- Tittle : Akhir Hidup, Awal Keabadian
- Chapter : 2/2
- Author : Tasha
- Ratting : T
- Timeline : ketika Edward dan keluarganya masih bertempat tinggal Alaska, sebelum ke Forks
- Main Cast : Gabriella Lucy Crown
- Cast : SELAIN Edward and his family (Mr, Mrs Cullen, Alice, Jasper, Rosalie, Emmett), all cast is OC . Edward and his family milik momma Stephenie Mayers :)
Okay .. part ke dua nya :)
_HAPPY READ, ENJOY !_
Akhir Hidup, Awal Keabadian
Sudut pandang Gabriella Lucy Crown (Gabriella POV)
Samar-samar terdengar suara orang-orang berdebat disekelilingku. Begitu ribut hingga membuatku terbangun, tapi mata-ku masih tertutup. Susah sekali untuk membukanya. Lengket. Seakan-akan aku sudah tidur berhari-hari.
"ini hebat!" suara cewek terdengar bergairah.
"kau menambah satu lagi ke keluarga kita?" sekarang cowok. Tapi terdengar datar
"a.. apa yang kau lakukan Carlisle?! Teman-mu pasti akan mencarinya!" yang ini suara cewek, tapi bukan cewek yang pertama. Nadanya sepertinya marah.
Carlisle? Dokter Carlisle Cullen? Temannya mom? Apa yang sedang ia lakukan disini? Lebih tepatnya, apa yang sedang aku lakukan disini? Di mana aku? Apa yang terjadi? Mengapa aku bisa berada di tengah-tengah orang yang tak ku kenal -keluarga dokter Cullen- ini?
"aku sedang berburu dan kulihat dua mobil tejun dari atas jurang. Seorang anak laki-laki kutemukan sudah mati. Dan aku melihat gadis ini masih sedikit bernafas. Aku tak tega Rose, dia adalah anak rekan-ku. aku tahu setelah ini dia tak akan bisa bertemu dengan orang tua-nya lagi, tapi aku tak bisa membiarkannya mati." Dokter Cullen terdengar bingung.
"kau melakukan hal yang benar sayang" seorang wanita menentamkan. Suaranya keibuan.
"terimakasih Esme .."
Tiba-tiba rasa sakit yang amat sangat menyerangku. aku mengerang. Aku memegangi lenganku dan menggeliat. "arrggh!"
Dan aku tak sadarkan diri lagi.
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-. -.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
Aku membuka mataku perlahan-lahan. Terasa sulit sekali karena kelihatannya aku telah tidur berhari-hari.
Aku berbaring disebuah ranjang putih bersih di sebuah kamar yang sangat mewah, bahkan lebih mewah dari pada kamar-ku di Paris.
Aku di mana?
Perlahan-lahan aku bangkit. Aku duduk dan memeluk bantal yang tadi kupakai untuk alas kepalaku.
"dia sudah sadar~" dendang seorang cewek yang kedengarannya periang terdengar dari sebrang kamar. Suara itu asing sama sekali.
Pintu kamar ini terbuka.
Seorang wanita 20 tahun-an masuk, diikuti dokter Cullen.
"oh, dokter?!" aku merasa sedikit senang dan lega. Setidaknya ini berarti aku bisa kembali pulang.
"ya Gabriella" ia menjawab. Wanita yang kuyakin istrinya itu duduk di ujung ranjang di sebelahku.
"aku Esme. Istri Carlisle" ia memperkenalkan dirinya. Wajahnya berbentuk hati dengan rambut kecoklatan, seperti rambutku.
"aku dimana? Apa yang terjadi denganku?" aku memburu, to the point.
Dokter Cullen menghela nafas dan memandangku iba. Apa yang terjadi?
"aku akan menceritakan semuanya padamu. Kumohon kau jangan terkejut atau apa." Dokter Cullen mengambil bangku logam diujung ruangan dengan satu tangan. kelihatannya kursi itu terlalu ringan. Ia meletakannya di depan aku dan Istrinya lalu duduk.
Dia tak jua bersuara. Jadi aku yang mengeluarkan suaraku "ok. Apa yang terjadi sir?"
"pertama aku ingin tanya, apa yang terjadi? Malam itu, ketika mobil sedan hitammu terjun ke jurang bersama truk putih dengan pria didalamnya."
