Disclaimer: Sepertinya permintaan hadiah Lebaran yang Author minta terlalu berat ya, Kishimoto-sensei?

Timeline: Tanggal satu Syawal! Aye! Have a happy Aidil Fitr!

\(^0^)/

Lebaran di Konoha

\(^0^)/

Ino melihat keluar dari jendela kamarnya. Ramai sekali. Ada yang mengepit koran di ketiak, menyampirkan sajadah di bahu, memeluk tas mukena, ada juga yang tidak bawa apa-apa. Semua berjalan ke satu arah.

Hembusan napas panjang keluar dari bibir Ino. Teman yang ditunggunya sejak tadi belum terlihat juga. Padahal teman itu juga yang menyuruhnya jangan terlambat. Ino sendiri sih selalu bangun pagi. Banyak yang harus dilakukan untuk selalu tampil cantik, sih. Eh, tolong lupakan hal tadi.

Ah, terlihat ada warna mencolok di antara kerumunan yang sebagian besar mengenakan pakaian ataupun mukena putih. Warna itu bergerak cepat dan akhirnya berhenti di depan rumah Ino. Warna itu pasti rambutnya...

Ino menggelengkan kepalanya dan mengambil tas mukenanya. Sebelum keluar kamar, dia menyempatkan diri melihat pantulannya di cermin. Eh? Kan harus tetap terlihat cantik.

Suara ibunya memanggil. Ada teman yang datang. Ino sudah setengah jalan menuju pintu keluar juga, sih.

Setelah pamit untuk berangkat duluan kepada ibunya, Ino menegur temannya, "Kenapa jadi kamu yang lama sih, Sakura?"

Pemilik warna rambut mencolok yang ternyata tadi dilihat Ino hanya meringis, "Maaf maaf, aku ternyata harus menulis sampai cukup larut semalam. Jadi sedikit susah bangun hehe."

"Menulis?" tanya Ino.

Sakura hanya tersenyum lebar menjawab pertanyaan Ino. Ino menatap Sakura dengan tatapan menyelidik. Sakura balas tertawa.

Walaupun sama sekali tidak menjawab, Ino juga tidak tertarik untuk menelusuri lebih jauh penjelasan Sakura. Lebih baik berkonsentrasi untuk berjalan di tengah-tengah cukup banyaknya manusia yang bergerak menuju arah yang sama dengan tujuan mereka. Arus sama yang sejak tadi Ino lihat juga dari jendela kamarnya. Sekarang Ino dan Sakura juga bagian dari mereka, jamaah yang akan melaksanakan Shalat Ied.

\(^0^)/

Shalat Ied berjalan lancar. Saat ini Ino sedang mendengarkan khotbah Ied. Yah, biarpun disebut mendengarkan, tapi kurang terdengar juga, sih. Ada ibu-ibu yang sedang bergosip tidak jauh dari posisi Ino dan Sakura duduk.

Eh, tapi bahan gosip ibu-ibu itu sepertinya topik khotbah juga. Atau ustadz-nya? Ahem…

Didorong rasa penasaran, Ino berusaha mendengarkan khotbah dengan lebih baik lagi. Penasaran juga, sih. Ustadz-nya siapa ya?

"Sakura, ustadz hari ini siapa, sih?" tanya Ino.

"Tertulis di spanduk, kok. Ustadz Yudhistira Adi Wicaksana," jawab Sakura.

"Wah, namanya asing. Ngundang orang luar?"

"Dari luar negeri. Indonesia ya, sepertinya?" Sakura terlihat berpikir.

"Itu kan negara tempat pamannya Kiba belajar masak sebelum buka restoran di sini."

"Iya? Nggak tahu, deh."

"Kayaknya ada warga negara itu juga deh di sini," Ino mengutarakan kemungkinan yang dia pikirkan.

"Tahu dari mana?"

"Kiba suka ngomong bahasa asing gitu kalau lagi ngelayanin di sana."

"Kiba suka bantu-bantu jadi pelayan restoran? Musti lihat, deh! Ngomong apaan?" tanya Sakura penasaran.

"Musti lihat banget! Soalnya di situ, pelayannya bawa-bawa piring banyak yang diseimbangin di sepanjang lengan gitu. Satu lengan dijulurin bisa tiga piring lebih," jelas Ino antusias, "Oh, kalau nggak salah, tambo'a cie gitu… Nggak yakin juga, sih."

"Kiba juga? Hebat banget. Ada pelatihannya, ya?"

"Kiba biasa bawa-bawa makanan buat anjing-anjingnya gitu juga kalau nggak salah. Makanya diajak pamannya buat bantuin."

"Oh, skill yang berguna juga," komentar Sakura sebelum menegur Ino, "Eh, Babi, dengerin khotbahnya!"

"Lah tadi siapa yang malah nanya-nanya, Jidat?" balas Ino.

"…sudah sepatutnya seorang Muslim menyambutnya dengan kegembiraan dan menyambutnya karena hari raya Idul Fitri adalah salah satu syiar dalam agama Islam, seperti firman Allah…" sayup-sayup terdengar kalimat khotbah.

"Eh? Ini lagi ngomongin Idul Fitri-nya ya?" tanya Ino.

"Iya, Babi. Dari tadi juga. Nggak dengerin?"

"Nggak bisa denger jelas kali, Jidat! Kuping segede jidat sih, bisa denger."

"Wah, bawa-bawa kuping juga nih, sekarang?" Sakura memelototi Ino.

"Aduh, ngerasa ya? Maaf, deh," balas Ino.

"Ya udah sih coba dengerin lagi khotbah-nya lah sekarang!"

