Author's Note: Yey! Akhirnya chapter 2 selesai juga! Serius, chapter ini rumit banget buat direalisasikan karena saya terlalu banyak ide, hehehe. Omong-omong, terima kasih banyak buat semuanya yang udah baca dan review! Kalian encouraging banget! :'D
Selamat membaca, semoga terhibur!
Disclaimer: I do not own Naruto.
Chapter 02 - Kakuzu's Assistant
Kabar tentang Hidan yang tiba-tiba terkena amnesia sukses membuat Deidara dan Tobi heboh (untuk Sasori, sulit mengatakan ia tengah terkejut atau tidak dengan ekspresi yang selalu tampak marah begitu) . Mereka berdua dan Kakuzu pun terus membanjirinya dengan pertanyaan-pertanyaan—untuk mengetes apakah Hidan benar-benar kehilangan ingatannya atau tidak.
"Nah, Hidan, apakah kau ingat namaku, un?" tanya Deidara.
Hidan menatap Deidara dengan pandangan bingung.
"Tidak ingat."
"Kalau dia?" Deidara menunjuk Sasori.
"Tidak ingat."
"Apa kau ingat namaku, brengsek?" tanya Kakuzu.
"M-maaf, tuan, tapi aku tak ingat—"
"Katakan, Hidan-san! Apakah Hidan-san ingat nama Tobi?" tanya Tobi dengan nada khawatir.
Sejenak, Hidan terdiam melihat Tobi—seperti sedang berusaha mengingat sesuatu. "Namamu Tobi."
Mata Tobi berbinar-binar. "Lihat, lihat! Hidan-san ingat nama Tobi!"
"Diam, Tobi! Jika kau selalu menyebutkan namamu seperti itu, tentu orang akan tahu siapa namamu, bodoh!" sahut Deidara, ketus.
"Jadi, kenapa ini bisa terjadi?" Sasori bertanya pada Kakuzu.
"Yah...aku tak terlalu memperhatikan, tetapi sepertinya si bodoh ini terpeleset dan terjatuh sampai pingsan." jelas Kakuzu, "setelah sadar, ia tampak seperti orang linglung. Aku kesal, kupikir dia sedang bercanda, jadi aku pukul kepalanya dengan keras. Tetapi ia malah pingsan lagi."
Lalu hening.
Hidan terlihat sedang mengelus-elus kepalanya—mungkin masih merasakan sakit dari hajaran mentah Kakuzu tadi.
"Hi-Hidan-san...apakah kau tidak mengingat sesuatu, sedikit saja?" tanya Tobi.
Hidan menundukkan wajahnya. Wajahnya terlihat sedih.
"...tidak sama sekali..."
"Sungguh...?"
Hidan mengangguk pelan.
Tobi pun mengelus-elus pundak Hidan, merasa prihatin dengan keadaannya.
"Hidan pasti akan segera dikeluarkan dari Akatsuki." ungkap Sasori. "Selamat, Kakuzu, kau akan segera dapat partner baru lagi."
"Hm? Kau yakin Hidan akan dikeluarkan semudah itu, Danna?" ucap Deidara, ragu akan pendapat Sasori.
Kakuzu hanya diam, sedang memikirkan sesuatu.
"T-tidak bisa! Tobi menolak! Tobi tidak ingin Hidan-san keluar begitu saja karena hal ini! Tidakkah Senpai dan Sasori-san mengerti pengorbanan Hidan-san untuk masuk ke Akatsuki?!" seru Tobi.
"Diam kau, Tobi! Hm!" sahut Deidara, "nah, bagaimana pendapatmu, Kakuzu?"
"Cara terbaik melepas seorang anggota Akatsuki adalah dengan membunuhnya." jelas Kakuzu, "tetapi untuk Hidan, sepertinya cara ini—"
"MEMBUNUHKU?!" pekik Hidan, ketakutan, "a-aku akan...di-di-dibunuh...?!"
Kakuzu menangkap ekspresi takut Hidan.
"Oh, tentu saja. Leader pasti akan membunuhmu, membuangmu, lalu membiarkan mayatmu membusuk dan dipenuhi belatung." kata Kakuzu, lalu tersenyum licik dari balik maskernya.
