Hai minna ketemu lagi bareng aku,, hihii.. nggak kapok-kapoknya ngepublish fict, fictnya nggak ada yg baca juga (",) ya sudahlah.. aku tetep ngeharep review dari kalian semua. dan juga senpai semua yoroshiku onegaishimasu ^_^


Bukti cintaku, Bukti penghianatan dimatamu

by hime kirika

disclaimer : you-know-who alias masashi kishimoto-sensei

Pairing : siapa aja boleh.. hahahah :p

warning : gaje, alur kecepetan, dan silahkan nilai sendiri ^_^


Well kurasa tidaklah buruk, naik bianglala di waktu sore ketika matahari hampir terbenam, menimbulkan perasaan hangat dalam hatiku.

"mengeluh, tapi akhirnya kau terpesona"

"ck, yah.. tidak buruk"

"ku anggap itu pujian"

"terserah kau saja tuan muda"

Berdebat yang entah gunanya apa, membuatku mau tak mau menatap wajah tampannya, jantungku berdetak cepat saat memandangnya dengan wajah damai atau justru datarnya itu.. ku rasa aku mulai merasakan cinta atau sejenis hal itu pada sasuke. Tanpa sadar tengah tesenyum memandangnya.

Mungkin aku salah lihat ketika sekilas ku lihat ia mengawasiku dari ekor mata dan tepat setelah ku tersenyum ia tengah tersenyum tipis, dan wajahku mulai memerah oleh karenanya.

"emm, jadi kenangan apa yang kau maksud dengan naik bianglala, kalau boleh ku tau, kalau tidak, jangan di ceritakan, aku hanya bertanya" tanyaku padanya yang sedari tadi sibuk memandangi pemandangan luar.

"hm, entahlah aku tak ingat.."

"ck, kalau kau tak ingat kenapa masih mau kemari?" tanya atau lebih tepat rajukku padanya

"hanya merasa nyaman di dalam sini, mungkin karena ini adalah tempat yang pernah ku kunjungi bersama kaa-san" tuturnya dengan santai hampir tak ada intonasi dalam kalimatnya, namun aku tau mata itu, mata yang penuh kerinduan.

"Hahahahaah, aku fikir hanya aku satu-satunya anak di dunia ini yang di berikan keberuntungan itu" kataku penuh sinisme didalamnya.

"maksudmu?" tanyanya yang penuh rasa tidak suka, mungkin karena aku menyebutkan kondisi kesepian tanpa kasih sayang sepanjang hidup ini sebagai keberuntungan hidup. Yang benar saja..

"hn, anak yang terpilih dengan kekayaan berlimpah dengan imbalan kehilangan kasih sayang sejak kecil, kau tau rasanya..?" melihat tepat kemata onyx miliknya dan sekali sentak aku menjawab pertanyaanku sendiri.

"memuakkan" "menyakitkan" kataku bersamaan dengannya. Tanpa ku duga ia menjawab pertanyaan itu. Jadi menurutnya itu memuakkan..? yah ku rasa dia juga benar. Kami kemudian tersenyum dan tertawa kecil

"yah,,setidaknya kau dan aku masih berdiri di satu garis yang sama"

"hn, garis yang tak pernah berubah"

"yah tentu saja. Dan maaf bukannya mau merusak suasana, bisakah kita pulang sekarang?" tanyaku padanya

"tidak, sebelum kita makan malam, aku bertaruh di rumahmu hanya akan ada para maid dan buttler yang menemanimu makan di meja panjang yang sanggup menampung 12 orang" katanya dengan panjang lebar

"waw" kataku menimpali

"jangan heran, kondisi kita sama makanya aku bisa tau" katanya menjawab kekagumanku.

"bukan itu maksudku, aku kagum kau bisa berbicara sepanjang itu" berniat menggoda, ternyata malah salah goda

"hn, bisa lebih panjang lagi kalau bersamamu" katanya sambil menunjukkan seringainya yang mempesona.

"u-uh" hanya gumaman tak jelas yang mengiringi langkah kami menuju mobil, dasar uchiha.


Aku diantar pulang olehnya setelah sempat makan malam di restoran itali kesukaannya mungkin, dilihat dari para pelayan yang sudah sangat mengenalnya hingga pesanan favoritnya juga karena dia yang ku tebak selalu duduk di meja yang sama.

