aku kembali lagi, dengan tidak kapok-kapoknya ^_^

hahahaha,, maaf buat para reader, author geblek ini dengan nekatnya mempublish 5 chapter sekaligus..

maaf juga buat para senpai, kouhai satu ini belum begitu tau tentang tata krama *beh, bahasa lo* mempublish fict, mohon bimbinngannya..


Bukti cintaku, Bukti penghianatan dimatamu

by hime kirika

disclaimer : you-know-who alias masashi kishimoto-sensei

Pairing : siapa aja boleh.. hahahah :p

warning : gaje, alur kecepetan, dan silahkan nilai sendiri ^_^


Tidak ada yang tau soal ini,hanya aku dan sasuke. Sasori-nii sudah seminggu lebih ini menghubungiku dari suna, namun ku abaikan setiap panggilan, email maupun sms darinya, mungkin ia akan datang jika aku masih saja mengabaikannya. Ino mulai bertanya alasanku yang memilih home schooling, hinata dan naruto juga mulai sering datang mengunjungiku, takut kalau-kalau aku sakit.

"aku tidak apa-apa kok" kataku pada hinata, naruto,, ino dan sai yang datang ke rumah malam ini.

"tidak apa-apa apanya sakura-chan, ceritakan saja, aku hawatir padamu sakura-chan, kita sahabat sejak kecil kau tak pernah seperti ini sebelumnya" kata naruto, seolah kehilangan kebodohannya, andai saja hanya ada naruto di sini mungkin aku akan menangis sejadi-jadinya padanya, kebiasaanku sejak kecil jika aku marah, dan sedih.

"kau berbohong sakura, kau tidak mempercayaiku?" ino memegang tanganku dan mulai memelukku.

"sa-sakura-chan, sebenarnya ada apa..?" hinata juga dengan raut kekhawatirannya memandangku

"sakura, aku tidak tau apa-apa, tapi aku yakin ada yang membuatmu sakit, jika tidak kau tidak mungkin seperti ini" sai yang biasanya diampun ikut menimpali dan menghiburku

"gomen minna, aku membuat kalian khawatir, aku tidak apa-apa, sungguh"

Ku lihat ino akan memprotes namun naruto terlebih dahulu menyela

"sakura-chan tidak akan bisa di paksa jika sudah begini, kami percaya padamu sakura-chan, tapi jika kau butuh sesuatu kau tau kemana tempat untuk pergi, dan juga dimana si teme itu saat kau seperti ini? Benar-benar pacar tidak bertanggung jawab"

"hn, siapa yang kau bilang tidak bertanggung jawab dobe..?"

Deg.. nafasku tercekat, mataku membulat sempurna, wajahku pucat seketika, ku tundukan pandangan sedalam yang aku bisa, aku takut.. aku sungguh takut pada sosok itu, uchiha sasuke. Sejak kapan dia ada di rumahku..? tak kusangka ino memperhatikanku sedari tadi, mungkin dia berfikir ini adalah masalah kekasih biasa antara aku dan sasuke, untuk itu dia segera mengambil tindakan bodoh yang sangat ingin ku cegah.

"ya sudah sakura, mungkin kau perlu bicara berdua dengan sasuke, kami akan pulang, jika kau sudah siap ku harap kau mau terbuka pada kami, kau membuat kami seperti orang asing sakura, kau tau..?"

"ya, aku mengerti ino"

Keempat sosok di depanku tersenyum dan mulai bangkit berdiri menjauh, pulang. Bergantikan sosok yang sedang berdiri dengan tangan yang di masukkan ke dalam kantong celana, khas dirinya.

"kau menjauhiku, kau takut padaku sakura..?"

Katanya penuh penekanan.

"ti-tidak, aku tidak menjauhimu, aku hanya—

"sudahlah sakura, aku tau. Jadi kau pura-pura menjauhiku agar kau bisa memeluk gaara di belakangku..? che, padahal kau begitu takut padaku, tapi kau nyaman-nyaman saja di peluknya seperti itu."

