Apa kabar, semuanya! Finally, fiuuuh...saya bisa update chapter 4 juga! Maaf banget untuk updatenya yang super telat! Saya sempet buntu ide soalnya TTATT
Oh iya, chapter kali ini juga sedikit lebih panjang dibanding chapter-chapter sebelumnya. Tapi, semoga kalian tetap bisa enjoy baca, ya! XD
Dan terima kasih banyak buat yang udah review, I love you! XD
Well, happy reading, guys!
Disclaimer: Masashi Kishimoto owns Naruto.
Chapter 04 - Hidan's Opinion About Art
Sudah menjadi kebiasaan bagi para member Akatsuki untuk menjalani kegiatan makan malam secara bersama. Pain—si pencetus ide, berharap kebiasaan ini dapat mempererat hubungan kekeluargaan antar anggota—meskipun tampaknya siasat tersebut belum sepenuhnya berhasil. Sampai sekarang, Deidara masih menolak untuk berinteraksi dengan Itachi. Lalu, Hidan sebelum yang sekarang tetap tidak bisa bersikap hormat kepada Pain dan masih sering berargumen dengan Kakuzu maupun yang lainnya. Meskipun begitu, Pain tetap bersikukuh menjalankan kegiatan ini sampai sekarang. Malam itu, sesaat setelah matahari terbenam, sang Leader pun memanggil semua anggotanya untuk segera berkumpul di ruang makan.
"Aku sudah menunggu kalian." kata Pain, menyambut anggota-anggotanya datang di ruang makan yang kecil itu, "Itachi sudah memasak untuk kalian."
Semua anggota selalu ditugaskan untuk memasak makan malam secara bergilir. Tetapi, akhir-akhir ini justru Itachi-lah yang lebih sering diminta untuk melakukannya. Alasannya, hasil masakannya selalu jauh lebih enak dibandingkan yang lainnya—atau lebih tepatnya, Itachi-lah satu-satunya orang di Akatsuki yang makanannya tak pernah gagal.
"Kali ini kita makan telur apa? Telur rebus atau telur goreng?" tanya Kakuzu, menyentuh lengan kursi lalu menariknya keluar dari kolong meja.
"Bukannya kita sudah sering makan keduanya? Aku mau yang lainnya, un!" sahut Deidara, dongkol, mengingat fakta bahwa setiap hari mereka terus diracuni dengan menu telur agar bisa menghemat pengeluaran uang Akatsuki.
"Lihatlah sendiri." Pain menjawab pertanyaan Kakuzu dan Deidara, mengisyaratkan mereka agar membuka tutup saji yang ada di atas meja.
Dengan wajah kecut seperti sudah bisa menebak menu membosankan apa lagi yang akan dihidangkan malam ini, Deidara pun membuka tutup saji itu. Mendadak, matanya melebar saat melihat menu yang disajikan di atas meja itu.
"I-ini...?!" ninja Iwagakure tersebut memekik, tampak takjub.
Pain tersenyum kecil.
"A-ayam bakar, un?!" serunya pada Pain, tak percaya.
Semuanya ikut terbelalak, lalu mengerumuni meja makan secara serempak seperti baru saja melihat sebuah atraksi menarik.
"Tumben sekali, Leader. Kukira kita akan makan telur lagi." komentar Kisame.
"Kupikir, sesekali kita butuh mengganti menu makan malam kita. Jadi, kuminta Itachi untuk memasak sesuatu selain telur." ujar Pain, lalu melirik Itachi yang sudah duduk di kursinya, "berterima kasihlah padanya."
Air liur pun seperti menetes dari mulut semua member. Ayam bakar! Sudah berapa lama lidah mereka tidak dimanjakan dengan makanan mewah seperti itu!
Dengan tak sabar, mereka mulai berebut memotong daging ayam bakar yang cukup besar itu ke piring masing-masing—membuat suasana ruang makan terasa rusuh sesaat.
"Oi, oi, Zetsu, jangan mendorongku seperti it—aduh! Daun sialanmu itu menusuk mataku, hm!" teriak Deidara, lalu mendorong balik Zetsu.
"Potongan ayam yang kau ambil banyak sekali, Deidara! Sisakan untukku juga!" gerutu Kisame, memperlihatkan isi piringnya yang masih kosong.
"Bisakah kalian tenang?" geram Kakuzu.
"Mo-mohon jangan saling berebut! Semua pasti kebagian!" pinta Hidan, khawatir akan terjadi kekacauan jika semuanya saling berebut.
Pain masih berdiri di dekat Itachi, tidak bergabung dalam kerumunan itu.
"Kau tidak mengambil sebagian, Itachi?" tanya Pain.
"Tidak." jawabnya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi, "aku akan makan setelah semuanya selesai."
"Begitu." gumam Pain, lalu duduk di kursinya, lupa bahwa Itachi selalu makan sendirian. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Sasori. Amegakure-nin tersebut tahu bahwa Sasori tidak membutuhkan makanan, tetapi ia tetap ingin puppet master itu bergabung dalam aktivitas ini.
Beberapa menit kemudian, keadaan pun sudah kembali tenang dan semuanya segera melahap makan malam mereka.
Sang Leader mengerutkan keningnya—merasa ada sesuatu yang berbeda pada makan malam kali ini.
"Di mana Tobi?" tanyanya saat menyadari kursi Tobi yang berada di sebelah kiri Deidara kosong.
Deidara, Zetsu, dan Kisame tampak panik—hampir tersedak oleh nasi yang sedang mereka kunyah.
"A-anu..." Deidara yang gugup refleks mengetuk-etuk piring kacanya dengan sendok, tidak tahu harus menjawab bagaimana, "To-Tobi..dia—"
"—Tobi sedang sakit. Ia menolak untuk ikut makan malam bersama kita." tukas Kakuzu, cepat.
"Sakit?" tanya Pain, sedikit curiga.
"Ya." kata Kakuzu, "radang tenggorokan akut—sebentar lagi pasti sembuh."
"...oh."
Semuanya pun menghembuskan nafas lega. Sambil memalingkan mukanya dari Leader, Deidara tampak mati-matian menahan tawanya—tidak percaya Pain akan percaya begitu saja pada kebohongan Kakuzu.
"I-Itachi-san!" panggil Hidan sesaat setelah ia menelan potongan ayam bakarnya, matanya memandang Itachi dengan berbinar-binar, "masakan ini sangat...enak!"
"Aku setuju." kata Zetsu, kemudian menyendokkan lagi makanan itu ke mulutnya.
"Wow, Itachi-san. Kau sunggu...berbakat." tambah Kisame.
Itachi tetap diam di tempatnya, tak berkomentar apa-apa terhadap pujian-pujian yang dilontarkan teman-temannya itu. Deidara tampak tersenyum kecut—menggerutu dalam hati karena semuanya memuji laki-laki Uchiha itu.
"Saya tidak menyangka ternyata Itachi-san sangat lihai memasak!" puji Hidan lagi, "selain ayam bakar, apa saja resep-resep makanan yang Itachi-san kuasai?"
Masih dalam posisi menyandarkan punggungnya, Itachi menatap Hidan dengan pandangan datar. Sekitar 5 detik kemudian ia baru menjawab pertanyaan Yugakure-nin itu.
"Banyak." jawabnya kemudian, singkat.
"Hebat!" seru Hidan, kagum, "contohnya?"
Itachi mengangkat bahunya.
"Tak bisa kusebutkan satu-satu."
"Ka-kalau begitu..." pipi Hidan merona merah, "ma-maukah Itachi-san me-mengajari saya cara memasak resep-resep itu?"
Mendengar perkataan Hidan tersebut, semua mendadak menghentikan aktivitas makannya selama beberapa detik—melongo, seakan-akan pria berambut silver itu baru saja melontarkan sebuah perkataan yang tolol.
"Kau? Memasak?" nada Sasori terdengar sarkastis.
"Untuk apa kau belajar memasak?" sisi hitam Zetsu bertanya, tampak tak yakin.
"Sa-saya ingin membantu Itachi-san untuk membuat menu makan malam..." sahutnya dengan suara kecil, lalu merendahkan posisi duduknya secara tidak sadar.
"Jangan bercanda, Hidan. Kau tidak bisa memasak."
"Ma-maka dari itu saya minta Itachi-san untuk mengajari saya!"
"Hidan. Aku tahu kau sedang amnesia, tetapi aku tidak ingat kau pernah tertarik dengan memasak, hm." Deidara melontarkan tatapan merendahkan ke arah Hidan.
"Ehe-he, mungkin saja Hidan-san mode amnesia ini justru bisa memasak!" celoteh Kisame.
"Me-menurut saya, saya sedikit bisa memasak! Kemarin, saya mencoba membuat sup telur, d-dan saya pikir rasanya cukup enak. Ba-bahkan, Tuan Kakuzu juga bilang begitu..." tutur Hidan, malu-malu.
"Aku tidak pernah bilang begitu, brengsek." Kakuzu menggeram.
"Aku tidak akan percaya pendapatmu itu sebelum aku mencoba sendiri masakanmu." ujar Kisame.
