- Tittle : Akhir Hidup, Awal Keabadian
- Chapter : 1/2
- Author : Tasha
- Ratting : T
- Timeline : ketika Edward dan keluarganya masih bertempat tinggal Alaska, sebelum ke Forks
- Main Cast : Gabriella Lucy Crown
- Cast : SELAIN Edward and his family (Mr, Mrs Cullen, Alice, Jasper, Rosalie, Emmett), all cast is OC . Edward and his family milik momma Stephenie Mayers :)
#WARNING : Typo(s) / OC
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-. -.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
Okay ..
_HAPPY READ, ENJOY !_
Akhir Hidup, Awal Keabadian
Sudut pandang Gabriella Lucy Crown (Gabriella POV)
Aku berjalan sendirian di pagi dingin yang mendung ini. Langit begitu gelap seakan hari mulai menjelang malam, padahal ini jam 7 pagi. Aku memang menyukai dingin, biasanya. tapi dinginnya musim dingin kali ini, kurasa lebih dari sekedar dingin, ini adalah musim beku. Well, hanya bagiku.
Aku mengenakan Sweater ungu yang cukup tebal tanpa melapisinya dengan jaket, sehingga aku jadi menyesal. Aku kira musim dingin di Alaska ini setidaknya tak jauh berbeda dengan musim dingin di tempat asal-ku, Paris.
"huuufft..." aku menghela nafas panjang. Aku akan merindukan Paris-ku. Kota tercinta-ku. Dengan semua kebudayaan modis dan moderen-nya. Aku tak kan mendapatkannya di Alaska ini. Kota kecil, dingin dan terbelakang ini, setidaknya menurutku.
Umurku enam belas sekarang, dan aku baru beberapa bulan menjadi murid high school di Paris. Aku belum cukup puas dengan kehidupan remaja-ku yang baru beberapa bulan itu. Dan kini, sisa masa remaja-ku, akan ku habiskan di tempat yang konyol ini! Oh my God!
Mom adalah penyebab kepindahan buruk ini. Mom seorang dokter. Dokter yang berjiwa sosial. Lebih tepatnya 'terlalu berjiwa sosial'. Beberapa minggu sebelum kepindahan kami, ia mendengar terdapat wabah virus cukup berbahaya (bukan berarti mematikan) menyebar di sebagian penjuru Alaska. Setidaknya Alaska membutuhkan seorang dokter ahli. Begitulah menurutnya.
Sebenarnya Mom tak menyuruh kami ikut pindah ke kota kecil ini bersamanya. Ia berjanji pada Dad akan pulang dua kali dalam sebulan dan akan selalu bersama kami tiap hari raya datang. Tapi Dad sangat menyayangi Mom. Ia tak-kan rela berpisah dari Mom walau hanya seminggu-pun. Aku juga sebenarnya, ku akui. Aku sayang keluarga ku melebihi apapun. Tapi aku tak kan bisa bertahan di kota seperti ini.
Aku berbelok di pertigaan, menuju ke Alaska's High School. Ini sangat buruk. Beberapa anak melewatiku dengan mobil-mobil bobrok-nya dan mengerling kearahku seakan aku orang miskin yang tidak mampu beli mobil dan berjalan kaki kesekolah. Itu tidak bisa diampuni! Mereka harus tahu, aku anak Paris dan jelas-jelas level-ku jauh lebih tinggi dari pada mereka! Dan mereka seharusnya bersyukur dokter ahli seperti Mom sudi menghabiskan waktu-waktu emasnya di tempat kumuh ini! Dan mereka akan tahu, jika mobilku sudah dibetulkan, sedan hitam 1999-ku akan menjadi yang termewah di sekolah itu, bahkan mungkin seluruh kota ini.
"Huft..." aku menghela nafas panjang sekali lagi. Ini buruk. aku harus mulai bersosialisasi dari awal. Padahal itu bukan keahlianku.