Seketika kejadian malam itu berputar dikepalaku dengan cepat bagaikan sebuah rekaman. Tak kusadari aku menjerit hingga kurasakan tangan dingin menenangkan-ku.
"a.. a.. aku membunuh Tom" aku mulai menjerit lagi. Bantal yang ku peluk tadi robek dan kempes. Padahal aku hanya menggenggam ujungnya. Bulu-bulu berjatuhan kelantai.
"ssstt... tenanglah Gabe" Mrs. Cullen memelukku keibuan
"apa yang terjadi dengan Tom? Apa dia disini?" kulihat Dokter Cullen menunduk tanda negatif. Rasa bersalah memenuhi benakku. Namun setelah beberapa saat malah rasa marah yang menghampiri-ku.
"biarkan saja! Itu akibatnya mempermainkan aku!" aku menggeram dan kurasakan tepi tempat tidur yang terbuat dari logam itu membengkok karena genggamanku.
Ha? Bagaimana bisa? Apa aku sekuat itu?
"sekaarang kau bisa mengantarkan-ku pulang. Aku sudah cukup merepotkan kalian dan mereka pasti akan amat sangat menghawatirkan aku" aku bediri. Tapi tangan dokter Cullen mencegahku.
"maafkan aku, miss Crown" ia memandang sedih kearahku "kau tidak boleh pulang. Kau sebenarnya sudah mati..."
"apa?!" aku terkejut tak mengerti. jelas-jelas aku masih bisa bangun saat ini, membuka mataku lebar-lebar, menarik nafas-ku dalam-dalam dan mendegarkan detak jantungku yang teratur. Detak jantung. Baru kusadari, aku tak merasakan detak jantungku! Aku mengangkat tanganku dan meletakannya di dada. Tak ada gerakan. Tak ada getaran. Tak ada suara. Tak ada detak jantung.
"ba.. bagaimana bisa..." lirihku lemas. Dokter dan kelihatannya sudah tau aku menyadarinya.
"dengarkan aku Gabe, .." dokter Cullen memulai
"El!" potongku
"ok ok, dengarkan aku El's, kau tahu seharusnya tak mungkin ada yang bisa selamat jika jatuh dari tebing setinggi itu" aku mengangguk. "bukankah kau seharusnya merasa aneh, bagaimana kau bisa selamat?" aku mengangguk lagi. "dan bukan-kah kau ingin tahu bagaimana aku menyelamatkan-mu?" lagi-lagi aku mengangguk.
Dokter Cullen menghela nafas sesaat "coba kau tahan nafas, selama yang kau bisa" ia memintaku.
"tak akan bisa lebih dari tiga menit" aku meyakinkan "aku selalu menjadi yang paling lema di klub renang karena aku tak bisa lama menahan nafas"
"Just try it, honey" Mrs. Cullen mengulangi, dan tersenyum.
Jadi aku menutup mulutku rapat-rapat dan menutup hidung-ku dengan kedua jari-ku. detik-detik berlalu. Menit-menit berlalu. Aku terkejut ketika melepas jariku dari hidung. Kira-kira setengah jam berlalu. Aku sama sekali tidak merasa kehabisan nafas. Aku membelalak kaget. Kutarik nafas dalam
"bagaimana bisa?!"
perlahan-lahan aku mengerti kalau sebenarnya aku bukan-lah seorang manusia lagi. Aku pernah baca yang seperti ini dibuku.
"Ja.. jadi.. apakah aku bukan manusia... sekarang ini?" tanyaku lambat-lambat.
"aku akan menceritakannya sekarang." Dokter Cullen bergumam "kemarin akusedang berburu di hutan dan aku melihat mobil-mu dan mobil si-Tom ini.." aku sedikit menggeram mendengar nama itu "terjatuh dari tebing. Aku segera mendatangi kalian. Lelaki itu sudah taksadarkan diri. Sementara kau sudah sekarat namun masih bernafas. Aku tak bisa menyelamatkan-mu. Aku tak membawa peralatan dokter apa-pun" sedikit tertawa
"dan..?"
"well, pertama kau harus tahu, kami ini adalah... vampire"
Aku sedikit terlonjak. Vampire? Jadi aku seorang vampire sekarang ini? "jadi.."
"ya. aku menggigit-mu" ia terdengar sangat menyesal.
"jadi, kau menyelamatkan-ku, dengan mengubahku menjadi vampire?" tanyaku lagi masih belum yakin dengan pendengaranku. Aku tak pernah percaya dengan dongeng-dongeng seperti itu.
