Chapter dua akhirnya update juga, thanks buat readers yang udah review di chapter pertama, maaf nggak sempet bales review kalian, nunduk-nunduk*. Happy reading...

Aku sudah kembali, Sasuke. Aku kembali untukmu, untuk menepati janjiku... Tapi kenapa kau sudah dimiliki oleh 'dia'? Sebenarnya, apa yang telah terjadi padamu selama aku pergi? Apa kau masih mengingatku? Apa kau masih ingat pada janji kita? Apa kau tau, 'hati' yang kau titipkan padaku masih aku jaga baik-baik. Apa kau juga sama, Sasuke? Apakah 'hati' yang pernah kutinggalkan untukmu beberapa tahun lalu masih tetap ada untukku? Aku tau kau sudah dimiliki oleh orang itu, tapi aku percaya, cintamu hanya untukku... Benarkan Sasuke?...

+.+ N*S +.+

Tittle: Heart...

Pair: NaruSasu

Disclaimer by.. Masashi Kishimoto...

Warning: OOC tingkat tinggi, AU, BL, Lime+Lemon, Typo, Judul yang nggak nyambung. DLDR! Enjoy...

+.+ N*S +.+

Sasuke's POV...

"Kau semakin kurus saja, 'Suke?" Suara cempreng Suigetsu itu membuatku yang baru sampai di kelas terdiam. Hanya memandangnya monoton tanpa berniat membalasnya. "Sedang banyak pikiran, hm?" Tanya pemuda yang kini telah duduk di sampingku. Dan aku hanya diam, tanpa menanggapi pertanyaannya sama sekali. "Hah.. Ya sudah kalau tidak mau cerita..." Suigetsu nampak merogo sesuatu dari kantung seragamnya, dan keluar handphone touchscreen keluaran terbaru dari kantungnya. Hening untuk beberapa saat diantara kami, sampai akhirnya dia kembali berkata. "Eh, sudah tau belum, katanya kemarin ada anak baru lho." Aku menatapnya dengan sudut mataku, sedikit tertarik dengan ucapannya. "Siapa?"

"Namanya... Uhm..." Pemuda dari klan Houzuki itu nampak mengingat-ingat, "Kalau tidak salah, namanya Uzumaki Menma..."

'M-Menma?!' Mendengar nama itu disebut, aku kembali teringat akan kejadian kemarin. Dimana seseorang berambut hitam dan berbola mata senada menyatakan perasaannya padaku padahal kami baru saja bertemu. Pemuda asing yang tidak jauh berbeda dengan orang yang berjanji akan kembali untukku. Pemuda kedua yang dengan lancang mencuri ciuman dariku. Sosok yang entah kenapa membuat hangat jiwaku. "Menma..."

"Hm... Kau sudah bertemu dengan dia, sepertinya dia-" Aku tidak peduli pada kata-kata Suigetsu, dan bergegas mencari pemuda yang dimaksud olehnya. Banyak hal yang ingin aku tanyakan kepada laki-laki itu.

Sasuke's POV End...

"Mencariku, huh?" Sasuke yang baru saja sampai di ambang pintu ruang kelasnya, seketika berhenti. Ketika dilihatnya sosok Menma yang tersenyum kecil ke arahnya.

"Kau!?"

"Ohayou gozaimasu, Sasuke-chan..." Naruto merunduk sopan, mengacuhkan tatapan kaget Sasuke.

.

.

#

.

.

"Bekas kecupan yang bagus." Itulah kata pertama yang diucapkan pemuda dari klan Uzumaki itu ketika ia dan Uchiha Sasuke sampai di atas sekolah. Kini hanya ada mereka berdua saja, mengacuhkan bel jam pelajaran pertama yang baru saja berdentang keras.

Mendengar pernyataan Menma, reflek Sasuke membetulkan kerah Blazernya, menyembunyikan kissmark yang semalam Kakashi ciptakan diperpotongan lehernya, tanpa menyadari ada perubahan di ekpresi wajah Menma. 'Kau... benar-benar telah dimilikinya...'

"Ne, sebenarnya, kenapa kau mengajakku kemari?"

"Aku ingin menanyakan, tentang siapa dirimu, dan apa maksudmu dengan menyatakan perasaanmu padaku?" Pupil Obsidian Sasuke menatap lekat bola mata hitam Menma, "Lalu, kenapa kau melakukan hal kemarin padaku?"

