Fiuh! Akhirnya chapter 03 selesai! Wordsnya jauh lebih banyak dibandingkan chapter-chapter sebelumnya. Meskipun saya enjoy banget nulis chapter ini, tapi jari-jari saya pegel banget. Biarkan saya istirahat...*faints*

Anyway, enjoy! Semoga terhibur! Review pasti ditunggu! XD

Disclaimer: I do not own Naruto.


A Mission From Sasori

Sepertinya, Zetsu, Deidara, Sasori, dan Kisame memang benar-benar serius soal rencana mengisengi Hidan. Malam itu, setelah melihat Hidan keluar dari kamar Kakuzu, mereka segera masuk ke dalam ruangan tersebut untuk mengungkapkan rencana mereka pada Kakuzu (dan untuk beberapa alasan, entah kenapa Tobi mengikuti mereka, padahal sama sekali tak ada yang mengajaknya).

"Bergabung denganku?" tanya Kakuzu pada Zetsu, tidak mengerti, "bergabung untuk apa?"

Zetsu memasang senyum nakal di wajahnya.

"Kau tak perlu menyembunyikannya lagi, Kakuzu. Kami tahu kau sedang membodohi Hidan." jawabnya, "Seperti menyuruhnya memijat kakimu, mencucikan baju-bajumu, dan lain-lain."

Kakuzu mengerutkan dahinya, menatap semuanya seperti ingin mengatakan "kalian stalker brengsek". Kemudian, ia kembali membaringkan tubuhnya di tempat tidur.

"Itu urusanku. Lagipula, dia partnerku, ingin kuapakan pun terserah aku. Dia sudah banyak mengesalkanku selama ini." kata Kakuzu, lalu memejamkan matanya.

"Kami tahu itu, Kakuzu. Maka dari itu, kami ingin ikut denganmu untuk mengerjainya!"

"Mengerjai?" Kakuzu membuka matanya kembali.

Semuanya mengangguk ke arah Kakuzu, menanti jawaban darinya.

"Fu fu fu...ada apa dengan kalian?" Kakuzu tertawa mengejek, "apa kalian juga kesal terhadap si brengsek ini?"

"Yah, bisa dikatakan begitu, um...yah, sebenarnya tidak juga." Kisame menaikkan alisnya, bingung memberikan penjelasan, "saat melihatmu melakukan hal itu pada Hidan, kami merasa tertarik dan ingin melakukannya juga. Kau tahu, Akatsuki adalah organisasi yang suram. Setidaknya, kami juga orang normal yang butuh hiburan."

"Dengan kata lain..." Deidara berdeham, "...kami ingin ikut mengisengi Hidan, un."

"Kalian menganggap ini adalah suatu hiburan?" tanya Kakuzu.

Mereka mengangguk.

"Khu khu khu...menarik." gumam Kakuzu, "baiklah, siapa saja yang ingin bergabung?"

"Aku, Sasori no Danna, Zetsu, dan Kisame, un."

"Bagaimana dengan Itachi?"

"Ke-kenapa kau menyebut namanya juga, un?! Orang seperti dia mana mengerti hal-hal menyenangkan seperti ini!" tukas Deidara, tersenyum kecut.

"Senpai, kenapa kau selalu melupakan Tobi?!" sahut Tobi, "Tobi juga ikut!"

"Seingatku Tobi tidak pernah ikut." Zetsu berkomentar.

"Kupikir juga begitu." timpal Kisame.

"Ke-ke-kenapa?! Sejak awal Tobi 'kan sudah mengatakan ingin ikut bergabung!" seru Tobi, "Tobi juga ingin ikut membantu Hidan-san dalam mengembalikan ingatannya!"

Lalu semua terdiam, tenggelam dalam ketidakmengertian yang ada di dalam perkataan Tobi.

"Oi, Tobi! Sejak tadi kau mendengarkan pembicaraan kami tidak, 'sih?!" teriak Deidara kesal.

"Tentu saja! Kalian akan memberi Hidan-san pelatihan agar ingatannya kembali, kan?"

Dan terjadi keheningan selama 5 detik.

Air muka Deidara, Kisame, Zetsu, dan Sasori mulai kecut, gemas akan kepolosan Tobi yang diluar batas.

"Tobi, aku merasa ingin memakanmu." ucap Zetsu dengan mimik muka yang...memang tampak ingin memakan Tobi.

Deidara baru akan mengomel lagi ketika Sasori menyelanya.

"Tobi, dengar." tukas Sasori, "kami sama sekali tak berencana untuk mengembalikan ingatan si makhluk tak berkaos itu. Yang akan kami lakukan adalah membodohinya dan membuatnya menjadi bahan tertawaan. Mengerti?" Sasori menegaskan, ia memberi penekanan di kata 'bahan tertawaan'.

Tobi membuka mulutnya, ingin merespon perkataan Sasori.

"Dan ini TIDAK SAMA dengan memancing ingatan Hidan kembali. Mengerti?"

Tobi menutup mulutnya lagi, tidak jadi berkata apa-apa.

"Lebih jelasnya, kami akan membuatnya menderita dan menangis seperti anak kecil." tambah sisi hitam Zetsu.

Kisame menelan air ludahnya. "Er...kata menderita dan menangis terdengar terlalu berlebihan dan jahat, Zetsu-san."

"Ja-jadi..." Tobi mengerutkan dahinya, "kalian akan mempermainkan dan menyiksa Hidan-san sampai dia jadi depresi? Begitu-kah, senpai?!"

Semuanya terpaku, bingung harus bereaksi seperti apa. Dari cara Tobi mengatakannya, rencana mengisengi Hidan itu seakan-akan terlihat sejahat membunuh bayi yang baru saja lahir.

"Tidak menyiksa! Hanya mempermainkannya, itu saja, un!" Deidara mengoreksi.