Fu fu fu...Menakut-nakuti si brengsek yang sedang amnesia ini menyenangkan juga, batin Kakuzu.
Tubuh Hidan bergetar. Keringat dingin mengucur dari kepalanya. Sepertinya Hidan menganggapnya terlalu serius.
"Diam dulu semuanya..." Sasori menyentuh telinga kirinya—terlihat sedang memfokuskan pendengarannya, "ada panggilan dari Leader."
"Oh, menyebalkan sekali." Deidara menepuk dahinya.
"Apakah itu panggilan untuk pertemuan, Sasori-san?" tanya Tobi.
"Ya."
Kakuzu berbalik membelakangi Hidan dan yang lainnya. "Khu khu khu...selamat tinggal, Hidan. Tidak lama lagi, kau bukanlah seorang member Akatsuki, khu khu khu..."
Kemudian ia menghilang.
"Sepertinya Kakuzu sangat mengharapkan Hidan keluar dari Akatsuki, hm." kata Deidara, sweatdrop.
Hidan masih bingung harus merespon apa. Sejak Kakuzu mengatakan ia akan segera dibunuh, ia hanya bisa menangis ketakutan saja daripada berpikir untuk menyelamatkan diri.
"Terserah. Cepat kita menuju ke ruang utama." tukas Sasori.
Sasori dan Deidara pun segera menghilang sesaat setelah Kakuzu pergi, sedangkan Tobi dengan senang hati membantu Hidan melangkah menuju ruang penyegelan bijuu.
Malamnya...
"Baiklah, semuanya sudah berkumpul." kata Pain, mengawali pertemuan di ruang utama yang minim cahaya. "Langsung saja. Kakuzu dan Hidan."
"Ya, Leader." jawab Kakuzu.
"Kudengar kalian belum berhasil melaksanakan misi menangkap Nibi."
"Ya, Leader." Kata Kakuzu, lalu melirik ke arah Hidan di sampingnya, seperti ingin mengatakan "salah siapa, coba."
"Tidakkah kalian berdua tahu seberapa pentingnya misi ini?" nada Pain meninggi.
"Kami tahu, Leader. Di tengah misi, kami mendapat masalah."
Pain menyipitkan matanya. "Masalah?"
Kakuzu mendesah kesal.
"Hidan tiba-tiba kehilangan ingatannya."
Spontan, Kisame, Zetsu, dan Itachi menoleh ke arah Kakuzu.
"Hah?" kata sisi putih Zetsu.
"Aku tidak mengerti maksudmu, Kakuzu-san." kata Kisame.
"Aku juga." sisi hitam Zetsu berbicara.
Itachi tidak berkomentar apa-apa. Sementara Hidan terlihat grogi.
"Ulangi penjelasanmu, Kakuzu." ucap Leader.
"Yah, awalnya, Hidan sedang berlari mengejarku, tetapi ia terpeleset dan jatuh membentur sabitnya. Setelah sadar, ternyata dia telah kehilangan ingatannya."
"Benarkah begitu, Hidan?" Leader tiba-tiba berbicara pada Hidan, dan itu membuatnya terkejut.
"E-eh...y-yah...kurasa begitu." jawab Hidan sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Dasar ceroboh!" geram Pain, tampak tidak senang. Hidan sedikit terkejut dengan nada Pain yang tiba-tiba meninggi.
"Jadi, bagaimana keputusan anda, Leader?" tanya Kakuzu dengan nada memancing.
Mata Pain memandang tajam ke arah Hidan.
"Hidan." ucap Pain kemudian.
"Y-ya...?"
"Seberapa jauh ingatanmu menghilang?"
"E-eh...se-seberapa jauh ya..." Hidan kembali menggaruk-garuk kepalanya.
"Apakah kau masih mengingat segala hal yang berhubungan dengan Akatsuki?"
"A-Akatsuki?" Hidan memiringkan kepalanya, "apa itu Akatsuki?"
Seluruh member tercengang—tidak percaya dengan apa yang baru saja Hidan katakan.
"Kau tidak tahu apa itu Akatsuki?" Pain mengkonfirmasi.
"U-um...yah, sepertinya tidak...?"
