Gadis berambut soft pink panjang itu melangkah mantap, manik emerald indahnya tidak berubah. Masih berkilau seperti dulu. Kulit putih susunya dibalut cardigan berwarna putih gading, dengan dalaman mini dress berwarna pink pudar.

Dia berjalan memasuki kafe di daerah itu, lalu menghampiri seseorang yang terlihat sibuk di sana.

"Bisa saya pesan kuenya?"

Gadis pirang berkuncir kuda itu menengok, manik aquamarine-nya bergetar. "Sa—sakura?"

Sakura tersenyum, "Tadaima."


TITLE: BAKERY OF LOVE

PAIRING: SASUKE UCHIHA & SAKURA HARUNO

DISCLAIMER: MASAHI KISHIMOTO

AUTHOR: KAHO

RATE: T


WARNING

OOC (mungkin), TYPO, ABAL, LAST CHAPTER


.

.

.

"Sakura!" Ino kembali memeluk tubuh sahabatnya itu erat. Terlihat gadis ramping itu begitu merindukan dirinya.

"Kau ini! Katanya kau mau mengunjungiku." Ino melepas pelukannya dan cemberut.

"Bukankah aku sedang mengunjungimu?"

"Maksudku bukan bertahun-tahun setelah kau pergi kau baru mengunjungiku!"

"Maaf maaf." Sakura menjulurkan lidahnya, "aku hanya begitu sibuk mengurusi segala hal."

"Tidak apa-apa, lalu bagaimana kehidupanmu? Kau kuliah jurusan apa?"

"Semuanya baik-baik saja kok. Aku mengambil jurusan kedokteran. Kau sendiri?" Sakura mengedarkan pandangannya, "Kafemu semakin ramai ya, kau bahkan sudah bisa mempekerjakan orang."

"Ya begini lah keadaanku, sedikit sibuk dengan kafe ini." Ino turut mengedarkan pandangannya, "Ya, aku bersyukur bisa menjalankan kafe ini. Kau mau bekerja di sini lagi?"

"Ah, tidak. Aku disini hanya beberapa hari saja."

"Apa? Lalu kapan kau akan pergi?"

"Lusa."

"Sakura..." Ino merengek.

"Aku akan mengunjungimu lagi kok."

"Iya tapi 9 tahun lagi." Cibir Ino. Sakura tertawa.

.

.

.

Setelah berkunjung ke kafe, Sakura memutuskan untuk pergi ke tempatnya dulu. Sebenarnya dia tidak ingin mengingat masalalu apalagi mungkin rasa pahit itu akan kembali menjalar di hatinya, namun dia hanya ingin memastikan apakah kue yang dia gantung dulu masih ada. Perlahan dia mendekati pohon yang masih terlihat sama lalu berdiri di sampingnya. Sudah tidak ada rupanya?

Manik hijaunya menerawang ke bawah sana. Ahh.. Rindunya..

Apakah pemuda itu masih sering lewat sini. Setelah sembilan tahun berlalu mungkinkah dia sudah menikah?

Sakura menarik nafasnya lalu bergumam, "Sasuke-kun..."

"Hn?"

Sakura menoleh.

Eh?

"Ka—kau?"

Lutut Sakura terasa lumpuh seketika saat sadar bahwa pemuda raven itu sudah berdiri tidak jauh darinya.

Ke—kenapa dia ada di sini? Lalu itu...

Sakura melirik kardus kue yang di bawa Sasuke.

Itu kardus milikku kan? Se—sebenarny...

"Baka!"

"Eh?" Sakura menatap pemuda jangkung itu. Dia bilang apa tadi?

"Aku bilang kau itu bodoh! Dasar gadis bodoh!"

Di—dia kenapa sih? Kok tiba-tiba...

Grep

Tanpa ba bi bu lagi Sasuke menarik gadis soft pink itu ke pelukannya.

Lho? Lho? Mata Sakura terasa berkunang kunang.

