"Hn, Sakura kau kenapa?" tanyanya lagi. Aku tak berani menoleh untuk mengetahui siapa yang telah begitu perhatian menanyakan keadaanku.

"Tak apa." Jawabku singkat dan langsung berbalik untuk meninggalkan sumber suara tersebut tanpa niat melihat siapa yang berbicara padaku.

"Kau mencari ini." Katanya membuatku terdiam di tempat.

"Cincin" lanjutnya membuatku langsung berbalik mengahadap siapa yang berbicara padaku.

"Gaara?" kataku.

"Hn, ternyata kau memang mencari cincin." Katanya sambil menaikan alisnya yang tidak nampak.

"Dimana cincinku!" teriakku mendekatinya dengan wajah merah. Malu bercampur kesal jadi satu.

"Tidak ada." Jawabnya santai yang membuatku cengo ditempat.

"Hah?"

"Ya, aku hanya memastikan."

"..."

"Seorang Sakura, yang terkenal dingin, cuek dan tenang bisa menangis di kampus karena sebuah cincin ."

"Kau mengikutiku."

"Tidak, aku hanya mendengar pengumuman di perpustakaan dan saat aku berjalan aku melihat seseorang menangis."

"Terus, apa maumu."

"Tidak ada, aku hanya sedang menebak bagaimana jika anak-anak dikelas mengetahui sosokmu yang begitu rapuh menagis hanya karena kehilangan cincin."

"Kau.." kataku menahan kesal, dia hanya menaikan alis.

"Menyebalkaaaannnn!" teriakku berlari meninggalkannya.

"Apa salahku." Katanya pelan sambil mengangkat bahu lalu ikut beranjak dengan santai.


Me

Desclaimer : Masashi Kishimoto

Rated : T

Genre : Frienship, Romance


Disebuah rumah dengan pintu yang terbuka cukup lebar,terdengar suara-suara yang cukup dikatakan berisik untuk mengganggu tetangga. Saat di masuki tempat tersebut lumayan besar memiliki dapur, beberapa kamar dan ruang tengah yang sedang menjadi sumber kerusuhan tersebut.

Lima orang laki-laki sedang berbincang di ruang tersebut, tepatnya tiga orang dua orang lainnya sedang asik memainkan sebuah games di playstation.

"Ah, kalah lagi!" kesal seorang pemuda berambut pirang model durian.

"Kau tak akan bisa mengalahkanku Naruto." kekeh orang tersebut.

"Iya, jangan banyak omong kau Kiba. Sasuke gantikan aku! Kalahkan Akamaru ini."

"Hei, Akamaru itu anjingku bodoh." Teriak Kiba tidak terima.

"Hn, tidak." sahut Sasuke cepat.

"Huh." Naruto memanyunkan bibirnya kesal. Lalu dia berpaling ke seorang lainnya dengan senyum sumringah "Ne.." belum sempat dia menyelesaikan panggilannya sudah dipotong oleh orang yang bersangkutan "Tidak!"

"Kalian berdua memang menyebalkan." Sebal Naruto, lalu di berpaling ke seorang lain, kedua alisnya berkedut pertanda heran. "Gaara! Kau kenapa sennyum-senyum sendiri seperti orang gila. Mengerikan tahu!" sewot Naruto—nampaknya dia masih kesal dengan kedua temaya tadi. Kiba yang melihat kelakuannya hanya terkekeh kecil.

Gaara hanya menyeringai mendengar olokan Naruto. Naruto yang melihat Gaara menyeringai hanya bergidik ngeri "Hai Gaa, aku masih normal tahu!" teriak Naruto yang dibalas dengan lemparan bantal sofa yang sukses mendarat diwajahnya. "Sakit!".

"Kau banyak ngomong ya dari tadi." Kata Kiba akhirnya.

Naruto masih cemberut, tidak mempedulikan Kiba yang mengejeknya lalu dia menambahkan "Apa jangan-jangan kau sedang jatuh cinta ya?" tebak Naruto, yang dijawab dengan senyuman oleh Gaara—saat ini Gaara sedang murah senyum, membuat yang lain menoleh ke arah mereka ingin tahu—tapi tetap dengan gaya khas masing-masing.

"Cantikkah? Pintar? Seksi? Sekolah dimana?" buru Naruto.

Gaara tetap tidak menjawab. "Jangan-jangan orangnya ada di kampus kita ya?" tebak Kiba.

Gaara menghentikan senyumnya "Tapi dia menyukai orang lain." jawabnya muram-sinis memandang Kiba.

