kalau kau baru tersenyum sekali ini padaku?" aku memasang ekspresi sedatar aspal.

"Hmmm," pandangan Draco mengedar, lalu kembali pada batu zamrud Harry. "Kalau kuingat-ingat, aku tidak pernah tersenyum. Jarang, lah."

Aku menatapnya. "Memang, sih," kataku, "Kau kelihatan seperti tipe orang yang pelit senyum dan tidak menyenangkan."

"Aku bersyukur telah mendengar pujian indah itu dari bibirmu," gumam Draco sarkastis.

"Yap, sama-sama," Harry nyengir lemas, lalu menunduk untuk melihat dua jari kelingking yang masih terpaut. "Ehm."

Draco mengikuti pandangannya, dan pria itu menggoyang kelingkingnya, membuat kelingking Harry ikut bergoyang, mengayun ke kanan dan kiri. "Kulitmu hangat," kata Draco, setelah beberapa selang detik kami terdiam.

"Kau dingin," balasku, kontras. Aku heran kenapa satu dari kami tidak ada yang melepaskan kelingking... "Kalau kau masih kedinginan akibat main hujan-hujanan di depan rumahku, kau bisa bilang padaku daritadi. Aku akan membuatkanmu teh atau cokelat panas."

"Tidak masalah, aku pernah menginap di suatu hotel di Finlandia, dan dinginnya lebih ekstrem dibanding ini," kata Draco. "Dan aku bukannya main hujan-hujanan di depan rumahmu..."

"Oke," aku mengangguk, lalu teringat. "Saatnya melanjutkan sesi tanya-jawab yang sempat tertunda: darimana kau tahu aku menguping?"

"Alright, aku akan berbaik hati," Draco mengalah, lalu menghela napas panjang. "Saat menyambutku di depan pintu, kau memanggilku Draco."

Aku terhenyak.

"Aku ingat persis bahwa aku tidak pernah memberitahumu tentang nama kecilku... dan kau menyebutnya. Aku tidak pernah mengalami kehilangan ID atau dompet sejak aku bertemu denganmu, dan aku tidak pernah menyebut nama temanku satu pun," Draco menjeda, "Aku juga tidak pernah berkunjung ke Hogwarts lagi—kecuali tiga hari lalu, saat aku ingin mengetahui profilmu, Harry... James Potter."

Aku memandang sepasang iris kelabu itu dalam emosi yang tercampur aduk. Aku tahu kenapa aku merasa kaget, marah (karena dia kepo pada identitasku padahal bukan siapa-siapaku), terkhianati (karena dia tidak pernah bicara apa pun mengenai mengorek identitasku), dan takut (karena ada kemungkinan dia menguntitku—punya stalker itu tidak menyenangkan).

Tapi, aku tidak tahu penyebab dari secercah rasa bahagia yang menyelimutiku seperti bulu-bulu lembut itu apa.

"Maafkan aku kalau kesannya jadi buruk sekali," kata Draco lagi, lalu bukan hanya jari kelingking kami yang memiliki kontak sentuhan—tapi telapak tangannya di punggung tanganku. "Aku tidak bermaksud untuk mengganggu privasimu. Aku ingin tahu—hanya ingin tahu—apa yang terjadi padamu di waktu kecil. Maafkan aku."

Aku telah mencair—tidak membeku lagi dan diam—karena aku membalas tatapannya, dan membalas permintaan maafnya, "Masa kecilku buruk, bukan?" aku menyecap pahit, mendengar suaraku yang serak karena buncahan emosi yang menjepit pita suara. Tapi, apa daya? Jika aku ingin protes pada Tuhan—itu tidak akan mengubah apa-apa. Jika aku protes pada Bibi Marge, Bibi Petunia, pada semua orang—tidak satu bagian hidupku pun yang akan berbeda.

Draco menunduk sejenak, tapi memandangku lagi, "Ya, buruk," katanya, suaranya sangat rendah. "Tapi, aku kagum karenanya. Kau tidak memperlihatkan kelemahanmu—bahkan padaku, orang baru yang kemarin sore baru kau temui—sedikitpun. Kau tidak mengeluh, kau... menerima semuanya. Seolah itulah yang kau dapatkan dan kau tidak mencoba lari dari itu semua. Kau tetap di sini, menjadi dirimu. Kalau aku berada di posisimu, aku sudah pasti gila."

