Thanks buat review yang sudah masuk. Itu merupakan suatu semangat tersendiri untuk meneruskan cerita ini. Ok, happy reading guys. Chapter ini merupakan yang terpanjang sejauh ini.
Silver Light
Chapter 5. The Secret
-Kakashi's POV-
Sadar, sadarlah Kakashi…mengapa kau harus merasa sedih jika gadis pengganggu itu pergi? Bukankah hari-harimu akan menjadi lebih tentram dari ocehan-ocehannya? Hah…sudahlah! Aku tidak ingin memikirkannya lagi. Lebih baik, aku bersiap-siap untuk nanti siang. Aku tidak bisa meremehkan gadis itu, kemampuannya setara denganku.
Tunggu dulu, tapi kenapa dari tadi perasaanku tidak enak ya? Detak jantungku terasa lebih cepat dari biasanya. Agh! Aku tidak suka perasaan ini. Hah, tenanglah Kakashi…tapi sebenarnya apa yang terjadi?
Setibanya di lapangan bertanding, aku tidak melihat gadis itu. Namun aku tetap menunggunya seperti orang bodoh. Apakah dia lupa? Atau…dia hanya mengerjaiku? Dan…kenapa aku mau saja dibuatnya menunggu? Ditambah lagi, perasaan yang sangat mengganggu ini masih saja membebaniku.
Aku masih menunggu. Aku tidak tahu, berapa jam aku habiskan hanya untuk menunggu gadis yang sudah seperti musuh bebuyutanku itu. Aku benar-benar semakin membencinya sekarang. Sudah kuduga, dia mengerjaiku! Hah…aku pun kenapa bisa seperti orang bodoh begini? Mau saja menunggunya berjam-jam. Sudahlah, aku pulang saja sekarang.
Di rumah, setahuku ayah baru saja pulang dari misi pagi ini. Apakah dia dipanggil lagi untuk misi sehingga belum pulang juga? Padahal, aku sudah menyiapkan makan malam. Oh? Tiba-tiba aku mendengar suara pintu depan dibuka.
"Kakashi!"
Ayah? Aku segera mendatangi ayah. Ayah tidak sendiri, ada tante Sora dan…satu pria yang tak kukenal.
"Kakashi, aku Yagami Uchiha, ayah Hikari," pria itu memperkenalkan diri. Kenapa kedua orang tua Hikari datang ke sini?
Aku juga melihat air muka mereka menunjukkan kecemasan. Apa yang terjadi?
"Kakashi, kami butuh bantuanmu…Hikari menghilang! Dugaan kami, dia diculik oleh shinobi Konoha yang berusaha membelot.
Apa? Gadis itu bisa diculik semudah itu?
"Lalu…apa yang kalian harapkan dariku?"
"Kakashi, apa kau tidak bisa merasakannya?" tante Sora meletakkan kedua tangannya di bahuku.
Apa? Apa yang sebenarnya mereka harapkan dariku? Tunggu dulu, jangan-jangan perasaan tidak enak ini…yang membebaniku sejak tadi siang…
"Sakumo, sepertinya ini saatnya bagi Kakashi untuk mengetahuinya…" tante Sora melihat ke ayah. Dia menangis…?
Apa yang sebenarnya mereka rahasiakan?
-Third person's POV-
Anak laki-laki berambut perak itu menenggelamkan wajahnya ke kedua lengannya di atas meja. Dia berbohong. Dia masih tidak percaya hal itu, dia pun berbohong kepada ayah dan kedua orang tua Hikari. Dia berbohong bahwa dia tidak merasakan apa-apa. Sekarang, dirinya merasa sangat bersalah…hatinya merasa semakin tidak enak. Dia pun merasa nafasnya sesak, hal itu benar…tetapi Kakashi berbohong.
Sekarang…apa yang harus dilakukannya. Kakashi sungguh tidak tahu. Di umurnya yang masih sangat muda, masalah itu sungguh sangat tidak cocok untuk dibebankan kepadanya.
"Pantas saja…sejak pertama kali bertemu dengannya…agh…" Kakashi mengacak-acak rambutnya.
