My Dream
Disclaimer:
Final Fantasy © SQUARE-ENIX
Crescent's Diary © RoalicARIA
A/N: Ahh...setelah beberapa minggu absen gara-gara sakit, sekarang aku kembali lagi dengan cerita yang moga-moga masih fresh di otak :P . Semoga aku nggak akan stuck di fic ini.
Warning: Seiring jalannya cerita genre bisa sewaktu-waktu berubah. Agak2 OOC, AU juga.
Hope you enjoy, and don't forget to review! v(^^)v
Di suatu tempat yang misterius, namun terkesan familiar, Sephiroth menghampiri seorang remaja laki-laki berambut pirang dan jabrik. Dia merasa mengenalnya namun tidak tahu namanya, jadi dia memutuskan untuk bertanya.
"Siapa kau...?"
Anak di depannya tidak menjawab, matanya yang bewarna biru langit itu menatap Sephiroth dengan kebingungan. Kemudian anak itu mengigil.
"Kenapa? Kau kedinginan?" Sephiroth semakin heran dengan anak yang sebaya di depannya. Tak lama kemudian kepalanya merasa sakit. Dia berusaha bertahan, namun rasa sakitnya semakin menjadi. Tiba-tiba dia melihat sekelompok tentara yang membawa senjata tajam berlari ke arahnya. Lalu dia berpaling ke anak berambut jabrik tadi.
Wajah anak itu ketakutan sekali, sampai-sampai dia berlari menuju rumahnya. Kepala Sephiroth masih sakit, namun dia berusaha untuk lari juga. Tapi apa daya, dia tersandung batu dan sakit kepalanya semakin menjadi. Anak tadi juga ketakutan melihat serbuan tentara. Tiba-tiba...
"UWAAAAAAAAAAAA~!" Mereka berteriak bersamaan...
"Sephiroth!"
Akhirnya dia terbangun dari mimpi buruknya berkat Lucrecia yang membangunkannya. Dia menoleh ke arah ibunya.
"I-Ibu..."
"Ada apa, kau bermimpi buruk?" tanya Lucrecia.
"Uhh...begitulah..." jawab Sephiroth. Dia memegangi kepalanya. Kepalanya tidak merasa sakit...
Sephiroth berjalan menuju lapangan tempat dia biasanya 'nongkrong' bersama Genesis dan Angeal, dengan raut wajah murung. Tak lama, dia disapa oleh kedua temannya.
"Hei, kau kenapa? 'Kok di hari Minggu pagi nan cerah ini kau malah murung?" tanya Genesis dengan nada setengah bercanda.
"..." Sephiroth tidak menjawab.
"Katakan saja, Sephy. Kami nggak akan marah, memengnya kenapa?" tanya Angeal dengan menggunakan nama akrab "Sephy".
Akhirnya setelah beberapa saat Sephiroth membuka mulutnya.
"...semalam aku mimpi buruk..."
"Heh? Mimpi apa? Kamu mimpi apa?" wajah Genesis menjadi sumringah* banget.
'Nah, Genesis mulai lagi...' batin Angeal sambil sweatdrop. Dia tahu kalau Genesis ingin jadi petarung handal sekaligus ingin menjadi ahli tafsir mimpi. Sephiroth pun menceritakan mimpi buruknya. Kedua temannya mengangguk paham.
"Itu artinya...kamu bakalan nemuin sesuatu yang penting, menurut aku sih..." jawab Genesis.
Sephiroth menunduk, sepertinya dia memikirkan mimpinya itu...
"Udah, mendingan kita latihan buat masuk audisi peserta Coloseum, yuk!" ajak Angeal yang sebenarnya ingin mencairkan suasana. Untungnya Sephiroth dan Genesis menyetujui ajakannya. Mereka pun memulai latihan mereka...
Sementara itu di kantor penelitian...
Lucreica, Hollander, dan peneliti lain sedang mengadakan rapat mengenai Phantom. Tidak, mereka tidak menculik Phantom, kok (A/N: That would be silly ^^). Dari pengamatan Hollander dapat diketahui bahwa Phantom; yang memang biasanya berwujud manusia, dapat berubah menjadi monster yang disebut Faine Corpse. Wujud Faine Corpse adalah setengah manusia, setengah monster. Tapi perilaku mereka agresif seperti monster, tentu saja. Bagaimana mereka bisa berubah, ini masih belum diketahui oleh mereka. Lucrecia heran akan hal ini, sampai-sampai dia teringat kata-kata putra angkatnya saat dia menyelamatkannya dari hujan deras waktu itu...
"Aku...bukan manusia biasa..."
Lucrecia sempat mengira kalau putra angkatnya yang berambut silver, cool, namun sangat sayang terhadapnya adalah seorang Phantom, mengingat dia pernah melihat Sephiroth berlatih sendirian.