"Ta-tapi...Senpai..." tubuh Tobi gemetar, seperti tidak percaya apa yang baru saja dikatakan Deidara, "Hidan-san yang sekarang 'kan tidak mengerti apa-apa! Bagaimana perasaan Hidan-san nanti jika—"

"—mungkin setelah kami melakukannya, Hidan yang saat ini akan menangis seperti bayi. Tapi kau harus lihat, Tobi, saat ingatannya sudah kembali dan mengingat segala keisengan yang sudah kami lakukan padanya, ia pasti akan bersumpah serapah sepanjang hari dan waktu, un!" timpal Deidara, sambil menyilangkan tangannya.

Meskipun Deidara sudah menjelaskan, tampaknya Tobi masih merasa tidak tenang dengan rencana yang akan mereka lakukan. Ia tidak setuju dengan rencana tersebut karena tidak ingin menyakiti perasaan Hidan.

"To-Tobi akan mengadukannya pada Leader-sama!"

Semuanya membatu, terkejut mendengar perkataan Tobi. Apalagi setelah berkata begitu, Tobi benar-benar berbalik dan melangkah menuju ruangan Pain.

"Oi! Jangan beritahu Leader, Tobi!" pekik Deidara sambil menarik lengan jubahnya, "jangan ikuti rencana kami kalau kau tidak tertarik, tetapi jangan sekalipun beritahu Leader!"

"Maaf, senpai, tetapi Tobi tetap akan—"

"Nah," Kakuzu menggenggam lengan Tobi dengan erat, tampak tidak ingin membiarkannya pergi, "serahkan Tobi padaku."

Tali-tali di sekujur tangan Kakuzu pun mengulur dengan panjang, kemudian melilit dan mengikat kedua tangan dan kaki Tobi.

"Eh?! Ka-Kakuzu-san?! Kenapa Kakuzu-san mengikat Tobi?!" Tobi memekik sambil memperhatikan tali-tali yang tengah mengikatnya dengan kencang tersebut.

"Tobi, kau mau lollipop?" tanya Kakuzu.

"Lollipop?!" mata Tobi berbinar-binar, "To-Tobi mau!"

"Akan kubelikan sebanyak yang kau mau." kata Kakuzu, "namun, ada syaratnya. Kau harus mau menutup mulutmu. Keberatan?"

"Lollipop sebanyak yang Tobi mau?! Su-sungguh?!" senyum lebar muncul di wajah Tobi, "terima kasih, Kakuzu-san! Tobi tak keberatan sama sekali!"

Kakuzu menganggukkan kepalanya dengan pelan, kemudian melirik ke arah Zetsu, Kisame, Deidara, dan Sasori—memberi isyarat mata "satu masalah sudah teratasi."

"He-he-he. Yosh!" teriak Deidara dengan semangat, "ayo kita tentukan siapa yang akan mulai terlebih dahulu, un! Kita tentukan dengan batu-gunting-kertas!"

"Terdengar seru." komentar Kisame.

Dan begitulah. Semuanya pun berteriak "batu-gunting-kertas", kemudian menunjukkan tangan mereka masing-masing. Hasilnya, Kakuzu membuat gunting, Deidara, Kisame, dan Zetsu sama-sama membuat batu, dan Sasori membuat kertas. Lalu, Kakuzu dan Sasori beradu lagi dan menghasilkan kertas vs gunting. Dan, Sasori pun menang.

"Menarik." gumam Sasori, tersenyum misterius, "aku sudah punya ide bagus untuk ini."


Malam itu, setelah Kakuzu melakukan diskusi licik bersama yang lainnya, rasa kantuk pun menggodanya untuk tidur. Ia terbangun lagi saat matahari belum terbit. Ya, jika saja partnernya yang amnesia itu tidak membangunkannya secara tiba-tiba, mungkin Kakuzu akan terbangun saat matahari sudah terbit.

"Tuan Kakuzu." kata Hidan dengan keras, sambil menepuk-nepuk tubuh shinobi Desa Air Terjun itu—berharap dia mau membuka matanya.

Tetapi tak ada jawaban—atau lebih tepatnya, Kakuzu sengaja tidak mau menjawab. Ia tetap memejamkan matanya seolah-olah masih terlelap.

Menyadari tak ada respon darinya, Hidan pun mengguncang tubuh Kakuzu dengan lebih keras.

"Tuan Kakuzu."

Si brengsek itu.

"Tuan Kakuzu, bangunlah."

Diam, Hidan.

Kakuzu sudah berniat menghiraukannya dan kembali melanjutkan tidurnya, tetapi suara Hidan yang terus memintanya untuk bangun jadi membuatnya risih. Ia terus menerus mengoceh layaknya sebuah alarm yang tak akan mati sebelum ada yang menekan tombol off.

Jadi, Kakuzu pun terpaksa bangkit dari tempat tidurnya, lalu menoleh cepat ke arah partnernya itu dengan tatapan nanar.

"Tutup mulut keparatmu itu, brengsek!" geramnya. Kemudian, matanya tiba-tiba menangkap suatu pemandangan yang...tidak biasa. Di hadapannya saat ini, Hidan tampak sedang mengenakan sebuah celemek berwarna pink polkadot yang menutupi jubah Akatsuki-nya. Karena menganggapnya aneh, Kakuzu sampai terpaku menatapnya.

"Pakaian menjijikkan macam apa itu?"

Hidan menyadari Tuan-nya tersebut tengah memperhatikan celemek mencolok-nya itu.

"Ah, pasti ini milik Tuan, ya? Saya menemukannya tengah menganggur di dapur! Dengan memakai ini, saya pikir jubah saya akan terlindungi selama memasak!" jawab Hidan sumringah, "cocok untuk saya, tidak, Tuan?"

"Itu bukan milikku, kau ngawur." kata Kakuzu, tidak terima, "kau tampak seperti badut sirkus dengan celemek itu."

"Terima kasih, Tuan!" sahut Hidan, bahagia.

Terima kasih?

"Itu bukan pujian, idiot." gumam Kakuzu, heran atas ketololan Hidan mode amnesia ini.

Kemudian, Kakuzu menyadari sesuatu yang asing tengah tergeletak di atas mejanya. Sebuah mangkok berwarna putih...ia merasa tidak pernah meletakkan sebuah mangkok di dekat tumpukan uang koinnya itu.