Beberapa ratus meter dihadapan-ku, aku melihat sebuah gedung panjang bercat putih kusam. Ya Tuhan! Itu-kah high school-ku disini? Dad bilang aku akan bersekolah di High School yang terbesar di Alaska ini. Oh iya. 'di Alaska ini' berarti yang terbaik-pun akan menjadi yang terburuk di Perancis-ku. High school ini hanya terdiri dari dua gedung berlantai dua. Di satu sisi terdapat ruangan besar, yang kalau tidak great hall, ya gymnasium sekolah. Di gedung satunya lagi, kufikir adalah ruangan-ruangan kelas. Jika dilihat, terdapat setidaknya tidak lebih dari 20 kelas. Jauh dari high school-ku di Paris.
Aku berjalan masuk ke sekolah kecil ini. Langsung ke ruang Tata Usaha ketika aku memasuki gedung itu. Beberapa anak memandangku penasaran sebelumnya. Tersenyum-pun tidak. Mereka tak tersenyum pada-ku, aku-pun tidak. Kufikir akan sulit mendapatkan teman baik disini.
Seorang wanita muda menoleh kearahku ketika aku membuka pintu yang berbunyi itu. Umurnya tak lebih dari dua puluh lima kurira. Sweater hitam yang agak longgar yang ia kenakan tarlihat sangat kontras dengan kulitnya yang putih pucat.
"ada yang bisa ku bantu miss?" ia tersenyum kecil kearah ku.
"aku Gabriella Crown" aku balas tersenyum "baru pindah dari Paris, Perancis"
"oh" dia mengambil beberapa lembar dokumen dan mengarahkannya kearahku "silahkan di isi"
Kuambil dokumen pendaftaran itu dan mengisinya. Kurasakan wanita tadi terus menatapku. Kufikir dia tak pernah bertemu orang dari luar Alaska sebelumnya.
Kuserahkan dokumen itu setelah selesai mengisinya.
"Dad akan transfer semua biayanya"
Ia tersenyum dan mengambil kertas lainya untuk-ku "ini jadwal pelajaranmu" lalu ia mencari kertas lainnya di laci mejanya. Tak ia temukan apa yang ia cari, ia menatapku "kufikir kau akan membutuhkan peta sekolah kita. Tapi... aku lupa tadi meletakkannya dimana" ia mengakui.
Kulihat jadwal pelajaran ditanganku. Sastra inggris pelajaran pertama-ku.
"jadi, akan kuberitahu saja dimana letak kelas-kelas mu hari ini. Kuharap kau akan mengingatnya. Ruangan ke tiga..."
"okay okay ma'am... aku akan baik-baik saja. Just tell me, di mana kelas sastra inggris?" aku tahu dia tak akan suka jika kupanggil ma'am. Tapi aku juga tersinggung dengan kata-katannya 'kuharap kau akan mengingatnya'. Dia fikir anak alaska lebih pintar dari anak Paris? Ha? No way!
Ia memberitahuku dengan mengerucutkan bibirnya. Aku akan dengan mudah menghafal semuanya jika sekolahnya sekecil ini. Di Paris' International High School saja aku sudah bisa menghafal seluruh ruangan beserta guru dan mata pelajarannya dalam waktu kurang dari satu minggu. Masalahnya bagaimana aku akan mengetahui kelas keduanya? Ah, itu mudah. Aku pasti akan mengenal beberapa anak di kelas sastra inggris.
Aku berjalan lambat memasuki kelas itu. Sial. Kelas itu sudah di mulai. Seorang wanita paruh baya sudah mulai memasang layar dan menyiapkan VCR dan tape. Pelajaran hari ini jelas hanya menonton. Beberapa cowok memandang kearahku. Jelas bukan karena terpesona, karena aku tidak termasuk cewek cantik di Paris.
"permisi" wanita itu menengok. Ia bernama Mrs. Wenson jika dilihat dari papan nama yang terlampir dikemejanya.
"siswi baru di sastra inggris?" ia bertanya ramah dengan logat english yang sempurna. Rambutnya yang kemerahan memberi kesan ia sering berjemur dipantai. Yang jelas bukan disini jika itu benar. Berjemur dipantai Alaska berhari-hari-pun tak kan membuat rambut coklat berubah menjadi merah seperti itu.
