Disclaimer: Apakah Neji Gaiden sudah dibikin? …belum. Berarti Naruto adalah propertinya Masashi Kishimoto-sensei dan para pemegang copyrights itu.
Timeline: Awal-awal bulan Ramadhan…
\(^0^)/
Awal Ramadhan
\(^0^)/
Kiba memandangi Akamaru yang lagi asik minum. Kadang-kadang terasa gimana gitu melihat Akamaru minum sementara Kiba puasa. Apalagi masih awal-awal bulan Ramadhan gini.
Akamaru mengangkat kepalanya dari tempat minum. Melihat tuannya yang memandanginya minum sejak tadi, Akamaru balik menatapnya. Ini tuan mau apa, sih?
Kiba hanya mengelus-elus kepala Akamaru, "Nggak apa-apa. Terusin aja minumnya kalo masih haus. Habis ini kita ke rumah sakit, ya?"
Akamaru menikmati elusan tuannya dan menyalak menjawab. Melihat Akamaru sudah siap, Kiba pun langsung menaiki Akamaru. Mereka melompati atap-atap seperti biasa, menuju Rumah Sakit Konoha.
Berada di atas Akamaru, Kiba menikmatinya juga. Asik juga Akamaru sebesar ini. Lagi puasa gini, terasa enaknya menaiki Akamaru.
\(^0^)/
Setibanya di rumah sakit, Kiba turun dari Akamaru dan mereka berdua pun memasuki rumah sakit. Berjalan dengan arah yang pasti, Kiba menuju sayap barat rumah sakit. Akamaru mengikuti.
"Neechan!" panggil Kiba ketika dia memasuki salah satu ruangan.
Kakak yang dipanggil menoleh dari pekerjaannya, "Oh, Kiba."
Di ruangan itu juga berdiri seorang pria berambut perak di samping anjing yang sedang diperiksa oleh sang kakak.
"Eh, Kakashi-sensei," ucap Kiba menyadari kehadiran sensei yang terkenal dengan wajahnya yang biasanya tertutup – bukan, bukan dengan masker – oleh buku karangan Jiraiya.
"Yo, Kiba," sapa Kakashi-sensei, "Akamaru."
"Guk!"
Kiba menunggu kakaknya selesai memeriksa anjing Kakashi-sensei. Sudah suatu aturan tidak tertulis untuk tidak menginterupsi ketika klien, dalam hal ini Kakashi-sensei, berada dalam ruangan yang sama. Sepertinya hanya check-up biasa, sih.
Menunggu pemeriksaan selesai, Kiba memperhatikan sekitarnya. Tetapi satu hal menarik perhatiannya sejak tadi. Tangan Kakashi-sensei secara tidak sadar berulang kali menarik sebuah buku hijau. Ketika si pelaku menyadari apa yang dilakukannya, tangannya segera meletakkan buku itu kembali. Begitu terus beberapa kali.
Kiba menggelengkan kepalanya. Kasihan, Kakashi-sensei. Pasti tidak tahan ingin membaca buku dewasa tersebut.
Setelah pemeriksaan selesai dan Kakashi-sensei telah keluar dari ruangan, Kiba bergumam pada kakaknya, "Neechan, si Kakashi-sensei bawa-bawa buku itu terus…"
"Hah?"
"Nggak, itu. Dari tadi Kakashi-sensei narik buku "itu" terus ditaro lagi terus ditarik lagi. Lagian buku gitu dibawa-bawa lagi puasa."
"Oh, buku "itu"… Biar cepet bisa dibaca mungkin ketika buka."
Kiba berdecak, "Ck. Puasanya nggak jelas gitu mah."
"Hm, hm," angguk kakaknya menulis laporan mengenai pasien yang tadi baru ditanganinya.
"Oh ya, kata Kaachan, kolak pisang mau nggak?"
Kakaknya berhenti menulis dan berpikir sebentar sebentar sebelum menjawab, "Boleh, deh. Nanti Neechan sempat membantu Kaachan juga sepertinya."
"Oh, OK. Udah ya, Neechan," Kiba berbalik dan berjalan keluar ruangan.
"Hm," kakaknya memandang Kiba lalu Akamaru, "Dah, Akamaru."
"Guk!"