"Ah, saya lupa mengucapkan salam." gumam Hidan, "selamat pagi, Tuan!"

Kakuzu merasa ingin meledak.

"Kau sebut ini 'pagi'?! Bajingan, kau tahu tidak sekarang pukul berapa?!"

"Pu-pukul 1 pagi! Maaf, Tuan! Saya ingat anda belum makan malam, jadi saya membawakannya sekarang untuk anda!"

"Hanya karena itu-kah kau membangunkan tidurku!?" tanya Kakuzu.

Hidan mengangguk riang, tidak memahami tatapan mata Kakuzu yang benar-benar ingin membunuhnya itu.

"Kalau tidak makan, Tuan akan sakit!" jelasnya lagi, sambil mengambil mangkok putih yang Kakuzu pikir asing tadi dari meja, kemudian menyodorkannya ke arah Tuannya.

"Apa ini."

"Sup telur!"

"Aku tidak lapar, pergi kau dari kamarku."

"Tidak boleh, Tuan harus makan!"

"Brengsek, aku ingin tidur." geram Kakuzu.

"Tuan harus mencobanya dulu!"

"Kau menyuruhku memakan makanan buatanmu yang selalu terasa menjijikkan itu?"

Hidan menyendokkan potongan kuning telur dari mangkok sup itu, lalu mengarahkannya tepat di depan wajah Kakuzu.

"Nah, ayo buka mulut Tuan, aaa..."

Kakuzu terbelalak saat menyaksikan Hidan akan menyendokkan makanan itu ke mulutnya.

"Apa yang kau lakukan, keparat?!"

"Kalau Tuan tidak mau makan, terpaksa saya harus menyuapi Tuan!"

"Hentikan itu, brengsek! Itu menjijik—"

"Ayo, buka mulut Tuan! ...Aaa..."

"HENTIKAN, BRENGSEK!" pekik Kakuzu, "oke, oke, aku akan makan! Tapi jangan sekali-sekali mencoba menyuapiku lagi!"

Kakuzu menatap Hidan dengan pandangan ngeri, lalu merebut sendok itu dari genggaman Hidan. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasa Hidan adalah sebuah ancaman.

"Syukurlah, Tuan mau makan juga!" desah Hidan, lega. Tapi Kakuzu sama sekali tidak lega.

Kakuzu menatap sendok berisi kuning telur itu dengan ragu, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah mangkok sup telur itu. Ia merendahkan kepalanya, lalu mencermati isinya. Yang ia lihat, hanya ada kuning telur, brokoli, dan kentang mengambang di atas kuah sup tersebut.

Apakah makanan ini baik-baik saja untuk di makan? Apa ada racunnya? Tapi, aku punya lima jantung, jadi seharusnya tidak masalah jika aku mati.

Kakuzu kembali memandangi sendoknya. Perlahan, ia mulai mendekatkannya ke mulutnya, lalu kuning telur itu benar-benar menyentuh lidahnya.

"...bagaimana, Tuan?" tanya Hidan, sambil memperhatikan Kakuzu yang sedang mencerna makanan itu. Ia mengunyahnya dengan pelan, merasakan setiap bagiannya, lalu menelannya.

Setelah itu, entah karena kelaparan atau apa, Kakuzu menyendokkannya lagi ke mulutnya, kali ini kentang serta kuah sup itu yang ia sendokkan.

"Hidan."

"Ya, Tuan?"

Kakuzu meletakkan piring itu di atas tempat tidurnya.

"Aku ingin tidur." katanya, tidak memberi pujian atau kritikan atas masakan Hidan itu.

"Eh? T-tunggu dulu, Tuan! Apakah masakan saya enak?!" tanya Hidan berapi-api.

"Aku tidak bilang begitu." kata Kakuzu, "keluar sekarang, aku ingin tidur."

Brengsek, masakannya enak. Dari mana ia mendapatkan kemampuan memasaknya?! Aku percaya ia tidak bisa memasak, bahkan, ia pernah menghancurkan dapur karena gagal memasak telur. Inikah pengaruh amnesianya?

"Tu-tunggu, Tuan!" seru Hidan, "anda harus menghabiskan sup ini dulu!"

"Aku tidak lapar!"

"K-kalau begitu..." Hidan terdiam untuk beberapa saat, lalu menundukkan kepalanya, "maukah anda menceritakan segala hal tentang diri saya, seperti yang pernah anda janjikan pada saya?"

Kakuzu termenung. Ia hampir melupakan janji asalnya itu pada Hidan.

"Tu-tuan sudah berjanji akan menceritakannya jika saya bersedia menjadi asisten Tuan. Sekarang, saya sudah menjadi asisten Tuan, ta-tapi...Tuan belum juga menceritakannya..." ucap Hidan, terbata-bata.

Kakuzu mendesah malas. "Setelah aku bercerita, kau harus langsung pergi, oke?"

Wajah Hidan pun langsung berseri-seri. "Ba-baik! Terima kasih, Tuan!"

Kakuzu menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya kembali.

"Namamu Hidan. Kau adalah anggota baru kedua di Akatsuki setelah Tobi."

Hidan mengangguk-anggukkan kepalanya. "Lalu...?"

"Aku tidak pernah melihatmu bertarung menggunakan chakra—kau selalu bertarung dengan sistem voodoo apalah itu."

"Sistem...voodoo?"

"Ya."

"Seperti apa misalnya?"

"Aku tidak tahu. Dengarkan dan jangan sela penjelasanku!"

Hidan mengangguk lagi. Ia melebarkan matanya, sumringah mendengarkan penjelasan Kakuzu.

"Partnermu adalah aku. Sekedar info, semua mantan partnerku selalu berakhir mati di tanganku. Jika kau berani membuatku kesal, aku tak akan ragu membunuhmu, jadi berhati-hatilah."

Mata Hidan terbelalak. Keringat dingin tiba-tiba mengalir dari kepalanya. "Baik, saya akan berhati-hati!"