Pemuda dari klan Uzumaki itu tersenyum lebar, menampilkan deretan gigi putihnya yang rata, mengingatkan Sasuke pada seseorang yang bertahun-tahun ini pergi meninggalkannya tanpa kabar. Membuat hati kecil sang bungsu Uchiha, mencelos sedih.

"Aku, memang menyukaimu. Aku ingin kau menjadi pacarku," pemuda itu menjawab dengan santai, ia garuk belakang kepalanya, agak kikuk dipandangi dengan begitu menyelidik oleh Sasuke. "Sayang, kau sudah dimiliki..." Lanjutnya sedikit sedih. Sama seperti Sasuke yang hanya dapat memejamkan mata, terdiam dalam keheningan yang menyakitkan. Menyilahkan angin berhembus, menggerakan helai hitam yang berbeda milik keduanya.

"Aku tidak mengerti?" Kata Sasuke pada akhirnya, "Aku sama sekali tidak mengenalmu, tapi kau seenaknya saja bilang suka padamu!" Ia pijit tengkuknya, guna mengurangi rasa sakit di kepalanya.

"Tapi aku mengenalmu, kau Uchiha Sasuke. Pemuda terpopuler satu sekolah, anak bungsu dari Uchiha Fugaku dan Uchiha Mikoto, pemilik perusahaan Sharingan Corp's, yang terkenal. Adik seorang Uchiha Itachi salah satu pendiri Akatsuki Company. Anggota terkaya ke 4 setelah klan Namikaze, Hatake, dan Hyuuga..." Sasuke lagi-lagi hanya diam, ternyata pemuda dari klan Uzumaki itu memang tau banyak tentang dirinya, setidaknya masalalunya. Dan lagi, ketika pemuda berambut jigrak itu menyebutkan nama Namikaze dan Hatake dengan santai, entah kenapa sakit di bagian dada membuat nafasnya tercekat. "Kini, kau resmi menjadi 'istri' sah Hatake Kakashi sejak 10 bulan yang lalu. Ada apa denganmu dan keluargamu? Apa demi menambah pundi-pundi kekayaan kalian, kau rela dinikahi oleh Om-om biseks sep-"

BUUGHH!

Satu tonjokan keras menyapa rahang Menma, hingga membuat pemuda itu jatuh tersungkur di atas lantai beton. Membuat darah segar, sedikit mengalir dari sudut bibirnya. "Jaga mulutmu, Uzumaki! Kau tidak tau apa-apa tentangku! Tentang alasan sebenarnya pernikahan ini terjadi!" Raung Sasuke frustasi, ia menatap tajam ke arah Menma yang nampak mengusap bibirnya. Dan jika tatapan Sasuke itu bisa membunuh mungkin Menma sudah tewas sekarang. Namun tanpa disadari oleh si Raven, bahwa Uzumaki Menma mengetahui, ada secuil luka di dalam bola mata hitam tersebut.

"Kalau bukan karena harta, lalu apa lagi, huh? Klan Uzumaki bukanlah klan tersohor seperti klanmu atau Hatake, tapi..."

"KAU TIDAK MENGERTIII!" Sasuke kembali berteriak, kini dengan mencengkram kepalanya dan mata terpejam. "JANGAN MENGATAKAN SESUATU SEOLAH-OLAH KAU TAU SEGALANYA TENTANG AKU, UZUMAKI."

Bola mata hitam Menma mengecil, dapat dia lihat dengan sangat jelas, jika Sasuke sedang menangis. Entah atas dasar apa, tapi tiba-tiba saja Menma bergerak untuk memeluk Sasuke, mendekap pemuda yang bergetar dalam pelukannya, mencoba menenangkan jenius dari klan Uchiha itu. Dan benar saja, Sasuke merasa nyaman dalam dekapan lelaki berkulit tan itu, rasanya tubuh ringkih miliknya benar-benar pas dalam rangkulan pemuda yang baru saja ia tonjok itu. Dan lagi, kehangatan pelukan ini, mirip dengan dia...

"Kau tidak tau apa-apa tentangku..." Lirih Sasuke, airmatanya jatuh tanpa perintah. Membuat Menma yang melihatnya seolah-olah turut merasakan luka yang sama. Hatinya seolah mampu merasakan luka batin Sasuke, saat ini.