"Aku…"
Di sebuah gubuk di daerah yang sangat tersembunyi, perbatasan luar desa Konoha…
"Ternyata mudah sekali untuk menangkapnya…"
"Kerja bagus, Goro! Dengan begini, kita bisa membangkitkan sang iblis yang telah tertidur ratusan tahun…"
Hikari diikat di sebuah tiang, tubuhnya dipenuhi luka-luka bekas pertarungan. Dia kalah melawan shinobi-shinobi pembelot itu.
"Tujuan kalian tidak akan tercapai! Hanya aku yang bisa menggunakan kemampuan itu dan kalian tak akan bisa menyuruhku...agh!" gadis itu ditampar oleh seorang shinobi berwajah galak dan berambut hijau tua.
Gadis itu tak bisa menahan sakit yang dideritanya. Dia pun hanya bisa menangis saat itu, dan…entah mengapa satu-satunya nama yang terlintas di pikirannya adalah…
"Kakashi, tolong aku…" isaknya.
"Hah! Apa yang anak itu bisa lakukan? Haha! Kalian hanyalah bocah ingusan yang tidak sebanding dengan shinobi tingkat Jounin seperti kami!"
"Diam kalian! Kakashi akan datang dan menghajar kalian! Tunggu saja!"
"Masih bisa bicara rupanya?"
"Hei, Yonro, sudahlah! Jika kau pukul lagi bisa-bisa dia mati…"
Hikari menatap galak 4 shinobi pembelot di depannya. Gadis itu bahkan tidak percaya, mengapa nama Kakashi, anak laki-laki yang (mungkin) dibencinya yang terlintas di pikirannya pada saat itu.
Kakashi berlari melewati hutan-hutan, dia tidak tahu mengapa dia mau saja melakukan hal itu sendirian. Ada sesuatu yang menuntunnya untuk datang ke suatu tempat. Tempat yang kemungkinan Hikari berada.
"Tunggu aku…" gumamnya.
Kakashi bergerak menurut cahaya yang hanya bisa dilihat olehnya. Ya, cahaya…
"Kemana Raigoh? Hanya dia yang bisa menyerap kemampuan shinobi lain dengan sempurna. Jika tidak cepat, aku ragu gadis ini akan ditemukan…"
"Aku di sini…"
Keempat shinobi pembelot itu mengadahkan kepalanya ke atas. Raigoh, sudah berdiri di langit-langit gua.
"Jadi ini, gadis Uchiha yang memiliki kemampuan unik itu…"
"Ya, cepatlah serap, Raigoh! Jangan sampai para shinobi menemukannya!"
Hikari mengangkat kepalanya dengan susah payah. Dilihatnya Raigoh sudah berada tepat di depannya. Gadis itu ketakutan, Raigoh tinggi besar, matanya berwarna merah, menatap gadis tak berdaya itu dengan tatapan yang mengerikan.
"Konoha bodoh, jika gadis ini sangat berharga, mengapa dibiarkan begitu saja. Kerja bagus, Goro. Tak sia-sia kau berhasil mengetahui rahasia besar Konoha yang satu ini…"
"Sudah, cukup basa-basinya! Serap saja kekuatan gadis itu…ugh!" shinobi itu dicekik oleh Raigoh. Tubuhnya sampai terangkat dari tanah.
"Di sini aku yang berkuasa. Jadi, diam saja kau!"
"Ba…baik! Maafkan aku!"
Raigoh kembali mengalihkan perhatiannya ke Hikari. Diulurkannya tangannya ke kepala gadis itu, dia siap untuk menyerap kemampuan yang sangat langka. Tiba-tiba saja tubuhnya tersentak. Dia merasakan ada yang mendekat ke tempat itu.
"Hmm…ada yang menemukan kita…" gerutunya.
Hikari merasakan hatinya lega. Perasaan yang muncul jika dia berada dekat dengan seseorang. Kakashi, serunya dalam hati.
Tiba-tiba…
Sebuah kunai dengan kertas peledak meluncur ke ruangan itu.
"Awas!"
Ledakan pun terjadi, gubuk itu roboh seketika.
"Aku di sini…"
Hikari membuka matanya, dirinya ternyata sudah terlepas dari ikatan dan kini berada di rangkulan Kakashi.
"Dasar, menyusahkan saja!" gerutu Kakashi.