Di dalam hatinya, Kakuzu merasa puas bisa membodohi Hidan lagi. Dia memang sengaja tidak memberitahu fakta bahwa Hidan adalah abadi.

"Akatsuki adalah organisasi yang bertujuan untuk menguasai dunia. Semua anggotanya adalah shinobi buron kelas S."

"Menguasai dunia?! Jadi...saya adalah pembunuh kelas S?!" tanya Hidan terbata-bata, tidak memercayai fakta bahwa dirinya seorang buron kelas S.

"Begitulah. Selesai." Kakuzu mengakhiri penjelasan.

"Eh...hanya begitu saja?" seru Hidan, menganggap masih ada lanjutan lagi dari penjelasan Kakuzu.

"Oh, iya, tambahan." kata Kakuzu, "kau mempunyai kepribadian yang memuakkan dan selalu membuatku kesal."

"E-eh?! Be-benarkah, Tuan?! Kalau begitu, maafkan saya!" seru Hidan sambil membungkukkan badannya.

"Terserah. Sekarang, pergi dari kamarku." Kakuzu berdiri dari tempat tidurnya, lalu melangkah ke arah pintu kamar dan membukanya.

"Ta-tapi..Tuan..." Hidan mendongakkan kepalanya, "saya tidak punya tempat untuk tidur...Selama ini, saya tidur di kamar anggota-anggota yang lain saat malam..."

"Aku tak percaya mereka mengizinkanmu begitu saja." gumam Kakuzu, "kalau begitu, tidurlah di kamar Itachi atau siapa sana."

Hidan menggaruk-garuk kepalanya. "Se-sebenarnya, saya tidak meminta izin pada mereka..."

Kakuzu membelalakkan matanya.

"Maksumu, kau menyelinap tidur di kamar semua anggota setiap malam?!"

Hidan menganggukkan kepalanya.

"Setiap saya bertanya kepada yang lainnya tentang letak kamar saya, mereka selalu mengatakan saya tidak memilikinya sehingga menyuruh saya tidur di luar." ujarnya, tampak memelas, "sekarang giliran kamar anda, Tuan..."

Kakuzu mendadak membatu. Tidak, ia tidak ingin tidur dengan partnernya itu. Di samping itu, ia khawatir Hidan akan mencuri uang-uangnya.

Ia sudah berjanji kepada semuanya saat diskusi kemarin malam. Zetsu meminta dirinya mencegah Hidan untuk melihat segala hal yang berkemungkinan bisa mengembalikan ingatannya. Termasuk soal kamarnya dan Jashin.

Tetapi, jika si brengsek itu tidur di kamarnya sendiri lalu melihat perabotan-perabotan Jashin di sana, itu tidak langsung membuat ingatan Hidan kembali begitu saja, 'kan? kata Kakuzu dalam hati.

"Hidan."

"Ya, Tuan?"

"Kau sebenarnya mempunyai kamar." kata Kakuzu, "letaknya ada di depan kamarku."


Pagi yang ditunggu-tunggu oleh Sasori pun tiba juga. Ialah orang pertama yang datang di ruang utama. Menyadari yang lainnya belum datang, ia akhirnya terpaksa menunggu sendirian dengan raut wajah yang super bosan.

30 menit kemudian, Zetsu dan Kisame akhirnya muncul.

"Yo, Sasori-san. Sudah lama menunggu?" sapa Kisame, sambil melangkah mendekati Sasori.

"Kalian terlambat." geramnya, "sudah berapa kali kukatakan bahwa aku tidak suka menunggu."

"Ya, ya, kami tahu. Sedikit bangun kesiangan tadi." sahut Zetsu, "mana yang lainnya?"

"Belum datang."

Lalu, mata Kisame menyadari ada 2 buah kerangka boneka usang tengah tergeletak di dekat kaki Sasori.

"Boneka-boneka itu...apakah akan digunakan untuk nanti, Sasori-san?" tanyanya, penasaran.

Sasori mengangguk.

"Aku tak sabar ingin melihatnya, khu khu khu." Kisame tertawa.

Tak lama kemudian, Deidara dan Kakuzu pun akhirnya muncul bersama Hidan.

"Maaf, Danna, kami sedikit terlambat! Kami harus memberitahu hal ini kepada Hidan terlebih dahulu!" kata Deidara, menyadari raut wajah Sasori yang sudah tidak mengenakkan tersebut.

"Dan Deidara sulit sekali dibangunkan." tambah Kakuzu.

Deidara memasang wajah kecut.

"Yah, 2 hari yang lalu, aku sulit sekali tidur, dan baru malam ini tidurku bisa nyenyak, un! Kalian tahu tidak? Aku merasa kamarku sedikit berhantu!" serunya, dengan ekspresi takut, "2 hari yang lalu, saat aku terbangun tengah malam, aku menyadari bantalku tiba-tiba menghilang! Dan aku juga mendengar suara-suara aneh dari bawah kolong tempat tidur!"

Kakuzu memutar matanya.

"Oh, kamarku juga berhantu. Dan kuyakin hantu itu bernama Hidan." gumamnya dengan enteng.

"EEEH?!" Deidara membelalakkan matanya.

"Sasori-san," panggil Hidan, lalu memandang Sasori dengan ekspresi bingung, "kata Tuan Kakuzu, kalian memanggil saya ke sini untuk berlatih. Jadi, kita akan berlatih apa?"

"Kami akan memberimu misi—dan itu bertujuan untuk memancing ingatanmu kembali." Sasori berbohong, "masing-masing dari aku, Zetsu, Deidara, dan Kisame akan memberimu tugas, di mulai dari aku."

"Benarkah?!" seru Hidan, sangat gembira, "sa-saya sangat senang kalian begitu peduli pada saya! Terima kasih! Saya akan berusaha, mohon bantuan kalian!"

Deidara dan Zetsu hanya tertawa cekikikan melihat kenaifan Hidan.

Sasori mengambil 2 buah kerangka bonekanya yang telanjang itu, kemudian menunjukkannya pada Hidan.