Aku mendengus. Aku tersentuh. Aku ingin menangis, tapi aku tidak mau—aku tidak ingin menangis di depan orang satu-satunya yang berempati pada hidupku yang pahit ini... aku... "Apa..." aku menelan ludahku yang menggumpal di kerongkongan. "Apa Snape juga memberitahumu tentang... Bibi Marge?"

"God, tentu saja," Draco menatapku heran, kaget, dan mata kelabunya seakan-akan sangat mengagumiku. "Setelah apa yang Marge sialan itu lakukan padamu, kau masih memanggilnya sesopan itu? Bloody fuck, Harry, apa tali kesabaranmu itu berujung sampai pintu Surga?"

Aku tertawa. Karena umpatan tak beradab itu, karena aku tidak tahu harus bagaimana lagi ketika hatiku terasa menggelembung oleh kehangatan yang aneh tapi menyenangkan, karena aku—karena aku— "B-bodoh," pandanganku makin terang, mengabur, mataku memanas, dan saat aku mengedip, aku merasa sensasi basah yang dingin di pipiku bergulir turun. "Bodoh. Bodoh. D-Draco, kau—"

Aku menangis.

Aku tidak mengusap airmataku agar enyah. Aku tidak bisa. Tubuhku mendadak sulit digerakkan, dan yang bisa kulakukan hanya memandang wajah Draco yang mendekat ke arahku, ekspresinya khawatir dan kaget— "Draco, kau—aku jadi—"

Ucapanku terhalang oleh bahunya yang bau air hujan, dan lenganku terlipat tak bergerak di antara tubuh kami. Aku tak berkutik dalam pelukannya, aku masih mematung, ketika kedua lengannya mengerat di sekeliling tubuhku—hangat, indah, tenteram—dan akhirnya, tubuhku bergetar.

"K-karena kau, D-Draco," perkataanku terputus-putus akibat tubuhku yang bergetar tak kontrol, dan lidahku nyaris tergigit oleh barisan gigi-gigiku yang bergemeretak bersamaan. "A-aku jadi nangis k-konyol gini, k-kau harusnya t-tidak perlu bi-bicara yang buk-bukan urusanmu, t-tahu—" seharusnya aku menyerukan bagian ini, tapi airmataku yang berjatuhan membasahi kemeja Draco yang masih melekat di tubuhnya, yang belum sepenuhnya kering, dan terus begitu. "D-dasar o-om-om tuk-tukang kepo..."

"Hush," Draco menepuk-nepuk punggungku. Aku merasakannya, membuatku ingin selamanya dipeluk oleh Draco—karena aku sudah tidak mengingat kapan terakhir kali punggungku dielus, atau seseorang dengan tulus memanjakanku daripada menyuruh-nyuruhku tanpa hati, atau seseorang yang mau membagi kehangatannya dengan memelukku... aku rindu rasanya. "Lebih baik kau tidur daripada mengoceh tak jelas," kata Draco, suaranya membuaiku, dan tanpa sadar aku menutup kelopak mataku, suara itu menenggelamkanku pada samudra hitam tiada ujung yang menenangkan.

"Santai, Harry," samar-samar aku mendengar suara Draco lagi. Makin jauh, makin sulit ditangkap oleh telingaku, tapi efeknya masih sama seperti sebelumnya—menenangkan. "Tidurlah, Harry. Aku yakin kau sudah berhari-hari tak tidur. Tenang, kau aman bersamaku. Percayalah padaku."

Dan untuk pertama kalinya setelah belasan tahun—aku kembali merasakan rasanya tidur tanpa kegelisahan, tanpa keresahan... dalam pelukan seseorang yang... yang...

o

o

o

Setelah berhasil membuka mataku lebar-lebar, aku mendudukkan diri di atas... kasur yang asing.

Aku mengucek mataku, lalu menoleh ke kanan-kiri. Ada meja kecil bertaplak bunga-bunga yang di atasnya figura-figura... ada lemari baju yang kelihatan tua, ada kelambu di sekitar kasur... ada...

Aku merasa sensasi dingin merayapi ujung kakinya, naik sampai ke perutnya, lalu membeku di kepalaku. Aku melotot.

Ini kan kamar Bibi Marge—!