"Maafkan aku, Sasuke. Maaf..." .

+.+ N*S +.+

"Sudah mau bercerita?" Kini Menma dan Sasuke sudah tidak lagi berada di atas atap sekolah, mereka berada di taman belakang dekat perpustakaan sekarang, dan masih seperti tadi pagi, keduanya masih membolos di jam pelajaran ke3. Dan entah kenapa tidak ada guru yang repot-repot mencari keberadaan mereka. Apa karena orang tua mereka sama-sama punya andil besar untuk membangun sekolah bertaraf internasional ini? Entahlah.

Sasuke meneguk jus tomat yang baru saja Menma belikan untuknya, membuat Sasuke sedikit bingung karena si pemuda tau apa minuman faforitnya. Ternyata memang sudah menyebar luas di internet. "Kalau tidak mau ya-"

"Aku menikahi Hatake Kakashi karena terpaksa." Mulai Sasuke, membuat Menma terdiam dan mulai fokus mendengarkan. "Sharigan Corp's bangkrut karena Ayah yang sakit mendadak. Hutang kami terlalu banyak, bahkan Kakak rela menjual sahamnya di Akatsuki demi menutupi hutang-hutang perusahaan. Tapi, semuanya tetap kurang." Menma menatap wajah sendu Sasuke, luka terlihat jelas dari kedua pupil hitam Sasuke. "Mendadak, ayah jatuh sakit karena memikirkan ini semua. Dan saat itulah, Kakashi muncul dalam kehidupan kami. Menawarkan akan menutupi semua data-data akan dirinya, hutang-hutang Ayah, dengan ganti tubuhku..." Sasuke terdiam, mati-matian ia menahan airmatanya yang hendak jatuh, mati-matian pula ia menormalkan nada bicaranya yang terdengar bergetar.

"Sa-Sasuke..."

"Jika tidak demi keluargaku, aku tidak akan sudi menjadi istri Kakashi yang sudah kuanggap seperti ayahku sendiri. Tapi, aku tidak bisa berbuat banyak," lanjut Sasuke, "Tubuhku sudah dimiliki oleh lelaki brengsek itu sekarang..."

"Tapi aku tau hatimu sama sekali tidak dimiliki olehnya!" Potong Menma cepat, mengharapkan sesuatu terucap dari bibir pink pucat, sang Uchiha.

Sasuke manatap pemuda yang kini duduk di hadapannya dengan wajah datar, "Kau benar, hatiku bukan untuk Kakashi."

"Jadi aku masih punya kesepatan untuk mendekatimu 'kan? Memiliki hatimu?"

Sasuke tersenyum simpul, "Sayang, aku sudah tidak memiliki hati lagi. Hatiku, sudah lama 'dibawah' pergi olehnya..." Entah mengapa, mengatakan seluruh isi hatinya pada seorang Menma yang notabenya baru ia kenal 2 hari ini, membuatnya sedikit lega. Rasanya seperti sudah mengenal lama, bahkan Sasuke sama sekali tidak memiliki rasatakt jika bisa saja Menma menyeberkan cerita yang sebenarnya, kepada orang lain.

"Siapa?!"

"Hatiku mil-"

"Sasuke-sama!" Sasuke tidak melanjutkan kalimatnya, karena kedatangan Orochimaru yang mendadak.

"Kau?!"

"Maafkan aku, Sasuke-sama. Tapi, Kakashi-sama sedang ada di ruang kepala sekolah, untuk menemui anda." Penjelasan Orochimaru itu membuat Sasuke syok, tidak biasanya Kakashi menemuinya saat di sekolah seperti sekarang. Apa ada kesalahan fatal yang ia perbuat? Atau ada hal-hal buruk yang menimpa kelarganya? Sasuke sama sekali tidak menginginkan kemungkinan kedua itu terjadi.

Tanpa pamit, Sasuke meninggalkan Menma di tempatnya. Hanya sekilas tatapn mata keduanya yang seolah mengirimkan suatu pesan yang hanya mampu mereka artikan sendiri. "Sasuke... Aku akan 'merebutmu' kembali. Hati dan tubuhmu, hanya untukku..." Kata Menma selepas kepergian Sasuke itu. Menatap punggung Sasuke yang makin menjauh di depannya dengan terluka.

._._. X ._._.

