"Hujan mengguyur Desa Konoha, petir saling menyambar seolah sedang berlomba mengejar sesuatu yang bisa mereka kenai. Aku duduk di kursi paling belakang mobil keluarga Hyuga yang pagi ini berangkat dari Tokyo, kota yang sudah kutinggali hampir 15 tahun lamanya. Konoha memang desa kelahiran Ibu dan Ayah, begitupula anak-anak mereka. 15 Tahun yang lalu saat umurku masih 1 tahun, orangtuaku mengajak seluruh anggota keluarganya pindah ke Tokyo. Aku tidak terlalu suka hujan, apalagi hujan hari ini…. Membuatku semakin tak menyukainya. Entah sudah berapa lama lamunanku terus menerawang gelapnya deras hujan yang membuat mataku tak bisa menembus apa yang ada dibalik rintiknya. Entah sudah berapa lama aku tidak mengingatnya, namun sepanjang hari ini air mata terus menurus menetes bagai hujan, tak biasanya aku seperti ini, rasanya seperti sangat rapuh dan lemah.
Aku terlahir di keluarga yang sangat harmonis, aku suka sekali menjadi bagian dari hidup kedua orangtua dan dua kakak yang kurasa mereka sangat menyayangiku. Tidak ada aturan yang mengikat dikeluarga ini, namun kebebasan ini tetap dijaga dengan tanggung jawab tinggi, kami semua bertanggung jawab atas diri kami masing-masing. Ibu bukan wanita galak dan sangat menyenangkan. Ayah bukan laki-laki cerewet namun tegas dalam menyikapi beberapa hal yang dianggapnya serius, sikapnya membuat kami segan pada sosoknya.
Hati ini rasanya sangat tak karuan, sama halnya dengan kepala dan pikiran. Ya, ini adalah hari terburuk dalam hidupku… buruk sekali…
Hubunganku dengan keluarga sangatlah dekat, terlebih dengan Ayah dan kakak perempuanku Hinata. Beliau selalu memberikan support penuh jika aku mulai menginginkan sesuatu yang berhubungan dengan seni. Aku begitu suka melukis, apalagi melukis sosok seseorang, ibu tak suka itu. Sebenarnya ibu lebih suka agar aku menjadi seorang Dokter saja, namun sayang minatku rasanya kurang banyak untuk menjadi seorang dokter. Selepas lulus SMA nanti aku sangat yakin 100 % untuk mengikuti ujian seleksi sebuah universitas kesenian ternama di Tokyo Ibu sudah tidak bisa berkata banyak jika Ayah saja sudah mendukungku untuk melakukannya.
Dua kakakku adalah dua anak manusia paling menyenangkan yang ada diseluruh dunia, rasanya mungkin tak akan sama jika aku dilahirkan tidak menjadi adik bungsu mereka. Kakak lelakiku bernama Neji, dan yang perempuan bernama Hinata. Kak Neji baru saja lulus kuliah, karena kecerdasannya, sebelum lulus kuliah beberapa perusahaan sudah mengincarnya. Kak Neji adalah seorang tampan yang amat penyayang, sayang sampai detik ini belum juga dia kenalkan pasangannya kepada kami semua. Aku dan Kak Hinata seringkali mencibirnya karena seumur hidupnya dia belum pernah berpacaran bahkan tertarik pada lawan jenis. Kak Hinata adalah seorang mahasiswi Kedokteran semester 6 yang juga cantik dan pintar, menurut pendapatku Kak Hinata adalah versi muda dari Ibu. Kak Hinata sangat menyayangiku, banyak hal yang kubagi dengannya, soal pelajaran-pelajaran sekolah, soal cowok-cowok yang mendekatiku, bahkan soal perseteruanku dengan Ibu… Kak Hinata selalu ada di barisan terdepan dalam hal membelaku. Sayang dia begitu tertutup masalah percintaan, sama seperti Kak Neji, Kak Hinata belum pernah mengajak satupun pria kedalam rumah. Ada hal yang selalu kukhawatirkan soal Kak Hinata, fisiknya terlalu lemah untuk melakukan hal yang berhubungan dengan kegiatan fisik, dia selalu megeluh kelelahan. Hampir setiap malam kulihat dia mengaduh menjerit sendirian di kamarnya mengeluhkan sakit kepala yang dia derita belakangan ini, hanya aku yang mendengar tangisannya setiap malam… kamar kami berdekatan, namun tak cukup berani bagiku bertanya soal rasa sakitnya karena Kak Hinata tak suka dikasihani. Ayah pernah memaksanya memeriksakan kesehatan, namun Kak Hinata selalu menolak dan menganggap dirinya baik-baik saja. Aku yakin hari ini seluruh anggota keluarga di rumahku menyesali kenapa saat itu tak memaksa saja Kak Hinata untuk memeriksakan kesehatannya meski dia menolak.
