"Sasuke-kun mengalami Withdrawel Syndrome, atau gejala fisik dan mental tidak nyaman akibat Narkoba..."

Siapapun pasti akan terkejut jika orang terdekatnya, sosok yang ia sayangi adalah satu dari sekian banyak para pengguna obat-obatan terlarang.

"Anda serius?!" Naruto bertanya, ingin lebih memastikannya. Kurang yakin dia jika Sasuke sampai memakai Narkoba untuk menenangkan jiwanya, atau mungkin... 'Kakashi mencekoki, Sasuke?' Dicengkramnya buku-buku jarinya hingga memutih, emosinya memuncak hingga ubun-ubun.

"Jika dibiarkan, akan fatal akibatnya untuk Sasuke-kun."

"Lalu kita harus bagaimana? Apa tidak ada cara untuk mengentikan ketergantungan Sasuke, Dok?"

Dokter bernama Senju Tsunade itu menghela nafas, dokter berusia 50 tahunan yang tetap cantik dan bugar itu menatap Naruto intens. Membuat Naruto berdebar-debar menanti jawaban Tsunade.

"Hanya memberinya terapi, atau Methadone Maintenance Therathment. Tujuannya hanya untuk membuat Sasuke-kun terhindar dari Withdrawel Syndrome agar tetap produktif."

"Me-metadone? Bukannya itu sama saja?"

"Yup! Metadon memang senyawa tiruan narkotika yang sifatnya hampir sama, tapi efeknya tidak sampai membuat penggunanya 'hang over'." Penjelasan Tsunade tak mampu membuat Naruto lega, ia benar-benar tidak menyangka jika efek 'pernikahan' Sasuke dan si tua bangka Hatake Kakashi akan sejauh ini. "Tapi ada syarat untuk metode ini, Sasuke-kun harus menjalani Rehabilitasi maupun detoksifikasi, terlebih dahulu."

._._. X ._._.

Heart Naruto by Masashi Kishimoto

Pairing: Naruto X Sasuke, Kakashi X Sasuke, ? X Sasuke

Warning; Slash, Yaoi, OOC, AU, tata bahasa yang hancur, Dsb..

AN; Model terbaru dari 5'th Wife's. Dengan Kakashi yang menjadi suami dadakan Naruto, dan Naruto menyamar jadi pemuda lain, tentu dengan alur yang berbeda... Happy Reading...

._._. X ._._.

Fugaku hanya dapat memeluk istrinya yang tidak berhenti menangis ketika melihat kondisi anak bungsu begitu memprihatinkan. Wajahnya pucat, dan semakin kurus saja. "Ini salahku," desis Fugaku, batinnya sama terlukanya dengan yang Mikoto rasakan. "Seandainya aku tidak terhasut oleh iming-iming Hatake, pasti kita tidak akan mengalami ini semua, dan hal seperti ini tidak akan terjadi pada Sasuke."

Si sulung Uchiha Itachi meremas pundak ayahnya, seolah ia dapat merasakan betapa hancurnya hati kedua orang tuanya, "Tidak ada yang harus disesali, Tousan. Semua sudah terjadi, kita hanya perlu lapang dada untuk melewat ujian ini," laki-laki berambut sepinggang itu coba membuat kedua orang tuanya tegar dan berhenti menyalahkan diri sendiri. "Lagipula, Sasuke juga akan semakin down jika melihat kedua orang tua yang dia belah mati-matian, bersedih," dia meraih tangan dingin Sasuke yang belum juga siuman dan mengenggamnya erat. Bagi Itachi, yang terpenting adalah keluarganya tetap bersatu, apapun yang terjadi.

Menma, atau sebenarnya Namikaze-Uzumaki Naruto hanya dapat memandang calon anggota keluarga barunya itu dengan wajah sedih. Setidaknya ia bisa meringankan sedikit beban dari keluarga yang kehidupannya berbalik 180 derajat itu. "Kau sudah melakukan yang terbaik, Naruto" Kushina tersenyum lembut pada anak lelakinya, bangga ia memiliki anak seperti Naruto, pengertian dan peduli, mengutamakan kasih sayang pada orang-orang sekitarnya daripada dirinya sendiri.