\(^0^)/
Kiba melihat Tsunade berjalan cepat-cepat dan wajahnya seperti menahan marah. Eh, tetapi sepertinya ada yang beda dari sang Godaime… Oh! Pakaiannya! Tsunade mengenakan kimono putih di dalam jubah biasanya yang bertuliskan kanji "kake". Bukan perubahan warnanya yang penting. Kimono putih itu menutupi seluruh bagian depan tubuh sang Godaime! Wah, ck ck… Karena bulan Ramadhan kah?
Tidak jauh di belakang sang Godaime, anak didiknya mengikuti. Kiba yang ingin tahu kenapa Tsunade berjalan cepat-cepat langsung memanggilnya, "Oi, Sakura!"
Gadis berambut pink itu berhenti dan melihat Kiba, "Ah, Kiba. Ada apa?"
Kiba mengangkat bahu dan menolehkan kepalanya ke arah Tsunade tadi lewat sebelum kembali melihat Sakura, "Godaime kenapa tuh?"
Sakura tertawa, "Nggak penting juga sih sebenarnya masalahnya. Biasa, Jiraiya-sama. Tsunade-shishou kan menutup pemandian umum selama bulan Ramadhan. Terus Jiraiya-sama bilang, kalau malam dibuka aja. Kan kasihan kalo ada yang mau mandi malam-malam. Kata Shishou, justru penting ditutup malamnya. Siang kalo Jiraiya-sama masih ngintip sih memang dasar Jiraiya-sama terlalu. Jiraiya-sama balas lagi, itu Shishou dibilangin supaya ngebenerin baju aja didengerin, masa buat buka pemandian lagi nggak didengerin. Shishou langsung merah tuh bajunya dibawa-bawa lagi. Jiraiya-sama cuma nyengir nggak jelas terus kabur dan bilang jangan lupa pengendalian emosi."
Kiba mendengarkan seluruh cerita Sakura dengan ekspresi takjub sebelum bertanya, "Eh, jadi maksudnya si Jiraiya-sama itu mau ngintip lagi abis buka?"
"Yah, sepertinya begitu," Sakura mendengus kesal. Sannin mesum itu memang tidak ada habisnya, deh. Mengintip perempuan mandi… Bulan Ramadhan masih niat pula.
"Ck. Jadi teringat Kakashi-sensei tadi," Kiba berkomentar.
"Eh? Kakashi-sensei kenapa?"
"Itu, masa dia bawa buku "itu"-nya ke mana-mana. Jelas-jelas lagi puasa. Nggak tahan mau baca kalo udah waktu buka kayaknya," jawab Kiba mengingat pembicaraannya dengan sang kakak.
Sakura memerah, sepertinya marah karena kelakuan sensei-nya, "Ish, udah dibilang sebelum Ramadhan dikurangi baca gituan. Susah, kan."
Kiba memperhatikan ekspresi Sakura acuh tak acuh dan berkomentar, "Puasa oi, Sakura. Nggak boleh emosi."
Merahnya wajah Sakura berubah menjadi ekspresi malu, "Eh, iya. Hehe…"
"Ya udah ya. Aku duluan," pamit Kiba.
"Ah, iya," Sakura menjawab lalu melihat ke arah Akamaru, "Sampai jumpa, Akamaru."
"Guk!"
\(^0^)/
Melihat Akamaru di sampingnya, Kiba berkata, "Pulangnya, kita jalan saja ya Akamaru?"
Mereka pun berjalan beriringan melewati jalan-jalan Konoha. Ketika melewati salah satu tempat latihan, Kiba melihat tiga orang duduk bersila dan satu orang senyum-senyum melempar kunainya – yang selalu tepat mengenai sasaran. Lho, orang-orang yang duduk itu…
Kiba berjalan mendekati mereka. Benar, ketiga orang itu sepertinya sedang bermeditasi. Mereka memejamkan mata dan bernapas dengan teratur. Yang satu sih sudah biasa, tetapi yang dua lagi baru terlihat…
"Lee dan Chouji… Lagi ngapain?"
Lee yang sepertinya memang sejak tadi tidak bisa berkonsentrasi, membuka matanya dan menatap Kiba dengan mata berkaca-kaca. Kiba kaget melihat tatapan Lee dan langsung mundur spontan. Lee bangun dan berjalan menuju Kiba.