"buk-bukan begitu sasuke aku—

"bahkan skarang kau menghilangkan suuffix di namaku, selanjutnya apa..? kau akan menyerahkan dirimu padanya..?"

Cukup sudah habis kesabaranku,,

"KAU TAU APA BRENGSEK! KAU YANG MENGHANCURKANKU APA HAKMU MENGHAKIMIKU HA? Kau fikir hanya karena aku memeluknya berarti aku akan suka rela menyerahkan tubuhku padanya..?"

"kau tak perlu marah seperti itu kan? Ya ampun sakura, aku tidak sengaja, kalau memang kau tak seperti itu bisakah kau menjauh darinya?"

Kata sasuke sambil mencengkram erat tanganku, entah mengapa aku merasakan sakit di hatiku bukan di tanganku yang tengah di remasnya kuat-kuat, bulir-bulir air mata yang ku tahan sekuat tenaga pecah tanpa kontrol, aku menangis, masih dalam diam tak ada isakan, aku melhat mata itu, mencari tau sebenarnya dimana titk kewarasan pria ini, dengan mata sayu dan tersenyum lemah aku memandanginyaa

"ne, sasuke, sebenarnya kau menganggap aku ini apa..? tidakkah hatimu tengah menganggapku seorang pelacur..? apa sehina itu aku dimatamu..? kau yang merebutnya sasuke, kau yang menghancurkanku, kaulah yang membuat hidupku hancur, apakah kata maaf saja cukup baagimu?"

Hancur, hatiku benar-benar hancur sekarang tidak ada lagi benteng untuk membatasi emosi yang ku bendung selama seminggu lebih ini

"aku tidak menganggapmu begitu sakura, aku juga hancur, aku melihatmu bersama gaara setiap waktu, di uks, di perpustakaan, di kelas, bahkan saat kau membeli buku kau masih bersamanya, apa yang tidak ada padaku yang dia punya sakura, apa salah jika aku ingin memilikimu seutuhnya?"

"kau melakukan dengan cara yang salah. Aku hanya menemaninya, apa yang salah dari itu.. setiap ku hubungi nomormu selalu tidak aktif, lalu aku harus bagaimana, apa menghargai ajakan termasuk menjual diri?"

Ku akui yang di katakan sasuke itu benar, aku lebih sering terlihat bersama gaara saat sasuke tidak sekolah, bukan karena sengaja tapi karena keadaan, yang membuatku bingung sasuke selalu tau informasi diriku bahkan saat dia tidak sedang bersekolah.

"aku tidak tau sakura"

Egois, tidak mau mengalah, kepalaku serasa mau pecah, aku pusing dan mual sebelum ku berlari ke toilet dan muntah di sana, semula aku berfikir ini karena pola makanku yang berubah beberapa hari ini, sasuke yang hawatir padaku ku usir pulang, aku muak dengannya yang selalu egois. Kemudian beberapa hari setelahnya aku bertemu itachi-nii kakak sasuke di mini market.

"sakura kan?" tanyanya padaku

"iya, itachi-nii apa kabar?" kataku mencoba sebiasa mungkiin.

"baik, kau baik-baik saja sakura? Wajahmu pucat, kalau ku perhatikan badanmu kurusan sakura, kau sakit?"

"tidak itachi-nii aku baik-baik saja" dustaku padanya, memang semenjak beberapa hari ini aku lebih sering mual dan pusing. Namun agaknya aku melupakan suatu poin penting

"kau tidak bisa membohongiku sakura, aku ini dokter, aku lebih tau, kau sendiri kan? Ayo ku antar ke rumah sakit, sekalian aku periksa"

Akh benar, itu poin penting yang ku lupakan, aku tengah membohongi seorang dokter.

"aku tidak apa-apa itachi-nii mungkin aku Cuma—

Sebelum ku selesaikan bicaraku aku pingsan dengan tiba-tiba, mungkin itachi-nii kaget, dia segera memapahku ke mobilnya"

"sakura, sakura kau tidak apa-apa?"