Aku tersentak, mengabaikan rasa sakit di sekujur tubuhku entah karena apa—sepertinya karena posisi tidurku tidak benar—aku berlari keluar kamar, bingung kenapa tiba-tiba bisa berakhir tidur di kasur Bibi Marge yang bau balsem menyengat (apa Bibi Marge membalur balsemnya di atas kasur?). Aku melirik sekilas pada jam dinding yang menempel di atas pintu kamar Bibi Marge;

11.11 AM.

Aku kesiangan! Tapi tidak perlu panik, tidak ada sosok gempal Bibi Marge yang memarahiku habis-habisan kalau aku 'tidak disiplin waktu'... dia masih liburan, untungnya.

Biarpun aku lega, aku masih bertanya-tanya kenapa bisa berakhir tidur di kamar Bibi Marge...

Aku hendak menuruni tangga, masih diliputi kepanikan dan keherananku, sebelum memori tadi malam mematikan panik dan heranku dalam sekejap.

Draco datang. Kami berbincang. Aku berakhir di pelukannya. Aku menangis. Aku ketiduran.

Aku menutup mulut dengan telapak, sementara aku merasa mataku ingin terjun bebas dari tempatnya. Fucking hell, demi apa aku menangis di depan Draco? Demi apaaaa?

Aku segera pergi ke kamar mandi yang terletak di sebelah kamar Bibi Marge, lalu mengunci pintunya dari dalam.

Demi apa aku... menangis kemarin? For whatever's sake... kenapaaa?

Aku mengusap wajahku yang terasa panas di telapakku, dan melirik cermin yang berada di sampingku.

Aku mirip sekali dengan orang gila—seperti biasanya di pagi hari. Rambut semrawutan, muka belum dibasuh atau menyentuh sabun, baju kelonggaran... sepertinya aku cocok tes percobaan menjadi tarzan.

Tapi aku terlihat lebih segar dari dua hari sebelumnya.

Oh ya, aku 'kan tidur kemarin malam setelah sleepless untuk beberapa hari...

Aku membasuh muka dengan air dari wastafel Bibi Marge—aku melihat jejeran sabun bau bunga-bungaan, sampo beragam jenis binatang peliharaan, penghitam rambut dan lotion berbahan dasar rempah-rempah di rak di atas wastafel.

Setelah aku mencampakkan kemaluanku—maksudnya, rasa maluku, bukan alat kelamin oke—aku keluar dari kamar mandi, dan menuruni tangga.

Aku melihat Draco masih terlelap, tubuhnya terbaring di atas sofa panjang yang kemarin jadi saksi bisu tangisanku, dan telly masih menyala—menampakkan kilas berita rutin di pagi hari—dan samar-samar hidungku mencium aroma panekuk.

Aku tidak tega membangunkan Draco, dia terlihat pulas dan damai sekali, makanya aku langsung ke dapur. Tadinya aku mau buat sarapan—err, makan siang—ketika aku menemukan lima tumpuk panekuk yang kehitam-hitaman di piring dekat dishwasher.

Ini sampah atau bukan?

Aku mencium panekuk-panekuk itu satu-persatu—mereka masih segar dan memang hanya penampilannya saja yang jelek, karena aku telah menyicip segigit panekuk itu; rasanya enak (biarpun lumayan pahit, rasanya tidak terlalu buruk).

Aku memindahkan panekuk-panekuk itu ke atas meja makan yang bangkunya hanya dua (maklum, Bibi Marge itu menjanda dan menolak berkomitmen) dan berada di belakang sofa panjang yang ditiduri Draco, berniat menuang topping berupa madu, ketika sebuah suara memanggilku.

"Harry? Kaukah itu?"

Aku mendongak dari panekuk-panekuk yang jadi pusat konsentrasiku, dan menemukan wajah Draco yang menyandar pada kedua lengan terlipat di atas sofa, memandangiku dengan wajah yang seingatku tidak sepucat itu.

Sekelebat memori bahwa wajah itulah yang mendekat dan menatapku kuatir nyaris membuatku ingin membanting botol berisi madu dan marathon untuk menjauh—tapi, aku membuang jauh-jauh rasa ingin kabur itu. "Oh, Pagi, Draco," sapaku senormal mungkin.

"Hmm," kata Draco, sementara aku melanjutkan untuk menuang madu di atas panekuk-panekuk yang hangus. "Tidurmu pulas sekali. Baru bangun tengah hari begini."