"Ini misi dariku." jelas Sasori, "aku akan memintamu memodifikasi boneka-boneka ini menjadi tampak indah, misalnya memberinya warna, hiasan, atau yang lainnya. Kuharap kau tidak asal membuat saja, pikirkan juga makna di balik pembuatannya. Buat aku terkesan."

Hidan menatap boneka-boneka usang itu dengan kasihan.

"Baik, saya mengerti, Sasori-san! Saya akan berusaha!"

"Waktunya 1 jam. Jika kau mendengar suara ledakan bom Deidara, itu berarti waktu sudah habis. "

Hidan mengangguk, tidak terlihat khawatir sama sekali terhadap batas waktu itu.

"Jika kau gagal, hukumannya adalah..." Sasori tersenyum misterius, "kau harus berteriak di depan Leader dan meneriakkan kalimat seperti...uhm, seperti..."

Sasori terdiam sebentar untuk berpikir.

"Apa yang pertama kali kau pikirkan saat melihat sosok Leader?" tanya Sasori pada Hidan.

"Leader...? Ah, maksud Sasori-san, Pain-sama, bukan?"

"Ya. Beri tahu aku, apa kesan pertamamu saat kau melihat Leader."

Hidan mengedipkan matanya, berusaha mengingat kesan pertamanya saat melihat Pain.

"Uhm, Pain-sama memiliki banyak tahi lalat."

Dan Sasori pun membatu.

"Ba-baik, teriakkan ini di depan Leader, 'tahi lalat yang indah, Leader-sama!' sambil mengedipkan salah satu matamu. Paham?"

"Kenapa saya harus melakukan it—"

"Jangan membantah!" sela Sasori.

"Ba-baik!"

Wajah Deidara benar-benar sudah merah sekarang—ia ingin tertawa terbahak-bahak.

"Tahi...lalat, un?" ucap Deidara, terbata-bata karena menahan tawa, "dia pikir itu...tahi lalat?!"

"Kurasa itu bukan tahi lalat." kata sisi hitam Zetsu.

"Memang bukan, 'kan! Anak kecil saja pasti tahu, hm!"

"Itu tampak seperti piercing. Jujur, aku tak begitu mengerti mengapa Leader memasang benda aneh seperti di wajahnya." tukas Kakuzu.

"Nah, kita lihat saja nanti, apakah Hidan-san mampu membuatnya dalam satu jam." sahut Kisame, "aku ingin melihat ia gagal dan berteriak seperti itu di depan Leader."

"Aku tak bisa membayangkan ekspresi Leader jika Hidan berteriak seperti itu nanti, hm!"

"Jika Sasori memang murni hanya ingin membodohi Hidan, tidak peduli karya seni Hidan bisa membuatnya terkesan atau tidak, tentu ia tetap akan mengatakan karyanya gagal, 'kan?" tanya sisi putih Zetsu.

"Tentu saja begitu! Tujuan kita sejak awal 'kan memang ingin membodohi Hidan, hm!" ucap Deidara, sambil mengorek-orek tas berisi tanah liatnya. Ia menggenggamnya sebagian, lalu merematnya dengan tangan kanannya, "bom ini akan kualiri dengan chakraku, dan sudah kuatur untuk meledak satu jam kemudian!"

"Apakah ledakannya akan besar?" tanya Kisame.

"Tidak, tidak. Ledakannya hanya kecil, jauh lebih kecil dari C1, hm." jelas Deidara, bangga.

Semua member kembali fokus pada Hidan dan Sasori. Tampak shinobi Yugakure itu sedang mengambil boneka-boneka yang disodorkan Sasori, lalu mengamatinya dengan seksama.

"Kau boleh mengerjakannya di tempat lain. Dan misi bisa dimulai dari..." Sasori memberikan isyarat pada Hidan agar ia bersiap-siap.

"SEKARANG."

Hidan pun segera berlari meninggalkan ruang utama, kemudian menuju kamarnya untuk melaksanakan misi Sasori tersebut.

"Eh?! Jangan katakan kita akan menunggu selama satu jam?!" pekik Deidara pada Sasori.

"Ya." jawab Sasori, singkat.

"Kukira kau tidak suka menunggu, Danna! Hm!"

"Ini pengecualian."

Tak lama setelah Hidan pergi, Kakuzu pun berbalik dan melangkah menuju arah yang sama seperti Hidan.

"Hey, kau mau ke mana, hm?" tanya Deidara.

"Memberi Tobi lollipop." jawabnya tanpa menoleh. Sambil berjalan, benaknya kembali mengingat-ingat jumlah uang yang dibutuhkan untuk memberi Tobi sebatang lollipop setiap hari. Kalau tidak karena Tobi mengancam akan melaporkan kegiatan nakal ini kepada Leader, Kakuzu tentu tidak akan rela mengeluarkan uangnya hanya untuk sebatang lollipop. Yah, sebenarnya ia masih tidak rela meskipun itu berguna untuk menutup mulut Tobi.

"Omong-omong, bagaimana keadaan Tobi sekarang? Apa kau berhasil menutup mulutnya, hm?" Deidara tampak penasaran.

"Aku mengikatnya di dalam lemari pakaian." ujar Kakuzu enteng—tidak merasa berdosa sama sekali, "dan dia merasa bahagia di sana berkat lollipop yang kuberi."

"He-he-he-heh, nice job, hm." gumam Deidara, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Sasori, "Danna, kau yakin Hidan akan gagal, bukan?"

"Kau pikir dia akan berhasil?" tukas Sasori, ketus, "aku sudah beberapa kali melakukan modifikasi pada boneka-boneka usang itu sebelumnya, dan hasilnya selalu gagal. Boneka itu rawan sekali patah, bahkan saat sudah kusambung dengan lem pun masih saja begitu. Saking rawan patahnya, chakraku sampai tidak mampu menggerakkannya. Ketika Hidan kembali ke sini, pasti keadaan bonekanya sudah saling terpisah satu sama lain."

