Aku masih terpaku melihat kedua orangtuaku kebingungan menggeledah seisi rumah yang mendadak terlihat sangat rapi tak seperti biasanya. Kami curiga jangan-jangan ada pencuri yang menyusup ke dalam rumah yang seharian ini kosong kami tinggalkan, tapi pikirku.. mana mungkin pencuri seniat ini membereskan seisi rumah tanpa terkecuali? Sebagai anak laki-laki paling besar dikeluarga ini, harusnya aku bisa memecahkan teka-teki siapa orang yang ada dibalik kebingungan kami semua hari ini.

Hinata adik perempuan pertamaku pergi untuk selamanya hari ini, keluargaku tengah terluka dan berduka. Aku harus bersikap tegar, meski tak jarang kupalingkan wajah untuk mengusap setitik air mata yang jatuh dipipi. Aku tak mau membuat Hanabi, Ibu, dan Ayah lebih terluka jika melihat aku juga terluka atas perginya Hinata…

Kurangkul tubuh ibu yang lelah mencari tahu siapa orang yang menyusup masuk ke dalam rumah yang seharian ini kami tinggalkan saat mengantar jenazah Hinata ke Desa Konoha sebagai tempat peristirahatan terakhirnya. "Bu, sudah yah… siapapun orang itu, sepertinya dia baik karena mau membereskan seisi rumah tanpa mengambil satu barangpun dari rumah ini.." ayah mengangguk tanda setuju sambil perlahan menggantikkanku merangkul Ibu yang tampak lelah dengan tatapan mata-lavendernya- kosong.

Sebelum hari ini datang, rumah ini selalu penuh dengan warna, semua orang yang tinggal di rumah ini memiliki karakter manusia yang berbeda-beda. Ibu seorang seniman, ayah seorang dokter, aku seorang akuntan, Hinata seorang mahasiswi yang memilih untuk bergelut dibidang kedokteran, dan si kecil Hanabi masih bersekolah dan berencana untuk melebarkan sayapnya menjadi seorang pelukis. Dengan perbedaan hobi, sifat kamipun berbeda. Ibu sangat kreatif, ayah sangat pintar dan logis, aku lebih memilih menjadi seorang pria ramah dan penyayang, Hinata sangat baik hati, Hanabi yang terkecil juga memiliki karakter yang cukup unik, dia kreatif namun logis, perpaduan antara Ibu dan Ayah. Kami tertaut dalam satu ikatan darah, aku bahagia menjadi bagian dari keanekaragaman ini.

Hinata hanya terpaut 1 tahun denganku, hubungannya denganku sangatlah dekat… jika ada sebutan untuk sebuah hubungan lebih daripada saudara kandung namun bukan kekasih maka itulah kami. Hinata yang cantik dan pemalu selalu membuat hari-hariku berwarna, pernah satu kali saat kami masih kecil, gerombolan anak-anak laki-laki di komplek hampir mengeroyokku dengan alasan kurang jelas, mereka bilang aku angkuh dan sombong. Aku yang hanya sendirian merasa sangat ketakutan berhadapan dengan mereka, tiba-tiba Hinata yang jauh lebih mungil dari kami semua muncul dengan tatapan galak hingga membuat mereka kabur. Hinata begitu santun terhadapku, orangtua kami, bahkan pada Hanabi adik bungsu kami. Hinata adalah seorang perempuan yang sangat ahli dalam memasak. Masakan Hinata cukup populer ditengah keluarga besarku, dia tak keberatan jika saudara jauh keluargaku memesan ini itu darinya untuk dimasak, Hinata adalah kesayangan semua orang.

Hinata sering mengeluhkan sakit kepalanya, kami tidak pernah tahu seserius apa sakit kepalanya. Hinata selalu saja tersenyum meski kesakitan, hal itu yang membuat kami yakin bahwa dia baik-baik saja. Hinata tak pernah meminta memeriksakan penyakitnya, meski Ayah kami memaksanya. Ayah seorang dokter, dia tahu ada sesuatu tak beres menyangkut kesehatan Hinata, namun Hinata tak pernah mau ditangani Ayah, selalu saja dia berkata "Aku baik-baik saja kok yah!"