"…aneka hidangan di hari raya yang sangat menyibukkan waktu kita menjelang hari raya. Tentu saja semua itu akan tetap berharga dalam pandangan Islam jika kita meniatkannya untuk meningkatkan syiar hari raya, bukan sekedar menjaga tradisi, apalagi…" kalimat khotbah hilang timbul dari pendengaran Ino.

"Nah lho, apakah ini ada hubungannya dengan kegalauan soal opor dan ketupat kemaren?" tanya Ino.

"Iya nih, sepertinya karena banyak yang galau ngotot Lebaran kemaren aja soalnya udah masak opor sama ketupat. Khotbahnya ngingetin makna Idul Fitri sebenarnya banget, deh. Harusnya kita itu galau memikirkan akan meninggalkan Ramadhan. Belum tentu bertemu lagi kan tahun depan," jawab Sakura.

"Ahiy, jidat lebar ini ternyata berisi otak yang cerdas," tawa Ino.

"Muji yang tulus, Babi. Bawa jidat lagi."

\(^0^)/

"Galau banget deh kalau bareng kamu, Jidat," Ino geleng-geleng kepala, "Enak bareng Tenten-san, deh."

"Aduh, tapi kamu ngeladenin juga, Babi," Sakura menghela napas, "Tenten-san sih pasti sama Neji-san lagi, deh!"

"Kamu juga emosian sih, Jidat!" balas Ino, "Aduh, itu kan harusnya aku yang ngomong."

"Iya deh yang ratu gosip, nggak rela gitu kalau posisinya diambil," ledek Sakura sebelum melihat sosok yang baru mereka sebut dari kejauhan, "Itu Tenten-san! Tuh kan, sama Neji-san."

"Aduh, jangan bawa-bawa gosip, deh. Kalau ketahuan ustadz yang tadi, pasti dijadiin topik ceramah," Ino geleng-geleng, "Haha ya udah, jangan digangguin. Nanti aja kalau emang Tenten-san ngeliat kita."

"Ngomong gitu, tapi bahasanya berbau gosip," Sakura mendengus, "Iya ya, ustadznya hebat, tuh. Kayaknya Konoha bakal jadi tempat berakhlak kalau dia ada di sini."

"Ah, saya tidak merasa bergosip," tepis Ino acuh tak acuh, "Bener! Tipe yang sesuai banget sama ketentuan!"

"Ampun deh, udah jelas-jelas, masih nyangkal juga," Sakura menyerah menghadapi Ino, "Iya, misalnya kalau ngeliat kamu dempet-dempet ke Sai nggak jelas, pasti nanti dia akan bilang, Ini tidak boleh! Bagaimana kalau terjadi apa-apa? Kalau kamu punya anak sebelum menikah, itu tidak baik! Nanti terus dia ngasih cerita yang bikin kita tertarik dan angguk-angguk setuju terus nurut."

"Kenapa contohnya jadi aku sama Sai? Galau banget deh, Jidat!" Ino memelototi Sakura, "Tapi ya iya sih, kayak gitu lah ustadz-nya. And I mean that in a good way. Bagus kali ya kalau ada tokoh kayak gitu di Konoha?"

"Soalnya nggak mungkin contohnya Tenten-san sama Neji-san. Kalau mereka bertemu, sama seperti kunai bertemu byakugan. Saling beradu meningkatkan kemampuan. Lho? Kok galau sih perbandingannya…" Sakura diam sendiri.

"Aduh, jidat lebar-lebar tapi galau haha," tawa Ino.

"Dari tadi jidat-jidat mulu. Galau banget deh, Babi!" balas Sakura.

"Udah deh, udah. Lebaran kan sekarang, sayang. Maafin aku, yah. Nggak cuma buat yang tadi. Buat semuanya, ya," Ino tersenyum.

"Ino dewasa banget, deh. Dari dulu. Bikin iri aja tiap kali. Dasar Babi… Maafin aku juga, ya," Sakura tersenyum.

Ino pun memeluk Sakura. Sahabatnya itu memang selalu menjadi musuhnya juga. Tapi bagaimanapun, sahabat akan selalu saling memaafkan.

Ramadhan telah berakhir digantikan oleh Syawal. Menyambut Idul Fitri dengan senyuman, Ino berharap sudah mengakhiri Ramadhan-nya dengan baik. Berjalan seusai shalat Ied bersama sahabat di sampingnya, tak lupa dia ikut bersilaturahmi saling memaafkan dengan seluruh tetangganya di Konoha. Kali ini diniatkannya ulang bukan untuk sekedar menjaga tradisi, tapi agar bisa meningkatkan makna hari yang fitri ini.

\(^0^)/

.Kazuya, Aug 31 '11

Yosha! This fic has done! Haha emang bakal beda yah kalau ada yang terus menerus mendesak agar fic ini dilanjutkan sampai lebaran? (lirik-lirik Dijah-hime dan Kazuki NightFlame47).

Inspirasi untuk khotbah dan semua kata-kata sepertinya-sih-bijak yang terlihat di sini adalah dari twitter adik Author yang muncul di timeline Author sepanjang hari kemarin hingga malam ini. Inspirasi lain-lain juga ada ketika membaca review seseorang di fic Author yang berjudul Di 7 Juli 2009 Ini haha. Dan, macem-macem yang terjadi jika menonton televisi sepanjang malam kemarin? Haha.

Terima kasih untuk Suzuka Haruka yang menantikan update fic ini. Juga untuk CTR yangmenanyakan kelanjutan fic ini. Buat Maehime: Haha terima kasih!

Terima kasih untuk semua yang membaca fic ini. Review sekalian mungkin? Hadiah lebaran buat Author? Haha.

Btw, kemarin malem, tiga kuntum terakhir white lily Author mekar. Jadi tujuh hari berturut-turut, white lily-nya mekar bergantian. Aye.