"Rencana hebat, Sasori-san." puji Kisame.

"Aku tahu." jawabnya, sambil tersenyum misterius.


Di kamarnya, Hidan sedang berpikir keras untuk mengubah boneka-boneka usang itu menjadi lebih indah. Ia sempat berpikir untuk memberinya warna di bagian kulit, tapi kemudian sadar bahwa ia tidak mempunyai cat. Lalu tanpa sengaja, ia menduduki kaki kiri boneka itu sampai...patah.

"Mi-misi ini cukup sulit..." gumam Hidan, sambil menyeka keringatnya. Matanya menelusuri isi kamarnya—berharap menemukan sesuatu yang dapat berguna untuk memperindah boneka-boneka itu. Ia meraba-raba kolong tempat tidurnya—dan terkejut saat menemukan mayat seorang gadis yang sudah membusuk di sana (tempo hari, saat Deidara masuk ke kamar Hidan dan tak sengaja menginjak mayat itu, ia pasti menendang-nendangnya dengan kuat sampai terdorong ke kolong tempat tidur).

"Jadi, selama ini bau busuk itu berasal dari mayat ini!?" Hidan mengerutkan keningnya, "siapa yang menaruh mayat ini di kamarku? Jahat sekali membunuh seseorang, lalu membiarkannya begitu saja sampai membusuk!"

Ia pun menarik mayat itu keluar sambil menutup hidungnya—merasa iba. Tiba-tiba, sebuah ide terlintas di benaknya saat melihat mayat itu. Bibirnya pun menyunggingkan senyum.

"Aku tahu apa yang harus kulakukan dengan boneka-boneka ini!"


Entah sekarang sudah berapa menit waktu untuk misi Hidan berjalan—yang jelas, pasti belum tepat 1 jam karena bom Deidara belum meledak. Satu jam...terlalu lama bagi mereka untuk menunggu, dan terlalu cepat untuk Hidan untuk mengerjakan misi. Sejak tadi, Deidara sudah mencairkan suasana dengan ocehan-ocehannya tentang seni—sesekali beradu argumen lagi dengan Sasori. Di sampingnya, Zetsu terlihat sedang berbicara dengan dirinya sendiri. Kisame tampak tak melakukan apa-apa. Sedangkan Kakuzu menyibukkan dirinya dengan menghitung pengeluaran uang minggu ini.

"...jadi aku sedang bersiap-siap meledakkan mereka dengan C2, kemudian berkata 'kupikir aku harus membuat seni baru yang lebih hebat dari C4!', tapi mereka hanya melongo, bahkan aku mendengar ada yang tertawa juga, hm! Sebodoh apa mereka sampai berani menghina seniku, hm?! Maksudku—seniku memang sulit dipahami, tetapi itulah letak keunikannya, un!" Deidara terus berbicara pada Sasori dengan nada menggebu-gebu, sambil memperagakan setiap kalimat yang ia ucapkan. Kisame yang duduk di belakangnya diam-diam menyimak percakapan membosankan Deidara itu.

"Senimu memang sulit dipahami, maka dari itu tidak ada yang mengerti. Sama sekali tidak unik." ujar Sasori.

"Tidak, tidak, Danna! Seniku menjadi unik karena sulit dipahami! Coba Danna bayangkan betapa indahnya mengubah sebuah tanah liat yang sekilas tampak tak berguna itu menjadi sebuah rupa—bentuk yang bermacam-macam! Apalagi jika kau mengalirkan chakra ke dalamnya, kemudian bisa membuatnya meledak dan—oi, Danna! Dengarkan aku!"

Deidara memprotes partnernya tersebut yang tiba-tiba bangkit dari duduknya, kemudian melangkah menuju lantai 2—kamar para anggota Akatsuki.

"Pergi ke mana, Sasori?" tanya Zetsu.

"Ke kamar." Jawabnya dengan datar, "jika bom Deidara sudah meledak, aku akan segera kembali."

"Kau pasti bosan ya, Sasori-san?" kata Kisame tiba-tiba, sedari tadi dia tidak berbicara.

"Jangan seenaknya begitu, Danna! Yang bosan bukan hanya kau saja, tahu! Hm!" seru Deidara, menunjuk Sasori dengan jari telunjuknya. Tetapi ia tidak menjawab. Ia terus berjalan tanpa merespon perkataan Deidara. Tampaknya, Sasori benar-benar tidak bisa menahan rasa bosannya itu.

"Oi, Danna!" Deidara berteriak lagi, "aku tahu kau bosan, tapi kukatakan sekali lagi, kau jangan seenaknya begi—"

DUAAAR!

...

Hidan mendongakkan kepalanya, berhenti melakukan modifikasi pada boneka-boneka Sasori, lalu memfokuskan pendengarannya ke arah suara yang baru saja didengarnya. Ia meyakinkan diri bahwa itu suara ledakan dari ruang utama.

"Ah...waktu sudah habis, ya?"

Ia pun meletakkan boneka-boneka itu ke lantai.

"Kuharap aku tidak mengecewakan Sasori-san!" katanya dengan percaya diri.

Hidan pun segera bangkit dari duduknya, lalu keluar dari kamarnya menuju ruang utama. Boneka-bonekanya itu ia taruh di balik punggungnya. Sesampainya di ruang utama, ia menemukan keadaan tempat penyegelan bijuu itu sedikit...berantakan dari sebelumnya. Misalnya, terlihat langit-langit ruang utama menjatuhkan reruntuhan-rentuhan kecil. Kepulan asap juga tampak memenuhi ruangan—yang sepertinya diakibatkan dari ledakan tadi. Masih dalam keadaan bertanya-bertanya kenapa ruang utama bisa sampai seperti itu, tiba-tiba ia mendengar suara argumen antara Sasori, Zetsu, dan Deidara.

"Kau sebut ledakan ini 'kecil'?! Kau bisa saja menghancurkan ruang utama, tahu!" seru Zetsu.

"Ma-maaf! S-sepertinya aku salah membuat C1 menjadi C3, hm!" kata Deidara, terbata-bata.