Uzumaki Menma hanya seperti manusia yang tidak bisa berbuat banyak melihat seorang paruhbaya, menyeret paksa seorang berambut hitam ke dalam mobil. Jelas sekali ia lihat, jika si pemuda sangatlah enggan pergi bersama lelaki bersurai perak yang mengenakan masker tersebut. Sesekali, dari bangunan lantai 2 ruang kelasnya ini, Menma melihat lelaki berjas hitam itu menampar wajah Sasuke keras. Dan terakhir kali pupil hitamnya melihat sosok Sasuke adalah, sesaat setelah tubu si Raven dihempaskan kasar ke dalam mobil yang langsung melesat entah kemana, tak berapa lama kemudian.

"Che!" Menma yang melihat semua itu dari balik kaca cendela hanya dapat berdecih tak suka, buku-buku jarinya terkepal erat seolah tak rela jika Sasuke harus mengalami hal-hal barusan. 'Tidak ada yang bisa menyakiti, Sasuke. Tidak ada yang boleh menyentuh, Sasuke. Karena dia, milikku.'

.

.

#

.

.

"Kyaah... Dasar! Kamar ini sudah seperti baru saja kerampokan..." Perempuan cantik berusia 37 tahunan itu berkacak pinggang, menyaksikan kamar anak lelakinya yang sebulan ini menetap di Jepang membuatnya geleng-geleng kepala heran. Bagaimana bisa tempat ini di sebut kamar yang rapi dan nyaman, jika buku, baju kotor, bekas cup-cup Ramen, dan lain-lainnya menyebar secara acak di dalamnya. Belum lagi sprei dan bedcover yang berantakan, lengkap sudah. "Ckck, Minato! Lihat, kelakuan anakmu ini! Huh!"

"Hahaha," Lelaki yang dia panggil Minato hanya tersenyum, "Bukankah dia mirip denganmu waktu masih muda?" Wanita itu mempoutkan bibirnya, bukannya mengatakan hal yang lainnya, lelaki itu malah mengingatkannya pada masa mudanya dulu. "Ck, kau itu. Ini 'kan juga kesalahanmu, mau saja menuruti anak itu untuk tinggal di apartmen. Kalau tau dia akan jadi sejorok ini, mana setuju aku!" Wanita berambut merah panjang itu akhirnya membantu Minato sang Suami untuk membereskan kekacauan di dalam kamar apartmen milik anaknya, sampai terdengar bunyi cekelan pintulah yang menghentikan kegiatan mereka.

"T-tousan?! Kaasan?!"

"EH?! Minato, dan Kushina-nama si perempuan, syok melihat seorang pemuda berblazer KHS masuk dengan ke kamar apartmen ini. "Naruto-kun? Ada apa denganmu?!" Kushina mendekati anak lelakinya, memperhatikan penampilan anak lelakinya yang benar-benar berbeda. Rambut hitam, bola mata hitam, menggunakan maskara, dan penampilannya mirip anak punk.

"Ah.. Ittatatatataiiii..." Pemuda itu mengaduh ketika Ibunya menarik telinga kanannya. Menjewernya hingga ia masuk ke dalam dan duduk di atas kasur, siap-siap dapat omelan ibu setelah ini...

"Jadi ini maksudmu ingin tinggal berpisah dengan kami-ttebanne? Ingin jadi berandalan?" Kushina berkacak pinggang, mulai marah-marah.

Yang diomeli hanya nyengir lebar, sambil mengelus kupingnya yang terasa panas, "Ini namanya penyamaran-ttebayou!" jawabnya. Minato hanya menggeleng, sang kepala keluarga itu bingung kenapa anak dan istrinya senang sekali menggunakan kata-kata yang bahkan tidak ada di kamus bahasa jepang mana pun.

"Itu bukan penyamaran, tapi mau jadi preman?! Ibu lebih suka melihat rambut kuning dan pupil birumu, itu sangat keren, sama seperti Ayahmu, huh!"

"Mungkin dia ingin melakukan sesuatu dengan penampilannya itu!" Minato menunjuk anaknya setelah membuang bekas kantung snack ke dalam tempat sampah.

"Tousan benar, aku sedang menyelidiki dan memastikan sesuatu."

"Apa itu?!" Tanya Kushina akhirnya, memilih untuk mendengarkan penjelasan anaknya daripada marah-marah tanpa sebab.