"Ini semua karena cinta, Kaasan. Mungkin karena cintaku pada Sasukelah, aku bisa sejauh ini..." Tersenyum lebar memandang Ibunya dan Minato yang berada di belakangnya secara bergantian.

.

.

#

.

.

Uchiha sudah lepas dari 'jerat' Hatake karena hutang-hutang mereka telah dilunasi seluruhnya oleh Minato. Sementara perceraian Sasuke dan Kakashi masih dalam proses pengadilan. Fugaku dan Itachi dengan modal yang ia peroleh sedikit demi sedikit kembali menata perekonomian keluarga mereka dengan menanam saham di salah satu bidang perdagangan tersohor di Jepang. Semua mulai berangsur-angsur berubah. Yang belum berubah adalah niat Naruto untuk membongkar jati dirinya yang sebenarnya. Masih betah menjadi Uzumaki Menma entah karena apa.

"Yo Sasuke, bagaimana keadaanmu?" Sapa Menma, pagi itu sesaat setelah tiba di rumah sederhana Sasuke.

"Cukup baik," balas Sasuke singkat, hari ini ia masih saja terlihat tampan dengan T-Shirt abu-abu dan sweater tanpa lengan. Sementara Naruto mengenakan kaos dan jaket bassball orange dan hitam. Warna faforitnya.

"Ayo, kita pergi, Sasuke!" Pemuda bersurai Raven itu mengikuti langkah Menma menuju mobil yang terparkir di halaman yang tak begitu luas itu. Tentu saja setelah keduanya berpamitan pada Mikoto yang kebetulan memang sedang berada di rumah. Keduanya sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit, untuk melaksakan proses detoksifikasi. Dan meski di dalam mobil mewah milik Menma atau Naruto ini keduanya hanya terdiam dalam keheningan, toh... rasanya sangatlah nyaman, entah kenapa. Baik Sasuke maupun Naruto sangatlah menyukai kebersamaan ini. Wajar bagi Naruto karena memang Sasuke adalah orang yang sangat berarti dalam hidupnya. Tapi untuk Sasuke, ia tidak mengerti mengapa bersama dengan orang yang beberapa minggu ini kenal sangatlah menyenangkan.

.

.

#

.

.

"Apa yang kau rasakan?" Itulah pertanyaan pertama dari seorang dokter muda bernama Sabaku Gaara, sesaat setelah pasiennya itu duduk. Yeah, ini adalah kali kedua Sasuke dan Naruto mendatangi rumah pondok rehabilitasi ini untuk berkonsultasi kepada Gaara, dokter berambut merah yang tampan.

"Tubuhku terasa dingin, dan nyeri... Juga gemetar," balas Sasuke datar. Ia yakin Gaara tidak lupa pada awal mula ia mengonsumsi Narkoba. Tentu saja alasannya karena Kakashi yang hampir setiap hari menyelipkan obat terlarang itu untuk ia konsumsi tanpa sepengetahuannya, selama keduanya menikah. Naruto yang masih betah mengubah identitasnya di depan Sasuke hanya diam saja. Memilih mendengarkan tanpa berniat menganggu obrolan kedua lelaki yang sama-sama memiliki kulit seputih susu.

Gaara mengangguk paham, "Sebelum kita memulai terapi ini, aku ingin menanyakan satu hal padamu?"

"Apa?"

"Seberapa besar keinginanmu untuk 'sembuh' Sasuke-kun?"

Sasuke terdiam cukup lama, memikirkan jawaban dari pertanyaan yang baru saja dokter berjas putih di hadapannya itu katakan. "Seberapa besar keinginanku untuk sembuh, sama besarnya dengan rasa cintaku pada keluargaku..." Juga terhadapnya...

Naruto yang mendengar jawaban tegas dari bibir bergetar Sasuke itu hanya dapat membelalakkan kedua bola matanya. Tidak menyangka jika pujaan hatinya itu akan menjawab demikian. Dan seandainya ia tau jika Sasuke berniat berubah juga demi dia, betapa Naruto akan menjadi manusia paling bahagia di dunia ini.