"Haa? Jadi dia satu kampus dengan kita." Teriak Kiba tertarik, Neji ikut-ikutan mendekat.

"Iya, Senpai." Gaara seolah tidak peduli.

"Hei, jangan panggil aku senpai! inikan bukan dikampus, lagian umur kita sama. Hanya gara-gara aku pernah loncat kelas kalian memanggilku senpai. Kita sudah lama berteman. Aku tidak mau berasa sudah tua tahu." Protes Kiba. "Jadi siapa dia? Apa aku mengenalnya." antusias Kiba.

"Mungkin, dan dia kelihatanya menyukaimu senpai." Jawab Gaara datar.

"A-apa?" Kiba tidak percaya.

"Jadi intinya, cintamu bertepuk sebelah tangan ya?" Kata Neji yang akhirnya angkat bicara. Gaara menjawabnya dengan mengangkat bahu.

"Ahh~ Sabar ya Gaara-chan, hibur Naruto." Gaara mendelik, mendengar sebuah ucapan yang tak pantas tadi dilontarkan sahabat kuningnya ini. "Tidak ku sangka ada cewek yang suka dengan mahluk ini." Katanya sambil melihat Kiba yang cengengesan dari tadi. Ucapannya dibalas dengan juluran lidah oleh yang bersangkutan."Mungkin cewek itu agak terganggu otaknya." Sambung Naruto.

"Mungkin." Tambah Gaara.

"Tck,," Sasuke yang dari tadi mencuri dengar cerita teman-temannya terkekeh pelan.

"Tuh, Master of playboy akhirnya ngomong." Ejek Naruto. Dibalas dengan seringaian kecil, dan Naruto sekali lagi dibuat merinding.

"Sudah, sudah karena aku lagi senang. Naruto ambil kaset semua kaset PS yang baru kubeli tadi di tasku, aku akan mengalahkanmu sampai besok pagi, hahaha.."

"Huh, apa hubungannya." Kata Naruto mencibir, namun toh dia tetap pergi mengambil tas Kiba ke tempat mereka berkumpul.

Dia mengobrak-abrik tas Kiba dengan membalikkan tas itu dan setelah semua isi tas itu keluar, dia mengumpulkan satu persatu kaset yang dibeli kiba tadi siang. Tapi sesuatu yang bentuknya sangat berbeda dari kaset merebut perhatiannya. "Kiba, nih apa?, tsk jangan-jangan kau sudah punya pacar ya. Huh sial sekali cewek yang jadi pacar mu itu." Ejek Naruto sambil mengangkat sebuah cincin. "Huh, seleramu payah. Cincin ini kuno banget. Hanya ada ukiran S dan batu ijo yang kuno. Kau ini pa-" belum sempat Naruto menyelesaikan kalimatnya terpotong dengan gerakan Sasuke yang langsung menyambar cincin tersebut.

"I-Ini." Sasuke tergagap. " Ehem, Hn. Dari mana kau mendapatkannya Kiba?"

"Oh, kau tahu. Kemarin aku menemukannya di perpustakaan kampusku. Memangnya kenapa.? Punyamu Sasuke?".

"Hn, memang milikku." Ujar Sasuke dingin. Gaara yang mendengarnya menaikkan alis—yang tidak kelihatan—nya itu. " Ada yang pernah meminjamnya, sudah lama dia meminjamnya tidak pernah dikembalikan. Sekarang sudah ada ditanganku lagi." Lanjutnya dengan senyum yang terlihat puas.

"Yah, baguslah kalau begitu kau tidak perlu repot-repot mencari pemiliknya." Jawab Gaara

...

"Bukannya itu milik Sakura? Kenapa Sasuke mengakui itu miliknya? Tadi kalau tidak salah cincin yang diumumkan terukir huruf 'S' didalamnya, dan bermata hijau. Dan ah, kalau tidak salah dulu saat masuk kamar Sasuke aku pernah melihat dua cincin yang sama. Apa hubungannya dengan Sakura?" Gaara berfikir didalam hati, tetap duduk disofah sambil memperhatikan Sasuke yang sedang tersenyum mengerikan menatap cincin itu.

...

"Haha, ternyata kau selalu berada tidak jauh dariku. Apakah kau mengikutiku lagi? Masih mencintaiku heh? Sekarang ini sudah ada ditanganku. Bagaimana kau mengatasinya? Hahahaha kau akan menerima semuanya dendamku dan dendam Shion. Aku tidak sabar dendam kami akan terbalaskan. See you next time, dear. Pangeranmu akan menyambutmu. Bersiaplah." Ujar Saskue tersenyum sadis. Sambil menatap tajam cincin itu. Lalu dengan santainya memasukkan cincin itu kekantang celananya seolah tidak terjadi apa-apa dia duduk disofa kembali memperhatikan Kiba dan Naruto yang bertengkar tak jelas di depannya.