Aku menangkap nada sarkasme dari ucapannya. Huh, aku merasa pipiku menghangat, aku juga baru pertama kali bangun sesiang ini tahu! "Memang kau bangun jam berapa?" aku bertanya dengan nada merendahkan.

"Aku bangun jam delapan," katanya, lalu mendengus padaku. "Kau pikir aku juga baru bangun? Aku membuatkanmu panekuk-panekuk itu—yah, biarpun hasilnya tidak sebagus yang ada di restoran, kupikir itu rasanya bakal tetap enak."

Aku merasa senyuman menyentuh bibirku sesaat. "Ha, kau tidak bisa memasak," balasku, lalu mendongak ke arahnya seusai aku meratakan madu. "Kenapa tidak membangunkanku?"

Draco menggeleng, "Aku tidak sekejam itu," Draco menguap, "Kau tidak tidur berhari-hari... apa kau merasa baikan?"

Aku menaruh kembali botol madu di atas konter, lalu mengambil pisau dan garpu, juga dua buah piring. Masing-masing untukku dan Draco. "Lumayan," jawabku, lalu menarik kursi untuk duduk. "Kau sarapan juga," aku menunjuk kursi kosong di depanku yang sudah lengkap dengan peralatan makan yang kutata, mataku memerintahnya halus untuk mengerjakan apa yang tadi kuucapkan.

"Aku sarapan sekitar dua jam yang lalu," kata Draco. "Panekuk-panekuk itu aku yang buat."

"Ooh," aku mengangguk-angguk, "Pantas hangus semua."

"Maaf kalau tidak enak dipandang, tapi, lidah lebih jujur."

Aku mendengus, seraya memisahkan bagian untukku dan Draco—peduli dukun kalau dia sudah makan, aku tidak mungkin makan panekuk setengah gosong begini! Bisa-bisa lidahku mati rasa. Disertai suara dari telly, tanpa percakapan apa pun dan Draco telah memunggungiku, aku mulai makan.

Aku mengernyit pada potongan panekuk yang keempat.

"Boleh aku menumpang mandi?"

Aku menelan panekuk yang pahit itu dengan cukup mudah. "Kenapa kau tidak pulang dan menikmati mandi susu super mahal milikmu sendiri?"

"Aku ingin di sini," balas Draco, masih menghadap pada layar telly,sementara aku berusaha membisukan bunyi batuk-batuk akibat tersedak mendengar ucapan Draco. "Sedikit koreksi juga; aku tidak pernah mandi susu."

"Kau bisa mandi di shower Bibi Marge, karena tidak ada kamar mandi lainnya untuk om-om sepertimu," balasku, setelah meminum air putih yang tergeletak di meja. "Uhm, ini gelasmu?"

Draco berbalik untuk melihat gelas yang kupegang, "Ya," konfirmasinya, lalu mengalihkan pandangannya padaku. "Harry, kalau aku masih seumuranmu, boleh aku menumpang mandi di shower-mu?"

Aku menelan potongan panekuk pertama yang terakhir. Sisa dua panekuk lagi, dan aku merasa seperti sedang makan arang—makin pahit, kau tahu, panekuk buatan Draco itu. "Aku hanya punya bak mandi," kataku.

"Tidak masalah," Draco beranjak berdiri sembari membuka kancing teratas bajunya.

Aku memutar bangku agar tidak berhadapan dengan Draco. Wajahku terbakar. Biarpun aku sudah memunggungi si om-om idiot itu, aku masih menutup mata. Entah, horor sekali kalau aku melihat om-om semacam Draco telanjang bulat... hiii. "Wanker! Ini rumahku, bukan tempat untuk striptease!"

Gelak tawa. "Aku hanya butuh sedikit udara."

"Udara apanya!" aku berseru, lalu mengibas-ngibas tanganku ke belakang—mengusir Draco yang memunggungiku. "Kau mandi saja di taman pakai selang air!"

"Kau kira aku mobil, disemprot-semprot dengan selang begitu?"

"Kalau begitu, terima nasibmu dan mandi di kamar mandi Bibi Marge!" aku membalas kesal. Emosiku campur aduk. Rasanya aku mau mati saja karena malu.

Setelah itu, aku tidak mendengar suaranya atau langkah apapun menapaki lantai rumah Bibi Marge yang terbuat dari pualam murahan ini.

