My Wedding
Disclaimer:
Naruto : Kishimoto Masashi
Complex : Kyuubiiechan
Rated: T
Setting: AU
Pairing : SasuHina
Warning: Sangat-sangat OOC (mungkin), mungkin juga masih ada TYPO atau MISSTYPO yang berkeliaran (setan kali berkeliaran. Hkhkhk o )
Sebelumnya, saya minta maaf kepada para reader semua, karena saya terlambat mengpublis ne FF,, n saya berterimakasih kalo kalian semua menanti-nantikan ne FF,, saya jadi terharu.. wkwkwk ToT.
Saya juga berterimakasih kepada semuanya yang sudi mengreview fanfic saya,, saya berterimakasih sekali kalo kalian baca ma ngerevie.. o.
Saya juga berterimakasih kepada sahabat seperjuangan saya yang sudah setia menemani saya selama 3 tahun ne mpe sekarang, (... #nama dirahasiakan). Yang sudah membantu saya memberi ide-ide and membantu saya dalam mencari informasi tentang ciri-ciri para tokoh. Sekali lagi TERIMAKASIH. #Bungkuk 180 derajat (lebay mode on). o
Silahkan dibaca, bagi yang berkenan. Tidak ada unsur pemaksaan disini. And jangan lupa REVIEW! _.
=Happy Reading! ^o^=
My Wedding
~Chap 3~
'Apa yang dilakukannya dirumah ku.?' sontak Hinata melihat seorang pemuda sedang melihatnya dengan tatapan tajam.
"Ah kau sudah pulang Hinata-chan,? Cepat segera masuk kedalam mobil. Jangan kau hirau kan ayah. Ayah tidak apa-apa." Hiashi menuntun Hinata masuk kedalam mobil milik Sasuke. Di dalam mobil Hinata meronta-ronta meminta turun, tapi mereka yang berada diluar tak mengacuhkannya.
"Maaf otou-san, kami pergi dulu." Hinata yang mendengar perkataan pemuda yang sedang menunduk hormat kepada ayahnya terkejut
'Otou-san.? Apa yang ia fikirkan saat ini.?'
"Lepaskan aku brengseng. hentikan mobilnya!" Hinata meronta-ronta ingin keluar dari mobil, tapi Sasuke mengacuhkannya.
Disetiap perjalanan Hinata terus meronta-ronta meminta diturunkan. Sasuke yang terus mengacuhkan keinginan perempuan disebelahnya hanya menghela nafas, perlahan dengan cepat ia membanting stir mobilnya kepinggir, untuk menghentikan mobilnya. Dengan cemas Hinata mencoba memberanikan dirinya untuk melihat pria disebelahnya,
'Apa-apaan dia.? Mau menurunkan ku ditempat sepi seperti ini.?' gerutu Hinata dalam hati.
Sasuke mendekati Hinata, membuat Hinata terkejut dan sedikt takut dengan perlakuan Sasuke.
Sasuke mengambil sabuk pengaman dan memasangkannya ke Hinata. Hinata yang sejak tadi hanya diam diperlakukan seperti itu, tidak dapat berkutik dan berkata apa-apa lagi. Mata lavendernya terus menatap kearah gerak-gerik Sasuke agar ia dapat berjaga-jaga kalau-kalau terkadi sesuatu hal dibatas pengetahuannya.
"Jika kau ingin selamat, pansang sabuk pengamanmu." ujar sasuke dengan nada yang sangat dingin, Tanpa melihat atau menoleh kehadapan Hinata, Sasuke membanting stirnya lagi kejalan besar untuk mengendarai mobil kembali. Hinata hanya terdiam tak dapat berkata apa-apa lagi, saat melihat Sasuke bersikap seperti orang yang akan menerkamnya jika ia bersikap diluar batas.
.
.
Sasuke menghentikan mobil marsedesnya dihalaman rumah bergaya tradisional. Sasuke turun dari mobilnya, tanpa berbicara apa-apa dan memerintah Hinata untuk turun ia hanya bersikap dingin dan mendekati seseorang pria tua yang sudah menanti kedatangan mereka.
Hinata perlahan keluar dari mobil Sasuke. Sasuke yang tidak melihat Hinata hanya memerintahkan pria tua itu untuk menurunkan barang-barang mereka dan memberikan kunci mobil kepada pria itu, agar mobilnya dimasukkan kedalam gerasi.