"Ma-maksud Kisame-san, a-anda mau mencoba masakan saya?! A-anda serius?!"
Kisame mengangguk. "Tentu."
Mata Hidan langsung berbinar-binar.
"Te-terima kasih! Sa-saya senang akhirnya ada yang tertarik dengan masakan saya!" ucapnya riang, "Tu-Tuan Kakuzu saja mungkin takkan pernah mau mencicipi sup telur itu jika saya tidak memaksa beliau!"
"Ha-ha, benarkah?" Kirigakure-nin itu tertawa, memperlihatkan gigi-giginya yang tajam.
"Hn! Sa-saya sampai harus menyuapi Tuan Kakuzu dengan paksa agar beliau mau mencoba sup telur saya!"
Serempak, semua mata menatap ke arah Kakuzu dengan senyum aneh terpasang di wajah mereka.
"Hidan. Bajingan. Brengsek." umpat Kakuzu, menghindar dari tatapan teman-temannya yang seolah-olah mengatakan ia dan Hidan tengah menjalin sebuah hubungan terlarang atau semacamnya.
Lalu, Hidan kembali mengalihkan perhatiannya kepada Itachi—memandang Konohagakure-nin itu dengan tatapan "Itachi-san, saya mohon, ajarilah saya memasak!". Namun, laki-laki Uchiha yang duduk di seberang meja itu tampak tidak memperhatikan dirinya. Itachi sedang menatap kosong ke arah meja—sekilas membuatnya terlihat seperti sedang melamun.
"Kisame-san," bisik Hidan ke telinga Kisame, "apakah Itachi-san sedang punya masalah? Dia tampak...tidak bersemangat."
"Oh. Dia memang seperti itu. Jika kau belum terlalu dekat dengannya, dia akan sering mengabaikanmu. Aku partnernya, jadi aku tahu itu." ujar Kisame.
"Jadi, Kisame-san juga pernah diabaikan oleh Itachi-san?"
"Yah, tidak begitu juga sih. Aku tahu hal itu karena dia jarang berinteraksi dengan member lain selain dengan diriku sendiri."
"Oh..."
Hidan kembali memandang Itachi.
"I-Itachi-san...?" panggil terbata-bata, memastikan Itachi memandangnya terlebih dahulu.
Dan, laki-laki Uchiha itu akhirnya menoleh ke arahnya.
"A-anu...Be-begini, bu-bukannya saya memaksa..." Hidan menundukkan kepalanya dengan mata yang masih melirik Itachi, "...ta-tapi, saya akan merasa senang jika Itachi-san mau mengajari saya memasak. Ja-jadi—"
"Hn."
Hidan mengedipkan matanya, ragu dengan suara 'hn' yang baru saja ia dengar. Terdengar berasal dari Itachi, tetapi, ia mulutnya tampak tidak bergerak sama sekali.
"E-eh...?" Hidan terlihat bingung, "a-apakah itu suara Itachi-sa—"
"Aku akan mengajarimu." ucap Itachi, yang jawabannya tersebut membuat senyum mengembang di wajah Hidan.
"Su-su-sung-sungguh?!" tanyanya lagi, memastikan bahwa sang Uchiha tidak sedang bercanda, "I-Itachi-san tidak bohong?!
Pengguna Sharingan itu tidak menjawab. Namun, dari gesturnya ia terlihat seperti sudah mengiyakan pertanyaan Hidan.
"Te-terima kasih, Itachi-san!" celoteh Hidan, kemudian kembali melahap makanannya.
"Oi, Itachi. Jangan lengah dan jaga Hidan baik-baik. Cegah dia agar tidak meledakkan dapur lagi." saran Zetsu—yang perkataan disambut dengan no respond oleh Itachi.
Beberapa menit kemudian saat semuanya sudah menyelesaikan makan malamnya, mereka pun segera beranjak pergi tanpa membereskan piring-piringnya, kecuali Hidan dan Itachi yang tetap tinggal di sana.
"Aku masih akan makan." kata Itachi, sambil berdiri dan mengambil beberapa potong ayam bakar di atas meja.
"Ka-kalau begitu, saya akan menunggu!" jawab Hidan, tidak keberatan.
Selama beberapa menit, Hidan menunggu Itachi menyelesaikan makan malamnya dengan sabar. Setelah ia selesai, laki-laki Uchiha itu pun beranjak dari kursinya lalu melangkah menuju lemari dapur. Saat ia membuka pintunya, berbagai peralatan dapur seperti panci, wajan, pisau, dan lain-lain terlihat tersusun dengan rapi.
"Kau ingin apa?" tanya Itachi sambil memperhatikan peralatan masak itu satu-persatu.
"Eh? Ma-maksud Itachi-san?"
Itachi meraih wajan dan spatula dari lemari itu.
"Kau bilang ingin belajar memasak," katanya, sambil menyusun kedua peralatan dapur itu ke atas kompor, "menu apa yang ingin kau masak?"
Hidan memutar matanya.
"Uhm, ma-masakan yang mungkin akan disukai semuanya saat makan malam!"
Tangan kanan Itachi meraih beberapa siung bawang putih, bawang merah, garam, dan gula dari sebuah toples kaca di dekat kompor.
"Kalau begitu, kita buat sup ayam."
"Dengar, semuanya!" seru Deidara, memulai diskusi kedua di dalam kamar Kakuzu, "kali ini, rencana kita harus berhasil! Aku tidak ingin kegagalan rencana milik Danna terjadi lagi nanti!"
"Deidara, kau bertingkah seolah-olah kau pemimpin diskusi ini." tukas Kakuzu, sambil membaca sebuah buku tebal berjudul 'How To Manage Your Money."
"Hey! Aku tidak seperti itu, un!" sahutnya, ketus.
Kisame mendesah panjang. "Sudahlah, ayo cepat mulai batu-gunting-kertasnya sekara—"
"Dan kau, Kisame!" jari telunjuk Deidara menunjuk Kisame, "jangan kacaukan lagi rencana-rencana ini, un! Dan jangan jadikan 'terharu' sebagai alasan, hm!"
"A-aku mengerti." gumam Kisame, bergidik saat melihat kedua mata Deidara memandangnya dengan nanar.
Kemudian, Zetsu tiba-tiba menyadari Sasori sedang berdiri di belakangnya.
"Kenapa kau ada di sini, Sasori?" tanya sisi hitam Zetsu.
Deidara menoleh cepat ke arah Sasori.
"Oi, kau tidak boleh ikut batu-gunting-kertas, Danna! Kau 'kan sudah dapat giliran, un!" teriak Deidara menggebu-gebu, "kau-lah alasan utama kenapa kita gagal kemarin!"
"Aku tahu, aku tahu. Aku hanya menonton, oke?" jawab Sasori, tidak kalah ketus "dan jangan berani menaikkan nada bicaramu di hadapanku, Deidara!"
"Terserah, un," gumam Deidara, tidak menanggapi serius perkataan Sasori, "nah, sekarang kita mulai! Batu, gunting, kertas!"
Setelah Deidara meneriakkan ketiga kata itu, semuanya pun menunjukkan tangan mereka secara bersamaan. Iwagakure-nin itu membuat gunting, Kakuzu dan Zetsu sama-sama membuat batu, dan Kisame membuat kertas. Kemudian, Deidara dan Kisame beradu lagi, masing-masing membuat batu dan kertas. Hasilnya shinobi berambut blondie itu akhirnya menang.
"Akhirnya giliranku, hm!" seru Deidara, senang.
"Ah, menyebalkan. Kukira aku akan menang." gumam Kisame.
"Aku akan mempersiapkan keperluannya dulu di kamarku, hm. Saat aku sudah selesai, beritahu Hidan untuk segera datang ke ruang utama, oke?"
Deidara pun segera meninggalkan kamar Kakuzu.
"Kupikir..." Sasori memicingkan matanya, "...bocah itu-lah yang paling semangat dengan rencana mengisengi Hidan ini."
Semuanya langsung menganggukkan kepalanya dengan serempak.
Tangan Itachi terlihat sangat terampil saat menggunakan pisau itu untuk memotong dua siung bawah putih. Di belakangnya, Hidan terlihat tengah memusatkan konsentrasinya untuk mengamati teknik memasak yang sedang dicontohkan Itachi tersebut.
"Agar perpaduan rasanya seimbang , kita butuh 2 siung bawang putih saja. Potonglah itu tipis-tipis. Kemudian, haluskan." jelas Itachi, kemudian mempraktekkannya di hadapan Hidan.
"Tambahkan setengah sendok garam dan 6 biji merica, lalu haluskan bersama bawang putih itu. Jika sudah, beri air matang secukupnya. Aduk dan campur semuanya, lalu gorenglah tanpa minyak."
Hidan menganggukkan-anggukkan kepalanya tanda paham dengan penjelasan Itachi.
"Ma-maaf, Itachi-san, ta-tapi, apa guna bawang merah ini?" tanya Hidan, menunjuk ke arah bawang merah yang terletak di samping talenan.
