"Selesai. Lain kali hati-hati ya Uchiha-san. Semoga cepat sembuh!" Rentetan kalimat yang sedari tadi sudah kupersiapkan kini meluncur juga dari bibir ku. Sebisa mungkin menyembunyikan kegugupanku.

"Hn" balasnya singkat.

"Heheheh. Terima kasih ya. Bye~" Naruto-san yang sedari tadi hanya bermain dengan smartphonenya kini menampakkan senyuman lebarnya. Lalu dia bersama Uchiha-san meninggalkanku di ruangan ini.

"Haaaaaaah..." Ungkapku lemah ketika ruangan ini sepi kembali.


Aku Selalu Bersamamu by Nichi Aorena

Fanfic from Naruto by Masashi Kishimoto

Douzo ^^


Chapter 2

Ranjang tempat tadi Uchiha-san duduk... Begitu menggodaku. Senang sekali rasaya Uchiha dan aku bisa sedekat itu. Aku melangkah menuju ranjang itu.

"Meski begitu, Uchiha-san jangan sering-sering sakit ya.." Lirih sakura.

E-eh? Ada handphone disini. Milik siapa? Mungkinkah itu punya Uchiha-san..? Ingin kulihat isinya, namun untuk mengoprasikan handphone itu aku harus mengetahui passwordnya. Sudahlah. Milik siapapun itu, handphone ini harus kuamankan dahulu.

=ninaninaninanina=

Jumat pagi ini aku ke sekolah dengan membawa handphone itu. Handphone ini sungguh berisik, sepertinya pemiliknya sangat sibuk dan terkenal tentunya. Uchiha-san sekali.

Bel masuk telah berbunyi. Pelajaran pertama, ah ulangan fisika. Konsentrasiku terpecah karena tidak melihat kehadiran Uchiha-san di kelas ini. Kemana dia?

Ketika jam istirahat, aku menghampiri Naruto-san yang sedang duduk sendirian. Wah, Uchiha-san sepertinya benar-benar tidak masuk hari ini.

"Ano, sumimasen. Naruto-san, apakah benar ini handphone milik Uchiha-san?" Tanyaku sopan.

"Yo! What?! Kenapa bisa ada ada padamu Sakura-chan? Iya ini milik Sasuke."

"Maaf, sepertinya handphone ini tertinggal di UKS kemarin."

"Oh, pantas WhatsApp-ku tidak dibalas."

"Uchiha-san kenapa tidak masuk sekolah? Apa dia sakit?"

"Entahlah, tak ada kabar."

"Ano, besok kan libur. Aku tak mungkin membiarkan handphone ini bersamaku weekend ini, sepertinya Uchiha-san memerlukan handphone ini. Bisakah Naruto-san mengembalikannya ke Sasuke?"

"Oh iya, maaf Sakura-san karena Sasuke tidak hadir, mungkin aku akan menggantikan posisinya. Hari ini ada agenda di OSIS. Kau saja yang kerumahnya... Hehe."

=ninaninaninanina=

Pulang sekolah aku bergegas pergi ke kediaman Uchiha-san, ah mimpi apa aku sekarang. Punya kesempatan untuk ke rumahnya! Senang, khawatir juga sih, dan gugup.

Diperjalanan, aku menyempatkan diri untuk membeli buah-buahan segar. Ah, buah apel terlihat enak. Semoga Uchiha-san mau memakannya.

Zraaach.. Hujan. Wah, drama sekali ini. Haruskah aku basah kuyup dan kerumahnya lalu memperlihatnya betapa besar pengorbananku padanya? Hush. Bicara apa kau Sakura.

30 menit berlalu hujan mulai reda, masih ada rintik-rintik hujan yang turun. Namun aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Aku menaiki bis dan duduk dengan perasaan gelisah. Sedikit lagi sampai.

=ninaninaninanina=

Aku telah sampai di gerbang rumahnya. Rumah minimalis, berdesign rumah jepang. Ini memang bukan kediaman keluarga Uchiha-san, dia memutuskan untuk tinggal sendiri bersama salah satu pelayannya di rumah ini karena jaraknya lebih terjangkau untuk bisa pergi ke sekolah. Aku baru tau itu dari Naruto-san.

.Tok.