"Senang mendengarnya, karena niat kuatmu adalah modal terpenting untuk lepas dari 'narkoba'." Gaara tersenyum samar kepada pemuda yang 10 tahun lebih muda darinya. Sedangkan yang dipandangi hanya menatap lekat-lekat kedua bola mata Emerald dokter yang menanganinya.

Dimulai dari Ego State Therapy ( terapi untuk meredakan konflik internal dari ego si pengguna); Ego untuk terus memakai obat terlarang, dan Ego untuk menyudahi pemakaian pil berbahaya tersebut. Saat inilah, Sasuke sesekali menyeka airmatanya ketika egonya berusaha menguasai pikirannya. Teringat betapa sakitnya jika ia tidak memakan sebutir barang haram tersebut, dan betapa 'rusaknya' tubuhnya saat setelah mengonsumsi obat-obatan itu. Metode yang kedua adalah dengan menggunakan teknik Mind-body Connection. Yaitu teknik membangun komunikasi antara pikiran dan tubuh, sehingga tubuh dapat merespon komunikasi dengan pikiran dengan cara bereaksi dan bekerja sesuai dengan program yang ada dalam pikiran. Disaat inilah Gaara meminta Sasuke untuk merasakan seluruh tubuhnya, dan meminta maaf pada tubuhnya. Menghargai usaha tubuhnya untuk mengingatkan Sasuke agar lepas dari jerat narkotika. Tidak lupa, dokter muda itu meminta Ssuke untuk merasakan bagian tubuhnya hingga bagian yang terkecil. Guna mengeluarkan segala hal yang dapat membahayakan tubuhnya, membuang racun yang tersimpan ditiap-tiap sel yang ada di dalam dirinya. Yeah, inilah yang dimaksud dengan Auto Detoksifikasi. Lalu dengan metode Waterfall Technique, untuk membersihkan sisa 'sampah' mental dan fisik, untuk menjamin 'kebersihan' fisik dan mental Sasuke. Dan sesi Hypnotherapi ini ditutup dengan Anchor State, pada saat dilakukan Hypnotherapi dan Post Hypnotic Suggestion.

"Coba buka matamu! Bagaimana perasaanmu sekarang?" Tanya Gaara sesaat kemudian. Wajah Sasuke jauh lebih segar dari pertama kali datang ke tempat ini, juga terlihat tenang dan bahagia. "Aku merasa jauh lebih baik, Dok," jawab Sasuke, membuat Naruto yang mendengarnya turut tersenyum lega.

"Terakhir, aku akan melakukan Amplifying Step untuk memperbesar dan memperkuat perasan positif ke seluruh tubuhmu agar hasilnya lebih memuaskan." Kebanggaan seorang Sabaku Gaara adalah melihat satu lagi pasiennya lepas secara perlahan tapi pasti dari jerat narkotika. Dan nilai tambah baginya ketika melihat orang-orang disisi sang pasien atau untuk kali ini adalah Uchiha Sasuke berwajah bahagia.

._._. X ._._.

"Kau adalah pemuda dengan keinginan sembuh yang kuat, aku harap kau segera kembali 'sehat'..." Gaara tersenyum lembut ke arah Sasuke sebelum pemuda bersurai midnight blue itu meninggalkan ruang kerjanya. "Semoga, saat kita dapat bertemu untuk mengobrol, bukan panti rehabilitasi ini tempatnya," Pria dari klan Sabaku itu menepuk pundak Sasuke yang hanya mengangguk-anggukan kepalanya saja.

"Terima kasih untuk bantuannya, Dok!" Ucap Sasuke dan Naruto hampir bersamaan, dan dengan serempak pula keduanya saling melempar pandang setelah berkata dengan serempak. Sedangkan Gaara hanya dapat tersenyum simpul melihat kedua pemuda yang nampak sedang dimabuk cinta itu.

'Fiuuh... Cinta monyet...'

.

.

#

.

.