"Bawang merah ini berguna untuk menambah kenikmatan sup. Kau butuh 3 siung saja. Potonglah itu tipis-tipis, lalu campurkan dengan garam. Selanjutnya, kau tinggal menggorengnya saja. Lalu, taburkan itu saat sup sudah matang." jawabnya, masih sambil menghaluskan bumbu tadi.
"Be-begitu, ya!" seru Hidan, mengerti.
Itachi terlihat mulai akan menggoreng bumbu itu ke dalam sebuah wajan.
"A-anu! Bo-bolehkah saya mencobanya?" Hidan meminta.
Konohagakure-nin itu menatap Hidan dengan datar sejenak.
"Boleh saja. Sedang-kan dulu besar apinya."
Dengan hati-hati, Hidan memasukkan bumbu yang sudah dihaluskan itu ke dalam wajan panas. Spatula yang ia genggam mulai mengaduk-aduk isi wajan dengan hati-hati. Tak lama kemudian, bau harum bumbu mulai menyeruak di dalam dapur.
"A-anu...sekedar bertanya, Itachi-san. Apakah dulu Itachi-san sering memasak?" tanya Hidan, sambil terus mengaduk-aduk bumbu, "pasti Itachi-san banyak berlatih memasak, ya!"
Itachi terdiam sejenak selama beberapa detik.
"Tidak." jawabnya, "aku terlalu sibuk dalam misi untuk melakukan itu."
Mata Hidan melebar.
"Kalau begitu, sejak kapan Itachi-san mulai terampil memasak?"
Partner dari Kisame itu menghembuskan nafasnya perlahan. Sambil terus memperhatikan spatula yang sedang diaduk-aduk oleh Hidan, ia menatap hampa ke arah langit-langit dapur.
"Aku tidak pernah berlatih. Aku hanya selalu memperhatikan ibuku saat dia sedang memasak."
Hidan menyunggingkan senyum.
"Saya yakin masakan ibu Itachi-san lezat, iya 'kan!"
Suara gorengan bumbu itu membuat Hidan sedikit tidak bisa mendengar suara Itachi dengan jelas, tetapi ia yakin Itachi baru saja bilang 'ya.' Dengan suara yang sangat pelan. Dan nada yang hangat.
"Kau tahu klan Uchiha?" Itachi bertanya.
Hidan menoleh ke arahnya.
"U-Uchiha?" tanyanya sambil mengerutkan kening.
"Ya." ujar Itachi, "mereka terkenal akan kemampuan mata mereka."
Merasa tertarik dengan perkataan Itachi, Hidan tanpa sadar sudah berhenti mengaduk bumbu itu.
"Kemampuan...mata?"
Itachi memejamkan matanya. Saat ia membukanya kembali, tiba-tiba kedua bola matanya sudah berubah. Pupil matanya menjadi berwarna merah maroon, dan yang membuat Hidan lebih terpaku lagi, di dalam pupil itu terdapat suatu bentuk asing berwarna hitam yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Dia awalnya sedikit terkejut, tapi akhirnya ia menatap kembali kedua bola mata Itachi itu dengan penasaran.
"Sharingan." ucap Itachi, memperhatikan Hidan yang tengah tercengang menatap kedua bola matanya itu.
"Sharingan memiliki kemampuan untuk meniru gerakan seseorang. Dari sinilah aku meniru cara ibuku memasak."
"Ooh! Hebat!" mata Hidan berbinar-binar, "gerakan apa saja yang bisa Itachi-san tiru?"
Itachi memberi Hidan tatapan kosong.
"Apa saja."
"Ba-bagaimana kalau saya mencobanya?"
Tiba-tiba, Hidan mulai menari-nari sendiri di hadapan Itachi. Ia menggoyang-goyangkan tubuhnya ke kiri dan kanan, lalu memperagakan sederet gerakan aneh lainnya dengan percaya diri.
"...apa yang sedang kau lakukan." Itachi memandang Hidan dengan datar.
"Coba Itachi-san meniru gerakan spontan saya ini! Saya ingin tahu apakah Sharingan benar-benar bisa meniru gerakan orang!"
"...tidak mau." Itachi menolak dengan cepat.
"Eeh? Ayolah, Itachi-san! Saya akan berpikir anda berbohong jika tidak mau meniru gerakan saya ini!"
Hidan kembali melakukan tarian spontan itu. Kali ini ia menggoyang-goyangkan pinggangnya ke depan dan belakang secara berulang-ulang sambil menyerukan "tirukan saya, Itachi-san!"
Itachi mendesah. Dia menyipitkan matanya dan memandang Hidan dengan tajam—memerintahkan Sharingannya untuk mengcopy gerakan Hidan. Satu milidetik kemudian, Itachi sudah meniru gerakan yang sama persis seperti Hidan dengan sempurna.
"Wow! Sharingan sangat hebat!" Hidan memekik.
"Sharingan sangat berguna untukku. Aku jadi bisa menirukan jutsu musuh." kata Itachi, masih sambil meniru tarian aneh Hidan.
Hidan memandang Itachi dengan kagum. Ia semakin yakin bahwa Itachi pasti seorang shinobi yang hebat.
"Dan Sharingan bisa menjebak orang yang melihatnya ke dalam genjutsu."
Mulut Hidan terbuka.
"Gen...jutsu?"
"Ilusi. Aku tak akan menunjukkannya padamu."
Hidan menaikkan alisnya, tidak paham dengan maksud Itachi.
Tep...tep...
Tiba-tiba, mereka berdua mendengar suara langkah kaki mendekati ruangan itu.
"Itachi-san?"
Itachi dan Hidan menoleh. Di sana, mereka mendapati seorang laki-laki berkulit biru dan berfisik layaknya seekor ikan hiu tengah berdiri dan memandang Itachi dengan tercengang. Kisam berani bersumpah ia baru saja melihat Itachi menari-nari sebuah gerakan yang tidak jelas.
Konohagakure-nin itu pun segera berhenti menirukan gerakan tarian Hidan.
"Apa yang kau lakukan di sini, Kisame." tanyanya, lalu menonaktifkan Sharingannya.
"Er...justru aku yang bertanya, apa yang baru saja kau lakukan Itachi-san?" Kisame bertanya balik, sweat-dropped, dalam hati sedikit shock karena ini kali pertamanya ia melihat Itachi yang cenderung bersikap dingin itu tiba-tiba melakukan sebuah tarian random yang menurutnya menjijikkan.
Itachi pun memalingkan wajahnya dari Kisame. Saat itulah ia menyadari ada bau gosong tercium.
"Hidan! Bumbunya!"
Terbelalak, Hidan segera mematikan kompor dan mengangkat bumbunya—yang sudah menjadi gosong.
"A-aduh...ba-bagaimana, Itachi-san?! I-ini salah saya!" Hidan merasa bersalah.
Itachi memandang bumbu halus yang gosong itu dengan datar.
"Kita buat lagi." perintahnya, singkat.
"Maaf atas keteledoran saya! Saya akan mengulangnya lagi!"
"..."
"Apakah Itachi-san marah?"
"Tidak."
"Maafkan saya, Itachi-san!"
"...cepat buat lagi."
"Ba-baik! Saya akan berusaha!"
Hidan pun menyusun lagi bahan-bahan makanan yang sudah diajarkan Itachi tadi ke atas meja masak.
"Tu-tunggu, Hidan-san, kau tidak lupa dengan 'misi' itu kan?" ucap Kisame, menaikkan alisnya.
"Mi-misi?" ia menoleh ke arah Kisame, "ah, maksud Kisame-san 'pelatihan' itu?"
"Ya. Aku ke sini untuk menjemputmu ke ruang utama. Deidara sudah di sana menunggumu."
Itachi memicingkan matanya, seperti baru saja mencium sesuatu yang mencurigakan.
"Ta-tapi, saya masih berlatih memasak!" seru Hidan pada Kisame.
"Lanjutkan nanti saja." ujarnya enteng.
Hidan merasa tak yakin. Ia pun menoleh ke arah Itachi dan memberinya tatapan "bagaimana ini, Itachi-san?"
"Tidak apa-apa. Kita lanjutkan nanti. Aku akan menunggu di sini."
Sesaat ia merasa ragu dan bersalah terhadap Itachi, tetapi Hidan akhirnya menganggukkan kepalanya.
"Ma-maaf sudah merepotkan Itachi-san!"
Hidan pun segera melangkah keluar menuju ruang utama dengan cepat.
"Nah, aku akan menyusul Hidan-san, Itachi-san." kata Kisame, sembari mengangkat pedang Samehada-nya, "aku pergi dul—"
"Katakan, Kisame. Misi apa yang kalian maksud?" Itachi menyela, tersirat nada penasaran sekaligus curiga di dalam pertanyaannya itu.
"O-oh! Aha-ha, ti-tidak, kok! Abaikan saja, i-ini tidak penting! Hanya sebuah misi kecil untuk mengembalikan ingatannya!" lontar Kisame, grogi, "a-aku pergi dulu, Itachi-san!"