"Aku ingin mengambil kembali cintaku. Aku sudah mencari tau semuanya, dan aku juga sudah menemukan dia. Tapi..." Pemuda yang mengaku dirinya sebagai Menma itu menarik nafas sejenak, "Aku butuh bantuan Tousan dan Kaasan, untuk 'menyelamatkan' cintaku..."

.

.

#

.

.

"Apa?! Kau serius? U-Uchiha yang itu?" Namikaze Minato cukup syok mendengar penjelasan putra tunggalnya. Sedikit sedih saat mengetahui jika teman masa kecilnya Fugaku, mengalami hal seberat itu saat ini. Begitu pula Uzumaki Kushina, sakit juga hatinya mendengar cerita Naruto.

"Baiklah, kalau memang begitu. Aku akan membantumu!"

"Benarkah Tousan?"

"Benar! Ayah dan Ibu akan membantumu sebisanya-ttebanne!" Kushina menepuk kepala anaknya, mendukung tindakan sang anak tentu saja. Bukankah itu kewajiban mereka sebagai orang tua yang baik.

._._. X ._._.

Hanya rasa sakit dan pening di kepalanya yang dapat Sasuke rasakan ketika pertama kali membuka mata. Hawa dingin dari Air Conditioner yang menyala membuatnya begidik, baru sadar ia jika semalam ia tidur tanpa mengenakan selembar busanapun, kecuali selimut super tebal dan nyaman yang menutupi bagian bawah tubuhnya.

"Enghh..." Sedikit meringis merasakan perih di bagian Holenya, merutuki ketidakberdayaannya setiap kali 'berhadapan' dengan Kakashi. Ia ingat, kemarin setelah meninggalkan gedung sekolah sekolah secara paksa, Kakashi segera menyeretnya ke kamar apartmen milik sang pengusaha, mencekokinya dengan beberapa obat-obatan hingga pikiran dan tubuh Sasuke rileks, dan pasrah ketika lelaki biadap itu menyetubuhinya. "Che!" Ia hanya mampu berdecih kesal melihat kulit putihnya dipenuhi oleh kissmark dan luka lebam kebiruan, Kakashi bukan orang yang manis saat 'bercinta', bahkan lelaki yang sudah tidak mudah lagi itu termasuk pecinta Bondage, sering menyiksa dan mengikatnya di ranjang seperti Slave, memuaskan seksnya tanpa pernah mengerti dia lelah atau tidak layaknya Master.

Sasuke memeluk lututnya erat, bahunya mulai terlihat berguncang. Ia berusaha untuk tetap tegar, tapi ini semua sangatlah sulit, ia tidak bisa. Terlalu sakit dadanya jika lebih lama menahan desakan airmata yang berbondong-bondong untuk keluar. Ia lelah, ia ingin bebas dari 'jerat' Kakashi. Tapi ia bisa apa? Ia terikat, dan semua ini juga demi kelangsungan hidup keluarganya. Uchiha berhutang banyak pada Hatake yang telah melunasi semua hutang-hutang Uchiha paska kebangkrutan Sharingan Corp's tahun lalu. Dan untuk membayar semua kebaikan Hatake, tubuh Sasukelah gantinya. Meski Kakashi selalu mengatakan, tubuh indah Uchiha Sasuke sama sekali takkan mampu membayar hutang Uchiha yang begitu besar. Walau Sasuke menyerahkan tubuhnya sampai akhirpun.

"Naruto... Seandainya kau tau betapa hinanya diriku sekarang? Apakah kau masih tetap menyukaiku?" Airmatanya jatuh juga, menetes membuat wajahnya basah. Setegar apapun seorang Uchiha Sasuke, dia tetaplah manusia biasa.

.

.

#

.

.

"Bisa bertemu dengan Hatake Kakashi?"

"Anda sudah memiliki janji sebelumnya?"

"Tidak..."

"Kalau begitu, maafkan saya Tuan, anda harus membuat janji terlebih dahulu sebelum menemui beliau."

"Atau begini saja, Nona. Katakan pada atasanmu itu kalau yang ingin bertemu dengannya adalah, Namikaze... Namikaze Naruto."

.

.

#

.

.