Sasuke melihat Hinata yang sudah berada dibelakangnya. Sontak Hinata yang menyadari bahwa mereka berdua sedang memandanginya, kemudian Hinata mencoba untuk tersenyum, walau senyuman itu sedikit terpaksa. Saat itu sasuke hanya dapat menghela nafas membuat Hinata semakin jengkel dengan perlakuan Sasuke kepadanya. Hinata menundukkan kepalanya memberi hormat kepada pria tua yang sejak tadi sudah tersenyum melihatnya.
Sasuke kemudian berjalan memasuki rumah, Hinata mengikutinya dari belakang dengan langkah sedikit mengendap-endap.
Sampai akhirnya Sasuke menghentikan langkahnya dihalaman belakang dan mengambil ponselnya yang sejak tadi disetiap perjalanan terus berbunyi.
"Ya Sakura-chan. Maaf tadi aku didalam mobil saat ini aku sedang berada dikediaman keluargaku..
Ya.. 2 hari lagi aku akan pulang dan pergi ketempatmu."
Sasuke melihat kearah Hinata yang sejak tadi mendengar pembicaraannya dengan Sakura, dengan sigap Sasuke menutup flat ponselnya.
Sasuke terdiam, kemudian menarik nafas panjang setelah itu berkata,
"Ayahku sudah menantimu disana. Aku ingin beristirahat sebantar kedalam kamarku." Sasuke kemudian bergerak pergi meninggalkan Hinata sendirian. Hinata yang sejak tadi terus terdiam mendengar ucapan Sasuke tidak dapat berkata apa-apa lagi, karena ia masih memikirkan kejadian tadi didalam mobil saat Sasuke menatapnya tajam dan memasangkan sabuk pengaman kepadanya.
Hinata perlahan melihat punggung Sasuke dari belakang, penuh beban itu lah yang difikirkan Hinata, sedikit merasa iba dan ingin sekali mencoba mengurangi rasa beban yang ada pada tubuhnya.
"Hinata-chan apa itu kau.?" Hinata melihat seseorang sudah memanggilnya. Pria tua yang sebaya dengan ayahnya saat ini sudah berada, tepat dihadapannya. Hinata menyalami pria tua itu. Ia melihat dengan tatapan heran, kemudian teringat dengan wajah Sasuke sekilas mirip dengan Sasuke mungkin paman yang berada didekatnya adalah ayah dari pemuda yang membawanya kemari.
Pria tua itu mendekatinya, kemudian memeluk Hinata. Sontak Hinata terkejut diperlakukan seperti itu oleh pria yang belum ia kenalai.
"Kau sudah besar sekarang Hinata-chan…" pria itu melepaskan pelukannya dari Hinata, kemudian tersenyum kembali ketika melihat wajah Hinata yang sudah merona akibat prilakunya yang tiba-tiba memeluk Hinata.
"Mana Sasuke.?" tanyan Fugaku kemudian kepada Hinata.
"Di-dia sedang beristirahat sebentar pa-paman." Hinata menjawab pertanyaan Fugaku dengan terbata-bata. Fugaku tersenyum dengan perkataan Hinata yang agak sedikit canggung.
Fegaku mengelus kepala Hinata dengan lembut, sambil berkata kepada Hinata,
"Kau sama seperti ibumu yang selalu menunduk dan berbicara terbata-bata." Fugaku tersenyum kembali, dilihatnya Hinata dekat-dekat, kemudian meraih tangan Hinata agar Hinata mengikutinya.
Uchiha Fugaku adalah ayah dari pemuda yang membawanya kemari.
Hinata mengikuti Fugaku dari belakang. Sesakali Fugaku melihat kearah Hinata dan tersenyum. Hinata yang diperlakukan seperti itu sontak membuat wajahnya yang putih berubah menjadi merah.
.
.
Hinata dan Fugaku saat ini sudah berada diruangan yang sederhana dan bergaya sama seperti ruamahnya. Hinata melihat sebuah foto, matanya melotot hingga byakugannya hampir keluar,
'Kenapa fotonya bisa ada disini?' ujar Hinata bertanya dalam hati. Kemudian pandangannya beralih kepadangan Fugaku yang sejak tadi memperhatikannya. Fugaku tersenyum, ia tau pasti Hinata ingin bertanya mengapa ia memajang foto Hinata diruangan khusus miliknya ini.