"Apa?"
"Shhh, nanti ketahuan…"
Kakashi dan Hikari bersembunyi di lubang yang sudah di buat oleh Kakashi.
-Kakashi's POV-
Aku menemukannya, Hikari Uchiha. Dan entah mengapa, perasaan tak enak itu kini hilang. Gadis itu kini ada di dekatku dan entah mengapa aku merasakan aliran cakraku menguat.
"Kau sendiri?"
"Ya…"
"Dasar bodoh! Kau pikir kau bisa mengalahkan mereka sendirian?" omel Hikari.
"Heh, bisa diam tidak? Paling tidak ucapkan terima kasih…"
Gadis ini, masih saja menyebalkan. Darimana dia mendapatkan kekuatan? Dengan luka-luka di tubuhnya, aku yakin dia pasti kehabisan tenaga. Tetapi sekarang, dia terlihat segar bugar. Sama…sama sepertiku. Apakah…karena hal itu?
"Kau bisa bertarung?"
"Tentu saja, tenagaku sudah pulih…Ngomong-ngomong, kau sudah tahu?"
"Ya..ya…aku…"Kakashi tidak menyelesaikan kalimatnya. Tempat persembunyian mereka telah diketahui musuh.
"Lari!"
Lubang itu pun meledak. Akan tetapi, kedua bocah itu telah keluar dari sana sebelumnya.
Hikari mengaktifkan sharingannya, dia bisa melihat pergerakan musuh dan itu akan memudahkannya untuk menghindari serangan-serangan yang akan diluncurkan oleh musuh.
"Sebaiknya, kita lari saja! Ayo!" seru Hikari.
Namun Kakashi masih berdiri di tempat, matanya menatap lurus ke depan.
"Hey! Apa kau mendengarku? Ayo kita pergi dan panggil bantuan!"
"Aku tidak akan lari! Akan kukalahkan mereka!" seru Kakashi.
"Apa-apaan kau ini? Kita bukan tandingan mereka!" Hikari menarik tangan Kakashi namun anak laki-laki itu kokoh bediri di tempatnya. "Mereka datang!"
Sejumlah shuriken meluncur ke arah mereka. Kakashi dan Hikari berpencar untuk meghindari serangan musuh.
"Sialan, tak ada jalan lain…" gerutu Hikari. Dia pun membuat segel tangan.
"Elemen api! Goukakyuu No Jutsu!"
Serangan api itu diarahkannya ke atas.
Kakashi maju kemudian melempar kunai-kunainya ke 2 musuh yang menyerangnya, namun mereka dapat menangkis serangannya dengan mudah.
"Aku sudah member sinyal, semoga bantuan segera datang…" bisik Hikari.
"Kalau begitu, kita harus menahan musuh di sini…"
"Ya, jangan jauh-jauh dariku! Aku akan menjadi matamu…"
Kakashi mengangguk. Dia tak menyangka bisa sekompak ini dengan Hikari di saat-saat seperti itu.
"Itu pasti Hikari! Semuanya, bergerak ke arah timur! Hikari ada di sana!" seru Sakumo. Kakashi, aku tahu kamu pasti datang sendirian, dasar anak bodoh…
Sakumo pun memimpin squadnya untuk misi penyelamatan itu.
"Berani juga putramu itu…namun mengapa dia harus berbohong," ujar Yagami.
"Hmph, aku harus mengajarinya nanti saat pulang,"
"Kakashi! Arah jam 10 dan 12!"
Hikari memandu Kakashi ke mana dia harus menyerang dan memfokuskan serangannya.
"Kemana si Raigoh itu…dari tadi dia tak menampakkan diri…" gumam Hikari.
"Yang bermata merah itu?"
Hikari mengangguk. Tiba-tiba dia merasakan aliran cakra yang mengerikan dari bawah tanah.
"Di bawah!"
Kakashi dan Hikari melompat pergi dari tempat mereka sebelum Raigoh muncul dari dalam tanah untuk menangkap mereka.
"Hmph, sharingan sangat merepotkan…" Raigoh mematah-matahkan jari-jarinya.
Dan sekarang, Kakashi dan Hikari telah dikepung oleh lima shinobi pembelot level Jounin.
