Relationship

Disclaimer:

Final Fantasy series © SQUARE-ENIX

Crescent's Diary © Roanolic


Di dalam rumah Lucrecia, Sephiroth memasuki rumah, tentunya dengan kondisi basah kuyup karena kehujanan. Tetesan air dari pakaiannya jatuh ke lantai satu per satu dengan kecepatan 0,5 milidetik. Setelah Lucrecia menaruh payungnya, dia langsung mengambil handuk dari kamar mandi dan menyerahkannya pada remaja yang kehujanan itu.

"Ini."

"...?"

"Nanti kau masuk angin, cepat pakai."

"I-iya...". Sephiroth langsung menggunakan handuk itu.

.

Setengah jam kemudian...

.

Sephiroth duduk di sofa dengan memakai baju ganti yang diberikan dari Lucrecia. Tak lama kemudian Lucrecia muncul sambil membawa nampan yang terdiri dari sebuah poci dan dua cangkir teh lalu menaruhnya di atas meja.

"Silahkan..."

Sephiroth mengangguk dan meminum tehnya. Kemudian Lucrecia duduk di sofa.

"A-anu...Lucrecia-san..."

"Apa?"

"Kenapa...kau...peduli...padaku...?"

Lucrecia menghela napas kecil.

"Itu karena pada saat aku bertemu denganmu, kau terlihat kebingungan. Terutama pada saat setelah kau mengalahkan pria tadi, kau tampak lebih bingung. Tapi pada saat kau bertemu denganku, raut wajahmu biasa saja. Lagipula...kau tadi kehujanan...maka itulah alasannya.".

Sephiroth menunduk dan terdiam setelah mendengar itu.

"Sebenarnya..."

"Kenapa?" Tanya Lucrecia.

"...aku ini...bukan..." Tiba-tiba Sephiroth mengigit bibirnya. Remaja yang kira-kira berusia 15-16 tahun itu bergetar.

"Kenapa? Kau bisa mengatakanya kepadaku kalau kau mau..." Lucrecia heran.

'Apakah dia masuk angin?' Batinnya. Akhirnya setelah sekitar 3 menitan, badan Sephiroth berhenti bergetar.

"...aku ini bukan...manusia biasa..."

Lucrecia tidak terkejut karena dia sering mendengar kalimat 'bukan manusia biasa' di kantornya. Tapi dia tidak mengerti maksud dari Sephiroth itu apa.

"Apa aku...manusi-" Pembicaraan Sephiroth dipotong dengan lembut oleh Lucrecia dengan meletakkan telapak tangannya di bibir Sephiroth. Mata Sephiroth terbuka lebar karena terkejut, apalagi sekarang matanya tertuju pada Lucrecia.

"Hei, kau adalah kau. Kau hanya perlu menjadi diri sendiri saja." Kata Lucrecia sambil mengeluarkan senyuman tulus. Dia melepaskan telapak tangannya dari bibir remaja itu secara perlahan. Sesaat setelah itu, mata sang remaja berambut silver itu mengeluarkan air mata.

"Eh...?"

Lalu dia melihat kedua tangannya sendiri. Raut wajahnya terlihat seperti kebingungan, sekaligus memperlihatkan keharuan. Air mata yang keluar bertambah banyak, meski satu per satu.

"Ke-kenapa...? Kenapa...aku...menangis...? Kenapa...? Hiks..." Dia akhirnya menangis sesunggukan. Lucrecia lalu memegangi pundak Sephiroth yang sedang menangis.

.

138 hari kemudian...

.

Di kantor penelitian, para peneliti (termasuk Lucrecia, tentunya) sedang mengadakan rapat serius yang dipimpin langsung oleh Hollander. Tema rapat kali ini adalah spesimen batu kristal yang diteliti oleh Lucrecia. Lucrecia mengemukakan pendapat bahwa batu kristal ini bisa menghambat atau mencegah suatu transformasi. Hollander dan yang lain berpendapat demikian. Setelah beberapa lama, akhirnya diputuskan batu kristal itu diberi nama Protomateria.

.

Di ruangan Lucrecia...

.

"Lucrecia-san, akhir-akhir ini Anda terlihat bingung, apa ada sesuatu?"

"Ini...aku berencana memberikan hadiah untuk putra angkatku..."

"Apa anda sudah mendapatkan gambaran?"

"Sudah, tapi aku tidak tahu apa yang cocok untuknya..." jawab Lucrecia dengan mendesah.

'Apa harus kutunda dulu ya...hadiah ini...?' Batinnya.

Dia melihat jam, sudah pukul 4 sore... Kemudian dia membereskan dokumen-dokumennya dan bersiap untuk pulang. Sesaat setelah dia berpamitan pada Karen dan Hollander, dia bertemu Vincent.

"Oh, Vincent. Kau belum pulang?"

"Umm...Lucrecia-san. Besok penelitian Protomateria akan dilanjutkan dengan rapat mengenai Phantom. Saya cuma mengabarkan berita ini saja."

"Oh..." Lucrecia menunduk. Selama ini Lucrecia berusaha untuk mendekati Vincent, namun menurutnya pria itu masih melihat status di antara mereka.

Antara peneliti dan asisten.

"Vincent...jika kau ada masalah kau bisa membicarakannya bersamaku...sudah dulu ya."

Lucrecia langsung keluar kantor dan menuju rumahnya. Sementara Vincent hanya tertunduk diam.

'Ada apa dengannya?' Batin Vincent.