Kisame pun menghilang dengan cepat, meninggalkan Itachi yang masih terlihat curiga sendirian di dapur.
"Oi, oi, kau lambat, un!" Deidara berkacak pinggang saat Hidan akhirnya muncul di ruang utama, "sudah 2 jam aku menunggu, un!"
"Ma-maaf, Deidara-san!" kata Hidan, membungkukkan badannya, "a-anda boleh menghukum saya!"
Sasori, Zetsu, Kisame, dan Kakuzu tampak sweat-dropped.
"Pembohong." sembur Sasori.
"Belum ada 10 menit berjalan." tambah Zetsu.
Deidara tersenyum kecil saat melihat Hidan membungkukkan badannya. Ia merasa seperti dimuliakan.
"N-nah, tak usah terlalu formal, hm!" katanya dengan nada sok keberatan, "kita langsung saja ke penjelasan tentang detail misi dariku ini, hm!"
"Ba-baik, Deidara-san!"
Deidara berdeham.
"Misi ini akan berkaitan dengan seni." shinobi berambut blondie itu mulai menjelaskan, "sebelumnya, aku ingin bertanya padamu. Apa itu arti 'seni' bagimu?"
Hidan mengedipkan matanya.
"...seni?"
"Ya. Rata-rata orang memiliki pemikiran yang berbeda-beda tentangnya. Misalnya saja, aku menganggap 'seni adalah ledakan', sedangkan Sasori no Danna berpikir 'seni adalah sesuatu yang abadi'. "
Selama beberapa detik, Hidan menatap kosong ke arah Deidara—sedang berusaha mencerna perkataannya. Kemudian, ia menggelengkan kepalanya perlahan.
"Saya...saya belum tahu."
Deidara mendesah.
"Ah, sudah kuduga. Kalau begitu, menurutmu seni siapakah yang paling benar di antara kami?"
"Eh...?"
"Pendapat siapa yang paling tepat? Aku, atau Sasori no Danna, un?"
"A-apakah pertanyaan ini bagian dari misi juga?"
"Cepat jawab, hm!"
"Ba-baik!"
Sasori yang awalnya sedang duduk tenang melihat percakapan antara Hidan dan Deidara itu mendadak memasang raut wajah seperti orang yang sedang mengundi lotre. Ia harap Hidan memilih pendapat seni miliknya.
Tetapi, Hidan kembali menggelengkan kepalanya.
"Ma-maaf, s-saya masih belum tahu."
"Haaah?! Ayolah! Tidakkah itu jelas?! Pendapatku-lah yang paling benar, 'kan!"
"Jangan sombong, Deidara!" Sasori bangkit dari duduknya, menatap Deidara dengan sinis.
"Ha-ha, biar kuulang lagi, Danna! Pendapatmu salah, dan punyaku benar!"
"Bocah cerewet, sudah kukatakan jangan naikkan nada bicaramu di hadapanku!"
Kisame, Zetsu, dan Kakuzu memandang reaksi Sasori tadi dengan tatapan bosan—sudah mengira adegan argumen tentang seni ini akan terjadi lagi.
"Cukup, kalian berdua. Cepat kembali ke topik." sahut Zetsu, menyela Deidara yang masih akan melanjutkan perkataannya lagi.
Sasori membalas ucapan Zetsu dengan ucapan "tch", lalu membuang mukanya dan kembali duduk.
"Ha-ha, maaf, Hidan, un. Baiklah, langsung saja, un. Misi yang akan kuberikan padamu adalah..."
Deidara mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya.
"...melukis dengan tema 'pandanganmu mengenai seni'!" serunya sambil menunjukkan sebuah kuas, tinta, dan kertas kosong.
Semuanya melebarkan matanya.
"Kupikir kau akan melibatkan tanah liat peledak sialanmu itu." komentar Kakuzu.
"Ya, aku akan melibatkan tanah liatku itu nanti, un." Deidara tersenyum misterius.
Hukuman. Pasti Deidara akan menggunakan ledakan untuk hukuman Hidan, ucap semuanya dalam hati.
"Ma-maaf, Deidara-san. Bolehkah saya bertanya?"
"Silakan, un."
"Saya belum paham dengan tema yang anda maksudkan."
Deidara menyilangkan tangannya.
"Hm, mudahnya begini, un. Contohnya, aku menganggap seni adalah ledakan, jadi aku akan melukis sebuah ledakan di kertas itu. Jadi, kau harus pikirkan dulu apa arti seni bagimu, baru kau melukiskannya ke dalam kertas itu.
Hidan menganggukkan kepalanya. Meskipun begitu, ia masih belum tahu apa arti seni baginya. Ia sama sekali tak ada ketertarikan dengan seni.
"Waktunya 30 menit, un!"
Semua menelan air liurnya.
"30 menit?" Kisame mengucapkan pertanyaan retoris, "jauh lebih kejam dari Sasori-san."
"Jika kau terlambat kembali ke ruang utama, hukumanmu adalah memasak makan malam selama seminggu penuh." tambah Deidara.
"Memasak?! Te-tentu saja!" Hidan menyambut bahagia hukuman itu.
Deidara memicingkan matanya, menyadari Yugakure-nin itu malah senang dengan hukuman itu.
"Tu-tunggu! Bukan, bukan memasak! Baiklah, aku meralatnya menjadi 'membersihkan kamar mandi selama dua minggu'!"
"Ba-baik!" senyum mengembang di bibir Hidan.
Lagi-lagi dia malah senang?!
"Oi, tunggu, Hidan! Jangan senang dulu! Itu baru hukuman jika kau terlambat. Apabila lukisanmu tidak menyenangkanku, kau akan dapat hukuman juga! Ingat itu, un!"
"Hu-hukumannya apa?"
"Tak akan kuberi tahu, un!"
"...baik, sa-saya mengerti."
"Penanda waktunya menggunakan bomku, un. Jika ini meledak, berarti 30 menit sudah berakhir."
Hidan mengangguk.
"Oke, un! Misi bisa dimulai dari..."
Hidan tampak bersiap-siap menunggu aba-aba dari Deidara. Ia genggam kertas, tinta, dan kuas di tangannya dengan erat.
"SEKARANG, UN!"
Dengan cepat, Hidan pun berlari ke arah pintu keluar.
"T-tunggu, un! Kau akan melukis di luar markas?" Deidara berteriak.
"Ya, Deidara-san!" jawabnya, sambil terus berlari.
"BODOH! KALAU BEGITU TANGGALKAN JUBAHMU! TAMATLAH KITA JIKA ADA YANG TAHU LETAK MARKAS KITA, UN!"
Hidan sudah menginjakkan kakinya di luar markas sekarang dan mematuhi perintah Deidara untuk menanggalkan jubahnya.
"Aku seharusnya menggunakan kaos..." gumamnya, memeluk dirinya sendiri yang telanjang dada, kedinginan. Masih sambil memikirkan apa definisi seni baginya, ia melangkah perlahan ke arah pepohonan di dekat markas, berpikir bisa mendapatkan inspirasi dari sana.
"Kurasa aku harus melihat-lihat tempat yang lainnya."
Ia pun langsung menghambur meninggalkan halaman markas dan berlari mendatangi hutan kecil lainnya yang jaraknya cukup jauh dari base Akatsuki. Dengan pandangan putus asa, ia memandangi dedaunan hijau yang tumbuh lebat di setiap ranting pohon. Setelah yakin tempat itu tidak memberinya cukup inspirasi lagi, ia memutuskan untuk menghambur ke tempat lain lagi sampai sudah benar-benar jauh dari markas. Saat ini, dirinya sedang di pinggiran sungai kecil yang jernih. Kelelahan, ia beristirahat sejenak di tempat itu sambil menyeka keringatnya dengan air sungai itu.
"Cari yang benar dong, Shikamaru! Aku segera ingin pulang!"
Hidan menengadahkan kepalanya ke arah suara yang baru saja didengarnya. Tepat di depan matanya, seorang gadis berbaju ungu tiba-tiba muncul dari seberang sungai. Rambutnya dikuncir satu dan poninya kanannya yang panjang menutupi bagian kiri wajahnya, sekilas gadis itu mengingatkannya akan seseorang. Hidan baru saja ingat bahwa ia tidak boleh berinteraksi dengan orang luar. Dengan sigap, ia segera bersembunyi di balik bebatuan besar, kemudian mengintip gadis itu dari celah-celahnya.
"Tunggu...Deidara-san-kah?" gumam Hidan, ragu. Ia mengintip sekali lagi, mencermati penampilan si gadis yang mirip Deidara tersebut, "bukan, bukan Deidara-san. Adiknya-kah?"
Gadis itu lalu mendekati pepohonan di dekatnya, kemudian mengamatinya dari bawah sampai atas—seperti sedang mencari sesuatu.
"Di sini juga tidak ada." katanya, dengan wajah kecut, "kau sudah menemukannya belum?"
Sseorang laki-laki yang tampak sebaya dengan sang gadis tiba-tiba muncul dari arah belakangnya. Ia mengenakan jaket berwarna hijau dan memasukkan tangan kanannya ke dalam saku celana. Dengan langkah ogah-ogahan, ia menghampiri gadis itu.
