Aku pikir cerita ini gak cocok kalau diselipin humor. Hehehe. Jadi genre humor dihapuskan. Ok, thanks for review, guys!
Silver Light
Chapter 3. Hikari Uchiha.
Desa Konoha. Dua puluh empat tahun yang lalu.
Di bawah langit Konoha yang mendung, anak laki-laki berambut perak berdiri seorang diri teras rumahnya. Dia mengadahkan kepalanya ke atas. Langit mendung mengurungkan niatnya untuk bermain ke suatu tempat.
"Kakashi…"
Kakashi pun menoleh ke arah suara lembut yang memanggilnya. Sang Ibu, Nanase.
"Ibu…mau hujan…padahal aku mau pergi bermain…" bibir mungil Kakashi kecil cemberut. "Sepertinya boneka penangkal hujan yang kubuat tidak mempan…"
"Jagoan kecilku begitu pintar, ya…sebaiknya kamu diam di rumah saja hari ini…"
Kakashi kecil mengangguk kemudian berlari masuk ke dalam rumah menuju dojo, tempat di mana dia berlatih bersama sang ayah, Sakumo Hatake.
Nanase terus memperhatikan anak semata wayangnya berlari masuk ke dojo. Wanita itu kemudian mengalihkan pandangannya ke boneka penangkal hujan yang digantung oleh Kakashi sendiri.
Walaupun masih berumur 6 tahun, Kakashi sudah menunjukkan potensinya. Kemampuan sang ayah, Konoha no Shiroi Kiba menurun padanya. Kakashi mendapat banyak pujian dari orang-orang desa.
"Kakashi, ibu pikir hari ini cukup latihannya. Besok adalah hari pertamamu di akademi kan?" Nanase membelai rambut perak putranya.
"Tunggu sebentar, bu! Aku ingin menyempurnakan gerakan taijutsu ini dulu!"
"Sudah, jangan dipaksakan. Ayahmu pasti tidak suka jika kamu memaksakan diri…" Nanase menahan Kakashi dengan merangkulnya dari belakang. Rangkulan penuh kasih sayang yang sangat disukai oleh Kakashi kecil. "Tuh, kamu sudah bau keringat, ibu sudah siapkan air mandi…"
Kakashi tertawa. "Iya, bu! Aku mandi sendiri ya! Aku 'kan sudah besar!"
Nanase tertawa kecil kemudian menggelitik anaknya.
"Hahaha…ibu! Geli!" Kakashi menggeliat.
Nanase melepaskan rangkulannya dan Kakashi kecil pun berlari ke kamar mandi.
"Kamu sangat memanjakannya…"
"Sakumo, kamu sudah pulang? Bagaimana misimu?"
Sakumo meletakkan tangannya di bahu Nanase. "Berjalan dengan lancar. Jagoan kecil kita sedang apa sekarang?"
Wanita berambut hitam itu tertawa kecil. "Sedang mandi…bergabung saja dengannya sekarang. Pasti dia sangat senang ayahnya sudah pulang,"
Tahun ajaran baru di Konoha sudah dimulai. Hari itu, ,merupakan hari pertama bagi daun-daun baru Konoha masuk akademi. Di wajah mereka nampak antusias yang sangat besar.
"Baiklah, selamat datang di akademi. Kalian semua akan dididik agar menjadi ninja yang kuat dan berguna bagi Konoha. Kalian harus belajar dengan sungguh-sungguh…" Hokage ketiga, Sarutobi, memberikan pengarahan sebelum mereka masuk ke kelas.
Kakashi melihat ke sekelilingnya, wajah-wajah yang bakal menjadi teman ninjanya.
"Kakashi! Hiyaa! Mari kita lihat siapa yang akan menjadi murid kesayangan!"
Kakashi menghela nafasnya, Guy Might. Selalu saja ingin bersaing dengannya, walaupun begitu, mereka berteman cukup baik.
"Namaku Kakashi Hatake, cita-citaku ingin menjadi ninja yang kuat dan dapat diandalkan bagi Konoha…"
"Oh…putra Sakumo, kamu pasti akan tumbuh sehebat ayahmu ya…" komentar sang guru.