"yes ma'am"
"kalau begitu silahkan perkenalkan dirimu"
Kurasakan seluruh mata diruangan ini tertuju padaku. Aku benar-benar tak pernah menjadi pusat perhatian sebelumnya. Dan aku-pun tak tahu bagaimana menanggapinya. Kurasakan wajahku memerah karena malu.
"well..." aku memulai "namaku Gabriella Lucy Crown. Aku baru saja pindah dari Paris, Perancis. Kurasa kalian tahu." Mereka masih menatapku dengan pandangan ingin tahu "mohon bantuannya" kulihat beberapa anak tersenyum. Aku sedikit lega.
"miss Crown, kau boleh duduk di sebelah miss dutter"
Aku berjalan menuju satu-satunya bangku kosong diruangan itu. Seorang gadis telah menduduki bangku sebelahnya. Ia tersenyum kearahku dan aku membalas senyumannya. Rambutnya gelap denga kulit yang putih pucat. Ya ampun. Baru kusadari semua yang berada disini berkulit putih pucat. Well, sebenarnya tak mengherankan mengingat cuaca disini tentu 99,99 % dingin.
"hai" sapanya ragu setelah aku duduk. Aku menoleh "aku Scarlett Dutter. Panggil Scar juga boleh" aku tertawa. Scar mempunyai arti 'bekas luka'
"Gabriella Crown. Singkatnya El atau Ella" ia mengajak berjabat tangan.
"aku suka kulitmu" ia menatap kulit kecoklatanku.
Pelajaran pagi itu sungguh membosankan. Aku telah menonton film yang seluruh percakapannya menggunakan old english ini berkali-kali, bahkan sebelum aku masuk high school. Dan jika melihat pandangan beberapa orang yang serius menonton ini, kufikir ini pertamakalinya mereka menonton film bersejaranh ini. Memang sih, beberapa orang menguap, termasuk Scar, cewek disebelahku. Tapi itu bukan karena telah berkali-kali menontonnya, melainkan karena film ini memang membosankan.
Akhirnya ku akhiri hari ini setelah lama tersiksa di kelas sastra inggris, kelas biologi, dan yang terburuk kelas sejarah, karena aku sudah pernah mempelajari semua itu di hari-hari awal-ku di paris' international High semua ini akan menjadi lebih mudah. Aku memang selalu kesulitan biasanya. kuharap akan berlangsung lama. Tapi yang terbaik tentu kelas olah raga-ku. aku memenangkan permainan bulu tangkis melawan seorang cowok yang tak aku ingat namanya.
"El!" Scarlet memanggilku ketika aku berbelok dipertigaan. Aku menoleh. "kau jalan kaki? Butuh tumpangan?" ia menawarkan.
Aku kesal dengan semua pandangan menghina anak-anak yang melewatiku dengan mobil-mobil bobrok mereka. Jadi ku-iya-kan ajakan Scarlet.
"boleh-kah?" ujarku berharap terdengar sangat senang, walaupun sebenarnya tidak terlalu.
Mobil Scarlet adalah mobil box mini dengan cat biru mengkilap. Setidaknya ini lumayan dari pada truk kebanyakan anak. Didalam terasa hangat ketika aku masuk. Walaupun aku tak begitu suka hangat, hangat yang ini nyaman. Jok yang aku duduki memang cukup empuk, walau-pun dengan per yang banyak keluar dari dalam kainnya.
"terimakasih banyak Scar!" aku turun dari mobilnya. Kulihat wajahnya takjub melihat rumah bercat biru agak kusam. Ia membuka jendela mobilnya.
"jadi... ini rumah-mu?!" tanyanya masih takjub.
"well, karena aku memintamu untuk menurunkanku disini, berarti IYA" aku menahan tawa sedikit "memang kenapa? Ada yang salah?" aku berpura-pura tidak tahu. Dia tentu sangat takjub dengan rumah 'besar' ini, menurut dia. Menurutku ini kecil. Well, rumah Paris-ku dua kali lipat dari ini setidaknya. Kami tak mempunyai kamar tamu disini. Dan tak ada ruang kerja untuk Dad. Kami hanya punya 2 kamar disini. Dengan dua kamar mandi dan ruang makan plus dapur dalam satu ruangan. Ini sangat kecil! Tapi setidaknya ini yang terbagus yang kami dapatkan di kota kecil ini. Dan untungnya, Scar melihatnya takjub. Dalam artian positif tentu saja.