Jangan tanya aku tau dari mana itu juga terlihat dari pertanyaan sang pelayan genit yang menyakan tempat duduk biasa bagi sasuke. Entah karena rasa suka aku jadi ingin membuat sasuke jelek, wajah tampannya selalu mengundang cekikan bahkan kekaguman dari para gadis dan itu membuatku muak, meskipun ia diam saja.


Aku tengah berada di kamarku, sambil menelpon ino yang sedari aku di dalam kamar mandi menelpon terus, menanggapi pertanyaan bawelnya hingga aku bertanya menyuarakan isi hatiku padanya.

"ne, ino.. apa menurutmu aku tidak terlalu cepat yah..?" tanyaku yang sedari tadi berpatut diri di depan cermin sambil memainkan anak rambutku yang belum kering seutuhnya.

"hei, hei sakura.. cinta itu datangnya memang cepat, lebih cepat lebih baik kan, asal kau yakin apa salahnya mencoba."

Katanya meyakinkanku..

"bukan begitu ino, aku hanya takut perasaan ini perasaan sepihak atau mungkin justru hanya sebatas kekaguman saja atau mungkin simpati karena kami dalam kondisi yang sama"

"jika kau bingung seperti itu aku juga tidak bisa banyak membantu, perasaanmu kaulah yang paling mengerti sakura, jika kau masih bingung jalani saja dulu, toh sasuke juga tidak menunjukkan ketertarikan terhadap wanita di sekitarnya kan..?"

Kata ino. Ini dia yang selalu ku sukai darinya, begitu bijak dan dewasa, aku selalu tertolong karena nasehatnya dan itu membuatku sangat menyayangi ino melebihi sasori-nii, namun harus ku akui ino bahkan lebih menyebalkan dari sasori-nii kalau sudah jahil.

"tapi sakura, kau yakin sasuke normal? Aku hawatir jangan-jangan dia bukannya belum tertarik pada wanita tapi benar-benar tidak tertarik. Oh kasihan sekali kau sakura, apa perlu ku daftarkan ikut gokkon saja yah..?"

"INOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO, kau mau mati hah? Ku tutup telponnya"

"hoi jidat, aku sudah mati dengan suaramu itu, aku hanya bercanda jidat, dasar.. ya sudah aku mau telpon sai-kun dulu.. jaa"

Tuut tuuut

Dan sambungan terlpon terputus, sudah ku bilang kan ino itu menyebalkan kalau sudah jahil. Tapi ya sudahlah, kalau tidak begitu yah bukan ino namanya. Lebih baik aku tidur sekarang.


Bulan berganti bulan, rumah masih saja sunyi semuanya masih sama, meski sekarang aku telah menjadi kekasih sasuke. Aku sering tertawa dan tersenyum malu sendiri jika mengingat betapa bahagianya cinta yang bersambut. Melewati hariku dengannya, sang pujaan hati, aku tak tau apakah rasanya sebesar rasaku, yang aku tau aku bahagia.. dan dari sinilah kebahagiaan semu ini mulai membutakanku..

"sasuke-kun, kau ini tomatnya di cuci dulu, selalu begitu kau pasti langsung melahapnya, dasar!"

"hn, seharusnya aku yang marah sakura, kenapa juga kau membawa tomat ke sekolah yang masih belum di cuci?"

"ini sudah di cuci sasuke-kun, tapi harus di cuci lagi, lebih bersih lebih baik kan?"

"sama saja bagiku, sini ambilkan tomatnya"

"tidak mau"

"sakura, sini tidak?"

"hah, baiklah.. aku akan memantrai tomat ini sasuke-kun, aiswasyah bartamal jumkasa ." kataku merapalkan mantra yang asal ku karang saja.

"mantra apa itu? "Tanya sasuke padaku

"mantra rahasia agar kau mual dan memuntahkan tomatnya, nih ambil"

"ck, dasar penyihir"

"apa kau bilang sasuke-kun? Ulangi lagi"

"Tuli"

"saaaaassukee-kunn"

Kau lihat kebahagiaan ini? Kau percaya? Seandainya bisa aku tidak ingin mempercayainya, aku begitu bahagia bersamanya, sasuke selalu mengajakku kencan, memperhatikanku, menjaga dan melindungiku. Benar-benar kebahagiaan sempurna.

Namun Agaknya kisah kasihku bersama sasuke tidak selamanya bahagia, kedua pihak keluarga yang mengetahuinya tidak menyetujui perihal ini, kami di paksa sama-sama untuk menjauh, kesal juga jika kisah asmaraku layu bahkan sebelum sempat mekar, akhirnya kami memutuskan untuk mempertemukan kedua keluarga.