"ya."
"dan.. sekarang aku hidup seebagai vampire?"
"ya"
Aku berfikir sebentar.
Tunggu.
Jadi itu yang menyebabkan bantal ini robek dengan mudah dan logam tempat tidur bengkok karena genggaman-ku? karena aku seorang vampire? Karena aku vampire yang kuat?
Ini hebat! Setidaknya aku masih hidup sekarang. Dad dan Mom tak perlu mencemaskanku karena aku akan segera pulang. aku sayang mereka tentu aku tak akan menyakiti mereka. Aku sedikit merasa senang.
"terimakasih banyak Dokter telah menyelamatkan-ku!" aku berterimakasih dengan suara ringan, bersungguh-sungguh.
Aku mendengar suara tawa kecil dari seberangruangan. Pasti anak-anak mereka menguping. Tapi, memangnya apa yang lucu?
Mrs. Cullen memandangku aneh.
"kalian boleh mengantarku pulang sekarang. Terimakasih banyak atas segala kebaikan kalian sekali lagi" aku berdiri lagi dan lagi-lagi dokter Cullen menahanku tetap duduk.
"tunggu dulu miss. Kurasa kau belum mengerti"
Aku hanya memandangnya tak mengerti
"kau adalah vampire! Dan vampire sangatlah berbahaya seperti yang pastinya sering kau baca dalam buku"
"ya, ya. aku tahu sir. Tapi aku tak mau mereka khawatir. Lagipula meekaorang tua-ku. aku tak mungkin mencelakakan mereka tentusaja"
Mereka berdua memandangku terkejut dan aneh.
"kau belummerasakan bagaimana rasanya dahaga vampire sayang" Mrs. Cullen tertawa kecil.
"kau tak mengerti Gabe.."
"El!"
"ok ok, kau tak mengerti El. Seperti jika kau berada di suatu ruang tertutup berisi .. umm.. "
"Pizza Keju" suara indah seorang cowok menyaut dari sebrang ruangan.
"ya. berisi pizza keju. Apa yang kau lakukan jika kau berada di suatu ruangan berisi pizza keju?"
"tentu akan langsung kuhabiskan pizza itu" eh? tunggu. bagaimana ia tahu aku sangat suka pizza keju?
"nah.. itu yang akan terjadi pada orang tua-mu jika kau terus berada didekat mereka"
"seburuk itu-kah?!" aku terkejut
"ya"
"jadi..."
"kau harus tinggal disini. Bersama kami. Kami akan merawat-mu El's"
"ta.. tapi.. mereka pasti akan sangat menghawatirkan aku. Aku tak akan sanggup berpisah dari mereka. Aku sayang mereka..." rasanya aku ingin menangis, tapi aku tahan sekuat tenaga. Mrs. Cullen memelukku erat "tenanglah sayang. Tak akan seburuk itu"
"ta.. tapi.. jika aku tak boleh tinggal dengan mereka, ..."
"mereka tahu-nya kau sudah mati"
"ya Tuhan! Mereka pasti sangat sedih..." Aku balas memeluk Mrs. Cullen. pelukannya seperti pelukan sayang Mom. Hanya saja pelukan Mom lebih empuk dan hangat. begitu keras dan dingin. Aku diam sejenak.
"aku anak mereka satu-satunya, kalian tahu.." lirih-ku sedih "aku sangat menyayangi mereka..."
"kami tahu sayang... karena rasa sayang-mu pada mereka-lah yang membuat-mu harus tetap tinggal disini. Kau akan menyakiti mereka jika kau berada didekat mereka walau tak sengaja, percaya-lah"
Tidak ada yang berbicara lagi. Sunyi melanda kamar ini untuk beberapa menit.
"ok, sekarang saatnya kau berkenalan dengan anggota keluarga baru-mu!" ujar dokter Cullen tiba-tiba, terlihat bersemangat.
"anggota keluarga baru?" tiba-tiba dokter Cullen telah membukakan pintu kamar. Dengan ragu aku berdiri dan mendorongku perlahan keluar dari kamar itu.
Aku melihat dua cewek dan tiga cowok sedang duduk disofa menonton televisi. Usia mereka pastilah lebih tua semua menoleh ketika aku, dokter Cullen dan mendekat. Kufikir awalnya anak-anak mereka pastilah tak lebih dari sepuluh tahun melihat betapa mudanya mereka. Ternyata aku salah. Mereka semua memiliki kulit putih pucat yang terkesan berkilau, sama seperti orang tua mereka.