"Merepotkan saja. Percuma kau mencari. Jamur-jamur itu memang tidak akan tumbuh di daerah ini." sahutnya dengan nada malas.
"Haaah?! Kenapa kau tidak bilang dari tadi?!" sembur si gadis.
"Aku juga baru saja menganalisanya tadi."
Gadis itu mendesah keras.
"Di mana Chouji?"
"Sedang mencari di bagian utara."
Sang gadis mengusap peluh dari dahinya, kemudian mengorek-orek isi sakunya untuk mengambil sebuah foto.
"Aku tidak percaya misi mencari jamur seperti ini akan digolongkan menjadi misi tingkat B!" pekiknya, sambil memandang sebuah foto bergambar jamur yang disebut-sebut dalam percakapan mereka tadi.
"Jangan remehkan misi ini. Jamur ini adalah jamur herbal yang langka dan dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, maka dari itu digolongkan menjadi misi tingkat B." ucap si laki-laki, datar.
"Kalau itu langka, berarti kita harus mencari di mana?! Kita sudah berjam-jam mengitari seluruh tempat, tetapi sama sekali tak menemukan jamur itu!"
Laki-laki itu memutar matanya.
"Mungkin di daerah yang gelap...yang tak terkena sinar matahari."
"Berarti selama ini kita sia-sia saja mencari di tempat yang terang begini?!"
"Berhenti mengomel. Ayo kita cari lagi."
Laki-laki itu baru akan beranjak lagi saat si gadis menahannya.
"Tunggu, Shikamaru! Aku ingin beristirahat dulu di sini!"
Shikamaru menoleh ke arah si gadis.
"Baik, baik. Aku hanya ingin melihat-lihat di sekitar sini. Kalau sudah, susul aku." katanya, lalu berlalu meninggalkan dia sendirian.
"Jangan jauh-jauh, ya!" teriak si gadis.
Hidan masih diam-diam mengintip dari balik batu. Ia melihat bahwa lambang ikat kepala kedua shinobi itu sama.
"Lambang itu...shinobi Sunagakure? Eh, atau Konohagakure?" Hidan berusaha mengingat kembali penjelasan Kakuzu soal lambang-lambang desa.
Saat ia kembali mengintip, gadis itu sudah duduk menghadap sungai. Wajahnya tampak kelelahan. Ia pun mengambil air dari sana dengan tangannya, lalu meminumnya dan mengusapnya sedikit ke leher dan lengannya yang sedikit berkeringat.
"Panas sekali." gumamnya, kemudian membuka 2 kancing bajunya yang paling atas. Ia memungut sebuah daun besar yang tergeletak di sampingnya, lalu mengipaskannya ke leher dan bagian atas dadanya yang ia biarkan terbuka agar terkena angin.
Hidan masih berusaha untuk mengingat lambang desa pada ikat kepala gadis itu. Ia menggeser duduknya sedikit agar bisa mengintip dari celah dengan lebih jelas. Lalu, tiba-tiba ia merasakan sesuatu sedang merayap dengan pelan dari arah punggungnya. Tubuh Hidan mendadak dingin, membatu untuk sesaat. Dengan gugup, ia memberanikan dirinya untuk melirik ke bagian belakang punggungnya. Tepat seperti dugaannya, seekor ular berwarna merah menyala sedang menjulur-julurkan lidahnya di sana.
Tanpa ia sadari, Hidan sudah menjerit dengan keras, lalu refleks bangkit dari duduknya—melompat-lompat seperti orang kesetanan. Yang Hidan pikirkan saat ini adalah ular itu akan membunuhnya seketika dengan racunnya. Sambil memejamkan matanya dengan ngeri, ia pun menyambar ular itu dari lehernya, lalu melemparnya ke tanah.
Reptil itu akhirnya sudah pergi menjauh darinya. Tetapi, belum sempat Hidan menghembuskan nafas lega, ia tersadar gadis di seberang sungai itu sedang menatap dirinya seperti baru saja melihat hantu—duduk membatu di sana.
"Ha-halo." sapa Hidan, gugup.
Spontan, gadis itu menjerit shock, lalu menutup bagian atas dadanya yang sedikit tereskpos. Dengan segera, ia mengancingkan bajunya kembali.
Hidan sedikit terkejut dengan teriakannya, khawatir jika dia bakal dianggap mempunyai niat jahat. Ia pun melompati sungai, lalu mendekati gadis itu dengan langkah kikuk.
"Tu-tunggu, nona! Sa-saya tidak—"
"MENJAUH DARIKU!" jeritnya, sambil melemparkan bebatuan ke arahnya dengan liar.
"E-eh?! No-nona harus mendengar penjelasan saya dulu!"
Tak lama kemudian, laki-laki yang sebelumnya bersama gadis itu tiba-tiba muncul kembali dalam sekejap, menghadap Hidan dengan pandangan garang.
"Kau tidak apa-apa, Ino?!" tanya Shikamaru, lalu menarik kunai dari sakunya.
"Y-ya, aku tak apa-apa..." Ino menjawab dengan terbata-bata.
"Siapa kau?!" teriak Shikamaru pada Hidan.
"Ma-maaf, sa-aaya bukan orang jahat!" Hidan berusaha menjelaskan, lalu mendekat ke arah kedua shinobi itu.
"KYAAA! MINGGIR KAU, ORANG MESUM!" jeritnya, kali ini tanpa ragu lagi ia memberi Hidan tendangan dan pukulan liar tanpa ampun.
Shikamaru mengerutkan keningnya. "Orang...mesum?"
"Be-berhenti, n-nona!" kata Hidan, memohon Ino untuk berhenti memukulinya.
"ORANG BRENGSEK YANG BERANI MENGINTIP PEREMPUAN TAK AKAN KUBIARKAN HIDUP!" teriak Ino sadis.
Shikamaru mengamati kalung perak asing yang tengah Hidan kenakan. Awalnya Shikamaru menganggap Hidan remeh karena tidak tampak membawa senjata, namun kemudian ia menyadari terdapat sebuah goresan panjang pada lambang ikat kepala Hidan.
"Sial." umpat Shikamaru, tidak percaya orang tak berpakaian yang berada di hadapannya ini adalah seorang ninja pelarian. Ia pun melemparkan kunainya ke lengan Hidan, namun beruntung Yugakure-nin itu berhasil menghindar.
"Tu-tunggu!" Hidan berusaha menenangkan Shikamaru yang masih terus menyerangnya, "ka-kalian hanya salah paham!"
"Aku tidak akan memercayai perkataan dari mulut seorang mesum!" jerit Ino.
Shikamaru membisikkan sesuatu ke telinga Ino.
"Hati-hati, Ino. Orang ini ninja pelarian. Lihatlah ikat kepalanya".
Ino membelalakkan matanya. "HAAAH?!"
Gadis berambut panjang itu pun berhenti memukuli Hidan. Ia mundur beberapa langkah, berusaha agar Hidan tidak mendekatinya. Sama seperti Shikamaru, ia juga segera meraih kunai dari sakunya, lalu memperlihatkannya kepada Yugakure-nin itu, berharap dapat membuatnya sedikit takut.
Hidan makin kerepotan menghadapi kedua shinobi itu.
"Ma-maaf saya mengagetkan anda! Tetapi, saya sama sekali tidak bermaksud—"
Tiba-tiba, Hidan merasakan seluruh tubuhnya kaku. Ia mendadak tidak bisa bergerak dan merasa benar-benar lumpuh.
"Kagemane no Jutsu, sukses." ucap Shikamaru.
"Bagus, Shikamaru!"
Tep! Tep! Tep!
Suara langkah kaki yang berlari terdengar dari belakang Shikamaru dan Ino. Saat suara itu mendekat, sesosok laki-laki berambut hitam dan berkulit pucat pun muncul dengan wajah panik.
"Kalian tidak apa-apa?!" serunya, lalu matanya secara otomatis memandang Hidan yang sedang terkunci di dalam jutsu Shikamaru.
Shikamaru dan Ino terlihat sedikit terkejut.
"Sai?!" seru mereka bersamaan.
"Kenapa kau ada di sini?" tanya Ino.
"Aku mendengar suara teriakan. Kebetulan kelompok kami juga sedang menjalankan misi di sekitar sini, dan aku sedang berpencar sendirian sampai d ini." jelas Sai, "apakah dia musuh?"
"Ya, beruntung kami berhasil menangkapnya. Tiba-tiba dia muncul di tengah misi kami." ucap Shikamaru, berkeringat karena menahan Kagemane.
"Tunggu, jadi dia bukan target dalam misi kalian?"
Ino menganggukkan kepalanya. "Bukan. Misi kami adalah mencari jamur herbal yang langka!"
"To-tolong...saya mohon dengarkan dulu penjelasan saya!" pinta Hidan dengan nada memelas. "I-ini semua hanya kesalahpahaman semata!"