Kakash mengangguk pasti. "Itu sudah pasti, aku tak akan mengecewakan ayahku,"
Murid-murid di dalam kelas pun mulai berkasak-kusuk dengan teman sebangku.
"Baiklah, silahkan kembali ke bangkumu, selanjutnya…wah, dari klan Uchiha, Hikari Uchiha,"
Seorang gadis kecil berambut biru tua maju ke depan kelas.
"Namaku Hikari Uchiha. Cita-citaku, walaupun aku perempuan tapi aku ingin menjadi ninja yang terkuat di klanku,"
-Kakashi's POV-
Saat dia lewat di sampingku, aku sudah merasakan sesuatu yang aneh. Seperti, ada sesuatu di dalam dirinya. Dan saat dia memperkenalkan diri di depan kelas, aku melihatnya…mata hitam dan rambut hitam panjangnya…aku merasa seperti pernah bertemu dengannya. Hikari Uchiha?
"Wah…mana mungkin perempuan menjadi lebih kuat daripada laki-laki!" seseorang di belakangku berteriak.
Kulihat wajah Hikari menjadi cemberut.
"Walaupun dari klan Uchiha sekali pun, itu mustahil!" teman sebangkunya ikut menambahkan.
Hikari mengepalkan kedua tangannya, kulihat kedua matanya berair. Huh?
"Hei! Hei! Sudah! Jika tidak ingin dihukum di hari pertama kalian, sebaiknya kalian diam saja! Nah, Hikari kamu boleh kembali ke tempatmu.
Gadis itu mengangguk kemudian berjalan ke tempat duduknya. Hmm, dia pasti menahan air matanya sekuat tenaga agar tidak jatuh ke pipinya.
Hari pertama berlangsung sebentar. Kami pun pulang setelah mendapat beberapa gambaran apa yang akan kami pelajari nantinya.
"Kakashi! Ayo kita lomba lari ke taman! Siapa yang menang, uang jajannya harus diberikan kepada sang pemenang!"
"Uang jajan? Apa kau yakin?"
"Iya! Iya! Ayo! Ayo!" Guy melompat-lompat. Dasar, anak hiperaktif…
Aku melangkahkan kakiku ke belakang untuk mengambil sikap kuda-kuda dan ternyata ada orang yang sedang lewat, dia pun kutabrak hingga jatuh.
"Bodoh!"
Di-dia…
"Dasar bodoh! Bukannya segera menolong!"
Hikari Uchiha…
"Mulai!" Aduh, Guy sudah mendahului start! Tanpa pikir panjang pun aku mengejar Guy, tak memerdulikan si gadis Uchiha yang jatuh terduduk. Haa…sudalah. Aku tidak mau uang jajanku diberikan kepada si hiper itu.
Aku menang! Uang jajanku selamat, malahan aku mendapat uang jajan tambahan dari si hiper, haha! Bisa kulihat wajah Guy yang merengut membuat wajah gak jelasnya menjadi tambah gak jelas lagi.
Setelah lomba lari yang cukup menguntungkan itu, aku kembali ke rumahku.
"Aku pulang!"
Tunggu, aku melihat ada dua sandal, berarti ada tamu…
"Kakashi, kamu sudah pulang. Ayo, cuci muka dan kakimu dulu. Setelah itu, ke ruang tamu ya. Ada tante Sora dan anaknya datang…"
"Tante Sora?"
"Nanti kamu tahu sendiri,"
Aku pun segera ke kamar mandi untuk mencuci kaki dan wajahku. Setelah kukeringkan, aku melangkah ke ruang tamu. Kubuka pintu geser dan…
"Ah…Kakashi kamu sudah besar!"
Tante Sora…dan…anaknya…tu-tunggu dulu! Dia…?
"Ayo, Kakashi masuk, init ante Sora dan putrinya,"
Kenapa dia? Uchiha Hikari? Bisa kulihat tatapan matanya padaku begitu sinis. Agh, past karena kejadian itu…
To be continued