"Hmm, tak kusangka akan mengalami hari ini…" Kakashi memunculkan dua bunshin.
Hikari pun memunculkan dua bunshinnya. Dia tahu ini akan menghabiskan cakranya lebih cepat, ditambah sharingannya yang aktif. Namun, dia harus bisa bertahan sebelum bantuan datang.
"Ayo…kita mulai!"
Dua bunshin Hikari maju menyerang dua shinobi lain dan begitu juga dengan bunshin milik Kakashi. Sedangkan wujud asli mereka menyerang Raigoh.
"Dasar bocah ingusan! Kalian pikir bisa melawanku?" Raigoh membuat segel tangan kemudian mengeluarkan jurus elemen tanahnya. Tanah yang mereka injak pun rubuh ke tanah, namun Hikari sudah memprediksi serangan itu dan memberitahukannya kepada Kakashi, mereka pun menghindar dan melompat tinggi ke udara.
Kakashi kembali membuat 2 bunshin dan menyerang Raigoh dengan shuriken-shuriken.
"Haha! Itu tak akan bisa mengenaiku!" Raigoh menangkis shuriken-shuriken yang meluncur ke arahnya, namun…dia tidak tahu ada 1 kunai yang bergabung di sana. Kunai yang dilempar Hikari dan telah ditempelkan kertas peledak.
"Apa?"
Raigoh pun masuk ke dalam jebakan. Kertas itu meledak dan membuatnya terlempar ke belakang.
"Yeah!" Hikari mengepalkan tangannya.
"Raigoh!" Empat Jounin pembelot itu masih melawan bunshin-bunshin Kakashi dan Hikari.
Mereka tidak tahu, bunshin itu ternyata…
"Apa?"
Saat mereka menyentuh bunshin, mereka terkurung oleh aliran cakra perak.
"Wah, tak ada ruginya kita diajarkan jurus itu oleh ayahku…" Kakashi tersenyum di balik maskernya.
"Ya…aku akan berterima kasih pada ayahmu setelah ini! Hmm? Awas!"
Tanah yang mereka injak kembali roboh. Raigoh sudah habis kesabarannya.
Kakashi dan Hikari mendarat di atas batang pohon.
"Kita membuatnya mengamuk, ini sungguh tidak bagus…" Hikari kembali membuat segel tangan. "Goukakyu No Jutsu!"
Raigoh menghindar dari semburan api Hikari kemudian meluncurkan serangan balasan ke gadis itu. Gadis itu segera melompat pergi untuk menghindari tinjuan Raigoh yang dapat merobohkan pohon yang tadi ditempatinya.
"Itu berbahaya sekali!" Hikari berusaha menghindar dari serangan-serangan Raigoh yang terus mengincarnya. Sampai Hikari tersudut dan tinjuan Raigoh siap mendarat di perutnya.
"Ukh!" Hikari sempat menendang Raigoh agar menjauh darinya sebelum akhirnya jatuh.
"Hikari!" Kakashi melemparkan kunai-kunai yang ditempelkan kertas peledak ke Raigoh sebelum datang menolong Hikari.
"Hei, kau tidak apa-apa?"
"Ugh…sakit sekali…" gadis itu merintih kesakitan.
"Jangan khawatir, aku tak akan membiarkan dia menyentuhmu lagi! Kau bisa berdiri?"
Hikari mengangguk. Saat Kakashi menyentuhnya, seakan-akan aliran cakranya kembali pulih. Sakitnya pun berkurang dengan cepat.
"Kalian bocah-bocah membuatku marah! Kalian akan mati di sini sekarang juga!"
Raigoh pun mengeluarkan jurus pamungkasnya. Tanah tempat mereka berpijak dibuatnya hancur berantakan, ada yang menyembul naik dan ada yang tenggelam.
"Gyaa!"
Kakashi dan Hikari tidak mendapatkan tempat berpijak lagi. Dan saat mereka kira akan terjatuh dalam jurang…
"Kalian tak apa-apa?"
Seekor burung elang raksasa menolong mereka.
"Tuan Karoo!" seru Kakashi. "Ayahku di sini!"
Ya, Sakumo Hatake dan squadnya telah tiba.