"Lalu, apakah kau masih ingat bagaimana caramu bertarung?"
Hidan mengerutkan keningnya. "Bertarung?"
"Kau selalu bertarung menggunakan sabitmu itu, Hidan. Apa kau tidak mengingatnya juga?"
"A-aku..." Hidan menundukkan kepalanya, "...aku tak ingat..."
Semuanya kembali terbelalak. Sampai seperti itu pun dia tidak mengingatnya?!
"Separah itukah amnesianya?!" Deidara memekik.
Pain termenung selama beberapa detik.
"Hidan!" panggil Pain dengan nada tinggi.
"Y-y-ya?!" Hidan makin ketakutan.
"Dengan kondisimu yang seperti ini, kau hanya akan mengganggu jalannya misi dan merepotkan Kakuzu." seru Pain, "maka dari itu, keputusan yang akan kujatuhkan padamu adalah..."
Jantung semua member kini berdetak kencang menunggu keputusan yang akan diberikan Pain kepada Hidan. Berbeda dari yang lainnya, Kakuzu justru malah tersenyum senang. Dalam hati, ia sangat yakin Hidan akan dikeluarkan dari Akatsuki.
"...kau akan tetap menjadi seorang member Akatsuki dan partner dari Kakuzu!"
Kakuzu terkejut—dugaannya salah total. Beberapa member ada yang terlihat lega dengan keputusan itu, sedangkan beberapa lagi tampak tidak setuju.
"Kenapa kau tidak mengeluarkannya saja, Leader?!" geram Kakuzu.
Pain menoleh ke arah Kakuzu.
"Kita sudah tidak punya banyak waktu lagi untuk mencarikanmu partner baru, Kakuzu. Pada akhirnya, kau juga akan selalu membunuh mereka. Hidan adalah partner yang paling tepat untukmu." jelas Pain.
"Tapi, seperti yang anda katakan tadi, ia jelas tak akan berguna jika pergi ke dalam misi dengan keadaan amnesia seperti itu! Dia akan menghambat jalannya misi!"
"Maka, itu tugas kalian semua untuk membantu mengembalikan ingatan Hidan. Meskipun ia tidak mengingat semuanya, aku yakin Hidan akan cepat terampil mempelajari kembali cara dia bertarung. Aku minta kerja sama kalian, terutama kau, Kakuzu."
Perkataan Pain disambut dengan tepuk tangan dari Tobi. "Leader-sama! Tobi setuju dengan pendapat Leader-sama! Tobi akan membantu Hidan-san mengembalikan ingatannya!"
Hidan tampak terharu.
"Te-terima kasih...Tobi-san!"
"Okie-dokie, Hidan-san!"
Kakuzu geram. Sepertinya ia menjadi satu-satunya orang yang menolak keputusan Pain.
"Baiklah, kusampaikan kepada kalian semua. Misi-misi yang sudah kalian terima harus berjalan dengan sukses. Penyegelan bijuu harus segera dilaksanakan kembali, maka dari itu, aku TIDAK mentolerir kegagalan misi. Jelas?" perintah Pain menggema ke seluruh ruangan.
"Jelas, Leader." jawab seluruh member.
"Baiklah. Pertemuan hari ini selesai. Kalian boleh pergi."
Dengan cepat, Pain menghilang dari pandangan.
Sesaat setelah rapat selesai, seluruh member berkumpul di sekeliling Hidan dan Kakuzu.
"Kakuzu-san, jadi Hidan-san benar-benar kehilangan ingatannya?" tanya Kisame.
"Lihat saja sendiri." jawab Kakuzu.
Kisame menatap Hidan dengan pandangan penasaran. "Hidan-san, apa kau mengenalku? Namaku atau sesuatu yang—"
Spontan, Hidan langsung berteriak ketika melihat sosok Kisame di depannya.
"SI-SILUMAN HIU?!"
Kisame terkejut begitu mendengar Hidan meneriakkan kalimat itu—sweatdrop. Deidara dan Zetsu tampak menahan tawa mereka.
"Y-yah...sepertinya dia benar-benar kehilangan ingatannya...ha-ha-ha." tawa Kisame terdengar garing. Sebelumnya, belum pernah ada yang memanggilnya 'siluman hiu' selain Hidan. Ia membatu sekarang.