Samar-samar aku bisa mendengar suara itu sebelum aku benar-benar hilang kesadaran.


Begitu aku bangun aku tengah berada di rumah sakit, bukan di ruang inap, tapi di ruangan yang baru ku ketahui milik itachi-nii, ruang dokter di temani beberapa suster, ku layangkan pandangan ke meja di sampingku yang telah penuh dengan makanan rupanya itachi-nii membelikanku makanan

"sakura, kau sudah sadar?"

Hanya anggukan pelan yang ku beri padanya

"makanlah dulu, kemudian kita bicara" katanya yang mendadak serius penuh khawatir. Aku menuruti perintahnya dan mulai makan makananku, setelah selesai ku lihat itachi-nii menyuruhku rebahan saja jika aku masih pusing, ku ikuti sarannya dalam diam. Sampai ia menyeret sebuah kursi di dekat ranjang dan mulai bertanya

"Kapan kau emm, terakhir menstruasi?"

Pertanyaan itachi-nii mau tak mau membuat wajahku memerah bak kepiting rebus, agak ragu namun ku jawab juga pertanyaannya

"aku sudah telat selama 2 minggu ini itachi-nii"

"hn, kau.. hamil sakura"

Hamil..? ku lihat wajah itachi-nii penuh rasa khawatir memandang wajahku yang masih tak percaya seutuhnya, ku rasa jiwaku tak lagi ada di sini

"apa sasuke yang melakukannya?" rahang iitachi-nii mengeras seketika itu, aku teringat pada kejadian beberapa minggu lalu, yang menghancurkan hidupku, aku merunduk semakin dalam, air mataku mengalir untuk yang kesekian kalinya

"jawab sakura, kalau memang dia yang melakukannya dia harus bertanggung jawab, aku sudah khawatir sejak ia sering tak pulang rumah, aku tau dia punya apartemen pribadi, dia selalu lari kesana jika sedang banyak pikiran, namun inilah yang aku takutkan bagaimanapun sasuke masih terlalu muda dan naif, dia selalu kalut jika ia sudah tak tenang"

Kata itachi-nii menjelaskan, aku menunduk dan menangis dalam diam, bergelut dengan fikiranku, sekarang aku harus bagaimana..? apa yang harus aku katakan pada keluargaku..? dan bagaimana reaksi sasuke, dia tak pernah terlihat lagi sejak malam itu aku mengusirnya darii rumah.

"aku akan membantumu sakura, sekarang kita beri tau dulu keluargamu"

Aku tak dapat berkata apa-apa, ketika itachi-nii berdiri aku menahan seragam dokternya, meremasnya kuat-kuat hingga aku beranikan berbicara

"aku.. aku yang akan memberi taukan mereka itachi-nii kau tak perlu khawatir"

Kataku meyakinkan meskipun bicaraku masih bergetar

"Tidak, aku takut kau akan berbuat nekat sakura, aku dokter yang menanganimu, meskipun aku bukan dokter kandungan, tapi akulah yang memeriksamu dan aku yang harus melaporkannya pada orang tuamu"

Kata-kata itachi-nii membuatku kehilangan jiwaku, aku sudah tak tau lagi harus bagaimana jadi ku biarkan itachi-nii yang menyampaikannya.


TBC~~

hai, hai.. aku nongol lagi dan lagi.. maaf deh kalo jadi bosan sama fict dan juga diriku yang geblek ini..

sakura : emang lo ngarti geblek itu apaan?

hime : kagak

sakura : *gUbrak!* mati aja sana..

ish, tega amat.. hime kan cuma menyalurkan imajinasi doank, che.. ya udah deh minna-san hime minta review nya nih,, kok nggak di kasih-kasih,, pelit amat cuma buat review doank..

reviewnya cuma tanda nggak papa.. biar hime tau, nih fict ada yang baca, terutama buat para silent readers nooh *nunjuk-nunjuk*

Yaps.. sampai ketemu lagii..