Foto tersebut berisikan wajah Hinata sendiri, beserta 2 bocah anak laki-laki. Hinata teringat dengan kenangan itu, pantas saja, saat melihat Sasuke sepertinya ia mengenalinya tapi entah dimana. Ternyata Sasuke adalah sahabatnya dari kecil dan anak kecil yang lebih tua dari mereka adalah kakak Sasuke Itachi-nii, sedang mengendong Hinata. Hinata teringat lagi saat itu ia sedang terjatuh, tapi kapan gambar ini diambil.
Fugaku terus melihat Hinata dengan tersenyum sejak tadi bingung dengan apa yang dilihat diruangannya.
"Apa kau ingat kenangan mu saat berada disini dahulu?" sontak membuat Hinata terkejut tiba-tiba paman itu mengagetkannya dan bertanya kepadanya.
Hinata mengangguk lalu berkata,
"Sedikit. Itu sudah sejak lama sekali. Paman pria yang selalu meropotkan keluarga kami itukan?" tiba-tiba Hinata berbicara seenaknya tampa memikirkannya terlebih dahulu. Fugaku hanya tertawa mendengar perkataan Hinata dan melihat tingkahnya yang sudah ling-lung menyadari kesalahan yang diperbuatinya.
"Apa aku merepotkan sekali?" tanya Fugaku sambil tersenyum kepada Hinata. Hinata malu sekali dengan perkatannya kemudian menunduk kepalanya dengan wajah malu tidak berani mengangkatnya kewajah pria yang sedang menantikan jawabannya.
"Apa kau ingin minum Hinata-chan?" tanya Fugaku kemudian yang sejak tadi tanpa Hinata sadari sudah duduk di kursi yang terletak di pojok sana.
Hinata mendekati Fugaku, duduk disebelahnya menuruti keinginan Fugaku.
.
.
Sasuke mengelilingi setiap halaman mencari Hinata tapi tak kunjung ia dapatkan sosok Hinata. Sesaat ia berfikir apakah Hinata saat ini sudah berada didekat ayahnya. Sasuke melangkahkan kakinya dengan cepat menuju keruangan yang terpisah dengan rumah mereka. Tempat biasa ayahnya bersantai menghilangkan semua kepenakannya.
Sasuke berhenti setelah mendengar bahwa saat ini ayahnya sedang tertawa terbahak-bahak dengan di ikuti suara tawa seorang wanita. Sasuke mengintip dari pintu kaca ruangan tersebut. Dilihatnya ayahnya sedang tertawa santai mendengar cerita Hinata yang sedang menghiburnya. Sasuke sesaat tersenyum lalu perlahan membuka pintu ruangan tersebut.
"Owh kau Sasuke. Duduk sini." perintah Fugaku kemudian. Sasuke mendekati mereka dan duduk disebelah Hinata. Hinata dengan gugup salting tidak dapat berkata apa-apa setelah dilihatnya Sasuke duduk disebelahnya.
"Jadi bagaimana. Apa kalian sudah membicarakan rencana pernikahan kalian?" sontak pertanyaan yang keluar dari mulut Fugaku membuat Hinata terkejut, kemudian memandang kearah pemuda yang baru saja duduk disampingnya. Pemuda itu hanya terdiam dengan tenangnya Sasuke menjawab,
"Kami baru saja ingin membicarakannya dengan Otou-san." Sasuke menjawab pertanyaan ayahnya dengan tenang.
Apa-apaan ini. Hinata perlahan menendang kaki Sasuke dari bawah meja, meminta pemuda itu melihatnya, Sasuke yang menyadari tingkah wanita disebalahnya melihat dengan menatapnya tajam seolah berkata
'ikuti saja perkataanku.'.
Hinata terdiam diperlakukan seenakya oleh Sasuke seperti itu.
"Hahahaahahahaha baguslah kalu begitu. Kalau menurutku sebaiknya secepatnya. Minggu depan harus dilaksanakan, tapi terserah dengan kalian apakah minggu depan atau minggu lusa tapi yang aku inginkan dalam bulan ini kalian sudah menikah." Fugaku menjawab pertanyaan Sasuke sambil tertawa dan sesekali melihat Hinata yang sejak tadi terkejut-kejut mendengar pembicaraan mereka dan merona merah.