"Ino. Kita tunda misi kita, lalu kita bawa pria ini kepada Tsunade-sama." perintah Shikamaru.
"Baik!"
"Tu-tunggu, nona!" teriak Hidan, "sa-saya bersumpah tidak melakukan apa-apa!"
Ino menghentikan langkahnya.
"Hah?! Katakan sekali lagi, pembohong?"
Tiba-tiba, air mata mulai memenuhi pelupuk mata Hidan.
"Oi, oi! A-apa yang kau—ew!" Ino bergidik saat melihat pria yang ia anggap mesum itu tiba-tiba menangis.
Shikamaru menyipitkan matanya, merasa sesuatu yang salah terjadi.
"Ino, bisakah kau menceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?"
Wajah Ino merah padam.
"Bu-bukankah sudah jelas?!" Ino membuang mukanya dari Shikamaru, "i-intinya, aku sedang...uh, me-melakukan hal yang pribadi! Dan lalu...lalu...pria mesum itu tiba-tiba muncul! Pasti dia sedang mengintip!"
Shikamaru sweat-dropped. "Hal yang pribadi...?"
Ino mengangguk, masih dengan wajah yang merah.
"Apakah dia menyerangmu?" tanya Shikamaru lagi.
Ino terdiam sejenak.
"...tidak."
Shikamaru mengernyit. Kemudian, tangisan Hidan semakin lama semakin terdengar keras, membuat Ino makin bergidik.
"Hey, kau! Sebenarnya, apa maumu?!" tanya Shikamaru dengan nada tinggi.
"Sa-saya hanya...hanya mau melukis saja!" ucap Hidan dengan terisak-isak.
Sai melebarkan matanya.
"Melukis?"
"Be-benar, hiks!"
"Haaah?! Kau mau mengintip lalu melukis diriku secara diam-diam?!" pekik Ino.
"Bu-bukan, nona! Saya hanya sedang mencari inspirasi, dan sama sekali tak punya niat berbuat jahat!"
"Bohong! Lalu kenapa lambang pada ikat kepalamu dicoret begitu! Dan kau bukan orang Konoha! Kau pasti penyusup—ninja pelarian!" lontar Ino.
"I-ikat kepala?!" masih dalam keadaan tak bisa bergerak, mata Hidan melirik ke bawah lehernya agar bisa melihat ikat kepalanya, "c-coretan ini...pa-pasti coretan di sini terjadi saat saya tidak sengaja terjatuh!"
"Lalu, kenapa kau tidak memakai baju?!"
"Memangnya itu penting?" tukas Shikamaru, merasa pertanyaan yang baru saja diajukan Ino terdengar bodoh, "baiklah, aku akan melepaskanmu dari Kagemane."
"Haaah?! Jangan bercanda, Shikamaru! Sai-san, katakan sesuatu!"
"Aku sebenarnya tidak begitu mengerti dengan apa yang terjadi, tetapi aku setuju untuk membebaskan orang ini." kata Sai.
"Apa?!"
Meskipun Ino memprotes, Shikamaru tetap melepaskan segel Kagemane-nya. Hidan menghembuskan nafas lega saat ia akhirnya terbebas dari jurus bayangan itu. Lalu, ia menjatuhkan dirinya ke tanah.
"Te-terima kasih atas pengertiannya..."
"Jangan salah paham. Aku masih menaruh rasa curiga padamu, hanya kali ini kau aku lepaskan." sahut Shikamaru.
Sai melangkah dan membungkukkan badannya ke arah Hidan.
"Namaku Sai." katanya sambil tersenyum, lalu mengulurkan tangannya pada Hidan, "jadi, kau ingin melukis?"
Hidan terpaku melihat keramahan Sai. Tanpa ragu lagi, ia segera membalas uluran tangannya.
"Na-nama saya Hidan." ucap Hidan, sudah menghentikan tangisannya, "a-anu...se-sepertinya saya butuh bantuan kalian semua."
"Hidan, ya...?" Sai memandang langit yang berwarna biru cerah, berusaha memikirkan nickname yang tepat untuk Hidan, "senang berkenalan denganmu, pria-tanpa-pakaian!"
"Berhentilah memberi nickname secara random kepada orang, Sai." ucap Ino, sweat-dropped.
Hidan pun menjelaskan detail misinya kepada Shikamaru, Ino, dan Sai. Tentang bagaimana ia harus mencari definisi seni, lalu melukisnya ke dalam kertas. Mereka bertiga tampak menyimak penjelasan Hidan dengan baik, walaupun rasa curiga kepada Hidan masih tersimpan di dalam benak mereka.
"Begitu, ya." kata Shikamaru saat Hidan akhirnya selesai menjelaskan.
Hidan mengangguk. "D-dan saya kesulitan mencari definisi seni itu. Maka dari itu...sa-saya mohon bantuan kalian!" pinta Hidan, menundukkan kepalanya.
"Hah. Seni itu merepotkan." sahut Shikamaru, malas.
Yugakure-nin itu mengedipkan matanya. "Jadi, bagi Shikamaru-san, definisi seni adalah 'merepotkan'?"
"Bukan, tolol! Dia bukan menjawab pertanyaanmu!" tukas Ino.
Sai menaruh jari telunjukknya di depan bibirnya, membantu Hidan berpikir.
"Bagiku, seni adalah sesuatu yang bisa membuatmu kagum." ujar Sai.
"Sesuatu yang membuat saya...kagum?"
Sai mengangguk riang.
"Karena kekaguman pada sebuah hal selalu dapat menuntun kita untuk berbuat hal yang kreatif! Pikirkan saja sesuatu yang pernah membuatmu kagum, Hidan-san!"
Hidan mengorek-orek benaknya. Sesuatu yang membuatnya kagum...ia merasa mengetahui sesuatu mengenai itu.
"Apa sesuatu yang bisa membuat Sai-san kagum?" tanya Hidan lagi.
"Uh...apa, ya?" Sai memandang sekelilingnya, "mungkin keindahan alam? Oh, dan kakakku juga!"
"...kakak?" Hidan melebarkan matanya.
Sai mengeluarkan kuas dan kertas dari balik punggungnya. Lalu, ia mulai menggambar pemandangan sungai di depan matanya.
"Aku suka melukis." katanya sambil tetap melukis, "terutama melukis aku dan kakakku."
Hidan menatap goresan kuas Sai dengan berbinar-binar. "Indahnya!"
Shikamaru dan Ino terpaku saat memandang Sai. Dalam hati, mereka merasa ini pertama kalinya mereka melihat senyumnya yang tulus seperti itu.
"Nah, misalnya seperti ini." Sai menyodorkan lukisan sederhananya kepada Hidan. Sebuah potret hutan rimbun beserta sebuah sungai yang mengalir. Di depan sungai itu, sesosok laki-laki yang Sai gambar dengan imajinasi sedang berdiri sambil tersenyum.
"Apakah ini kakak Sai-san?"
Sai mengangguk riang. "Sudah paham dengan yang kumaksudkan sekarang? Asalkan sesuatu bisa membuatmu kagum, maka itu sudah pantas disebut dengan seni."
Hidan mengangguk dengan penuh keyakinan.
"Hn! Sekarang saya sudah mengerti!"
Hidan bangkit dari duduknya. "Te-terima kasih atas bantuan kalian, Shikamaru-san, Ino, san, dan Sai-san! Saya harus segera kembali!"
Semuanya menganggukkan kepalanya. Sai melambai pada Hidan.
"Semoga kita bisa bertemu lagi!" seru Hidan sambil berlari meninggalkan mereka—kembali menuju markas.
Beberapa saat setelah Hidan pergi, Ino langsung melanjutkan omelannya yang tadi sempat tertunda.
"Oi, Shikamaru dan Sai." panggilnya dengan wajah kecut, "kenapa kalian melepasnya begitu saja?! Siapa tahu dia hanya berbohong! Dia mencurigakan, tahu!"
Shikamaru berdiri.
"Kau benar, dia memang mencurigakan." katanya.
"La-lalu, kenapa kau masih membiarkannya?!" protes Ino.
"Tidak tahu." Shikamaru mengangkat bahunya, "hanya saja, kupikir dia mengatakan suatu kebenaran."
Ino memicingkan matanya. "...hah?"
Sai tersenyum. "Aku juga berpikiran sama seperti Shikamaru."
Belum sempat Ino merespon perkataan mereka berdua, Shikamaru dengan cepat menyelanya untuk segera kembali melakukan misi. Dengan pandangan tidak mengerti, Ino bangkit dan memandang kepergian Hidan dari kejauhan yang sekarang sudah tampak seperti titik kecil di matanya.
Saat Hidan kembali ke ruang utama, ia melihat Deidara dan yang lainnya sedang tidak berada di tempat itu. Namun, bom penanda waktu itu masih tergeletak utuh di sana, belum meledak.
Hidan menarik nafas lega, beruntung 30 menit belum berakhir. Dengan cepat, Hidan segera masuk ke ruang makan dan menemukan Itachi masih menunggu di sana dengan ekspresi yang sama seperti saat terakhir ia meninggalkannya untuk misi.