Cewek pertama berambut hitam kelam dipotong pendek dan lancip-lancip. Tubuhnya kecil, kurus dan mungil bagaikan peri. Senyumnya ceria dan bersahabat.
Cewek kedua lebih tinggi, dengan tubuh sangat indah bagaikan seorang model, menatap-ku dengan tatapan dingin. Rambut emasnya tergerai indah sampai ke bahu-nya.
Cowok yang duduk paling dekat televisi berambut pirang keemas-an. Mirip cewek tadi. Tubuhnya tinggi dan langsing, namun tetap berotot. Raut wajahnya datar.
Cowok kedua berambut hitam ikal. Tubuhnya sangat besar dan berotot, bagaikan seorang atleet profesional. Ia memandangku sambil nyengir.
Cowok terakhir, yang duduk disofa kecil, berambut perunggu berantakan. Tubuhnya lebih kecil dari yang lainnya. ia memakai kemeja biru, sehingga aku tak yakin ia memiliki otot seperti yang lainnya atau tidak. Sial. Dia sangat tampan. senyum simpulnya sangat menawan. Ya Tuhan! Dia bukan manusia (memang bukan sih) tapi dia Malaikat!
Tiba-tiba senyumnya hilang. Ia menatapku dengan mengerutkan kening. Lalu beberapa menit kemudian ia seakan menahan tawa.
"ok kids... dia akan jadi anggota baru keluarga kita" Dokter Cullen duduk di sofa kecil sebelah cowok berambut perunggu tadi. membimbingku duduk di sebelah cewek berambut pendek gelap tadi. Ia tersenyum tak berkata apa-apa,menghormati ayah-nya kukira.
"Namanya Gabriella Crown,.."
"Lucy! Gabriella Lucy Crown" aku memotong. Aku selalu suka nama tengahku.
Dokter Cullen tertawa "baik nona" aku tersenyum.
"akan ku kenalkan. Gadis disebelah-mu itu Alice" aku menatap gadis disebelahku yang tersenyum lebar.
"Alice Cullen" katanya ramah. Jari-jari lentik mungilnya mengajakku berjabat tangan.
"dan dia Rosalie" dokter Cullen menunjuk gadis sempurna tadi. Ia mengalihkan pandangannya seakan tak tertarik.
"dia Rosalie Hale" bisik Alice.
"Hale? Kalian bukan saudara kandung?" mereka semua tertawa mendengar teguranku.
"kami semua tidak ada yang saudara kandung sayang" memberitahu.
"maksudnya?"
"ya sepertimu. Kami juga akan merubah nama keluarga-mu. Jadi mereka tak curiga"
"lalu, mengapa Rosalie Hale, bukan Rosalie Cullen?" tanyaku masih tak mengerti.
"kami masih sangat muda seperti yang kau lihat. Sekitar tiga puluh tahunan kan? Jadi kami tentu tak mungkin punya anak sebesar mereka" Dokter Cullen menjelaskan dan tertawa "jadi, ceritanya mereka adalah anak angkat kami. Kami membaginya menjadi dua karena mereka tidak mirip. Rosalie lebih mirip Jasper makanya kami membuat cerita, Rosalie adalah saudara kembar Jasper. Kami mengarang nama 'Hale'. Sementara yang lain ceritanya adalah anak dari sepupu-ku dan ku angkat mereka sebagai anak"
Pasti yang namanya Jasper yang berambut pirang emas karena Rosalie sekarang menatap-nya dengan tatapan 'aku jauh lebih sempurna dibandingkan dia'.
"dia-lah Jasper. Kau pasti sudah melihat kemiripannya kan?" mereka semua tertawa kecuali Rosalie. Ia menatapku garang.
"dan ini emmett" cowok yang berambut gelap itu meninju lenganku dari balik bahu Alice. "Emmett Cullen" ia nyengir kearahku.
"dan dia Edward. Cullen tentu saja." Dokter Cullen menepuk punggung cowok berambut perunggu itu.
Ya tuhan! Dia sangat tampan! Aku ingin memilikinya!
Ia tertawa sekilas "aku tidak bekencan nona" otomatis semua yang ada diruangan itu tertawa. Aku benar-benar malu. Dia seperti bisa membaca fikiran saja! Tapi yang benar-benar kukagetkan adalah aku tak merasakan wajahku memanas dan memerah. Biasanya darah langsung mengalir ke pipi tembem-ku jika aku sedang malu. Tapi kali ini tidak.