Fugaku meraih tangan Hinata, Hinata melihat Fugaku sedang menatapnya dengan lembut membuat Hinata menyerah tidak dapat berkata apa-apa lagi. Sasuke melihat ayahnya takjut, kenapa dengan wanita ini ia dapat bersikap lembut, tapi dengan Sakura kebalikkannya, ia selalu acuh tak acuh jika ia membawa Sakura kekediamannya memperkenalkan Sakura kepada ayahnya.
.
.
Sasuke mendekati ruangan dimana ayahnya berada dengan wanita yang dibawanya kemari sejak tadi. Sasuke mendengar sesekali ayahnya terbatuh-batuk sambil tertawa mendengar cerita Hinata.
"Paman apa kau tidak apa-apa?" sontak Sasuke terkejut mendengar pertanyaan Hinata yang tiba-tiba nadanya sedikit cemas, Sasuke berlari kearah ruangan tersebut dan mendorong pintu geser, dilihatnya Fugaku memegang dadanya sambil tertawa kepada Hinata dan berakata
"Aku tidak apa-apa.." Sasuke dengan sigap mendekati ayahnya,
"Apa kau tidak apa-apa Otou-san.? Apa kau sudah minum obat.?" tanya Sasuke cemas melihat kondisi ayahnya yang tiba-tiba bibirnya berubah menjadi sedikit pucat.
Fugaku tersenyum melihat Sasuke, dilihatnya lagi Hinata sedang mencemaskannya membuat ia semakin menyukai Hinata, sangat menginginkan gadis ini menjadi menantunya. Fugaku memandangi Sasuke yang sedang menunggu jawabannya segera dijawab olehnya,
"Aku tidak apa-apa. Aku hanya ingin duduk bercerita dengan calon menantuku. Jangan cemaskan aku." jawab Fugaku dengan santai, membuat Sasuke sedikit kesal dengan tingkah ayahnya lalu berkata,
"Ayah. Kau bilang ingin segera sembuh dari penyakitmu? Kenapa kau selalu membuat penyakitmu semakin parah? Segeralah minum obat kemudian beristirahat" bentak Sasuke kepada ayahnya, kemudian pergi meninggalkan mereka. Fugaku menggelengkan kepalanya sambil terkejut melihat ekspresi Sasuke, baru kali ini Sasuke bersikap seperti itu kepadanya, ia sedikit kesal dengan tingkah anaknya tapi Hinata tiba-tiba mendekatinya lalu bertanya,
"Apa paman sakit? Kenapa tidak memberitahukannya kepadaku terlebih dahulu?" Fugaku akhirnya menyerah saat melihat mata Hinata sedikit berkaca-kaca mencemasinya.
"Tolong ambilkan obatku di atas sana Hinata-chan." pinta Fugaku kepada Hinata. Sasuke yang dari tadi sudah berada diluar ruangan hanya menarik nafas, mengingat tingkahnya yang tiba-tiba membuat ayahnya sedikit terluka.
"Hinata-chan, tolong bantu aku masuk kedalam kamar. Aku ingin beristirahat." pinta Fugaku kemudian. Hinata menuruti keinginan Fugaku dan menuntunnya kedalam kamar. Dilihatnya Sasuke diam diluar ruangan tersebut, Fugaku yang memandangi Sasuke, tanpa berkata apa-apa Fugaku hanya mengacuhkan Sasuke. Sasuke tertunduk merasa bersalah dengan ucapannya kepada ayahnya yang ia cintai dan sayangi walau ayahnya sudah keterlaluan selalu mengikut campur urusannya, terutama sekali mencampori urusan wanita yang akan menjadi istrinya.
.
.
Setelah menidurkan ayah Sasuke Hinata mencari keberadaan Sasuke. Langkahnya terhenti saat melihat sosok seorang pria yang sedang bimbang melemparkan batu kedalam kolam yang berada dihalaman tersebut.
"Apa yang kau lakukan disini. Kenapa tidak segera memasuki kamar?" Hinata bertanya kepada Sasuke yang sejak tadi sudah menyadari kehadiran Hinata mendekatinya.