"Hu hu… Aku sedang belajar meditasi sama Neji," jawabnya dengan mata berkaca-kaca.
Kiba yang tidak mengerti kenapa mata Lee berkaca-kaca, tetap mundur teratur, "Lalu? Kenapa matamu berkaca-kaca?"
"Susahhh," air mata Lee sekarang mengalir deras.
Kiba menatap Lee dengan tatapan aneh. Tenten tertawa terbahak-bahak. Dan Neji menghela napas mendengar Tenten tertawa.
"Habis, aku kan nggak bisa menghabiskan waktu dengan latihanku yang biasa. Nggak boleh sama Tenten," isak Lee.
Tenten langsung buka suara, "Hey! Kalau nggak gitu, kamu bisa dehidrasi, bodoh!"
"Hu hu… Diomelin Tenten…" air mata Lee mengalir makin deras.
Tenten menghela napas, "Lee, sayang, lagi puasa lho… Nggak boleh nangis."
Lho? Neji terlihat sedikit bergerak… Sedikit. Tangisan Lee mulai pelan-pelan berhenti.
"Emm, lalu? Kalau Chouji?" Kiba menunjuk Chouji yang sejak tadi tetap dalam posisi meditasinya.
Lee yang sudah ceria kembali menjawab, "Chouji-kun memperhatikan Neji yang sedang bermeditasi dan bertanya kenapa Neji selalu melakukannya."
"Aku juga ingin tahu kenapa," komentar Tenten pelan.
Lee tersenyum, "Menurut Neji, meditasi itu bisa menenangkan diri dan melatih konsentrasi…"
"Dan blah, blah, blah," gumam Tenten.
Lee tertawa kecil, "Setelah mendengarkan penjelasan Neji…"
"Yang panjang dan membosankan," gumam Tenten lagi.
"Chouji-kun ingin belajar bermeditasi supaya bisa memblokir segala pikirannya untuk makan," Lee mengakhiri penjelasannya dan menatap Tenten.
Tenten hanya menatap balik dan mengangkat bahu, "Apa? Aku tetap nggak mengerti kenapa meditasi dijadikan hobi."
"Mungkin kau harus mencobanya juga, Tenten," ucap Neji yang sudah bangun dari posisi meditasinya dan menatap Tenten.
"Emm, enggak deh. Aku lebih memilih latihan," Tenten kembali melempar kunai.
"Akurasimu sudah seratus persen," ucap Neji melihat pendaratan sukses si kunai.
"Oh, terima kasih atas pujianmu," jawab Tenten acuh tak acuh dan melempar kunai lainnya yang kembali menancap tepat sasaran.
"Emang itu muji?" Kiba berbisik pada Lee.
"Oh, menurutku enggak juga, sih. Mereka memang begitu," bisik Lee menjawab.
"Ya udah, deh," Kiba melangkahkan kakinya, "Duluan, ya."
Neji hanya mengangguk.
Tenten mengangguk tersenyum pada Kiba dan melambaikan tangannya pada Akamaru, "Dah, Akamaru."
Lee melambai-lambaikan tangannya semangat, "Sampai jumpa, Kiba! Sampai jumpa, Akamaru!"
Kiba melangkahkan kakinya menjauhi tempat latihan tersebut. Melihat Chouji, Kiba menggaruk-garuk kepalanya heran. Hebat juga daya konsentrasi Chouji. Kiba sih mending main sama Akamaru aja deh menunggu buka. Biarpun, dia teringat lagi, Akamaru sih enak tinggal minum kalau haus…
\(^0^)/
.Kazuya, Aug 14 '10
*ngeliat tanggalan* Wuoh… Tepat satu minggu dari chapter sebelumnya! Kirain bakal lebih lama… Jadi semangat ngupdate! Hahhahaah. Author masih libur sekitar seminggu lagi. Mudah-mudahan sempet ngupdate lagi ho ho…
Makasih udah baca! Kalau review, puasanya tambah mantep dah. Nggak puasa juga, disayang Tuhan deh kalau review hahhahaa.
Ow ye, thanks buat para reviewers chapter sebelumnya! Kayaknya udah pada dibales yah lewat account Author. Makasih juga yah udah pada baca J