Memandangi Sasuke yang tertidur dari sudut matanya adalah hal yang sudah lama sekali tidak pernah Namikaze Naruto lakukan. Dan senang sekali ketika sekali lagi ia bisa melihat wajah polos Sasuke yang sedang menjejaki alam mimpi saat ini.

"Kau manis sekali, Teme. Gemas aku melihatnya," bisik Naruto sesaat setelah mengelus pipi putih Sasuke. "Dan pipimu, masih halus saja, ya?" Heran pemuda itu, terakhir ia menyentuh wajah si Raven adalah 7 tahun yang lalu. Dan mestinya, para pemuda yang sedang dalam masa pertempuhan sedikit banyak pasti akan berjerawat, tapi mungkin Sasuke rajin membersihkan wajahnya. Makanya, jerawat sekecil apapun enggan 'hinggap' di wajahnya.

"Enghh..." Naruto yang beberapa menit yang lalu fokus kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah Sasuke mendadak kembali melirik ke arah si pemuda. Mendengar Sasuke yang tertidur di kursi sampingnya akibat kelelahan setelah pulang dari rumah sakit hanya dapat tersenyum.

"Kenapa... Kenapa, Dobe?"

DEG!

Jantung Naruto mendadak berdegup 2 kali lebih kencang, mendengar Sasuke menyebutkan nama panggilan kesayangannya. Semakin penasaran, akhirnya Naruto memlilih menepikan mobilnya agar tidak terjadi sesuatu yang tidak ia inginkan.

"Kembali... Kembalikan 'hati' yang sudah kau ambil... Disini... Aku kesepian, Dobe!"

"Sasuke..." Hancur rasanya ketika Sasuke mengatakan itu meski tidak sadar. Rasanya, ia sudah seperti makhluk paling kejam yang tega membuat Sasuke menunggu kedatangannya tanpa kepastian.

'Apa kau begitu tersiksa karena aku, Teme...'

"Dobe... Kumohon..." Setitik bening mengalir bebas di sudut mata Sasuke, dan langsung dihapus jejaknya oleh si Pirang Namikaze.

"Maafkan aku, Teme..." Dengan satu gerakan, Naruto meraih bibir merah Sasuke yang terus meracaukan namanya dalam tidur. Menciumnya lembut pada awalnya, lalu mendominasi dengan mudah karena bibir Sasuke yang terbuka. Sudah lama ia, tidak mencium Sasuke sedalam ini.

"Engh?.." Merasakan sesuatu yang janggal, Sasukepun perlahan tapi pasti membuka matanya. Dan sudah dipastikan terkejut saat melihat wajah Menma begitu dekat dengannya.

"Mngpp.. Apa yang kau lakukan!" sergah Sasuke setelah mendorong pundak Menma kuat, hingga pemuda terhempas kembali ke bangku kemudi dengan punggungnya yang membentur pintu mobil. Belum sampai disana saja keterkejutan Sasuke, tiba-tiba dengan bola mata oniksnya, Sasuke melihat surai kuning cerah menyembul dari kening pemuda yang sering panggil Menma. Dengan ketakutan dan tangan bergetar, Sasuke menarik kasar rambut hitam pemuda itu. Dan mendapati surai kuning cerah sesaat setelah wig berwarna gelap itu enyah dari tempatnya.

"I-ini..." Naruto dan Sasuke membeku ditempatnya atas kejadian yang berlangsung secara mendadak ini. Apalagi Sang bungsu Uchiha, ia tidak menyangka jika orang yang menemaninya selama beberapa minggu ini, orang yang selalu berpura-pura menjadi Menma Uzumaki, adalah orang yang selama ini ia tunggu kedatangannya. "Kau... Aku membencimu!"

BRAAKK

Saat ini, yang mampu dilakukan seorang Namikaze Naruto adalah memandang kepergian sosok Uchiha Sasuke dalam diam dan kesedihan.

._._. X ._._.

"Sasuke... Naruto ingin bertemu denganmu!"

"Katakan padanya aku tidak mau!"

"Kasihan, dia..."

"Aku tidak peduli, Kaasan!"