"kau suka Edward?!" Alice terkejut "jangan tersinggung Gabe.."
"El!" potongku.
"ok ok, jangan tersinggung El's, dia tidak normal. Dia tak tertarik dengan siapa-pun. Bahkan Rosalie-pun tidak." Rosalie mengerucutkan Bibir. Ia jelas tersinggung dengan perkataan itu. Padahal menurutku perkataan Alice mengandung arti 'bahkan Edward tak tertarik dengan wanita sempurna sekalipun'. Itu kan pujian.
"Jelas Edward tak tertarik padanya! Jika ia berani tertarik pada Rose, ia akan menghadapiku!" Emmett menunjukan tinju besarnya dengan wajah nyengir. Edward menampik kepala Emmet. Mereka tertawa.
"bagaimana bisa ia mengetahui apa yang aku fikirkan?" bisikku pada Alice ketika semua sedang asyik menonton pergulatan Emmet versus Edward.
Alice tertawa sebelum menjawab "well, seperti yang seharusnya sudah kau duga.."
"dia bisa membaca pikiran?"
"yup"
Ini parah. Ia akan bisa selalu -tahu apa yang sedang kufikirkan tentangnya. Aku tak akan bisa kehabisan rasa malu!
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
"Jadi mulai sekarang nama-mu Gabrielle Cullen, ok?" dokter Cullen memberitahuku sebelum ia menaruh tas-nya ke bagasi mobil Mercedez S55 AMG, mobil terkeren yang pernah kulihat. Well, satu hal lagi yang bagus. Mereka orang kaya dan aku tak akan merasa tersiksa hidup bersama mereka.
"ok dokter!" jawabku bersemangat
"just call me Carlisle, okay?" pintanya seraya tersenyum hangat.
"oke" aku tersenyum senang. Itu akan terdengar akrab "apa kau juga akan memintaku memanggil dengan nama Esme?"
Carlisle tertawa "tentu saja. Tentu saja bukan aku yang akan memintamu, maksudnya. tapi dia snediri."
"ya. aku suka kau memanggilku Esme sayang" tiba-tiba Mrs. Cullen muncul dengan gerakan gemulai. Aku terpesona. Keluarga ini benar-benar keluarga yang hebat!
"Carlisle .. aku ingin tanya, mengapa kau beri nama-ku Cullen, bukan Hale?"
"well, kau memiliki rambut gelap setidaknya seperti para Cullen"
"wah.. betambah lagi satu Cullen. Hale akan terkeroyok nih" Jasper muncul tiba-tiba, memasukkan ransel besarnya ke dalam mobil. Aku merasa ia mencairkan suasana dan aku jadi ikut tertawa. Rasanya nyaman berada didekatnya.
Well, kami telah memutuskan untuk pindah ke sebuah kota kecil bernama Forks, kota kecil di semenanjung Olympic di barat laut Washington. Kini aku tahu alasan mengapa Mereka tinggal di Alaska ini. Alasannya karena kulit vampire mereka terlihat sangat mencolok jika berada di bawah sinar matahari. Alice mengibaratkan dengan 'berkilau' dan Esme mengibaratkan dengan 'bersinar'. Itu pasti perumpamaan. Aku tak tahu kenyataannya karena aku sendiri belum lihat. Di sini hanya sehari dalam setahun mungkin terjadi cuaca cerah. atau mungkin tidak sama sekali. Dan begitu lah Forks. Katanya tak jauh beda dengan Alaska. Kedengarannya sangat menyenangkan, ketika harus hidup selalu ditempat dingin. Aku suka dingin. Dan begitulah kulitku sekarang. Keras dan dingin. Aku merasa diriku ini terbuat dari keramik sekarang.
"ayo kita berangkat" ajak Carlisle.
"Carlisle..." aku memanggil orang yang akan menjadi ayah angkatku itu. Ia menoleh "boleh aku mengunjungi orang tua-ku, ku mohon. Untuk yang terakhir kalinya"
Semua memandang ku tak setuju, tapi tidak untuk Carlisle. Ia tersenyum seakan mengerti perasaan-ku "aku akan menemani-mu"
Kami berjalan beriringan – dengan sangat cepat – menembus pepohonan-pepohonan hutan, menuju rumah-ku, oh bukan, tapi rumah orang tua-ku dulu. Aku hampir saja menangis jika tak ada Carlisle disampingku.