"Apa?! Kau gila, ya?! Apa kau ingin membunuh kita semua?!"

"Aku 'kan tidak sengaja, un!"

"Jika Leader mengetahuinya, tamatlah kita, Deidara." Sasori memandang Deidara dengan tatapan nanar.

"Tapi nyatanya dia tidak muncul, 'kan, un!"

"Oi, oi, sudahlah, kalian semua. Karena waktunya sudah habis, mungkin lebih baik kita menjemput Hidan-san." Kisame berusaha menenangkan suasana.

"Anu...semuanya..." Hidan menyapa mereka.

Mereka semua pun menoleh.

"Ah, sejak kapan kau berdiri di sana?" Kisame berdiri dan mendekati Hidan.

"Ba-baru saja, kok..."

"Sasori-san, saatnya penilaian." kata Kisame.

Sasori tersenyum misterius. "Baiklah, mari kita lihat hasil karya seni buatanmu seperti apa."

Deidara dan Zetsu pun menghentikan perdebatan mereka. Dengan segera, mereka mengonsentrasikan pikiran pada penilaian yang akan dilakukan Sasori.

"Tak perlu basa-basi. Cepat tunjukkan padaku hasilnya." kata Sasori.

"Baik!"

Hidan pun menunjukkan kedua boneka tersebut dari balik punggungnya.

Kejutan.

Boneka-boneka yang awalnya telanjang total itu sekarang sudah memakai baju. Boneka pertama mengenakan pakaian perempuan, sedangkan boneka kedua mengenakan pakaian pria. Lalu, kepala mereka yang awalnya 'botak' juga sudah dipenuhi dengan rambut sekarang. Tentu Hidan mendapatkan baju dan rambut itu dari mayat gadis di kamarnya tadi.

Hanya begitu saja. Tak ada hiasan lain selain baju dan rambut di boneka itu.

"Itu...boneka hasil modifikasimu?" Sasori bertanya dengan heran.

Hidan menganggukkan kepalanya, lalu menyodorkannya kepada Sasori untuk dinilai.

Ninja Sunagakure tersebut pun mencermatinya dengan teliti—sedikit heran karena boneka tersebut tidak hancur seperti dugaannya, hanya patah di bagian kaki. Meskipun begitu, ia tidak tampak terkesan dengan hasilnya.

"Buh! Boneka macam apa itu! Seperti buatan anak TK!" bisik Deidara, menahan tawanya.

"Sasori-san tentu tidak akan terkesan dengan hasil yang seperti itu." tambah Kisame.

Sasori memutar matanya, berusaha mencari kalimat yang tepat untuk menjelaskan kegagalan Hidan dalam memodifikasi boneka itu.

"Harus kukatakan, hasil modifikasimu ini tidak bagus sama sekali. Aku tidak terkesan, kupikir ini terlalu monoton dan membosankan."

Hidan menundukkan kepalanya, merasa sedih.

"Lalu, kaki boneka yang ini...buntung. Sembrono sekali kau bisa mematahkannya."

"Ma-maaf, Sasori-san."

"Seperti yang sudah kukatakan tadi, kau juga harus memikirkan filosofinya." kata Sasori, lalu melemparkan kembali kedua boneka itu kepada Hidan, "jadi, apa filosofi di balik modifikasi yang kau lakukan ini?"

Hidan pun tersenyum.

"Boneka berbaju pria itu maksudnya ayah. Sedangkan yang satunya, ibu. Itulah filosofi boneka tersebut! Saya menyebutnya 'boneka ayah dan ibu'! " ucapnya berbunga-bunga.

Deidara, Zetsu, dan Kisame menahan tawanya.

"Boneka ayah dan ibu?! Buh!" kata Zetsu, mengigit bibirnya agar tidak tertawa.

"Hukuman Hidan sudah di depan mata, un!" timpal Deidara, "yang seperti itu tidak mungkin membuat Danna terkesa—"

Sasori tampak berdiri terpaku setelah mendengar penjelasan Hidan tentang filosofi tersebut. Matanya menatap boneka-boneka 'ayah dan ibu' buatan Hidan itu dengan hampa.

"Eh?! Ada apa dengan Danna, un?!" bisik Deidara dengan nada keras, terkejut melihat ekspresi Sasori yang di luar dugaan itu.

Sasori menelan air ludahnya.

"Jabarkan dengan lebih detil." ucap Sasori dengan tegas, masih tampak terpaku.

Hidan mengangguk pelan.

"Se-sebelumnya, saya mengingatkan Sasori-san, mungkin filosofi saya ini akan terdengar sedikit pribadi." ujarnya pada Sasori, "dalam situasi saya yang amnesia, hal yang paling ingin saya ketahui saat ini adalah..."

Hidan menarik nafas panjang.

"...identitas kedua orang tua saya!" bibir Hidan pun menyunggingkan senyum, sambil memeluk boneka ayah dan ibunya.

"Entah apa yang sudah terjadi dengan diri saya sehingga memutuskan menjadi seorang pembunuh dan bergabung dengan Akatsuki. Orang tua saya pasti sedih jika tahu anak tercintanya berubah menjadi penjahat seperti ini," ujar Hidan, sekarang nadanya sedikit terisak.

Dan lagi-lagi Sasori hanya terpaku, membuat Deidara, Zetsu, Kisame, dan Kakuzu bingung akan sikapnya.

"Jalan pikiran saya saat sebelum dan sesudah amnesia sepertinya berbeda. Saat ingatan saya sudah kembali lagi, saya tidak yakin apakah saya akan memutuskan berhenti menjadi penjahat atau tidak—jujur, saya tidak bisa berjanji. Maka dari itu, boneka ayah dan ibu ini saya ciptakan untuk melampiaskan rasa rindu dan bersalah saya pada mereka." Hidan menaruh kedua tangan boneka-boneka itu di pundaknya, sehingga boneka ayah dan ibu itu jadi tampak seperti sedang memeluk dirinya.