"Tapi Kaasan peduli, dia terlihat sangat sedih..."

"Lalu, bagaimana dengan perasaanku, Kaasan? Apa Kaasan tau seperti apa rasanya menunggu, seperti apa rasanya dibohongi, seperti apa rasanya diperlakukan seperti ini oleh orang yang Kaasan cintai?!"

"Sasuke..."

"Sudahlah, Kaasan! Katakan padanya, jangan pernah muncul lagi di depanku!"

Mikoto menatap sedih pada kekeras kepalaan anaknya bungsunya itu, sebelum menutup pintu kamar Sasuke dan menemui Naruto yang duduk di sofa lantai dasar. "Naruto-kun..."

"Ah, tidak apa-apa Kaasan, aku mengerti..." Naruto tersenyum getir ke arah Wanita yang tak kalah cantik dari ibunya. Wanita yang kini ia panggil 'kaasan' layaknya ibunya sendiri.

"Sasuke mungkin butuh waktu..."

Naruto mengangguk paham dan tersenyum sekali lagi sebelum mengundurkan diri dari kediaman Uchiha. Sasuke, membencinya... Dan ini memang salahnya... 'Gomen, Sasuke... Gomen...'

.

.

#

.

.

"Ne, Sasuke. Ternyata Menma yang kita kenal itu sebenarnya Namikaze Naruto, an-"

BRAAKKK!

Tidak hanya Houzuki Suigetsu saja yang terkejut ketika Sasuke yang marah mendadak menggebrak meja, tapi siswa dan siswi yang kebetulan berada di dalam kelas juga. "Jangan pernah sebut nama si brengsek itu di depanku!" bentak Sasuke garang. Lalu berjalan cepat menuju pintu, tapi belum sampai melewatinya sesosok pemuda tampan berpupil biru membuat langkahnya terhenti. Siapalagi kalau bukan sosok Namikaze yang Sasuke maksud. Dengan benci, Sasuke memandang pemuda yang menatapnya sedih. sebelum melewatinya dan menubrukkan pundaknya dengan kasar ke pundak Naruto. Tapi belum sempat melangkahkan kakinya menjauh, Naruto terlebih dahulu meraih tangannya, menggenggamnya erat, seraya bergumam, "Jangan menghindariku lagi, kita perlu bicara!"

"Iie, Lepas Naruto! LEPAS!" Sasuke meronta, berusaha melepaskan tangan Naruto yang menggenggam kuat lengannya, menariknya paksa entah kemana. Padahal mereka telah menjadi pusat perhatian di seluruh lorong sekolah, tapi Naruto tak peduli, dan Sasuke hanya ingin melepaskan diri dari Naruto.

.

.

#

.

.

BRUUGH

Naruto menghempaskan Sasuke ke pagar pembatas saat mereka sampai di atap sekolah. Dengan kasar ia kunci gerakan Sasuke agar tak melarikan diri. "Naruto, menyingkir! Lepaskan ak-Mnpp... Nnhh.." Sasuke menelengkan wajahnya ke kanan dan ke kiri, menolak ciuman sepihak Naruto. Meski ia merindukan semua kelembutan si pirang, saat ini ia sedang tidak ingin melakukan ini semua. Apalagi, ia sedang kesal karena kebohongan Naruto terhadapnya. Tapi Namikaze muda itu tidak peduli. Ia terus saja menciumi bibir Sasuke membabi buta, entah apa alasannya, ia hanya sedang ingin melakukan hal tersebut.

"Mnnpp... Nnnp... Ahh..." Desahan lirih meluncur bebas dari bibir Sasuke, ketika Naruto 'menyerang' lehernya. Menandainya dengan kecupan-kecupan hingga menciptakan bekas kemerahan, tak peduli pada Sasuke yang terus menerus memakinya. "Hentikan! Oii, Dobe! Khh..." Sasuke mati-matian berusaha mendorong bahu Naruto, tapi entah kenapa, tenaganya seperti dihisap oleh si pemilik bola mata safir ketika menciumnya tadi.