"Para pembelot, kalian akan merasakan akibat karena telah mencoba untuk membelot…!" seru Sakumo.
"Dan…karena telah berani macam-macam dengan anak kami…" tambah Yagami.
"Ayah! Paman Sakumo! Kalian keren!" seru Hikari tanpa beban.
Raigoh dihabisi dengan mudah oleh Sakumo dan yang lain. Mereka tidak perlu melawan yang lain karena telah terkurung di perisai cakra ciptaan Kakashi dan Hikari.
Hikari pun segera diobati oleh ninja medis yang tergabung dalam squad Sakumo.
"Kakashi, tidak kusangka kamu senekad ini, nak…" Sakumo meletakkan tangannya di bahu Kakashi.
"Ayah…"
"Lain kali, jangan bertindak sendirian, mengerti?"
Kakashi mengangguk. Sakumo kemudian mengacak-acak rambut anaknya.
"Kamu tidak dapat memungkiri ikatan itu kan…"
Kakashi mengangkat kepalanya kemudian dialihkannya pandangannya ke Hikari yang sedang diobati.
"Ikatan…"
Keesokan paginya…
Kebun bunga di rumah Hikari…
"Ehem! Kakashi…"
Kakashi menoleh ke gadis itu. Tubuhnya dibalut perban di sana sini. "Kau terlihat seperti mumi!"
"Apa katamu?"
"Hey, hey! Aku belum mendengar kau mengatakan terima kasih…"
Hikari menyilangkan lengannya. "Hmm…"
"Huh! Sepertinya…susah untukmu untuk berterima kasih. Tidak ada sopan santun…"
"Enak saja kau mengataiku! Aku hanya sedang berpikir,"
"Apa yang kau pikirkan…"
Hikari akhirnya tersenyum kepada Kakashi untuk pertama kalinya. "Ikatan itu memang ada, jika tidak…kau pasti tidak mungkin mengetahui keberadaanku…"
Mata Kakashi melebar, gadis itu…tersenyum padanya?
"Hikari, bisakah kau menceritakan semuanya? Yang kuketahui hanyalah…" Kakashi mengaruk-garuk kepalanya. "Bahwa…kita telah terikat sejak lahir…"
Desa Konoha, delapan tahun yang lalu…
Nanase dan Sora sama-sama akan melahirkan hari itu. Mereka sekarang berbaring di ranjang yang berdampingan di rumah sakit Konoha. Dua wanita ini selalu bersama, bahkan…saat akan melahirkan…
Sora lah yang pertama berhasil melahirkan seorang bayi perempuan yang sehat. Beberapa menit kemudian, Nanase menyusul. Ya, Nanase melahirkan seorang bayi laki-laki. Akan tetapi, kondisi bayi laki-laki Nanase sangat lemah. Bayi laki-laki itu harus segera mendapatkan pertolongan medis.
"Sora…"
"Ya, Nanase?"
"Selamat, bayimu sehat…"
"Terima kasih, Nanase. Aku yakin bayimu akan baik-baik saja…"
Nanase mengangguk lemah.
Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, Nanase dan bayi laki-lakinya pun diperbolehkan pulang. Pada hari itu juga, Sora datang berkunjung ke rumah Nanase.
"Ah, Sakumo! Bagaimana keadaan Nanase dan bayinya?"
"Sudah jauh lebih baik, terima kasih atas kunjungannya, masuklah…Nanase ada di ruang tamu…"
Sora yang menggendong bayi perempuannya berjalan masuk ke dalam. Di bukanya pintu geser ruang tamu. Di dalam, dilihatnya Nanase sedang menyusui bayi laki-lakinya.
"Sora!"
"Hai…bagaimana kabarmu?"
Nanase tersenyum. Ditunjukkannya sang bayi.
"Ah…bayi laki-laki yang sangat tampan! Lihatlah dia, wajahnya mirip denganmu, Nanase! Sedangkan rambutnya didapat dari ayahnya, haha…sungguh perpaduan yang sempurna," puji Sora.
"Terima kasih…"
"Siapa namanya?"
"Kakashi Hatake…" Nanase kemudian melihat bayi perempuan di gendongan Sora.
"Haha, giliranku. Bayi yang cantik, ah? Dia bangun! Matanya sama denganmu…siapa namanya?"