"Suatu kehormatan anak dari keluarga terkaya nomor 1 di Jepang, datang menemui.." Kakashi, dengan jas abu-abu dan kemeja putihnya membungkuk hormat pada lelaki yang belasan tahun lebih muda darinya. Meski ia jauh lebih dewasa, pemuda berambut pirang dengan pupil seindah langit biru ini adalah orang cukup tersohor. Bahkan kekayaannya jauh melebihi kekayaan Hatake corp's miliknya.

"Tidak perlu merendah begitu..." Naruto, dengan nada santainya turut membungkukkan badannya 90 derajat, sebagai yang lebih muda, ia harus tetap hormat bukan?.

"Ada keperluan apa kau kemari?" Tanya Kakashi, langsung keintinya, bukannya ia tidak suka dikunjungi oleh Naruto, tapi ia lebih terhormat lagi kalau Namikaze Minato saja yang datang menemuinya. "Apa ayahmu memerintahkanmu sesuatu, untuk disampaikan padaku, Naruto-san?"

"Ahahaha, aku bukan kurir Kakashi-san!" Naruto terkekeh, jelas terselip nada ejekan dari suara tawanya yang terdengar renyah itu. "Aku kesini bukan untuk menyampaikan ajakan kerja sama dari Rasengan untuk Hatake, aku hanya ingin meluruskan suatu masalah." Kini pupil biru Naruto memandang lurus kepada bola mata hitam Kakashi lengkap denga ekpesi wajah serius.

"Meluruskan masalah? Apa maksud anda?" Bingung Kakashi.

"Uhm..." Naruto menaikkan sebelah kakinya ke atas lutut, dan berkata, "Ini mengenai Uchiha dan Hatake." Kakashi tersentak kaget mendengar ucapan Naruto barusan, "Begini, katakan padaku berapa besar hutang Uchiha kepada anda, dan biarkan Uchiha Sasuke yang kau 'sekap' bebas. Bagaimana?"

.

.

Kakashi menatap kepergian Namikaze Naruto dengan geram, "Dasar sombong." Desisnya setelah menerima cek berisi nominal uang yang tak sedikit dari pemuda berpupil safir tersebut.

Sementara pemuda yang dimaksud nampak bersiul riang, sambil memainkan map berisi surat keterangan jika semua hutang Uchiha terhadap Hatake telah dilunasi. Dan Hatake Kakashi juga telah menandatangani surat perjanjian untuk segera menceraikan Sasuke dalam waktu beberapa hari.

Aku akan 'membebaskanmu' Sasuke... Akan kujadikan kau milikku lagi, karena 'hatimu', telah aku miliki...

._._. X ._._.

"Sasuke, daijobu?"

"Hhh... hh..." Sasuke hanya menggeleng, nafasnya tersengal, keringat dingin membasahi wajah dan tubuhnya, membuat poninya sedikit basah. Wajahnya terlihat semakin pucat saja. "Kau sakit?" Suigetsu yang cukup panik melihat kondisi Sasuke segera menempelkan telapak tangannya ke kening Sasuke dan telapak tangannya yang lain ia tempelkan pada dahinya sendiri, bermaksud mengecek suhu badan si Raven. 'Normal?' Bingung Suigetsu usai memastikannya. 'Lalu kenapa Sasuke...'

"Hhh... Haa... Haaa..." Sasuke mencengkram kepalanya, ia nampak gelisah.

"Sasuke, kita ke UKS saja, ya?"

Sasuke menggeleng berat, "Ti-tidak Sui... Akuhh.. Aku hanya.. butuh itu..."

Pemuda berpupil violet itu makin bingung, "I-itu apa?"

"Haa... Hhh... Akuhh-"

"Biar aku yang tangani?" Tiba-tiba, seorang berambut hitam muncul, menarik lengan Sasuke dan memaksa pemuda yang terlihat 'kedinginan' itu berdiri.

"Menma? Mau kau bawa kemana dia?"

Menma menggendong Sasuke yang sedang dalam kondisi setengah sadar, sebelum berkata, "Ke rumah sakit," ucapnya lalu melangkah keluar, mengindahkan tatapan bingung Suigetsu dan teman sekelas Sasuke yang lain.

.

.

#

.

.

TBC

.

.

#

.

.

Nggak sempet ngedit ulang, jadi maaf jika banyak typo.. Terakhir Mind to review ya...

Regrads...

Fu Shiawase... ^_^