"A—a—a-."

"Diamlah!" Sasuke mengeratkan pelukannya. "Bagaimana bisa kau meninggalkanku setelah mengungkapkan perasaanmu?"

"A—a—a-."

"Aku tahu kau selalu melihatku dari sini."

Eh?

"Tapi kau tak pernah berani untuk menemuiku."

Kenapa...

"Kenapa kau selalu bersembunyi, Sakura-chan."

Ugh! Sakura menggigit bibir bawahnya, pertahanannya jebol. Airmata yang berusaha dia tahan malah mengalir sangat deras. Apalagi saat pemuda itu mengucapkan namanya. Dia bahkan tidak bisa berkata apa-apa selain menenggelamkan wajahnya di bahu Sasuke.

"Tolong jangan selalu berada di belakangku." Sasuke melepas pelukannya.

"Aku.." Sakura menunduk dalam, "Aku.. hiks.. tidak.. hiks.. berani.."

"Sasuke-kun.. hiks.. terlihat begitu sempurna." Sakura terisak, "lagipula.. hiks.. aku tidak secantik si.. hiks cherry itu.."

"Si cherry?"

Sakura mengangguk, "Gadis yang kau sukai."

Sasuke terkekeh membuat manik hijau itu menatap kearahnya dengan tatapan bingung. "Si cherry itu adalah kau."

Tik

Tik

Tik

"EEEEEEEEHHHHHHHHHHHHHH?"

"Ja-jadi aku cemburu pada diriku sendiri?"

"Yah, begitu lah."

"Be-benar-benar memalukan." Sakura menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, membuat pemuda di hadapannya semakin gemas.

"Kalau kau menutupi wajahmu aku jadi tidak bisa melihat gadis cantik ini lagi." Sasuke menarik tangan kurus itu lembut.

"Ja—jangan lihat! Aku merasa berantakan."

Sasuke tersenyum, "Kau masih terlihat sama kok."

Sasuke merendahkan kepalanya dan mencium bibir Sakura singkat.

Blush

"Eh?"

"Aku menyukaimu."

Sakura tersenyum lebar lalu menerjang tubuh pemuda itu dan memeluknya dengan erat, "Aku juga! Aku sangat sangat sangat menyukaimu!"

"Iya, aku tahu."

"Sangat sangat sangat!"


Owari


.

.

.

OMAKE

.

.

.

Namaku Sasuke Uchiha, aku murid di salah satu SMA favorit di kota ini. Oh iya, sudah sejak seminggu ini ada seorang gadis yang mengikutiku. Rasanya aneh, dan aku memang merasa sedikit parno. Dia selalu berdiri di balik pohon, dia benar-benar seperti hantu. Hingga akhirnya hari ini aku memutuskan untuk pergi ketempatnya bekerja, sebenarnya karena penasaran suatu hari saat aku berjalan sendirian aku mengikutinya saat dia pikir aku sudah pergi jauh.

Hari ini aku pergi ke kafe tempat dimana dia bekerja. Ini aneh memang, namun saat melihat nya memakai baju maid dengan kuping kucing itu membuatnya terlihat sangat manis, apalagi pipi yang berwarna merah itu, hingga aku hanya bisa menunduk berpura-pura memilih kue yang akan ku beli. Namun karena aku tidak tahu harus beli apa setelah mengingat pipi merah itu aku malah berkata Cherry.

Aku sempat kelabakan saat dia bertanya apakah kue itu untukku, kalau aku menjawab untukku dan dia menyuruhku untuk makan di sini aku bisa tewas, dan kalau aku bilang aku tidak suka manis dia akan merasa curiga. Saat dia mengira kue ini untuk kekasihku matanya terlihat basah, senyumannya juga terlihat terpaksa. Dan entah kenapa perasaan terlukanya sampai di hatiku. Dan bodohnya aku malah kelepasan bilang aku menyukainya.