~Flashback~
Pada siang itu Lucrecia memang tidak berangkat kerja karena pada hari itu dia bebas, alias mendapat liburan. Lucrecia berjalan menuju lapangan luas yang biasanya menjadi tempat Sephiroth dan teman-temannya berlatih. Sesampainya di lapangan, dia melihat Sephiroth berlatih sendirian, tidak seperti biasanya. Dia tidak menyadari bahwa Lucrecia ada disana, karena dia lagi konsentrasi pada latihannya. Sephiroth mengeluarkan pedangnya (bukan Masamune), lalu langsung menyerang boneka-boneka kayu untuk latihan itu. Lucrecia melihat Sephiroth menyerang dengan cepat, matanya yang tajam seperti mengantisipasi lawan, dia melompat ke atas dan kembali menyerang. Puncaknya, dia mengeluarkan sayap di punggung sebelah kanannya yang bewarna hitam legam, terbang ke atas, mengeluarkan sihir, lalu turun dan melakukan tebasan maut sihirnya. Boneka-boneka kayu tadi hancur semua. Ya, semuanya. Mata Sephiroth masih tajam, sayapnya masih ada, bulu-bulu sayap bewarna hitam bertebaran di sekitarnya. Lucrecia terkejut, atau lebih tepatnya...ngeri.
~End Flashback~
Selesai rapat, Lucrecia menghela napas sambil berjalan menuju pintu utama kantor.
'Apa benar Sephiroth adalah Phantom? Jika iya...aku tidak akan takut. Tapi, aku harap dia bukan Phantom, meskipun dia bukan manusia biasa...'. Lucrecia membatin sambil bertekad, dia akan selalu menyayangi putra angkatnya, tidak akan peduli apa yang akan terjadi padanya.
"Lucrecia-san" panggil Vincent.
"Oh, ada apa Vincent?"
"Apa nanti sore kau tidak sibuk?"
"Umm...tidak. Memangnya kenapa?"
"Aku ingin mengajakmu ke café yang tidak jauh dari sini. Kataya di café itu minumannya enak-enak. Sekalian juga aku ingin membicarakan sesuatu padamu...bagaimana?"
Lucrecia berpikir sejenak.
"...baiklah." Tiba-tiba ponsel Lucrecia berdering.
"Oh, sebentar ya Vincent." Lucrecia langsung mengangkat teleponnya.
"Halo, Ibu?" Lucrecia langsung mengenali suara itu.
"Iya, Sephiroth?"
"Aku dan teman-temanku mau main ke rumah, nih. Boleh nggak?"
"Hmm...tapi kau harus bertanggung jawab menjaga rumah, ya. Soalnya nanti ibu pulangnya agak telat. Bisa 'kan?"
"...OK..."
Kemudian...
Lucrecia dan Vincent akhirnya sampai di sebuah café pinggir jalan. Café itu bernuansa homey, cat temboknya bewarna krem, serta sofa-sofa empuk yang warnanya matching sama warna temboknya. Dan di temboknya, dipajang beberapa lukisan abstrak. Dan diluar pintu depan café terdapat papan tulis yang bertuliskan promosi-promosi, baik itu menu baru, atau diskon 30% bagi yang membeli Mocha Latte.
Seorang pelayan menunjukkan tempat duduk untuk Vincent dan Lucrecia. Dengan senyuman ramah, pelayan itu mempersilakan duduk bagi keduanya. Kemudian, mereka memesan Mocha Latte. Tidak menunggu lama, pesanan mereka datang.
"Silahkan."
"Terima kasih."
Mereka berdua menikmati minuman mereka. Suasana makin nyaman karena di café itu menyetel lagu-lagu ballad.
"Vincent..."
"Ya?"
"Katamu kau ingin membicarakan sesuatu denganku. Memangnya...ada apa?" ujar Lucrecia.
"Oh...begini...aku hanya khawatir."
"Tentang apa?"
Vincent terdiam sebentar sambil meminum Mocha Latte-nya. Kemudian dia kembali berpaling ke Lucrecia.
"Tadi siang saat rapat, kau terlihat murung sekali. Ada apa?"
"Bukan apa-apa..." kata Lucrecia sambil menggeleng.
"Lucrecia..."
Lucrecia langsung kaget, tidak biasanya Vincent memanggil dengan sebutan namanya saja. Akhirnya Lucrecia menceritakan kekhawatirannya, meski hanya sebagian. Masa dia akan mengatakan kalau dia melihat Sephiroth berlatih sendirian? Nggak 'kan?
"Aku paham 'kok. Kau hanya menghawatirkanya 'kan?" ujar Vincent.