Rumahku masih terlihat sama, rumah besar dengan cat biru kusam. Tapi jika dibandingkan dengan rumah Carlisle rumah ini nampak sangat kecil.
"hati-hati El's, kau tak boleh terlihat. Kau tahu peraturannya" ia mengingatkan-ku.
Aku mengangguk yakin. Aku masuk perlahan-lahan melalui jendela. Aku baru sadar sekarang aku sangat hebat. Carlisle menunggu-ku diluar. Aku senang ia percaya pada-ku.
Kamar-ku masih terlihat sama sejak terakhir aku meninggalkannya malam itu. Pasti Mom dan Dad sangat shock mendengar berita kematian-ku. aku yakin mereka belum menginjakan kaki ke kamar-ku ini semenjak malam itu.
Aku berjalan perlahan-lahan menuju meja belajarku. Ku ambil buku diary-ku dan membuka halaman terakhirnya yang masih kosong. Ku ambil pena dan menuliskan 'aku sangat sayang pada Dad dan Mom. Maafkan segala kesalahanku. Aku yakin aku bukan anak yang baik, tapi aku selalu menyayangi kalian berdua'. Di bawahnya kutulis –19 April–.
Aku berjalan mengendap-endap keluar kamar-ku dan mendapati Mom dan Dad sedang sarapan di ruang makan. Mereka tak melihatku dibalik pintu. Aku sangat senang bisa bergerak sangat luwes dan cepat. Jika tidak mereka pasti sudah melihatku.
Mom menjumput-jumput sandwich ikan-nya dengan tak berselera. Kulihat matanya bengkak dengan lingkaran ungu gelap dibawah matanya. Dia pasti sangat sedih mengetahui aku mati. Setidaknya kabar itu benar, mengingat jantungku sudah tak berdetak lagi. Aku sendiri tak melihat wajah Dad. Ia memunggungiku. Tapi juga tak terlihat berselera makan. Aku sedih melihat ini. Mom.. Dad.. maafkan aku...
Ingin rasanya aku berlari kearah mereka dan memeluk mereka seerat-eratnya, sebagai pelukan terakhir-ku. tapi aku tahu itu akan menyusahkan keluaga baru-ku nanti. Jadi aku berlari sekencang-kencangnya melewati mereka, walau mereka tak melihat-ku dan berbisik "aku sayang Mom dan Dad" di telinga mereka. Kurasakan bau yang sangat menggoda menghampiri-ku. baunya lebih nikmat dibandingkan dengan pizza keju favorite-ku. inikah yang dimaksud Carlisle? Dahaga para vampire. Aku beruntung hanya sesaat mencium aroma itu. Aku langsung pergi meninggalkan mereka ketika rasa haus menghampiri-ku.
Aku turun kembali kebawah. Carlisle menungguku dan terlihat lega ketika melihatku.
"kau benar. Mereka membuatku haus"
Carlisle terlihat terkejut dengan perkataan-ku "kita bisa berburu kalau begitu"
Aku nyengir. Dia memang ayah yang baik dan dapat mengerti anak-anak-nya.
"tapi mereka akan mencari kita nanti" aku memerotes ketika kami sampai di ujung sebuah hutan rimba.
Ia tersenyum kebapak-an "Alice pasti sudah memberitahu mereka kalau kita kesini"
"maksudmu?" aku tak mengerti.
"Alice belum memberitahu-mu kalau ia bisa melihat masa depan?"
"benarkah?" aku takjub "itu sangat keren! Jadi semua vampire punya keahlian masing-masing?" tanyaku berharap aku juga.
"well, jawaban singkatnya iya. Tapi hanya beberapa yang luar biasa. Alice dan Edward salah satunya."
"kuharap aku juga" dia tertawa dan aku-pun ikut tertawa.
Tak terasa kami telah sampai jantung hutan. Hutan ini terlihat gelap dan lembab. Aku tak yakin akan bisa makan apa yang seharusnya aku makan di sini. Aku tahu dia akan menyuruhku menyedot darah hewan. Aku langsung mual membayangkannya. Aku tak pernah menyukai hewan, apalagi darahnya.