Hingga akhirnya karena aku ingin selalu melihat wajah manisnya, aku memutuskan untuk berkunjung setiap hari, membeli kue yang sama dan mengucapkan kata-kata yang sama berharap dia akan segera menyadarinya.

.

.

Hari ini hujan lebat, aku ingin tinggal saja di sekolah sampai hujan reda. Aku juga tidak bawa payung. Tapi bagaimana kalau gadis itu menungguku? Setelah meminjam payung dari Naruto dan memberinya ongkos untuk naik taksi aku segera berlari, karena ini memang sudah lewat dari jam pulang. Aku dapat melihat dari kejauhan gadis itu berdiri kehujanan di bawah pohon sana, dan segera bersembunyi saat aku semakin mendekat. Aku mengeluarkan ponselku dan berpura-pura menelpon Naruto, jadi aku ada alasan untuk berhenti di depan pohon tersebut. Aku menyebut namaku sendiri, dan sengaja menyebut nomor ponselku dengan keras, tentu saja itu nomorku yang lama. Aku lalu berjalan menjauhinya. Saat sampai di jembatan aku terpeleset dan jatuh, tapi untungnya aku di selamatkan oleh beberapa orang yang lewat di sana. Namun kaki kiriku retak, dan aku harus di rawat di rumah sakit.

Malam harinya kerjaanku hanya menatap ponsel yang aku letakkan di dadaku. Berharap gadis itu akan menelponku. Dan benar saja, ponselku bergetar, aku menyahutnya tapi tidak segera mengangkatnya. Aku membiarkannya bergetar cukup lama lalu setelah itu aku mulai mengangkatnya. Aku tau itu bukan Naruto, tapi aku terus saja mengoceh. Namun dia malah menutupnya. Sial!

Sudah seminggu aku berbaring disini, aku khawatir apakah gadis itu masih menungguku. Ataukah dia sudah bosan. Aku ingin segera menemuinya.

Sebulan kemudian aku sudah boleh meninggalkan rumah sakit, tempat yang aku tuju pertama kali bukanlah rumah, melainkan tempat itu. Aku tidak melihat siapa-siapa selain kardus bercorak hati. Aku membukanya dan mendapati kue bertoping cherry yang sudah layu. Aku juga menemukan note bertuliskan aku menyukaimu, sayounara. Sayonara? Apa maksudnya?

Aku segera berlari ke kafe tempat dimana dia bekerja, dia tidak ada! Dia dimana? Arg sial! Gara-gara kecelakaan itu! Hingga akhirnya aku memutuskan untuk bertanya pada gadis pirang pemilik kafenya. Saat dia bilang kalau gadis itu pergi aku benar-benar tidak tau harus apa. Kesal, tidak percaya dan menyesal menjadi satu.

Aku meninggalkan nomor ponselku dan meminta bantuannya untuk menghubungiku kalau gadis pink itu kembali. Aku pulang dengan perasaan hampa, hanya roti berjamur inilah satu-satunya kenangan darinya. Aku tak suka manis, namun ini buatannya kan? Aku tak akan menyia-nyiakannya. Jangan tanya, setelah memakan roti berjamur itu aku diare selama seminggu penuh.

Hingga akhirnya setelah sembilan tahun Ino menghubungiku, dia bilang kalau Sakura baru saja dari kafenya. Rasanya ada sesuatu yang ingin meledak dari diriku saat mendengar kata itu. Aku melompat dari tempat tidur dan berlari sekencang-kencangnya menuju pohon kenangan itu. Aku ingin menemui gadis yang telah mencuri hatiku. Ah ngomong ngomong syal dan sarung tangan yang dia pakai adalah milikku.


Yosh selesai! Mau ngelanjutin yang pacar sewaan tapi masih bulan puasa :v takut kalo bikin dosa. Ya udah iseng bikin fic ini.. terima kasih bagi yang sudah membaca sampai sini.

Mind RnR please? :D