Disclaimer

Author: Eh? Jadi, Neji Gaiden beneran dibikin? Ahiy… Author berhak atas Naruto, dong?

Pengacara: …

Author: …Naruto adalah properti milik Masashi Kishimoto-sensei dan para pemegang copyrights-nya.

Timeline: Masih satu timeline sama dua chapter sebelumnya, abis awal bulan Ramadhan, tengah-tengah bulan Ramadhan…

\(^0^)/

Pertengahan Ramadhan

\(^0^)/

Shino berjalan menyusuri desa Konoha. Matahari pagi yang belum menampakkan diri seutuhnya, memberikan sedikit cahaya yang cukup untuk menerangi jalur perjalanan yang akan dilalui Shino. Bukannya perlu juga, sih. Selama bulan Ramadhan ini, sudah jadi kebiasaan, tanpa cahaya pun tubuhnya sudah tahu akan ke mana.

Berjalan pagi setelah Subuh, ditemani udara yang masih sejuk, tanah yang masih basah oleh embun, jalanan yang masih gelap. Hanya waktu-waktu seperti ini yang bisa memberikan kenyamanan itu. Dan Shino dengan rajinnya tidak tidur lagi setelah Subuh untuk menikmati suasana itu… nggak juga. Sesederhana penampilan Shino yang udah-jelas-kalo-pake-kacamata-item-dan-mukanya-ga-keliatan-itu-Shino, alasan Shino pun sederhana saja. Membawa serangganya jalan-jalan.

Di bangku taman yang dilewati Shino, terlihat sesosok tubuh dengan sebuah buku menutupi wajahnya. Lampu jalan yang masih menyala pada jam itu menerangi jelas rambut perak yang kembali memantulkan cahaya yang diterima. Gumaman pelan terdengar dari mulutnya.

Shino yang mengenali sosok itu, menyapanya, "Kakashi-sensei."

Pria itu melihat ke atas, "Oh, Shino-kun. Yo."

Shino memandangi buku yang dipegang Kakashi-sensei. Hmm, sampulnya hijau. Dia jadi teringat cerita Kiba ketika awal puasa kemarin.

"Kalo masih awal puasa gini, ada aja ya yang susah. Kakashi-sensei tuh, bawa-bawa buku karangan Jiraiya-sama ke mana-mana. Padahal lagi puasa… Kata Neechan si, paling biar bisa cepet-cepet dibaca gitu kalo buka," Kiba bercerita sambil menggaruk belakang telinga Akamaru, "Yah, bukannya info penting juga, sih. Kau sendiri, aku yakin nggak ada masalah seperti itu. Rutinitasmu setiap harinya pasti hanya melibatkan serangga. Bukan makanan maupun hal-hal lain yang membatalkan. Nggak ada bedanya puasa nggak puasa."

Mungkin benar kata Kiba? Buat Shino sendiri, puasa atau tidak puasa, tidak ada yang mengganggu aktivitasnya. Oleh karena itu, cintailah serangga maka kau akan merasakan manfaatnya.

…rasanya tidak ada hubungannya.

Tapi, bagi Kakashi-sensei mungkin sangat sulit? Sekarang masih jam puasa, bahkan masih bisa dibilang, adzan Subuh saja baru berkumandang. Walaupun semua orang sudah selesai shalat Subuh, matahari masih belum menyinari dunia sepenuhnya. Apakah… membacanya sekarang tidak membatalkan puasa?

Tunggu dulu, sampul hijau itu tidak ada gambarnya. Polos. Dan, oh, ada tulisan kecil di bagian bawah sampulnya?

AL-JUMANATUL 'ALI

AL-QUR'AN & TERJEMAHANNYA

"…Kakashi-sensei, lagi tilawah?" tanya Shino.

