Silver Light Cp.4. Childhood Memory

Gadis Uchiha itu sebenarnya tidak keberatan ikut sang ibu untuk mengunjungi sahabat karibnya. Ya, Hikari dan ibunya pindah dari desa Konoha saat dia masih 2 tahun. Dan sekarang, mereka pindah kembali ke Konoha. Sora, sang ibu merupakan ninja medis yang sangat diandalkan dan dia diminta untuk memberikan pelajaran medis di suatu desa. Ya…sebut saja mutasi kerja.

Akan tetapi, saat mengetahui siapa putra dari sahabat karib ibunya, gadis itu ingin sekali segera pulang.

"Ah…Kakashi kamu sudah besar!"

"Ayo, Kakashi masuk, ini tante Sora dan putrinya,"

Kakashi tersentak kaget. Itu adalah gadis yang dicuekinnya setelah dia menabraknya jatuh.

"Oh iya, pasti kalian sudah bertemu karena ini hari pertama kalian masuk akademi 'kan?" ujar Sora seraya mengelus-ngelus rambut hitam anaknya.

"Dia anak jahat!"

Sontak kedua ibu pun kaget. Hikari tiba-tiba saja menudingkan jarinya ke Kakashi dan berkata demikian.

"Hikari! Kenapa bersikap tidak sopan begitu? Ini rumahnya…" Sora menjambak pelan rambut anaknya.

"Tapi bu…dia memang anak jahat! Dia menabrakku jatuh dan dia tidak minta maaf!" Hikari cemberut.

Nanase melihat anaknya kemudian menarik tangannya agar mendekat ke dirinya.

"Kakashi, kenapa kamu seperti itu dengan seorang anak perempuan? Ayo, minta maaf!"

Kakashi pun menjadi ikut-ikutan cemberut. Lantas dia menundukkan kepalanya ke Hikari.

"Hikari, aku minta maaf…"


Nanase dan Sora bernostalgia di ruang tamu sedangkan Kakashi dan Hikari disuruh bermain di halaman samping.

Hikari hanya duduk saja di tepi kolam ikan. Mata hitamnya hanya memperhatikan ikan-ikan yang berenang di dalamnya. Dia sama sekali tidak memerdulikan Kakashi yang duduk di bawah pohon sakura yang belum berbunga.

"Hei…"

"Hikari!"

"Hei!"

Berkali-kali Kakashi memanggilnya. Hikari tidak mau menjawab. Kakashi pun mengambil batu kerikil kecil di dekatnya kemudian melemparnya ke Hikari, tepat mengenai pipinya.

"Ibu! Lihat anak jahat ini! Dia melempariku dengan batu!"

Di luar perkiraan Kakashi, gadis itu menangis!

"Diam kau! Dasar anak cengeng!"

"Dasar anak jahat!"

"Anak cengeng! Katanya mau menjadi yang terkuat di klan Uchiha? Tapi…cengeng? Huhuhuhu…" Kakashi mengejek-ejeknya.

Hikari yang tidak mau kalah mengambil kerikil yang mengenainya dan melemparnya kembali ke Kakashi. Akan tetapi, lemparan gadis itu buruk sekali!

"Heh! Melempar batu saja tidak becus! Mau jadi apa?"

Karena terus dipanas-panasi Kakashi, Hikari melepaskan sandalnya dan berniat untuk melemparkannya ke Kakashi. Namun, tangan sang ibu menahannya.

"Hikari! Jaga sikapmu!" Sora membentaknya.

"Sudahlah, Sora…mereka masih anak-anak. Jangan dimarahi seperti itu, kasihan Hikari…" ujar Nanase. Wanita itu kemudian mendatangi Kakashi.

"Kakashi, Hikari, kalian tidak boleh berkelahi seperti ini juga. Berteman baik 'kan lebih enak? Daripada harus berkelahi seperti ini?"

"Nah, Hikari…kamu dengar kata-kata tante Nanase?"

Hikari melap air matanya dengan lengan bajunya. Matanya masih menatap Kakashi dengan sinis.

"Aku tidak mau berteman dengan anak jahat sepertinya!"

"Bleh! Aku juga tidak mau berteman dengan anak cengeng sepertimu!" balas Kakashi tidak mau kalah.

"Hei! Hei! Sudah! Sudah! Kakashi, masuk ke dalam rumah sekarang…" Nanase menjitak pelan kepala putranya.

Kakashi pun segera berlari masuk ke dalam, namun dia sempat-sempatnya menjulurkan lidah ke Hikari.

"Ibu! Aku benci dia!" pekik Hikari.


Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Hubungan Kakashi dan Hikari tidak menunjukkan kemajuan sama sekali. Mereka seperti anjing dan kucing yang setiap kali bertemu maunya berkelahi terus.