"Ada apa Nona?"

"Ano, sumimasen. Aku Haruno Sakura. Apakah benar ini kediaman Uchiha Sasuke?"

"Iya, benar. Nona ingin bertemu dengannya? Ada perlu apa?"

"Aku hanya ingin mengembalikan handphonenya."

"Oh baiklah, tunggu sebentar Nona. Silahkan masuk."

WAH! Uchiha-san? Bertemu dengannya?! Tunggu. Tunggu. Aku belum siap.

"Etto, tunggu Bi!"

"Ada apa Nona"

"Bi-biar kutitipkan handphone ini pada Bibi saja ya tolong berikan ini pada Uchiha-san, terima kasih"

"Maaf. Tidak bisa begitu Nona. Itu tidak sopan, tunggulah sebentar."

Oh Tuhan...

=ninaninaninanina=

"Sasuke-sama menyuruh saya untuk mengantar Nona masuk ke kamarnya. Ayo ikuti saya."

"..." Hah? Kau yakin?

.Tap. Rumah ini terawat, meskipun terlihat sudah tua sepertinya Bibi ini rajin sekali.

"Ini kamarnya. Masuk saja. Saya permisi dulu Nona."

"Terima kasih banyak Bi." Kami pun saling membungkukkan badan.

Saat-saat menegangkan, kurapihkan dahulu rambutku, pakaianku, ah handphonenya. Selesai. Go!

.Tok.

"Masuk."

Kubuka pintunya. Hhhh, kutahan napasku sejenak. Uchiha-san kini sedang berkutik dangan laptopnya dan beberapa tumpukkan buku berada di atas spring bed bersamanya. Rajin sekali.

"Ano, sumimasen. Uchiha-san, handphonemu tertinggal.."

"Hn."

Dengan gugup aku memberikannya pada Uchiha-san, tanganku gemetaran. Ah, santai Sakura. Please enjoy.

"Duduklah." Kata Uchiha-san disertai gestur wajahnya yang menunjukkan pinggir kasurnya. What..

"Baik, terima kasih." Ah bodoh, kenapa kau turuti. Memangnya kau yakin bisa bertahan lama disini. Emang kau mau apa lagi Sakura? Innerku terus ngomel. Huh.

"Ano, Uchiha-san ini untukmu.." Kataku takut-takut sambil menyerahkan bungkusan berisi buah yang telah kubeli tadi.

"Hn?" Kulihat Uchiha-san mengangkat sebelah alisnya.. OhMyGod. Keren sekali! *meleleh*

"A-aku pikir Uchiha-san hari ini sakit.. Uchiha-san sudah sehat?"

"Aku tidak sakit, hanya bangun kesiangan."

"Hah? Oahahah." Refleks aku tertawa. Aduh. Apakah ini sopan. Tapi alasannya lucu, diluar dugaan sekali.

"E-eh, maaf Uchiha-san.." Sesalku formal.

"Uchiha-san, hari ini ada ulangan fisika, ada pr bahasa inggris soalnya sudah dikirim senpai ke e-mailmu, lalu ada tugas Seni Budaya kelompok." Infoku sekilas agar memecegah terjadinya keheningan. Ayolah, kesempatan baik.

"Hn. Kau sudah dapat kelompok?" Balasnya dengan tetap memusatkan perhatiannya pada laptopnya itu.

"E-etto, belum... Uchiha-san mau sekelompok denganku?" WHAT, bicara apa aku barusan? Frontal sekali. Aaaah, habis sudah..

"Hn, baiklah." Ucapnya datar.

"Oke... Tugasnya membuat seni rupa macanegara. Mau kaligrafi Cina? Atau motif Batik Indonesia saja ya?" Kataku sok tegar menghadapi kegugupan ini.

"Hn, terserah."

.

.

.

Diluar masih hujan rintik-rintik, tapi aku tidak bisa lama-lama disini.. Sudah cukup hari ini, aku sangat bersyukur. Uchiha-san bisa sedikit lebih bersahabat rupanya.

Namun niatku terhenti ketika Uchiha-san menutup laptopnya. Dia lalu membuka bungkusan buah tadi.

"Masih hujan, makanlah." Uchiha-san menggelindingkan apelnya di kasur ini ke arahku.