"Oi, Hidan, apa kau ingat aku?" sekarang giliran Zetsu yang bertanya.
Tapi bukannya menjawab, lagi-lagi Hidan malah berteriak histeris seperti tadi.
"MONSTER VENUS?!"
Sama seperti Kisame, reaksi Zetsu pun juga terkejut mendengar ucapan Hidan.
"Siapa yang monster?" tanya Zetsu, kesal.
"DI-DIA BISA BICARA!?" jerit Hidan, shock. Refleks, ia pun bersembunyi di balik punggung Kakuzu, ketakutan.
Zetsu mulai tampak marah sekarang.
"Apa yang kau kata—"
"Nah, nah, tenanglah sedikit Zetsu-san!" Deidara melerai mereka berdua sambil tetap menahan tawa. "Hidan, kuingatkan bahwa Zetsu ini kanibal, jadi jangan macam-macam terhadapnya, atau kau akan dimakan olehnya. Kau mengerti?"
Monster Venus ini memakan manusia?! Me-mengerikan sekali!, batin Hidan.
"A-aku mengerti..." jawab Hidan sambil menengok Deidara dari balik punggung Kakuzu, "terima kasih atas infonya, Nona..."
Deidara tersenyum. "Sama-sama, Hidan—eh...?"
Kemudian hening.
"A-APA?!" Deidara memelototi Hidan dengan tatapan yang menakutkan. "KATAKAN SEKALI LAGI, HIDAN?!"
"E-eh...ke-kenapa?! Apa ada yang salah, Nona?!" tanya Hidan, tak mengerti.
"BE-BERANI LAGI MEMANGGILKU SEPERTI ITU, AKAN KULEDAKKAN KAU, HM!"
Hiiiy! Menakutkan sekali gadis ini!, pekik Hidan dalam hati.
"Ma-maafkan aku! Ka-kalau begitu, aku harus me-memanggilmu apa...?"
"Sebut aku dengan namaku! Deidara!"
"Ba-baik, aku mengerti!"
Wajah Deidara masih memerah karena malu—disangka sebagai seorang gadis adalah sebuah hinaan besar baginya.
"Sudahlah, senpai! Bukan salah Hidan-san kalau ia menyangkamu sebagai seorang perempuan!" kata Tobi.
"A-apa katamu, Tobi?!"
Kisame mengeluarkan suara 'buh' dari belakang Deidara.
"Apa yang kau tertawakan, heh?!" ucap Deidara, kesal.
Saat Deidara masih sibuk mengomel, Hidan memberanikan dirinya untuk berdiri di hadapan semua member Akatsuki, lalu membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu.
"A-anu...bolehkan aku bertanya tentang beberapa hal kepada kalian? Mi-misalnya...tentang siapa diriku, apa itu Akatsuki, serta nama-nama kalian semua..."
Semua member saling berpandangan mendengar ucapan Hidan, kemudian secara bersamaan menatap Kakuzu, seakan-akan mengatakan "jelaskan padanya, Kakuzu."
Kakuzu tersenyum kecut. "Oh, sial."
Hidan memandang Kakuzu dengan pandangan mengharap, seperti ingin mengatakan "kumohon, Tuan!"
Kakuzu mendesah kesal.
"Baik, baik, Hidan, akan kujelaskan. Tapi, kau harus menerima persyaratanku."
"S-syarat?"
"Ya. Dan syaratnya adalah...kau harus mau menjadi asisten pribadiku."
Mata Hidan berbinar-binar. Senyum lebar pun muncul di wajahnya.
"A-asisten...? Asisten pribadi Tuan?!" Hidan tanpa ragu menganggukkan kepalanya, wajahnya sangat bahagia, "B-baik, Tuan! Dengan senang hati! Terima kasih!"
Semua member (kecuali Tobi— yang malah tampak terharu) saling berpandangan lagi, tidak percaya Hidan mau begitu saja menerima persyaratan Hidan.
"Selamat, Hidan-san! Kau menjadi asisten Kakuzu-san sekarang!" ucap Tobi riang, sambil menepuk bahu Hidan.
"T-terima kasih, Tobi..." jawab Hidan, terbata-bata.