Aku menghela nafas—aku memang kesal pada Draco, tapi aku tidak bermaksud menyemprotnya dengan sinis. Yah, nasi telah menjadi nasi goreng...

Aku menghabiskan waktu di kebun belakang. Bibi Marge tetap menyuruhku menyiram bunga-bunganya dengan rutin dan mencabuti rumput liar di sekeliling rumah—biarpun ini musim dingin. Aku mulai melakukan tugasku sebagai tukang kebun pribadi tanpa bayaran milik Bibi Marge—menyiram, memupuk (karena sudah lama tidak dipupuk lagi), menyabuti ilalang—hingga bunyi langkah dari belakangku terdengar, dan kemudian suara Draco yang lebih dingin menyapa sedetik setelah bunyi langkah itu bisu.

"Kau masih saja melakukan pekerjaan bawahan yang disuruh Marge sialan itu?"

Aku tidak berhenti menyapu dedaunan yang mengotori kebun ke arah saluran air. Aku hanya menoleh ke arah pria yang menyandar pada muka pintu itu—yang penampilannya tetap sama dengan kemeja dan celana kain itu, bedanya hanyalah rambutnya terlihat lebih pirang dan beberapa helainya terlihat layu karena basah—lalu kembali menggesekkan ijuk sapu di atas rumput Jepang yang memutih... tidak ada salju yang turun, tapi mungkin kemarin malam ada salju.

"Ini musim dingin, tumbuhan-tumbuhan sudah berhibernasi, untuk apa masih dirawat?" aku mendengar langkah Draco mendekat, tapi aku sedang dalam mood berupa malas mengemukakan pendapat. "Aku bicara dengan remaja rebel bernama Harry Potter 'kan?"

Aku tahu dia akan terus memaksaku untuk bicara, makanya aku buka mulut. "Kau bicara dengan agen 007," gumamku, seraya menggiring dedaunan itu ke tempat sampah, lalu jongkok lagi untuk mengumpulkan dedaunan kering lagi, tapi lebih pelan. Sebenarnya, aku agak heran kenapa di musim dingin masih saja ada daun yang tanggal... bukankah harusnya tumbuhan-tumbuhan ini sudah botak ketika musim gugur? Ah sudahlah, aku bukan pakar botani.

Tahu-tahu saja, Draco sudah berada di belakangku, berjongkok untuk melihat dedaunan garing yang kusingkirkan. "Kau tahu James Bond?"

"Kalau aku tidak tahu, aku tidak mungkin bicara, benar?" balasku sarkastis. Pertanyaan yang tidak berguna, aku—

"Aku hanya ingin berbincang denganmu," kata Draco pelan.

Aku merasa bersalah, keluhanku akan pertanyaannya yang tidak berguna lenyap tanpa sisa, dan lagi—aku menghela nafas panjang. "Sorry," aku tidak tahu kenapa aku jadi... "Anyway, tahu dari mana Bibi Marge memberiku perintah semacam merawat kebunnya?"

"Dari mesin pendingin. Notes-notes itu besar, warna kuning cerah, dan ditulis dengan acak-acakan—sulit untuk melewatkannya," gerutu Draco. "Bisa tidak berhenti memanggil janda lapuk tak manusiawi itu 'Bibi'? Dia tidak pantas mendapatkannya."

Aku mendengus menahan tawa, lalu mencuci tanganku di keran taman seusai membuang sampah dedaunan terakhir di kebun ke tempat sampah. "Aku terbiasa memanggilnya begitu. Kata orang; old habits die hard." mataku mengedar di seluruh area kebun, dan rasanya puas melihat kerja kerasmu membersihkan kebun itu sukses...

"Tapi, dia tidak berhak dipanggil dengan penuh respek," kata Draco, mendadak terdengar dan terlihat sepuluh tahun lebih muda.

"Jangan merajuk," candaku, tersenyum.

"Seharusnya kau pindah saja dari Neraka ini," Draco mengusul dengan mudahnya.

"Aku tidak merasa seakan hidup di Neraka," balasku, lalu meregangkan otot-ototku yang terasa lelah akibat terlalu lama berurusan dengan kebun.

Draco menatapku, masih dalam posisi berjongkok di dekatku.

Aku membuang nafas dengan perlahan setelah peregangan, lalu melirik Draco, "Kenapa menatapku begitu? Kepingin bantu bersih-bersih rumah?"