Dan kau tau apa jadinya..? seperti sedang bersandiwara untuk menghindari membahas hubungan kami jadinya mereka malah membahas hubungan bisnis. Meskipun setelahnya tidak kami temukan lagi larangan untuk bersama.

Hari-hari kami berjalan semakin berat, sasuke-kun jadi lebih sering bolos karena harus mengurusi perusahaan keluarga, hal ini bukan tak berlaku untukku, namun porsi mengurus perusahaan keluarga bagiku agak di kurangi karena ada sasori-nii yang membantu.

Sasori-nii kakak sepupu sekaligus kakak angkatku. Sasori-nii sudah bersama kami sejak usiaku masih 5 tahun, karena kedua orang tuanya meninggal dunia. Dan oh iya di kelasku datang murid pindahan dari suna namanya sabaku-gaara, kami jadi lebih akrab karena gaara ternyata junior sasori-nii di sekolahnya.

"melamun lagi sakura..?" kata gaara mengagetkanku ketika aku bersantai di taman belakang sekolah

"membolos lagi gaara?" kataku bukan menjawab malah balik bertanya menyindirnya

"hn, kau juga sama saja sakura, kau tau kan sejak pindah kemari aku tidak konsen belajar"

"oh ya? Apakah semembosankan itu di konoha dari pada di suna?"

"tidak bukan karena itu, tapi aku masih belum terbisa saja"

"oh, ku pikir kau tidak suka tinggal di konoha"

"hn, tidak juga, konoha kota yang indah, banyak gadis cantiknya"

"ceh, dasar.. tidak suna tidak konoha lelakinya sama semua ternyata"

"hahaha, aku hanya bercanda tuan putri" kata gaara sambil mengacak rambut merah muda sepunggung milikku. Aku baru saja akan membalas jika tak ku lihat sebuah tangan kekar lainnya menggenggam erat tangan gaara memaksa tangan itu menjauh dari pucuk kepalaku, tangan ini milik

"sasuke-kun? Sedang apa disini?"

"hn, sedang melihat kekasihku bermanja pada pria lain"

Deg, sakit. Ku rasa nafasku tercekat. Apa maksudnya tuduhan itu?

"biasa saja uchiha, aku dan sakura tak ada hubungan apa-apa"

"oh ya..? benarkah? Jika memang begitu jauhkan dirimu dari gadisku sabaku"

"maafkan sasuke-kun gaara.. kami permisi" kataku sambil menyeret sasuke menjauh dari sana, niat menyeret ternyata aku yang malah di seret, menuju parkiran sekolah masuk mobil dan sasuke membawaku ke apartemen yang baru ku ketahui milik sasuke jika dia sedang ingin sendiri.

Risih juga ternyata banyak yang tak ku ketahui tentang sasuke. Dan disinilah kami di apartemen miliknya. Dan dari sinilah langit tempatku berpijak hancur karena seorang uchiha sasuke.

"apa maksudmu sasuke-kun? Aku tidak ada hubungan dengan gaara selain hubungan pertemanan"

"oh ya.. kau fikir aku bodoh sakura? Aku tau kau menyukainya kau tidak pernah terlihat sebahagia itu bila bersamaku, benar begitu? Jawab aku gadis bodoh"

Sasuke menjambak rambut panjangku hingga kusut, memaksaku mendekat ke arahnya. Satu hal lagi yang luput dari pandanganku, sasuke orang yang pencemburu. Tak pernah ku lihat sosok sasuke yang seemosi ini, dia marah dan begitu menakutkan.

"bukan begitu sa-sasuke-kun, tolong jangan sekasar ini" kataku tanpa melihat matanya, bukan karena aku bersalah, tapi aku takut memandang mata itu, mata itu bukan miliknya, mata itu terlalu menakutkan untukku, bukan pandangan kasih sayang yang ada di dalamnya. Tidak lagi..

"jadi kau mau aku sekasar apa? Sekasar ini?"

PLAK

Satu tamparan telak aku dapatkan, dan oh iya apa aku pernah bilang sasuke itu pemegang sabuk hitam tae kwon do?, dan tamparannya ku rasa kalian tidak akan mau untuk sekedar mencicipinya. Mataku mulai berair, ku tekan kuat-kuat rasa sakit dalam hatiku berusaha untuk tidak terisak, namun sia-sia. Air mataku mengalir deras saat ia mulai mencium paksa diriku.