"Oh, dan jangan lupa, Hidan. Sebagai asisten, kau harus mematuhi semua ucapanku dan tidak boleh membantah. Mengerti?" tambah Kakuzu.
"Mengerti, Tuan!"
Kakuzu pun berbalik meninggalkan semua member . Sambil melangkah, ia kembali tersenyum misterius.
Fu fu fu...Rasakan itu, Hidan. Aku menang darimu, fu fu fu...ucap Kakuzu dalam hati.
Hari Pertama
"Hidan."
"Ya, Tuan?"
"Cuci bajuku."
"Baik, Tuan!"
Hari Kedua
"Hidan."
"Ya, Tuan?"
"Buatkan aku sarapan."
"Baik, Tuan!"
Hari Ketiga
"Hidan."
"Ya, Tuan?"
"Pijat kakiku."
"Baik, Tuan!"
Hari Ketiga
"Hey, brengsek."
"Ya, Tuan?"
"Buatkan aku sarapan. Jika gosong lagi seperti kemarin, kubunuh kau."
"Baik, Tuan!"
Hari Keempat
"Hey, brengsek."
"Ya, Tuan?"
"Pijat kakiku. Jika sampai lebam lagi seperti kemarin, kubunuh kau."
"Baik, Tuan!"
Deidara, Tobi, Sasori, Kisame, dan Zetsu diam-diam mengintip mereka berdua dari celah pintu kamar Kakuzu. Mereka (kecuali Tobi, lagi) akhirnya paham maksud Kakuzu yang meminta Hidan menjadi asistennya.
"Hidan sudah dibodohi olehnya, un." bisik Deidara.
"Aku setuju denganmu, Deidara. Daripada menjadi asisten, Hidan lebih mirip seperti pembantunya Kakuzu." bisik Zetsu, mengerutkan keningnya.
"Deidara, kau menginjak kakiku." bisik Sasori, marah.
"Ah, maaf, Danna!"
"Ah! Kakuzu-san dan Hidan-san begitu akrab!" bisik Tobi kagum.
"Tobi, kau tidak mengerti." bisik sisi hitam Zetsu.
"He-he, Kakuzu-san ternyata pintar juga. Aku juga jadi ingin membodohi Hidan-san."
"Apa maksudmu, Kisame? " bisik Deidara.
Kisame memutar matanya. "Yah...mungkin Kakuzu-san tidak bermaksud buruk pada Hidan-san, sepertinya dia hanya iseng saja. Coba pikirkan, selama ini Kakuzu-san selalu terlihat benci pada Hidan-san yang dia anggap mengesalkan, mungkin saja ini caranya untuk membalas perbuatannya —mumpung dia sedang amnesia."
Lalu hening. Semuanya sedang mencerna ucapan Kisame.
"M-masuk akal, hm!" bisik Deidara, "aku juga menganggap Hidan sedikit mengesalkan. Dia selalu memanggilku 'Deidara-chan'! Tidakkah itu menyebalkan, hm?!"
"Hey, bagaimana kalau kita bergabung dengan Kakuzu?" bisik Zetsu, "ayo, kita bodohi Hidan seperti yang sedang Kakuzu lakukan!"
"He-he, aku ikut denganmu, Zetsu-san." bisik Kisame, terkekeh-kekeh.
"A-apa? Kalian serius? Kalau begitu aku ikut juga, hm!" bisik Deidara dengan keras, wajahnya tampak semangat, "bagaimana denganmu, Danna?"
"Terserah kalian." bisik Sasori tak peduli.
"Baiklah, kuanggap itu sebagai jawaban 'ya', Sasori." bisik Zetsu, "kita akan menemui Kakuzu saat Hidan sedang tidak bersama dengannya. Oke?"
"OKE!" bisik Deidara dan Kisame dengan suara agak keras.
Evil smile pun memenuhi wajah Deidara, Kisame, dan Zetsu.
Tobi menepuk-nepuk pundak Zetsu. "A-anu, Zetsu-san...Kau lupa untuk mengajakku juga..."
Terima kasih sudah meluangkan waktu kalian untuk membaca! Chapter 03 akan segera menyusul!
Ditunggu nih reviewnya! XD