"rumahmu sungguh besar!" pujinya bersemangat. "dan.. dan...!" ia melihat kearah garasi kami "kau punya Sedan?! Dan BMW keluaran baru?!" ia makin takjub. Aku jadi merasa sedikit tak enak memamerkan ini semua. "kenapa tak kau pakai kesekolah tadi?" tanyanya heran masih dengan takjub. Seakan ia tak pernah melihat mobil-mobil itu sebelumnya.
"well," aku menyamarkan tawa kecilku dengan berdeham "sedannya rusak. Pengantar paket tak melaksanakan tugasnya dengan baik" ujarku dengan nada kecewa yang dibuat-buat seakan tak peduli.
"kau harus membawanya besok!" ujarnya bersemangat "teman-teman tak akan bisa melepaskan pandangannya dari sedan-mu! Apalagi jika kau bawa BMW-nya!"
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-. -.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
"Dad, Mom? Kau sudah pulang?" terdapatnya BMW di garasi-ku itu berarti salah satu dari orang tua-ku telah pulang. Kufikir Dad, karena Mom pastilah sangat sibuk mempersiapkan alat-alat bedah plus ruang kerja baru-nya dirumah sakit. Well, aku yakin pasti dia satu-satunya dokter ahli yang telah lulus kuliah S2 disini.
"El? Kau sudah pulang?" Mom sedang duduk diruang tamu dengan seoang pria berkulit putih pucat. Aku tahu semua yang kutemui hari ini berkulit putih pucat. Tapi orang yang satu ini berkulit sangat pucat. Ia terlihat sangat tampan dengan rambut keemasannya. Aku pasti sudah sangat terpesona jika umurnya tidak kira-kira 30 tahun-an. Tapi setidaknya dia lebih muda dai Mom dan Dad. Ia memakai baju putih bersih – baju dokter – yang kelihatannya kalah putih dengan kulitnya yang kelihatan bekilau di bawah sorotan lampu bohlam murahan itu.
"oh, ini Dokter Calisle Cullen. Dan Carlisle, ini anakku, Gabriella" Mom memberitahu ketika aku sedang asyik memperhatikan dokter tampan itu "dia adalah rekan kerja Mom yang baru. Tak kusangka,dia sangat ahli! Bahkan Mom kalah. Mom tak menyangka menemukan dokter seperti dia di tempat seperti ini. Tahu begini, Alaska tak membutuhkanku"
Itulah Mom, wanita cerewet – kelewat cerewet sesungguhnya – tapi tetap sangat kusayangi.
Dokter Cullen tersenyum sopan mendengar pujian Ibu-ku yang berlebihan "oh, tentu tidak Marrie, kami sangat membutuhkan mu. Kau tentu lebih berpengalaman"
Aku sedikit terkejut menyadari kata-kata Mom sebelumnya 'dia sangat ahli, bahkan mom kalah'. Really? Mom tentu lebih ahli seharusnya daipada dia. Lihatnya banyaknya kerutan wajah yang mewakili ilmunya. Bahkan wajah dokter Cullen tak menunjukan sedikitpun kerutan menandakan betapa awam-nya seharusnya dia dalam ilmu kedokteran. Mana mungkin ia lebih hebat dari Mom dalamumurnya yang begitu muda? Apa Mom hanya memberi pujian kosong saja? Tapi Mom selalu jujur dan tak pernah salah menilai orang. Atau mungkin dokter Cullen memakai krim wajah dan sebagainya agar wajah yang sebenarnya tua itu tetap tampak awet muda? Aah.. sudahlah.