Sasuke memandangi Hinata, perlahan menghela nafas kemudian berkata,
"Ayahku mengidap penyakit jantung kronis. Mungkin ia sedang menunggu beberapa tahun lagi untuk hidup. Aku tidak dapat melakukan apa-apa lagi. . . " sesaat Sasuke berhenti sebentar kemudian meneruskan perkataannya,
"Baru kali ini aku melihat ayah begitu bersemangat, mendengar tertawanya saja membuat hatiku merasa tenang. Mungkin tawa itu sudah menghilang saat ibu meninggalkan dunia ini di ikuti oleh nii-chan yang pergi meninggalkan keluarga ini. Sekarang aku tidak dapat melakukan apa-apa lagi selain mengikuti semua keinginan ayah. Walau sesungguhnya aku tidak menginginkan pernikahan ini terjadi, tapi setidaknya aku bisa membahagiakan dan menuruti keinginan ayahku untuk terakhir kalinya, agar aku dapat hidup tenang nantinya. Walau sebenarnya mungkin apa yang akan terjadi saat ini tidak mungkin dapat bahagia suatu saat nanti." ujar Sasuke lirih tanpa memandang kearah wanita yang berada disebelahnya.
"Bagiku pernikahan ini adalah sebuah kekonyolan ayah ku saja, ku kira ini hanya gurauannya saja. Tapi sebaliknya ayah sungguh-sungguh dengan perkataannya kepadaku.. Aku selalu membatahnya, aku juga selalu meminta dan memohon kepadanya agar pernikahan ini tidak pernah terjadi, tapi apa yang kudapatkan? Malah kiinginan ayah semakin kuat setelah kau berada disini? Padahal aku selalu membawa Sakura mengunjunginya, tapi apa balasan dari ayah saat melihat Sakura, ia hanya berkata bahwa Sakura hanya menginginkan hartaku.. Ya aku mengakuinya bahwa ucapan ayahku memang ada benarnya, tapi saat ini aku tidak ingin berurusan dengan Sakura yang selalu saja membuatku merasa bersalah jika tiba-tiba aku berpisah dengannya.. Sepertinya aku mulai menyukai Sakura.." ujar Sasuke jujur, membuat hati Hinata sedikit perih mendengar kejujuran Sasuke. Hinata tidak dapat berkata apa-apa lagi, ia hanya diam setelah mendengar semua perkataan Sasuke. Lalu bagaimana ini apa yang harus ia lakukan?
.
.
Satu minggu sudah berlalu. Hinata terus mengingat semua kejadian dan ucapan Sasuke kepadanya. Saat ini Hinata benar-benar tidak dapat memikirkan apa-apa lagi. Apa yang harus ia lakukan. Andai saja ayah Sasuke tidak sakit, mungkin ia akan mengatakan semua ini kepada ayah Sasuke meminta bahwa pernikahan mereka jangan pernah terlaksanakan. Yang hanya Hinata lakukan adalah menjauh, menjauhi hubungan mereka.
Hari ini, seperti biasanya Hinata berada di cafe Minnie tempat biasa Hinata membuat janji bersama Ino sahabatnya. Sudah sejam ia menantikan kehadiran wanita berambut pirang tersebut, tapi wanita yang ditunggu-tunggu tidak menampakkan dirinya.
"Maaf, apa anda Hyuuga Hinata?" tanya seorang pelayan kepada Hinata. Hinata terkejut, sejak kapan pelayan ini sampai ditempatnya. Hinata melihat sejenak, memperhatikan pria yang berada didepannya, bukan pelayan dari café ini, malah ia seperti pelayan yang ada dikediaman Uchiha, paman tua yang saat itu membawa barang-barangnya beserta barang milik Sasuke kedalam kediaman Uchiha. Orichimaru tersenyum melihat Hinata yang terkejut sambil menunjukinya dengan tatapan heran.
"Paman yang waktu itu?" ujar Hinata sambil melototkan matanya. Orichimaru hanya tersenyum kemudian menjelaskan apa yang terjadi. Hinata yang panik dengan apa yang didengarinya kemudian mengikuti Orichimaru kekediaman Uchiha.
.
.
Entah sejak kapan Hinata sudah berada dikediaman ini. Ia seolah melupakan semuanya. Dilihatnya Fugaku sudah terbaring lemas, membuatnya sedikit iba dengan kondisi Fugaku. Apa yang harus ia lakukan? Itu lah yang selalu difikirkan Hinata.
Fugaku tak kunjung sadarkan diri. Hinata merasa bersalah dengan semuanya. Ia mimikirkan sesuatu, apa ia harus menyetujui keinginan Sasuke yang menginginkan kawin kontrak dengannya. Hinata terus berfikir, hingga akhirnya ia ingin cepat segera pulang dan segera menemui pemuda yang sudah membuat hidup dan fikirannya terganggu, mungkin lebih tepatnya. Mencemaskan akan hal buruk yang akan terjadi pada paman yang baru saja ia kenali satu minggu yang lalu.