Seekor rusa cantik yang anggun lewat dihadapan kami. Aku menyium aromanya. Aromanya enak. Tak seperti biasanya. tak seperti ketika aku menjadi manusia dulu. Aromanya kini begitu memikat. Tak lebih menggoda memang, dari aroma kedua orang tua-ku tadi, tapi aroma rusa ini mengalahkan aroma daging manapun.
Aku melirik Carlisle sebentar
"nikmatilah" ia tersenyum menyemangati. Jadi langsung saja aku maju berlari kearah hewan cantik itu dan menerkamnya.
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-. -
Benar saja kata Carlisle, mereka tak menunggu kami. Mereka sudah berada didalam rumah lagi ketika kami kembali.
Alice dan Rosalie sedang asyik merancang busana indah mereka. Esme, Jasper dan Emmett sedang asyik menonton televisi. sedangkan Edward sedang asyik memainkan piano-nya. Indah sekali. Aku tak tahu ia bisa bermain seindah itu. Dunia harus mengenalnya!
Edward memandangku sekilas lalu kembali kepiano-nya "tak perlu dunia mengenal-ku El's, bisa-bisa mereka akan memperebutkan aku nantinya" ia nyengir sendiri.
"bisakah berhenti membaca pikiran-ku, kumohon!" aku terdengar kesal. Sebenarnya malu. Jadi aku langsung cepat-cepat naik keatas untuk mengganti baju-ku yang penuh darah rusa "Alice, boleh kupinjam baju-mu yang disini?" aku meminta izin kepada Alice sebelum naik kekamarnya. Baju-baju dikamarnya ini akan ia tinggal disini. Hanya beberapa baju yang ia bawa ke Forks. Jadi aku yakin ia akan mengizinkan-ku mengenakannya.
"Tentu Els, ambillah sesuka-mu. Jika kau mau untuk-mu semua juga tak apa. Tapi kurasa kita lebih baik belanja saja nanti di Forks" katanya samar-samar setelah aku masuk ke kamar indahnya.
"aku, Esme, Rosalie dan Emmett akan naik mobil-ku, sisanya di mobil Edward" Carlisle membagi kami. Aku setuju setuju saja. Setidaknya ada Alice dalam mobilku.
Aku ingin duduk di bangku belakang bersama Alice, tapi sepertinya Jasper tak ingin mengalah. Aku sadar, ia kekasihnya Alice, jadi aku terpaksa duduk di depan bersama pria tampan ini.
Aku memasuki volvo silver keren milik Edward dan duduk di bangku depan, sebelahnya. Ia terlihat tenang-tenang saja.
Mobil kami mulai melaju mengikuti mobil Carlisle.
"jadi, kau bisa membaca fikiran kan.."
"Sudah sangat jelas" ia memotong menahan tawa.
"bisakah kau menghormati privasi kami?" kudengar Alice dan Jasper tertawa di belakang.
"kami telah mencoba memintanya Els" Jasper masih tertawa "dan dia tak peduli"
Kali ini Edwad ikut tertawa. Tapi masih fokus memandang jalanan.
"beapa umur-mu Ella?" tanya Alice setelah tawanya reda.
"aku enam belas. Eh, tujuh belas. Malam dimana aku terjun itu adalah malam ulang tahunku. Berarti sekarang aku tujuh belas" semua nampak terkejut
"itu berarti kau masih enam belas" Edward memberitahu
"apa maksudmu?" aku tak mengerti.
"well, vampire tak pernah tumbuh. Tak pernah bergerak maju. Jika kau menjadi vampire di umur enambelas tahun, kau akan berumur enam belas selamanya" ia terlihat menyesal.
Aku mencerna kata-katanya. "ya ampun?!" aku menjerit "jadi aku tak akan berumur tujuh belas? Tak akan pernah? Berapa abad-pun aku hidup?" aku terdengar sangat kecewa.
Padahal selama ini aku selalu menantikan berumur tujuh belas tahun! Seandainya aku berubah menjadi vampire saat jam 00.01 pm- saja malam itu aku akan berumur tujuh belas tahun selamanya! Aku menyesal...
Kudengar Edward tertawa kecil. Menyamarkan tawanya dengan batuk "aku berumur tujuh belas. Jadi aku akan menjadi kakak-mu adik kecil" ia melepas satu tangannya dari kemudi dan mengacak-acak rambutku. Ah.
Sesaat aku menyesal kenapa aku tak mendapatkan nama Hale saja. Well, Emmett Cullen dengan Rosalie Hale. Jasper Hale dengan Alice Cullen. Siapa tahu Edward Cullen bisa dengan Gabriella Hale.