Sora menatap bayinya. "Dia bagaikan cahaya bagi kami…jadi kami memberinya nama Hikari Uchiha,"
Nanase kemudian teringat akan sesuatu. Sesuatu yang terjadi setelah Hikari dibawa ke ruang perawatan menyusul Kakashi.
"Perawat-perawat bilang, tangan Hikari terus berusaha menggapai Kakashi…"
"Apa?"
"Ya…Hikari tidak menangis. Namun tangannya terus berusaha menggapai ke tempat di mana Kakashi berada. Memang…sulit dipercaya, namun…saat perawat yang menggendong Hikari mendekatkannya ke Kakashi yang kondisinya sangat lemah, tangan Hikari segera menyetuh kepala Kakashi dan…"
"Dan?"
"Kondisi Kakashi membaik dengan cepat…"
Sora mengernyit. Dirinya sama sekali tidak tahu akan kejadian itu.
"Haha, aku tidak percaya mengatakan ini, tapi...Setujukah kamu jika Kakashi dan Hikari ditunangkan?"
"Kau tahu? Aku sama sekali tidak terima saat mengetahuinya…" Kakashi menghela nafasnya.
"Eh! Kau kira aku terima? Benar-benar…aku tidak tahu apa yang dipikirkan ibu kita saat itu, kalau dipikir-pikir kita impas…"
Kakashi mengernyit. Impas?
"Iya…dulu aku memberimu energi kehidupan, sekarang kau membalasnya dengan menyelamatkanku. Jadi, impas kan?"
"Energi kehidupan? Jadi…"
Hikari mengadahkan kepalanya. "Hmm, ya…aku mewarisi kemampuan yang sangat langka dari generasiku. Karena itulah aku sangat diincar…"
Kakashi terdiam, dia ingin mendengar lebih lanjut. Entah mengapa, tiba-tiba saja dia merasa peduli.
"Resurrection, itulah kemampuanku…"
"Kau…bisa menghidupkan orang mati?"
"Tepatnya, makhluk hidup…" Hikari membungkuk dan memungut setangkai bunga mawar yang sudah layu di dekatnya. "Lihat…" dan perlahan-lahan bunga mawar itu segar kembali dan menjadi bunga mawar merah yang cantik.
Kakashi sangat terkesan dengan apa yang dilakukan gadis itu.
"Mungkin ada shinobi yang bisa menciptakan jurus yang seperti ini, akan tetapi…itu beresiko akan nyawa mereka. Sedangkan, aku hanya perlu mengaliri cakraku, bukan energi kehidupanku,"
"Lalu…yang kau berikan padaku?"
"Mana kutahu! Aku kan belum tahu apa-apa saat itu. Namun dipercaya…sebagian energi kehidupanku telah dialirkan ke dalam dirimu…"
Kakashi sungguh tidak menyangka atas apa yang diketahuinya. Fakta mengenai dirinya dan gadis yang selama ini dibencinya merupakan hal yang harus diterimanya.
"Cakraku, bisa memberi kehidupan. Oh, ya…apa kau merasa jika berada dekat denganku maka kau akan menjadi lebih kuat?"
Kakashi teringat. Ya, apa yang Hikari tanyakan benar…bukan hanya menjadi lebih kuat, namun ada perasaan lain yang masih belum diketahuinya sampai saat itu. Kakashi mengangguk sebagai jawaban.
"Ya…aku juga merasa seperti itu. Itu karena…ikatan tadi. Yah…aku tidak percaya mengatakan ini, akan tetapi…kita sepertinya…ehem," Hikari tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Entah mengapa kata-kata itu sulit untuk keluar.
"Ditakdirkan untuk bersama?"
Hikari terkejut. Kakashi mengatakan kata-kata itu seperti tanpa beban. Namun tak lama Kakashi tertawa.
"Apa yang lucu?"
"Konyol! Aku tak mau bersama denganmu…"
"Heh! Kau pikir aku mau?"
Dan, walaupun hati mereka sudah tergerak namun mereka tak pernah menunjukkan sikap bersahabat terhadap satu sama lain sampai saat itu juga.
to be continued
Next! Kehidupan Kakashi bergabung di Tim Minato!