"Hmm, tidak," kata Draco, "Sebenarnya aku ingin bertanya; kenapa kau bersih-bersih sekarang? Bukankan Marge sial itu masih lama kembali? Kenapa tidak membersihkan rumah ini sehari sebelum Marge pulang?"

"Aku sedang ingin melihat ruangan bersih," jelasku, lalu berdiri, dan meninggalkan Draco berjongkok sendirian di tengah kebun.

"Pergi ke mana?" suara Draco yang bertanya terdengar samar di belakangku.

Aku membuka pintu depan, dan memakai sandal jepit bobrok yang nyawanya tinggal setengah, lalu menjawab, "Sarang kucing."

Aku keluar dari rumah. Luas rumah Bibi Marge sangat berbanding terbalik dengan kebun depan dan kebun belakangnya. Dibatasi pagar besi tinggi, kebun belakang dipenuhi tanaman-tanaman, sementara kebun depan...

"Meow."

...penuh oleh kucing.

Aku mengangkat tubuh mungil seekor kucing yang baru berumur beberapa minggu, bulu putihnya yang dihias totol-totol oranye dan abu-abu terlihat kotor. Aku lupa memandikan para kucing... harusnya aku memandikan mereka sejak lima hari yang lalu.

"Hey, James," sapaku pada anak kucing itu, seraya menggaruk lehernya. Aku merasakan bibirku tertarik ke atas samar-samar mendengar dengkuran kucing mungil itu.

"James?" suara penuh keterkagetan mengagetkanku, dan aku menoleh ke belakangku dengan cepat untuk menemukan wajah Draco sangat dekat denganku, matanya tajam meneliti sosok fluffy yang kugendong. "James? Nama kucingmu itu nama ayahmu?"

"James bukan kucingku," aku melindungi James dari tatapan membunuh Draco dengan telapak tanganku. Aku menjauh dari Draco untuk menghampiri pohon pinus yang di bawahnya penuh oleh makanan kucing, litterbox, catnip, dan peralatan kucing lainnya yang tercecer.

"Maksudmu, Marge menamai salah satu kucingnya dengan nama ayahmu?" suara itu tidak kaget lagi, melainkan keras karena beku.

Aku tidak menjawabnya sampai aku menurunkan James, dan merapikan bola-bola berupa gulungan benang wol. "Begitulah," aku mengelus James, dan dua kucing dewasa menghampiri kakiku, mengeong. "Halo, Lils, Potts."

Aku tidak mendengar protesan dari Draco. Aku mengira kebenciannya terhadap Bibi Marge pasti menjadi.

"Aku mual," kata Draco tiba-tiba, suaranya lebih dekat. Ketika aku menoleh ke samping, wajah berkompleksi pucat seperti mayat itu mengembuskan karbondioksida di keningku.

Pandangan kami bertemu, "Tidak perlu membenci Bibi Marge sampai mual, Draco," gumamku, masih menatapnya, sementara tanganku yang hendak menuang susu kucing di mangkuk mematung di udara.

"Kau bisa menerimanya, Harry, karena hatimu suci. Tapi, aku tidak."

Aku tersenyum sekilas karena dia bilang hatiku suci. Draco tidak tahu apa-apa—hatiku malah tempat terkotor di tubuhku. Aku benci Bibi Marge dalam hati, dan aku tidak mewujudkannya dalam perilakuku. Biar hanya aku sendiri yang menyimpan sisi ini.

"Kalau begitu, apa hatimu tidak suci?" aku membalas.

"Aku melewati hal-hal yang menyebalkan dengan menjadi orang yang menyebalkan," ucap Draco. Maniknya makin pucat akibat bayangan dari pohon yang meneduhi kami. "Dan kau melewati hal-hal yang menyebalkan dengan menjadi orang yang menerima."

Aku menuang susu di mangkuk untuk para kucing pada akhirnya. "Menurutku, seharusnya kau tidak menilai hati seseorang dari bagaimana mereka bersikap."

"Tidak ada bukti lain selain sikap."

"Bagaimana kalau orang yang kau nilai itu bisa menyamarkan sikap sesungguhnya?" tanya Harry, menyindir diri sendiri.

"Maksudmu, dia berbohong pada diri sendiri?" Draco memperjelas.

Ucapan pria pirang itu menohokku. "Yep."