PLAK

Lagi, tamparan itu di berikan padaku, aku masih terisak, pandangan mataku kabur namun otakku cukup sdar untuk tau apa yang di lakukan sasuke padaku, dia mulai

Melakukan sesuatu dan kau tau dia, sasuke-kun, kekasihku meniduriku.

Besok paginya aku terbangun dengan kondisi yang parah. Seprei kusut, tubuh penuh jejak merah, darah yang telah mengering, air mata deras, wajah memar, terduduk dan kini tengah di baluti jas kerja sasuke.

Di hadapanku pria ini mengacak ravennya penuh amarah, mata itu menatap kearahku penuh penyesalan, dan aku menangis dalam diam tanpa suara, seolah hilang entah kemana. Mendekat kearahku, dia memelukku

"sakura, maafkan aku, maaf, maaf, maaf sakura.. aku kalut"

Katanya penuh penyesalan, seiring ketatnya pelukannya padaku, hatiku semakin sesak dan tubuhku gemetar, aku.. takut padanya.

"jangan memandangku seperti itu sakura, ku mohon, kau bisa membunuhku sekarang juga, ku mohon maafkan aku sakura."

Masih memandangnya aku menatap tepat kedalam onyx miliknya, tatapan kosong milikku, dan berkata padanya

"aku tidak punya hubungan apa-apa dengannya sasuke, dia hanya teman, teman yang lebih bisa menghargaiku dibanding kekasihku, bukan salahku jika kau tidak berada di tempat bersamaku, kau tau kau menghilang? Tanpa kabar, tanpa jejak dan kau pulang memberi hadiah berupa kehancuran untukku, mau sekalian membunuhku sasuke?"

seolah gila, meski air mata tak kunjung berhenti namun tidak ada suara isakan dari bibirku, aku sakit aku kecewa aku terluka, hidupku hilang dalam semalam, hilang di tangan orang yang paling ku cintai, hilang di tangan kekasih yang tak pernah ku hianati, hilang di depan orang yang ku hormati.

"sakura, ku mohon aku kalut, ku mohon sakura.. maafkan aku, aku tau aku salah, aku hanya sedang kesal dengan ayah yang selalu mengekangku, aku kesal dengan semua hidupku, aku juga kesal denganmu, karena sudah beberapa hari ini setiap aku kembali kesekolah kau selalu bersama pria itu, kau selalu bersamanya, aku tak mau... kehilanganmu sakura"

"jadi itukah alasanmu menghancurkan hidupku..? terima kasih sasuke."

Kataku masih dingin, perasaanku terbang entah kemana, berjalan menjauhinya aku pulang kerumah. Kau tau butuh berapa waktu bagiku..? seminggu lebih aku mendapatkan home schooling, aku tak bertemu sasuke semenjak itu, hanya gaara yang kadang-kadang mengunjungiku, menghiburku, meski ia tak tau apa alasanku menjadi seperti itu, ia tetap berada di sampingku, hingga akhiirnya di suatu sore ia datang untuk pamit padaku

"maaf sakura, aku harus kembali ke suna, nenekku membutuhkanku"

"ya, pergilah.. aku juga tau kau tak betah di konoha"

"hn, tapi berjanjilah padaku, apapun alasanmu kau harus bangkit dan menjadi sakura seperti yang ku kenal selama ini, yang seperti ini bukanlah haruno sakura. Kau mengerti kan?"

"ya, aku tau. Terima kasih gaara"

Aku memeluknya untuk yang terakhir kali sebelum perpisahan kami, kami sedang berada di halaman rumahku, memeluknya sambil terisak di dadanya, hanya dia teman yang bisa memberikan kehangatan itu, aku tak tau mengapa namun hatiku sakit setiap aku mengingat kepergiannya yang berarti aku akan kehilangan satu orang lagi yang peduli padaku. Tanpa ku sadari, adegan ini di lihat oleh sasuke yang semakin marah karenanya. Hidupku benar-benar hancur setelahnya.


TBC~~

hai minna-san, *bungkuk-bungkuk hormat* review lagi yaah.. oh ya, sekedar curcol, aku nge publish fict ini 5 chapter sekaligus.. hehehe

*kagak ada yang tanya*

haaa.. ya udah deh.. see u.. babay..