Me
Desclaimer : Masashi Kishimoto
Rated : T
Pairing : sakura - campur(lho?) blum ada kepastian..
Warning : Sakura pov, Gaje, ooc, abal, typo, dkk
...
Sakura POV
Akhirnya aku bisa pulang ke tempat yang sangat indah bagiku. Setelah menutup pintu aku langsung merebahkan tubuhku ke kasur. Ahh~ aku sangat capek sekali, benar saja dugaanku aku mensangsikan bahwa tugas kami akan berjalan dengan lancar. Buktinya kami tidak berdiskusi sama sekali, kami seperti mengerjakan tugas secara individu. Yah tak ada yang ingin memulai percakapan, aku sudah mencoba memancing untuk mengobrol dengannya karena merasa tidak enak dengan kejadian tadi.
Ah,, kalau begitu kenapa harus kerja kelompok. Kenapa tidak sendiri-sendiri saja. Hem~ Gaara, Gaara ckckck dan untungnya sebelum pulang ke kostan aku berhasil menyeret Gaara untuk makan dulu. Kalau tidak bahaya, kasihan cacing-cacingku akan berdemo menuntut makan.
Tapi aku heran sama Gaara, biasanyakan kebannyakan cowok kalau makan bareng cewek pasti akan membayar makanan tersebut. Tapi tadi, boro-boro mau bayarin malah aku yang membayar semuanya, karena merasa tak enak telah membuatnya repot dengan menjemputku untuk mengingatkan tentang janji untuk kerja kelompok. Untung dia hanya memesan segelas kopi yang harganya tak lebih dari harga makananku, kalau mahalkan aku yang rugi.
Sudah malam, aku ngantuk sekali. Yah aku masih bisa bersyukur karena Gaara masih mau direpotkanku untuk kedua kalinya. Dia masih mau mengantarkanku pulang. Bukannya aku tak berani pulang sendiri. Tapi mengingat hari yang sudah malam dan memang lebih naguskan kalau pulang tidak sendirian. Ah ngantuk, tapi belum mandi. Yah sudahlah lagipula tak akan ada yang tahu.
End of Sakura POV
...
Disebuah ruangan perpustakaan seorang laki-laki sedang bersiul rendah sambil membawa beberapa tumpukkan buku untuk disimpan kembali ketempat semula. Saat sedang asik denga kegiatannya itu, dia menemukan sebuah benda yang berkilau diantara tumpukkan buku.
"Cincin?" gumamnya. "Hmm, perak" sambungnya. "S" lanjutnya kemudia saat melihat satu ukiran huruf di dalam cincin.
"Yah, kusimpan sajalah, kalau ada yang mencarinya baru ku berikan."
"Cincin yang unik" tambahnya memperhatikan cincin sebelum memasukkannnya kedalam tas sambil menyeringai memperlihatkan sisi gigi taringnya.
...
Sakura POV
Masih sama seperti hari-hari kemarin, bangun pagi dan menjalankan segala aktivitas dan tak lupa menyiapkan waktu untuk mengenang masa lalu.
...
Aku tak peduli dengan mahluk-makluk dikelas yang sering tidak menghiraukanku. Aku tidak juga tidak peduli dengan tanggapan mereka tentangku, karena aku memiliki sahabat yang takkan tergantikan dengan apapun. Tapi aku sekarang risih saat mereka memperhatikanku sambil berbisik-bisik didepanku. Aku merasa ada yang janggal saja, tapi.. Ah~ hanya perasaanku saja. Semoga.
...
Aku berbohong! aku penasaran dengan apa yang mereka bicarakan selama ini. Sudah seminggu mereka terus menatapku dengan pandangan. Arkh! Aku tak bisa membayangkannya. Aku benci! Aku benci! Aku benci!
...
Akhirnya aku juga mengetahui apa yang selama ini mereka bicarakan. Rahasia pertama yang aku ceritakan pada seseorang yang ku percayai melebihi apapun terbongkar sudah. Sekelas, tidak seluruh kota mungkn juga sudah mengetahui. 'Bahwa Sakura Haruno yang tidak penting mencintai Sasuke Uchiha yang nyaris sempuna. Berteman dengan sepupunya Shion merupakan salah satu cara liciknya untuk mendapatkan perhatian Sasuke.' Aku tak tahu harus bagaimana. Aku takut masuk sekolah..
...
Aku dimarahi ibu, karena sudah beberapa hari tidak sekolah. Shion dan Sasuke menjemputku karena khawatir dengan keadaanku. Aku menjauh dari mereka, aku malu, takut, dan kesal bercampur jadi satu kalau berada didekat mereka.