Draco terdiam sebentar, "Kalau ada orang sejenis itu, aku menyukainya," kata Draco. "Dia tantangan. Aku bisa membuatnya berubah. Aku suka tantangan."

Aku mengalihkan pandanganku dari sepasang iris merkuri menuju kucing berbulu hitam—Nyx, namanya—yang menjilat-jilat cakarnya.

"Kau punya cara untuk menghancurkan sandiwara orang yang berbohong pada dirinya sendiri itu?" aku memaksa diriku untuk bertanya.

"Ya," kata Draco.

"Bagaimana?"

"Rahasia, sweetheart," Draco memasang senyum setengah seringainya, membuatku memutar mata.

"Panggilan itu membuat umurmu puluhan tahun lebih tua di pandanganku, kau tahu," gerutuku.

"Apa aku harus memanggilmu baby-honey-sugary-sweetie?"

Aku meraih sekop di dekat pohon, lalu mengacungkannya pada Draco. "Berhenti bicara yang tidak diperlukan," aku setengah mengancam.

Draco tertawa, dan aku membiarkannya duduk-duduk, berada di dekatku, ketika aku mengurus peliharaan Bibi Marge.

/

Dua jam kemudian, Draco sudah berdiri di ambang pintu dengan tas kerja dan pakaian selengkap ia datang kemarin malam, dan aku melipat kedua lenganku di dada.

"Terima kasih atas tempat istirahat, kamar mandi, dan segalanya untukku, Harry," kata Draco, tampak lebih tua dengan kemeja, rompi, dan dasinya. Aku heran kenapa pulang ke rumah sendiri saja harus serapih itu. "Omong-omong, kemarin malam aku tidak melihat kucing-kucingmu saat aku melewati pohon itu."

"Ya, terima kasih kembali," balasku, membatalkan keluarnya lanjutannya yang berupa, 'aku senang ada orang yang menemaniku'. "Kau tidak melihat mereka karena hujan, Draco, kucing-kucingku biasanya lari ke tempat teduh yang gelap kalau sedang hujan."

"Oh," Draco mengangguk, lalu hening sesaat sebelum dia bersuara lagi, "Apa kau keberatan jika besok-besok aku berkunjung lagi?" dia bertanya, matanya memandangku dalam-dalam.

Aku merasa hangat dan sesuatu yang asing tumbuh dengan cepat di hatiku, menjalar dengan rasa seakan puluhan sayap kupu-kupu menggelitik. Aku mengangguk, tak bisa menahan senyuman tipis di bibirku. "Terserah apa maumu."

Draco terdiam, masih memandangku, dan aku bersumpah bahwa dalam tiga detik, dia memandangku seakan-akan aku adalah... pacarnya yang baru ia temui setelah berpisah bertahun-tahun lamanya.

Tapi, aku lebih kaget lagi mendengar perkataannya setelah itu.

"Jangan menangis lagi, oke?" Draco bergumam, suaranya jauh lebih rendah dan hampir berbisik, tapi aku menemukan kelembutan yang sangat kentara di intonasinya. "Aku tidak ingin mengungkit hal ini lagi, dan aku memutuskan untuk diam dari pagi. Jadi, kupikir ini saat yang tepat untuk mengatakannya padamu."

Aku menatapnya, bisu, tak bisa menemukan sebuah frasa pun untuk menyela ucapannya.

"Aku tidak suka melihatmu menangis. Kau Harry Potter, dari awal aku melihatmu—well, di awal kau menamparku—aku tahu kau orang yang bermental baja. Melihatmu... rapuh, seperti bukan melihat Harry," Draco memandangku, dan matanya jatuh ke tangannya yang terangkat. Aku menatap jemari pucatnya, yang perlahan mendekat, dan berakhir menyentuh bawah mataku. Berikutnya, suaranya sudah berbisik, dan wajahnya beberapa inci lebih dekat. "Aku lebih menyukai senyumanmu dibanding air matamu."

Aku menatap matanya, dan ia menatapku balik. Ada sesuatu dalam pandangannya yang membuatku betah berlama-lama dalam keheningan mengaduk-aduk apa yang hadir di warna kelabu itu (biarpun aku tidak menemukan apa-apa selain refleksiku sendiri dalam bentuk mini).