Aku berbalik memunggungi keduanya "okay mom, aku ingin istirahat dulu. Senang betemu dengan-mu sir"
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-. -.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
Berbulan-bulan di Alaska kuhadapi dengan perasaan riang setidaknya. Tak ada orang yang memberi pandangan menghina ke arahku lagi semenjak aku menaiki sedan hitam 1999-ku. Benar saja kata Scarlet saat itu, semua mata tertuju kearahku setiap aku melewati mata mereka. Mereka terpaku pada kilatan mewah mobil lama-ku ini. Haha.. aku makin punya banyak teman sejak saat itu. Scarlet tetap yang terdekat. Ada juga Maggie Grew, Lori Mckathy, Nick Scotlight, Mark Won dan yang paling kusuka Tom.
Tom Helton. Rambut hitam berkilaunya tak ada yang menyaingi. Kulitnya kecoklatan mengkilat membuatku iri. Tak banyak orang yang berkulit coklat disini sehingga aku yakin dia menjadi pujaan banyak cewek disini. Dan ya Tuhan! matanya hijau cemerlang bagaikan Zambrut. Dia begitu tampan! Dan yang lebih hebat adalah, dia suka pada-ku! Setidaknya begitulah yang ia bilang padaku. Aku sangat cinta padanya. Kurasa ia adalah cinta sejatiku. Melihatnya memandangku. Tak ada yang indah melebihi itu. Tak akan ada yang lebih tampan dari dia. Dia adalah anugrah terindah yang pernah Tuhan berikan kepadaku, sampai detik ini setidaknya.
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-. -.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
Ini tanggal 19 april, dan besok adalah hari ulang tahun ku. Tak ada 'libur satu hari menjelang hari ulang tahun' di sini, padahal ini hari sabtu. jadi terpaksa aku tetap berangkat ke sekolah. Tom telah menunggu-ku sesampainya aku di sekolah. Kami berjalan beriringan sampai ke kelas pertama kami, kelas Biologi. Ia terus memeluk pinggangku.
"El's" Mr. Ben belum datang kurasa. Aku menatap wajah tampannya. Mata zambrutnya. Jantungku bertedak cepat. Tak menyangka akan mendapatkan seorang pangeran setampan ini di tempat kumuh ini.
"besok adalah ulang tahun-mu, benar?" aku mengangguk perlahan. Aku yakin dia pasti ingat.
"so, kita bisa jalan malam ini. Kita akan melewati detik-detik kedewasaan-mu malam ini" ia terdengar bersemangat. Begitu juga aku.
Aku akan berumur tujuh belas tahun kurang dari 24 jam lagi. Dan aku tak sabar menunggu itu! Besok adalah hari yang selalu kunantikan dalam hidupku! Berumur tujuh belas tahun! Bukankah itu hebat!
"aku sangat setuju!" kupeluk dia sesaat sebelum Mr. Ben datang.
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-. -.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
Jam menunjukan pukul 09.00 pm. Aku sudah janjian dengan Scarlet untuk setidaknya mentraktirnya dulu sebagai pajak untuk berduaan dengan Tom saja nanti malam. Awalnya dia memaksa ikut tapi akhirnya menyadari aku sangat membutuhkan ini, Dia-pun mengalah.
Aku mengenakan jaket putih melapisi sweater pink-ku kali ini. Siang hari sudah terasa dingin disini. Apalagi tengah malam.
"Dad, aku akan pergi malam ini.." aku meminta izin pada Dad yang sedang asyik menonton pertandingan bola-nya. Biasanya aku lebih suka ikut menonton pertandingan seru itu bersamanya, tapi cuti dulu ya untuk malam ini. Kita bisa nonton bersama lagi Dad, lain kali.
"mau kemana nona?" matanya masih fokus pada televisi layar tipis kami.
Aku meringis " aku ingin merayakan ulang tahun-ku, tentu saja"
Ia mengerling kearahku beberapa detik.
"aku akan pulang sebelum terang!" aku menambahkan "dan tak kan berbuat macam-macam. Aku janji" aku mengangkat tangan kanan-ku walau tahu ia tak kan melihatnya.
"ok sayang. Nikmati malam-mu" matanya tak melirikku lagi.
"terimakasih Dad. Salam untuk Mom" aku mengecup pipinya sesaat dan langsung lari kepintu sebelum ia berubah pikian.
