My Wish

Genre: Hurt/Comfort, Friendship, and Romance

Vocaloid © Yamaha

Warning: Bad, Miss Typo's, puisi dari author nyempil, dll

.

Aku selalu sendiri

Tak ada yang menyadariku

Bagaikan angin tak terlihat

Bagaikan batu kerikil

Ehm, namaku Megumi Nakajima. Aku lahir di Tokyo dan tinggal di Tokyo. Dan yah, aku selalu sendiri. Kehadiranku seolah tak pernah dianggap. Seperti angin yang tak terlihat atau seperti batu kerikil yang tak pernah dipedulikan, mungkin kata-kata itu cocok untuk kehadiranku ini.

Aku kuliah di Universitas Vocaloid Musical, sebuah Universitas musik yang paling terkenal di Jepang, bahkan seluruh dunia. Rambutku berwarna hijau lumut dan tak terlalu panjang. Aku tidak memiliki teman. Kebanyakan teman SMA-ku dulu pindah ke Hokkaido atau luar negri.

Mereka tak sadar

Mereka tak merasakan

Kesendirian yang kualami

Yang tak pernah diketahui

Mereka (Mahasiswa-Mahasiswi di Universitas Vocaloid Musical) memang tidak pernah menyadari kehadiranku. Apalagi mereka tak pernah merasakan yang namanya kesendirian. Karna kesendirian yang kualami tak pernah diketahui oleh semuanya. Padahal sudah jelas-jelas aku selalu sendirian waktu istirahat.

Aku selalu sendiri

Entah itu di rumah atau di luar

Aku tak pernah sama

Auraku memang berbeda

Aku memang selalu sendirian. Di rumah, aku selalu sendiri. Orang tuaku tak punya waktu atau meluangkan waktu untuk mengobrol bersamaku. Mereka lebih menyayangi adikku, Gumo Nakajima, karna dia sangat pintar. Itulah yang membat auraku berbeda, sangat berbeda malahan.

Kegelapan menyelimutiku

Kesedihan membuntutiku

Kesengsaraan menghantuiku

Kesepian adalah jalanku

Aku terkadang menjadi Psikopat. Psikopat menurutku wajar karna aku selalu sendiri dan hanya ditemani dengan kegelapan hatiku. Aku selalu merasa sedih dan sengsara karna kesepian ini. Tapi yah, sudahlah. Mungkin ini hanya cobaan dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Tapi kenapa mesti aku?

Ya Tuhan, inikah cobaan?

Jika iya, maka aku akan bertahan

Aku tak mau bersikap konyol

Bunuh diri? Tak akan!

Aku selalu bertahan atas cobaan dari Tuhan ini. Aku tak mau bersikap konyol dengan bunuh diri. Aku memang putus asa, tapi aku masih berpikir secara agama kalau bunuh diri maka kita akan masuk Neraka dan aku tak mau itu!

Tapi bolehkan aku berharap?

Berharap ada yang mengerti aku

Berharap yang tak mungkin

Sebuah harapan sia-sia

Setiap malam aku selalu berharap ada seseorang yang mau menerangi hidupku. Tapi sayang, harapanku tak terkabul. Mungkinkah itu sebuah harapan yang sia-sia?

Harapanku terkabul

Tuhan mengabulkan harapanku

Sosok harapanku datang

Benar-benar datang dihadapanku

Sosok harapanku datang. Dia sangat hebat dalam bermain piano. Matanya biru jernih seperti permata biru. Sosok itu selalu tersenyum padaku. Rambut pirangnya begitu bercahaya dihadapanku.

Dia menyelimutiku dengan cahaya

Dia melawan kesedihan dengan kebahagiaan

Dia melindungiku dari kesengsaraan

Dia meramaikan jalanku dengan tawanya

"Hey, namamu siapa?" tanya pria itu.

"Me-megumi Nakajima," jawabku gugup.

Pria itu menatapku sambil tersenyum tipis. Wajahnya begitu tampan dan dewasa. Padahal dia itu seumuran denganku, cuman yah lebih muda dia dari pada aku sih.

Dia selalu ada disaat aku susah. Dia selalu memberiku kebahagiaan. Dia juga selalu bersikap tulus. Benar-benar sosok harapanku.

Siapakah orang itu?

Stt… kalian mau tau?

Baiklah, akan kuberi tau…

Dia sahabat terbaikku

"Kenalkan, namaku Len Kagamine," kata sosok itu sambil tersenyum tipis.

"Sa-salam kenal, Kagamine-san," balasku gugup.

Sepintas aku melihatnya tertawa kecil. Ah, apakah sikapku salah? Atau ada kata-kataku yang salah?

"Cukup panggil aku Len," kata Len, pria itu. "Mulai hari ini kita bersahabat ya."

"Iya," balasku sambil tersenyum riang.

Sayang, dia harus pergi

Pergi jauh dariku

Walau jarak memisahkan kami,

Kami akan terus bersahabat

"Gumi, aku harus pergi ke Italy," kata Len sambil memandangku lesu.

"Kenapa, Len? Kenapa?" tanyaku sedih. Air mataku mengalir, aku tak mau jauh dari Len!

"Orang tuaku pindah kerja," jawab Len. "Walau jarak memisahkan kita, kita terus bersahabat ya?"

"Iya," aku berusaha tersenyum agar terlihat kuat dimatanya bila tidak ada dirinya. "Ja-jangan lupakan aku ya?"

"Pasti."

Hari-hariku terasa sepi

Sehari bagaikan seabad

Kalian boleh bilang aku lebay

Tapi itulah kenyataannya!

Aku memandang kursi sebelahku dengan tatapan kosong. Kursi itu memang biasa digunakan oleh Len. Biasanya hari-hariku selalu diramaikan dengan tawanya. Sekarang? Kini tak ada tawanya malah membuatku lebih frustasi.

Setelah kupikir lagi….

Perasaanku lebih dari sahabat

Melainkan 'cinta'

Tapi benarkah itu?

Terkadang aku selalu berpikir, apakah perasaanku kepadanya cuman sebatas sahabat? Ataukah cinta? Tapi setelah kupikir ulang, perasaanku lebih dari sahabat, melainkan yang namanya cinta. Tapi, apakah nanti dia keberatan jika aku mencintainya?

Senyumanku yang hilang…

Kini telah kembali

Keceriaanku yang sempat padam…

Kini terang kembali

Berkat dia, aku kembali bisa tersenyum dan merasakan keceriaan. Aku sangat senang dengan hal itu. Dia memang terlalu perhatian denganku. Semua yang hilang dari hatiku, kini ia kembalikan. Mungkinkah karna itu juga aku mencintainya?

Terima kasih atas segalanya

Kau sahabat terbaikku

Aku juga ingin mengatakan…

Kalau aku mencintaimu

Kalau aku diberi kesempatan untuk bertemu dengannya suatu saat nanti, aku ingin mengatakan kalau aku sangat berterima kasih padanya dan aku juga ingin mengatakan kalau aku mencintainya. Meiko-senpai pernah bilang padaku, kalau mencintai orang yang jaraknya jauh dari kita, bila diberi waktu bertemu kembali maka nyatakanlah cintamu. Karna itu, harapanku sekarang adalah bertemu dengannya lagi.

.

.

.

Owari

A/N: Aneh ya? Maklum ya, ini Len x Gumi pertama saya. Tolong beri pendapat lewat kotak review di bawah ini ya! ^^