Lucrecia mengangguk pelan.
"Dia memang tidak biasa, tapi aku menghawatirkannya..."
"...apa ada yang bisa aku bantu? Kalau ada mungkin-"
"Maafkan aku Vincent, tapi kau tidak bisa mengetahui lebih dari ini..." kata Lucrecia sambil menggeleng.
"Maka aku akan merahasiakannya." ujar Vincent tegas.
"Dan ada satu hal lagi yang ingin kukatakan padamu, Lucrecia...aku mencintaimu."
Lucrecia terkejut. Akhirnya perasaan Vincent tersampaikan...sekarang perasaan Lucrecia dipenuhi oleh rasa kebahagiaan dan rasa tidak percaya. Hatinya dipenuhi oleh bunga-bunga yang bertebaran, menandakan bahwa dia amat-sangat-bahagia. Dia tersenyum lembut kepada Vincent.
"Aku juga mencintaimu, Vincent."
Sepulangnya dari café, Lucrecia langsung menyapa Sephiroth. Kemudian Sephiroth mengeluarkan keberanian untuk bercerita tentang mimpi buruknya. Lucrecia menyimak dengan serius lalu menyarankannya agar tidak terlalu memikirkan mimpinya.
Malam harinya...
Sephiroth mengalami mimpi yang sama, hanya saja dia melihat sebuah cermin besar yang memantulkan bayangannya. Kemudian secara ajaib, bayangan Sephiroth terganti oleh bayangan seorang remaja laki-laki dengan rambutnya yang pirang dan jabrik (lagi).
Tiba-tiba Sephiroth terbangun dari mimpinya, dia pun mengusap matanya. Lalu berusaha untuk tidur lagi.
'Uuuh~. Mimpi yang sama lagi...' batinnya.
Keesokan harinya...
"Ah! Lagi-lagi mimpi yang sama, tapi adegannya beda..."
"Kok mimpimu kayak film aja, aku jadi bingung." komentar Genesis sambil melipat tangannya ke atas, santai.
"Ya gitu deh..." jawab Sephiroth. Dia berusaha untuk secepatnya melupakan mimpinya semalam, tapi sepertinya tidak bisa. Tak lama kemudian, Angeal datang sambil membawa 3 buah brosur.
"Hai Angeal. Brosur apa itu?"
"Oh, ini brosur dari Coloseum di kota Titan. Aku mendapatkannya dari temanku." Kemudian Angeal menbagikan brosur itu kepada 2 temannya.
"Audisi untuk penantang telah dibuka untuk umum, pendaftaran bisa dilakukan di counter Coloseum, biayanya 350 Gil." Genesis membaca brosur itu.
"Dan ada lanjutannya, 3 orang yang lolos audisi dengan gaya bertarung paling memukau, berhak mendapatkan masing-masing 1 pack item, serta diskon 45% untuk biaya servis senjata dan armor. Wah, menarik nih!" Sephiroth langsung semangat.
"Nah...karena udah semangat, ayo latihan!" ajak Angeal.
"Yup!"
"Yes sir! Hehehe..."
2 minggu kemudian...
Lucrecia dan Vincent akan menonton audisi pencarian penantang baru. Suasananya di tribun penonton ramai sekali. Tiba-tiba Sephiroth muncul dan langsung menuju ke tempat Lucrecia.
"Ibu, katanya Ibu mau mau memberikan sesuatu, ya, sebelum aku bertanding...?"
"Tentu. Ini hadiah dari Ibu dan Vincent...". Lucrecia memberikan sebuah belati yang diantara mata pisau dan peganganya, dipasang sebuah batu kristal kecil bewarna putih untuk Sephiroth.
"Wow...terima kasih!"
"Anggap saja ini jimat, dan...semoga berhasil ya!"
"Baiklah!" jawab Sephiroth semangat sambil melambaikan tangannya ke arah Ibunya dan Vincent sembari meninggalkan tribun.
'Hadiah dari Ibu...aku akan menjaganya dengan baik.' batinnya. Dan dia pun siap untuk audisi...
Whew! Akhirnya chapter ini selesai. Sebenarnya aku ingin cepat2 menyelesaikan fic ini dan melanjutkan buat yang baru (kalau nggak stuck). Apakah ada yang kurang? Atau sudah pas? Atau kalian makin penasaran? Karena aku masih pemula, aku juga perlu saran yang bisa memperbaiki/memperindah fic ini, hehe :P .
Oh iya, artinya sumringah itu Heeepiiiiii banget, sampai-sampai muka juga kelihatan sangat happy. Jadi...bayangin aja gimana raut wajah Genesis kalo lagi happy-happy-nya, hehehe *dijitak* .
Tolong di review ya! v(^0^)v