Mom sedang dapat sif malam. Sebenarnya aku akan pulang terlebih dahulu dari pada dia mengingat ia baru akan pulang sekitar jam 8 pagi besok. Aku berkata seperti itu hanya untuk menyenangkan Dad, setidaknya.
Aku memasukan kunci sedan hitam-ku dilubang-nya dan mulai mengebut. Aku suka kebebasan sesungguhnya.
Aku sampai di depan rumah kecil ber-cat kuning kusam milik Scarlet. Ia sudah menungguku rupanya. Iamengenakan sweater coklat dan menenteng jaket birunya ditangan. Aku memencet klakson ketika kusadari ia tak menyadari kehadiranku. Ia terlihat sedikit gelisah.
Scarlet membuka pintu penumpang dan duduk, memandangku sejenak dengan wajah yang tak nyaman lalu menutup pintu.
"ada yang tak beres Scar?" tanyaku ragu sebelum memacu sedan ini.
"tidak kok. Tidak ada apa-apa" Scarlet bukanlah orang yang pandai menutup-nutupi perasaannya, jadi aku tau ia sedang gelisah dan khawatir. Aku tak ingin merusak suasana bahagia-ku, jadi tak ku ungkapkan pertanyaan-pertanyaan yang ingin kutanyakan.
"so, kau akan pergi dengan Tom malam ini?" tanyanya mencoba terlihat besemangat.
"ya, tentu saja. Inilah yang kutunggu-tunggu" aku menatapnya, ia kelihatan tak setuju "ada apa Scar? Beri tahu aku jika ada yang tak beres?"
Ia terlihat ragu-ragu "kau jangan terkejut, kumohon.."
Aku tak mengerti, tapi ku-anggukan kepalaku. Aku punya firasat, Ini pasti kabar buruk.
"kau temanku, jadi aku tak mau kau dijadikan mainan olehnya. Hmmft... maafkan aku El, tadi aku melihat Tom sedang jalan dengan cewek lain. Awalnya kufiki itu kau, sampai kau datang kesini"
"APA?! I.. ITU TIDAK MUNGKIN SCAR!" aku shock. Hampir saja sedanku menabrak seorang gadis kecil pejalan kaki. 'itu tidak mungkin..' aku mengulangi
"maafkan aku El's" ia menunduk menyesal.
"itu tidak mungkin! Mungkin kau salah lihat! Dia.. dia mencintaiku!" aku menepikan sedanku di trotoar. aku benar-benar tak bisa menerima ini. Pasti dia salah. Pasti dia salah lihat.
'Dia pasti salah lihat' aku megulangi.
Scarlet mengelus pundakku "maafkan aku jika aku salah. Tapi aku tak mau kau jadi mainannya. Lebih baik kita pastikan ini"
Aku setuju. Dia pasti salah. Aku yakin.
Aku kembali menyetarter sedan-ku. Tapi tangannya mencegah tanganku. "biar aku yang menyetir jika kau tak keberatan. Demi keselamatan kita bersama"
Aku setuju. Aku tak kan bisa mengemudi dengan baik jika seluruh tubuhku bergetar hebat seperti ini.
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-. -.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
Scarlet mengemudi dengan ragu-ragu seakan takut merusakan mobil yang baginya mewah ini. Aku pasti sudah tertawa jika seluruh otakku tidak memikirkan tentang Tom. Bagaimana bisa?! Aku.. aku sangat mencintainya! Dan dia.. dia adalah cinta sejatiku...
'Scar pastilah salah' aku meyakinkan diriku sendiri.
''Tom mencintaiku. Hanya mencintaiku. Hanya aku. Tak ada yang lain'' gumamku tak jelas hingga Scarlet menatapku dengan tatapan iba.
Kami bebelok di bundaran pusat kota. Scarlet sepertinya tahu ia harus kemana. Aku tak ingin menghabiskan suaraku saat ini. Jika Tom tidak sedang bersama cewek lain aku akan berteriak-teriak senang melepas semua perasaan kecewaku sekarang. Kalau ternyata – kuharap tidak – Tom memang bersama cewek alin, aku akan mengahbiskan seluruh suaraku untuk menangis menjerit-jerit sepanjang malam berbahagia-ku ini.