.
.
Hinata sudah tidak berada didalam kamar milik Fugaku. Saat ini Hinata sudah berpamitan dengan para pelayan wanita, sedangkan Orichimaru yang membawanya kemari tak kunjung menampakkan diri, akhirnya Hinata berniat untuk pulang sendiri kekediamannya.
.
.
Orichimaru memasuki kamar tuannya. Dilihatnya Fugaku yang saat ini sudah tersenyum dan tertawa cekikan melihat tingkah dan prilaku Hinata saat ia berada didalam kamarnya. Hinata saat itu mencemaskannya. Dan mungkin saat ini ia akan menemui Sasuke dan menyetujui pernikahan itu. Orichimaru hanya bisa tersenyum dengan tingkah Fugaku yang terlihat seperti anak kecil yang menginginkan ayahnya segera menikah dengan wanita yang diinginkannya.
Akting Fugaku memang sangat bagus sekali. dan ucapannya pun tepat sekali. Hinata saat ini berada di maal tempat kerja Sasuke, saat ini ia berniat menemui Sasuke dan membicarakan semuanya dan menyelesaikan semua masalah yang saat ini mereka landa.
Saat ini Sasuke sedang berada dengan para anak buahnya, Sasuke menjelaskan semuanya dan memerintahkan agar semua bawahannya menuruti semua perintahnya. Sasuke sesekali memandangi setiap tumpukan barang-barang yang ada kemudian memegang sebuah barang lalu berkata,
"Barang seperti ini sudah ketinggalan jaman. Mana mungkin kita menjualnya lagi." Sasuke mencapakkan barang yang tadi dipegangnya. Hinata berdacik pinggang kesal dengan tindakan Sasuke yang seenaknya seperti itu.
Tanpa berbasa-basi lagi, Hinata menghampiri Sasuke saat Sasuke sedang memerintahkan para bawahannya.
"Aku ingin berbicara denganmu sebentar." ujar Hinata kemudian, membuat semuanya memandang kearah Hinata, kemudian memandang lagi kearah Sasuke. Para bawahannya saat ini sedang berfikir siapa sebenarnya gadis yang berbicara dengan bos mereka.
Sasuke yang baru menyadari bahwa matanya saat ini sedang melotot tak percaya dengan ucapan Hinata kemudian bersikap tenang, melihat kembali kepara bawahannya yang sedari tadi memandangi mereka secara bergantian.
Sasuke mengandeng tangan Hinata agar ia mengikutinya.
Sasuke dan Hinata sudah berada di tempat ruangan Sasuke. Sasuke mencoba bersikap tenang mengingat apa yang dikatakan wanita yang saat ini terus memandanginya lekat-lekat, ditambah lagi para bawahannya terus memandangi mereka.
Sasuke duduk diruangannya, sedangkan Hinata masih berdiri dan terus menatapi Sasuke.
Sasuke yang sejak tadi merasakan hal yang aneh saat melihat wanita yang berada didekatnya kemudian mulai menyusun perkataannya,
"Apa yang ingin kau bicarakan.?" tanya Sasuke tanpa berbasa-basi lagi. Hinata merasa sedikit gugup apa yang harus ia lakukan dan apa yang sedang ia fikirkan saat ini?
"A-aku.. Menyetujui perjanjian itu.. Ta-tapi dengan sa-satu syarat.."
~To Be Continue~
Puih,, akhirnya selese juga fanfic ku yg udah g karuan, .
Haduh maaf banget ya law ada kata to bahasa yang g' sesuai..
Makasih udah mo singgah bacain ne fanfic..
Aku berharap kalian bisa nerima ne ff, aku jga butuh saran dan kritik kalian buat nerusin ne ff buat besok.
Saya menyesal publisin cerita baru yang maren mpe chap 2, sedikit sekali yang reviewin. ToT.
Gimana sih caranya biar reviewnya bisa banyak ma bajibun?_
Owh ya,, capa yang pernah merasakan tinggal didalam asrama? Saya sedikit cemas, bilang kakak ma teman-teman saya asrama tu ketak banget, betul apa g'?
Ehm, sekali lagi makasih udah mo bacain ne fanfic yang udah g' jelas jalan ceritanya.
Jangan lupa review n' bagi aku sedikit saran buat fanfic selanjutnya.
Makasih _
pleace...
R
E
V
I
E
W