Lagi-lagi kudengaar ia tertawa geli. Aku jadi malu. Aku tak bisa menghentikan fikiran-fikiran konyol ini. Semuanya mengalir begitu saja. Mengalir kefikiran Edward juga. Sial!
Ia tertawa lagi
"ok ok, mr. Handsome, kau tahu aku terpana dengan mu jadi jangan selidiki itu lagi!" aku memasang tampang cemberut. Ia tertawa.
"sudahku bilang aku tak berkencan sist, jadi aku tak akan mengencani-mu seandainya nama-mu Hale-pun"
Alice dan Jasper tertawa "sudah ku bilang. Dia tak normal!"
Kami melewati batasan Alaska menuju ke Forks, Amerika serikat. Aku akan menikmati ini semua. Aku akan hidupa abadi. Selamanya bersama kakak-ku tercinta Edward. Walau ku yakin akan merindukan Mom dan Dad.. Scarlet.. juga Tom mungkin...
"Selamat tinggal Alaska..."
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-. -
#Epilog
"Edward! Berhenti membaca fikiran-ku!" aku memarahinya ketika lagi-lagi ia menertawai-ku saat aku berkhayal menemukan cowok setidaknya yang sedikit mirip dengan dia. Lagian Tom kalah jauh. Dia yang ter-tampan.
Ia menahan tawanya dan memandang-ku. aku balas menatap nya dengan tatapan tajam. Tatapan yang dalam. Tatapan yang biasanya berhasil membuat teman-temanku dulu menurut pada-ku.
Mata Edward terbelalak. Ia nampak terkejut. Aku tak menerti mengapa. Apa yang terjadi?
Alice menatap kami berdua. Ia tertawa. Jasper terlihat tak mengerti.
Edward langsung berpaling. Ia menatap lurus kejalan dengan wajah yang aneh, terkejut plus kesal. Aku masih tak mengerti. Apa yang terjadi?
"ini hebat!" ujar Alice terdengar seperti menjerit antusias "ini hebat!" dia mengulangi.
"apanya yang hebat Alice?" tanyaku penasaran.
"kelebihan-mu keren Gabriella!" ia menonjolkan kepalanya dari balik bahu bangku-ku.
"apa?" aku masih tak mengerti
"kau tak sadar? Tadi Edward baru saja menuruti perkataan-mu! Ia tak jadi membaca fikiran-mu setelah kau memintanya tadi!" Alice terlihat bersemangat.
"benar-kah?" aku tak yakin. Kutatap Edward. Ia diam saja.
Aku sangat senang seandai-nya cowok tampan ini berhenti menggali privasi-ku. aku akan bebas mengagumi-nya.
Kutatap ia, tiba-tiba ia nyengir lagi "jangan harap Els! Kemampuan-mu tidak bertahan lama!"
Aku kecewa. Kutatap Alice. Ia menutup mata. Kufikir masa transisi-nya.
"well, dia benar" tiba-tiba Alice membuka matanya "kekuatan-mu itu tak berlangsung lama. Akan segera menghilang setelah apa yang kau minta telah dilaksanakan oleh korbannya. Tapi sangat kuat untuk meminta apa-pun pada sang korban seandainya ia menatap mata-mu! Itu tetap keren!" kurasakna tangan kecil-kerasnya meremas bahuku.
"well, setidaknya aku akan menyuruh-mu berhenti membaca privasi-ku tiap kali kau nyengir!" aku memukul bahu keras Edward.
"aku tak akan menatap mata-mu lagi!" ia nyengir, menatap-ku sekilas lalu kembali ke jalanan.
"iiih!" aku mencoba mencubitnya, tapi tidak berhasil. Lengannya terlalu keras.
Ini dia, akhirnya aku menemukan kelebihan-ku. kelebihan manusia-ku yang bertambah kuat. Ini hebat!
Volvo silver Edward melewati perbatasan Port Angles menuju kota kecil Forks. Kami mengikuti mobil Mercedez S55 AMG milik Carlisle ..
'Selamat datang para vampire' ujar-ku dalam hati.. 'selamat datang di Forks untuk kami. ini akan menyenangkan...'
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-. -
THE END
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-. -
A/N ::
Okay, finish ! :D maaf kalau jelek dan mengecewakan :3 .. review please ! please please please ~ ^-^