"ok" ia memarkir sedan-ku didepan sebuah tempat disko terkenal di kota ini "kita akan tahu semuanya disini." Aku tidak menjawab, masih memandangi papan bertiliskan Disco Time. Scarlet mengerti arti pandanganku
"well, cewek yang kulihat bersama Tom bekulit kecoklatan, kufikir hanya cewek disko-lah yang punya kulit kecoklatan, karena ber-uang banyak"
"ayo." Scarlet hampir membuka pintu ketika cowok familiar berambut hitam bekilau dan berkulit coklat licin keluar sambil memeluk mesra seorang cewek cantik.
"TOOOOM!" aku membuka pintu sedan-ku, tapi tidak bisa. Ternyata Scarlet telah lebih cepat menguncinya.
"BIARKAN AKU KELUAR SCAR!" perintahku marah. Aku memandangnya dalam. Biasanya akan berhasil membuat ia menuruti perkataanku jika saja airmata-ku tidak mengalir. Aku juga tak tahu mengapa. Biasanya jika aku pandangi seseorang dalam-dalam dan berkata apa yang kuinginkan, mereka akan menurut walaupun tidak dengan sukarela. Biasanya mereka akan menyesal setelah menyadarinya dan lebih berhati-hati pada-ku.
Emosi-ku benar-benar telah sampai puncaknya. Aku benar-benar kecewa. Sakit. Terluka. Aku akan menghabisi dia! Oh tidak, mereka berdua! Ya, aku akan menghabisi mereka berdua!
"biarkan aku turun Scar!" aku masih beusaha mendorong-dorong pintu sedan itu walau ku tahu hasilnya nihil.
"tenanglah El. Please.. lebih baik kau begini. Hidup tanpanya. Kau akan menemukan cinta sejatimu, dan aku yakin bukan dia" Scalet mengelus pundakku.
Air mataku mengalir "a... aku tak bisa Scar" aku memeluknya. Dunia seakan hancur. Bukan seakan. tapi Dunia memang hancur. Ya, dunia memang hancur.
Scarlet membukakan pintunya ketika mereka berdua telah pergi dengan truk putih murahan-nya Tom.
"aku yang menyetir" pintaku. Aku memandangnya dalam-dalam. Kali ini berhasil. Ia menyerahkan kunci sedanku dengan ragu. Air mata-ku memang sudah mereda.
Aku mengemudi dengan ugal-ugalan menuju ke rumah Scarlet, mengantarnya pulang.
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-. -.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
Jam menunjukan pukul 10.00 pm. Kulihat truk putih itu berhenti di depan sebuah rumah yang besarnya tak kurang dari rumah-ku. rumah cewek simpanan pujaan-ku. mereka keluar dari mobil dan kulihat mereka berciuman mesra sebelum berjalan saling memeluk perlahan dan memasuki rumah itu. Hampir saja aku keluar dari sedan-ku dan meledak. Tapi kutahan semua itu. Rencanaku akan gagal jika aku melakukan semua itu. Ya. rencana. Aku telah menyusun sebuah rencana HEBAT. Kau akan tahu segera.
Mereka berdua masuk dan aku segera keluar dari sedan-ku. dengan membawa sebuah gunting kecil aku berjalan diam-diam mendekati mobil Tom. Dengan hati-hati aku membuka pintu truk itu, yang aku yakin tak dikunci karena itulah kebiasaannya.
Aku memotong kabel rem truk itu. Aku yakin ini berhasil. Aku sering melihatnya di film-film action.
Aku cepat-cepat kembali ke mobil-ku setelah melakukan kejahatan-ku. aku memacu mobil-ku cepat ke suatu hutan bagian atas alaska ini. Rumah Tom. Aku yakin ia akan mengajak cewek murahan itu menginap dirumahnya karena besok adalah hari minggu. Hari libur. Mereka akan kena. Mereka akan mati! Kau akan merasakannya Tom! Perasaan sakit ini sebenarnya lebih buruk dari kematian! Tapi kematian cukuplah untukmu. Karena aku masih menyayangimu dari lubuk hati-ku yang terdalam.