"Aku akan menemuimu lagi. Aku tidak akan mengucapkan perpisahan," kata Draco, dan wajahnya berbalik, membuatku berhadapan dengan punggungnya yang menjauh, langkah demi langkahnya makin samar, dan Draco melewati pagar rendah tanpa membukanya—pantas saja kemarin malam pria itu sudah berada di depan pintuku... dia melompatinya.

Aku tidak tahu apa yang membuat mataku tak lepas memandangi tas di punggungnya. Dan detik berikutnya, yang kutahu adalah aku memanggil namanya.

"Draco!"

Bodoh.

Gitgitgit!

Kepala berambut pirang-platina itu menoleh ke arah sumber suara—ke arahku, ke mulutku yang mendadak eror.

Aku panik, mencari-cari alasan tepat untuk mem-back up panggilan layaknya imbisil tadi.

"Bibi Marge akan pulang dan kau tak mungkin bisa mengunjungiku lagi!" seruku, menghela hebat akan kecerdikanku yang jarang muncul.

"Kapan wanita itu pulang?" Draco bertanya, suaranya jauh.

"Sekitar dua sampai tiga pekan lagi!"

"Ya sudah, biarkan dia pulang, sebelum dia sampai di rumah juga pasti aku akan menyelamatkanmu dari kekejiannya itu."

Apa?

Sebelum aku sempat berlari menyusulnya dan menuntut apa maksud perkataannya, dia sudah berbalik lagi, dan dilihat dari tubuhnya yang sudah sangat kecil di mataku karena jarak di antara kami, aku tahu dia mempercepat dan memperlebar langkahnya.

Aku mematung di ambang pintu, memandang titik di mana Draco Malfoy terakhir terlihat di retinaku, lalu berbalik untuk menutup pintu.

Aku tidak tahu kenapa bibirku bergetar menahan senyuman yang hendak terekah.

.o.o.o.

.o.o.

.o.

TBC
"akhir dari pertengahan"


*telly – 'television' dalam bentuk british (slang).

*git – 'idiot' dalam bentuk british (slang).

hana's notes: maafkan hana—HANA GA EDIT CHAPTER INI T^T dikarenakan mata hana yang cape (nambah minus juga) dan hana berusaha buat fast update, hana ga proofread lagi. maaf buat seluruh typo yang ditemukan pembaca, silakan tulisdi review typo di paragraf mana aja supaya hana bisa betulin sebisanya...

makasih untuk kalian semua yang membaca, alert, dan favourite... dan terutama yang membuka diri dengan me-review :D

7. Days. Of. Summer – kak summieeeeee betapa senengnya hana liat kakak di kotak review hana, missyatoo qaqa ~^^~ hehe draco jadi om-om supaya ngasih nuansa baru di dunia drarry hehehee

madame bella lupin – makasih banyak review dab komentarnya! update-nya udah yaa :)

paradisea Rubra – salam kenal juga, Rubra-san : waaa makasih komentar dan review-nya! hana udah usaha nih supaya Rubra-san ga nunggu lama-lama, hehe

draydray – udah update yah :3 makasih banyak review-nya~

Phantomhive Black Lupin – muuuuuuuuut *w* fic sbrl-nya mati ilham nih di otak hana... maaf yah *ga bertanggung jawab* *sujud* waa makasih komentar ma review-nya ya Mut, udah update nih :3

Kishu Mars – iya shock banget, dia ampe nahan pipis loh pas eavesdropping (?) hehe makasih review dam komentarnya ya Mars-san! :D

fawl – makasih review dan komentarnya, ini update-nya yah :3

Irish Magenta – pandangan pertama, awal aku berjumpaaaa *malah nyanyi #dihajar* wew iya dums om-om kan juga manusia 8D ngomongnya ati2 tuh, draco kan orangnya posesif banget hehe makasih komentar dan review-nya!

ChaaChulie247 – harry ga lemes ko, ga lemes! *Harry yang aslinya lemes nodong hana supaya hana ngeboong* makasih ka review dan komentarnya! :)

YoungChanBiased – *draco ngasih rumah gratis ke Young-san abisnya ga ngatain draco tua* snape itu lebih tua dikit dari draco. minerva tetep guru, abisnya age-gap mereka kejauhan hehe. makasih juga komentar dan review-nya! :D

hy. jihoon – makasih komentar dan review-nya! seneng banget Jihoon-san terhibur ^^ udah update yaaa~

finished: 16th of December, 2012.
Peyukcium,

-Hana.