"Haha, yah, begitulah. Sudah menjadi kebiasaan sekarang. Buku yang biasa, nggak bisa dibaca, sih," Kakashi-sensei berdehem, "Tapi baca Qur'an menyenangkan juga. Banyak yang bisa kita dapatkan dari sini. Kamu juga jangan lupa tilawah, Shino-kun. Bulan Ramadhan pahala dilipatgandakan, lho."

Begitu. Itu menjelaskan juga gumaman pelan yang didengar Shino. Rupanya lantunan ayat Al-Qur'an dari bibir Kakashi-sensei.

"Ah, ya…" jawab Shino.

"Hmm, hmm," angguk Kakashi-sensei sebelum bertanya, "Oh, ya. Kau sedang apa jam segini? Aku tidak pernah melihatmu biasanya."

"…justru aku yang harus berkata begitu kepada Sensei. Aku setiap jam segini selalu mengajak seranggaku jalan-jalan."

"Ah, begitukah? Haha. Ya, ya. Dipikir-pikir, aku memang biasanya tilawah di rumah, dan sedikit berkutat dengan buku bersampul hijau yang satu lagi," Kakashi-sensei berdehem, "Ya, ya. Silahkan meneruskan aktivitasmu, Shino-kun."

"…aku duluan, Kakashi-sensei," ucap Shino sebelum meneruskan perjalanannya lagi.

"Yo, yo. Hati-hati, ya," lambai Kakashi-sensei yang kembali terdengar melantunkan ayat-ayat dari kitab suci yang dipegangnya.

\(^0^)/

Sore itu Shino diajak Kiba untuk melakukan kegiatan rutin barunya.

"…coba ulangi lagi apa yang akan kita lakukan?" tanya Shino menatap peralatan grooming yang dibawa Kiba. Hanya terdiri dari berbagai jenis sisir saja, sih.

"Ah, sepertinya sudah jelas deh, Shino," jawab Kiba cengar-cengir di samping Akamaru.

"…dan kenapa aku memutuskan untuk ikut?"

"Haha sudahlah, Shino. Ini kan untuk memperkuat brotherhood kita. Lagipula kegiatanmu pasti monoton. Nggak ada perubahan, baik sebelum Ramadhan maupun ketika Ramadhan," Kiba menjelaskan selama mereka berjalan sebelum akhirnya memasuki salah satu tempat latihan, "Ah, kita sudah sampai, sudah sampai."

"Kiba! Akamaru!" Lee melambaikan tangannya melihat kedatangan mereka, "Oh, ada Shino-kun juga hari ini?"

Mereka berada di tempat latihan nomor 13. Shino memperhatikan orang-orang yang ada di situ. Lee dengan penuh semangat menghampiri mereka yang memang berjalan mendekat. Ada Chouji yang tersenyum ramah melihat mereka. Neji dan Tenten yang, hmm, entah sedang apa. Neji sepertinya bermeditasi. Tenten hanya duduk bersila di depan Neji dan memutar-mutar kunainya memandang sosok di depannya dengan tatapan bosan. Ketika melihat Akamaru, Tenten langsung tersenyum dan bangkit dari posisinya.

"Ini… kombinasi yang aneh," komentar Shino melihat gabungan orang-orang yang ada di tempat latihan sore itu.

"Haha, menarik, kan? Menarik," Kiba menjawab komentar Shino.

"Ayo, ayo, Kiba! Aku mau mulai!" Lee lompat-lompat bersemangat.

"Ini peralatannya. Kurasa kalian sudah ingat apa yang harus dilakukan?" tanya Kiba memberikan sisir-sisir yang dibawanya.

"Aku mau mengulangnya!" Lee mengangkat tangannya dengan tatapan mata menggebu-gebu.

"Ah, Lee-san setiap hari mengulangnya," Chouji tersenyum.

"Oh, Chouji-kun mau mengulangnya hari ini?" tanya Lee begitu mendengar komentar Chouji.

"Ah, tidak, tidak. Kalau Lee-san mau mengulangnya lagi, silahkan saja," Chouji tertawa kecil.