Tom biasanya akan melacu kencang menuju rumahnya dan mengerem mendadak ketika sampai di depan rumahnya. Rumahnya, bersebelahan dengan tebing. Dan itu sangat membantu. Mereka akan jatuh kejurang. Kuharap tak ada yang sendang hiking dibawah, karena bawah tebing ini adalah hutan.
Aku memarkir sedan-ku dibawah pepohonan gelap. Sebenarnya tanpa bersembunyi-pun aku tahu mereka tak akan melihatku di malam tanpa bulan ini. Malam yang mengerikan ini.
Aku mendengar, samar-samar dari kejauhan suara mobil melaju kencang. 'Ini akan behasil!' batinku dan aku menyeringai senang. Truk Tom lewat dihadapan-ku. dan aku sangat terkejut melihat kearah truk putih dengan kaca transparan itu. Hanya Tom. Tom sendirian dalam truk itu. Tak ada cewek murahan itu.
deg .
Tiba-tiba rasa penyesalan memenuhi diriku.
"apa yang aku lakukan?!" aku cepat-cepat berlari mengejar Tom.
Terlambat.
Aku melihat truk putih itu melaju cepat menembus tebing curam itu.
"TOOOOOOOMMM!" air mataku meleleh seketika.
Apa yang sudah kulakukan?! Aku pembunuh! Aku membunuhnya! Aku membunuh kekasih hati-ku! apa yang membuatku melakukan semuanya tadi?!
"Bisa-bisanya kau melakukan itu El?!" aku menjerit di tengah hutan kosong itu "bisa-bisanya kau membunuh Tom?!" kakiku lemas dan aku-pun terjerembab di tanah yang lembab.
Emosi-ku tadi mengalahkan segalanya. Hanya rasa sesal yang kuterima sekarang.
Aku cinta kau Tom!
aku merangkak menuju sedanku dan menaikinya. Kuputar kuncinya dan mulai berjalan, melaju kencang. Aku tersenyum.
Aku akan menyusul Tom.
Aku akan menyusul Tom ke sana.
Aku akan menyusul Tom ke surga.
Kubiarkan sedanku tetap melaju ketika aku telah melewati batas tebing.
"aku mencintaimu Tom .." aku menutup mata dan tak bisa mengingat lagi apa yang terjadi.
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-. -.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
Samar-samar terdengar suara orang-orang berdebat disekelilingku. Begitu ribut hingga membuatku terbangun, tapi mata-ku masih tertutup. Susah sekali untuk membukanya. Lengket. Seakan-akan aku sudah tidur berhari-hari.
"ini hebat!" suara cewek terdengar bergairah.
"kau menambah satu lagi ke keluarga kita?" sekarang cowok. Tapi terdengar datar
"a.. apa yang kau lakukan Carlisle?! Teman-mu pasti akan mencarinya!" yang ini suara cewek, tapi bukan cewek yang pertama. Nadanya sepertinya marah.
Carlisle? Dokter Carlisle Cullen? Temannya mom? Apa yang sedang ia lakukan disini? Lebih tepatnya, apa yang sedang aku lakukan disini? Di mana aku? Apa yang terjadi? Mengapa aku bisa berada di tengah-tengah orang yang tak ku kenal -keluarga dokter Cullen- ini?
"aku sedang berburu dan kulihat dua mobil tejun dari atas jurang. Seorang anak laki-laki kutemukan sudah mati. Dan aku melihat gadis ini masih sedikit bernafas. Aku tak tega Rose, dia adalah anak rekan-ku. aku tahu setelah ini dia tak akan bisa bertemu dengan orang tua-nya lagi, tapi aku tak bisa membiarkannya mati." Dokter Cullen terdengar bingung.
"kau melakukan hal yang benar sayang" seorang wanita menentamkan. Suaranya keibuan.
"terimakasih Esme .."
Tiba-tiba rasa sakit yang amat sangat menyerangku. aku mengerang. Aku memegangi lenganku dan menggeliat. "arrggh!"
Dan aku tak sadarkan diri lagi.
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-. -.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
A/N ::
Thanks so much for read ! :D sebelum lanjut ke chapter ke dua nya, review please ~ *-*