Hari ini adalah hari takkan pernah bisa kulupakan, hari dimana tak hentinya kulayangkan semua kenangan indah tentang keluarga bahagiaku…
Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam saat kendaraan yang kutumpangi kembali memasuki wilayah kota Kota Tokyo. Sepi sekali suasana di dalamnya, biasanya riuh canda tawa selalu ada disetiap perjalanan jauh yang kujalani, aku suka sekali bercanda dan membuat kegaduhan, tapi hari ini… malam ini… aku lebih suka berdiam diri tak menggubris semua pertanyaan maupun sapaan yang mendarat ditelingaku. Hati ini seperti berhenti berdegup saat mobil memasuki gerbang komplek rumah kami, semua yang ada di mobil ini sepertinya mengalami perasaan yang sama sepertiku. Rasanya kenangan yang ada di kepala kami semakin berputar-putar tak karuan. Air mata kembali terurai menyebar di pipi, kulihat Ibu yang duduk disebelahku pun tengah mengisak pelan, ingin rasanya kumemelukmu bu… tapi maaf akupun tak mampu mengatasi kesedihan ini, biarkan kita sama-sama saling mengobati luka ini ya bu…
Kak Neji turun membukakan pintu depan rumah, tak pernah kulihat wajahnya sesedih ini, Kak Neji yang kukenal adalah Kak Neji yang sangat senang mengumbar senyum diwajahnya yang tampan, namun kali ini lain.
Ayah masuk paling pertama ke dalam rumah, menyusul Ibu, Kak Neji, kemudian aku, hening… tak ada jawaban. Aku berjalan cepat setengah berlari menuju kulkas yang ada di dapur, haus sekali setelah seharian menangis tanpa minum dan makan. Nafsu makanku masih belum kembali, namun akhirnya setelah seharian mengunci mulut dari apapun aku merasa haus juga. Kuambil botol air yang ada di kulkas, kutuangkan kedalam gelas, kuminum dengan cepat… tanganku masih meraba-raba tombol untuk menyalakan lampu dapur saat kudengarkan teriakan Ibu menggema dari tengah ruang tamu. Aku berlari tangkas menuju ibu dan yang lainnya berada, kulihat mata ibu membelalak kaget menunjuk tangannya pada vas bunga berisi kumpulan karangan bunga yang tadi pagi masih berserakkan diseluruh penjuru rumah saat kami bertolak menuju Desa Konoha. "Siapa yang membereskan ini semuaaaa?!", ibu kembali berteriak dengan suara lantang. Benar saja, kulihat kesekelilingku semuanya tertata dengan amat rapi, tak pernah rumah kami serapi ini. Ayah yang daritadi terlihat bingungpun ikut terlihat heran dengan pemandangan yang kini menjadi tontonan aku, Kak Neji, dan beberapa kerabat kami yang baru saja datang terlambat sampai ke rumah.
Aku kebingungan dengan semua ini, rasa-rasanya hari ini tak ada siapapun yang tinggal di rumah… kami semua berangkat ke Desa Konoha mengantar jasad Kak Hinata ke tempat peristirahatan terakhirnya…"