Bahkan Hikari menantang Kakashi dalam pelajaran di akademi. Hal itu membuat Kakashi semakin giat berlatih agar tidak kalah dari anak perempuan seperti Hikari. Dia tahu, walaupun Hikari adalah perempuan, tetapi dia sangat berbakat. Oleh karena itu, Kakashi takut suatu waktu Hikari bisa melampauinya.

Persaingan mereka sebenarnya cukup seimbang. Nilai-nilai mereka selalu sama dan saat praktek, Kakashi memang unggul sedikit dari Hikari.

Mereka berdua sama-sama menakjubkan dengan lulus dari akademi dalam jangka waktu hanya setahun.


Kebahagiaan Kakashi karena dapat menyenangkan orang tuanya harus berakhir dengan cepat. Sang Ibu, Nanase, meninggal sehari setelah kelulusan Kakashi dari akademi. Dia menyerah terhadap penyakit yang ternyata telah mengerogotinya berbulan-bulan.

Kakashi teringat akan pesan ibunya sebelum pergi.

"Kakashi, ibu yakin kamu akan menjadi ninja yang kuat dan sangat disegani seperti ayahmu. Dan, mengenai Hikari…kamu tidak boleh terus-terusan bermusuhan dengannya, ya…Kamu akan sangat membutuhkan dia…"

Kakashi kecil tidak mengerti. Sebenarnya siapa Hikari Uchiha? Mengapa ibunya sangat peduli akan hubungan dirinya dengan gadis itu?


Sepeninggal sang ibu, Kakashi menjadi semakin dekat dengan sang ayah. Kakashi sangat mengidolakan sang ayah yang merupakan seorang ninja yang jenius. Sifat Kakashi pun berubah karena menghabiskan waktu dengan ayahnya. Kakashi menjadi sosok yang cool dan tentu seperti seorang jenius yang kritis.

Konfliknya dengan si gadis Uchiha ternyata belumlah berakhir. Akan tetapi, Kakashi menyikapi gadis itu dengan cuek dan dingin. Seakan-akan tak tertarik lagi untuk beradu mulut dengannya.

Setahun kemudian, di ujian chunin. Di tahap ujian sebelum akhir, satu peserta harus mengalahkan peserta lain dalam pertarungan satu lawan satu. Dan, entah takdir atau apa. Kakashi harus berhadapan dengan Hikari.

"Sebaiknya kau mengundurkan diri! Aku tidak mau melihatmu menangis terkena pukulanku…" ujar Kakashi dingin.

"Hmph! Sebaiknya kau yang mengundurkan diri! Jangan sampai bokongmu ditendang seorang gadis!"

Peserta-peserta lain pun begitu antusias dengan pertandingan itu. Mereka tahu, Kakashi dan Hikari sudah seperti musuh bebuyutan saja.

"Serius tuh? Salah satu dari mereka yang kalah pasti akan sangat kesal,"

Hikari pun mengaktifkan sharingannya. Hikari dapat mengaktifkan mata klan Uchiha itu saat masih berumur 6 tahun. Suatu poin yang patut dipertimbangkan.

Pertandingan berjalan dengan seru. Kemampuan mereka berdua seimbang, jika yang satu terpukul, dengan cepat yang satunya lagi membalas pukulan. Akan tetapi, karena Hikari terlalu memaksakan diri serta masih belum bisa memakai sharingannya dengan efektif, Hikari pun kecapekan dan tendangan akhir Kakashi mampu merobohkannya.

Hikari Uchiha kalah dan gagal dalam ujian chunin saat itu. Sedangkan, Kakashi berhasil dan lulus yang otomatis menjadikannya chunin pada umur 6 tahun! Gadis itu terpaksa harus mengambil ujian ulang tahun depan dan dia naik ke level chunin pada umur 7 tahun.


Setahun kemudian…

"Heh!" Hikari menghalangi jalan Kakashi.

Kakashi menghela nafas panjang di balik maskernya. Mau apa lagi gadis gak jelas ini?

"Ayo bertarung lagi!"

Kakashi tidak menjawab.

"Paling tidak kau mau meninggalkan kesan sebelum aku pergi lagi…"

Perasaan Kakashi tergerak. Pergi? Apa dia akan meninggalkan Konoha lagi?

"Bagaimana? Aku tunggu di lapangan bertanding…"

Kakashi masih diam. Sebenarnya dia ingin sekali bertanya, kemana gadis itu akan pergi?

"Baiklah…aku tahu kau pasti menerimanya. Nanti siang, di lapangan bertanding! Sampai jumpa…" gadis itu berbalik dan melangkah pergi.

Kakashi kembali menghela nafas panjang. Jika gadis itu pergi, tentu tidak ada lagi yang mengganggunya. Akan tetapi, di dalam lubuk hati yang terdalam, Kakashi juga tidak ingin gadis itu pergi.

To be continued