"Yosh! Oke. Urutan penggunaan sisirnya, pertama adalah bristle brush ini," Lee menunjuk sisir yang agak panjang dengan jarak jari-jari sisir yang lebar, "Setelah selesai dengan itu, lanjutkan dengan slicker brush ini untuk menghilangkan kusut yang tidak bisa dihilangkan hanya dengan penggunaan bristle brush."

"Jadi kegiatan rutin baru yang dimaksud adalah menyuruh orang lain menyisiri Akamaru?" Shino menatap Kiba.

"Ah, apa sih, Shino? Ini namanya menghabiskan waktu bersama menunggu saat berbuka," Kiba mengibaskan tangannya seolah menepis pertanyaan Shino.

"Dan yang terakhir adalah penggunaan dog comb ini untuk memberi penampilan yang halus pada rambut setelah semua kusutnya hilang!" Lee menunjuk sisir terakhir dan mengakhiri penjelasannya tanpa mendengarkan sekitarnya.

"Yeah! Good job!" Kiba memberikan applause setelah mendengar Lee mengakhiri penjelasannya, "Silahkan, silahkan."

Lee berdiri di sisi Akamaru dan menyisir rambutnya dari depan ke belakang sesuai arahan Kiba sebelumnya. Chouji menggaruk-garuk belakang telinga Akamaru sambil menunggu gilirannya. Anjing yang bersangkutan terlihat sangat menikmati semua sentuhan yang diterimanya.

Tenten menyapa Akamaru dan menepuk kepalanya sebentar sebelum berjalan kembali ke posisinya di dekat Neji. Neji berhenti bermeditasi tidak lama setelah Tenten meninggalkannya dan mulai stretching. Tenten melempar kunai di tangannya, melewati rambut Neji hanya dalam jarak satu inchi sebelum mendarat di tengah mata sasaran. Neji mengangkat alisnya menatap Tenten.

"Apa?" Tenten mengangkat bahunya menjawab tatapan Neji. Neji hanya menghela napas menghadapi kelakuan Tenten.

Shino akhirnya ikut menikmati suasana baru itu. Tampaknya Chouji jadi terbiasa menghabiskan waktu di tempat latihan itu. Kiba awalnya iseng menawarkan Chouji dan Lee kegiatan yang membuat mereka terlepas dari rutinitas yang tidak bisa dilakukan selama puasa, tapi ternyata jadi kebiasaan baru selama Ramadhan ini. Neji dan Tenten, tetap Neji dan Tenten… Mereka sepertinya biasa saja menghadapi bulan Ramadhan ini. Kalau melihat Neji, Shino rasanya mau protes terhadap pernyataan Kiba. Bagaimanapun menghabiskan waktu bersama serangga-serangganya tidak lebih monoton dibanding meditasi! Tapi mungkin seperti kata Kiba, nggak penting juga, sih.

\(^0^)/

.Kazuya, Aug 16 '11

Benar-benar satu tahun ya dari chapter sebelumnya? Ternyata nggak ada waktu sama sekali untuk membuat chapter tepat waktu tahun lalu. Jadi chapter ini diselesaikan hari ini untuk pertengahan Ramadhan tahun ini.

Buat readers yang baru aja baca tahun ini jadinya kan enak, langsung lanjut gitu haha.

Buat tabrani chan dan Naa-chan yang telah meninggalkan review di chapter sebelumnya, arigatou gozaimashita!

Makasih juga buat semua readers yang udah baca fic ini!

Segala bentuk protes dilayani dalam bentuk tertulis. Eh, itu mah pengumuman di mading Departemen Matematika pas Author mau liat nilai semester kemarin… Yah, review juga kan dalam bentuk tertulis. Atau kalau mau ngedatengin Author langsung untuk menyampaikan review-nya secara verbal, boleh kok. Haha. Terima kasih karena bersedia mengunjungi Author. Untuk yang memilih untuk menyampaikan review-nya dalam bentuk tertulis saja, tanpa menemui Author langsung, terima kasih juga. Haha.