Sementara itu di suatu lapangan dekat rumah Lucrecia, tiga orang remaja sedang bersantai. Salah satunya remaja yang berambut merah yang sedang membaca buku kumpulan puisi yang berjudul "Loveless".

"Hey, kalian berdua. Apa kalian sudah selesai latihannya?" Sapa Angeal, si remaja bertubuh kekar yang juga memiliki rambut pendek bewarna hitam.

"Sebenarnya kami berdua sudah melakukan duel kecil-kecilan sejak tadi. Benar 'kan Sephiroth?" Kata Genesis, si remaja berambut merah.

"Benar." Jawab Sephiroth.

Sephiroth dan Genesis memang berencana menjadi petarung handal, jadi mereka 'berguru' pada Angeal yang bisa di bilang sudah jago. Angeal memang agak lebih tua dibanding mereka berdua, jadi mereka menganggap Angeal sudah seperti seorang kakak yang tegas, namun baik.

"Genesis, dari tadi kamu membaca buku itu terus, ya?"

"Yang benar saja! Aku akan menutup buku ini kalau aku ingin latihan..." jawab Genesis dengan agak cemberut.

"Hei-hei, aku hanya bercanda. Jangan cemberut, dong." Angeal menahan tawa.

Hubungan di antara mereka adalah persahabatan. Setiap hari, mereka bertiga pergi ke lapangan untuk berlatih, Angeal yang melatih Sephiroth dan Genesis. Tidak jarang Angeal atau Sephiroth mengingatkan Genesis untuk meninggalkan buku favoritnya untuk berlatih bersama. Meskipun begitu, mereka bertiga kompak.

"Wah, sudah sore nih. Kita harus segera pulang."

Ketiga remaja itu mengangguk. Sesaat kemudian, tiga sahabat itu saling berpamitan untuk pulang.


Sambil menyusuri jalan menuju rumah, Lucrecia termenung karena sedang memikirkan perasaannya terhadap Vincent Valentine. Dia tahu kalau Vincent menyukainya sejak mereka sering bekerja bersama-sama, tapi kenapa Vincent seolah-olah cuek terhadapnya, itulah yang dipikirkan oleh Lucrecia.

"Ibu...!"

Tiba-tiba pikiran Lucrecia tentang Vincent menjadi runyam karena terkejut saat Sephiroth memanggilnya dan menghampirinya.

"Oh, Sephiroth. Kau melakukan apa saja hari ini?" Tanya Lucrecia dengan tersenyum.

"Aku, Angeal dan Genesis berlatih pedang hari ini."

"Begitu ya...kau tidak apa-apa?"

"Tidak apa-apa, kok. 'Kan cuma latihan..."

Sesampainya di rumah, Lucrecia duduk di sofa. Semetara Sephiroth, sepertinya dia ingin membicarakan sesuatu...

"Umm...Ibu..."

Lucrecia menoleh ke arah wajah anak angkatnya. "Ada apa?"

"Ibu tahu tentang Coloseum di kota seberang?"

"Ya, Ibu tahu."

"Sebenarnya...aku ingin sekali menjadi kontestan di sana. Aku ingin menjadi kuat! Seperti pahlawan Coloseum yang menang berturut-turut itu!"

Lucrecia terkejut terhadap impian putranya yang ingin menjadi seorang pahlawan.

"Tapi, Sayang. Bukankah berbahaya jika seandainya kau berhadapan dengan musuh yang lebih kuat darimu?"

"Untuk itulah aku berlatih, Bu."

Lucrecia hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum.

"Lho? Nggak boleh ya...?" Tanya Sephiroth sambil berharap-harap cemas.

"Ibu hanya menghawatirkanmu saja, sayang. Tentu saja boleh. Tapi, kau harus menjaga dirimu baik-baik, ya." Jawab Lucrecia sambil mengelus-elus kepala Sephiroth. Si remaja berambut perak mengangguk.

Semenjak Sephiroth menjadi anak Lucrecia, dia seolah melupakan kalau dirinya adalah Phantom. Memang, dia tidak mengatakan kepada Lucrecia kalau dirinya Phantom. Dia takut kalau dia mengatakan yang sebenarnya, hubungannya terhadap ibunya akan retak. Maka dari itu, dia merahasiakan hal itu dan berusaha agar dia bisa memiliki emosi dan menjalani kehidupan sebagai manusia. Sekaligus menjaga hubungannya antara anak dengan ibu.

.

Malam harinya...

.

Sephiroth berada di suatu tempat yang rasanya familiar baginya. Sesaat kemudian, dia melihat seorang remaja yang sebaya dengannya. Remaja itu berambut jabrik dan bewarna pirang, menoleh ke arah Sephiroth dengan pandangan heran, lalu berlari ke suatu arah. Sephiroth merasa kenal dengan anak itu, tapi dia tidak tahu namanya. Jadi, dia memutuskan untuk mengejar anak itu.

"Tunggu!"

Tiba-tiba pandangan Sephiroth menjadi buram gara-gara kabut yang menghalangi pandangannya...

.

.

.

.

.

"Hah...!" Tiba-tiba Sephiroth membuka matanya. Dia sudah berada di kamarnya...

"Ternyata...mimpi..."


A/N: Hehehe, bagaimana menurut kalian tentang kelanjutan ceritanya? ^^

Oiya, terima kasih buat yang udah mengoreksi chapter yang lalu, masukan kalian bagus sekali...

Untuk Kentona-kun: Makasih buat review-nya, tapi kenapa kamu miris? ^^

Untuk para pembaca, jangan lupa review, ya! v(^0^)v