"Akh... Eunghh... CUKUP DOBE!" Sentakan terakhir Sasuke akhirnya mampu membuat Naruto kembali sadar dan menyudahi tindakannya. Sepasang bola mata kelam Sasuke memandang nyalang ke arah Naruto yang kini berdiri beberapa langkah di depannya.

"Aku merindukanmu Sasuke, aku mencintaimu... Bukankah kau juga sama, bukankah kau juga merindukanku'

"Aku membencimu! Kau pembohong!"

"Tapi ini demi kau, Sasuke. Aku ingin tau seberapa besar cintamu padaku?"

"Dengan mempermainkan hatiku, hah?" Naruto tak mampu menjawab, dia hanya memandang Sasuke dengan wajah sendu. Sementara Uchiha di depannya masih tersungut-sungut marah.

"Hatiku sakit, Dobe! Dan kau tau kenapa? Itu karena kau! Memangnya dimana hatimu sampai kau tega mempermainkan perasaanku, HUH?"

"Hatiku?.. Kutitipkan padamu sejak 7 tahun yang lalu, Sasuke. Apa kau lupa?" Kini giliran Sasuke yang dibuat bungkam, jadi Naruto juga melakukan 'hal' yang sama sepertinya sejak hari perpisahan itu. "Kita berjanji untuk selalu saling memiliki dengan 'meninggalkan' hati masing-masing, dan begitu aku kembali, aku menepati itu semua 'kan? Aku setia..." Naruto menatap Sasuke dengan tegas.

"Lalu kau menganggapku tak setia karena kejadian dengan Hatake Kakashi bukan?"

"Itu bukan keinginanmu, takdirmu hanya denganku, itu hanyalah sedikit 'trik' Tuhan, aku tau cintamu hanya untukku!" Digenggamnya jemari Sasuke yang refleks menghindar. "Aku bukan Sasuke yang dulu, aku 'kotor', aku terlalu hina untukmu..." Ujar Sasuke lirih, suaranya seolah tercekat di tenggorokan ketika melafalkan kalimatnya. Sakit... Dadanya terasa begitu sakit, terlebih ketika menatap wajah si pemilik surai kuning di depannya. "Aku, tidak pantas untuk kau miliki..."

"Aku tidak peduli, Teme. Seberapa hinanya dirimu, aku tetap mencintai, persetan dengan itu semua. Karena benar kata orang, cinta itu buta. Dan biarlah tetap seperti ini, aku ingin memandangmu sebagai sosok Sasukeku yang paling sempurna. Sasuke akhirnya menyerah, amarahnya teredam oleh kata-kata Naruto yang 'menyejukkan' hatinya. "Kemarilah, peluk aku! Jadikan aku milikmu lagi, Teme!" Setengah ragu, Sasuke mengayunkan kakinya ke arah si pirang, hanya satu langkah saja, karena selanjutnya Narutolah yang menerjang tubuhnya, mendekapnya erat tak berniat melepaskannya. Memeluk Sasuke sebagai Namikaze Naruto, bukan Uzumaki Menma.

"Aku mencintaimu, Sasuke... Sampai kapanpun aku tetap mencintaimu..."

"Hn.. Aku juga, Dobe..." Langit biru dan matahari yang makin meninggi di atas angkasa sana, menjadi saksi betapa 'abadinya' cinta keduanya. Cinta yang tak lekang oleh waktu meski sempat terpisah. Siapa peduli dengan gender atau pandangan masyarakat mengenai hubungan tak lazim keduanya. Asalkan mereka bersama, asalkan mereka saling mencintai, itu tak masalah. Biarlah orang-orang diluar sana mengujat sampai seperti apapun, asal Naruto dan Sasuke bersama semua akan baik-baik saja, dan terlalui dengan muda. Benarkan, Naruto... Sasuke? ._._. X

._._. Fin ._._. X ._._.

Selesai... #lari keliling rumah

Maaf jika banyak adegan yang nggak penting, dan romance NaruSasunya yang kurang pake banget. T_T

Thanks buat semuanya yang udah review.. Salam kenal, #senyum 5 jari

Mind to review please...

Regards,

Fu Shiawase ^_^