Malam tadi dia tertidur sepulang kuliah di kamar Ibu, lagi-lagi dia keluhkan sakit kepalanya. Tak ada pertanda apapun bahwa dirinya akan pergi dari kami semua, Hinata pergi meninggalkan kami dalam keadaan tertidur, di tempat tidur Ibu. Tak ada hujan, kepergian Hinata bagai halilintar yang menyambar tepat ke hati kami semua, termasuk hatiku yang begitu menyayanginya. Tak pernah keluarga kami merasakan kepedihan sedalam ini. Semua datang secara tiba-tiba, keluargaku yang terbiasa dibuai oleh kebahagiaan dalam sekejap berubah menjadi keluarga murung yang dirundung duka mendalam.

Hanabi menjerit dengan hebatnya berteriak memanggil Ayah yang masih merangkul Ibu, suaranya terdengar dari arah dapur yang bersebelahan dengan ruang makan. "Ayaaaaah Ibuuuuuu Kak Nejiiii lihat ini!", Hanabi kembali berteriak namun kini dengan getaran seolah dia hendak menangis. Matanya membelalak hebat, mukanya pucat pasi, tangannya menunjuk ke arah meja. Mataku mengarah pada benda dalam piring besar yang tersaji diatas meja makan, arah yang ditunjuk oleh telunjuk Hanabi yang kini menangis memeluk ayah. Diatas meja makan kulihat sepiring masakan yang terlihat tak asing bagi keluargaku, sepiring oseng-oseng daging sapi saus tiram, makanan kesukaan Hanabi yang hanya bisa dibuat oleh Hinata. Hinata yang menciptakan masakan ini, oleh karena itu aku yakin hanya Hinata yang bisa membuatnya. Tangisan Ibu yang mungkin baru menyadari pemandangan haru yang sedang kami lihat. Ibu, Hanabi, Ayah dan aku sama-sama mencicipi oseng-oseng itu, rasanya sangat mirip masakan Hinata. Kami berempat berpelukan, aku tak tahan menahan air mata yang seharian ini sudah berhasil kutahan. Hanabi berteriak memanggil nama Hinata, "Kak Hinataaaa terimakasih…terimakasih..". Aku tak kuasa lagi menahan rasa sedih, kudekap kepala Hanabi berharap dia berhenti berteriak karena hanya akan membuat hati semua orang semakin terluka atas kepergian Hinata.

Hinata meski kau pergi pun kau masih saja baik hati mempedulikan kami semua… terimakasih untuk masakanmu yang kuyakin kau buat sendiri untuk Hanabi.

Ibu seperti terperanjat kaget sambil mendadak berlarian ke lantai atas rumah, dia masuk ke dalam kamarnya dengan sangat cepat dan lagi-lagi kudengar teriakannya, kali ini dia berteriak memanggil kami semua. Kamar ibu yang terakhir kali kami lihat begitu berantakan kini terlihat sangat rapi. Kasur tempat pembaringannya untuk yang terakhir kali kini sudah tak kusut lagi. Baju yang berserakan kini sudah berada di tempatnya masing-masing, kami yakin hanya Hinata yang tahu letak dimana barang-barang bergeletakkan itu seharusnya berada. Saat semuanya masih terpaku penuh haru, aku mengomando semuanya untuk masuk ke dalam kamar Hinata, sekedar ingin tahu apa yang terjadi di dalam kamarnya jika memang dia yang melakukan semua ini. Semua sudah masuk ke dalam kamar Hinata, suara tangis kembali memecah rasa kaget kami….

Tempat tidur Hinata yang terakhir kali terlihat berantakan dengan sprey berwarna Hijau Tosca kini berganti menjadi sprey berwarna putih dengan corak bunga rose berwarna putih. Hinata pernah berkata didepan kami semua, "Jika kalian ingin tahu suasana hati aku, lihat saja sprey kamarku! Kalau berwarna hijau, berarti aku sedang pusing entah pusing kuliah atau apapun itu. Kalau warnanya putih, berarti aku lagi senang dan bahagia!". Kembali kudengar Ibu menangis menyebut nama Hinata. Air mata semakin membanjiri wajahku, kamar ini begitu identik dengan wangi parfum Hinata, baunya seperti bau adikku.

Kami berpelukan, aku tahu kaupun ikut berpelukan bersama kami disini… Hinata, kau adik yang sangat baik, aku yakin Kami-sama akan memperlakukanmu dengan baik juga disana….