...
Hari ini aku memberanikan diri untuk bertanya kepada Shion. Shion bilang kalau ia tak sengaja. Hari itu dia sedang ngobrol dengan Sasuke dan ia bilang kalau aku menyukai Sasuke, tetapi pembicaraan itu terdengar dari tukang gosip disekolah sehingga tersebarlah cerita itu. Dia berjanji lain kali akan berhatihati. Aku kurang percaya pada apa yang dikatakan oleh Shion. Yah~ tapi aku akan mencoba untuk memberinya kesempatan untuknya.
...
Kekesalanku lenyap sudah saat Sasuke bilang tidak keberata kalau yang menyukainya orang yang lucu seperti aku. Ah~ aku melayang.
...
Aku senang hari ini aku mendapat sebuah benda yang berharga dari orang yang berharga. Sebuah cincin dengan ukiran 'S' didalamnya. Cincinnya sangat lucu kata Sasuke itu terbuat dari perak. Sasuke meminta ayahnya membelikan tiga buah cincin dengan pola dan ukiran yang sama. 'S' untuk Sakura, 'S' untuk Sasuke dan 'S' untuk Shion. Cincin ini untuk mengikat tali persahabatan kami. Perbedaan cincin kami hanyalah pada sebuah batu kecil yang menghiasi cincin tersebut, Hijau, Biru dan Kuning mungkin aku tidak bisa memakainya sekarang dikarenakan ukurannya terlalu besar untukku. Mungkin bisa kupakai jika aku sudah besar nanti.
...
"Saat pembagian cincin in.." kata-kataku terhenti. Saat aku merasakan jari-jariku lebih ringan dari sebelumnya. "Di-dimana cincinku?" aku hampir saja menangis. Aku mencari keseluruh sudut ruangan kostanku. Akkh~ aku hampir mau menangis. Tenang Sakura, tenang kira-kira kemarin aku kemana saja. 'Perpustakaan' satu kata itu membangkitkan keoptimisanku.
Aku buru-buru berkemas berangkat kekampus padahal hari ini aku tak ada jadwal untuk kuliah. "Mudah-mudahan saja ada disana." Harapku.
...
Aku terlebih dahulu mencari kekelas tempat aku kuliah kemarin, menelusuri jalan-jalan yang kulalui bertanya pada office boy yang bertugas membersihkan kelas seusai dipakai. Tapi tetap nihil mereka tidak pernah melihatnya.
Aduh Perpustakaan masih tutup, mungkin aku masih kepagian datang. Ahh~ walau cincin itu mempunyai banyak kenangan yang tak dapat dibeli.
Aku mondar-mandir di depan perpustakaan. Duduk-bangkit-berdiri-duduk lagi tak sabar ingin mencarinya diperpus dan mungkin menjadi perhatian beberapa orang yang melihatku melakukan hal tersebut hampir satu jam. Sudahlah, aku tak peduli pada mereka. Yang terpenting saat ini aku menemukan cincinku titik.
Aku langsung menerobos masuk saat perpustakaan di buka, meneliti setiap sudut dan inci tempat ini tapi tidak juga menemukannya, bertanya kepada petugas-petugasnya. Baik petugas penjaga buku, petugas loker sampai petugas kebersihan diperpus. Aku bahkan memohon kepada mereka untuk mengumumkannya pada pengunjung perpustakaan dengan speaker.
Ah~ sudah siang, aku bahkan melupakan makan siangku. Aku sudah mau menyerah dan ingin rasanya menangis. Aku berpapasan dengan Kiba-senpai sedang membaca sambil mendengarkan musik dengan headphone yang menutup telinganya. Aku hanya tersenyum sekilas padanya dan dibalas dengan hal yang serupa. Saat aku baru melewati Kiba-senpai pengumuman yang ku pinta di umumkan. Mereka berjanji jika mendapat informasi akan langsung memberitahukanku. Mungkin mereka kasihan melihatku yang begitu gigihnya mencari benda sekecil itu di tempat yang sangat luas dari pagi hari sampai sekarang.
Aku sudah keluar dari perpustakaan, aku berlari ingin mencapai kostan secepatnya, tapi gagal air mataku telah menetes terlebih dahulu tanpa dikomando. Aku berhenti di tangga dekat taman, mengeluarkan semua emosi. Menangis tanpa suara. Untunglah hari libur jadi kampus agak sepi, bisa malu aku jika ketahuan menangis.
"Hn, Sakura?"
Nah, itulah kenapa aku benci jika terlanjur menangis ditempat umum.
~TBC~
Udah update,,,
Tinggalkan jejak dengan meriview ya.. ^^