Melihat ada bayangan yang masuk ke ruangan itu, Itachi mendongakkan kepalanya, melihat Hidan yang tampak ngos-ngosan sedang berdiri di sana. Kemudian, Yugakure-nin itu membungkukkan badahnya ke arahnya.
"Itachi-san!"
"A, B, C, D, E, F, G, H, I, J,...K! Huruf K!" seru Deidara, menghitung jari-jari yang diperlihatkan Sasori, Kakuzu, Kisame, dan Zetsu, lalu mengurutkannya berdasarkan abjad.
"Kucing." kata Zetsu.
"Kura-kura." sahut Kisame.
"...koin." gumam Kakuzu.
"Kakuzu, koin bukanlah nama hewan." tukas Deidara.
"...kelinci." kata Sasori, tampak keberatan menjawab.
"Cepat jawab, Kakuzu!" seru Deidara.
"Aku tidak mau ikut dalam permainan konyol ini."
"CEPAT JAWAB, UN!"
"..."
Kakuzu pun terpaksa berkutat lama memikirkan nama hewan yang berawalan dengan huruf K. Selama ia masih berpikir, yang lainnya bersama-sama menghitung mundur angka 1 – 5 secara mundur. Dan saat mereka sudah sampai hitungan ke- 0, Kakuzu ternyata masih belum juga menjawab. Atau mungkin memang sengaja tak mau menjawab.
"Kau kalah, Kakuzu!" pekik Zetsu dan Deidara, tertawa mengejek, "karena kau kalah, maka hukumannya adalah memijati kaki kami selama 5 menit!"
Kakuzu memutar matanya. Ia memilih untuk tidak membalas perkataan mereka.
"Sudah. Ayo segera kembali ke ruang utama." ucap Sasori, ketus.
"Bomnya belum meledak, Sasori-san." kata Zetsu.
"Aku malas menunggu di ruang utama! Membosankan, lebih baik kita main-main dulu sambil menunggu bom-nya meledak, hm!" sahut Deidara, "nah, ayo kita mulai permainannya la—"
DUAAAR!
"—gi." lanjut Deidara, menjeda kalimatnya selama beberapa detik ketika suara ledakan tiba-tiba terdengar, "...sudah meledak, un."
Kisame tersenyum misterius. "Nah, tunggu apa lagi? Ayo cepat ke ruang utama!"
Semua pun mengakhiri permainan ABC Lima Jari mereka, lalu dengan cepat menghilang menuju ruang utama. Sesampainya di sana, mereka mendapati Hidan sudah menginjakkan kakinya di tempat penyegelan bijuu itu—menunggu Deidara dan yang lainnya untuk datang.
"Aku kagum kau tidak terlambat, bahkan beberapa untuk detik sekalipun, un." ucap si Iwagakure-nin dengan nada sok kagum, padahal dalam hati ia merasa kecewa karena sesi pertama hukuman Hidan sudah terbang jauh-jauh dari dirinya.
"Hn! Saya berusaha untuk tepat waktu, Deidara-san!" kata Hidan, tersenyum.
"Baik, baik. Tunjukkan lukisanmu sekarang juga, un." sahut partner dari Sasori itu dengan cepat.
Hidan dengan semangat menyodorkan hasil lukisannya pada Deidara. "I-ini!"
Zetsu, Kakuzu, Sasori, dan Kisame berusaha mengintip lukisan buatan Hidan itu dari balik punggung Deidara. Sekilas, goresan-goresan kuas yang berantakan itu membuatnya kesulitan menemukan gambar apa yang dibuat Hidan. Tetapi, ia berusaha lebih mencermati lagi hingga akhirnya menemukan sebuah bentuk yang sekilas mirip sebuah shuriken di sana.
"Ehem." Deidara berdeham, "sebelumnya, aku akan menanyakan kembali soal definisi seni itu."
"Ah, ya, so-soal itu..." pipi Hidan merona merah, "ba-bagi saya...seni adalah sesuatu yang membuat saya kagum."
Deidara mengernyit.
"Hal yang bisa membuatmu kagum? Lalu, lukisan ini...sebenarnya kau mencoba menggambar apa, un?" tanyanya, tidak bisa memahami kemampuan menggambar Hidan yang jauh di bawah rata-rata itu.
"Benar, Deidara-san! Bagi saya, se-seni adalah sesuatu yang membuat saya kagum."
"Contohnya, hm?"
Hidan tampak tersipu malu, sekaligus sumringah.
"...Sharingan."
Suasana hening selama beberapa detik. Deidara mengedipkan matanya. Yang lainnya memandang Hidan dengan tatapan "kau bilang apa barusan?"
"...ha-ha-ha." Deidara tertawa garing, "u-ulangi, ulangi! Telingaku pasti salah dengar, un."
Hidan memandang Deidara dengan tidak mengerti. Tetapi, ia mematuhi perintahnya untuk mengulangi perkataannya.
"Sesuatu yang membuat saya kagum adalah...Sharingan."
Kini, semuanya tengah menatap Hidan seakan-akan ia baru saja melontarkan sebuah lelucon bodoh. Ekspresi Deidara tampak paling berbeda dibandingkan yang lainnya. Sesaat, member termuda Akatsuki itu terdiam selama beberapa detik. Lalu, tiba-tiba bibirnya menyunggingkan senyum kecil yang kemudian berubah menjadi sebuah gelak tawa.
"Tunggu, m-maksudmu, lukisan yang kau buat ini..." Deidara bertanya, masih berusaha menahan tawanya, "...ini Sharingan?"
"Y-ya, itu Sharingan milik Itachi-san, Deidara-san."
"...kau bercanda, kan?!"
Hidan menggeleng.
"Saya pikir, kemampuan Itachi-san yang disebut Sharingan tersebut sangat mengagumkan dan benar-benar seni yang sejati!" ungkap Yugakure-nin itu dengan berbinar-binar.
Bukannya merespon perkataan Hidan, Deidara malah makin tergelak sendiri. Hidan sampai tidak tahu apakah ia tertawa karena gambar buatannya itu terlampau jelek atau karena hal lain.
Yang lainnya menatap Deidara dengan pandangan tidak mengerti.
"Kenapa dia?" Kisame menyipitkan matanya.
"Aku tak tahu." kata Sasori.
"Apa Deidara sudah gila? Kau tahu, tawanya terdengar menyeramkan." komentar sisi putih Zetsu.
"Ya. Aku setuju denganmu." balas sisi hitam Zetsu.
Deidara masih tampak cekikan sendiri—semakin lama tawanya terdengar seperti orang frustasi. Kemudian, ia menatap Hidan dengan wajah sinis.
"Ha-ha-ha, Hidan! Ah, Hidan...maaf, tetapi sayang sekali kau gagal, hm! Definisimu tentang seni itu payah sekali, un!" serunya, sembari menerbangkan kertas lukisan tersebut yang kemudian terjatuh di dekat kaki Hidan.
Hidan berdiri tercengang, tampak tak percaya.
"...gagal?"
"Tentu saja! Mana mungkin Sharingan seperti itu disebut seni! Itu hanyalah sebuah jutsu idiot yang bisa dengan mudah dikalahkan dengan ledakanku, un!"
Hidan menundukkan kepalanya, berdiri terpaku sambil memikirkan fakta bahwa ia gagal melaksanakan misi itu. Ia merasa sedikit terpukul. Meskipun begitu, ia berusaha untuk tidak menangis seperti yang ia lakukan sebelumnya. Sesudah menarik nafasnya dalam-dalam, ia pun menguatkan hatinya, lalu mendongakkan wajahnya dan menatap Deidara dengan senyum.
"Ba-baik...M-maaf saya sudah gagal dan mengecewakan Deidara-san!" ucapnya, lembut.
"Ya, ya, ya, sudah, sekarang saatnya hukuman, hm!"
"Itachi-san, maaf sudah mengecewakan anda juga!"
"Iya, iya, un. Cepat sekarang kita—hah?"
Setelah Hidan berkata seperti itu, mendadak burung-burung gagak datang berterbangan di samping Hidan. Mereka berkerumun dengan cepat, lalu memunculkan sosok Itachi di sana.
Semuanya terperanjat. Deidara-lah yang tampak paling terkejut.
"S-sejak kapan kau ada di sana, Itachi-san?" tanya Kisame, gugup.
"Ma-maaf sudah menyembunyikannya dari kalian! S-saya sengaja mengajak Itachi-san untuk melihat penilaian misi ini sebagai ungkapan rasa terima kasih saya kepada Itachi-san! Di-dia sudah mengizinkan saya untuk melukis mata Sharingannya!" jelas Hidan.
Semuanya melongo—berpikir bahwa rencana mereka pasti sudah ketahuan oleh Itachi sekarang.
" S-saya meminta Itachi-san menyembunyikan dirinya di samping saya agar menjadi kejutan bagi dia dan semuanya saat misi saya berhasil. Te-tetapi...te-ternyata saya..." Hidan tampak sedih, "...saya gagal."