Sasori membelalakkan matanya. Pemandangan yang ia lihat saat ini...ia tahu bahwa ia pernah mengalaminya. Benaknya mendadak membangkitkan kembali ingatan-ingatan masa kecilnya.

"Saat boneka ayah dan ibu ini memeluk diri saya, saya jadi merasa orang tua saya sedang di dekat saya dan memeluk saya!" kata Hidan sambil tersenyum lebar. Sirat bahagia terpancar dari wajahnya.

"Urgh...Cerita Hidan sangat memuakkan, un." tukas Deidara, sambil menumpangkan kepalanya di tangan kanannya.

"Aku setuju denganmu." kata Zetsu dan Kakuzu bersamaan.

"Kalian semua harus lebih serius mendengarkan cerita Hidan. Kupikir itu mengharukan." kata Kisame.

"Hah?! Kau bercanda, un?!"

"Aku tidak bercanda. Lihat, Sasori saja sampai seperti itu." Kisame menunjuk ke arah Sasori—yang kini menundukkan kepalanya sampai poninya menutupi kedua matanya. Bibirnya tertutup rapat—tidak terlihat akan terbuka untuk menanggapi cerita Hidan tadi. Yah, dia benar-benar tampak speechless.

"Da-Danna?! Apa kau baik-baik saja?!" teriak Deidara, terkejut melihat ekspresi Sasori.

"Sasori-san...? Apa kau mendengarkan?" panggil Hidan juga.

Tetapi, bukannya menjawab pertanyaan mereka berdua, Sasori malah berbalik, lalu melangkah meninggalkan ruang utama dengan langkah hampa.

"Sa-sasori-san?!" panggil Hidan lagi, mulai khawatir.

"Oi, Danna! Kau mau kemana?!" seru Deidara.

"Tinggalkan aku sendirian. Aku ingin di kamar saja." jawabnya singkat.

"Tunggu, Sasori! Bagaimana dengan hasil penilaiannya?!" teriak Zetsu.

Tidak ada jawaban. Sasori sudah terlanjut hilang dalam sekejap.

Sesaat setelah Sasori pergi, suasana di dalam ruang utama terasa sedikit kikuk. Hidan bahkan belum tahu apakah boneka ayah dan ibunya berhasil membuatnya terkesan atau tidak.

"Meskipun ia tidak mengatakannya, kurasa Sasori-san merasa terkesan dengan boneka modifikasimu, Hidan-san." kata Kisame, menepuk pundak Hidan, "selamat."

"E-eh...Sungguh?! A-apakah Kisame-san yakin?!" Hidan tampak tidak percaya.

Kisame mengangguk.

"S-syukurlah! Kalau begitu, saya harus segera menemui Sasori-san untuk mengucapkan terima kasih!" ucapnya riang, lalu dengan cepat berlari menyusul Sasori di kamarnya.

Deidara, Zetsu, dan Kakuzu hanya membatu saat menatap kepergian Hidan.

"Tu-tunggu dulu, Kisame!" pekik Deidara, "kau ada di pihak siapa, sih?! Jika kau bilang boneka Hidan berhasil membuat Danna terkesan, kita jadi tidak bisa melihat sesi hukumannya, un!"

"Maaf, Deidara-san! Tapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri di saat sedang terharu karena cerita Hidan-san!" Kisame tertawa.

"KAU INI?!" teriak Deidara dan Zetsu, marah pada Kisame.

"Ayolah, semuanya! Ini bukanlah satu-satunya kesempatan untuk mengerjai Hidan, 'kan! Selanjutnya, pasti kita bisa!" Kisame membela diri.

Tapi Deidara dan Zetsu tetap tidak bisa menerima penjelasan Kisame, amarah mereka sudah tak dapat tertahankan.

"KATSU!"

DUAAAR!

Deidara tiba-tiba melemparkan bomnya ke arah Kisame dengan berapi-api.

"RASAKAN INI, KISAME, HM!"

"Tu-tunggu Deidara-san! Jangan begi—"

"C2! KATSU!"

DUAAAAAR!

"Te-tenang, Deidara-san! Tolong jangan lempar aku dengan—"

DUAAAAAAAAAAR!

"Kisame, aku berjanji akan memakanmu suatu hari nanti." ujar Zetsu.

"A-apa, Zetsu-san?!"

Kakuzu melihat keributan yang terjadi di antara Deidara, Zetsu, dan Kisame dengan sikap biasa saja—ia cenderung tenang meskipun rencana tersebut gagal. Tidak tahu harus berbuat apa lagi, ia pun beranjak menuju kamarnya.


Di kamarnya, Sasori sedang membaringkan tubuhnya—memikirkan kembali perkataan Hidan tadi. Boneka ayah dan ibu Hidan itu jelas membuatnya teringat akan masa kecilnya. Saat itu, ketika orang tuanya tidak kunjung pulang dari misi, Sasori membuat boneka 'ayah dan ibu' karena rindu pada mereka. Kenyataan bahwa Hidan melakukan hal yang sama seperti dirinya itu membuatnya teringat kembali akan kedua orangtuanya. Dan juga, dirinya di masa kecil.

Orang tua saya pasti sedih jika tahu anak tercintanya berubah menjadi penjahat seperti ini.

Itulah kalimat Hidan yang benar-benar menempel di benaknya. Padahal ia sudah berusaha melupakan semua ingatan tentang orang tuanya.

Tok tok tok...

"Sasori-san? Ini saya, Hidan. Bolehkah saya masuk?" kata Hidan dari luar kamar.

Sasori mendengarnya, tetapi ia sengaja tidak menjawab. Ia benar-benar ingin sendiri sekarang.

"A-anu, Sasori-san...Te-terima kasih sudah meluluskan saya dalam misi tadi! Sebagai ungkapan rasa terima kasih saya, saya memutuskan untuk memberikan boneka ayah dan ibu saya kepada Sasori-san!"

Dan Sasori tercengang lagi.

"Pergi kau, brengsek."


Terima kasih sudah sempetin baca! Ditunggu chapter berikutnya, ya! Reviewnya saya tunggu! XD