...

"Ah, Gaara Sialan. Dia hanya memperburuk suasana hatiku." Umpat Sakura dalam hati. Lalu masuk kekamar dan mengunci pintu.

"Haah~ bagaimana ini" desahnya. "Aku tidak bisa melupakan begitu saja cincin itu. Apalagi dengan adanya tiga buku itu didekatku. Aku jadi tahu semua cerita itu.

"Ya, ya aku harus membakarnya." Pikir sakura. "Dengan membakar ini aku tidak aka merasa kehilangan lagi. Lalu Sakura bergegas mengambil korek api dan bukunya lalu di beranjak kehalaman depan kostan. Sepi. Anak-anak yang lain belum ada yang datang rupanya, baguslah ujarnya dalam hati.

Lalu dia mulai membakar ketiga buku tersebut. Tanpa menyadari Ino yang ternyata telah berada disebelahnya.

"Sakura, kau sedang Apa?" tanya Ino curiga, kelihatanya dia baru datang dari minimarket—terlihat plastik belanjaan yang dibawanya.

"Ah, hah~ Ino kau mengagetkan aku saja." Kaget Sakura.

"Kau sedang apa?"

"Membakar."

"Orang mabuk juga tau kau sedang membakar. Tapi yang kau bakar itu apa jidat!" kesal Ino.

"Diary lamaku saat masih sekolah. Hanya kepahitan masa lalu." ujar sakura murung.

"Oh, ya sudah, aku masuk dulu." Kata Ino beranjak pergi kekamarnya.

"Iya."

Tidak lama kemudian Ino kembali—masih membawa plastik belanjaanya. "Hei, jidat. Apa katamu kau membakar diary mu?" teriak Ino.

"Iya." jawab Sakura santai. "Heeh!." Lalu secepat kilat dia mematikan api yang sudah membakar hampir seluruh bukunya.

"Ino, bagaimana ini?" tanyaSakura panik sambil mengguncang bahu Ino dengan wajah frustasi.

"Hah, kau ini memang mengerikan ya. Kenapa kau bisa membakarnya coba? Bukankah kau bilang itu berharga bagimu?" Ino menatap prihatin sobatnya itu. "Kau memang mengerikan, yah memang kebiasaanmu tidak berfikir panjang jika sedang frustasi. Sabar ya nak!" sambung Ino sambil menepuk bahu Sakura yang sedang meringkuk ditanah meratapi tumpukan abu bukunya.

"Haha, aku jadi inget Saku. Waktu kau frustasi gara-gara si ibu kost, kok kamu ga bakar dia? Kan kamu identik dengan bakar membakar, hahaha." Kelakar Ino. Niatnya sih melucu agar Sakura tidak terlalu memikirkan bukunya namun omongan dampak Ino ternyata berbanding terbalik dengan harapannya. Sakura mengambil buku yang tersisa—dari aktivitas bakar-menmbakarnya dan beranjak masuk ke kamar dengan aura yang gelap.

Ino yang masih merasa bersalah merasa tidak enak dengan tingkah Sakura "Sudahlah Saku, bukannya kau sudah mengcopynya di blog pribadi mu? Jadi tidak masalahkan?"

Sakura berhenti berjalan dan berbalik menatap Ino. "Benar juga, kau memang cerdas Ino." Puji Sakura dengan senyum sumringah di wajahnya. "Ta-tapi," Sambungnya kembali dengan wajah yang tidak lagi bersemangat.

Ino menaikkan alisnya heran. "Blog itu kubuka terakhir kali saat aku kelas 2 SMA sudah lama tidak kubuka dan aku lupa paswordnya."

Ino menarik napasnya. "Hah~ semoga beruntung Sakura." Lalu pergi mendahului Sakura yang masih merana sendiri menatap kepergian Ino.

ToBeContinue

Chapter four is End,

akan ada perubahan cerita,, mohon maaf.. tapi intinya tetap sama kok,, 'kepahitan masa lalu'.. demi kelangsungan hidup cerita ini,,bentar lagi akan tamat,, ^^

Thank you so much untuk yang sudah review chap kemarin,, makasih, makasih :D

yah..

Wanna review for the better next chapter.. ^^

.

.

Violet7orange