"Nani? Ti-tidak, terima kasih Uchiha-san. Kau saja yang makan." Aku pun menggelindingkan kembali apel tersebut kearahnya.

"Masih ada apel lain." Dia menggelindingkan kembali apelnya ke arahku lagi.

"Uchiha-san kan sedang sakit, makan buah yang banyak ya.. Hehe." Aku lagi-lagi menggelindingkan apelnya.

"Aku tidak sakit."

"Etto, tapi Uchiha-san bangunnya kesiangan pasti lelah. Kau saja yang makan."

"Apelnya diberi racun heh?" Dapet ide dari mana dia kata-kata seperti itu. Menyinggung sekali.

"Okeoke aku makan, tapi uchiha-san juga." Apel yang beputar ke arahku itu aku tangkap.

Setelah mencuci apel di wastafel kamar Uchiha-san. Aku memberikan salah satu apelnya pada Uchiha-san. Dan kami makan apel bersama.

Uchiha-san menyalakan televisinya dan kami makan apel sambil menonton acara tv bersama. "Kami?" Kata itu menggema dihatiku.

.

.

.

"Uchiha-san, aku permisi dulu ya. Terima kasih banyak." Aku pun membungkukkan badan.

Tiba-tiba... "Biar kuantar."

"Ti-tidak, terima kasih Uchiha-san.." Kataku sungkan dan kaget tepatnya.

Uchiha-saan masuk kedalam garasinya dan keluar membawa sebuah sepeda.

"Daritadi mukamu merah, jangan memaksakkan diri. Ayo naik." Merah? Perhatian heh? Lihatlah mukanya saja tetap datar begitu, kutahan hatiku ini agar tidak terbang pergi jauh-jauh.

"Ba-baik.." Sepedanya memiliki bangku penumpang, ini bukanlah sepeda yang dipakai sasuke tiap harinya.

Aku duduk dibelakangnya, ingin rasanya memegang erat pinggangnya, tapi itu tak mungkin. Aku cukup tau diri. Aku hanya bisa menggenggam erat penyangga besi di bawah bangkuku.

Aku menunjukkan arah dimana tempat tinggalku pada Uchiha-san. Ah, terasa sekali jarak kami begitu dekat saat ini.

Akhirnya, membutuhkan waktu 20 menit untuk sampai. Kulihat beberapa bulir peluh membasahi pelipisnya, ditambah lagi dengan latar belakang langit senja. Keren sekali, tampan, ah.. Cepat sekali berlalu.

"Terima kasih banyak Uchiha-san, mau mampir ke apartementku?"

"Hn. Sampai jumpa."

Kata-katanya selalu singkat, tapi hari ini... Huah, semoga kedepannya bisa lebih baik lagi. Aku. Harus. Optimis.

=ninaninaninanina=

"Hei Sakura, baru pulang? Darimana saja?"

"Hehe, iya."

"Ih kau ini.."

Aku pun menaruh tasku dan bersiap-siap mandi. Entah mengapa, senyuman terus terpantri di wajahku.

"Sakura, kau aneh sekali daritadi senyum-senyum terus!"

"Hehe, maaf Ino" bibir ini sudah kuajak untuk biasa saja, tapi dia selalu reflek menarik diri keatas membentuk lengkungan yang manis :)


Aku Selalu Bersamamu

-» To Be Continue «-


[Author Note]

Halo! Nina kembali lagi..maaf telaaat m(_ _)m

Ano, fanfic ini.. Apa feelnya berasa? Kalo nggak, bilang ya. Maaf sebelumnya ^^

Lalu.. Bagaimana chapter depan? Entahlah plot mengalir begitu saja, mungkin fic ini memerlukan chapter yang banyak. Maaf kalau perchapternya isinya sedikit. Oh iya, makasih banyak bagi yang sudah membaca dan mereview ceritaku. ^ ^

Nina tau masih banyak kekurangan dalam fic ini. Terima kasih sudah mau membaca sampai chapter ini, baca juga chapter-chapter berikutnya ya! Oh iya, mohon reviewnya ya.. Kritik, saran komentar atau apalah, Nina masih butuh bimbingan kayaknya kyahahah liat aja fic ini masih berantakan (/)v

.

.

.

Thanks for reading! Review please :3