Itachi diam, tak berkata apa-apa. Kemudian, ia mengalihkan pandangannya ke arah Deidara, yang sedang menatapnya penuh kebencian.
"Jelaskan, misi apa yang sedang kalian lakukan." pinta Itachi dengan nada datar.
"Itu bukan urusanmu, hm." jawab Deidara tak peduli, kemudian memandang Hidan dengan marah, "aku tak ingat pernah mengizinkamu untuk mengajak member lain melihat jalannya misi ini, hm!"
Hidan baru akan menjawab, tetapi tiba-tiba Itachi menyelanya.
"Katakan misi apa ini, Deidara. Leader-sama mengatakan kita tidak boleh melakukan hal-hal lain selain misi Akatsuki sendiri."
"Sudah kubilang itu bukan urusanmu, Itachi!" pekiknya, lalu merogoh sakunya dan menggenggam beberapa tanah liat—mengantisipasi Itachi kalau-kalau ia tiba-tiba melakukan serangan.
Hidan merasa ketakutan. Ia merasakan aura kebencian memancar dari Deidara saat menatap Itachi.
"Kisame." panggil Itachi pada Kisame, "aku minta penjelasanmu nanti."
"Baik, Itachi-san." sahut Kisame, nervous.
Itachi pun melangkah pergi meninggalkan mereka. Tetapi, Deidara menahannya dengan meneriakkan namanya.
"B-brengsek kau...Itachi! Kau sama sekali tidak menyerangku! Kau pikir aku lemah, hm?!"
Deidara melembar bom C2-nya ke arah Itachi, namun dengan lihai Itachi menghindar. Tanah di sekitar markas menjadi bergetar, dan langit-langit sedikit menjatuhkan reruntuhan kecil.
"Kau pasti mendengar perkataanku soal Sharinganmu tadi, 'kan?! Kenapa kau diam saja, un?!" teriak Deidara.
Itachi menoleh ke arahnya.
"Aku tidak peduli."
Deidara menggenggam erat tangannya sampai-sampai urat nadinya terlihat di sana. Saat Itachi tidak mengaktifkan Sharingannya untuk menanyai dirinya tadi, ia menjadi sakit hati. Kejadian 2 tahun lalu itu tidak bisa ia lupakan begitu saja. Genjutsu Itachi yang menggagalkan seninya untuk pertama kalinya...sesungguhnya, Sharingan itu pernah membuatnya kagum. Tidak, ia menolak untuk kagum pada kemampuan orang lain. DEIDARA MENOLAK UNTUK KALAH DARI ITACHI.
"JANGAN REMEHKAN AKU, UN!"
Di saat Deidara makin menggila, Hidan beberapa kali mengernyit tidak mengerti kenapa Deidara tiba-tiba jadi lepas kendali. Semuanya panik. Mereka berusaha menghentikan Deidara, tetapi shinobi berambut blondie itu tetap bersikukuh membom Itachi.
"Tenang, Deidara! Jangan membuat rusak markas! Dan Itachi itu teman kita!" seru Zetsu, berusaha menenangkan.
"Teman?! Ha! Diam! Jangan ganggu aku!" Deidara menggertak, berusaha melepaskan tangan Zetsu.
Itachi terus melanjutkan langkahnya—tidak memperdulikan emosi Deidara sama sekali. Kemudian, burung-burung gagak tiba-tiba keluar dari tubuh Itachi dan membawanya hilang dalam sekejap mata.
Reaksi tidak peduli yang diperlihatkan Itachi kepada Deidara itu membuat emosinya makin menjadi-jadi.
Kisame dan Sasori berusaha menahan luapan kekesalan Deidara dengan memegangi kedua tangannya—mencegahnya untuk menjatuhkan bom lagi. Zetsu dan Kakuzu memegangi kedua kaki Deidara, sedangkan Hidan mencoba mencopot tas kecil berisi tanah liat yang tergantung di samping pinggang Deidara.
Iwagakure-nin itu tampak meronta-ronta agar bisa lepas dari 'ikatan' teman-temannya itu.
"Jangan halangi aku!" teriaknya, masih menggenggam sebuah tanah liat yang sedang susah payah ia aliri dengan chakra.
"Ja-jangan, Deidara-san! Ma-maafkan saya sudah membuat anda marah!" ucap shinobi berambut silver itu, berusaha membujuk dirinya agar tenang.
Kemudian, tanpa sengaja Hidan menyenggol tangan kanan Deidara.
PLUK.
Tanah liat Deidara terjatuh di tanah. Deidara tampak terperanjat dan memandang bom-nya yang sudah terjatuh itu dengan shock.
"Mi-minggir kalia—!"
DUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAR!
"Baik, semuanya. Aku akan mengumumkan satu hal penting." Pain membesarkan suaranya, "kalian sudah melihat sendiri situasi saat ini."
Semua member tengah berkumpul membentuk formasi lingkaran. Mereka sedang melaksanakan pertemuan darurat.
"Berhubung markas kita hancur, kita akan pindah ke markas baru. Memang letaknya cukup jauh, tetapi tempat itu jauh lebih baik dan tertutup."
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, semuanya hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Dan untuk KAU, Deidara."
"...y-ya, Leader?"
"Kau sudah mengerti hukumanmu, bukan?"
"Ya, Leader, un." jawab Deidara, gugup, "saya harus bertugas memasak makan malam, membersihkan kamar mandi, menjaga markas saat malam hari, dan mengatur pengelolaan uang Akatsuki selama satu tahun."
"Bagus kau mengerti."
Pain memandang ke sekililingnya. Bebatuan-bebatuan berserakan di sekitarnya. Markas Akatsuki yang awalnya berupa gua besar itu kini berubah menjadi gunung bebatuan.
Ia mengalihkan pandangannya lagi ke arah anggota-anggotanya yang tampak kumal karena terkena reruntuhan markas. Setelah kejadian hancurnya markas mereka itu, mereka mendadak tidak banyak bicara seperti biasanya dan cenderung membuang mukanya dari Pain, terutama Deidara. Tentu saja, mengingat markas Akatsuki hancur karena C3-nya yang tidak sengaja jatuh tersenggol oleh Hidan.
Di saat member lainnya tampak gugup, Itachi tetap bersikap normal seperti biasa.
Tobi tampaknya menjadi satu-satunya member yang muncul dalam keadaan paling baik, karena saat ledakan terjadi, ia masih berada di dalam lemari pakaian. Namun, itu justru membuat Pain curiga, karena Tobi yang katanya terkena radang tenggorokan akut itu tiba-tiba muncul dalam keadaan sehat-sehat saja dan...terikat dengan tali?
Sedangkan Deidara, dalam hati ia bersumpah suatu hari nanti akan membunuh Itachi, lalu jadi memberikan hukuman kepada Yugakure-nin itu.
Hidan berulang-ulang mengucapkan kata 'maaf' kepada Deidara. Dia hanya bisa merasa prihatin atas sederet hukuman yang didapatnya. Semua tahu bahwa dirinya-lah salah satu orang yang bertanggung jawab atas C3 Deidara yang meledak, tetapi Pain malah menganggapnya tak bersalah.
Kakuzu, Sasori. Kisame, dan Zetsu hanya bisa menggerutu dalam hati—meskipun sebenarnya mereka sangat ingin meledakkan amarah mereka dan membalas perbuatan Deidara itu.
"Baiklah, kita pergi sekarang." perintah Pain.
"Tu-tunggu, Leader, hm!" seru Deidara, "so-soal hukuman itu, saya tidak bisa memasak, un! Ba-bagaimana kalau tugas memasak tetap diberikan kepada member yang ahli saja? Semuanya pasti tidak mau repot-repot memakan menu makan malam buatan saya yang selalu tidak enak itu, 'kan?"
Deidara berharap alasannya tersebut dapat mempengaruhi Pain sedikit. Jika ia berhasil, beban hukumannya akan berkurang satu, dan itu sangat lumayan.
"Kalau begitu, kau bisa minta Itachi untuk mengajarimu. Hukuman tetaplah hukuman. Aku tetap akan menyerahkan tugas memasak makan malam itu kepadamu, tidak peduli kau bisa memasak atau tidak. Tapi, kuharap kau bisa memasak makanan yang enak, Deidara." kata Pain, lalu melompat, "ayo berangkat, semuanya."
Deidara terlalu sibuk mencerna perkataan Pain tadi sampai-sampai ia tidak mendengar perintah Pain untuk segera pergi menuju markas baru.
Itachi akan mengajariku memasak? Ha-ha-ha, tidak, tidak. Bercanda, 'kan?
"Deidara-san! Ji-jika anda tidak mau Itachi-san yang mengajari, biarkan saya saja yang melakukannya! I-ini juga sebagai ungkapan permintamaafan saya!" pinta Hidan dengan tulus.
Deidara menoleh pelan ke arah Hidan, memberinya tatapan kosong. Sudah, sudah, ia sudah terlalu lelah untuk marah-marah.
Terima kasih sudah meluangkan waktu kalian untuk membaca! Review kalian akan saya tunggu! Chapter 04 akan segera menyusul! XD
